Vous êtes sur la page 1sur 22
Asma Bronkial Asma Bronkial dr. Wim Lambey, SpP Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UKRIDA
Asma Bronkial Asma Bronkial dr. Wim Lambey, SpP Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UKRIDA

Asma Bronkial

Asma

Bronkial

dr. Wim Lambey, SpP Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UKRIDA

Asma Bronkial Asma Bronkial Definisi: Inflamasi kronik saluran napas yg menyebabkan peningkatan hiper responsif dan menimbulkan
Asma Bronkial Asma Bronkial Definisi: Inflamasi kronik saluran napas yg menyebabkan peningkatan hiper responsif dan menimbulkan

Asma Bronkial

Asma

Bronkial

Definisi:

Inflamasi kronik saluran napas yg menyebabkan peningkatan hiper responsif dan menimbulkan gejala episodik berulang: mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk-batuk terutama malam atau dini hari

Hiper responsif saluran napas:

Bronchial Bronchial

hyper responsiviness atau hyper reactivity

1. Patogenesis Patogenesis Pencetus Individu yang atopik (13 hari)  inflamasi mukosa bronkus  serangan asma
1. Patogenesis Patogenesis Pencetus Individu yang atopik (13 hari)  inflamasi mukosa bronkus  serangan asma

1.

Patogenesis

Patogenesis

Pencetus

Individu yang atopik (13 hari) inflamasi mukosa bronkus serangan asma

2.

Saraf parasimpatis dan simpatus

3. Psikis

Alergen:

1.

2.

Digestan

Inhalasi

3.

Air borne disease

Jenis Jenis Asma Asma  Hidden asthma  Exercise induced asthma  Nocturnal asthma  Occupational
Jenis Jenis Asma Asma  Hidden asthma  Exercise induced asthma  Nocturnal asthma  Occupational

Jenis

Jenis Asma

Asma

Hidden asthma Exercise induced asthma Nocturnal asthma Occupational asthma Intermitten asthma Asma kronik persisten Status asmatikus/ Severe asthmatic attack

Riwayat Penyakit/ Riwayat Penyakit/ Gejala Gejala  Riwayat keluarga (atopi)  Perkembangan penyakit/ pengobatan  Batuk,
Riwayat Penyakit/ Riwayat Penyakit/ Gejala Gejala  Riwayat keluarga (atopi)  Perkembangan penyakit/ pengobatan  Batuk,

Riwayat Penyakit/

Riwayat

Penyakit/ Gejala

Gejala

Riwayat keluarga (atopi) Perkembangan penyakit/ pengobatan

Batuk, sesak, rasa berat pada dada, sputum>, serangan terutaman malam/ dini hari

Serangan bersifat episodik, umumnya reversibel dan respon terhadap pengobatan

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik  Bila keadaan “tenang”  normal  Bila serangan: mengi ( wheezing)
Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik  Bila keadaan “tenang”  normal  Bila serangan: mengi ( wheezing)

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan

Fisik

Bila keadaan “tenang” normal Bila serangan: mengi (wheezing) Bila serangan berat:

sianosis, gelisah, keringat, takikardi, dsb

Faal Faal Paru Paru  Untuk diagnosis dan evaluasi pengobatan  Alat Peak Expiratory Flow Meter
Faal Faal Paru Paru  Untuk diagnosis dan evaluasi pengobatan  Alat Peak Expiratory Flow Meter

Faal

Faal Paru

Paru

Untuk diagnosis dan evaluasi pengobatan Alat Peak Expiratory Flow Meter (PEF Meter): APE (Arus Puncak Ekspirasi) Alat spirometri: VC, FEV1, dst

Tujuan penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan asma asma  Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma  Mencegah eksaserbasi akut
Tujuan penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan asma asma  Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma  Mencegah eksaserbasi akut

Tujuan penatalaksanaan

Tujuan

penatalaksanaan

asma

asma

Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma Mencegah eksaserbasi akut Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin Mengupayakan aktivitas normal (termasuk olahraga) Menghindari efek samping obat Mencegah kematian karena asma

Pengobatan Pengobatan asma asma  Menghindari alergen/ faktor pencetus  Medikasi  Fisioterapi  De-sensitisasi
Pengobatan Pengobatan asma asma  Menghindari alergen/ faktor pencetus  Medikasi  Fisioterapi  De-sensitisasi

Pengobatan

Pengobatan asma

asma

Menghindari alergen/ faktor pencetus

Medikasi Fisioterapi De-sensitisasi

Medikasi Medikasi  Golongan pengontrol ( controller): ◦ Kortikosteroid sistemik ◦ Kortikosteroid inhalasi ◦ Sodium kromoglikat
Medikasi Medikasi  Golongan pengontrol ( controller): ◦ Kortikosteroid sistemik ◦ Kortikosteroid inhalasi ◦ Sodium kromoglikat

Medikasi

Medikasi

Golongan pengontrol (controller):

Kortikosteroid sistemik Kortikosteroid inhalasi Sodium kromoglikat Metilsantin (aminofilin) Agonis beta2 kerja lama Antihistamin generasi 2 (antagonis

H1)

Medikasi Medikasi (2) (2)  Golongan pelega ( reliever) ◦ Agonis beta2 kerja singkat ◦ Kortikosteroid
Medikasi Medikasi (2) (2)  Golongan pelega ( reliever) ◦ Agonis beta2 kerja singkat ◦ Kortikosteroid

Medikasi

Medikasi (2)

(2)

Golongan pelega (reliever)

Agonis beta2 kerja singkat Kortikosteroid sistemik Anti kolinergik Metilsantin (aminofilin) Adrenalin

Pengobatan Pengobatan serangan serangan berat berat  Dirawat  O2  Kortikosteroid IV/ IM  Adrenalin
Pengobatan Pengobatan serangan serangan berat berat  Dirawat  O2  Kortikosteroid IV/ IM  Adrenalin

Pengobatan

Pengobatan serangan

serangan

berat

berat

Dirawat O2 Kortikosteroid IV/ IM

Adrenalin 1/1000, 0,3 cc subkutan

Aminofilin drips

Emfisema Emfisema Paru Paru dan dan PPOK PPOK dr. Wim Lambey, SpP Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Emfisema Emfisema Paru Paru dan dan PPOK PPOK dr. Wim Lambey, SpP Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Emfisema

Emfisema Paru

Paru dan

dan PPOK

PPOK

dr. Wim Lambey, SpP Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UKRIDA

Emfisema Emfisema Paru Paru Definisi Merupakan pembesaran/ pelebaran ruang udara bronchiolus terminalis dari alveolus, terjadi destruksi
Emfisema Emfisema Paru Paru Definisi Merupakan pembesaran/ pelebaran ruang udara bronchiolus terminalis dari alveolus, terjadi destruksi

Emfisema

Emfisema Paru

Paru

Definisi

Merupakan pembesaran/ pelebaran ruang udara bronchiolus terminalis dari alveolus, terjadi destruksi dinding alveolus dan dinding kapiler

Klasifikasi Emfisema Klasifikasi Emfisema Paru Paru 1. Senilis 2. Kompensatoir 3. Lokal/ difus 4. Acquired 5.
Klasifikasi Emfisema Klasifikasi Emfisema Paru Paru 1. Senilis 2. Kompensatoir 3. Lokal/ difus 4. Acquired 5.

Klasifikasi Emfisema

Klasifikasi

Emfisema Paru

Paru

  • 1. Senilis

  • 2. Kompensatoir

  • 3. Lokal/ difus

4. Acquired

  • 5. Genetik

Patogenesis Patogenesis  Genetik: defisiensi alfa1, antitripsin  Infeksi kronik  Asma bronkial  Polusi/ lingkungan
Patogenesis Patogenesis  Genetik: defisiensi alfa1, antitripsin  Infeksi kronik  Asma bronkial  Polusi/ lingkungan

Patogenesis

Patogenesis

Genetik: defisiensi alfa1, antitripsin

Infeksi kronik Asma bronkial Polusi/ lingkungan Dsb

Klinis ◦ Sesak napas ◦ Dyspnea effort sepanjang hari Pemeriksaan fisis ◦ Pergerakan napas menurun ◦
Klinis ◦ Sesak napas ◦ Dyspnea effort sepanjang hari Pemeriksaan fisis ◦ Pergerakan napas menurun ◦

Klinis

Sesak napas

Dyspnea effort sepanjang hari

Pemeriksaan fisis

Pergerakan napas menurun Barrel chest Suara napas menurun Hipersonor

Ro foto

Paru hiperinflasi

T T es es fungsi paru  FEV sangat menurun  VC menurun  Residual volume
T T es es fungsi paru  FEV sangat menurun  VC menurun  Residual volume

TTeses fungsi

fungsi paru

paru

FEV sangat menurun VC menurun Residual volume meningkat

Pengobatan:

Konservatif/ simptomatis Underlying disease Fisioterapi

Chronic Obstructive Chronic Obstructive Pulmonary Pulmonary Disease Disease (PPOK=COPD) (PPOK=COPD) Satu kelompo penyakit paru dengan terutama
Chronic Obstructive Chronic Obstructive Pulmonary Pulmonary Disease Disease (PPOK=COPD) (PPOK=COPD) Satu kelompo penyakit paru dengan terutama

Chronic Obstructive

Chronic

Obstructive

Pulmonary Pulmonary Disease Disease

(PPOK=COPD) (PPOK=COPD) Definisi PPOK

Satu kelompo penyakit paru dengan terutama terjadi obstruksi menahun

Terutama golongan ini:

Bronkitis kronik Emfisema paru Asma bronkial Bronkiektasis Dsb

Patogenesis dan Patogenesis dan Faktor Faktor Presdisposisi Presdisposisi  Bronkitis kronik, emfisema, asma, bronkiektasis  Merokok/
Patogenesis dan Patogenesis dan Faktor Faktor Presdisposisi Presdisposisi  Bronkitis kronik, emfisema, asma, bronkiektasis  Merokok/

Patogenesis dan

Patogenesis

dan Faktor

Faktor

Presdisposisi

Presdisposisi

Bronkitis kronik, emfisema, asma, bronkiektasis Merokok/ polusi/ lingkungan Genetik Pria > wanita

Gejala Klinis Gejala Klinis  Sesuai underlying disease  Sesak napas (100%)  Batuk produktif (80%)
Gejala Klinis Gejala Klinis  Sesuai underlying disease  Sesak napas (100%)  Batuk produktif (80%)

Gejala Klinis

Gejala

Klinis

Sesuai underlying disease Sesak napas (100%) Batuk produktif (80%) Hemoptisis (15%)

Tes Faal Paru

FEV1 > 70 % mild FEV1 50-70 % moderate FEV1 < 50 % Ro Foto: sesuai underlying disease

Pengobatan Pengobatan  Simtomatis (penyakit irreversible)  Underlying disease  Fisioterapi  Antibiotik bila perlu Komplikasi:
Pengobatan Pengobatan  Simtomatis (penyakit irreversible)  Underlying disease  Fisioterapi  Antibiotik bila perlu Komplikasi:

Pengobatan

Pengobatan

Simtomatis (penyakit irreversible) Underlying disease Fisioterapi Antibiotik bila perlu

Komplikasi:

Cor pulmonale Penyulit memperberat penyakit:

ASHD, dst Penyulit untuk pembedahan/ tindakan Gangguan psikis