Vous êtes sur la page 1sur 55

ANESTESI UMUM

STEPHANIE C. THEORUPUN

DEFINISI
Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa
Yunani an-"tidak, tanpa" dan aesthtos,
"persepsi, kemampuan untuk merasa")
Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri
secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat
reversible. Anestesi umum yang sempurna menghasilkan
ketidaksadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa
menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.

SYARAT ANESTESI UMUM


Memberi induksi yang halus dan cepat.
Timbul situasi pasien tak sadar atau tak berespons
Timbulkan keadaan amnesia
Timbulkan relaksasi otot skeletal, tapi bukan otot
pernapasan.
Hambatan persepsi rangsang sensorik sehingga timbul
analgesia yang cukup untuk tindakan operasi.
Memberikan keadaan pemulihan yang halus cepat dan
tidak menimbulkan ESO yang berlangsung lama.

KONTRAINDIKASI ANESTESI UMUM


Kontraindikasi mutlak dilakukan anestesi umum
yaitu dekompresi kordis derajat III IV, AV blok
derajat II total (tidak ada gelombang P).

Kontraindikasi Relatif berupa hipertensi berat/tak


terkontrol (diastolik >110), DM tak terkontrol,
infeksi akut, sepsis, GNA.

KOMPLIKASI ANESTESI UMUM


Komplikasi kardiovaskular berupa hipotensi
dimana tekanan sistolik kurang dari 70 mmHg
atau turun 25 % dari sebelumnya, hipertensi
dimana terjadi peningkatan tekanan darah pada
periode induksi dan pemulihan anestesi.
Komplikasi lain berupa gelisah setelah anestesi,
tidak sadar , hipersensitifitas ataupun adanya
peningkatan suhu tubuh.

PERSIAPAN UNTUK ANESTESI UMUM


Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan laboratorium, radiologi, EKG

Status Anestesi Menurut The American Society Of


Anesthesiologist (ASA
ASA I
Pasien dalam keadaan normal dan sehat.
ASA II
Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena penyakit bedah maupun penyakit lain. Contohnya:
pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis dan febris.
ASA III
Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diakibatkan karena berbagai penyebab. Contohnya: pasien
appendisitis perforasi dengan septisemia, atau pasien ileus obstrukstif dengan iskemia miokardium.
ASA IV
Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. Contohnya: Pasien dengan
syok atau dekompensasi kordis.
ASA V
Pasien tak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak. Contohnya: pasien tua dengan perdarahan
basis kranii dan syok hemoragik karena ruptur hepatik.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat ( E = EMERGENCY ),
misalnya ASA IE atau IIE

PERSIAPAN ANESTESI
Pengosongan lambung untuk anestesia penting
untuk mencegah aspirasi lambung karena
regurgutasi atau muntah.
Pada pembedahan elektif, pengosongan lambung
dilakukan dengan puasa : anak dan dewasa 4 6
jam, bayi 3 4 jam.
Kandung kemih juga harus dalam keadaan
kosong sehingga boleh perlu dipasang kateter.

PREMEDIKASI
Premedikasi sendiri ialah pemberian obat - 1
jam sebelum induksi anestesia dengan tujuan

melancarkan induksi,
rumatan dan bangun dari anestesia,
menghilangkan rasa khawatir,
membuat amnesia,
memberikan analgesia dan mencegah muntah,
menekan refleks yang tidak diharapkan,
mengurasi sekresi saliva dan saluran napas

OBAT-OBATAN PREMEDIKASI
Gol. Antikolinergik
Atropin.Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah, antimual dan
muntah, melemaskan tonus otot polos organ organ dan menurunkan spasme
gastrointestinal. Dosis 0,4 0,6 mg IM bekerja setelah 10 15 menit.

Gol. Hipnotik sedatif


Barbiturat (Pentobarbital dan Sekobarbital).Diberikan untuk sedasi dan
mengurangi kekhawatiran sebelum operasi.Obat ini dapat diberikan secara oral
atau IM.Dosis dewasa 100 200 mg, pada bayi dan anak 3 5
mg/kgBB.Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang dan efek
depresannya yang lemah terhadap pernapasan dan sirkulasi serta jarang
menyebabkan mual dan muntah.

OBAT-OBATAN PREMEDIKASI
Gol. Analgetik narkotik
Morfin.Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan menjelang

operasi.Dosis premedikasi dewasa 10 20 mg. Kerugian penggunaan morfin ialah


pulih pasca bedah lebih lama, penyempitan bronkus pada pasien asma, mual dan
muntah pasca bedah ada.
Pethidin.Dosis premedikasi dewasa 25 100 mg IV.Diberikan untuk menekan

tekanan darah dan pernapasan serta merangsang otot polos.Pethidin juga berguna
mencegah dan mengobati menggigil pasca bedah.

Gol. Transquilizer
Diazepam (Valium).Merupakan golongan benzodiazepine.Pemberian dosis rendah

bersifat sedatif sedangkan dosis besar hipnotik.Dosis premedikasi dewasa 0,2


mg/kgBB IM.

METODE PEMBERIAN ANESTESI UMUM


Obat obat anestesi umum bisa diberikan melalui
Perenteral (Intravena, Intramuscular),
Perektal (melalui anus) biasanya digunakan pada

bayi atau anak-anak dalam bentuk suppositoria,


tablet, semprotan yang dimasukan ke anus.
Perinhalasi melalui isapan, pasien disuruh tarik

nafas dalam kemudian berikan anestesi perinhalasi


secara perlahan.

TAHAP-TAHAP ANESTESI

TEKNIK ANESTESI UMUM

Sungkup Muka (Face Mask) Dengan


Napas Spontan
Indikasi :
Tindakan singkat ( - 1 jam)
Keadaan umum baik (ASA I II)
Lambung harus kosong
Prosedur :
Siapkan peralatan dan kelengkapan obat anestetik
Pasang infuse (untuk memasukan obat anestesi)
Premedikasi + / - (apabila pasien tidak tenang bisa diberikan
obat penenang) efek sedasi/anti-anxiety :benzodiazepine;
analgesia: opioid, non opioid, dll
Induksi
Pemeliharaan

Intubasi Endotrakeal Dengan Napas


Spontan
Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa
(tube) endotrakea (ET= endotrakeal tube) kedalam
trakea via oral atau nasal. Indikasi; operasi lama,
sulit mempertahankan airway (operasi di bagian
leher dan kepala)
Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat
(pelumpuh otot/suksinil dgn durasi singkat)
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan

Intubasi Endotrakeal Dengan Napas


Spontan
Untuk persiapan induksi sebaiknya kita ingat STATICS:
S = Scope. Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung. LaringoScope
T = Tubes. Pipa trakea. Usia >5 tahun dengan balon(cuffed)
A = Airway. Pipa mulut faring (orofaring) dan pipa hidung faring (nasofaring)
yang digunakanuntuk menahan lidah saat pasien tidak sadar agar lidah
tidak menyumbat jalan napas
T = Tape. Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut
I = Introductor. Stilet atau mandrin untuk pemandu agar pipa trakea mudah
dimasukkan
C = Connector. Penyambung pipa dan perlatan anestesia
S = Suction. Penyedot lendir dan ludah

TEKNIK INTUBASI
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama kira - kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendorong kepala sedikit
ekstensi mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit demi sedikit,
menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
6. Cari epiglotis tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau angkat
epiglotis ( pada bilah lurus )
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea dar luar )
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah
9. Masukan ET melalui rima glottis
10.Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas (alat resusitasi)

KLASIFIKASI MALLAMPATI :
Mudah sulitnya dilakukan intubasi dilihat dari
klasifikasi Mallampati :

Intubasi Endotrakeal Dengan Napas


Kendali (Kontrol)
Pasien sengaja dilumpuhkan/benar2 tidak bisa
bernafas dan pasien dikontrol pernafasanya
dengan kita memberikan ventilasi 12-20 x
permenit. Setelah operasi selesai pasien
dipancing dan akhirnya bisa nafas spontan
kemudian kita akhiri efek anestesinya.
Teknik sama dengan diatas
Obat pelumpuh otot non depolar (durasinya lama)
Pemeliharaan, obat pelumpuh otot dapat diulang
pemberiannya.

OBAT OBAT DALAM


ANESTESI UMUM

ANESTETIK INTRAVENA
Penggunaan :
Untuk induksi
Obat tunggal pada operasi singkat
Suplemen anestesi inhalasi atau regional
Obat sedasi pasca bedah atau di ICU
Antikonvulsi (pada penderita Tetanus)

Cara pemberian :
Obat tunggal untuk induksi atau operasi singkat
Suntikan berulang (intermiten)
Diteteskan perinfus

OBAT ANESTETIK INTRAVENA


Benzodiazepine
Sifat : hipnotik sedative, amnesia anterograd,
atropine like effect, pelemas otot ringan, cepat
melewati barier plasenta.
Kontraindikasi : porfiria dan hamil.
Dosis : Diazepam : induksi 0,2 0,6 mg/kg IV,
Midazolam : induksi : 0,15 0,45 mg/kg IV.

ANESTETIK INTRAVENA
Propofol
Merupakan salah satu anestetik intravena yang
sangat penting. Propofol dapat menghasilkan
anestesi kecepatan yang sama dengan
pemberian barbiturat secara intravena, dan
waktu pemulihan yang lebih cepat. Dosis : 2 2,5
mg/kg IV.

ANESTETIK INTRAVENA
Ketamin
Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat
general anaesthetic. Indikasi pemakaian ketamin
adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas
yang sulit, prosedur diagnosis, tindakan ortopedi,
pasien resiko tinggi dan asma. Dosis pemakaian
ketamin untuk bolus 1- 2 mg/kgBB dan pada
pemberian IM 3 10 mg/kgBB.

ANESTETIK INTRAVENA
Thiopentone Sodium
Merupakan bubuk kuning yang bila akan digunakan

dilarutkan dalam air menjadi larutan 2,5%atau 5%.


Indikasi pemberian thiopental adalah induksi anestesi

umum, operasi singkat, sedasi anestesi regional, dan


untuk mengatasi kejang.
Keuntungannya : induksi mudah, cepat, tidak ada iritasi

mukosa jalan napas. Dosis 5 mg/kg IV, hamil 3 mg/kg IV.

CARA (TEKNIK) PEMBERIAN


ANESTESI INHALASI

4 Sistem:

Perbedaan Open Method Dan Closed


Methode
Open method

Tidak ada rebreathing

Tidak ada absorbed


CO2

Closed method

Ada udara ekspirasi


yang dihirup kembali
(rebreathing)
Menggunakan
absorbed CO2 (soda
lime)

OPEN METHOD
Prinsip :
Obat inhalasi diteteskan pada

Keuntungan :
Sederhana

masker (sungkup) dari kawat

Mudah dilakukan

yang dilapisi dengan 5-7

O2 dari udara

lembar gause. Obat akan

Tidak terjadi akumulasi CO2

menguap setelah bercampur


dengan udara.

Kekurangan :
Boros
Mudah terjadi kebakaran/ledakan

Contoh:
Ether, chloroform, etil clorida.

Dapat mengiritasi kulit muka


Level anestesi lama tercapai

SEMI OPEN METHOD


Prinsip :
Sama dengan open

Keuntungan :
Sama open method

method kecuali sungkup

Konsentrasi obat lebih tinggi

ditutup kain tebal

Induksi lebih cepat

sehingga gas anestesi


bisa bertahan lebih lama.

Kekurangan :
Sama open method,dan
Bisa terjadi akumulasi CO2

dalam sungkup (mudah


terjadi hipoksia

SEMI CLOSED METHOD


Prinsip :
Pasien diinhalasi melalui suatu

Keuntungan :
Lebih irit

masker tertutup yang dihubungkan

Tidak terjadi akumulasi O2

dengan suatu reservoir (breathing

Bahaya ledakan dan ledakan kurang

bag) dimana gas atau obat inhalasi


bercampur dengan O2 sebelum
obat inhalasi terdahulu diuapkan
melalui vaporizer
Udara ekshalasi akan terbuang
keluar melalui suatu sistem klep
yang dihubungkan dengan masker

Kekurangan :
Kalau soda lime sudah tua bisa
terjadi akumulasi CO2 CO2
narcosis
Debu soda lime dapat mengiritasi
paru pasien (soda lime biasanya
ditambahkan filter.

CLOSED METHOD
Obat inhalasi setelah
diuapkan diinhalasikan
melalui suatu sistem
tertutup

Alat absorbed ini


disebut Canister
yang berisi soda lime
yang mengandung

Terjadinya 100%
rebreathing dari udara
ekshalasi yang CO2-nya
sebelumnya diikat oleh
suatu absorbed.

campuran NaOH dan


Ca(OH)2 ada sirkuit
anestesi

ANESTETIK INHALASI
N2O
Nitrogen monoksida gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa dan lebih berat daripada udara.
N2O mempunyai efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O
dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin.
Gas ini sering digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada
waktu kontraksi uterus sehingga rasa sakit hilang tanpa mengurangi
kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk mencegah
terjadinya hipoksia.
Anestetik tunggal N2O digunakan secara intermiten untuk mendapatkan
analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi.

ANESTETIK INHALASI
HALOTAN
Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah
terbakar dan tidak mudah meledak meskipun dicampur
dengan oksigen.
Efek analgesik halotan lemah tetapi relaksasi otot yang
ditimbulkannya baik.
Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi
sehingga mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume
%).
Kadar minimal untuk anestesi adalah 0,76% volume.

ANESTETIK INHALASI
ISOFLURAN
Merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Isofluran berbau
tajam sehingga membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh
penderita karena penderita menahan nafas dan batuk.
Merelaksasi otot sehingga baik untuk intubasi.
Peningkatan frekuensi nadi dan takikardia dihilangkan dengan pemberian
propanolol 0,2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10 mg morfin atau 0,1 mg
fentanil),
Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP
seperti pada pemberian enfluran.
Isofluran meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC
(minimal Alveolar Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.

ANESTETIK INHALASI
SEVOFLURAN
Obat anestesi ini merupakan turunan eter
berhalogen yang paling disukai untuk induksi
inhalasi.

SKOR PEMULIHAN PASCA


ANESTESI

ALDRETE SCORE
Nilai Warna
Merah muda, 2
Pucat, 1
Sianosis, 0

Kesadaran
Sadar, siaga dan orientasi, 2
Bangun namun cepat kembali tertidur, 1
Tidak berespons, 0

Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk, 2
Dangkal namun pertukaran udara
adekuat, 1
Apnoea atau obstruksi, 0
Sirkulasi

Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan, 2
Dua ekstremitas dapat digerakkan,1
Tidak bergerak, 0

Tekanan darah menyimpang <20% dari


normal, 2
Tekanan darah menyimpang 20-50 %
dari normal, 1
Tekanan darah menyimpang >50% dari
normal, 0

Jika jumlahnya > 8, penderita dapat


dipindahkan ke ruangan

STEWARD SCORE (ANAK-ANAK)


Pergerakan

Kesadaran

Gerak bertujuan 2

Menangis 2

Gerak tak bertujuan 1

Bereaksi terhadap rangsangan 1

Tidak bergerak 0

Tidak bereaksi 0

Pernafasan

Jika jumlah > 5, penderita

Batuk, menangis 2

dapat dipindahkan ke

Pertahankan jalan nafas 1

ruangan

Perlu bantuan 0

TUGAS

STADIUM ANESTESI
Stadium I : (stadium analgesia)
Mulai saat pemberian anestesi sampai hilangnya
kesadaran
Penderita masih sadar dan responsif, perasaan
sakit hilang, respirasi teratur.
Stadium II : (Stadium eksitasi/delirium)
Penderita tampak tidak tenang sampai
ribut/gelisah, tonos otot naik, respirasi irreguler,
pupil tampak membesar, takikardia, gerak bola
mata bertambah, kesadaran menurun, refleks
masih ada.

STADIUM ANESTESI
Stadium III (surgical state)
Mulai dari pernapasan yang teratur sampai berhentinya pernapasan
spontan.
Plana 1 : Kesadaran hilang, tonus otot berkurang, respirasi teratur cepat dan dalam,
gerak bola mata berkurang, pupil kembali keukuran normal, refleks kornea masih ada,
refleks peritoneal masih ada, refleks muntah dan menelan hilang, pada plana ini
dilakukan pembedahan kecil.
Plana 2 : Gerak bola mata berkurang sekali sampai tidak ada, relaksasi otot sempurna,
respirasi teratur, refleks kornea hilang pada plana ini biasanya dilakukan pembedahan
besar.
Plana 3 : Refleks hilang, pupil berdilatasi, palsus lemah tetapi tekanan darah temporer,
tonus otot masih ada tetapi relaksasi sempurna, respirasi dalam dan tidak sempurna.
Plana 4 : Respirasi jadi abnormal kecil dan dangkal, semua refleks hilang pupil dilatasi
maksimal, takikardia, tekanan darah merosot turun.

STADIUM 4
Stadium IV : (Stadium paralisa meduler)
Tekanan darah menurun terus akhirnya nol,
respirasi hilang, kollaps vasomotor, hal ini terjadi
karena over dosis.

Tahap-tahap anestesi di atas dapat dikenal


dengan memperhatikan:
Napas,
Gerakan bola mata,
Lebar pupil,
Ada tidaknya beberapa refleks.

Napas
Irama: teratur
atau tidak
Amplitudo :

Gerakan bola mata


Diam atau
bergerak
Masih bergerak :

dangkal atau

tahap III plana

dalam

1/lebih dangkal

Sifat : perut atau


dada

lagi

Lebar pupil
Kecuali tahan II,
makin lebar pupil,
makin dalam
anestesi
Dipengaruhi :
Atropin

Refleks
Eye lash hilang
pada tahap III
Refleks faring
muntah hilang
pada tahan III
plana I (guedel

Diam: tahap III

melebar

bisa dipasang)

plana 2/lebih

Morfin

Refleks laring

dalam lagi

mengecil

batuk hilang
pada stadium III
plana 2 (ETT bisa
dipasang)

ETOMIDAT
Sedatif kerja singkat nonbarbiburat
Digunakan untuk induksi anestesi pada pasien
dengan cadangan kardiovaskular yang terbatas
Efek : depresi kardiovaskular dan respirasi minimal
Pemulihan lebih lambat (<10 menit) dibandingkan
dengan propofol
Menimbulkan mual, muntah pascaoperasi, aktivitas
mioklonik, nyeri pada tempat penyuntikan.

KETAMIN
Anestesia disosiatif Anestesia dengan ketamin diawali
dengan terjadinya disosiasi mental pada 15 detik pertama
halusinasi
Disosiasi ini sering disertai dengan keadaan kataleptik berupa
dilatasi pupil, salivasi, lakrimasi, gerakan2 tungkai spontan,
peningkatan tonus otot.
Emergence phenomenon kelainan psikis berupa
disorientasi, ilusi sensoris, ilusi perseptif, dan mimpi buruk.

Efek : meningkatkan aliran darah ke otak, konsumsi oksigen,


dan tekanan intrakranial.

KETAMIN
Dosis :

KTM100 injection
Harga : Rp 150.000-200.000/vial

Intravena : 1-2
mg/kgBB
Intramuskular : 6,5
10 mg/kgBB

Pengenceran :
1 cc + 9 cc
aquadest

HEPATITIS HALOTAN
Penggunaan halotan berulang nekrosis hati
sentrolobular yang bersifat alergi.
Gejala: anoreksia, mual, muntah, kadang-kadang
kemerahan pada kulit dengan eosinofilia.
Angka kejadiannya rendah, namun dapat
berkembang menjadi gagal hati yang parah.

SODA LIME

CO2absorbent(seperti sodalime ataubaralime) mengandung garam hidroksidayang mampu


menetralkan asam karbonat.
Produk akhir reaksi meliputi panas(termasuk panas netralisasi), air dankalsium karbonat.
Sodalime adalahCO2absorbentyang umum dan mampumenyerap untuk 23 L CO2 per 100
gabsorbent.
Perubahan warna dari sebuah indikatorpH oleh peningkatan konsentrasi ionhidrogen memberi
tanda terpakainya alat penyerap.
Absorbentharus diganti bila 50-70 % telah berubah warna.
Meskipun butiran yang telah digunakan dapat kembali ke warna aslinya jika diistirahatkan,
tetapi pemulihan kapasitasCO2 absorbentyang terjadi tidak signifikan.

Antikolinergik diberikan sebagai pre-medidaksi.


Efek antisialagogue : mengurangi produksi
saliva mencegah hipersekresi kelenjar ludah
dan bronkus yang ditimbulkan oleh anestetik
inhalasi dapat mengganggu pernapasan
selamaa anestesi.
Atropin sulfat : 0,4 0,6 mg/IM/IV

MAC (MINIMUM ALVEOLAR


CONCENTRATE)
Konsentrasi yang diperlukan untuk mencegah
pergerakan setelah diberikan stimulus bedah
pada 50% subyek.
Senyawa-senyawa dengan potensi rendah, akan
memiliki MAC yang tinggi; dan sebaliknya.
Nilai MAC berkurang pada lansia, pasien-pasien
hipotensi, hipotermia, dan hipotiroidis-me, serta
penggunaan bersamaan opioid
Nilai MAC meningkat pada bayi, pasien dengan
pireksia, dan penyalahguna obat kronik.

HUKUM MONRO-KELLIE
Prinsip : total volume intrakranial bersifat TETAP, Oleh
karena kranium merupakan NON EXPANSILE BOX
Isi tengkorak :
Otak
CSF : cairan serebrospinal
konstan
Darah

Total Volume bersifat

Jika salah satu komponen meningkat maka terjadi


penurunan komponen lain

TRIAS KOCHER-CUSHING
1. Tekanan darah melonjak tiba-tiba
2. Nadi melambat
3. Penurunan kesadaran secara progresif