Vous êtes sur la page 1sur 15

ASAS-ASAS,

PRINSIP, SUBYEK,
PIHAK DALAM PAILIT,
SYARAT DAN TUJUAN
PAILIT
1

Sumber Hukum Kepailitan di Indonesia


BW secara umum
Khususnya pasal 1131, 1132, 1133 dan 1134
HIR (Peraturan Acara Perdata)
Undang undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas
Undang Undang No. 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan PKPU
2

Fungsi Lembaga Kepailitan


1. Sebagai lembaga pemberi jaminan kepada
kreditornya bahwa debitur tidak akan berbuat
curang, dan tetap bertanggung jawab atas
semua utang-utangny kepada semua kreditur
2. Memberi jaminan perlindungan kepada debitur
terhadap kemungkinan eksekusi masal oleh
kreditur-krediturnya

Asas Undang Undang Kepailitan


1. Asas Keseimbangan
Undang-Undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan
perwujudan dari asas keseimbangan, yaitu di satu pihak, terdapat ketentuan
yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga
kepailitan oleh Debitor yang tidak jujur, di lain pihak, terdapat ketentuan yang
dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan
oleh Kreditor yang tidak beritikad baik.
2. Asas Kelangsungan Usaha
Dalam Undang-Undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan
perusahaan Debitor yang prospektif tetap dilangsungkan.
3. Asas Keadilan
Dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa ketentuan
mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang
berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya Kesewenangwenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan
masing-masing terhadap Debitor, dengan tidak mempedulikan Kreditor lainnya.
4. Asas Integrasi
Asas Integrasi dalam Undang-Undang ini mengandung pengertian bahwa
sistem hukum formil dan hukum materiilnya merupakan satu kesatuan yang
utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.

Prinsip Dalam Kepailitan


Dalam kepailitan ada beberapa hal yang perlu kita cermati, yaitu terkait
dengan prinsi-prinsip dasar dalam kepailitan sebagai berikut:
1. Paritas creditorium = Para kreditor baik kreditor separatis, kreditor
preferen & kreditor konkuren mempunyai hak yang sama tanpa
dibedakan terhadap segenap harta benda debitor sehingga jika
debitor tidak dapat membayar utangnya maka harta kekayaan
debitor menjadi sasaran kreditor.
2. Prinsip pari passu prorata parte = Harta kekayaan tersebut
merupakan jaminan bersama untuk para kreditor & hasilnya harus
dibagikan secara proporsional (prorata) antara mereka, kecuali jika
antara para kreditor itu ada yang menurut UU harus didahulukan
dalam menerima pembayaran tagihannya.
3. Prinsip structured prorate = bahwa kreditor kepailitan digolongkan
secara struktural yang terdiri dari kreditor separatis, kreditor
preferen, dan kreditor konkuren, yang masing-masing kreditor
tersebut berbeda kedudukannya.

4.

Prinsip utang = Utang yg dijadikan dasar untuk mengajukan


permohonan pailit adalah utang prestasi baik yg timbul sebagai akibat
perjanjian maupun yang timbul sebagai perintah UU serta adanya
pembatasan minimum jumlah utang yang dapat dijadikan dasar untuk
mengajukan permohonan pailit.

5. Prinsip debt collection = Kepailitan merupakan pranata collective


proceeding untuk melakukan likuidasi terhadap harta pailit yang
selanjutnya didistribusikan kepada para kreditornya karena tanpa
adanya hukum kepailitan masing-masing kreditor akan berlombalomba secara sendiri-sendiri mengklaim aset debitor untuk
kepentingan masing-masing sehingga karena itu hukum kepailitan
mengatasi apa yang dsb collective action problem yang ditimbulkan
dari kepentingan individu dari masing-masing kreditor tsb.
6. Prinsip debt pooling = Kepailitan merupakan pranata untuk mengatur
bagaimana harta kekayaan pailit harus dibagi diantara para
kreditornya, dimana kepailitan merupakan proses yang ekslusif yang
diatur dengan norma dan prosedur khusus.

7. Prinsip debt forgiveness = Kepailitan merupakan pranata hukum yang


dapat digunakan sebagai alat untuk memperingan beban yang harus
ditanggung oleh debitor karena sebagai akibat kesulitan keuangan
sehingga tidak mampu melakukan pembayaran terhadap utangutangnya sesuai dengan agreement semula & bahkan sampai pada
pengampunan (discharge) atas utang-utangnya sehingga utangutangnya tsb menjadi hapus sama sekali.
8. Prinsip universal = Kepailitan akan berlaku terhadap semua harta
kekayaan debitor pailit, baik yang ada di dalam negeri maupun yang
ada diluar negeri.
9. Prinsip teritorial = Putusan pailit hanya berlaku di negara dimana
putusan pailit tersebut dijatuhkan & putusan pailit oleh pengadilan di
negara asing tidak dapat diberlakukan di negara yang bersangkutan.
10.Prinsip commercial exit from financial distress = Kepailitan merupakan
suatu strategi jalan keluar (exit strategy) yang bersifat komersial untuk
keluar dari persoalan utang piutang yang menghimpit seorang debitor,
dimana debitor tersebut sudah tidak mempunyai kemampuan lagi
untuk membayar utang-utang tersebut kepada para kreditornya karena
kondisi keuangan yang mengalami kesulitan akibat penurunan kinerja
keuangan perusahaan.

Subyek Kepailitan
Yang dapat dinyatakan pailit:
1. Orang perorang, baik laki-laki maupun perempuan yang telah menikah maupun yang
belum, jika permohonan pailit itu diajukan oleh debitor perorangan yang telah
menikah maka permohonan tersebut hanya dapat diajukan atas persetujuan suami
atau isteri, kecuali antara suami atau isteri tidak ada percampuran harta.
2. Perserikatan-perserikatan dan perkumpulan-perkumpulan tidak berbadan hukum
lainnya. Permohonan pernyataan pailit terhadap suatu Firma harus memuat nama
dan tempat kediaman masingmasing pesero yang secara tanggung renteng terikat
untuk seluruh utang firma.
3. Perseroan-perseroan, Perkumpulan-Perkumpulan, Koperasi maupun Yayasan
yang berbadan hukum. Dalam hal ini berlakulah ketentuan mengenai kewenangan
masing-masing badan hukum sebagaimana diatur dalam anggaran dasarnya.
4. Harta peninggalan. Mengenai harta peninggalan dari seorang yang telah meninggal
dunia dapat pula dinyatakan pailit berdasarkan Pasal 208 UU Kepailitan dan
PKPU. Untuk itu para ahli waris harus dipanggil melalui juru sita untuk didengar
tentang adanya permohonan itu

PIHAK YANG DAPAT MENGAJUKAN


KEPAILITAN
Debitur
Seorang kreditur atau lebih
Kejaksaan
Bank Indonesia
Badan Pengawas Pasar Modal
Menteri Keuangan
9

1. Debitur Sendiri
Seorang debitur dapat mengajukan permohonan pernyataan pailit atas dirinya
sendiri. Jika debitur masih terikat dalam pernikahan yang sah, permohonan hanya
dpt diajukan atas persetujuan suami atau istri
2. Seorang Kreditur atau lebih
Kreditur yang dapat mengajukan permohonan pailit terhadap debiturnya adalah
kreditur konkuren, kreditur preferen, kreditur separatis
3. Kejaksaan
Kejaksaan dapat mengajukan permohonan pailit demi kepentingan umum.
Pengertian kepentingan umum adalah kepentingan bangsa dan negara dan atau
kepentingan masyarakat, misalnya : Debitur melarikan diri, Debitur menggelapkan
bagian dari harta kekayaan, Debitur mempunyai utang kpd BUMN atau badan
usaha lain yg menghimpun dana dari masyarakat, Debitur mempunyai utang yang
berasal dari penhimpunan dana dari masyarakat luas, Debitur tidak beritikad baik
atau tidak kooperatif dalam menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh
waktu. Dalam hal lainnya yg menurut merupakan kepentingan umum

10

4. Bank Indonesia
Permohonan pailit terhadap bank hanya dapat diajukan oleh Bank
Indonesia berdasarkan penilaian kondisi keuangan perbankan
secara keseluruhan
5. Badan Pengawas Pasar Modal
Permohonan pailit terhadap perusahaan efek, bursa efek, lembaga
kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan dan penyelesaian,
hanya dapat diajukan oleh BAPEPAM
6. Menteri Keuangan
Permohonan
pernyataan
pailit
terhadap
perusahaan
asuransi,perusahaan reasuransi, dana pensiun atau badan usaha
milik negara yang bergerak di bidang kepentingan publik, hanya
dapat diajukan Menteri Keuangan.

11

Macam-Macam Kreditur Dalam Pailit


1. Kreditur Konkuren (Pasal 1132 KUHPdt)
2. Kreditur Preferen (Pasal 1134 KUHPdt)
3. Kreditur Separatis

12

2. Syarat harus adanya utang


Pengertian mengenai utang di dalam hukum kepailitan Indonesia mengikuti
setiap perubahan aturan kepailitan yang ada.
Di dalam Faillissements Verordening tidak diatur tentang pengertian utang.
Faillissements Verordening menentukan bahwa putusan pernyataan pailit
dapat dikenakan terhadap :
Pertama : setiap debitor (orang yang berutang) yang tidak mampu
membayar utangnya yang berada dalam keadaan berhenti
membayar kembali utang tersebut
Kedua : setiap berutang yang berada dalam keadaan telah berhenti
membayar utang-utangnya
Ketiga : setiap debitor yang berada dalam keadaan berhenti membayar
utang-utangnya.
3. Syarat adanya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih
Dalam syarat ini menunjukkan bahwa adanya utang yang telah jatuh waktu
dan dapat ditagih menunjukkan bahwa kreditor sudah mempunyai hak untuk
menuntut debitor untuk memenuhi prestasinya.
Suatu utang dikatakan sebagai utang yang telah jatuh waktu atau utang
yang expired, yaitu utang yang dengan sendirinya menjadi utang yang telah
dapat ditagih. Sedangkan utang yang telah dapat ditagih belum tentu
merupakan utang yang telah jatuh waktu. Di sisi lain, suatu utang dikatakan
jatuh tempo dan dapat ditagih yaitu apabila utang itu sudah waktunya untuk
dibayar.

13

1. Kreditur Konkuren
a. Para kreditur dengan hak Pari Passu Pro Rata
b. Kreditur konkuren mempunyai kedudukan yang sama atas
pelunasan utang tanpa ada yang didahulukan
2. Kreditur Preferen
a. Kreditur yang karena UU, mendapatkan pelunasan terlebih
dahulu
b. Mempunyai hak istimewa yaitu hak yg oleh UU diberikan kepada
seorang berpiutang sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada
orang berpiutang lainnya
3. Kreditur Separatis
a. Kreditur pemegang hak jaminan kebendaan
b. Hak yang dipunyai kreditur ini adalah hak kewenangan sendiri
menjual / mengeksekusi objek agunan, tanpa putusan pengadilan
(parate eksekusi)

Pari Passu Prorata adalah Harta kekayaan tersebut merupakan


jaminan bersama untuk para kreditor & hasilnya harus dibagikan
secara proporsional (prorata) antara mereka, kecuali jika antara
para kreditor itu ada yg menurut UU harus didahulukan dalam
menerima pembayaran tagihannya.

14

Permohonan Kepailitan
Setiap permohonan pernyataan kepailitan, baik
yang diajukan oleh debitur sendiri maupun oleh
pihak diluar debitur, harus diajukan melalui
seorang advokat yang memiliki izin beracara di
Pengadilan.
Permohonan Pailit dapat diajukan tanpa
memakai
advokat,
apabila
permohonan
dimaksud diajukan oleh Kejaksaan, Bank
Indonesia, Bapepam dan Menteri Keuangan.

15