Vous êtes sur la page 1sur 17

LAPORAN KASUS DOKTER INTERNSHIP

Eklampsia

Ilmu Kebidanan dan Kandungan

dr. Hema Meliny Junita Peranginangin

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SINJAI


2016

No. ID dan Nama Peserta : dr. Hema Meliny Junita Peranginangin


No. ID dan Nama Wahana: RSUD Sinjai
Topik: Eklampsia
Tanggal (kasus) :
Nama Pasien : Ny. H

No. RM: 089388

Jenis Kelamin : Perempuan


Umur

: 20 tahun

Pekerjaan

: IRT

Tanggal presentasi :

/ 01 /2016

Pendamping:

dr. Asria Rusdi


Tempat presentasi:
Obyek presentasi :
Keilmuan
Diagnostik

Keterampilan
Manajemen

Neonatus

Anak

Bayi

dr. Syarifah Husnah

Penyegaran
Masalah
Remaja

Dewasa

Tinjauan pustaka
Istimewa
Lansia

Bumil

Deskripsi:

Ny. H, 20 tahun G1P0A0 hamil 37 minggu datang dengan keluhan kejang sejak 4 jam smrs
4 jam SMRS pasien kejang sebanyak 5 kali di rumah dan 3 jam SMRS pasien kejang 1 kali

di puskesmas
Pasien merasa nyeri perut tembus ke belakang sejam 3 jam smrs, keluar air-air (-), keluar
lendir dan darah dari kemaluan(-), mules(+), demam(-), sakit kepala(+), nyeri ulu hati(-),
pandangan kabur(-), keputihan(-), sesak(-), batuk(-). Pasien masih merasakan adanya

gerakan janin. BAK dan BAB normal.


Pasien rutin ANC ke bidan Puskesmas dan didiagnosis hipertensi sejak usia kehamilan 32

minggu.
Tujuan: : Menegakkan diagnosis dan penataksanaan
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
bahasan:

Audit

pustaka

Cara

Diskusi

membahas:

Presentasi dan E-mail

Pos

diskusi

Data Pasien: Nama: Ny. H


Nama klinik
RSUD Sinjai
Data utama untuk bahan diskusi:
Pemeriksaan Subjektif

No.Registrasi: 089388

Ny. H, 20 tahun G1P0A0 hamil 37 minggu datang dengan keluhan kejang sejak 4 jam smrs
4 jam SMRS pasien kejang sebanyak 5 kali di rumah dan 3 jam SMRS pasien kejang 1 kali

di puskesmas
Pasien merasa nyeri perut tembus ke belakang sejam 3 jam smrs, keluar air-air (-), keluar
lendir dan darah dari kemaluan(-), mules(+), demam(-), sakit kepala(+), nyeri ulu hati(-),
pandangan kabur(-), keputihan(-), sesak(-), batuk(-). Pasien masih merasakan adanya

gerakan janin. BAK dan BAB normal.


Pasien rutin ANC ke bidan Puskesmas dan didiagnosis hipertensi sejak usia kehamilan 32

minggu.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat hipertensi, penyakit jantung, DM, asthma, alergi obat/makanan : disangkal

Riwayat Obstetri
G1P0A0 hamil 37 minggu
Riwayat Ante Natal Care (ANC) : periksa kehamilan di bidan, pemeriksaan pertama pada
usia kehamilan 1 bulan.
Riwayat Haid : Menarche usia 14 tahun, lama menstruasi 5-7 hari, siklus menstruasi 28 hari,
HPHT : 25 Maret 2015
Riwayat Perkawinan : menikah 1 kali (umur 19 tahun)
Riwayat Keluarga Berencana : kondom

Pemeriksaan Objektif
Pemeriksaan fisik :
Keadaan Umum : Lemah, Apatis, Tanda Vital : TD: 180/150 mmHg, Nadi: 88 x/menit,
Pernafasan: 28 x/menit Suhu: 37,6 0C, Mata: konjunctiva tidak pucat, sclera tidak ikterik,
Jantung: BJ I-II normal, Murmur(-), Gallop(-), Paru: vesikuler, Rh -/-, Wh -/-, Abdomen:
membesar sesuai kehamilan, nyeri tekan abdomen(-), Ekstremitas: akral hangat, perfusi perifer
cukup, edema +/+ minimal
3

Pemeriksaan obstetri :
Pemeriksaan Leopold :
I : Teraba bagian besar lunak dan melenting kesan bokong
II : Teraba bagian memanjang di sebelah kiri, rata, keras kesan punggung, dan di sebelah kanan
teraba bagian kecil kesan ekstremitas
III : Teraba bagian besar dan keras kesan kepala
IV : Kepala belum masuk pintu atas panggul
Kesimpulan: teraba janin tunggal, intra uterin, memanjang, preskep, puki, kepala janin belum
masuk pintu atas panggul
TFU 30 cm, TBJ 2635 gr, bagian paling bawah kepala masuk 0/5, DJJ 162 dpm, HIS
2x/10/20, I: V/U tenang, VT: 0 cm, ketuban(+), kepala Hodge I-II
Pemeriksaan laboratorium :
HB = 10,3 g/dL, Eritrosit = 4,68 x 106/ uL, HT = 32,2 %, Leukosit = 17.200 /ul, MCV = 69 fL,
MCH = 22 pg, Trombosit = 294.000 /uL, GDS = 102 g/dl, Gol. Darah = A+, HbsAg = non
reaktif, Protein urin = +3
Daftar Pustaka
1. Moldenhauer JS, Baha MS. Hypertensive Disoder of Pregnancy. In: Scott JS, Ronald SG,
et al, ed. Danforths Obstetrics and Gynecologic, 9 th ed. New York. Lippincott Williams
and Wilkins, 2003.
2. Cunningham FG, et.al, editors. In: Williams Obstetrics. 22 nd ed.New York: McGraw-Hill,
2005. p.761-98.
3. Eure CR, Lindsay MK, Graves WL. Risk of adverse pregnancy outcomes in young
adolescent parturients in an inner-city hospital. American Journal of Obstetrics &
Gynecology. 186(5):918-920, May 2002.
4. Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editor. Dalam: Buku panduan
praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 2002. M 38-42.
5. Clinical Resource Efficiency Support Team (CREST). Management of severe preeclampisa and eclampsia. 2001.
6. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Dalam: Ilmu Kebidanan Edisi
ketiga. Jakarta: Yayasan Bina Nusantara, 1991. h.299-300.
4

7. Sibai BM. Diagnosis, prevention, and management of eclampsia obstetrics & gynecology
2005;105:402-410

(cited

2007

Nov

13).

Available

from:

URL:

http://www.ihs.gov/medicalprograms/mch/M/obgyn1105_AOM.cfm.htm.

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Keluhan utama : hamil 37 minggu dan kejang 6 kali sejak 4 jam smrs
Riwayat perjalanan penyakit :
Empat jam sebelum masuk rumah sakit, pasien mengalami kejang. Menurut ibu pasien, pasien
mengalami kejang sebanyak 5 kali. Kejang berupa kaku dan kelojotan seluruh tubuh, mata
mendelik ke atas dan mulut berbusa, lama kejang kurang lebih 5 menit setiap kali kejang, jarak
antar kejang 10 menit. Selama dan sesudah kejang, pasien tidak sadar. Terdapat muntah pada
pasien berisi air setelah kejang. Pasien lalu dibawa orang tuanya ke puskesmas. Saat di
puskesmas pasien kembali kejang sebanyak 1 kali dan pasien tetap tidak sadar, kemudian pasien
dirujuk pasien ke RSUD Sinjai. Saat di RSUD Sinjai, tekanan darah pasien 180/150 mmHg.
Dua belas jam sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh sakit kepala yang disertai mual dan
muntah 1 kali berisi makanan. Tidak terdapat pandangan kabur, nyeri ulu hati. Tidak terdapat
demam.
Menurut ibu pasien, saat ini pasien hamil cukup bulan. Hari pertama haid terakhir bulan maret
tahun 2015. Catatan menstruasi pasien selama ini dalam batas normal. Pasien memeriksakan
kehamilannya secara teratur. Riwayat tekanan darah tinggi sebelum hamil tidak ada, pasien
dikatakan menderita darah tinggi saat usia kehamilan 32 minggu dan pasien dianjurkan kontrol
ke dokter spesialis kandungan namun pasien tidak memeriksa kandungannya. Buang air kecil
dan buang air besar tidak ada keluhan. Saat ini, pasien tidak mengalami mules-mules, tdak ada
keluar air-air dan keluar lendir darah.
2. Obyektif:
(Tanggal 27-12-2015 jam : WITA)
Status Interna :
Keadaan Umum : lemah, Apatis
Tanda Vital: TD: 180/150 mmHg, Nadi: 88 x / menit, Pernafasan: 28 x/menit Suhu : 37,6 0C

Kepala : Normocephal
Mata : Conjuctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)
THT : Tonsil tidak membesar, pharinx hiperemis (-)
Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax : Gld. mammae dalam batas normal, areola mammae hiperpigmentasi (+), Putting
susu menonjol (+)
Cor :
o
o
o
o

Inspeksi : IC tidak tampak


Palpasi
: IC tidak kuat angkat
Perkusi : Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultas: Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, mur-mur (-), gallop (-)

Pulmo :
o
o
o
o

Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri


Palpasi
: Fremitus raba dada kanan = kiri
Perkusi : Sonor/Sonor
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Ronki basah kasar (-/-), wheezing

Abdomen :
o
o
o
o

Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, striae gravidarum (+)


Palpasi
: Supel, NT (-), hepar lien tidak membesar
Perkusi : Tympani pada bawah processus xipoideus, redup pada daerah uterus
Auskultasi : Peristaltik (+) normal

Genital : Lendir darah (-), air ketuban (-)


Ekstremitas :
- + +

Edema

+ +
+ +

Refleks

Status Obstetri :
Abdomen :
o Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, striae gravidarum (+)
o Palpasi : Teraba janin tunggal, letak memanjang, presentasi kepala, punggung bayi
berada di kiri ibu, teraba kepala 0/5 bagian, kepala belum masuk pintu atas panggul, TFU
30 cm, TBJ 2635 gr, HIS 2x/10/20.
o Pemeriksaan Leopold :
I : Teraba bagian besar lunak dan melenting kesan bokong
6

II : Teraba bagian memanjang di sebelah kanan, rata, keras kesan punggung, dan di
sebelah kiri teraba bagian kecil kesan ekstremitas
III : Teraba bagian besar dan keras kesan kepala
IV : Kepala belum masuk pintu atas panggul
Kesimpulan: teraba janin tunggal, intra uterin, memanjang, preskep, puki, kepala janin
belum masuk pintu atas panggul
o Perkusi : Tympani pada bawah processus xipoideus, redup pada daerah uterus
o Auskultasi : DJJ (+) 140 x/menit.
o VT : 0 cm, ketuban(+), kepala Hodge I-II
Pemeriksaan Laboratorium
Darah (27-12-2015) :

HB
= 10,3 g/dL
Eritrosit = 4,68 x 106/ uL
HT
= 32,2 %
Leukosit = 17.200 /ul
MCV
= 69 fL
MCH
= 22 pg
Trombosit = 294.000 /uL
GDS
= 102 g/dl
Gol. Darah = B+
HbsAg
= non reaktif

Urin Lengkap

Protein urin = +3

3. Pendekatan Diagnosis
TINJAUAN PUSTAKA
EKLAMPSIA GRAVIDARUM
Definisi
Hipertensi gestasional adalah suatu keadaan yang ditandai peningkatan tekanan darah selama
separuh terakhir kehamilan atau 24 jam pertama post partum tanpa proteinuria dan gejala-gejala.
Preeklampsia adalah suatu sindrom yang didefinisikan dengan triad klasik dari hipertensi,
proteinuria, dan gejala-gejala. Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik 140 mmHg
atau diastolik 90 mmHg pada dua kali pemeriksaan terpisah selang waktu 6 jam. Proteinuria
7

signifikan didefinisikan sebagai 300 mg atau lebih dalam 24 jam. Gejala preeklampsia adalah
sakit kepala, perubahan visual, dan nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas. Preeklampsia
dapat dibagi lebih jauh menjadi bentuk ringan dan berat. Perbedaan di antara keduanya dibuat
berdasarkan derajat hipertensi dan proteinuria, dan keterlibatan sistem organ lain. Bentuk khusus
preeklampsia berat ialah HELLP syndrome, yang merupakan akronim dari hemolisis, kenaikan
enzim hati, dan jumlah trombosit yang rendah. Syndrom ini bermanifestasi pada pemeriksaan
laboratorium berupa hemolisis, peningkatan fungsi hati dan trombositopenia. Bentuk lain
preeklampsia berat adalah eklampsia, yang ditandai adanya kejang yang tidak berhubungan
dengan sebab lain.
Hipertensi sebagai penyulit kehamilan dianggap kronik bila pasien didiagnosis hipertensi
sebelum kehamilan, bila hipertensi telah ada sebelum usia gestasi 20 minggu, atau hipertensi
tetap bertahan lebih dari 6 minggu setelah kelahiran.1
INSIDENS DAN FAKTOR RISIKO
Kondisi eklampsia merupakan kondisi yang dapat dicegah dengan cara asuhan antenatal yang
baik. Hal ini menyebabkan insidens eklampsia menurun di Amerika Serikat. Pada tahun 1976,
Parkland Hospital melaporkan insidens eklampsia 1 diantara 700 persalinan. Sedangkan
menurut Ventura dkk (2000), insidens eklampsia di Amerika Serikat pada tahun 1998 adalah 1
diantra 3250. Faktor risiko terjadinya preeklampsia dan eklampsia adalah nullipara, kehamilan di
atas 20 minggu, genetic, gestasi multifetal, usia ibu lebih dari 35 tahun, usia ibu remaja, obesitas,
ras Amerika-Africa.2,3
PATOFISIOLOGI
Kardiovaskular
Perubahan tekanan darah yang terjadi pada pasien dengan preeklampsia, dimungkinkan karena
intensitas vasospasme yang meningkat yang disebabkan peningkatan reaktivitas vaskular.
Mekanisme yang mendasari peningkatan reaktivitas vaskular tersebut dipikirkan karena
perubahan interaksi normal antara substrat vasodilator (prostasiklin, NO) dan vasokonstriktor
(Tromboksan A2, endotelin). Perubahan lain yang terjadi pada preeklampsia adalah
hemokonsentrasi. Pasien dengan preeklapsia memiliki volume darah intravaskular yang rendah
sehingga menurunkan toleransi kehilangan darah pada saat persalinan.
Hematologi
8

Kelainan hematologis paling umum pada preeklampsia adalah trombositopenia (hitung trombosit
< 100.000/mm3). Mekanisme pasti yang menyebabkan trombositopenia masih belum diketahui.
Kelainan hematologis lain yang mungkin terjadi adalah hemolisis mikroangiopati, seperti yang
dapat terjadi pada sindrom HELLP dan dapat didiagnosis dengan sistosit yang terlihat pada
apusan darah tepi serta peningkatan laktat dehidrogenase (LDH). Hematokrit yang rendah
mungkin disebabkan karena hemolisis, sedangkan hematokrit yang tinggi mungkin akibat
hemokonsentrasi.
Renal
Vasospasme renal pada preeklampsia menyebabkan penurunan perfusi renal dan penurunan
GFR. Pada kehamilan normal, GFR meningkat hingga 50%. Oleh karena itu, nilai kreatinin
serum pada pasien preeklampsia jarang meningkat hingga diatas nilai normal pada kehamilan
(0,8 mg/dL). Monitor yang ketat terhadap keluaran urin harus dilakukan terhadap pasien
preeklampsia, oligouri (<500 cc/24 jam) dapat terjadi karna insufisiensi renal. Insufisiensi renal
dapat menyebabkan nekrosis tubulus renalis, walaupun jarang. Lesi renal yang patognomonik
pada preeklampsia disebut endoteliosis kapiler glomerolus, dengan gambaran pembengkakan
endotel kapiler glomerolus dan sel mesangial.
Hepatik
Kerusakan hepar yang berhubungan dengan preeklampsia dapat bervariasi dari mulai
peningkatan ringan enzim hepar sampai hematom subkapsul hepar hingga ruptur hepar. Kondisi
yang berat berhubungan dengan sindrom HELLP. Lesi yang dapat terlihat pada otopsi adalah
perdarahan periportal, lesi iskemik dan deposit fibrin.
Sistim Saraf Pusat
Kejang eklampsia merupakan manifestasi SSP yang paling mengkhawatirkan dan merupakan
penyebab mayor mortalitas ibu pada dunia ketiga. Penyebab eklampsia masih belum jelas, akan
tetapi diperkirakan karena koagulopati, deposit fibrin dan vasospasme. Penelitin radiologis
memperlihatkan edema serebral dan lesi hemoragik, khususnya pada hemisfer posterior. Hal ini
dapat menjelaskan gangguan penglihatan pada preeklampsia. Abnormalitas SSP lain termasuk
sakit kepala dan gangguan penglihatan termasuk skotomata, pandangan kabur dan kebutaan
sementara.
Fetus dan Plasenta
9

Lesi plasenta yang umum terjadi pada pereklampsia adalah atherosis akut arteri desisua. Hal ini
disebabkan oleh adaptasi abnormal dari arteri spiral-sitotrofoblas dan menyebabkan buruknya
perfusi. Buruknya perfusi plasenta menyebabkan oligohidramnion, IUGR, abrupsi plasenta
hingga kematian janin.1
ETIOLOGI
Penyebab timbulnya preeklampsia masih belum diketahui. Sindrom ini dicirikan dengan
vasospasme, hemokonsentrasi dan iskemia plasenta, ginjal, hepar dan otak. Kelainan ini tampak
jelas pada perempuan dengan preeklampsia. Beberapa teori mengungkapkan bahwa eklamsia
disebabkan oleh faktor plasenta, imunologis, genetic dan lain-lain. Sampai sekarang sejumlah
besar riset masih mencari penyebab hingga berkembangnya preeklampsia. Tanpa etiologi yang
jelas, memperkirakan resiko berkembangnya preeklampsia pada pasien, melakukan pencegahan
dan memberikan tatalaksana yang tepat terbilang sulit. Terapi utama terhadap sindrom ini adalah
dengan terminasi kehamilan.
Pre-eklampsia merupakan penyakit yang diinduksi oleh plasenta melalui mekanisme yang
dihipotesiskan sebagai kegagalan tubuh ibu untuk membuat neutralizing antibody terhadap
antigen janin. Hal ini diukung dengan bukti epidemiologis bahwa pre-eklamsia lebih banyak
dijumpai pada primigravida, multigravida dengan pasangan baru, dan janin kembar dengan
plasenta besar. Terdapat faktor keturunan yang turun berperan pada reaksi imunologis ibu
membentuk antibodi terhadap antibodi HLA-DR janin sehingga timbulnya hipertensi dalam
kehamilan (Hoff, 1992).
Staff dan kolega pada tahun 1999 mengemukakan bahwa sel-sel desidua yang terangsang akan
mengeluarkan zat-zat proinflamasi ke dalam aliran darah ibu. Mediator seperti interleukin dan
tumor necrosis factor akan mengakibatkan peroksidasi lipid membran sel yang menghasilkan
lebih banyak lagi radikal bebas sehingga terjadi reaksi berantai kerusakan endotel pembuluh
darah.
Kerusakan endotel pembuluh darah akan mengakibatkan edema dan proteinuria, dan
mengganggu keseimbangan produksi zat-zat yang berasal dari endotel dengan resultan ke arah
vasokinstriksi. Hal ini didukung oleh Walsh yang pada tahun 1952 menemukan bahwa pada ibu
dengan preklamsia kadar

tromboksan meningkat sementara prostasiklin dan prostaglandin

menurun sehingga terjadi vasokonstriksi dan keadaan responsif angiotensin-II. Stres oksidatif
10

endotel juga memacu terjadinya koagulasi intravaskuler sehingga terjadi trombositopenia


konsumtif.
Sebagai respon dari keterbatasan aliran darah plasenta dan hipoksia berkepanjangan, plasenta
melepaskan kedalam sirkulasi maternal beberapa substansi termasuk Fms-like tyrosine kinase1
dan spesies oksigen reaktif yang lebih jauh menambah disfungsi vaskular maternal. Siklus
umpan balik positif menghasilkan gejala klinik preeklampsia berat.2
KRITERIA DIAGNOSIS (berdasarkan National High Blood Pressure Education Program
Working Group Report on High Blood Pressure in Pregnancy (2000))2
Hipertensi gestational
-

Tekanan darah > 140/90 mmHg untuk pertama kalinya saat kehamilan

Tidak ada proteinuria

Tekanan darah kembali normal < 12 minggu post partum

Diagnosis akhir dapat ditegakkan setelah post partum

Dapat mengalami gejala lain preeklampsia, seperti nyeri epigastrium, trombositipenia

Pre-eklampsia
Kriteria minimal:
-

Tekanan darah >140/90 mmHg setelah gestasi 20 minggu

Proteinuria 300 mg/24 jam = +1 dipstick

Increased certainty of preeclampsia:


-

Tekanan darah 160/110 mmHg

Proteinuria 24 jam = +2 dipstick

Kreatinin serum > 1.2 mg/dl

Trombosit < 100.000 /ul

Hemolisis mikroangiopati (LDH meningkat)

Peningkatan ALT atau AST

Nyeri kepala menetap, gangguan penglihatan atau serebral lainnya

Nyeri epigastrium persisten

Eklampsia
-

Kejang tanpa ada kemungkinan penyebab lain pada ibu hamil dengan preeklampsia

11

Superimposed preeclampsia
-

Proteinuria onset baru = 300mg/24 jam pada wanita hipertensi tetapi tidak ada
proteinuria sebelum usia gestasi 20 minggu

Peningkatan tiba-tiba pada proteinuria atau tekanan darah atau trombosit < 100.000/ul
pada wanita yang sebelumnya hipertensi dan proteinuria sebelum usia gestasi 20 minggu

Hipertensi
-

Tekanan darah >140/90 mmHg sebelum kehamilan atau usia gestasi < 20 minggu

atau
-

Hipertensi pertama kali didiagnosis sat usia gestasi 20 minggu dan menetap sampai 12
minggu post partum

Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang umum tonik klonik. Hampir tanpa
pengecualian, preeklampsia mendahului onset dari kejang eklampsia. Eklampsia dapat terjadi
selama antepartum, intrapartum atau postpartum. Namun, eklampsia lebih sering terjadi pada
trimester terakhir dan semakin meningkat seiring dengan masa aterm. Pada beberapa tahun
terakhir, insidens terjadinya eklampsia meningkat pada periode postpartum. Menurut Chames
dkk (2002), hal ini berhubungan dengan ANC yang baik, deteksi dini preeklampsia dan
penggunaan profilaksis magnesium sulfat.
Komplikasi utama dari eklampsia adalah abrupsi plasenta (10%), deficit neurologis (7%),
pneumonia aspirasi (7%), edema pulmonal (5%), henti jantung (4%), gagal ginjal akut (4%) dan
kematian ibu (1%). Diagnosis banding eklampsia yaitu epilepsy, ensefalitis, meningitis, tumor
serebri, sistiserkosis, dan ruptur aneurisma serebri. Namun sampai semua penyebab dieksklusi,
setiap wanita hamil yang mengalami kejang dianggap sebagai eklampsia. 2
TATALAKSANA
Prinsip penatalaksanaan eklampsia sesuai standarisasi yang telah dilakukan Parkland Hospital
pada tahun 1955 dan telah terbukti membawa hasil baik adalah:
1. Kontrol kejang dengan pemberian magnesium sulfat intravena, dilanjutkan dengan infus
dosis rumatan atau bolus im dan injeksi im secara periodik.
2. Pemberian antihipertensi oral atau intravena untuk menurunkan tekanan darah jika
ditemukan tekanan diastolik sebesar 100 mmHg. Beberapa klinisi memberi batasan
tekanan diastolik sebesar 105 mmHg atau 110 mHg.
12

3. Hindari pemberian diuretik dan lakukan pembatasan cairan, kecuali jika terdapat
kehilangan cairan jumlah besar. Cairan hiperosmotik sebaiknya tidak diberikan.
4. Akhiri kehamilan.2
Penanganan Kejang

Beri obat antikonvulsan.

Pertahankan jalan pernapasan bebas, menghindarkan tergigitnya lidah

Pemberian oksigen 4-6 L/menit

Lindungi pasien dari kemungkinan trauma

Baringkan pasien pada posisi miring untuk menghindari aspirasi

Antikonvulsan
Dalam menangani kejang, hindari penggunaan polifarmasi karena dapat meningkatkan risiko
depresi pernapasan. Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan
mengatasi kejang pada pre-eklampsia berat dan eklampsia dengan cara mengurangi kepekaan
syaraf pusat pada hubungan neuro-muskular tanpa mempengaruhi bagian lain dari susunan saraf
pusat. Karena proses persalinan dapat menginduksi kejang, maka magnesium sulfat tetap
diberikan selama proses persalinan hingga 24 postpartum.4,5
Tabel 1. Pemberian Magnesium Sulfat pada preeklampsia berat dan eklampsia5
Setelah menilai ABC:
Dosis inisial: bolus 4 g IV dalam 10-15 minute
Tambahkan 8 ml larutan MgSO4 50% ke dalam 12 ml N Saline
= 4 g in 20 ml = 20% solution
Rumatan: 1 g per jam
Dosis: 25 g MgSO4 (50 ml) ke dalam 250 ml N Saline
1 g MgSO4 = 12 ml per jam i.v.
1 g/jam diberikan selama 24 jam setelah didapatkan kondisi berikut: laju pernapasan
> 16 x/menit, urine output > 25 ml/jam, dan refleks patella (+)
Pemberian sebaiknya menggunakan infusion pump
Jika kejang berlanjutan atau kejang rekurens, berikan bolus MgSO4 kedua:
2-4 g tergantung berat badan pasien, selama 5-10 menit
(2 g jika BB <70 kg dan 4 g jika BB >70 kg)
13

Jika kejang masih terus berlanjut atau MgSO4 tidak tersedia, dapat diberikan:
Diazepam (10 mg) atau thiopentone (50 mg IV). Kemungkinan diperlukan intubasi
untuk melindungi jalan napas dan oksigenasi secara adekuat.
Monitor: Selama penggunaan magnesium sulfat, diberikan monitor urine output/jam dan
laju pernapasan, saturasi oksigen, refleks patella setiap 10 menit dalam 2 jam pertama
kemudian setiap 30 menit. Jika infus diberikan lebih dari 24 jam, periksa kadar
magnesium serum setiap hari.
Hentikan pemberian jika ditemukan tanda-tanda toksisitas:

Laju pernapasan <16 x/menit

Refleks patella menurun atau (-)

Kejang terus berlanjut

Kadar toksisitas dalam darah


Pandangan kabur dan bicara kacau..............3.8-5.0 mmol/l
Refleks tendon menurun..................................>5.0 mmol/l
Depresi pernapasan

......................................>6.0 mmol/l

Gagal napas..................................................6.3-7.1 mmol/l


Gagal jantung.................................................>12.0 mmol/l
Jika urine output < 100 ml dalam 4 hours: tanpa ada tanda-tanda toksisitas
magnesium, turunkan rumatan hingga 0,5 g/jam. Nilai ulang kembali balans cairan
refleks patella (-): stop MgSO4 hingga refleks (+)
depresi pernapasan: stop infuse MgSO4
Berikan oksigen dan buat daftar kontrol istimewa
gagal napas: Stop infuse MgSO4, berikan kalsium gluconas i.v, intubasi dan
ventilasi
gagal jantung : resusitasi jantung-paru, stop MgSO4 infusion, berikan kalsium
gluconas i.v, intubasi dan ventilasi, langsung terminasi kehamilan
Antidotum: Calcium gluconate 10%10 ml i.v dalam 10 minutes

Antihipertensi
Jika tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg

atau tekanan sistolik lebih dari 160 mmHg,

beberapa rekomendasi memberi batasan tekanan diastolik lebih dari 100 mmHg atau 105 mmHg
(Cunningham dan Lindheimer, 1992; Sibai, 1996) berikan obat antihipertensi hingga tekanan
diastolik berkisar antara 90-100 mmHg dan mencegah perdarahan serebral. Obat pilihan adalah
14

hidralazin.
Hidralazin
Hidralazin diberikan 5-10 mg perlahan-lahan dalam interval 15-20 menit hingga timbul respons
yang diharapkan, berupa penurunan tekanan diastolik hingga mencapai 90-100 mmHg, tetapi
tidak lebih rendah lagi dikhawatirkan terjadinya penurunan perfusi plasenta. Hidralazyn juga
terbukti efektif mencegah perdarahan serebral.
Labetalol
Labetalol merupakan 1 dan nonselective -blocker, juga digunakan sebagai tatalaksana
hipertensi akut pada kehamilan. Mabies dkk pada 1987 membandingkan efikasi penggunaan
labetalol dengan hidralazin. Didapatkan bahwa labetalol dapat menurunkan tekanan darah lebih
cepat dan sedikit sekali menimbulkan efek takikardi. Meskipun demikian, hidralazin lebih efektif
menurunkan rerata tekanan arteri sehingga lebih menurunkan risiko perdarahan serebral. The
Working Group of NHBPEP (2000) merekomendasikan pemberian dosis awal sebesar 20 mg
bolus iv. Jika tidak efektif dalam 10 menit, dilanjutkan dengan bolus 40 mg, kemudian 80 mg
setiap 10 menit selanjutnya, tetapi dosis total tidak melebihi 220 mg.
Obat antihipertensi lain
The Working Group of NHBPEP (2000) merekomendasikan nifedipin 10 mg dosis oral diulang
dalam 30 menit jika perlu. Berdasarkan BCRCP 2006, nifedipin digunakan sebagai obat pilihan
pada kehamilan dengan hipertensi dimana sebelumnya labetalol dosis maksimal sudah diberikan.
Dikatakan nifedipin lebih dapat mengontrol kenaikan tekanan darah dibandingkan hidralazin dan
labetalol. Meskipun demikian, nifedipin pernah dilaporkan memberikan efek hipotensif pada
beberapa pasien. Nifedipin juga tidak dapat diberikan pada wanita dengan riwayat penyakit
kardiovaskular dan aterosklerosis atau wanita dengan faktor risiko aterosklerosis ( misal,
diabetes insulin-dependen >15 tahun, usia saat hamil >45 tahun).6
Obat antihipertensi lain yang juga dilaporkan dapat menurunkan tekanan darah pada pasien
preeklampsia tapi belum direkomendasikan: verapamil (antagonis kalsium), nimodipin,
ketanserin (selective serotonin2 receptor blocker).2
Tindakan Obstetrik
Setelah kejang dapat diatasi dan keadaan umum penderita diperbaiki, maka direncanakan unuk
pengakhiran kehamilan atau mempercepa persalinan. Pengakhiran kehamilan dapat dilakukan
dengan seksio sesarea atau dengan induksi persalinan per vaginam, tergantung dari beberapa
faktor antara lain: kematangan serviks, komplikasi obstetrik, paritas, adanya ahli anastesia, dan
15

sebagainya.
Persalinan pervaginam merupakan cara paling baik bila dapat dilaksanakan dengan cepat tanpa
kesulitan. Pada eklampsia gravidarum perlu diadakan induksi dengan amniotomi dan infuse
pitosin setelah penderita bebas dari serangan kejang selama 12 jam dan serviks sudah matang.
Jika persalinan sudah mulai pada kala I, dapat dilakukan amniotomi untuk mempercepat partus
dan bila syarat-syarat sudah terpenuhi, dilakukan ekstraksi vakum ataupun cunam dengan
memberikan narkosis umum untuk menghindari rangsangan pada susunan saraf pusat.
Jika induksi persalinan tidak berhasil, kepala janin masih tinggi, dan terdapat dugaan CPD, maka
seksio sesarea diindikasikan.
Ergometrin atau metergin tidak diberikan secara rutin, kecuali jika ditemukan perdarahan
postpartum pada kala II karena dapat menyebabkan konstriksi pembuluh darah dan
meningkatkan tekanan darah.
Bila tekanan darah turun, maka pemberian obat antikonvulsan dapat dikurangi setelah 24 jam
postpartum dan lambat laun dihentikan. Biasanya diuresis bertambah 24-48 jam setelah
kelahiran dan edema serta proteinuria berkurang.7
PENCEGAHAN DAN PROGNOSIS
Prognosis eklampsia baik pada ibu maupun janin tidak terlalu baik, terutama pada negara-negara
berkembang dimana kurang tersedia pelayanan kesehatan maupun kesadaran para ibu untuk
memeriksakan kehamilannya. Hampir satu dari 50 orang pasien dengan kejang eklampsia
meninggal, 23 % membutuhkan ventilasi, dan 35% sekurang-kurangnya mengalami satu
komplikasi mayor berupa edema pulmonal, gagal ginjal, disseminated intravascular coagulation,
sindrom HELLP, acute respiratory distress syndrome, stroke, atau gagal jantung. Stillbirth atau
kematian neonatal terjadi pada satu dari 14 kasus eklampsia.8
Setiap wanita dengan hipertensi selama kehamilan harus dievaluasi pada bulan-bulan awal
postpartum dan diberi penjelasan mengenai kehamilan selanjutnya dan risiko kardiovaskular
yang akan muncul belakangan. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan
tanda-tanda dini preeklampsia. Diperlukan kewaspadaan akan timbulnya pre-eklampsia jika
ditemukan faktor-faktor predisposisi. Meskipun timbulnya pre-eklampsia maupun eklampsia
16

tidak dapat dicegah sepenuhnya, dan hingga 38% dari seluruh kasus eklampsia tidak didahului
oleh tanda dan gejala pre-eklampsia (hipertensi, proteinuria, dan edema)9, frekuensi dapat
dikurangi dengan pemberian penerangan yang cukup dan pengawasan yang baik pada wanita
hamil.
Wanita dengan riwayat eklampsia memiliki risiko eklampsia (1-2%) dan pre-eklampsia (2235%) berulang pada kehamilan berikutnya.9 Penerangan mengenai faktor risiko dan predisposisi,
manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Diet tinggi protein dan rendah lemak,
karbohidrat, serta garam dan penambahan berat badan tidak berlebihan dapat dianjurkan.7,8

4. Rencana Penatalaksanaan
Diagnosis : G1P0A0 Hamil aterm + JPKTH +_PK I laten + Eklampsi
Tata Laksana :
-

Terminasi kehamilan per abdominam cyto

Lanjutkan tata laksana eklampsi :


o Elevasi kepala 300
o Balans cairan seimbang 1500-2000 cc/24jam
o O2 5 lpm nasal kanul
o Injeksi dexamethasone 1 ampul/12 jam
o MgSO4 40% 10 ml bolus cepat
o MgSO4 40% 15 ml drip dalam RL 500 cc dengan tetesan 16 tetes per menit

17