Vous êtes sur la page 1sur 4

Abses Dentoalveolar

A. Definisi, Etiologi, dan Patogenesis


Abses dentoalveolar merupakan suatu kumpulan pus yang terletak di tulang alveolar
sekitar apeks gigi yang mengalami kematian pulpa (Samaranayake, 2001). Abses dentoalveolar
terbagi menjadi dua jenis yaitu abses dentoalveolar akut dan kronis. Abses dentoalveolar akut
merupakan suatu inflamasi disertai pus yang bersifat akut disekitar jaringan periapikal gigi
nonvital terutama ketika mikroba sudah menginfeksi dari saluran akar ke jaringan periapikal,
sedangkan

abses

dentoalveolar

kronis

relatif

tidak

menimbulkan

rasa

sakit

(Samaranayake,2001; Fragiskos, 2007).


Abses dento alveolar berkaitan dengan karies pada dentin yang menyebabkan bakteri
masuk ke rongga pulpa melalui tubulus dentin. Jaringan pulpa akan merespon infeksi tersebut
secara akut melibatkan seluruh pulpa atau kronis tanpa gejala klinis sehingga sulit untuk
mengidentifikasi gigi yang non vital. Adanya bakteri sangat berkaitan dengan adanya kematian
pulpa, selain tu juga terdapat faktor-faktor lain yang berpengaruh seperti rangsangan mekanis
contohnya kecelakaan, termis contohnya panas, dan kimiawi seprti penggunaan bahan
tambalan. Bakteri yang masuk ke dalam pulpa akan menyebabkan keadaan pulpa tidak dapat
dikembalikan seperti semula. Bakteri yang seringkali berkaitan dengan kejadian ini adalah
Streptokokus alfa (streptokokus viridans), stafilokokus, dan sebagian bakteri anaerob lainnya
(Pasaribu, 1986; Samaranayake, 2001).
Bakteri yang terdapat pada ruang pulpa melalui dentin, pulpa yang terbuka, foramen
apikal, ligamen periodontal, dan pembuluh darah akan menginvasi jaringan periodontal melalui
foramen apikal. Bakteri tersebut akan melepaskan toksin yang akan menimbulkan reaksi lokal
(Pasaribu, 1986; Samaranayake, 200). Pada daerah apikal akan menunjukkan tanda-tanda
inflamasi kalor, rubor, dolor, tumor, dan fungsiolesa yang dapat bersifat akut maupun kronis
yang tergantung pada virulensi bakteri, kemampuan sel pertahanan tubuh, dan ada tidaknya
drainase saluran akar. Peradangan akut disebabkan virulensi bakteri yang tinggi disertai
kemampuan pertahanan tubuh yang jika tidak dirawat akan menyebabkan supurasi. Infeksi
yang berkelanjutan akan diikuti peningkatan nanah pada jaringan sehingga akan mencari jalan
keluar ke daerah dengan resistensi rendah seperti jaringan spongiosa, korteks tulang, dan di
bawah periosteum hingga menembus periosteum dan menuju permukaan intra oral berupa
fistula (Pasaribu, 1986).
B. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala abses dentoalveolar antara lain.

1. secara sistemik penderita demam hingga 39-40, rasa menggigil, malaise, myeri pada
otot dan sendi, anoreksia, insomnia, mual, dan muntah.
2. Pemeriksaan laboratorium akan terlihat leukositosis dan peningkatan sedimentasi eritrosit.
3. Pada daerah rongga mulut akan timbul rasa nyeri dengan tingkat keparahan berbeda
tergantung perkembangan inflamasi, nyeri di tahap awal tumpul dan berkelanjutan. Rasa
sakit akan bertambah seiring dengan peningkatan pus. Rasa sakit akan hilang ketika pus
keluar ke jaringan lunak.
4. Adanya edema pada intraoral dan ekstraoral dan seringkali terletak dibagian bukal, jarang
pada palatal atau lingual.pembengkakan disertai warna kemerahan. Pada saat gigi anterior
rahang atas yang terlibat dapat menyebabkan pembengkakan pada bibir atas bahkan
dapat meluas ke kelopak mata. Apabila gigi posterior rahang bawah yang terkena dapat
menimbulkan pembengkakan pada pipi, dagu, dan bahkan meluas ke leher yang
menyebabkan penderita kesulitan dalam bernapas dan menelan (Gerstein, 1983;
Fragiskos, 2007).
5. Gigi yang bersangkutan terasa mengalami elongasi dan mobilisasi.Kegoyangan gigi
disebabkan oleh pus yang menekan tulang penyangga di sekitar gigi yang mengakibatkan
resorpsi tulang alveolar. Kegoyangan ini dapat berkurang apabila penyebab inflamasi
dihilangkan, tetapi bila sudak merusak jaringan pendukung gigi maka bersifat ireversibel.
Gigi sangat sensitif terhadap rangsangan perkusi maupun pada saat berkontak dengan
antagonis .
(Tarigan, 1994; Fragiskos, 2007).
C. Kegawatdaruratan Akibat Abses Dentoalveolar
D. Penatalaksanaan Abses Dentoalveolar
1. Alat dan Bahan
a. Scapel
2. Penatalaksanaan
Penatalaksaan abses dentoalveolar didasarkan pada 4 prinsip yang saling berkaitan
yaitu drainase melalui saluran akar, pemberian obat antibiotik, perawatan endodontik atau
pencabutan gigi yang menyebabkan abses, dan terapi pendukung. Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan sebelum melakukan perawatan abses antara lain.
a) Keadaan umum pasien seperti umur, kesehatan umum, sikap keoperatifan, dan
keadaan sosial ekonomi.
b) Keadaan gigi dan jaringan sekitarnya berkaitan dengan keluhan dan karakteristik rasa
sakit, perluasan abses, kemungkinan gigi untuk dicabut atau diretorasi, dan kerusakan
jaringan periodontal yang terlibat. Foto rontgen dapat digunakan untuk melihat
kerusakan jaringan periodontal dan tulang alveolar (Kennedy, 1992; Tarigan, 1994).
Perawatan pendahuluan yang dilakukan berupa pengurangan rasa sakit dengan
drainase melalui saluran akar atau insisi maupun gabungan keduanya tergantung kasus
yang terjadi. Tatalaksananya adalah sebagai berikut.

a) Mempersiapkan rubber dam.


b) Setelah rubber dam terpasang kemudian drainase pus melalui saluran akar dengan
cara membuka atap kamar pulpa menggunakan round bur. Pada saat membuka kamar
pulpa akan menimbulkan vibrasi yang menyebabkan rasa sakit sehingga diperlukan
penstabilan gigi menggunakan jari.Tetapi apabila nanah sudah mencapai gingiva dapat
dilakukan insisi.
c) Apabila masih terdapat eksudat setelah pembukaan kamar pulpa menandakan adanya
konstriksi kamar pulpa yang terlalu rapat untuk dilalui eksudat.Hal tersebut dapat
ditangani menggunakan file kemudian dibuat foto radiografi untuk mengetahuibentuk
konstriksi apeks kemudian dilebarkan hingga drainase lancar.
d) Melakukan pembersihan dan preparasi saluran akar yang dapat dilakukan pada
kunjungan pertama.
e) Setelah dilakukan preparasi gigi, gigi ditutup untuk mencegah masuknya kotoran yang
akan menumbuk (Bence, 1990).
Insisi dapat dilakukan untuk mengeluarkan pus baik melalui insisi intraoral dan
ekstraoral. Sebelum dilakukan insisi dilakukan pemberian antiseptik. Kemudian melakukan
anestesi di area insisi tempat abses dengan teknik blok bersama-sama dengan infiltrasi
periperal. Pada saat insisis harus memperhatikan beberapa hal antara lain menghindari
kerusakan duktus seperti duktus Wharton dan Stensen, pembuluh darah besar, dan saraf.
Drainase yang adekuat dengan cara melakukan insisi di titik bawah akumulasi untuk
mengurangi rasa sakit dan mempermudah aliran pus karena gravitasi. Insisi diusahakan
terletak di daerah yang tidak terlihat untuk alasan aestetik sehingga disarankan secara
intraoral. Insisi dilakukan pada waktu yang tepat yaitu ketika pus terakumulasi di jaringan
lunak dan berfluktuasi ketika dipalpasi, apabila terlalu cepat akan menyebabkan
perdarahan dan tidak menghilangkan rasa sakit dan edema (Fragiskos, 2007).
Area yang terasa sakit pada saat palpasi dan kemerahan pada kulit atau mukosa
menggambarkan perlunya insisi superfisial menggunakan skapel . Hindari adanya
kompres air hangat secara ekstraoral karena hal tersebut merangsang pergerakan pus ke
kulit yang menyebabkan drainase secara spontan.
Pemberian antibiotik didasarkan pada tingkat keparahan infeksi, usia, dan berat badan

Daftar Pustaka
Bence, R.,1990, Buku Pedoman Endodontik Klinik, Universitas Indonesia, Jakarta.
Fragiskos, F. D., 2007, Oral Surgery, Springer, New York.
Gerstein, 1983, Techniques in Clinical Endodontics, WB. Saunders Company, Philadelphia.
Kennedy, D. B., 1992, Konservasi Gigi Anak, edisi 3, EGC, Jakarta.
Pasaribu, A., 1986, Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Samaranayake, I., 2001, Essential Microbiology for Dentistry, 2nd ed, Churcill Livingstone, New
York.
Tarigan, R., 1994, Perawatan Pulpa Gigi, Widya Medika, Jakarta.