Vous êtes sur la page 1sur 9

ASUHAN KEPERAWATAN

pada PASIEN BPH dengan POST OP TURP


A. Pengkajian
1. Identitas klien
Merupakan biodata klien yang meliputi :
- Nama
:- Umur
: sering dijumpai dengan usia 50-60 thn keatas
- jenis kelamin
: paling sering pada laki-laki
(Donna, D.I, 1991 : 1743 ).
2. Keluhan utama
Nyeri saat miksi, rasa tidak tuntas saat habis miksi.
3. Riwayat penyakit sekarang
Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH dikenal dengan Lower Urinari Tract
Symptoms ( LUTS ) antara lain : hesitansi, pancar urin lemah, intermitensi, terminal
dribbling, terasa ada sisa setelah selesai miksi, urgensi, frekuensi dan disuria.
(Sunaryo, H, 1999 : 12, 13).
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan penyakit sekarang
perlu ditanyakan . Diabetes Mellitus, Hipertensi, PPOM, Jantung Koroner, Dekompensasi
Kordis dan gangguan faal darah dapat memperbesar resiko terjadinya penyulit pasca bedah (
Sunaryo, H, 1999 : 11, 12, 29 ). Ketahui pula adanya riwayat penyakit saluran kencing dan
pembedahan terdahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit pada anggota keluarga yang sifatnya menurun seperti : Hipertensi,
Diabetes Mellitus, Asma perlu digali
6. Riwayat psikososial
Bisa muncul ansietas karena pemasangan kateter.
7. Polapola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat. Timbulnya perubahan pemeliharaan
kesehatan karena tirah baring selama 24 jam pasca TURP. Adanya keluhan nyeri
karena spasme buli buli memerlukan penggunaan anti spasmodik sesuai terapi
dokter
(Marilynn. E.D, 2000 : 683)
b. Pola nutrisi dan metabolism. Klien yang di lakukan anasthesi SAB tidak boleh makan
dan minum sebelum flatus

c. Pola eliminasi. Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP. Retensi urin
dapat terjadi bila terdapat bekuan darah pada kateter. Sedangkan inkontinensia dapat
terjadi setelah kateter di lepas
(Sunaryo, H, 1999: 35)
d. Pola aktivitas dan latihan. Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang
lemah dan terpasang traksi kateter selama 6 24 jam. Pada paha yang dilakukan
perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
e. Pola tidur dan istirahat. Rasa nyeri dan perubahan situasi karena hospitalisasi dapat
mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
f. Pola kognitif perceptual. Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan
Penghidu tidak mengalami gangguan pasca TURP
g. Pola persepsi dan konsep diri. Klien dapat mengalami cemas karena ketidaktahuan
tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP.
h. Pola hubungan dan peran. Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit
maka dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam keluarga tempat
kerja dan masyarakat.
i. Pola reproduksi seksual. Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan ejakulasi
retrograd
( Sunaryo, H, 1999 : 36)
j. Pola penanggulangan stress. Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan
tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP. Gali adanya stres pada klien dan
mekanisme koping klien terhadap stres tersebut.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan. Adanya traksi kateter memerlukan adaptasi klien
dalam menjalankan ibadahnya .
8. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan didasarkan pada sistem sistem tubuh antara lain :
a. Keadaan umum
Setelah operasi klien dalam keadaan lemah dan kesadaran baik, kecuali bila terjadi
shock. Tensi, nadi dan kesadaran pada fase awal ( 6 jam ) pasca operasi harus
diminitor tiap jam dan dicatat. Bila keadaan tetap stabil interval monitoring dapat
diperpanjang misalnya 3 jam sekali
(Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 20 ).
b. Sistem pernafasan
Klien yang menggunakan anasthesi SAB tidak mengalami kelumpuhan pernapasan
kecuali bila dengan konsentrasi tinggi mencapai daerah thorakal atau servikal
(Oswari, 1989 : 40).
c. Sistem sirkulasi

Tekanan darah dapat meningkat atau menurun pasca TURP. Lakukan cek Hb untuk
mengetahui banyaknya perdarahan dan observasi cairan (infus, irigasi, per oral) untuk
mengetahui masukan dan haluaran.
d. Sistem neurologi
Pada daerah kaudal akan mengalami kelumpuhan (relaksasi otot) dan mati rasa
karena pengaruh anasthesi SAB
(Oswari , 1989 : 40).
e. Sistem gastrointestinal
Anasthesi SAB menyebabkan klien pusing, mual dan muntah (Oswari, 1989 : 40) .
Kaji bising usus dan adanya massa pada abdomen .
f. Sistem urogenital
Setelah dilakukan tindakan TURP klien akan mengalami hematuri . Retensi dapat
terjadi bila kateter tersumbat bekuan darah. Jika terjadi retensi urin, daerah supra
sinfiser akan terlihat menonjol, terasa ada ballotemen jika dipalpasi dan klien terasa
ingin kencing (Sunaryo, H ,1999 : 16). Residual urin dapat diperkirakan dengan cara
perkusi. Traksi kateter dilonggarkan selama 6 24 jam (Doddy, 2001 : 6)
g. Sistem muskuloskaletal
Diberikan traksi kateter yang direkatkan di bagian paha klien. Pada paha yang
direkatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
(Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21).
9. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
Setiap penderita pasca TURP harus di cek kadar hemoglobinnya dan perlu diulang
secara berkala bila urin tetap merah dan perlu di periksa ulang bila terjadi penurunan
tekanan darah dan peningkatan nadi. Kadar serum kreatinin juga perlu diulang secara
berkala terlebih lagi bila sebelum operasi kadar kreatininnya meningkat. Kadar
natrium serum harus segera diperiksa bila terjadi sindroma TURP. Bila terdapat tanda
septisemia harus diperiksa kultur urin dan kultur darah
( Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21 ).
b. Uroflowmetri
Yaitu pemeriksaan untuk mengukur pancar urin. Dilakukan setelah kateter dilepas
( Lab / UPF Ilmu bedah RSUD dr. Soetomo, 1994 : 114).
B. Diagnosa Post TURP
1. Retensi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik: bekuan darah, edema, trauma,
prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter.

2. Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder pada
pembedahan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter,
irigasi kandung kemih.

No.
1.

Diagnosa

Retensi

Tujuan/Kriteria Hasil

urin

Tujuan

Pasien

berhubungan

berkemih

dengan obstruksi

dengan

jumlah

mekanik: bekuan

normal

tanpa

darah,

retensi.

edema,

dan
kateter.

tekanan
iritasi

Rasional

1. Kaji haluaran urine dan

1. retensi dapat terjadi

system

Kriteria

Hasil

Menunjukkan
perilaku

yang

meningkatkan

drainase,

khususnya

selama

irigasi berlangsung.
2. Bantu pasien memilih
posisi

trauma, prosedur
bedah,

Intervensi

normal

berkemih.
3. Perhatikan

untuk
waktu,

jumlah berkemih dan


ukuran

aliran

setelah

control kandung

kateter dilepas.
4. Dorong
pemasukan

kemih/ urinaria,

cairan 3000 ml sesuai

pasien

toleransi, batasi cairan

mempertahanka

pada malam hari setelah

n keseimbangan
cairan : asupan
sebanding

kateter dilepas.
5. Pertahankan irigasi
kandung kemih continue

karena edema area


bedah,bekuan

darah

dan spasme kandung


kemih.
2. mendorong

pasase

urine

dan

menngkatkan

rasa

normalitas.
3. kateter biasa lepas 25 hari setelah bedah,
tetapi berkemih dapat
berlanjut

sehingga

menjadi

masalah

untuk

beberapa

waktu karena edema


uretral
kehilangan tonus.

dan

dengan

(continous bladder

4. mempertahankan

haluaran.

irrigation)/ CBI sesuai

hidrasi adekuat dan

indikasi pada periode

perfusi ginjal untuk

pascaoperasi

aliran

urine

penjadwalan
masukan

cairan

menurunkan
kebutuhan berkemih/
gangguan

tidur

selama malam hari.


5. mencuci

kandung

kemih dari bekuan


darah

dan

debris

untuk
mempertahankan
patensi kateter.
2.

Nyeri

akut

Tujuan : Nyeri

1. Kaji

nyeri,

berhubungan

berkurang atau

perhatikan

dengan spasmus

hilang.
Kriteria Hasil :
1. Pasien

intensitas (skala 0-

dorongan

10)
2. Jelaskan pada pasien

berkemih

kandung kemih
dan
sekunder

insisi
pada

pembedahan,
dan pemasangan
kateter.

mengatakan
nyeri
berkurang
2. Ekspresi
wajah pasien
tenang
3. Pasien akan
menunjukka
n
ketrampilan

lokasi,

1. nyeri

tentang gejala dini


spasmus

kandung

kemih.
3. Pertahankan patensi
kateter dan system
drainase.
Pertahankan

intermitten dengan

bebas dari lekukan


dan bekuan
4. Berikan
informasi

sekitar

kateter
menunjukkan
spasme
kemih
2. Kien

kandung
dapat

mendeteksi gajala
dini

selang

tajam,

spasmus

kandung kemih.
3. mempertahankan
fungsi kateter dan
drainase

system.

relaksasi.
4. Pasien akan
tidur

istirahat

yang akurat tentang

Menurunkan

kateter, drainase, dan

resiko

spasme

distensi/spasme

kandung

kemih.
5. Kolaborasi

dengan
tepat.
5. Tanda

tanda

vital

dalam batas
normal.

kandung kemih
4. menghilangkan

pemberian

ansietas

antispasmodic

meningkatkan

contoh :
1) Oksibutinin

kerjasama
5. Rasional

klorida

merilekskan

(Ditropan),

polos,

supositoria
2) Propantelin
bromide

dan

:
otot
untuk

memberikan
penurunan spasme
(pro-

bantanin)
Rasional

dan nyeri

menghilangkan
spasme

kandung

kemih oleh kerja


antikolinergik.
3.

Resiko infeksi
berhubungan
dengan
prosedur
invasif

Tujuan : Pasien

1. Pertahankan

sistem

tidak

kateter steril, berikan

menunjukkan

perawatan

tanda tanda
infeksi
Kriteria Hasil :
1) Pasien tidak
mengalami
infeksi.
2) Dapat
mencapai
waktu
penyembuha

kateter

1. Mencegah

pemasukan bakteri
dan infeksi.
2. Meningkatkan

dengan steril.
2. Anjurkan

intake

output

cairan

cukup

sehingga

yang

urine
resiko

( 2500 3000 )

terjadi

ISK

sehingga

dikurangi

dan

dapat

menurunkan potensial
infeksi.
3. Pertahankan

posisi

urinebag dibawah
tanda

4. Observasi

mempertahankan
fungsi ginjal
3. Menghindari
refleks balik urine

n.
3) Tanda

tanda

vital

tanda vital, laporkan

yang

tanda tanda shock

memasukkan

dan demam

bakteri ke kandung

dalam batas

5. Observasi

normal dan

warna, jumlah, bau.


6. Kolaborasi
dengan

tidak

ada

tanda
tanda syok.

urine:

dokter untuk memberi


obat antibiotic

dapat

kemih.
4. Mencegah

sebelum

terjadi

shock.
5. Mengidentifikasi

adanya infeksi.
6. Untuk mencegah
infeksi

dan

membantu proses
penyembuhan.

PENUTUP
1.1 Kesimpulan

1.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Hancock, Christine, 2000, Kamus Keperawatan, Edisi 17, Jakarta : EGC
Mansjoer,

A,

Suprohaita,

dkk,

2000,

Kapita

Selekta

Kedokteran,

Edisi

3,

Media Aesculapius, Jakarta.


Nurarif, Huda.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose NANDA NICNOC.Yogyakarta: Mediaction Publishing
Schwartz,

dkk.

2000,

Intisari

Prinsip-Prinsip

Ilmu

Bedah,

Edisi

6,

Jakarta:

Bedah

Burnner

EGC.
Smeltzer,

Sutane

C,

2001,

Buku

Ajar

dan Suddarth, Edisi 8 , Jakarta : EGC.

Keperawatan

Medikal