Vous êtes sur la page 1sur 27

BAB I

PEDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan sumber daya
alam termasuk sumber daya mineral logam. Kesadaran akan banyaknya
mineral logam ini mendorong bangsa Indonesia untuk dapat memanfaatkan
sumber daya alam tersebut secara efisien. Dalam pemanfaatanya, tentu saja
menggunakan berbagai metode dan teknologi sehingga dapat diperoleh hasil
yang optimal dengan hasil yang optimal dengan keuntungan yang besar,
biaya

produksi

yang

seminim

mungkin

serta

ramah

lingkungan.

Pengolahan timah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat tidak lepas


dari peran reaksi kimia fisika. Pencucian maupun pemisahan pada timah
merupakan nagian dari proses yang melibatkan reaksi-reaksi kimia fisika.
Oleh karena itu, proses pemurnian timah untuk memperoleh hasil yang
ekonomis perlu di kaji dan dipelajari dari segi kimia fisika.
Timah merupakan logam dasar terkecil yang diproduksi, yaitu kurang
dari 300.000 ton per tahun, apabila dibandingkan dengan produksi
aluminium sebesar 20 juta ton per tahun. Timah putih merupakan unsur
langka, kelimpahan rata-rata pada kerak bumi sekitar 2 ppm, dibandingkan
dengan seng yang mempunyai kadar rata-rata 94 ppm, tembaga 63 ppm dan
timah hitam 12 ppm. Sebagian besar (80%) timah putih dunia dihasilkan dari
cebakan letakan (aluvial), sekitar setengah produksi dunia berasal dari Asia
Tenggara.
Pada abad ke-19, sebelum ditemukannya proses elektrolisis, aluminium
hanya bisa didapatkan dari bauksit dengan proses kimia Whler.
Dibandingkan dengan elektrolisis, proses ini sangat tidak ekonomis, dan
harga aluminium dulunya jauh melebihi harga emas. Karena dulu dianggap
sebagai logam berharga, Napoleon III Paul L.T Heroult dari Perancis (18081873) pernah melayani tamunya yang pertama dengan piring aluminium dan

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

tamunya yang kedua dengan piring emas dan perak. Pada tahun 1886,
Charles Martin Hall dari Amerika Serikat (1863-1914) dan Paul L.T.
Hroult dari Perancis (1863-1914) menemukan proses elektrolisis yang
sampai sekarang membuat produksi aluminium ekonomis.

Aluminium sebagai logam yang bernilai komersial didapatkan dari hasil


ekstraksi metalurgi. Untuk mendapatkan Aluminium ini diperlukan Alumina
sebagai bahan baku yang didapat dari pengolahan bauksit atau dikenal juga
dengan proses Bayer dan proses Hall-Heroult. Pada saat ini Indonesia telah
memiliki pabrik peleburan alumunium satu-satunya dengan cara reduksi
elektrolit yang di kelola oleh PT. Inalum (Indonesia Asahan Alumunium)
dimana bahan baku utamanya adalah alumina (Al2O3).
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana proses pengolahan pada timah?
1.2.2. Bagaimana proses pengolahan pada aluminium?
1.2.3. Apa kegunaan timah?
1.2.4. Apa kegunaan aluminium?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui proses pengolahan timah.
1.3.2. Untuk mengetahui proses pengolahan aluminium.
1.3.3. Untuk mengetahui kegunaan dari timah.
1.3.4. Untuk mengetahui kegunaan dari aluminium.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Timah


Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
simbol Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini
merupakan logam miskin keperakan, dapat ditempa (malleable), tidak
mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam
banyak aloy, dan digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah
karat. Timah diperoleh terutama dari mineral cassiterite yang terbentuk
sebagai oksida.
Timah adalah logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan
yang rendah, berat jenis 7,3 g/cm3, serta mempunyai sifat konduktivitas
panas dan listrik yang tinggi. Dalam keadaan normal (13 1600C), logam
ini bersifat mengkilap dan mudah dibentuk.

Timah putih (sn) adalah unsur kimia dengan simbol Sn (Latin :


stannum) dan nomor atom 50, adalah logam golongan utama di kelompok 14
dari tabel periodik. Timah menunjukkan kemiripan kimia untuk kedua
kelompok 14 elemen tetangga, germanium dan memimpin dan memiliki dua
kemungkinan oksidasi, +2 dan sedikit lebih stabil 4. Timah adalah unsur
paling melimpah ke-49 dan memiliki, dengan 10 isotop stabil, jumlah
terbesar yang stabil isotop dalam tabel periodik. Tin diperoleh terutama dari
mineral kasiterit , di mana itu terjadi sebagai timah dioksida.
Mineral ekonomis penghasil timah putih adalah kasiterit (SnO2),
meskipun sebagian kecil dihasilkan juga dari sulfida seperti stanit, silindrit,
Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

frankeit, kanfieldit dan tealit (Carlin, 2008). Mula jadi timah di daerah jalur
timah yang membentang dari Pulau Kundur sampai Pulau Belitung dan
sekitarnya diawali dengan adanya intrusi granit yang berumur 222 juta
tahun pada Trias Atas. Magma bersifat asam mengandung gas SnF4, melalui
proses pneumatolitik hidrotermal menerobos dan mengisi celah retakan,
dimana terbentuk reaksi: SnF4 + H2O SnO2 + HF2 (Pamungkas, 2006).
Cebakan bijih timah merupakan asosiasi mineralisasi Cu, W, Mo, U, Nb,
Ag, Pb, Zn, dan Sn. Busur metalogenik terbentuknya timah 100 - 1000 km.
Terdapat tiga tipe kelompok asosiasi mineralisasi timah putih, yaitu
stanniferous pegmatites, kuarsa-kasiterit dan sulfida-kasiterit (Taylor, 1979).
Urat kuarsa-kasiterit, stockworks dan greisen terbentuk pada batuan
beku granitik plutonik, secara gradual terbentuk stanniferous pegmatites
yang ke arah dangkal terbentuk urat kuarsa-kasiterit dan greisen (Taylor,
1979). Urat berbentuk tabular atau tubuh bijih berbentuk lembaran mengisi
rekahan atau celah (Strong, 1990). Tipe kuarsa-kasiterit dan greisen
merupakan tipe mineralisasi utama yang membentuk sumber daya timah
putih pada jalur timah yang menempati Kepulauan Riau hingga BangkaBelitung. Jalur ini dapat dikorelasikan dengan Central Belt di Malaysia
dan Thailand (Mitchel, 1979).
Mineral utama yang terkandung di dalam bijih timah berupa kasiterit,
sedangkan pirit, kuarsa, zirkon, ilmenit, galena, bismut, arsenik, stibnit,
kalkopirit, xenotim, dan monasit merupakan mineral ikutan. Timah putih
dalam bentuk cebakan dijumpai dalam dua tipe, yaitu cebakan bijih timah
primer dan sekunder. Pada tubuh bijih primer, kandungan kasiterit terdapat
pada urat maupun dalam bentuk tersebar. Proses oksidasi dan pengaruh
sirkulasi air yang terjadi pada cebakan timah primer pada atau dekat
permukaan menyebabkan terurainya penyusun bijih timah primer. Proses
tersebut menyebabkan juga terlepas dan terdispersinya timah putih, baik
dalam bentuk mineral kasiterit maupun berupa unsur Sn. Proses pelapukan,
erosi, transportasi dan sedimentasi yang terjadi terhadap cebakan bijih timah
putih pimer menghasilkan cebakan timah sekunder, yang dapat berada pada
tanah residu maupun letakan sebagai endapan koluvial, kipas aluvial, aluvial
sungai maupun aluvial lepas pantai. Tubuh bijih primer yang berpotensi

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

menghasilkan sumber daya cebakan timah letakan ekonomis adalah yang


mempunyai dimensi sebaran permukaan erosi luas sebagai sumber dispersi.
Cassiterite adalah mineral timah oksida dengan rumus SnO2.
Berbentuk kristal dengan banyak permukaan mengkilap sehingga tampak
seperti batu perhiasan. Kristal tipis Cassiterite tampak translusen. Cassiterite
adalah sumber mineral untuk menghasilkan logam timah yang utama dan
biasanya terdapat dialam di alluvial atau aluvium.
Stannite adalah mineral sulfida dari tembaga, besi dan timah. Rumus
kimianya adalah Cu2FeSnS4 dan merupakan salah satu mineral yang dipakai
untuk memproduksi timah. Stannite mengandung sekitar 28% timah, 13%
besi, 30% tembaga, dan 30% belerang. Stannite berwarna biru hingga abuabu.
Cylindrite merupakan mineral sulfonat yang mengandung timah,
timbal, antimon, dan besi. Rumus mineral ini adalah Pb2Sn4FeSb2S14.
Cylindrite membentuk kristal pinakoidal triklinik dimana biasanya
berbentuk silinder atau tube dimana bentuk nyatanya adalah gulungan dari
lembaran kristal ini. Warna cylindrite adalah abu-abu metalik dengan
spesifik gravity 5,4. Pertama kali ditemukan di Bolivia pada tahun 1893.
Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebirubiruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada 327,5C dan titik
didih 1.740C pada tekanan atmosfer. Senyawa Pb-organik seperti Pbtetraetil dan Pb-tetrametil merupakan senyawa yang penting karena banyak
digunakan sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin dalam upaya
meningkatkan angka oktan secara ekonomi. PB-tetraetil dan Pb tetrametil
berbentuk larutan dengan titik didih masing-masing 110C dan 200C.
Karena daya penguapan kedua senyawa tersebut lebih rendah dibandingkan
dengan daya penguapan unsur-unsur lain dalam bensin, maka penguapan
bensin akan cenderung memekatkan kadar P-tetraetil dan Pb-tetrametil.
Kedua senyawa ini akan terdekomposisi pada titik didihnya dengan adanya
sinar matahari dan senyawa kimia lain diudara seperti senyawa holegen
asam atau oksidator.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

Sumber timah yang terbesar yaitu sebesar 80% berasal dari endapan
timah sekunder (alluvial) yang terdapat di alur-alur sungai, di darat
(termasuk pulau-pulau timah), dan di lepas pantai. Endapan timah sekunder
berasal dari endapan timah primer yang mengalami pelapukan yang
kemudian terangkut oleh aliran air, dan akhirnya terkonsentrasi secara
selektif berdasarkan perbedaan berat jenis dengan bahan lainnya. Endapan
alluvial yang berasal dari batuan granit lapuk dan terangkut oleh air pada
umumnya terbentuk lapisan pasir atau kerikil.
Mineral utama yang terkandung pada bijih timah adalah cassiterite
(Sn02). Batuan pembawa mineral ini adalah batuan granit yang berhubungan
dengan magma asam dan menembus lapisan sedimen (intrusi granit). Pada
tahap akhir kegiatan intrusi, terjadi peningkatan konsentrasi elemen di
bagian atas, baik dalam bentuk gas maupun cair, yang akan bergerak melalui
pori-pori atau retakan. Karena tekanan dan temperatur berubah, maka
terjadilah proses kristalisasi yang akan membentuk deposit dan batuan
samping.
Timah tidak ditemukan dalam unsur bebasnya dibumi akan tetapi
diperoleh dari senyawaannya. Timah pada saat ini diperoleh dari mineral
cassiterite atau tinstone. Cassiterite merupakan mineral oksida dari timah
SnO2, dengan kandungan timah berkisar 78%. Contoh lain sumber biji timah
yang lain dan kurang mendapat perhatian daripada cassiterite adalah
kompleks mineral sulfide yaitu stanite (Cu2FeSnS4) merupakan mineral
kompleks

antara

tembaga-besi-timah-belerang

dan

cylindrite

(PbSn4FeSb2S14) merupakan mineral kompleks dari timbale-timah-besiantimon-belerang dua contoh mineral ini biasanya ditemukan bergandengan

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

dengan mineral logam yang lain seperti perak. Timah merupakan unsur ke49 yang paling banyak terdapat di kerak bumi dimana timah memiliki
kandungan 2 ppm jika dibandingkan dengan seng 75 ppm, tembaga 50 ppm,
dan 14 ppm untuk timbal. Cassiterite banyak ditemukan dalam deposit
alluvial/alluvium yaitu tanah atau sediment yang tidak berkonsolidasi
membentuk bongkahan batu dimana dapat dapat mengendap di dasar laut,
sungai, atau danau. Alluvium terdiri dari berbagai macam mineral seperti
pasir, tanah liat, dan batu-batuan kecil. Hampir 80% produksi timah
diperoleh

dari

alluvial/alluvium

atau

istilahnya

deposit

sekunder.

Diperkirakan untuk mendapatkan 1 Kg Cassiterite maka sekitar 7 samapi 8


ton biji timah/alluvial harus ditambang disebabkan konsentrasi cassiterite
sangat rendah.
Dibumi timah tersebar tidak merata akan tetapi terdapat dalam satu
daerah geografi dimana sumber penting terdapat di Asia tenggara termasuk
china, Myanmar, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hasil yang tidak
sebegitu banyak diperoleh dari Peru, Afrika Selatan, UK, dan Zimbabwe.
2.1.1. Sifat Timah
1. Timah termasuk golongan IV B dan mempunyai bilangan oksidasi
+2 dan +4.
2. Timah merupakan logam lunak, fleksibel, dan warnanya abu-abu
metalik.
3. Timah tidak mudah dioksidasi dan tahan terhadap korosi disebabkan
terbentuknya lapisan oksida timah yang menghambat proses oksidasi
lebih jauh. Timah tahan terhadap korosi air distilasi dan air laut, akan
tetapi dapat diserang oleh asam kuat, basa, dan garam asam. Proses
oksidasi dipercepat dengan meningkatnya kandungan oksigen dalam
larutan.
4. Jika timah dipanaskan dengan adanya udara maka akan terbentuk
SnO2.
5. Timah ada dalam dua alotrop yaitu timah alfa dan beta. Timah alfa
biasa disebut timah abu-abu dan stabil dibawah suhu 13,2 C dengan
struktur ikatan kovalen seperti diamond. Sedangkan timah beta
Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

berwarna putih dan bersifat logam, stabil pada suhu tinggi, dan
bersifat sebagai konduktor.
6. Timah larut dalam HCl, HNO3, H2SO4, dan beberapa pelarut organic
seperti asam asetat asam oksalat dan asam sitrat. Timah juga larut
dalam basa kuat seperti NaOH dan KOH.
7. Timah umumnya memiliki bilangan oksidasi +2 dan +4. Timah(II)
cenderung memiliki sifat logam dan mudah diperoleh dari pelarutan
Sn dalam HCl pekat panas.
8.

Timah bereaksi dengan klorin secara langsung membentuk Sn(IV)


klorida.

9. Hidrida timah yang stabil hanya SnH4.


Unsur ini memiliki 2 bentuk alotropik pada tekanan normal. Jika
dipanaskan timah abu-abu (timah alfa) dengan struktur kubus berubah pada
13.2C menjadi timah putih (timah beta) yang memiliki struktur tetragonal.
Ketika timah didinginkan pada suhu 13.2C, ia pelan pelan berubah dari
putih

menjadi

abu-abu.

Perubahan

ini

disebabkan

ketidakmurnian

(impurities) seperti alumunium dan seng, dan dapat dicegah dengan


menambahkan antimony atau bismut. Jika dipanaskan dalam udara, timah
membentuk Sn2, sedikit asam, dan membentuk stannate salts dengan oksida.
2.2.

Pengolahan Timah
2.2.1.

Penambangan
Penambangan timah putih dilakukan dengan beberapa cara, yaitu

semprot, penggalian dengan menggunakan excavator, atau menggunakan


kapal keruk untuk penambangan endapan aluvial darat yang luas dan dalam
serta endapan timah lepas pantai. Kapal keruk dapat beroperasi untuk
penambangan cebakan timah aluvial lepas pantai yang berada pada
kedalaman sekitar 15 meter sampai dengan 50. Penambangan menggunakan
cara semprot dilakukan terutama pada endapan timah aluvial darat dengan
sebaran tidak luas dan relatif dangkal. Penambangan dengan menggunakan
shovel/excavator dilakukan untuk menggali cebakan timah putih tipe residu,
yang merupakan tanah lapukan bijih primer, umumnya berada pada lereng
daerah perbukitan. Penambangan oleh masyarakat umumnya dilakukan

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

dengan cara semprot. Banyak juga penambangan dalam sekala kecil terdiri
dari satu atau dua orang, menggunakan peralatan sangat sederhana berupa
sekop, saringan dan dulang, seperti penambangan oleh masyarakat di lepas
pantai menggunakan sekop dengan panjang sekitar 2,5 meter, dan dilakukan
pada saat air laut surut. Penambangan banyak dilakukan pada wilayah bekas
tambang dan sekitarnya. Bahkan tailing yang semula dianggap sudah tidak
ekonomis, kembali diolah untuk dimanfaatkan kandungan timah putihnya.
Penambangan oleh masyarakat di lepas pantai selain menggunakan peralatan
manual sederhana, menggunakan juga pompa hisap dan perahu.

2.2.2

Pengolahan (Smelting)
Timah diolah dari bijih timah yang didapatkan dari batuan
atau mineral timah ( kasiterit SnO2 ). Proses produksi logam timah
dari bijinya melibatkan serangkaian proses yang terbilang rumit
yakni pengolahan mineral ( peningkatan kadar timah/proses fisik dan
disebut juga upgrading ), persiapan material yang akan dilebur,
proses peleburan, proses refining dan proses pencetakan logam
timah. Pemakaian timah biasanya dalam bentuk paduan timah yang
dikenal dengan nama timah putih yakni campuran 80% timah, 11 %
antimony dan 9% tembaga serta terkadang ditambah timbal. Timah
putih ini terutama dipakai untuk peralatan logam pelindung dan pipa

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

dalam industri kimia, industri bahan makanan dan untuk menyimpan


bahan makanan. Proses pengolahan timah ini bertujuan sesuai
dengan namanya yaitu meningkatkan kadar kandungan timah dimana
Bijih timah diambil dari dalam laut atau lepas pantai dengan
penambangan atau pengerukan setelah itu dilakukan pembilasan
dengan air atau washing dan kemudian diisap dengan pompa. Bijih
timah hasil dari pengerukan biasanya mengandung 20 30 % timah.
Setelah dilakukan proses pengolahan mineral maka kadar kandungan
timah menjadi lebih dari 70 %, sedangkan bijih timah hasil
penambangan darat biasanya mengandung kadar timah yang sudah
cukup tinggi >60%. Adapun Proses pengolahan mineral timah ini
meliputi banyak proses, yaitu :
a.

Washing atau Pencucian

(Wassrij

(wasre) tempat pencucian PasirTimah )

Pencucian timah dilakukan dengan memasukkan


bijih timah ke dalam ore bin yang berkapasitas 25 drum per
unit dan mampu melakukan pencucian 15 ton bijh per jam. Di
dalam ore bin itu bijih dicuci dengan menggunakan air
tekanan dan debit yang sesuai dengan umpan.

( Proses Pengolahan Timah )

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

10

b.

Pemisahan berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji


kadar
Bijih yang didapatkan dari hasil pencucian pada ore
bin lalu dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran dengan
menggunakan alat screen, mesh, setelah itu dilakukan pengujian
untuk mengetahui kadar bijih setelah pencucian. Prosedur
penelitian

kadar

tersebut

adalah

mengamatinya

dengan

mikroskop dan menghitung jumlah butir dimana butir timah dan


pengotornya memiliki karakteristik yang berbeda sehinga dapat
diketahui kadar atau jumlah kandungan timah pada bijih.
c.

Pemisahan berdasarkan berat jenis


Proses pemisahan ini menggunakan alat yang disebut jig
Harz.bijih timah yang mempunyai berat jenis lebih berat akanj
mengalir ke bawah yang berarti kadar timah yang diinginkan
sudah tinggi sedangkan sisanya, yang berkadar rendah yang juga
berarti mengandung pengotor atau gangue lainya seperti quarsa ,
zircon, rutile, siderit dan sebagainya akan ditampung dan
dialirkan ke dalam trapezium Jig Yuba.

d. Pengolahan tailing
Dahulu tailing timah diolah kembali untuk diambil
mineral bernilai yang mungkin masih tersisa didalam tailing atau
buangan. Prosesnya adalah dengan gaya sentrifugal. Namun saat
ini proses tersebut sudah tidak lagi digunakan karena tidak efisien
karena kapasitas dari alat pengolah ini adalah 60 kg/jam.
e. Proses Pengeringan
Proses pengeringan dilakukan didalam rotary dryer. Prinsip
kerjanya adalah dengan memanaskan pipa besi yang ada di
tengah tengah rotary dryer dengan cara mengalirkan api yang
didapat dari pembakaran dengan menggunakan solar.

f.

Klasifikasi
Bijih bijih timah selanjutnya akan dilakukan proses
proses

pemisahan/klasifikasi

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

lanjutan

yakni:

klasifikasi
11

berdasarkan

ukuran

butir

dengan

screeningklasifikasi

berdasarkan sifat konduktivitasnya dengan High Tension


separator. Klasifikasi berdasarkan sifat kemagnetannya dengan
Magnetic separator. Klasifikasi berdasarkan berat jenis dengan
menggunakan alat seperti shaking table , air table dan multi
gravity separator(untuk pengolahan terak/tailing).
g. Pemisahan Mineral Ikutan
Mineral ikutan pada bijih timah yang memiliki nilai atau
value yang terbilang tinggi seperti zircon dan thorium( unsur
radioaktif ) akan diambil dengan mengolah kembali bijih timah
hasil proses awal pada Amang Plant. Mula mula bijih diayak
dengan vibrator listrik berkecepatan tinggi dan disaring/screening
sehingga akan terpisah antara mineral halus berupa cassiterite
dan mineral kasar yang merupakan ikutan. Mineral ikutan
tersebut kemudian diolah pada air table sehingga menjadi
konsentrat

yang

selanjutnya

dilakukan

proses

smelting,

sedangkan tailingnya dibuang ke tempat penampungan. Mineral


mineral tersebut lalu dipisahkan dengan high tension separator
pemisahan berdasarkan sifat konduktor nonkonduktornya atau
sifat konduktivitasnya. Mineral konduktor antara lain: Cassiterite
dan Ilmenite. Mineral nonconductor antara lain: Thorium, Zircon
dan Xenotime. Lalu masing masing dipisahkan kembali
berdasarkan

kemagnetitanya

dengan

magnetic

separation

sehingga dihasilkan secara terpisah, thorium dan zircon.


h. Proses pre-smelting
Setelah dilakukan proses pengolahan mineral dilakukan
proses pre-smelting yaitu proses yang dilakukan sebelum
dilakukannya

proses

peleburan,

misalnya

preparasi

material,pengontrolan dan penimbangan sehingga untuk proses


pengolahan timah akan efisien.
i.

Proses Peleburan ( Smelting )


Ada dua tahap dalam proses peleburan :

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

12

- Peleburan tahap I yang menghasilkan timah kasar dan


slag/terak.
-

Peleburan

tahap

II

yakni

peleburan

slag

sehingga

menghasilkan hardhead dan slag II.

( Peleburan )
Proses peleburan berlangsung seharian 24 jam dalam
tanur

guna menghindari kerusakan pada

tanur/refraktori.

Umumnya terdapat tujuh buah tanur dalam peleburan. Pada tiap


tanur terdapat bagian bagian yang berfungsi sebagai panel
kontrol: single point temperature recorder, fuel oil controller,
pressure recorder, O2 analyzer,multipoint temperature recorder
dan combustion air controller. Udara panas yang dihembuskan ke
dalam mfurnace atau tanur berasal dari udara luar / atmosfer yang
dihisap oleh axial fan exhouster yang selanjutnya dilewatkan ke
dalam regenerator yang mengubahnya menjadi panas.Tahap awal
peleburan baik peleburan I dan II adalah proses charging yakni
bahan baku bijih timah atau slagI dimasukkan kedalam tanur
melalui hopper furnace. Dalam tanur terjadi proses reduksi
dengan suhu 1100 15000C.unsure unsure pengotor akan
teroksidasi menjadi senyawa oksida seperti As2O3 yang larut
dalam timah cair. Sedangkan SnO tidak larut semua menjadi
logam timah murni namun adapula yang ikut ke dalam slag dan
juga dalam bentuk debu bersamaan dengan gas gas lainnya.
Setelah peleburan selesai maka hasilnya dimasukkan ke foreheart
untuk melakukan proses tapping. Sn yang berhasil dipisahkan
selanjutnya

dimasukkan

kedalam

float

untuk

dilakukan

pendinginan /penurunan temperatur hingga 4000C sebelum

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

13

dipindahkan ke dalam ketel.sedangkan hardhead dimasukkan ke


dalm flame oven untuk diambil Sn dan timah besinya.

j.

Proses Refining ( Pemurnian )


- Pyrorefining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan panas
diatas titik lebur sehingga material yang akan direfining cair,
ditambahkan mineral lain yang dapat mengikat pengotor atau
impurities sehingga logam berharga dalam hal ini timah akan
terbebas dari impurities atau hanya memiliki impurities yang
amat sedikit, karena afinitas material yang ditambahkan terhadap
pengotor lebih besar dibanding Sn. Contoh material lain yang
ditambahkan untuk mengikat pengotor: serbuk gergaji untuk
mengurangi kadar Fe, Aluminium untuk untuk mengurangi kadar
As sehingga terbentuk AsAl, dan penambahan sulfur untuk
mengurangi kadar Cu dan Ni sehingga terbentuk CuS dan NiS.
Hasil proses refining ini menghasilkan logam timah dengan kadar
hingga 99,92% (pada PT.Timah). Analisa kandungan impurities
yang tersisa juga diperlukan guina melihat apakah kadar
impurities sesuai keinginan, jika tidak dapat dilakukan proses
refining ulang.
- Eutectic Refining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan
crystallizer dengan bantuan agar parameter proses tetap konstan
sehingga dapat diperoleh kualitas produk yang stabil. Proses
pemurnian ini bertujuan mengurangi kadar Lead atau Pb yang
terdapat pada timah sebagai pengotor /impuritiesnya. Adapun
prinsipnya adalah berhubungan dengan temperatur eutectic PbSn, pada saat eutectic temperature lead pada solid solution
berkisar 2,6% dan aakan menurun bersamaan dengan kenaikan
temperatur, dimana Sn akan meningkat kadarnya. Prinsip

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

14

utamnya adalah dengan mempertahankan temperatur yang


mendekati titik solidifikasi timah.
- Electrolitic Refining
Yaitu proses pemurnian logam timah sehingga
dihasilkan kadar yang lebih tinggi lagi dari pyrorefining yakni
99,99%( produk PT. Timah: Four Nine ). Proses ini melakukan
prinsip

elektrolisis

elektrorefining

atau

dikenal

menggunakan

elektrorefining.

larutan

elektrolit

Proses
yang

menyediakan logam dengan kadar kemurnian yang sangat tinggi


dengan dua komponen utama yaitu dua buah elektroda anoda
dan katoda yang tercelup ke dalam bak elektrolisis.Proses
elektrorefining yang dilakukan PT.Timah menggunakan bangka
four nine (timah berkadar 99,99% ) yang disebut pula starter
sheetsebagai katodanya, berbentuk plat tipis sedangkan anodanya
adalah ingot timah yang beratnya berkisar 130 kg dan larutan
elektrolitnya H2SO4. proses pengendapan timah ke katoda terjadi
karena adanya migrasi dari anoda menuju katoda yang
disebabkan oleh adanya arus listrik yang mengalir dengan voltase
tertentu dan tidak terlalu besar.
k. Pencetakan

( Tumpukan Timah siap Jual )

Pencetakan ingot timah dilakukan secara manual dan


otomatis. Peralatan pencetakan secara manual adalah melting
kettle dengan kapasitas 50 ton, pompa cetak and cetakan logam.
Proses ini memakan waktu 4 jam /50 ton, dimana temperatur
timah cair adalah 2700C. Sedangkan proses pencetakan otomatis

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

15

menggunakan casting machine, pompa cetak, dan melting


kettleberkapasitas 50 ton dengan proses yang memakan waktu
hingga 1 jam/60 ton. Langkah langkah pencetakan:
a. Timah yang siap dicetak disalurkan menuju cetakan.
b. Ujung pipa penyalur diatur dengan menletakkannya diatas
cetakan pertama pada serinya, aliran timah diatur dengan
mengatur klep pada piapa penyalur.
c. Bila cetakan telah penuh maka pipa penyalur digeser ke
cetakan berikutnya dan permukaan timah yang telah dicetak
dibersihkan dari drossnya dan segera dipasang capa pada
permukaan timah cair.
d. Kecepatan pencetakan diatur sedemikian rupa sehingga laju
pendinginan akan merata sehingga ingot yang dihasilkan
mempunyai kulitas yang bagus atau sesuai standar.
e. Ingot timah yang telah dingin disusun dan ditimbang.

2.3. Kegunaan Timah


Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa logam timah banyak dipergunakan
untuk solder(52%), industri plating (16%), untuk bahan dasar kimia (13%),
kuningan & perunggu (5,5%), industri gelas (2%), dan berbagai macam aplikasi
lain (11%).
Akibat dari petumbuhan permintaan, kegunaan baru dari timah
ditemukan. Masalah lingkungan, keselamatan dan kesehatan mempengaruhi
kegunaan timah. Hasil dari riset yang sedang dilakukan di Internatioanal Tin
Research Institude Ltd., lembaga yang dibiayai industri, banyak pasar baru
untuk timah sedang dikembangkan.
Adapun manfaat timah dalam kehidupan sehari-hari yaitu digunakan
sebagai pelapis dalam kaleng kemasan makanan, digunakan dalam pembuatan
bola lampu, sampai pada penggunaan pada alat-alat olah raga.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

16

Industri kimia adalah konsumen timah yang paling cepat berkembang.


Permintaan sangat kuat untuk peralatan rumah tangga dan cat industri, pada
plastik dan lapisan tanpa belerang yang digunakan industri teknik (tembaga,
perunggu dan fosfor perunggu diantara yang lainnya). Contoh aplikasi komersil
adalah pelapisan timah pada kawat dan kabel tembaga dan pembuatan bentukbentuk timah tempa.
2.4. Pengertian Aluminium
Aluminium (dalam bentuk bauksit) adalah suatu mineral yang berasal
dari magma asam yang mengalami proses pelapukan dan pengendapan secara
residual. Proses pengendapan residual sendiri merupakan suatu proses
pengkonsentrasian mineral bahan galian di tempat.
Aluminium merupakan suatu metal reaktif, dan tidak terjadi secara
alami. Oleh karena itu, aluminium tak dikenal sebagai unsur terpisah sampai
tahun 1820-an, walaupun keberadaan nya telah diramalkan oleh beberapa
ilmuwan yang telah belajar aluminum campuran. Aluminium pertama kali
diproduksi dengan bebas oleh ahli kimia dan ahli ilmu fisika yang berasal dari
Denmark, Hans Oersted Kristen, dan ahli kimia Jerman, Frederich Wohler,
pada pertengahan tahun1820-an. Nama aluminum diperoleh dari bahasa latin:
alumen, yang berarti tawas tawas ( suatu aluminium sulfate mineral).
Aluminium adalah unsur yang paling berlimpah ketiga dalam kerak
bumi, yang terdiri dari 8% dari tanah dan batu (oksigen dan silikon
membentuk 47% dan 28% masing-masing). Di alam, aluminium hanya
ditemukan dalam senyawa kimia dengan unsur lain seperti belerang, silikon,
dan oksigen. Logam aluminium dapat diproduksi secara ekonomis hanya dari
bijih aluminium oksida.
Aluminium metalik memiliki sifat ringan, kuat, bukan magnetik, dan
tidak beracun. Melakukan panas dan listrik dan mencerminkan panas dan
cahaya. Aluminium kuat tapi mudah dibentuk, dan mempertahankan kekuatan
di suhu sangat dingin tanpa menjadi rapuh. Permukaan aluminium dengan
cepat mengoksidasi untuk membentuk sebuah penghalang tak terlihat terhadap

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

17

korosi. Serta, aluminium dapat dengan mudah dan ekonomis didaur ulang
menjadi produk baru.
2.4.1 Sifat Alumunium
a. Alumunium punya sifat yang ajaib, ia punya densitas yang
rendah hanya sepertiga dari kepadatan atau densitas dari logam
baja. Densitas logam ini hanya 2,7 g/cm3 atau kalau
dikonversikan ke kg/m3 menjadi 2.700 kg/m3. Kepadatan yang
relatif kecil membuatnya ringan tapi sama sekali tidak
mengurangi kekuatannya.
b. Berbagai paduan logam alumunium memiliki kekuatan tarik
antara 70 hingga 700 mega pascal. Kekuatan yang sangat besar.
Sifat alumunium ini unik tidak seperti baja. Pada suhu rendah
baja akan cenderung rapuh tapi sebaliknya dengan alumunium.
Pada suhu rendah kekuatannya akan meninggkat dan pada suhu
tinggi malah menurun.
c. Jika dibandingkan dengan logam lain, alumunium punya
koefisien ekspansi linier yang relatif besar.
d. Bahan alumunium sangat aplikatif untuk berbagai jenis mesing
seperti tipe mesin drilling, potong, keprok, bending, dan
sebagainya.
e. Sifat konduktivitas panas dan listrik alumunium sangat baik. Luar
biasanya lagi konduktor dari alumunium beratnya hanya setengah
dari konduktor yang terbuat dari bahan tembaga.
f. Alumunium adalah reflektor cahaya tampak yang baik. Sifat
alumunium ini juga belaku untuk pemancaran panas.
g. Alumunium bereakasi dengan oksigen di udara membentuk
lapisan oksida tipis yang ampuh melindungi badan logam dari
korosi.
h. Alumunium adalah bahan nonmagnetik. Karena sifatnya ini maka
alumunium sering digunakan sebagai alat dalam perangkat X-ray
yang menggunkan magnet.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

18

i. Logam alumunium punya sifat tidak beracun sama sekali. Ia


berada pada urutan ketiga setelah oksigen dan silikon unsur yang
paling banyak di kerak bumi. Beberapa senyawa alumunium juga
secara alami terbentuk dalam makanan yang kita konsumsi setiap
hari.
2.5. Proses Pengolahan Alumunium
Pembuatan Aluminium terjadi dalam dua tahap:
1.)

Proses Bayer merupakan proses pemurnian bijih bauksit untuk

memperoleh aluminium oksida (alumina), dan


2.) Proses Hall-Heroult merupakan proses peleburan aluminium oksida untuk
menghasilkan aluminium murni.
2.5.1. Proses Bayer
Bijih bauksit mengandung 50-60% Al2O3 yang bercampur dengan zatzat pengotor terutama Fe2O3 dan SiO2. Untuk memisahkan Al2O3 dari zat-zat
yang tidak dikehendaki, kita memanfaatkan sifat amfoter dari Al2O3.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

19

Tahapan dalam Proses Bayer:


1. Pertama, bijih bauksit diambil dari tambang.
2. Lalu, bijih bauksit tersebut dihancurkan atau dihaluskan secara
mekanik.
3. Impurities (pengotor) dihilangkan dengan cara memanaskan serbuk
bauksit dalam udara sehingga logam-logam lain teroksidasi. Misalnya
besi teroksidasi menjadi Fe2O3.
4. Kemudian, serbuk bijih yang telah dipanaskan direaksikan dengan
soda kaustik atau larutan Natrium hidroksida (NaOH) pekat dan
diproses di pabrik penggilingan untuk menghasilkan lumpur (suspensi
berair) yang mengandung partikel-partikel bijih yang sangat halus.
5. Suspensi berair tadi dipompa ke digester, yaitu sebuah tangki yang
berfungsi seperti panci presto. Larutan ini diproses pada suhu dan
tekanan yang tinggi untuk melarutkan alumina dalam bijih. Larutan
dipanaskan sampai 230-520 F (110-270 C) dan dengan tekanan 50
lb / dalam 2 (340 kPa). Kondisi ini, dilakukan selama sekitar setengah
jam atau hingga beberapa jam. Pada prosesnya penambahan NaOH
dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh senyawa aluminium yang
terkandung terlarut. Proses ini akan memisahkan bijih dari kotoran
yang tidak larut seperti senyawa silika, besi dan titanium.
6. Larutan panas dilewatkan melalui serangkaian tangki.
7. Larutan kemudian dipompa ke dalam tangki pengendapan. Larutan
SiO32- dan [Al(OH)4]- akan ditampung.Ketika suspensi berair berada di
dalam tangki ini, pengotor yang tidak larut dalam NaOH akan
mengendap di bagian bawah tangki. Residu (disebut "red mud" atau
lumpur merah) yang terakumulasi di dasar tangki terdiri dari pasir
halus, oksida besi, dan oksida dari unsur lain seperti titanium. Al2O3
dan SiO2 akan larut, sedangkan Fe2O3 dan pengotor lainnya tidak larut
(mengendap).
Al2O3 (s) + 2OH- (aq) + 3H2O(l) 2Al(OH)4- (aq)
SiO2 (s) + 2OH- (aq) SiO32- (aq) + H2O(l)
8. Setelah pengotor telah diendapkan, masih ada larutan yang tersisa
(filtrat)

yang

kemudian

dipompa

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

melalui

serangkaian

filter

20

(penyaring). Setiap partikel-partikel halus dari pengotor yang masih


ada dalam larutan juga akan tersaring.
9. Larutan yang telah disaring akan dipompa melalui serangkaian tangki
pengendapan.
10. Larutan itu kemudian direaksikan dengan asam encer, yaitu larutan
HCl. Ion silikat tetap larut, sedangkan ion aluminat akan diendapkan
sebagai Al(OH)3. AlO2-

(aq)

+ H+ (aq) Al(OH)3

(s)

Atau dengan cara

dialirkan CO2 ke dalam larutan tersebut sehingga ion aluminat akan


diendapkan sebagai Al(OH)3.
AlO2- (aq) + H2O(l) Al(OH)3 (s)
11. Endapan kristal atau Al(OH)3 (s) (mengendap di bagian bawah tangki)
sedangkan SiO32- tetap larut.
12. Kemudian endapan Al(OH)3 disaring dan diambil.
13. Setelah dicuci, endapan Al(OH)3 dipindahkan ke pengering untuk
dilakukan proses kalsinasi (pemanasan untuk melepaskan molekul air
yang secara kimiawi terikat pada molekul alumina). Suhu 2.000 F
(1.100 C) akan mendorong lepasnya molekul air, sehingga hanya
tinggal Kristal alumina anhidrat. Setelah meninggalkan tungku
pengering, kristal akan melewati pendingin.
14. Setelah itu, maka terbentuklah serbuk Al2O3 murni (korundum).
2Al(OH)3(s) Al2O3 (s) + 3H2O(g)
2.5.2. Proses Hall-Heroult

Setelah diperoleh Al2O3 murni, maka proses selanjutnya adalah elektrolisis


leburan Al2O3. Pada elektrolisis ini Al2O3 dicampur dengan CaF2 dan 2-8%

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

21

kriolit (Na3AlF6) yang berfungsi untuk menurunkan titik lebur Al2O3 (titik
lebur Al2O3 murni mencapai 2000 0C), campuran tersebut akan melebur
pada suhu antara 850-950 0C. Anode dan katodenya terbuat dari grafit.
Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
Al2O3 (l) 2Al3+ (l) + 3O2- (l)
Anode (+): 3O2- (l) 3/2 O2 (g) + 6e
Katode (-): 2Al3+ (l) + 6e- 2Al (l)
Reaksi sel: 2Al3+ (l) + 3O2- (l) 2Al (l) + 3/2 O2 (g)
Peleburan alumina menjadi aluminium logam terjadi dalam tong baja
yang disebut pot reduksi atau sel elektrolisis. Bagian bawah pot dilapisi
dengan karbon, yang bertindak sebagai suatu elektroda (konduktor arus listrik)
dari sistem. Secara umum pada proses ini, leburan alumina dielektrolisis,
dimana lelehan tersebut dicampur dengan lelehan elektrolit kriolit dan CaF2 di
dalam pot dimana pada pot tersebut terikat serangkaian batang karbon
dibagian atas pot sebagai katoda. Karbon anoda berada dibagian bawah pot
sebagai lapisan pot, dengan aliran arus kuat 5-10 V antara anoda dan
katodanya proses elektrolisis terjadi. Tetapi, arus listrik dapat diperbesar
sesuai keperluan, seperti dalam keperluan industri.
Alumina mengalami pemutusan ikatan akibat elektrolisis, lelehan
aluminium akan menuju kebawah pot, yang secara berkala akan ditampung
menuju cetakan berbentuk silinder atau lempengan. Masing masing pot
dapat

menghasilkan

66.000-110.000

ton

aluminium

per

tahun(Anonymous,2009). Secara umum, 4 ton bauksit akan menghasilkan 2


ton alumina, yang nantinya akan menghasilkan 1 ton alumunium.

Tahapan proses Hall-Heroult adalah sebagai berikut:


1. Di dalam pot reduksi (sel elektrolisis), kristal alumina dilarutkan dalam
pelarut lelehan kriolit (Na3AlF6) cair dan CaF2 pada suhu 1.760-1.780
F (960-970 C) untuk membentuk suatu larutan elektrolit yang akan
menghantarkan listrik dari batang karbon (Katoda) menuju LapisanKarbon (Anoda).
2. Sebuah arus searah (5-10 volt dan 100.000-230.000 ampere)
dilewatkan melalui larutan. Reaksi yang dihasilkan akan memecah
ikatan antara aluminium dan atom oksigen dalam molekul alumina.
Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

22

Oksigen yang dilepaskan tertarik ke batang karbon, di mana ia


membentuk karbon dioksida. Atom-atom aluminium dibebaskan dan
mengendap di bagian bawah pot sebagai logam cair.
3. Proses peleburan dilanjutkan, dengan penambahan alumina pada
larutan kriolit untuk menggantikan senyawa yang terdekomposisi. Arus
listrik konstan tetap dialirkan. Panas yang berasal dari aliran listrik
menjaga agar isi pot tetap berada pada keadaan cair.
4. Lelehan aluminium murni terkumpul dibawah pot.
5. Lelehan

yang

sudah

terkumpul

ini

dipindahkan

ke

tungku

penyimpanan dan kemudian dituangkan ke dalam cetakan sebagai


batangan atau lempengan.
6. Ketika logam diisi ke dalam cetakan, bagian luar cetakan didinginkan
dengan air, yang menyebabkan aliminium menjadi padat.
7. Logam murni yang padat dapat dibentuk dengan penggergajian sesuai
dengan kebutuhan. Dengan proses Hall-Heroult ini, aluminium
diproduksi secara massal dan murah.

2.6. Kegunaan Alumunium


Karena kelebihan sifat alumunium yang telah disebukan di atas, maka
logam ini banyak digunakan atau dimanfaatkan dalam kehidupan manusia,
diantaranya:
1. Karena sifat alumunium yang ringan dan kuat membuatnya ideal untuk
digunakan dalam konstruksi badan pesawat. Yang sering dipakai
bukan merupakan alumunium murni tetapi paduan alumunium yang
disebut

dengan

duralium.

Paduan

ini

dimaksudkan

untuk

meningkatkan kualitas alumunium sendiri.


2. Sifat Alumunium yang tahan korosi membuatnya menjadi bahan
favorit untuk minuman kaleng dan rangka atap rumah.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

23

(rangka atap dari aluminium)

3. Alumunium banyak digunakan dalam alat masak sepeti kompor, panci,


dan sebagainya karena sifat konduktivitas panasnya yang bagus.
4. Alumunium

merupakan

bahan

kabel

favorit

karena

bagus

konduktivitas dan punya kelebihan lebih ringan dari tembaga. Akan


tetapi harganya sedikit lebih mahal.
5. Alumunium punya reflektivitas tinggi. Karena sifat alumunium
tersebut maka alumunium sangat cocok untuk cermin, reflektor pans
dan cahaya, serta pakaian tahan api untuk pemadam kebakaran.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

24

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
symbol Sn (bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan
logam miskin keperakan, dapat ditempa (malleable), tidak mudah
teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak aloy,
dan digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah karat. Timah
diperoleh terutama dari mineral cassiterite yang terbentuk sebagai oksida.
Adapun Proses pengolahan mineral timah ini meliputi banyak proses, yaitu :
Proses Pengolahan Mineral Timah

Washing atau Pencucian

Pemisahan berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji kadar

Pemisahan berdasarkan berat jenis

Pengolahan tailing

Proses Pengeringan

Klasifikasi timah

Pemisahan Mineral Ikutan

Proses pre-smelting

Proses Peleburan ( Smelting )

Proses Refining ( Pemurnian)

Pyrorefining

Eutectic Refining

Electrolitic Refining

Pencetakan

Adapun manfaat timah dalam kehidupan sehari-hari yaitu digunakan


sebagai pelapis dalam kaleng kemasan makanan, digunakan dalam pembuatan
bola lampu, sampai pada penggunaan pada alat-alat olah raga.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

25

Aluminium (dalam bentuk bauksit) adalah suatu mineral yang berasal


dari magma asam yang mengalami proses pelapukan dan pengendapan secara
residual. Proses pengendapan residual sendiri merupakan suatu proses
pengkonsentrasian mineral bahan galian di tempat.
Pembuatan Aluminium terjadi dalam dua tahap:
1.)

Proses Bayer merupakan proses pemurnian bijih bauksit untuk

memperoleh aluminium oksida (alumina), dan


2.) Proses Hall-Heroult merupakan proses peleburan aluminium oksida untuk
menghasilkan aluminium murni.
Adapun kegunaan aluminium sendiri yaitu dari mulai pembuatan
badan pesawat sampai bahan dasar pembuat minuman dan atap rumah.

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

26

DAFTAR PUSTAKA
http://revival44.wordpress.com/2010/03/02/logam-besi/ Diakses 2 Januari 2015
http://metal-hamzah.blog.friendster.com/2008/04/pengolahan-bijih-timah/
Diakses 2 Januari 2015
http://moslemchemistry.blogspot.com/2011/04/besi.html Diakses 2 Januari 2015
http://www.encangirul.com/2011/04/proses-ekstraksi-timah-dari-ore.html
Diakses 2 Januari 2015
http://www.chem-is-try.org/ Diakses 2 Januari 2015
http://rimayantisihite.blogspot.com/2011/03/timah.html Diakses 2 Januari 2015
http://www.ypb97.com/2010/02/proses-pemurnian-mineral.html Diakses 2
Januari 2015
https://dananglistiyanto.wordpress.com/2013/01/24/metode-pengolahan-timah/
Diakses 2 Januari 2015
http://id.wikipedia.org/wiki/Aluminium/ Diakses 2 Januari 2015
http://yarayaa.blogspot.com/2013/05/proses-pembuatan-aluminium.html
Diakses 2 Januari 2015
http://rumushitung.com/2014/09/09/sifat-aluminium-dan-kegunaannya/ Diakses
2 Januari 2015

Makalah Proses Pengolahan Timah dan Alumunium

27