Vous êtes sur la page 1sur 4

NEMATODA USUS

Manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar nematoda


ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Di antara
nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah dan
disebut soil transmitted helmints yang terpenting bagi manusia adalah Ascaris
lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Trichuris trichiura,
Strongyloides stercoralis, dan beberapa spesies Trichostrongylus. Nematoda
usus lainnya yang penting bagi manusia adalah Oxyuris vermicularis dan
Trichinella spiralis.

Ascaris lumbricoides

Klasifikasi
Phylum : Nematoda
Kelas

: Secernentea

Ordo

: Ascaridida

Family

: Ascarididae

Genus

: Ascaris

Species : Ascaris lumbricoides


Hospes dan Nama Penyakit
Manusia merupakan satu-satunya hospes Ascaris lumbricoides. Di tubuh
manusia, larva akan berkembang menjadi dewasa dan mengadakan kopulasi
serta akhirnya bertelur. Penyakit yang disebabkannya disebut askariasis.
Distribusi Geografik
Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survei yang dilakukan di Indonesia antara
tahun 1970-1980 menunjukkan pada umumnya prevalensi 70% atau lebih. Di
Jakarta sudah dilakukan pemberantasan secara sistematis terhadap cacing yang
ditularkan melalui tanah sejak 1987 di sekolah-sekolah dasar. Prevalensi Ascaris

sebesar 16,8% di beberapa sekolah di Jakarta Timur pada tahun 1994 turun
menjadi 4,9% pada tahun 2000.
Menurut penelitian yang dilakukan pada tahun 1998 di SD Negeri Selagalas dan
SD Cakranegara, Kota Madya Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, prevalensi
rata-rata Ascaris lumbricoides adalah 72,6%. Intensitas infeksi Ascaris
lumbricoides di SD Selagalas dan SD Cakranegara umumnya ringan, namun pada
murid kelas III SD Cakranegara intensitas infeksi termasuk infeksi berat.
Siklus Hidup

Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada tempatnya dapat
mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini akan matang dalam
waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang memegang tanah yang telah
tercemar telur Ascaris dan tidak mencuci tangannya, kemudian tanpa sengaja
makan dan menelan telur Ascaris.
Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada
usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan
beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paruparu.
Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus,
trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna.
Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.
Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan bertelur. Telur ini
pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus pun akan terulang
kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya tidak pada tempatnya.
Morfologi dan Daur Hidup
Cacing Jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan yang betina 22-35 cm. Stadium
dewasa hidup di rongga usus muda. Pada cacing jantan ditemukan spikula atau
bagian seperti untaian rambut di ujung ekor (posterior). Pada cacing betina, pada

sepertiga depan terdapat bagian yang disebut cincin atau gelang kopulasi.
Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000 200.000 butir sehari;
terdiri dari telur yang dibuahi dan yang tidak dibuahi. Telur yang dibuahi,
besarnya kurang lebih 60x45 mikron dan yang tidak dibuahi 90x40 mikron. Telur
yang telah dibuahi inilah yang dapat menginfeksi manusia.Dalam lingkungan
yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam
waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif ini, bila tertelan oleh manusia,
menetas di usus halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju
pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudian
mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh
darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea
melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva ini menuju ke faring, sehingga
menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan ini
dan larva akan tertelan ke dalam esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus
halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai
cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang lebih 2 bulan.
Patologi dan Gejala Klinis
Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan
larva. Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru. Pada
orang yang rentan terjadi pendarahan kecil pada dinding alveolus dan timbul
gangguan pada paru yang disertai dengan batuk, demam dan eosinofilia. Pada
foto toraks tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaaan
ini disebut sindrom Loeffler. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa biasanya
ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gejala gangguan usus ringan
seperti mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi. Pada infeksi berat,
terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan
malnutrisi. Efek yang serius terjadi bila cacing-cacing ini menggumpal dalam
usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). Pada keadaan tertentu cacing
dewasa mengembara ke saluran empedu, apendiks, atau ke bronkus dan
menimbulkan keadaan gawat darurat sehingga kadang-kadang perlu tindakan
operatif.
Diagnosis
Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan tinja secara
langsung. Adanya telur dalam tinja memastikan diagnosis askariasis. Selain itu
diagnosis dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui mulut atau
hidung, maupun melalui tinja.
Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara masal pada
masyarakat. Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat
misalnya piperasin dosis tunggal utuk dewasa 3-4 gram, untuk anak 25
mg/kgBB, 3 hari atu 500 mg dosis tunggal, albendazol dosis tunggal 400mg.
Oksantel-pirantel pamoat adalah obat yang dapat digunakan untuk infeksi
campuran A.lumbricoides dan T.triuchura.
Untuk pengobatan massal perlu beberapa syarat, yaitu :
harganya murah
aturan pemakaian sederhana
obat mudah diterima masyarakat
mempunyai efek samping yang minim

bersifat polivalen, sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis


cacing

Prognosis
Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis baik. Tanpa pengobatan, infeksi
cacing ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 1,5 tahun. Dengan pengobatan,
kesembuhan diperoleh 70-99%.
Epidemiologi
Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya
antara 60-90%. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan
pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, di
tempat mencuci dan di tempat pembuangan sampah. Hal ini akan memudahkan
terjadinya reinfeksi.
Menurut penelitian yang dilakukan di Nusa Tenggara Barat, terjadi reinfeksi yang
cukup tinggi setelah 3 bulan pengobatan di dua Sekolah Dasar. Untuk Ascaris
lumbricoides di SD Selagalas sebanyak 28,30% dan SD Cakranegara sebanyak
19,44%. Tingginya reinfeksi menunjukkan bahwa transmisi penyakit askariasis
masih tinggi, dan hal ini berhubungan dengan besarnya pencemaran tanah.
Keadaan ini sesuai dengan jumlah murid SD Selagalas yang tidak memakai
jamban sebanyak 76,0% dan SD Cakranegara 8,8%.
Tanah liat, kelembaban tinggi dan suhu yang berkisar 25 30 C merupakan halhal yang sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides menjadi
bentuk infektif. Anjuran mencuci tangan sebelum makan, menggunakan kuku
secara teratur, pemakaian jamban keluarga serta pemeliharaan kesehatan
pribadi dan lingkungan dapat mencegah askariasis .

Daftar pustaka :
1.
2.
3.
4.

File.upi.edu/Direktori/FPMIPA/Nematoda_USUS
scribd.com/doc/87289959/nematoda-usus
http://id.wikipedia.org/wiki/Askariasis
Majalah Parasitologi Indonesia
Penerbit : Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasitik Indonesia
(P4I)
Volum: 12 (1-21) Januari Juli 1999
5. Buku Parasitologi Indonesia
Edisi Ketiga, pengarang : Staf Pengajar bagian parasitologi, FKUI,
Jakarta, penerbit : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia