Vous êtes sur la page 1sur 25

SEMINAR PROPOSAL

PENGARUH SUBSTITUSI STYROFOAM


SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN
ASPAL DIBANDINGKAN DENGAN ASPAL
KONVENSIONAL MENGGUNAKAN METODE
MARSHALL

EVIANI UTAMI
3336120950
TANGGAL : 10 SEPTEMBER 2015
TEMPAT : CILEGON, RUANG
SIDANG LANTAI 2

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Jalan raya merupakan sarana transportasi darat yang berperan penting untuk
menunjang aktivitas sehari-hari, dan dirasakan semakin penting karena dengan
transportasi darat sangat berpengaruh dalam peningkatan perekonomian,
informasi, sosial, budaya dan ketahanan nasional. Oleh karena itu, jalan raya
merupakan sarana yang harus dijamin kualitasnya agar dapat dilewati kendaraan
tanpa dengan perbaikan yang berkepanjangan. Perkerasan jalan yang berkualitas
sangat dibutuhkan saat ini, karena selain untuk kenyamanan dan keamaan para
penggunan kendaraan bermotor juga dapat menjamin keselamatannya.
Karena diperlukan bahan pengikat yang ketahanan terhadap usia aspal itu
bagus, maka diperlukan bahan tambah yang mampu memberikan ketahanan yang
diinginkan dan sekaligus menaikkan mutu campuran aspal. Salah satu cara untuk
menaikkan mutu campuran aspal adalah dengan tambahan luar komponen utam
dalam aspal beton yang dicampurkan sehingga dapat memberikan pengaruh positif
di dalamnya. Pada penelitian ini, menggunakan bahan tambah yaitu Styrofoam
yang dicampurkan dengan material aspal untuk melihat perubahan sifat-sifat fisik
dari aspal.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan
masalah yaitu Berapakah besarnya persen rongga dalam campuran
(VIM), persen rongga terisi aspal (VFB), persen rongga diantara mineral
agregat (VMA), stabilitas (Stability), kelelehan (flow) dan Marshall
Quatient?, sehingga dapat digunakan sebagai bahan tambah yang baik
untuk campuran beton aspal. Serta berapa persen kadar styrofoam yang
paling baik terhadapa campuran aspal.

Tujuan Penelitian
Penelitian tugas akhir ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh penggunaan Styrofoam sebagai bahan
substitusi kedalam aspal penetrasi 60/70 terhadap permeabilitas dan
durabilitas campuran aspal.
2. Mengetahui persentase optimal penambahan Styrofoam, sehingga
diperoleh nilai permeabilitas dan durabilitas campuran aspal.
3. Mengetahui perbandingan campuran aspal yang sebelum dan setelah
ditambah Styrofoam.

Batasan Masalah
1. Jenis perkerasan yang dipakai adalah lapis aspal beton (Laston)
2. Jenis campuran aspal beton lapis aus (Asphalt Concrete Wearing
Course, AC-WC)
3. Jenis Aspal yang digunakan adalah aspal penetrasi 60/70.
4. Jenis Agregat kasar yang digunakan adalah split 1-2 dan screening,
Agregat halus yang digunakan adalah abu batu.
5. Variasi kadar Styrofoam yang digunakan adalah 7%, 9%,11%
6. Persentase kadar aspal yang digunakan dalam pentlitian ini adalah
5%, 5,5%, 6%, 6,5%, 7%
7. Dari penelitian sebelumnya didapat Kadar Aspal Optimum sebesar
6,5 %.
8. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode
Pengujian Marshall.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui pengaruh
penggunaan limbah Styrofoam dalam campuran aspal pada
perkerasan jalan raya dan juga pengetahuan khususnya
penulis, serta untuk mengurangi pencemaran limbah oleh
bahan buangan Styrofoam.

Keaslian Penelitian
Tugas Akhir ini membahas tentang Pengaruh substitusi
Styrofoam sebagai bahan tambah pada campuran aspal
dibandingkan dengan aspal konvensional menggunakan
metode pengujian Marshall adalah asli, walaupun pada
dasarnya penelitian mengenai pengaruh terhadap
Styrofoam sudah banyak dilakukan oleh beberapa orang.
Namun, dengan kadar Styrofoam yang berbeda yang diteliti
oleh peneliti tersebut pun berbeda beda.

TINJAUAN PUSTA
KA
Diagram Alir Hubungan Penelitian Terdahulu
Dengan Penelitian Sekarang

Nur Fazillah
Pengaruh Substitusi Styrofoam pada
pengujian Marshall & Asphalt Flow Down
terhadap karakteristik campuran aspal porus

Mashuri
Karakteristik aspal sebagai bahan pengikat
yang dtambahkan Styrofoam
2010

2014
kadar Styrofoam adalah 0%, 2,0%, 4,0%,
6,0%, 8,0%, 10,0%, 12,0%, 14,0% dan
16,0%

dibuat benda uji pada KAO dan 0,5 % dari


nilai KAO dengan variasi penggunaan
Styrofoam 5%, 7% dan 9%

Mohamad Aqif
Optimasi Kadar Aspal Beton Ac 60/70
Terhadap Karakteristik Marshall Pada Lalu
Lintas Berat Menggunakan Material Lokal
Bantak

Antonius Rechie Ausgusta Mitri


Pengaruh Penambahan Styrofoam Pada
Beton Aspal Yang Terendam Air Laut
2010

Variasi kadar styrofoam adalah 0%; 0,01%;


0,015%, dan 0,02% dengan variasi lama
perendaman 1 sampai 7 hari

2012

kadar aspal yang berbeda yaitu: 5%, 5,5%,


6%, 6,5% dan 7%.

Eviani Utami
Pengaruh Substitusi Styrofoam Sebagai Bahan Tambah pada
Campuran Aspal dibandingkan dengan Aspal Konvensional
Menggunakan Metode Pengujian Marshall
Cilegon
2015

LANDASAN TEOR
I

Pengertian
LASTON (Lapis Aspal Beton)
Sukirman (1999 : 44 ) Merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan yang
terdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai gradasi
menerus, dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu.
Pembuatan Lapis Aspal Beton (LASTON)
Dimaksudkan untuk mendapatkan suatu lapisan permukaan atau lapis antara
pada perkerasan jalan raya yang mampu memberikan sumbangan daya dukung
yang terukur serta berfungsi sebagai lapisan kedap air yang dapat melindungi
konstruksi dibawahnya. Sebagai lapis permukaan, Lapis Aspal Beton harus
dapat memberikan kenyamanan dan keamanan yang tinggi (Petunjuk
Pelaksanaan Lapis Aspal Beton Untuk Jalan Raya, SKBI 2.4.26.1987).
Tebal nominal minimum Laston adalah 4 - 6 cm (Depkimpraswil, 2002).

Sesuai fungsinya Laston mempunyai 3 macam campuran yaitu:


1. Laston sebagai lapisan aus, dikenal dengan nama AC-WC (Asphalt ConcreteWearing Course), dengan tebal nominal minimum adalah 4 cm.
2. Laston sebagai lapisan pengikat, dikenal dengan nama AC-BC (Asphalt
Concrete-Binder Course), dengan tebal nominal minimum adalah 5 cm.
3. Laston sebagai lapisan pondasi, dikenal dengan nama AC-Base (Asphalt
Concrete-Base), dengan tebal nominal minimum adalah 6 cm.
Fungsi dan Sifat Laston
Laston adalah aspal campuran panas yang bergradasi tertutup (bergradasi
menerus) yang berfungsi sebagai berikut:
1. Sebagai pendukung beban lalu lintas.
2. Sebagai pelindung konstruksi dibawahnya.
3. Sebagai lapisan aus.
4. Menyediakan permukaan jalan yang rata dan tidak licin.
Sedangkan sifat-sifat dari Laston antara lain:
5. Kedap air.
6. Tahan terhadap keausan akibat lalu lintas.
7. Mempunyai nilai struktural.
8. Mempunyai stabilitas tinggi
9. Peka terhadap penyimpangan perencanaan dan pelaksanaan.

Bahan Penyusun dari Campuran Aspal (Marshall)

Aspal

Agregat
Kasar
(Split 1-2)

Marshall
Agregat
Halus
Abu Batu

Agregat
Kasar
(screening)

Agregat Kasar
Fraksi agregat kasar untuk rancangan campuran adalah yang tertahan
ayakan No.8 (2,36 mm) yang dilakukan secara basah dan harus bersih,
keras, awet, dan bebas dari lempung atau bahan yang tidak dikehendaki
lainnya dan memenuhi ketentuan yang diberikan dalam Tabel 2 berikut ini:
Pengujian

Standar

Nilai

dan magnesium sulfat

SNI 03-3407-1994

Maks. 12%

Abrasi dengan menggunakan mesin Los Angeles

SNI 03-2417-1991

Maks. 40%

Kelekatan agregat terhadap aspal

SNI 03-2439-1991

Min.95%

Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium

Angularitas ( ke dalaman

Lalu Lintas < 1 juta ESA

dari permukaan < 10 cm)

Lalu Lintas > 1 juta ESA

Angularitas ( ke dalaman

Lalu Lintas < 1 juta ESA

dari permukaan > 10 cm)

Lalu Lintas > 1 juta ESA

Partikel Pipih dan Lonjong

Tabel 1. Ketentuan Agregar Kasar

85/80
DoTs Pennsylvania Test

95/90

Method, PTM No. 621

60/50
80/75

ASTM D-4791

Maks. 10%

Agregat Halus
Agregat halus dari sumber bahan manapun, harus terdiri dari pasir atau abu batu
atau hasil pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos ayakan No.8
(2,36 mm). Agregat halus harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditunjukkan
pada Tabel 2.
Pengujian
Standar
Nilai
Min 50% untuk SS,
HRS dan AC
Nilai Setara Pasir

SNI 03-4428-1997

bergradasi Halus
Min 70% untuk AC
bergradasi kasar

Material Lolos Ayakan No.200


Kadar Lempung
Angularitas (kedalaman dari
permukaan < 10 cm )
Angularitas (kedalaman dari
permukaan 10 cm )

Tabel 2. Ketentuan Agregat Halus

SNI 03-4428-1997

Maks 8 %

SNI 3423 -2008

Min 1 %

AASHTO TP-33

Min. 45

atau
ASTM C1252-93

Min. 40

ASPAL
Aspal merupakan material yang berwarna hitam sampai
coklat tua dimana pada temperatur ruang berbentuk padat
sampai semi padat. JIka temperatur tinggi aspal akan
mencair dan pada saat temperatur menurun aspal akan
kembali menjadi keras (padat) sehingga aspal merupakan
material yang termoplastis.
Aspal adalah material yang termoplastis, berarti akan
menjadi keras atau lebih kental jika temperatur berkurang
dan akan lunak atau lebih cair jika temperatur bertambah.

Styrofoam (Bahan Tambah)


Styrofoam dikenal sebagai gabus putih yang biasa digunakan untuk
membungkus barang elektronik, sebagai bahan pelindung dan penahan
getaran barang-barang yang mudah pecah.
Foam Polistirena merupakan plastic yang berbahan dasar minyak bumi.
Sebagian besar masyarakat lebih mengenal foam polistirena sebagai
Styrofoam yang merupakan nama dagang produk yang diproduksi oleh Dow
Chemical Company. Polistirena Foam merupakan bahan plastik yang memiliki
sifat khusus dengan struktur yang tersusun dari butiran dengan kerapatan
rendah, mempunyai bobot ringan, dan terdapat ruang antara butiran yang
berisi udara yang tidak dapat menghantar panas, sehingga hal ini membuatnya
menjadi insulator panas yang sangat baik (Anonim, 2008 : n.d)
Salah satu jenis polistirena yang cukup populer di kalangan masyarakat
produsen maupun konsumen adalah polistirena foam. Polistirena foam
dikenal luas dengan istilah Styrofoam yang seringkali digunakan secara tidak
tepat oleh publik karena sebenarnya Styrofoam merupakan nama dagang yang
telah dipatenkan oleh perusahaan Dow Chemical. Oleh pembuatnya
Styrofoam dimaksudkan untuk digunakan sebagai insulator pada bahan
konstruksi bangunan.

METODOLOGI
PENELITIAN

Metode Pengujian Marshall


Prinsip dasar dari metode Marshall adalah pemeriksaan
stabilitas dan kelelehan (flow), serta analisis kepadatan dan
pori dari campuaran padat yang terbentuk. Dalam hal ini
benda uji atau briket beton aspal padat dibentuk dari
gradasi agregat campuran yang telah didapat dari hasil uji
gradasi, sesuai spesifikasi campuran.

Pengujian Marshall dilakukan untuk mengetahui nilai stabilitas dan


kelelehan (flow), serta analisa kepadatan dan pori dari campuran padat
yang terbentuk. Dalam hal ini benda uji atau briket beton aspal padat
dibentuk dari gradasi agregat campuran tertentu, sesuai spesifikasi
campuran. Metode Marshall dikembangkan untuk rancangan campuran
aspal beton. Sebelum membuat briket campuran aspal beton maka
perkiraan kadar aspal optimum dicari dengan menggunakan rumus
pendekatan. Setelah menentukan proporsi dari masing-masing fraksi
agregat yang tersedia, selanjutnya menentukan kadar aspal total dalam
campuran.
Kadar aspal total dalam campuran beton aspal adalah kadar aspal
efektif yang membungkus atau menyelimuti butir-butir agregat, mengisi
pori antara agregat, ditambah dengan kadar aspal yang akan terserap
masuk ke dalam pori masing-masing butir agregat. Setelah diketahui
estimasi kadar aspalnya maka dapat dibuat benda uji.

Untuk mendapatkan kadar aspal optimum umumnya dibuat 15 buah


benda uji dengan 5 variasi kadar aspal yang masing-masing berbeda 0,5%.
Sebelum dilakukan pengujian Marshall terhadap briket, maka dicari dulu
berat jenisnya dan diukur ketebalan dan diameternya di tiga sisi yang
berbeda. Melakukan uji Marshall untuk mendapatkan stabilitas dan
kelelehan (flow) benda uji mengikuti prosedur SNI 06-2489-1991
AASHTO T245-90.
Parameter Marshall yang dihitung antara lain: VIM, VMA, VFA, berat
volume, dan parameter lain sesuai parameter yang ada pada spesifikasi
campuran. Setelah semua parameter briket didapat, maka digambar
grafik hubungan kadar aspal dengan parameternya yang kemudian dapat
ditentukan kadar aspal optimumnya.

Latar Belakang
Tujuan
Studi Pustaka
Pengambilan
Aspal

Pengambilan Agregat

Pemeriksaan Agregat
1. Berat Jenis dan
penyerapan
2. Keausan Agregat
(Abrasi)
3. Analisa Saringan

Spesifikasi

1.
2.
3.
4.
5.

Pengambilan
Styrofoam

Pemeriksaan Aspal
Penetrasi
Titik lembek
Berat Jenis Aspal
Loss On Heating
Viskositas

Diparut
Variasi Kadar
Styrofoam
7%, 9%, 11%
Pembuatan
Campuran Aspal
dengan Styrofoam

Spesifikasi

Rancangan Campuran
dengan PKAO

Uji Marshall
Kadar Aspal
Optimum
(KAO)
Campuran Aspal %

Pengujian Campuran
Aspal dengan Styrofoam :
1.
Penetrasi
2.
Titik Lembek
3.
Berat Jenis
4.
Loss On Heating
5.
Viskositas

Campuran Styrofoam%

Uji Marshall

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saram

Daftar Pustaka
Fazillah, Nur. 2014. Kajian laboratorium Pengaruh Substitusi Styrofoam
pada
pengujian Marshall & Asphalt Flow Down terhadap
karakteristik campuran
aspal porus. Banda Aceh. Program Sarjana
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik, Universitas Syiah Kuala
Darussalam.
Mashuri, (2010). Kajian Laboratorium Karakteristik aspal sebagai bahan pengikat
yang dtambahkan Styrofoam. Palu. Program Sarjana
Jurusan Teknik Sipil,
Fakultas Teknik, Universtas Tadulako.
Aqif, Muhammad (2012), Kajian Laboratorium Optimasi Kadar Aspal Beton Ac
60/70 Terhadap Karakteristik Marshall Pada Lalu Lintas
Berat
Menggunakan Material Lokal Bantak. Yogyakarta. Program Sarjana
Jurusan
Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.
Sukirman, 2003. Beton Aspal Campuran Panas. Jakarta: Granit
Spesifikasi Umum Perkerasan Aspal Divisi 6, 2010
Dinas Pekerjaan Umum Kab.TTS Bidang Bina Marga TA 2012

TERIMA KASIH