Vous êtes sur la page 1sur 63

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kopi merupakan salah satu alternatif minuman yang sangat digemari
masyarakat Indonesia maupun negara lain. Kegemaran mengkonsumsi kopi sudah
ada dan dilakukan turun temurun sejak jaman nenek moyang, bahkan dalam setiap
jamuan makan baik acara formal maupun non formal, sajian kopi hampir tidak pernah
dilupakan. Kondisi ini sama dengan di luar negeri, di Amerika misalnya, sebagian
besar masyarakat menyukai kopi sehingga istilah coffe break sampai saat ini masih
digunakan dan menjadi suatu kebiasaan untuk menyatakan waktu istirahat (Lelyana,
2008).
Produksi kopi di dunia mencapai 7 juta ton setiap tahun dan kopi merupakan
minuman yang menempati posisi kedua yang paling sering diminum. Komoditas kopi
menempati posisi kedua sebagai komoditi yang paling sering diperdagangkan maka
tidak heran pengkonsumsi kopi banyak dan tersebar luas diseluruh dunia karena kopi
merupakan komoditi yang banyak diperdagangkan. (Sofieana, 2011).
Organisasi AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia) tahun 2002
menerangkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan minum kopi sejak
zaman prakemerdekaan. Konsumsi kopi di Indonesia terus meningkat setiap
tahunnya, kehadiran kedai kopi turut menjadi faktor yang menyebabkan kenaikan
konsumsi kopi di Indonesia. Masyarakat Indonesia rata-rata meminum kopi 2 kali

sehari. Namun seiring berkembangnya zaman dari masa penjajahan sampai pada
tahun 2010 atau sampai saat ini, kebiasaan minum kopi orang Indonesia meningkat 3
sampai 5 kali dalam sehari (Soenarto, 2010).
Masyarakat Indonesia mengkonsumsi kopi atau melakukan kegiatan
meminum kopi sebanyak 3-5 cangkir kopi per hari yang dilakukan pada pagi hari,
siang hari saat istirahat siang, sesudah makan malam dan bekerja tengah malam
karena lembur atau hal lainnya. Masyarakat Indonesia banyak mengkonsumsi kopi
karena kopi terdapat di seluruh Indonesia, terutama di daerah yang merupakan daerah
penghasil kopi. Bengkulu termasuk salah satu provinsi penghasil kopi di Indonesia
dan masyarakat provinsi Bengkulu mempunyai kebiasaan minum kopi 1-5 cangkir
per hari atau bahkan ada yang mengkonsumsi kopi lebih dari 6 cangkir per hari
(Soenarto, 2010).
Kopi merupakan salah satu jenis polong-polongan dengan kandungan
senyawa kompleks di antaranya kafein dan chlorogenic acid. Kafein termasuk
alkaloid dengan rumus kimia

1,3,7-trimethylxantine dan bersifat diuretik.

Chlorogenic acid merupakan senyawa polifenol yang bekerja sebagai antioksidan


kuat di dalam kopi. Dalam 1 cangkir kopi robusta dengan 10 g bubuk kopi
mengandung sekitar 100 mg kafein dan 200 mg chlorogenic acid (Bhara, 2005).
Sebagian orang mengkonsumsi kopi sebagai salah satu minuman kegemaran,
namun ada juga yang tidak menyukai minum kopi karena khawatir efek kopi terhadap
kesehatan. Menurut hasil penelitian ilmiah, kopi mampu menurunkan resiko diabetes
mellitus dan penyakit kardiovaskuler. Hal tersebut karena kandungan polifenol yaitu
2

chlorogenic acid di dalam kopi, namun tetap perlu diperhatikan jumlah asupan atau
konsumsi kopi per hari yang diminum agar aman dan memberi efek baik bagi tubuh.
Selain memberi efek positif namun kopi juga memberi efek negatif, seperti kafein
yang terkandung di dalam kopi dapat mempengaruhi kesehatan karena kafein dapat
meningkatan kadar asam urat dalam tubuh (Lelyana, 2008).
Efek kafein dalam menghambat reseptor adenosin menyebabkan timbulnya
beberapa efek kurang baik bagi tubuh. Salah satu efek kopi yang masih menjadi
bahan kontroversi adalah efek terhadap peningkatan kadar asam urat. Adapun
berdasarkan teori menjelaskan bahwa kopi dengan kandungan kafein akan
meningkatkan pembentukan asam urat. Kafein (1,3,7 trimethylxanthin) akan
mengalami degradasi menjadi 1,3 dimethylxanthin; 3,7 dimethylxanthin; 1,7
dimethylxanthin yang kemudian membentuk methylxanthin. Xanthin dengan bantuan
enzim xanthin oxidase akan membentuk asam urat (Gerhastuti, 2009).
Kopi dapat meningkatkan kadar asam urat di dalam darah melalui jalur
degradasi kafein sehingga membentuk asam urat di dalam tubuh. Asam urat
sebenarnya merupakan antioksidan dari manusia dan hewan, tetapi jika jumlah asam
urat berlebihan dalam darah dan mencapai kadar saturated akan mengalami
pengkristalan yang dapat menimbulkan gout. Asam urat merupakan produk akhir dari
pemecahan purin pada manusia dan hewan. Pada manusia normal 18-20 % dari asam
urat yang hilang dipecah oleh bakteri menjadi Karbondioksida (CO2) dan Amonia
(NH4) di usus dan diekskresikan melalui feses. Semua faktor yang menyebabkan
produksi berlebih atau ekskresi yang tidak memadai akan meningkatkan konsentrasi
3

asam urat. Berbagai masalah kesehatan akan timbul jika terjadi penumpukan asam
urat di dalam tubuh (Dewani, 2010).
Artritis gout atau lebih dikenal masyarakat sebagai penyakit asam urat
sekarang ini banyak terjadi di masyarakat dunia. Atritis gout terjadi karena tingginya
kadar asam urat di dalam darah akibat dari kelebihan asam urat. Penyebabnya antara
lain proses pengeluaran asam urat yang berlebih dari dalam darah melalui urin dan
feces terganggu serta dapat disebabkan oleh produksi asam urat di dalam tubuh yang
berlebihan sehingga kadar asam urat dalam darah meningkat. Kadar asam urat yang
tinggi dalam darah berdampak pada penumpukan asam urat pada persendian,
akibatnya sendi akan terasa nyeri dan meradang (Dewani, 2010).
Angka kejadian penyakit asam urat menurut WHO di dunia mencapai 20%
dari penduduk dunia terserang penyakit asam urat. Berdasarkan data The National
Institutes of Health (NIH) pada tahun 2002, jumlah penderita asam urat di Amerika
Serikat mencapai 2,1 juta. Sebagian besar penderita adalah pria berusia 40-50 tahun
(90 %) dan wanita ( 10%) pada masa menopouse. Di Indonesia 35 % terjadi pada pria
di bawah usia 35 tahun. Umumnya yang terserang penyakit asam urat adalah para
pria, sedangkan pada perempuan persentasenya kecil

dan baru muncul setelah

menopouse. Kadar asam urat pada pria cenderung meningkat dengan usia yang
bertambah sedangkan pada wanita peningkatan kadar asam urat dimulai sejak masa
menopouse (Dewani, 2010).

Kadar asam urat yang tinggi juga disebabkan oleh metabolisme tubuh yang
kurang sempurna. Penyebab asam urat bisa juga dari gagal ginjal dan penyakit ginjal
lainnya. Oleh karena itu asam urat banyak di derita oleh orang yang berusia lanjut.
Namun demikian bisa terjadi pada usia yang lebih muda karena gaya hidup yang
tidak sehat (Suherman, 2010).
Di Indonesia

penyakit asam urat banyak dijumpai pada etnis Minahasa,

Toraja dan Batak. Prevalensi tertinggi pada penduduk pantai dan yang paling tinggi
yaitu daerah Manado-Minahasa. Angka kejadian Arthritis Gout di Minahasa sebesar
29,2% pada tahun 2003. Asam urat dapat disebabkan oleh kebiasaan mengkonsumsi
minuman yang mengandung kadar kafein yang tinggi dan kopi adalah salah satu
contoh minuman yang mengandung kafein dengan kadar kafein yang bervariasi pada
setiap jenis kopi. Kopi robusta adalah jenis kopi yang mengandung kadar kafein yang
tinggi (Lelyana, 2008).
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu tahun 2005 angka kesakitan
karena asam urat pada masyarakat kota Bengkulu adalah 27.104 dari total semua
penduduk di Provinsi Bengkulu, sedangkan Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun
2012 menyebutkan 8.943 orang masyarakat kota Bengkulu adalah penderita asam
urat. Angka kesakitan karena asam urat di kota Bengkulu cukup tinggi dan termasuk
ke dalam 10 penyakit yang paling banyak diderita masyarakat kota Bengkulu.
Penyakit asam urat pada umumnya banyak diderita masyarakat usia lanjut (> 65
tahun), tetapi penyakit ini juga banyak terjadi pada masyarakat yang belum memasuki
usia lanjut atau pada usia 45-65 tahun karena pola hidup yang tidak sehat seperti
5

kosumsi kopi yang dapat meningkatkan kadar asam urat. Pada usia lanjut kadar asam
urat akan meninggi karena faktor usia dan kemunduran fungsi organ.
Jumlah penduduk usia 45-65 tahun di kecamatan Ratu Agung berjumlah 3.419
orang dan merupakan kecamatan yang jumlah penduduk usia 45-65 tahun paling
banyak di kota Bengkulu. Jumlah penduduk dengan usia 45-65 tahun di kecamatan
Ratu Agung berjumlah 14,8 % dari total penduduk kota Bengkulu dan ada 3
Puskesmas di wilayah Kecamatan Ratu Agung. Jumlah laki-laki yang ada di wilayah
kerja Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu adalah 11.041 orang dan merupakan
jumlah laki-laki paling tinggi diantara Puskesmas lainnya yang ada di kecamatan
Ratu Agung kota Bengkulu (Dinkes, 2012).
Data Puskesmas Nusa Indah menerangkan bahwa pada tahun 2013,
masyarakat yang datang ke Puskesmas Nusa Indah dan mengeluhkan gejala penyakit
sakit asam urat atau rematik sebanyak 46 kasus. Dari data tersebut juga diketahui
bahwa masyarakat dari kelurahan Nusa Indah yang paling banyak mengeluhkan
penyakit asam urat dan rematik ke Puskesmas Nusa Indah dengan jumlah 26 orang.
Survey awal telah dilakukan peneliti pada bulan Desember tahun 2013 untuk
mengetahui kebiasaan minum kopi di kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung
Kota Bengkulu. Survey dilakukan kepada 30 pria usia 45-65 tahun yang bertempat
tinggal di kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu. Dari 30 pria
tersebut yang meminum kopi setiap hari ada 21 orang dan 9 orang lainnya tidak
meminum kopi setiap hari melainkan meminum teh. Jumlah kopi (cangkir) yang
diminum setiap hari bervariasi pada setiap pria.
6

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan penelitian terdahulu, permasalahan yang akan
diteliti dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh kebiasaan minum kopi
terhadap kadar asam urat pada pria usia 45-65 tahun di kelurahan Nusa Indah
Kecamatan Ratu Agung Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu Tahun 2014.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahui pengaruh kebiasaan minum kopi terhadap kadar asam urat pada pria
usia 45-65 tahun di kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu
tahun 2014.
2. Tujuan khusus
a. Diketahui rata-rata kadar asam urat pada pria usia 45-65 tahun yang
b.

mempunyai kebiasaan minum kopi ringan.


Diketahui rata-rata kadar asam urat pada pria usia 45-65 tahun yang

c.

mempunyai kebiasaan minum kopi sedang.


Diketahui rata-rata kadar asam urat pada pria usia 45-65 tahun yang

d.

mempunyai kebiasaan minum kopi berat.


Diketahui pengaruh kebiasaan minum kopi yang memberikan pengaruh
terhadap rata-rata kadar asam urat terendah.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi masyarakat
Adanya informasi yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya tentang
pengaruh kebiasaan minum kopi terhadap kadar asam.
b. Bagi peneliti lain
Penelitian ini bisa dikembangkan dan sebagai bahan referensi untuk
peneliti lain yang berminat dalam melakukan penelitian yang sama.
c. Bagi Akademik
Adanya informasi yang didapat dari penelitian ini bisa digunakan sebagai
sumber pengetahuan dan panduan bagi pengajar khususnya tentang pemeriksaan
asam urat serta referensi penelitian berikutnya

tentang pengaruh kebiasaan

minum kopi terhadap kadar asam urat pada pria usia 45-65 tahun.
E. Keaslian penelitian
Penelitian ini pernah diteliti oleh Lelyana (2008) dengan judul Pengaruh
Kopi terhadap Kadar Asam Urat Darah di Kota Bandung. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh peneliti adalah konsumsi kopi tidak meningkatkan kadar asam urat
pada tikus percobaan. Adanya perbedaan penelitian ini adalah variabel penelitian,
tempat penelitian, waktu penelitian dan sampel penelitian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Kopi
Kopi merupakan sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan biji
tanaman kopi. Kopi digolongkan ke dalam famili Rubiaceae dengan genus Coffea.
Menurut Bhara L.A.M (2005) kopi dapat digolongkan sebagai minuman
psikostimulant yang akan menyebabkan orang tetap terjaga, mengurangi kelelahan,
dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan energi.
Secara taksonomi, kopi termasuk famili Rubiacaea, genus coffea. Speciesnya
ada 2 yaitu coffea arabica (arabika) dan coffea canephora (robusta). Kopi robusta
tumbuh di tempat yang berbeda dengan kopi arabika, yaitu didaerah tropis dimana
kopi arabika tidak bisa tumbuh. Berdasarkan bijinya, kopi termasuk dalam tanaman
dicotyle. Buah kopi berbentuk oval, panjangnya kira-kira 1.5 cm. Buah yang belum
matang berwarna hijau, berwarna kuning ketika mulai matang, dan berwarna merah
tua ketika sudah matang (Lelyana, 2008).
Berdasarkan jumlah kopi yang dikonsumsi per hari, maka peminum atau
pengkonsumsi kopi dibagi menjadi 3 kategori peminum kopi. Peminum kopi yang
mengkonsumsi kopi 1-2 cangkir kopi per hari digolongkan ke peminum kopi ringan,
peminum kopi yang mengkonsumsi kopi 3-4 cangkir kopi per hari digolongkan ke
peminum kopi sedang dan peminum kopi yang mengkonsumsi kopi > 4 cangkir kopi
per hari digolongkan ke peminum kopi berat (Azwar, 2008).
1.

Sejarah kopi di Indonesia

Kopi mulai dikenal di Indonesia semenjak tahun 1696 ketika Walikota


Amsterdam memerintahkan komandan pasukan Belanda di Pantai Malabar untuk
membawa biji kopi ke Batavia. Kopi arabika pertama-tama ditanam dan
dikembangkan di sebuah tempat di timur Jatinegara yang menggunakan tanah
partikelir Kedawung yang kini lebih dikenal dengan Pondok Kopi. Beberapa waktu
kemudian, kopi arabika menyebar ke berbagai daerah di Indonesia (Sofieana, 2011).
Kopi jawa saat itu begitu terkenal di Eropa sehingga orang-orang Eropa
menyebutnya bukan secangkir kopi, melainkan secangkir Jawa. Pudarnya kejayaan
kopi jawa ini kemudian diisi oleh kopi arabika asal Brasil dan Kolombia yang terus
merajai hingga sekarang. Meskipun demikian, sisa tanaman kopi arabika masih
dijumpai di kantong penghasil kopi di Indonesia, antara lain dataran tinggi Ijen (Jawa
Timur), tanah tinggi Toraja (Sulawesi Selatan), serta lereng bagian atas pegunungan
Bukit Barisan (Sumatera), seperti Mandailing, Lintong, dan Sidikalang (Sumatera
Utara), serta dataran tinggi Gayo (Aceh). Kopi robusta mulai diperkenalkan di
Indonesia di awal tahun 1900-an untuk mengganti kopi liberikan dan arabika yang
hancur lantaran hama. Saat ini produksi kopi di Indonesia menempati peringkat
keempat terbesar di dunia (Sofieana, 2011).

2. Jenis kopi
Beberapa jenis kopi antara lain kopi liberika, kopi golongan ekselsa, kopi
arabika, kopi robusta, dan golongan hibrida (Nurhayati, 2011).

10

a. Kopi Liberika (Coffea liberica)


Beberapa varietas kopi liberika yang pernah didatangkan ke Indonesia
antara lain Ardoniana dan Durvei. Meskipun sudah cukup lama masuk ke Indonesia,
tetapi hingga kini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah kopinya yang
rendah. Kopi jenis ini kurang disukai oleh masyarakat dan kurang laku di pasaran.
Kopi jenis liberika mengandung kafein 1,59 % - 2,19 %. Kopi ini dapat menyebabkan
orang tetap terjaga, mengurangi kelelahan, dan memberikan efek fisiologis berupa
peningkatan energi kepada peminum kopi jenis ini, walaupun efek yang ditimbulkan
tidak seperti pada peminum kopi robusta (Nurhayati, 2011).
b. Kopi Ekselsa
Kopi jenis ini banyak dibudidayakan di dataran rendah yang basah, yaitu
dataran yang tidak sesuai untuk kopi robusta. Ciri khas kopi jenis ini adalah ukuran
buah relatif kecil dan tidak beragam seperti kopi liberika. Kelemahan kopi ini adalah
kurang laku di pasaran dibanding kopi robusta karena kualitasnya kurang baik dan
dampak bagi kesehatan hampir sama dengan dampak yang ditimbulkan oleh kopi
liberika (Nurhayati, 2011).
c.

Kopi Arabika
Kopi arabika berasal dari Etiophia dan Abessinia. Kopi ini merupakan jenis

pertama yang dikenal dan dibudidayakan, bahkan termasuk kopi yang paling banyak
diusahakan hingga akhir abad ke-19. Kopi ini mempunyai kualitas, cita rasa, dan
harga relatif tinggi dibandingkan dengan kopi lainnya. Kopi ini banyak menyebabkan
efek negatif bagi kesehatan seperti kecanduan, sakit kepala, mual dan gangguan
11

kesehatan lainnya karena kualitas dan cita rasa yang bagus menyebabkan banyak
masyarakat yang mengkonsumsi kopi jenis ini secara berlebihan. Beberapa varietas
kopi arabika yang banyak diusahakan di Indonesia antara lain Abesinia, Pasumah,
Marago type, dan Congensis. Masing-masing varietas mempunyai sifat yang agak
berbeda dengan yang lainnya. Kopi arabika mengandung kafein 1,10 % (Nurhayati,
2011).
d.

Kopi Robusta
Dari keterangan Nurhayati (2011), kopi robusta berasal dari kongo dan kopi

ini masuk ke Indonesia pada tahun 1900. Beberapa jenis yang termasuk kopi robusta
antara lain Quillon, Uganda, dan Chanepjora. Produksi lebih tinggi dibandingkan
dengan kopi arabika dan liberika di Indonesia. Kualitas buah lebih rendah
dibandingkan dengan kopi arabika, tetapi lebih tinggi dibandingkan kopi liberika dan
lainnya. Kandungan kafein dalam kopi robusta adalah 1,00 % Konsumsi kopi robusta
ini akan memberikan efek positif (

menurunkan resiko penyakit Parkinson dan

Diabetes mellitus tipe 2) dan efek negatif ( diuretik dan dapat menyebabkan anemia)
yang ditimbulkan bagi kesehatan.
e.

Kopi golongan Hibrida


Kopi hibrida merupakan turunan pertama hasil perkawinan antara dua spesies

atau varietas sehingga mewarisi sifat-sifat unggul dari spesies kopi yang dikawinkan
(Nurhayati, 2011).

f.

Kopi Luwak
12

Salah satu jenis kopi yang tidak biasa dan sangat mahal harganya adalah kopi
dari Indonesia yang dinamakan Kopi Luak atau Kopi Luwak. Kopi ini sudah sangat
terkenal di seluruh dunia. Biji kopi ini diambil dari biji kopi yang telah dimakan dan
melewati saluran pencernaan binatang bernama luwak, yang konon jika sudah
melewati proses pencernaan luwak bisa memberikan tambahan citarasa tersendiri.
Kopi luwak sangat digemari oleh masyarakat karena cita rasanya yang baik, tetapi
mengkonsumsi kopi jenis ini dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek
yang negatif bagi kesehatan (Sofieana, 2011).
g.

Kopi Decaf
Kopi ini sudah mengalami proses dekafeinasi atau penghilangan kafein.

Dekafeinasi banyak digunakan untuk mengurangi kadar kafein di dalam kopi agar
rasanya tidak terlalu pahit. Selain itu, dekafeinasi juga digunakan untuk menekan efek
samping dari aktivitas kafein di dalam tubuh. Kopi terdekafeinasi sering dikonsumsi
oleh pecandu kopi agar tidak terjadi akumulasi kafein yang berlebihan di dalam
tubuh. Dari penelitian, terbukti bahwa kopi decaf baik untuk mereka yang mengalami
obesitas (kelebihan berat badan) karena dapat meningkatkan HDL (High Density
Lipoprotein) sekitar 50%. Sedangkan pada mereka yang tidak mengalami obesitas
justru dapat menurunkan kolesterol HDL yang dapat meningkatkan risiko penyakit
jantung (Sofieana, 2011).
Kopi decaf terbukti efektivitasnya sangat tinggi untuk mencegah penyakit
diabetes dibandingkan kopi yang lain. Oleh sebab itu, kita tetap harus menjaga
konsumsi kopi decaf kita sehari-hari. Sebab minum lebih dari 5 cangkir kopi ini
13

dalam sehari, sama saja dengan minum 2 cangkir kopi berkafein tinggi. Hal ini sangat
penting diperhatikan untuk orang yang memiliki penyakit yang dapat diperparah oleh
kafein (Lelyana, 2008).
h.

Kopi Putih (White coffee)


White Coffee atau Kopi Putih dibuat dari biji kopi yang digongseng (roasted)

tidak sampai matang, sehingga akan menghasilkan biji kopi yang berwarna lebih
terang dan aroma berbeda dari pada biji kopi umumnya yang digongseng sampai
matang yang biasanya akan menghasilkan biji kopi berwarna coklat gelap dan aroma
khas kopi. Biji kopi putih ini juga lebih keras dari biji kopi yang digongseng matang
sehingga membutuhkan grinder khusus untuk menggilingnya, dan karena berasal dari
biji kopi yang digongseng tidak sampai matang maka kopi putih diduga mengandung
kafein lebih tinggi dari pada kopi biasa (Sugiyono, 2008).
Selain berdasarkan spesies untuk menentukan jenis kopi, dikenal juga jenisjenis kopi berdasarkan pengolahannya yang terdiri dari :
a.

Kopi Bubuk
Pengolahan kopi bubuk hanya ada tiga tahapan yaitu: penyangraian

(roasting), penggilingan (grinding) dan pengemasan. Penyangraian sangat


menentukan warna dan cita rasa produk kopi yang akan dikonsumsi
sedangkan penggilingan yaitu menghaluskan partikel kopi sehingga dihasilkan
kopi coarse (bubuk kasar), medium (bubuk sedang), fine (bubuk halus), very
fine (bubuk amat halus). Pilihan kasar halusnya bubuk kopi berkaitan dengan
cara menyeduh kopi yang digemari oleh masyarakat (Ridwansyah, 2002).
14

Kopi bubuk yang langsung diseduh dengan air panas akan meninggalkan
ampas di dasar cangkir. Kopi bubuk mempunyai kandungan kafein sebesar
115 mg per 10 gram kopi ( 1-2 sendok makan) dalam 150 ml air (Giuliucci,
2001).
b. Kopi Instan
Kopi instan dibuat dari ekstrak kopi dari proses penyangraian. Kopi
sangrai yang masih melalui tahapan ekstraksi, drying (pengeringan) dan
pengemasan. Ekstraksi bertujuan untuk memisahkan kopi dari ampasnya.
Proses drying bertujuan untuk menambah daya larut kopi terhadap air,
sehingga kopi instan tidak meninggalkan endapan saat diseduh dengan air
(Ridwansyah, 2002). Kopi instan mempunyai kandungan kafein sebesar 69-98
mg per sachet kopi dalam 150 ml air (Giuliucci, 2001).
3.

Manfaat dan kerugian minum kopi


Menurut Prabowo (2002), banyak orang percaya akan khasiat minuman kopi

yang diyakini dapat menghilangkan rasa kantuk. Sebagian besar orang mencoba
bertahan dari rasa kantuk dengan mengonsumsi minuman kopi. Penelitian yang
meneliti efek konsumsi kopi terhadap kondisi medis tertentu telah banyak dilakukan.
Beberapa efek positif tersebut antara lain menurunkan resiko penyakit Alzhaimer,
Parkinson, Diabetes mellitus tipe 2, sirosis hati, serta menurunkan asam urat darah.
Efek negatif kopi antara lain mengganggu absorbsi besi, menyebabkan anemia
defisiensi besi, ulkus peptikum, esophagitis erosif, dan gastroesophageal refluks.

15

Kopi juga mempunyai kandungan antioksidan yang mencegah kerusakan sel akibat
radikal bebas (Gerhastuti, 2009).
Orang yang meminum kopi 1-3 cangkir kopi (85-250 mg kafein) akan
merasakan tidak begitu mengantuk, rasa lelah berkurang, kesadaran meningkat, dan
daya pikirnya lebih cepat dan lebih jernih. Akan tetapi kemampuan dalam koordinasi
otot halus, ketepatan waktu, dan ketepatan berhitung berkurang. Efek positif juga
disebabkan kandungan antioksidan yang mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas
(Lelyana, 2008).
Adapun berdasarkan teori menjelaskan bahwa kopi dengan kandungan kafein
akan meningkatkan pembentukan asam urat. Kafein (1,3,7 trimethylxanthin) akan
mengalami degradasi menjadi 1,3 dimethylxanthin; 3,7 dimethylxanthin; 1,7
dimethylxanthin yang kemudian membentuk methylxanthin. Xanthin dengan bantuan
enzim xanthin oxidase akan membentuk asam urat (Lelyana, 2008).
4.

Kandungan dalam kopi


Kopi merupakan salah satu jenis polong-polongan dengan kandungan

senyawa kompleks di antaranya kafein dan chlorogenic acid. Kafein termasuk


alkaloid (C8H10O2N4.H2O) dengan rumus kimia 1,3,7-trimethylxantine. Kafein
bersifat diuretik, sedangkan chlorogenic acid merupakan senyawa polifenol yang
bekerja sebagai antioksidan kuat di dalam kopi (Lelyana, 2008).
a. Polifenol
Senyawa polifenol merupakan senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan
dari adaptasi tanaman terhadap kondisi stress lingkungan terhadap radiasi sinar ultra
16

violet atau agresi pathogen. Senyawa polifenol terdapat pada buah-buahan, sayursayuran, sereal, teh dan kopi. Senyawa ini bersifat protektif terhadap penyakit
degeneratif kronik. Senyawa polifenol dikelompokkan menurut struktur dasar kimia
cincin fenol, dan subklas menurut struktur dasar yang terkait dengan bentuk
karbohidrat dan polimerisasi (Lelyana, 2008).
Kopi merupakan minuman utama penduduk dunia dengan kandungan
antioksidan terbanyak. Kopi mengandung senyawa polifenol total sekitar 200-550 mg
percangkir. Kandungan antioksidan pada kopi sekitar 26 dan kopi merupakan
golongan tanaman fitokimia disebut juga plant phenols (Flavonoid polifenolics).
Plant phenols adalah senyawa kimia yang berasal dari tanaman dan mengandung
antioksidan yaitu cinnamic acids, benzoic acids, flavonoids, proanthocyanidins,
stilbenes, coumarins, lignans, lignins serta chlorogenic acid (Suryanto, 2005).
Chlorogenic acid (CGA) adalah polifenol utama pada biji kopi. Kandungan
CGA pada kopi arabika adalah 4-8,4% dan pada kopi robusta 7-14,4%. Selain CGA,
terdapat pula komponen phenolic yang lain, seperti tannin, lignin, dan anthocyanin
dalam jumlah kecil. Terdapat tiga Hydroxycinnamic acid dalam kopi yaitu, caffeic
acid, ferulic acid, dan pcoumaric acid. Fraksi paling aktif dari CGA adalah 5-Ocaffeoilquinic acid, bentuk ester dari caffeic acid dan quinic acid. CGA dalam bentuk
utuh sangat sedikit ditemukan dalam plasma dan urin (Lelyana, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan cholorogenic acid dan
komposisi cholorogenic acid di dalam kopi adalah derajat kematangan buah kopi,
perbedaan metodologi analisis kandungan cholorogenic acid, genotype atau spesies
17

kopi, dan kondisi geografi yang berhubungan dengan cuaca, iklim, jenis tanah dan
daerah perkebunan. Chlorogenic acid sebagai antioksidan dan penghambat aktivitas
perangsang tumor dan pada kadar tinggi yaitu 100 g/L, Chlorogenic acid sebagai
antivirus, antibakteri, antifungi serta mempunyai efek samping yang relatif rendah,
dan tidak menyebabkan resistensi antimikroba. Chlorogenic acid mampu mengurangi
hepatic glycogenolysis (transformasi dari glycogen menjadi glukosa) serta
mengurangi absorpsi glukosa baru. Chlorogenic acid di dalam biji kopi hijau
mengandung jumlah polifenol terbanyak yang bertanggungjawab sebagai antioksidan
dan secara in vivo mampu mengurangi risiko terjadinya penyakit kronik (Lelyana,
2008).
b. Kafein
Kafein adalah suatu senyawa kimia yang banyak terdapat dalam minuman
seperti kopi, teh, soft drink dan makanan seperti chocolate. Kafein merupakan
alkaloid dengan rumus senyawa kimia C8H10N4O2 dan rumus bangun 1,3,7trimethylxanthin termasuk dalam molekul xanthin (Saputra, 2008). Kafein berbentuk
kristal panjang, berwarna putih seperti sutra dan memiliki rasa pahit. Gugus
methylnya berikatan dengan ketiga hidrogen dan nitrogen pada cincin xanthin
(Ridwansyah, 2002). Menurut Bhara L.A.M (2005) kafein berfungsi sebagai unsur
rasa dan aroma. Kadar kafein pada kopi dipengaruhi oleh tempat tumbuh dan cara
penyajian kopi. Pada tumbuhan, kafein berperan sebagai pestisida alami yang
melumpuhkan dan mematikan serangga-serangga tertentu yang memakan tanaman

18

tersebut. Kandungan kafein dalam kopi untuk setiap berat yang sama, kopi robusta
kadar kafeinnya lebih tinggi dari kopi arabika. (Sofieana, 2011).
Kafein diabsorbsi secara cepat dan sempurna oleh sistem gastrointestinum,
sekitar 45 menit setelah pemberian. Setelah diabsorbsi, kafein didistribusikan ke
seluruh jaringan tubuh dan dieliminasi. Eliminasi kafein terutama melalui
metabolisme di dalam hati. Enzim yang berperan dalam metabolisme kafein di dalam
hati adalah cytochrome P450 oxidase (Gerhastuti, 2009).

Gambar 2.1 Struktur paraxanthin, theobromin, theophylin

Terdapat tiga metabolit primer kafein oleh enzim cytochrome P450 oxidase
yaitu paraxanthin, theobromin, theophylin. Metabolit terbanyak adalah paraxanthin
sekitar 80%. Ketiga metabolit ini akan dimetabolisme lebih lanjut dan diekskresikan
ke dalam urin. Metabolit akhir yang diekskresikan bersama urin sebagian besar dalam
bentuk asam metilurat atau metilxantin (Gerhastuti, 2009).

19

Setelah kopi dikonsumsi, akan didistribusikan ke seluruh tubuh oleh aliran


darah dari traktus gastro intestinal dalam waktu sekitar 5-15 menit. Kafein
dimetabolisir di liver oleh enzim cytokrom P450 menjadi 3,7 dimethyl- (theobromin)
dan monomethylxanthin s, 1,3 dimethyl (theophillin)dan monomethyl uric acids,
trimethyl- and dimethylallantoin, serta uracil derivat. Absorpsi kafein dalam saluran
pencernaan mencapai kadar 99% kemudian kadarnya dalam aliran darah akan
mencapai puncak dalam waktu 45 - 60 menit setelah mengalami proses pencernaan
(Lelyana, 2008).
Beberapa efek pada kesehatan

yang

terjadi karena kafein dari hasil

penelitian Lelyana (2008) antara lain :


a) Sistem Syaraf Pusat
Kafein dalam 100-200 mg setara dengan 2 cangkir kopi akan menurunkan
rasa letih, memperbaiki kekuatan otot, meningkatkan vitalitas dan kesiagaan
mental, serta fungsi koordinasi seseorang akibat inhibisi dari resptor adenosin pada
cortex cerebri. Selain itu juga mempunyai efek gangguan tidur. Pada seseorang
yang mengkonsumsi kopi secara teratur, dan bila konsumsi dikurangi, maka
menyebabkan berlebihnya darah di otak dan sakit kepala (Lelyana, 2008).
b) Efek kafein dalam menghambat reseptor adenosin
menyebabkan timbulnya beberapa efek kurang baik bagi tubuh. Adenosin
merupakan molekul adenin yang menempel pada molekul gula

ribose atau

deoxyribose. Adanya kemiripan struktur kimia antara adenin dari adenosin dengan
senyawa kafein merupakan kunci bagaimana kafein bekerja, dimana kemiripan
20

struktur kafein akan berkompetisi dengan adenin sebagai substrat untuk


menempati enzim adenosin reseptor.
c) Sistem Kardiovaskuler
Kafein akan menyebabkan Inotropik dan Kronotropik pada jantung.
Meningkatkan efek vasodilatasi arteri, namun pada asupan kafein 250 mg akan
menyebabkan efek vasokonstriksi dari pembuluh darah, sehingga akan
menurunkan aliran darah central sebanyak 20-30% (Lelyana, 2008).
d) Sistem Urinaria
Efek diuretik / diuresis akan terjadi pada peminum kopi awal namun pada
peminum kopi habitual yang mengkonsumsi beberapa cangkir kopi sehari akibat
adanya toleransi terhadap kafein, maka efek diuresis akan dikurangi da
meningkatkan sekresi gaster karena kafein mengandung senyawa asam
di antaranya caffeic acid dan chlorogenic acid (Lelyana, 2008).
e) Kafein dan asam urat
Kafein (1,3,7 trimethylxanthin) akan mengalami degradasi menjadi 1,3
dimethylxanthin; 3,7 dimethylxanthin dan 1,7 dimethylxanthin yang kemudian
membentuk methylxanthin. Xanthin dengan bantuan enzim xanthin oxidase akan
membentuk asam urat. Pada tubuh xanthin merupakan hasil pemecahan produk
adenin dan guanin, yaitu 2 basa purin yang merupakan kunci utama dari DNA dan
RNA (Lelyana, 2008).

21

B.

Asam Urat
Asam urat merupakan kristal putih yang berbau dan tidak berasa. Asam urat

dihasilkan oleh proses metabolisme utama dan merupakan produk akhir atau produk
buangan yang dihasilkan dari metabolisme/pemecahan purin. Proses dimulai dari
makanan yang berupa karbohidrat, protein, dan serat dengan melalui proses kimia
dalam tubuh untuk diubah menjadi tenaga (energi) dan bahan kimia lain yang
dibutuhkan tubuh. Bila terjadi proses penyimpanan dalam proses metabolisme maka
akan menyebabkan terjadinya kelebihan dan penumpukan asam urat (Wong, 2006).

Gambar 2.2 Struktur Asam Urat

Asam urat sebenarnya merupakan antioksidan dari manusia dan hewan, tetapi
bila dalam jumlah berlebihan dalam darah atau mencapai kadar saturated akan
mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat mempunyai peran
sebagai antioksidan bila kadarnya tidak berlebihan dalam darah, namun bila kadarnya
berlebihan dalam darah, asam urat akan berperan sebagai prooksidan. Pada kondisi
hiperurikemi akan merangsang terjadinya stres oksidatif dan menyebabkan sindrom
metabolik (Utami, 2005).

22

1.

Pembentukan asam urat


Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, pada setiap metabolisme

normal dihasilkan asam urat. Sedangkan pemicunya adalah makanan dan senyawa
lain yang banyak mengandung purin. Tubuh menyediakan 85% senyawa purin untuk
kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari makanan hanya 15%.
Jika mengkonsumsi makanan ini tanpa perhitungan, jumlah purin dalam tubuhnya
dapat melewati ambang batas normal (Soeroso, 2011).
Konsumsi lemak atau minyak tinggi seperti makanan yang digoreng, santan,
margarin, atau mentega dan buah-buahan yang mengandung lemak tinggi (durian dan
alpukat) dapat menggangu pengeluaran asam urat. Konsumsi alkohol dapat
meningkatkan kadar asam urat karena menurunkan pengeluaran asam urat dari ginjal.
Mengkonsumsi karbohidrat sederhana seperti gula dan makanan olahannya (permen)
juga dapat meningkatkan asam urat dalam serum (Utami, 2005).
Jalur kompleks pembentukan asam urat dimulai dari ribose 5-phosphate, suatu
pentose

yang

(phosphoribosyl

berasal

dari

glycidic

pyrophosphate)

dan

metabolism,
kemudian

dirubah

menjadi

phosphoribosilamine,

PRPP
lalu

ditransformasi menjadi. selain itu senyawa perantara yang berasal dari adenosine
monophosphate (AMP), guanosine monophosphate (GMP), purinic nucleotides yang
digunakan untuk sintesis DNA / RNAjuga digunakan untuk pembuatan asam urat.
Inosine monophosphate (IMP), adenosine monophosphate (AMP), guanosine
monophosphate (GMP) dan purinic nucleotides yang kemudian akan mengalami

23

degradasi menjadi hypoxanthin , xanthin dan akhirnya menjadi uric acid (Lelyana,
2008).
Xanthin oxidase merupakan homodimer katalitik subunit independent, adalah
enzim yang mengkatalisis hipoxanthin menjadi xanthin dan xanthin menjadi asam
urat, yang merupakan jalur degradasi purin. Xanthin oxidase melakukan oxidizes
oxypurine seperti xanthin

dan hypoxanthin

menjadi asam urat. Urutan reaksi

pembentukan asam urat sebagai berikut (Lelyana, 2008).

hypoxanthin + O2 + H2O xanthin + H2O2


xanthin + O2 + H2O uric acid + H2O2
2. Peningkatan kadar asam urat (Hiperurikemia)
Beberapa hal di bawah ini menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam
tubuh antara lain :
a) Kandungan makanan tinggi purin seperti Alpukat dan Durian karena
meningkatkan produk asam urat (Lelyana, 2008).
b) Ekskresi asam urat berkurang karena fungsi ginjal terganggu (Lelyana, 2008).
c) Penyakit tertentu seperti gout, kanker, dan Kemoterapi kanker (Lelyana, 2008).
d) Pemakaian obat-obatan diuretik seperti tiazid atau furosemid akan meningkatkan
ekskresi cairan tubuh, namun menurunkan eksresi asam urat pada tubulus ginjal
sehingga terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah (Lelyana, 2008).
e) Pada keadaan lapar/starvasi selama proses akut dapat juga terjadi peningkatan
kadar asam urat dalam darah karena terjadi pemecahan sel yang lebih cepat serta
3.

adanya ketoasidosis (Lelyana, 2008).


Penurunan kadar asam urat
24

Beberapa kondisi yang menyebabkan terjadinya penurunan kadar asam urat


dalam tubuh antara lain :
a) Kegagalan fungsi tubulus ginjal dalam melakukan reabsorpsi asam urat dari
tubulus ginjal, sehingga ekskresi asam urat melalui ginjal akan ditingkatkan dan
kadar asam urat dalam darah akan turun. (Lelyana, 2008).
b) Defisiensi xanthin oksidase serta hambatan aktivitas enzim xanthin oxidase
dalam pembentukan asam urat sehingga akan mengurangi kadar asam urat
(Lelyana, 2008).
c) Rendahnya kadar tiroid, penyakit ginjal kronik, toksemia kehamilan dan
alcoholism (Lelyana, 2008).
d) Pemberian obat-obatan penurun kadar asam urat (Lelyana, 2008).
4.
Pengaruh kopi dengan kadar asam urat
Senyawa polifenol (di antaranya chlorogenic acid) kopi mampu menghambat
kerja enzim xanthin oxidase. Hal itu kemungkinan terjadi karena struktur senyawa
tersebut mempunyai kemiripan sehingga aktivitas biologinya mampu menghambat
xanthin oxidase. Menurut hasil studi kapasitas antioksidan plasma dalam tubuh
manusia meningkat setelah mengkonsumsi kopi karena adanya kandungan senyawa
polifenol di dalam kopi (Gerhastuti, 2009).
5.

Metode pemeriksaan kadar asam urat


Pemeriksaan kadar asam urat yang dilakukan di laboratorium untuk

mengetahui kadar asam urat dalam di dalam tubuh adalah sebagai berikut :
a. Asam urat darah
Dewasa ini pemeriksaan kadar asam urat darah di laboratorium biasa
menggunakan alat spektroftometer atau alat otomatis seperti Multicheck Digital
25

automatic. Masing-masing alat mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam


menentukan kadar asam urat dalam darah (Utami, 2005).
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah metode Uricase /
Peroxidase. Prinsip pemeriksaan asam Urat yang ada di dalam sampel dengan
reaksi berpasangan yang dijelaskan dibawah, akan terbentuk senyawa kompleks
berwarna dan kadar asam urat dapat di tentukan dengan penentuan adsorban
senyawa berwarna tersebut menggunakan spektrofotometer.

Reaksi
Uricase
Asam Urat + O2 + 2H2O

Alatonin + CO2 + H2O2

Peroxsidasee
H2O + 2H2O + 4-Amino Antipyrin + DCFS
Quinoneimine + 4H2O

b.

Pemeriksaan cairan sendi


Pemeriksaan ini dilakukan dengan mikroskop untuk melihat adanya
Kristal urat yang ada di dalam cairan sendi (Utami, 2005).

c.

Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis ini digunakan untuk melihat adanya Kristal asam
urat di dalam cairan sendi dan tulang (Utami, 2005)

C. Kerangka Teori
Konsumsi Alkohol

26

Gaya Hidup

Konsumsi Kafein

Merokok
Tinggi Purin
Pola Konsumsi
Makan

Rendah Purin

Kadar Asam Urat

Umur
Karakteristik
Individu

Jenis Kelamin
Ras

Konsumsi
Obat
Penyakit asam
urat

Garis putus tidak diamati, garis utuh diamati


Bagan 2.3. Kerangka Teori

D.

Hipotesis
Ada pengaruh kebiasaan minum kopi terhadap kadar asam urat pada pria usia

45-65 tahun di kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu tahun 2014.

27

BAB III
KERANGKA DASAR DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Penelitian INI menggunakan cross sectional yang merupakan rancangan
penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan yaitu

28

waktu pengumpulan data antara pria usia 45-65 tahun yang mempunyai kebiasaan
minum kopi dengan kadar asam urat (Hidayat, 2007).

Pria umur 45 65 tahun


Peminum Kopi

Peminum
kopi ringan

Peminum

Peminum

kopi sedang

kopi berat

Kadar Asam Urat


Bagan 3.1. Desain Penelitian

Variabel Independent
Kebiasaan minum kopi

Variabel Dependent
Kadar Asam Urat

Bagan 3.2. Variabel Penelitian


B. Hipotesis
Ada pengaruh kebiasaan minum kopi terhadap kadar asam urat pada pria usia
45-65 tahun di kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu tahun 2014.

C. Definisi Operasional

29

D. Tabel 3.1. Defenisi Operasional


Variabel
Defenisi Operasional
Kadar
Asam urat merupakan
Asam Urat kristal putih yang
berbau dan tidak berasa.
Asam urat dihasilkan
oleh proses metabolisme
utama dan merupakan
produk akhir atau
produk buangan yang
dihasilkan dari
metabolisme/pemecahan
purin.
Konsumsi Kopi merupakan sejenis
kopi
minuman yang berasal
dari proses pengolahan
biji tanaman kopi. Biji
kopi yang menjadi
bubuk dicampurkan
dengan air panas
kemudian diminum dan
banyaknya meminum
kopi ini dilakukan 1
cangkir sampai lebih
dari 4 cangkir kopi per
hari

Alat ukur
Sfektrofotometer

Hasil Ukur
mg/dL

Skala Ukur
Ratio

Kuesioner

1 = ringan
(1-2 cangkir
per hari)

ordinal

2 = sedang
( 3-4 cangkir
per hari)
3 = berat (> 4
cangkir per
hari )

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang merupakan
rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat

30

bersamaan yaitu waktu pengumpulan data antara pria usia 45-65 tahun yang
mempunyai kebiasaan minum kopi dengan kadar asam urat (Hidayat, 2007).

Pria umur 45 65 tahun


Peminum Kopi

Peminum
kopi ringan

Peminum

Peminum

kopi sedang

kopi berat

Kadar Asam Urat


Bagan 3.1. Desain Penelitian

B. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat,
atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep
pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2010). Variabel pada penelitian ini adalah Variabel
bebas (Independent) dan variabel terikat (Dependent).
Variabel Independent
Kebiasaan minum kopi

Variabel Dependent
Kadar Asam Urat
31

Bagan 3.2. Variabel Penelitian


C. Definisi Operasional
Tabel 3.1. Defenisi Operasional
Variabel
Defenisi Operasional
Kadar
Asam urat merupakan
Asam Urat kristal putih yang
berbau dan tidak berasa.
Asam urat dihasilkan
oleh proses metabolisme
utama dan merupakan
produk akhir atau
produk buangan yang
dihasilkan dari
metabolisme/pemecahan
purin.
Konsumsi Kopi merupakan sejenis
kopi
minuman yang berasal
dari proses pengolahan
biji tanaman kopi. Biji
kopi yang menjadi
bubuk dicampurkan
dengan air panas
kemudian diminum dan
banyaknya meminum
kopi ini dilakukan 1
cangkir sampai lebih
dari 4 cangkir kopi per
hari

Alat ukur
Sfektrofotometer

Hasil Ukur
mg/dL

Skala Ukur
Ratio

Kuesioner

1 = ringan
(1-2 cangkir
per hari)

ordinal

2 = sedang
( 3-4 cangkir
per hari)
3 = berat (> 4
cangkir per
hari )

D. Populasi dan Sampel

32

1.

Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Adapun

populasi penelitian ini adalah seluruh penduduk berjenis kelamin laki-laki usia 4565
tahun yang bertempat tinggal di kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung
Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu.
2.

Sampel
Sampel merupakan objek yang dianggap mewakili dari seluruh populasi

penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah pria berusia 4565 tahun yang
memenuhi kriteria inklusi untuk menjadi sampel atau responden penelitian. Untuk
mengetahui besar samapel penelitian ini menggunakan rumus perhitungan sampel
yakni:

= Jumlah sampel minimum


= nilai baku distribusi normal pada tertentu (1,96)

= Proporsi Variabel

= Derajat Akurasi / presisi mutlak

Sumber : Lameshow et al., 1990, dikuti oleh Ariawan, 1998


Sehingga,
n

= Jumlah sampel minimum


= 1,96

= 70 % (0,7)

= 10 % (0,1)

33

n = 41 orang
Dari hasil perhitungan diatas didapatkan jumlah sampel untuk penelitian ini
sebanyak 41 orang. Untuk menghindari kekosongan data maka jumlah minimumnya
dapat dinaikkan 10 % menjadi 45 orang. Tekhnik pengambilan sampel dalam
penelitian ini adalah Porpusive Sampling dengan jumlah batas minimal sampel
ditentukan oleh rumus di atas dan sampel yang sesuai dengan kriteria agar
karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya :
1. Kriteria Inklusi
Adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi
yang dapat diambil sebagai sampel (Hidayat, 2007).

a.
b.
c.
d.
e.

Tidak menderita penyakit gagal ginjal.


Tidak menderita penyakit diabetes mellitus.
Tidak lagi menjalani Kemoterapi kanker.
Tidak mengkonsumsi alkohol.
Mempunyai kebiasaan minum kopi berwarna hitam yang dilarutkan ke

dalam air panas (kopi kampung/hitam).


f. Tidak menderita kanker, kadar abnormal eritrosit dalam darah karena
destruksi sel darah merah, polisitemia, anemia pernisiosa, leukemia, dan
gangguan genetik metabolisme purin.
g. Sudah lama mengkonsumsi kopi atau mempunyai kebiasaan minum kopi
yang telah dilakukan >5 tahun.
h. Bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini.

34

E.

Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan dari bulan September tahun 2013 sampai bulan Mei

tahun 2014. Lokasi penelitian di Kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung Kota
Bengkulu.
F.

Pengumpulan Data, Pengolahan Data dan Analisa Data

1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dari penelitian yang dilakukan yakni dengan terlebih
dahulu melakukan pencarian data dimana daerah yang jumlah laki-laki atau pria
berusia 45-65 tahun paling banyak di kota Bengkulu. Dari data yang ada
didapatkan daerah yang tinggi jumlah pria usia 45-65 tahun ada di kecamatan
Ratu Agung kota Bengkulu. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota
Bengkulu, jumlah laki-laki yang ada di daerah kecamatan Ratu Agung ini paling
banyak di kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu.
Kemudian instrumen penelitian yang digunakan yakni dengan metode
Kuesioner yang merupakan sebuah daftar pertanyaan yang sudah tersusun baik
dimana responden tinggal memberikan jawaban atau tanda-tanda tertentu. Dalam
penelitian ini diberikan pertanyaan-pertanyaan kepada

responden seputar

tentang kebiasaannya meminum kopi.


2. Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan setelah seluruh data dikumpulkan. Data
yang digunakan dalam penelitian ini ialah data primer dengan mengukur kadar
asam urat pada pria yang berusia 45 65 tahun di kelurahan Nusa Indah
35

Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu yang merupakan peminum kopi dengan
menggunakan spektrofotometer. Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah
dengan beberapa tahap yaitu :
a.

Pengeditan Data (Editing).


Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data
yang

diperlukan

untuk

mencapai

tujuan

penenelitian

dilakukan

pengelompokan dan penyusunan data.


b.

Pengkodean Data (Coding)


Coding adalah pengalokasian jawabanjawaban yang ada menurut macamnya
kebentuk kode-kode agar lebih mudah dan sederhana.

c.

Memberikan Skore (Scoring )


Setelah koding data, maka dilakukan pemberian skor pada masing-masing
sub variabel dan diproses dengan komputer untuk dianalisis.

d.

Pembersihan Data (Cleaning)


Pembersihan data dilakukan untuk mengoreksi jika ada kesalahan pengolahan
data sehingga dapat diperbaiki.

e.

Memproses Data (processing)


Setelah data dikumpukan kemudian dimasukkan kedalam program atau
software komputer.

3. Analisis Data
Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Analisis Univariat
36

Digunakan untuk mengetahui, menjelaskan atau mendeskripsikan


karakteristik setiap variabel penelitian. Untuk melihat gambaran distribusi
frekuensi masing-masing variable penelitian baik yang independent maupun
yang dependent (Notoadmodjo, 2010).
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independent dengan dependent menggunakan Anova One Way yang
digunakan untuk menganalisis hasil observasi untuk mengetahui secara
statistik apakah terdapat hubungan atau pengaruh yang signifikan pada
penelitian kebiasaan minum kopi dengan kadar asam urat pada pria usia 45-65
tahun di kelurahan Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu
(Hidayat, 2007).

G.
1.

Metode Pemeriksaan
Metode Pemeriksaan
Metode yang digunakan adalah metode Uricase / Peroxidase.

2.

Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat yang
digunakan untuk pemeriksaan sampel terdiri dari kuvet, mikropipet 25 l,
mikropipet 1000l, spektrofotometer, tissue, kapas kering, kapas beralkohol 70
%, beaker glass, yellow Tip dan blue tip, centrifuge, tabung vacutainer tutup
kuning, Spuit 3 cc, tourniquet, dan rak tabung reaksi. Bahan yang akan
37

digunakan dalam penelitian ini adalah Larutan Reagen kerja Byosistem, Larutan
standart Byosistem dan Aquadest. Serum atau Plasma yang merupakan hasil dari
proses pemusingan darah vena didalam Vacumtainer dengan sentrifus digunakan
sebagai sampel.
3.

Prosedur Kerja
a. Pengambilan sampel
1. Persiapkan alat dan bahan untuk pengambilan darah.
2. Pasien dipersilahkan untuk duduk dan pasien disapa serta dilakukan
3.

informed concent mengenai tindakan yang akan dilakukan.


Lengan atas dibendung dengan tourniquet sampai pembuluh darah

4.

terlihat, pasien diminta untuk mengepalkan tangannya.


Dengan menggunakan kapas alkohol 70 %, daerah pembuluh darah

5.

disterilkan atau dibersihkan dan ditunggu hingga kering.


Pengambilan darah vena dilakukan menggunakan spuit 1 cc atau 3 cc

6.
7.
8.
9.

pada pembuluh darah vena.


Spuit ditarik perlahan-lahan, sehingga darah masuk kedalam spuit.
Tourniquet dilepas.
Darah diambil sesuai dengan jumlah yang diperlukan.
Letakkan kapas kering pada ujung jarum kemudian spuit ditarik

perlahan-lahan dari pembuluh darah.


10. Beri plester hingga darah tidak mengalir kembali keluar.
11. Darah dalam spuit dimasukkan kedalam tabung Vacutainer bertutup
kuning yang telah diberi kode identitas pasien / responden.
12. Disentrifus sampel darah tersebut dan serum yang terbentuk digunakan
untuk pemeriksaan kadar asam urat pasien / responden.
b. Pengukuran Kadar Asam Urat
1. Reagen asam urat dan standar dibawa ke suhu ruangan.
2. Dilakukan pemipetan kedalam kuvet seperti tabel dibawah ini

38

Tabel 3.2. Cara Kerja


Distilled water
Standart
Sampel
Reagen
Sumber : Manual Alat

Blanko
25 l
1.000 l

Standart

Sampel

25 l
1.000 l

25l
1.000 l

3. Dihomogenkan dan inkubasi tiap kuvet selama 10 menit pada suhu


ruangan atau selama 5 menit pada suhu 37 oC.
4. Tentukan absorban standard sampel pada panjang gelombang 520 nm.
Warna akan stabil selama 30 menit.
5. Hasil dicatat pada master tabel.

39

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Jalan Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes
Bengkulu. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui 2 tahap yaitu tahap persiapan
penelitian dan tahap pelaksanaan penelitian. Pada tahapan persiapan penelitian
meliputi kegiatan pengajuan dan penetapan judul, survey awal, pengumpulan data,
dan merumuskan masalah penelitian, penyusunan proposal, dilanjutkan dengan
pelaksanaan seminar proposal, menyiapkan instrument penelitian dan pengurusan izin
untuk melaksanakan penelitian.
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti meminta izin dari pendidikan yaitu
Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Kemudian izin dari Kantor Pelayanan Perizinan
Terpadu (KP2T) Provinsi Bengkulu, izin dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu
(BP2T) dan Penanaman Modal Kota Bengkulu serta dari Kesatuan Bangsa dan
Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol) Kota Bengkulu. Responden dalam penelitian
ini berjumlah 45 orang yang bertempat tinggal di Kelurahan Nusa Indah Kota
Bengkulu Provinsi Bengkulu. Penentuan responden dalam penelitian dilakukan
dengan menggunakan teknik Purposive Sampling sehingga diperoleh 45 responden

40

yang telah memenuhi syarat atau kriteria yang ditentukan oleh peneliti untuk menjadi
responden dalam penelitian.
Data variabel Independent memberikan kuesioner kepada responden dan
diberikan cara pengisian kuesinoer yang harus responden isi. Kuesioner yang telah
diisi oleh responden tersebut digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data
variabel independent. Untuk data variabel dependent diperoleh dengan cara
mengambil sampel dan memeriksa sampel tersebut di Labratorium Terpadu Poltekkes
Kemenkes Bengkulu. Peneliti menjelaskan dan meminta izin untuk pengambilan
sampel darah vena pada responden. Sampel darah tersebut dimasukkan kedalam
tabung Vacumtainer bertutup kuning dan diberi kode sampel. Setelah itu sampel
dibawa ke Laboratorium Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan sampel langsung
diperiksa kadar asam urat serum di ruangan spektrofotometer. Penelitian ini memiliki
beberapa kelemahan karena peneliti tidak memperhatikan atau mengabaikan faktorfaktor yang dapat mempengaruhi hasil dari penelitian. Kelemahan tersebut seperti
peneliti mengabaikan suhu air yang digunakan untuk menyeduh kopi dan peneliti
mengabaikan berapa gram atau berat kopi yang digunakan saat pembuatan kopi.
B. Hasil Penelitian
Setelah data terkumpul selanjutnya data tersebut diolah secara univariat dan
secara bivariat menggunakan uji Anova One Way. Adapun hasil pengolahan data
tersebut adalah :
1. Analisis Univariat

41

Analisis univariat digunakan untuk mengetahui, menjelaskan atau


mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Untuk melihat gambaran
distribusi frekuensi masing-masing variabel penelitian baik yang independent
maupun yang dependent.

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi kebiasaan minum kopi pria usia 45-65 tahun di
Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu tahun 2014
Kebiasaan minum kopi
Ringan

Frekuensi / N
15

Persentase (%)
33,3

Sedang

15

33,3

Berat
Jumlah

15
45

33,3
100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jumlah sampel / responden


pada masing-masing kriteria kebiasaan minum kopi, yaitu peminum kopi ringan,
sedang dan berat adalah sama. Sehingga data yang didapatkan tingkat
homogenitasnya akan terpenuhi dan uji statistik Anova One Way dapat dilakukan
(valid).
Tabel 4.2 Rata-rata kadar asam urat
No.

Kategori peminum kopi

Rata-rata kadar asam urat

1.

Peminum kopi ringan

6,50 mg/dL

2.

Peminum kopi sedang

5,22 mg/dL

3.

Peminum kopi berat

3,99 mg/dL

42

Rata-rata kadar asam urat

5,23 mg/dL

Rata-rata hasil ukur kadar asam urat dari semua sampel yang diperiksa
adalah 5,23 mg/dL. Rata-rata kadar asam urat dari tiap-tiap kriteria peminum kopi
antara lain rata-rata kadar asam urat peminum kopi ringan 6,50 mg/dL, rata-rata
kadar asam urat peminum kopi berat yaitu 5,22 mg/dL, dan rata-rata kadar asam
urat peminum kopi berat yaitu 3,99 mg/dL. Sampel peminum kopi berat
mempunyai hasil ukur kadar asam urat terkecil (minimum) dari semua sampel /
responden yang diperiksa yaitu 3,5 mg/dL. Kelompok sampel peminum kopi
ringan mempunyai hasil ukur kadar asam urat terbesar (maximum) dari semua
sampel / responden yang diperiksa yaitu7,4 mg/dL . Hasil ukur kadar asam urat
dari semua sampel yang diperiksa yang paling banyak muncul adalah 6,0 mg/dl
karena ada 4 sampel yang mempunyai hasil ukur kadar asam urat 6,0 mg/dl.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
independent dengan dependent menggunakan Anova One Way yang digunakan
untuk menganalisis hasil observasi untuk mengetahui secara statistik apakah
terdapat hubungan atau pengaruh yang signifikan pada penelitian kebiasaan
minum kopi dengan kadar asam urat pada pria usia 45-65 tahun di kelurahan
Nusa Indah Kecamatan Ratu Agung Kota Bengkulu.

43

Hasil analisis uji kenormalan data yang didapat dari 45 responden dengan
menggunakan uji kolmogorov smirnov dan Shapiro Wilk

adalah

signifikansi seluruh kebiasaan minum kopi (ringan, sedang,


berat) lebih besar dari (0,05) sehinggga dapat ditarik
kesimpulan bahwa distribusi data normal. Hasil analisis uji kesamaan
varians Anova one yaitu hasil uji statistik p (0,126) yang lebih besar dari
(0,05) maka kesamaan varians terpenuhi dan uji Anova One Way valid untuk
dilakukan.

Tabel 4.3 Hasil analisis bivariat


ANOVA
Sum of
Squares

df

Mean Square

Between
Groups

47.132

23.566

Within Groups

13.353

42

.318

Total

60.486

44

F
74.122

Sig.
.000

Dari uji anova one way didapatkan hasil uji statistik nilai p (0,000) yang
lebih kecil nilai (0,05) maka dapat ditarik kesimpulan Ha diterima dan H 0
ditolak. Sehingga dapat diketahui bahwa ada pengaruh kebiasaan minum kopi
terhadap kadar asam urat pria usia 45-65 tahun di Kelurahan Nusa Indah Kota
Bengkulu tahun 2014. Jika ada beda maka uji Post Hoc dilakukan untuk

44

mengetahui kelompok mana yang berbeda dan yang tidak berbeda. Dari hasil
analisis Post Hoc ( benferonni test ) yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa
setiap populasi atau kelompok sampel dalam penelitian ini berbeda.
C.

Pembahasan
Dalam pelaksanaan penelitian pengaruh kebiasaan minum kopi terhadap kadar

asam urat pria usia 45-65 tahun di Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu Tahun 2014.
Peneliti membagi kebiasaan minum kopi menjadi 3 kriteria yaitu peminum kopi
kriteria ringan, sedang dan berat yang di tentukan berdasarkan jumlah banyak cangkir
kopi yang di konsumsi setiap hari. Satu cangkir kopi dilihat dari jumlah bubuk kopi
dan jumlah air yang digunakan untuk membuat satu cangkir kopi yaitu 10 gram
bubuk kopi dalam 150 ml air (Azwar, 2008).
Berdasarkan jumlah kopi yang dikonsumsi per hari, maka peminum atau
pengkonsumsi kopi dibagi menjadi 3 yaitu peminum kopi yang mengkonsumsi kopi
1-2 cangkir kopi per hari digolongkan ke peminum kopi ringan, peminum kopi yang
mengkonsumsi kopi 3-4 cangkir kopi per hari digolongkan ke peminum kopi sedang
dan peminum kopi yang mengkonsumsi kopi > 4 cangkir kopi per hari digolongkan
ke peminum kopi berat (Azwar, 2008).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa rata-rata kadar
asam urat pria usia 45-65 tahun yang mempunyai kebiasaan minum kopi ringan,
sedang dan berat masing-masing berbeda. Rata-rata kadar asam urat pria usia 45-65
tahun yang mempunyai kebiasaan minum kopi ringan lebih tinggi dari rata-rata kadar

45

asam urat pria yang mempunyai kebiasaan minum kopi berat dan kebiasaan minum
kopi sedang. Kadar asam urat pria usia 45-65 tahun yang mempunyai kebiasaan
minum kopi sedang lebih rendah dari kadar asam urat pria yang mempunyai
kebiasaan minum kopi ringan dan

lebih tinggi kebiasaan minum kopi sedang.

Sedangkan kadar asam urat pria usia 45-65 tahun yang mempunyai kebiasaan minum
kopi berat lebih rendah dari kadar asam urat pria yang mempunyai kebiasaan minum
kopi ringan dan kebiasaan minum kopi sedang.
Teori telah menjelaskan bahwa kafein yang terkandung dalam kopi dapat
membuat kadar asam urat meningkat melalui jalur degradasi kafein.. Dalam satu
cangkir kopi mempunyai kandungan kafein yang berbeda-beda, sesuai dengan jenis
kopi dan cara pengolahan. Rata-rata satu cangkir kopi mengandung 115 mg kafein.
Kafein

(1,3,7

trimethylxanthin)

akan

mengalami

degradasi

menjadi

1,3

dimethylxanthin; 3,7 dimethylxanthin; dan 1,7 dimethylxanthin yang kemudian


membentuk methylxanthin. Xanthin dengan bantuan enzim xanthin oxidase akan
membentuk asam urat, maka semakin banyak responden meminum kopi (4-5 cangkir
per hari) maka semakin tinggi kadar asam urat responden tersebut. (Lelyana, 2008).
Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan, pria usia 45-65 tahun yang mempunyai
kebiasaan minum kopi berat mempunyai kadar asam urat lebih rendah daripada kadar
asam urat peminum kopi sedang dan peminum ringan. Hal ini dapat dikarenakan oleh
adanya kandungan polifenol (antioksidan) dalam kopi.

46

Kopi mengandung senyawa polifenol yang merupakan antioksidan sekitar


200-550 mg percangkir kopi. Bila tubuh mengkonsumsi kopi dengan kandungan
senyawa polifenol, maka tubuh akan mendapatkan antioksidan tersebut dengan tetap
mempertimbangkan proses pengolahan dan penyajian kopi. Kandungan kopi
(polifenol) yang telah teridentifikasi sebagai antioksidan adalah chlorogenic acid
yaitu senyawa yang terbentuk selama roasting. Chlorogenic acid berperan
menghambat aktivitas xanthin oxidase sehingga kadar asam urat menurun. Polifenol
(chlorogenic acid) juga bersifat diuretik, sehingga asam urat akan larut dan terbuang
bersama urin. (Lelyana, 2008).
Senyawa polifenol (chlorogenic acid) kopi mampu menghambat kerja enzim
xanthin oxidase

karena mekanisme inhibisi terjadi kemungkinan karena adanya

kemiripan struktur kimia senyawa polifenol dengan turunan xanthin yang berasal dari
degradasi kafein dan yang berasal dari metabolisme tubuh. Sehingga aktivitas biologi
dari polifenol mampu menghambat xanthin oxidase , seperti cara kerja allopurinol
dalam menurunkan kadar asam urat dengan menggunakan jalur penghambatan enzim
xanthin oxidase (Lelyana, 2008).
Allopurinol

secara

struktur

kimia

merupakan

analog

struktur

dari

hypoxanthin, maka allopurinol adalah analog substrat untuk enzim xanthin oxidase .
Jadi di sini, fungsi allopurinol sebagai analog sustrat akan menempati sisi aktif enzim
xanthine oxidase, yang biasa ditempati oleh hypoxanthine. Allopurinol menghambat
aktivitas enzim secara irreversible dengan mengurangi bentuk xanthin oxidase

47

sehingga menghambat pembentukan asam urat. Cara kerja dari polifenol dalam
menghambat pembentukan asam urat mirip dengan cara kerja allopurinol (Lelyana,
2008).

Hasil dari penelitian ini sesuai dengan pernyataan Rossa Lelyana (2008) yang
menyatakan bahwa larutan kopi dapat menurunkan kadar asam urat pada tikus
percobaan. Ada penurunan kadar asam urat setelah perlakuan pada kelompok yang
memperoleh larutan kopi 0,72ml/hari dan 2,16 ml/hari. Penurunan kadar asam urat
serum di sebabkan oleh kandungan polifenol yang ada di dalam kopi melalui jalur
Hasil penelitian dari Kiyohara dkk (1.999) dengan judul Inverse Association Between
Coffe Dringking and Serum Uric Acid Concentration in Middle Age Japanese Males
juga mendapatkan hasil bahwa peminum kopi berhubungan dengan kadar asam urat
serum rendah karena kandungan polifenol yang ada didalam kopi dapat menghambat
kerja dari enzim Xanthin Oksidase sehingga pembentukan asam urat dari xhantin
yang berasal dari degradasi kafein dan metabolisme tubuh terhambat menjadikan
kadar asam urat dalam darah tidak tinggi.
Sesuai dengan pendapat M.Daglia (2010) bahwa meminum kopi dapat
menurunkan resiko gout dan peminum kopi dapat menurunkan resiko penyakit
diabetes. Karena Chlorogenic acid telah terbukti secara in vitro pada studi hewan
mampu menghambat hydrolysis enzim glucose-6-phosphate secara irreversible.
Mekanisme ini menyebabkan chlorogenic acid mampu mengurangi hepatic
glycogenolysis (transformasi dari glycogen menjadi glukosa) serta mengurangi
48

absorpsi glukosa baru. Kopi dapat menurunkan resiko gout karena penghambatan
kerja enzim Xanthin Oksidase yang merupakan katalis perubahan hipoxanthin
menjadi xanthin dan dari xanthin kembali di katalis oleh enzim Xanthin Oksidase
menjadi asam urat. Jika kerja dari enzim xanthin oksidase terhambat, maka
pembentukan asam urat dalam tubuh akan berkurang. Mekanisme penghambatan
kerja dari enzim Xanthin Oksidase hampir sama dengan kerja dari obat penurun kadar
asam urat dalam darah (Allopurinol).

49

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian tentang Pengaruh

Kebiasaan Minum Kopi Terhadap Kadar Asam Urat Pria Usia 45-65 Tahun di
Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu Tahun 2014 maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Ada pengaruh yang bermakna antara kebiasaan minum kopi dengan kadar asam
urat pria usia 45-65 tahun di Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu Tahun 2014.
2. Rata-rata kadar asam urat pria usia 45-65 tahun dengan kebiasaan minum kopi
ringan adalah 6,50 mg/dl dan lebih tinggi dari rata-rata kadar asam urat pria usia
45-65 tahun dengan kebiasaan minum kopi sedang dan berat.
3. Rata-rata kadar asam urat pria usia 45-65 tahun dengan kebiasaan minum kopi
sedang adalah 5,22 mg/dl dan lebih tinggi dari rata-rata kadar asam urat pria usia
45-65 tahun dengan kebiasaan minum kopi berat dan lebih rendah dari kebiasaan
minum kopi ringan.
4. Rata-rata kadar asam urat pria usia 45-65 tahun dengan kebiasaan minum kopi
berat adalah 3,99 mg/dl dan lebih rendah dari rata-rata kadar asam urat pria usia
45-65 tahun dengan kebiasaan minum kopi ringan dan sedang.

50

B.
Saran
1. Bagi Akademik
Adanya informasi yang didapat dari hasil penelitian ini hendaknya
digunakan untuk menambah pengetahuan khususnya mahasiswa dan dosen
jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu agar dapat memberikan
informasi dari hasil penelitian Pengaruh Kebiasaan Minum Kopi Terhadap Kadar
Asam Urat Pria Usia 45-65 Tahun di Kelurahan Nusa Indah Kota Bengkulu Tahun
2014 ini kepada masyarakat luas melalui penyuluhan. Dengan begitu masyarakat
akan lebih tahu manfaat dari meminum kopi terutama terhadap asam urat.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat untuk tahu tentang pengaruh kebiasaan minum
kopi dan cara mengkonsumsi kopi yang benar dengan mengikuti penyuluhan yang
dilakukan oleh Instansi pendidikan atau Dinas Kesehatan.
3. Bagi Peneliti Lain
Dapat mengembangkan penelitian ini dengan variabel yang berbeda dan
inovatif seperti perbandingan kadar asam urat pria atau wanita yang
mengkonsumsi kopi dengan jenis kopi yang berbeda (Arabika dan Robusta),
perbedaan kadar asam urat pria atau wanita yang mengkonsumsi kopi dengan
variasi cara pengolahan / penyeduhan yang berbeda.

51

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Ahmad. 2008. Faktor-Faktor penyebab Kejadian Hipertensi pada Masyarakat


Kurang Mampu di Kota Malang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas
Muhamadiyah Malang. 30-31.
Bhara, L.A.M. 2005. Nutrition in the Prevention and Treatment of Disease.USA:
Academic Press
Daglia, Musida.2010.Pengaruh Minum Kopi Terhadap Penyakit Diabetes dan Gout
Pada Pria Di Kota Semarang.Jurnal Kesehatan Universitas Islam
Indonesia.12-14.
Dewani, Indah Kota Bengkulu. 2010. Gambaran Penyakit Asam Urat Pria dan Wanita
Pekerja Kantor. Jurnal Media Masyarakat Depok. 22-25.
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu. 2005. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu
Tahun 2005. Bengkulu: Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu.
Dinas Kesehatan Kota Bengkulu. 2012. Profil Kesehatan Kota Bengkulu Tahun 2012.
Bengkulu: Dinas Kesehatan Kota Bengkulu.
Gerhastuti, Bekti Ciptaning. 2009. Pengaruh Pemberian Kopi Dosis Bertingkat Per
Oral Selama 30 Hari Terhadap Gambaran Histologi Ginjal Tikus Wistar.
Jurnal Thesis Universitas Di Ponegoro; 10-31.
Giulucci, Mark. 2001. Healthy with coffe. Canada; Younger Press.
Hidayat, Asep. 2007. Langkah Mudah Menyusun Penelitian Kuantitatif. Jakarta:
Bingkai Nusantara.
Lelyana, Rossa. 2008. Pengaruh Kopi Terhadap Asam Urat Darah Studi Eksperimen
Pada Tikus Rattus Norwegicus Galur Wistar. Jurnal Thesis Universitas Di
Ponegoro; 5-25.
Nurhayati, Dwi. 2011. Mengenal Tanaman Kopi. Jakarta: Buana Tiga Saudara.

52

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.
Prabowo, Agus. 2002. Keuntungan dan Kerugian Minum Kopi dan Teh bagi
Kesehatan. Bandung: CV Indah Kota Bengkulu Permata Press.
Saputra, Edi. 2008. Penyakit-penyakit yang timbul pada usia lanjut. Semarang:
Koalasari.
Singgih, Santoso.2008. Panduan Lengkap Menguasai SPSS 16.Alex Media
Komputindo.Jakara.
Sofieana, Rina.2011.Gambaran Konsumsi Minuman Kopi Masyarakat Kota Medan
tahun 2010.Jurnal untuk pemenuhan tugas Universitas Sumatera Utara;6-12.
Soenarto, Rudi. 2010. Kenali Kopi Hasil Pertanian Indonesi.Edisi Pertama Cetakan
Pertama. Surabaya: Indonesia Jaya.
Soeroso, Bima. 2011. Penyakit Asam Urat dan Rematik. Jakarta: Gagas Media.
Sugiyono, Susilo. 2008. Manfaat Minum Kopi Tiap Hari. Jurnal Dokter Gaul.2-3.
Surati, Kosnayani. 2007. Gangguan Kesehatan Akibat Minum Minuman Berkafein.
Jurnal Dokter Gaul. 5-6.
Suryanto, Andi. 2005. Manfaat Kandungan Dalam Tanaman Kopi. Jakarta: Graha
Ilmu.
Tjokronegoro, Arjatmo, Sumedi Sudarsono. 2007. Metodologi Penelitian Bidang
Kodekteran.Edisi pertama cetakan keenam. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Utami, Dwi. 2005. Jurnal Faktor-faktor kejadian penyakit rematik pada usia lanjut.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Muhamadiyah Malang. 67-69.
Wong, Bayu. 2006. Penyakit Asam Urat. Bandung: Salemba Benika.

53

54

55

LAMPIRAN 1
Tebel 1 Distrbusi Frekuensi peminum kopi dan asam urat

Statistics
peminum
kopi
N

Valid

asam urat

45

45

Mean

2.00

5.238

Median

2.00

5.200

Mode

1a

6.0

Minimum

3.5

Maximum

7.4

Missing

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Descriptives
asam urat
95% Confidence
Interval for Mean
N

Mean

Std.
Deviation Std. Error

Lower
Bound

Upper Minimu Maximu


Bound
m
m

ringan

15

6.500

.5855

.1512

6.176

6.824

5.6

7.4

sedang

15

5.220

.6483

.1674

4.861

5.579

4.0

6.4

berat

15

3.993

.4367

.1127

3.752

4.235

3.5

4.9

Total

45

5.238

1.1725

.1748

4.886

5.590

3.5

7.4

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Hasil Ukur Kadar Asam Urat Responden

56

57

asam urat
Kadar
Cumulative
Asam
Urat Frequency Percent Valid Percent
Percent
Valid 3.5

4.4

4.4

4.4

3.6

6.7

6.7

11.1

3.8

2.2

2.2

13.3

3.9

4.4

4.4

17.8

4.4

4.4

22.2

4.1

2.2

2.2

24.4

4.2

4.4

4.4

28.9

4.3

2.2

2.2

31.1

4.5

2.2

2.2

33.3

4.7

2.2

2.2

35.6

4.8

6.7

6.7

42.2

4.9

4.4

4.4

46.7

2.2

2.2

48.9

5.2

4.4

4.4

53.3

5.5

4.4

4.4

57.8

5.6

2.2

2.2

60.0

5.8

4.4

4.4

64.4

5.9

2.2

2.2

66.7

8.9

8.9

75.6

6.1

4.4

4.4

80.0

6.4

2.2

2.2

82.2

6.7

2.2

2.2

84.4

6.8

2.2

2.2

86.7

6.9

2.2

2.2

88.9

4.4

4.4

93.3

7.1

4.4

4.4

97.8

7.4

2.2

2.2

100.0
58

Tabel 3 analisis kenormalan data

Tests of Normality
peminu
m kopi

Kolmogorov-Smirnova
Statistic

Df

Shapiro-Wilk

Sig.

Statistic

df

Sig.

asam urat ringan

.219

15

.050

.902

15

.100

sedang

.112

15

.200*

.979

15

.963

berat

.149

15

.200*

.900

15

.096

a. Lilliefors Significance
Correction
*. This is a lower bound of the true
significance.

Tabel 4 analisis kenormalan data


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

asam urat
N

peminum
kopi

45

45

5.238

2.00

1.1725

.826

Absolute

.101

.220

Positive

.101

.220

Negative

-.084

-.220

Kolmogorov-Smirnov Z

.676

1.478

Asymp. Sig. (2-tailed)

.750

.025

Normal Parametersa

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

a. Test distribution is Normal.

59

Tabel 5 analis homogenitas data

Test of Homogeneity of Variances


asam urat
Levene
Statistic
2.180

df1

df2
2

Sig.
42

.126

Tabel 6 Analisis Anova One Way


ANOVA
asam urat
Sum of
Squares

df

Mean Square

Between
Groups

47.132

23.566

Within Groups

13.353

42

.318

F
74.122

Sig.
.000

Tabel 7 Analisis lanjutan anova one way (post hoc) dengan Bonferroni

60

Multiple Comparisons
Dependent Variable:asam urat
Bonferroni ringan
sedang
berat

sedang

1.2800*

.2059

.000

.767

1.793

berat

2.5067*

.2059

.000

1.993

3.020

ringan

-1.2800*

.2059

.000

-1.793

-.767

berat

1.2267*

.2059

.000

.713

1.740

ringan

-2.5067*

.2059

.000

-3.020

-1.993

.2059

.000

-1.740

-.713

sedang

-1.2267

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

61

Lampiran 2
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BENGKULU
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
Jl. Indragiri No. 03 Padang Harapan kota Bengkulu

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

: ..

Jenis kelamin

: .................................................

Umur

: ..

Alamat

: ..

Menyatakan bersedia menjadi responden pada penelitian yang dilakukan oleh


Ahmat Rediansya Putra mahasiswa Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes
Bengkulu tentang Pengaruh Kebiasaan Minum Kopi Terhadap Kadar Asam Urat Pria
Usia 45-65 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu.
Jika saat penelitian berlangsung saya mengundurkan diri maka saya berhak
untuk tidak menjadi responden. Demikian surat pernyataan kesediaan menjadi
responden ini di buat dengan sadar dan sebenarnya tanpa ada paksaan dari pihak
manapun dan agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bengkulu, .. 2014
Yang membuat pernyataan
.

62

Lampiran 3
LEMBAR KUESIONER
PENGARUH KEBIASAAN MINUM KOPI TERHADAP KADAR
ASAM URAT PRIA USIA 45-65 DI KELURAHAN NUSA INDAH
KOTA BENGKULU TAHUN 2014
Petunjuk :
Isilah data umum dibawah ini dengan lengkap dan jelas. Pilihlah jawaban yang sesuai
dan tepat dengan cara member tanda silang ( X ) pada salah satu jawaban yang
tersedia dibawah ini.
A. IDENTITAS RESPONDEN
Nama

Kode Responden

Umur

Alamat

Pekerjaan

tahun

B. DATA KEBIASAAN MINUM KOPI PRIA USIA 45-65 TAHUN


1. Apakah anda pecandu kopi ?
a. Ya
b. Tidak
2. Berapa cangkir anda biasa minum kopi setiap hari ?
a. 1-2 cangkir dalam sehari
b. 3-4 cangkir dalam sehari
c. Lebih dari 4 cangkir dalam sehari.

63