Vous êtes sur la page 1sur 3

Tatalaksana1

Tanpa ada kontraindikasi yang signifikan, pasien dengan iskemik ekstremitas bawah perlu
diberikan antikoagulan. Hal ini dapat mencegah pembentukan klot pada pembuluh darah.
Tatalaksana endovaskular
Kemampuan untuk mengurangi morbiditas serta mortalitas membuat terapi dengan
trombolisis menjadi lini pertama pada pasien dengan ALI (kelas I dan IIa). Keuntungan terapi
trombolitik dari balon embolektomi meliputi berkurangnya trauma endotel dan lebih
berpotensi untuk melisiskan klot pada pembuluh darah cabang yang tidak dapat dijangkau
dengan balon

embolektomi. Dengan terapi trombolitik, diharapkan terjadi pengenceran

bertahap klot tanpa terjadi trauma yang terjadi setelah dilakukan prosedur bedah. Jaringan
otot skeletal sangat rentan terjadi iskemia. Pada studi patofisiologi membuktikan bahwa
jaringan otot mulai terjadi kerusakan ireversibel dimulai pada jam ke 3 sampai jam ke 6.
Kerusakan mikrovaskular juga terjadi seiring kerusakan jaringan otot skeletal. Sewaktu
jaringan otot dan mikrovaskular rusak, amputasi menjadi opsi utama dibanding
revaskularisasi untuk mencegah toksin lokal terdistribusi ke aliran sistemik.
Pasien dengan oklusi pembuluh darah kecil adalah kandidat yang jelek untuk dilakukan
pembedahan oleh karena pembuluh darah yang digunakan untuk bypass tidak ada. Pasien
demikian diberikan trombolitik, kecuali kalau ada kontraindikasi trombolisis atau iskemia
yang sudah lama.
Tabel 1. Kontraindikasi pemberian trombolitik
Kontraindikasi absolut
Riwayat penyakit serebrovaskular (termasuk TIA) dalam 2 bulan terakhir
Perdarahan aktif
Riwayat perdarahan gastrointestinal (<10 hari)
Riwayat pembedahan saraf (intrakranial atau spinal) dalam 3 bulan terakhir
Trauma intrakranial dalam 3 bulan terakhir
Keganasan intrakranial atau metastasis
Kontraindikasi relatif mayor
Resusistasi kardiopulmoner dalam 10 hari terakhir
Riwayat pembedahan non-vaskular mayor atau trauma dalam 10 hari terakhir
Hipertensi tak terkontrol (>180 mmHg sistolik atau >110 mmHg diastolik)
tumor intrakranial

riwayat pembedahan mata


Kontraindikasi minor
Kerusakan hepar (+koagulopati)
Endokarditis bakterial
Kehamilan
Retinopati hemoragik diabetik

Trombektomi mekanik perkutaneus dan tromboaspirasi adalah intervensi pada pasien dengan
derajat ALI lebih lanjut (derajat IIb) dan pasien dengan kontraindikasi trombolitik. Tindakan
trombektomi dapat digunakan berbarengan dengan agen trombolitik untuk membantu
trombolisis dan mengurangi dosis dan durasi pemakaian trombolitik yang diperlukan untuk
efek trombolisis.
Tatalaksana pembedahan
Pada embolus yang terdapat pada arteri poplitea diekstrak via insisi femoral. Trombus
diekstrak dengan melewatkan balon kateter embolektomi Fogarty. Insisi femoral lebih sering
dilakukan karena diameter arteri femoral yang lebih besar. Kerugian dari insisi femoral ini
adalah lebih sulit untuk mengarahkan kateter pada arteri infrapoplitea. Penggunaan foto
fluoroskopik dapat mengatasi kesulitan dari insisi ini. Alternatif lain dapat dilakukan insisi
pada bifurkasi poplitea untuk trombektomi total.
Pada beberapa kasus yang rumit dimana kateter embolektomi tidak dapat melewati oklusi
ALI ini. Pada kasus tersebut, angiografi ekspedisi dapat digunakan untuk menentukan
luasnya oklusi untuk lebih lanjut menentukan apakah akan dilakukan trombolisis atau
pembedahan. Bila ditemukan pembuluh darah distal yang bagus, dapat dilakukan bypass. Bila
tidak, dilakukan trombolisis.
Komplikasi yang sering terjadi pada revaskularisasi ALI adalah reperfusi dan sindrom
kompartemen. Cairan dari kapiler merembes ke ruang interstisial pada otot, yang
terperangkap pada jaringan fasia. Ketika tekanan dalam kompartemen melebihi tekanan
perfusi kapiler, aliran nutrisi berkurang dan iskemia mulai progresif. Sebagai akibatnya,
pasien yang dilakukan revaskularisasi selalu dipantau untuk sindrom kompartemen tersebut.
Kompartemen yang paling sering terkena adalah kompartemen anterior dari ekstremitas
bawah. Gejalanya dapat berupa kebas kebas diantara jari kaki pertama dan kedua oleh karena
kompresi saraf peroneal dalam. Tekanan kompartemen diukur dengan memasukan benang

arterial kedalam kompartemen dan rekam tekanan dalam kompartemen tersebut. Walaupun
kontroversial, tekanan lebih dari 20 mmHg adalah indikasi untuk dilakukan fasiotomi.
Tekanan ini dikurangi dengan dilakukan insisi pada medial dan lateral kaki. Pada insisi
medial, dilakukan pembukaan pada fasia kompartemen superfisial dan posterior dalam. Pada
insisi lateral, kompartemen anterior dan peroneal dibebaskan.
Hasil laboratorium menunjukkan terjadi rhabdomiolisis pada 20% kasus Ali. Mioglobin yang
dihasilkan pada jaringan otot yang rusak dibuang melalui tubulus pada ginjal dan
mengakibatkan nekrosis tubular akut. Alkalinisasi urin meningkatkan solubilitas mioglobin
dan mencegah terjadi kristal dalam tubulus. Selain alkalinisasi urin, tatalaksana dapat berupa
diuresis salin dan membuang sumber jaringan otot yang menghasilkan mioglobin dapat
dilakukan.

SCHAWTZ