Vous êtes sur la page 1sur 28

BAGIAN RADIOLOGI

LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN

MEI 2016

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

Efusi Pleura Dextra + Tuberkuloma

DISUSUN OLEH:
Retika Pascawijayanti Hutabarat
111 2015 0075

PEMBIMBING:
dr. Shofiyah Latief , Sp.Rad, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :
Nama

: Retika Pascawijayanti Hutabarat

NIM

: 111 2015 0075

Judul Laporan Kasus : Efusi Pleura Dextra + Tuberkuloma


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian
Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.
Makassar, Mei 2016
Mengetahui,
Pembimbing,

dr. Shofiyah Latief, Sp. Rad, M.Kes

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa atas
segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga laporan kasus ini dapat diselesaikan
dengan baik. Laporan kasus ini dibuat dalam rangka tugas Kepaniteraan Klinik
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Laporan
Kasus ini berjudul EFUSI PLEURA DEXTRA DISERTAI TUBERKULOMA.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dr. Shofiyah Latief, Sp.Rad,
M.Kes sebagai pembimbing dan semua pihak yang telah ikut memberikan
dukungan dan bantuan sehingga laporan kasus ini dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusun menyadari laporan kasus ini jauh dari sempurna, oleh karena itu
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sehingga akan tercipta laporan kasus yang lebih baik lagi.

Makassar, Mei 2016


Penyusun,

BAB I
PENDAHULUAN
Efusi pleura adalah manifestasi paling umum dari gangguan pleura. Pada anak
anak efusi pleura biasanya sekunder untuk gangguan yang mendasarinya.
Dinegara berkembang, efusi pleura paling sering sebagai komplikasi dari
pneumonia bakteri. 1
Efusi pleura adalah penumpukan cairan yang abnormal di lapisan pleura sebagai
hasil dari pembentukan cairan yang berlebihan atau penurunan fungsi absorbsi
atau keduanya. Penumpukan cairan ini dapat menyebabkan gangguan dalam
pernapasan yang diakibatkan oleh keterbatasan dalam pengembangan paru. 2
Normalnya, rongga pleura mengandung 10 mL cairan, mewakii keseimbangan
antara (1) tekanan onkotik dan hidrostatik di pleura visceral dan parietal dan (2)
kemampuan drainase organ limfatik. Efusi pleura merupakan hasil dari gangguan
ketidakseimbangan. 2
Secara umum, efusi pleura diklasifikasikan terdiri dari transudate atau exsudate,
berdasarkan dari pembentukan cairan dan susunan kimia cairan pleura. Cairan
transudate merupakan hasil dari ketidakseimbangan dari tekanan onkotik dan
hidrostatik, sedangkan exsudat adalah hasil dari proses inflamasi di pleura atau
penurunan drainase organ limfatik. Pada beberapa kasus, cairan pleura dapat
kombinasi dari cairan transudate maupun eksudat.2
Langkah pertama dalam evaluasi pasien dengan efusi pleura adalah untuk
menentukan apakah efusi bersifat transudate atau eksudat. Efusi eksudatif
didiagnosis jika pasien memenuhi kriteria Light. Jika pasien memiliki efusi
transudatif, terapi harus diarahkan pada gagal jantung yang mendasari atau sirosis.
Jika pasien memiliki efusi eksudatif, upaya yang harus dilakukan untuk
menentukan etiologi. Pneumonia, cancer, TBC dan emboli paru untuk sebagian
penyebab dari efusi eksudatif. Banyak tes cairan pleura berguna dalam diagnosis
diferensial efusi eksudatif. Tes lain yang membantu untuk diagnosis termasuk CT
Scan dan thoracoskopi. 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI PARU PARU
2.1.1 Anatomi Paru Paru
Paru Paru merupakan salah satu organ vital yang memiliki fungsi
utamasebagaialatrespirasidalamtubuhmanusia,parusecaraspesifik
memilikiperanuntukterjadinyapertukaranoksigen(O2)dengankarbon
dioksida(CO2).Pertukaraniniterjadipadaalveolusalveolusdiparu
melaluisistemkapiler.Paruterdiriatas3lobuspadaparusebelahkanan,
dan2lobuspadaparusebelahkiri.Padaparukananlobuslobusnya
antara lain yakni lobus superior, lobus medius dan lobus inferior.
Sementarapadaparukirihanyaterdapatlobussuperiordanlobusinferior.
Namunpadaparukiriterdapatsatubagiandilobussuperiorparukiri
yang analog dengan lobus medius paru kanan, yakni disebut sebagai
lingulapulmonis.Diantaralobuslobusparukananterdapatduafissura,
yaknifissurahorizontalisdanfissuraobliqua,sementaradiantaralobus
superiordanlobusinferiorparukiriterdapatfissuraobliqua.Parusendiri
memilikikemampuanrecoil,yaknikemampuanuntukmengembangdan
mengempisdengansendirinya.Elastisitasparuuntukmengembangdan
mengempisinidisebabkankarenaadanyasurfactanyangdihasilkanoleh
selalveolartipe2.Namunselainitumengembangdanmengempisnya
paru juga sangat dibantu oleh otot otot dinding thoraks dan otot
pernafasanlainnya,sertatekanannegatifyangteradapatdidalamcavum
pleura.4
CavumThoraks. Paruterletakpadasebuahruanganditubuhmanusia
yangdikenalsebagaicavumthoraks.Karenaparumemilikifungsiyang
sangatvitaldanpenting,makacavumthoraksinimemilikidindingyang
kuatuntukmelindungiparu,terutamadaritraumafisik.Cavumthoraks
memilikidindingyangkuatyangtersusunatas12pasangcostabeserta

cartilagocostalisnya,12tulangvertebrathoracalis,sternum,danotot
otot rongga dada. Otot otot yang menempel di luar cavum thoraks
berfungsi untuk membantu respirasi dan alat gerak untuk extremitas
superior. 4

Gambar1.AnatomiParuParu
Pleura. Selainmendapatkanperlindungandaridindingcavumthoraks,
parujugadibungkusolehsebuahjaringanyangmerupakansisabangunan
embriologi dari coelom extraembryonal yakni pleura. Pleura sendiri
dibagimenjadi3yaknipleuraparietal,pleuravisceraldanpleurabagian
penghubung.Pleuravisceraladalahpleurayangmenempeleratdengan
substansiparuitusendiri.Sementarapleuraparietaladalahlapisanpleura
yang paling luar dan tidak menempel langsung dengan paru. Pelura
bagianpenghubungyaknipleurayangmelapisiradikspulmonis,pleura
ini merupakan pelura yang menghubungkan pleura parietal dan pleura
visceral.Pleuraparietalmemilikibeberapabagianantaralainyaknipleura
diafragmatika, pelura mediastinalis, pleura sternocostalis dan cupula
pleura. Pleura diafragmatika yakni pleura parietal yang menghadap ke
diafragma. Pleura mediastinalis merupakan pleura yang menghadap ke

mediastinumthoraks,pleurasternocostalisadalahpleurayangberhadapan
dengancostadansternum.Sementaracupulapleuraadalahpleurayang
melewatiaperturathoracissuperior.Padaprosesfisiologisalirancairan
pleura,pleuraparietalakanmenyerapcairanpleuramelaluistomatadan
akandialirkankedalamaliranlimfepleura.Diantarapleuraparietaldan
pleura visceral, terdapat celah ruangan yang disebut cavum pleura.
Ruanganinimemilikiperanyangsangatpentingpadaprosesrespirasi
yakni mengembang dan mengempisnya paru, dikarenakan pada cavum
pleuramemilikitekanannegatifyangakantarikmenarik,dimanaketika
diafragmadandindingdadamengembangmakaparuakanikuttertarik
mengembangbegitujugasebaliknya.Normalnyaruanganinihanyaberisi
sedikitcairanserousuntukmelumasidindingdalampleura. 4
2.2.1 Fisiologi Paru Paru
Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam keadaan
normal terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan dinding dada
sehingga paru-paru dengan mudah bergeser pada dinding dada. Tekanan
pada ruangan antara paru-paru dan dinding dada berada di bawah tekanan
atmosfer .5
Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah dan
atmosfer. Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan oksigen
bagi jaringan dan mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen dan
karbon dioksida terus berubah sesuai dengan tingkat aktivitas dan
metabolisme seseorang, tapi pernafasan harus tetap dapat memelihara
kandungan oksigen dan karbon dioksida tersebut . 5
Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit
(bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah paru-paru utama
(trachea). Pipa tersebut berakhir di gelembung-gelembung paru-paru
(alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir dimana oksigen dan
karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada
lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis.
Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia

surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk


mengempis . 5
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pernafasan dapat dibagi menjadi
empat mekanisme dasar, yaitu:
1. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli
dan atmosfer
2. Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah
3. Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan
tubuh ke dan dari sel
4. Pengaturan ventilasi 5
Pada waktu menarik nafas dalam, maka otot berkontraksi, tetapi
pengeluaran pernafasan dalam proses yang pasif. Ketika diafragma
menutup dalam, penarikan nafas melalui isi rongga dada kembali
memperbesar paru-paru dan dinding badan bergerak hingga diafragma
dan tulang dada menutup ke posisi semula. Aktivitas bernafas merupakan
dasar yang meliputi gerak tulang rusuk sewaktu bernafas dalam dan
volume udara bertambah. 5
Inspirasi merupakan proses aktif kontraksi otot-otot. Inspirasi menaikkan
volume intratoraks. Selama bernafas tenang, tekanan intrapleura kira-kira
2,5 mmHg relatif lebih tinggi terhadap atmosfer. Pada permulaan,
inspirasi menurun sampai -6mmHg dan paru-paru ditarik ke posisi yang
lebih mengembang dan tertanam dalam jalan udara sehingga menjadi
sedikit negatif dan udara mengalir ke dalam paru-paru. Pada akhir
inspirasi, recoil menarik dada kembali ke posisi ekspirasi dimana tekanan
recoil paru-paru dan dinding dada seimbang. Tekanan dalam jalan
pernafasan seimbang menjadi sedikit positif sehingga udara mengalir ke
luar dari paru-paru. 5
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat
elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis
eksternus relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke
atas ke dalam rongga toraks, menyebabkan volume toraks berkurang.
Pengurangan volume toraks inimeningkatkan tekanan intrapleura
maupun tekanan intrapulmonal. Selisih tekanan antara saluran udara dan

atmosfir menjadi terbalik, sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru


sampai udara dan tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir
ekspirasi. 6
Proses setelah ventilasi adalah difusi yaitu, perpindahan oksigen dari
alveol ke dalam pembuluh darah dan berlaku sebaliknya untuk
karbondioksida. Difusi dapat terjadi dari daerah yang bertekanan tinggi
ke tekanan rendah. Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada difusi
gas dalam paru yaitu, faktor membran, faktor darah dan faktor sirkulasi.
Selanjutnya adalah proses transportasi, yaitu perpindahan gas dari paru
ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan aliran darah. 5
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi paru adalah
1. Usia. Kekuatan otot maksimal pada usia 20-40 tahun dan dapat
berkurang sebanyak 20% setelah usia 40 tahun. Selama proses penuan
terjadi penurunan elastisitas alveoli, penebalan kelenjar bronkial,
penurunan kapasitas paru.
2. Jenis kelamin. Fungsi ventilasi pada laki-laki lebih tinggi 20-25% dari
pada wanita, karena ukuran anatomi paru laki-laki lebih besar
dibandingkan wanita. Selain itu, aktivitas laki-laki lebih tinggi sehingga
recoil dan compliance paru sudah terlatih.
3. Tinggi badan dan berat badan. Seorang yang memiliki tubuh tinggi dan
besar, fungsi ventilasi parunya lebih tinggi daripada orang yang bertubuh
kecil pendek. 5
3.1 Pemeriksaan Foto Thorax
Pemeriksaan radiologic toraks merupakan pemeriksaan yang sangat penting.
Kemajuan yang pesat selama dasawarsa terakhir dalam teknik pemeriksaan
radiologic toraks dan pengetahuan untuk menilai suatu roentgensogram toraks
menyebabkan pemeriksaan toraks dengan sinar Roentgen ini suatu keharusan
rutin. Pemeriksaan paru tanpa pemeriksaan Roentgen saat ini dianggap tidak
lengkap. Suatu penyakit paru belum dapat disingkirkan dengan pasti sebelum
dilakukan pemeriksaan radiologic. Selain itu, berbagai kelainan dini dalam

paru juga sudah dapat dilihat dengan jelas pada foto Roentgen sebelum timbul
gejala-gejala klinis. 7
Roentgenografi. Adalah pembuatan foto Roentgen toraks, yang biasanya
dibuat dengan arah postero-anterior (PA) dan lateral bila perlu. Agar distorsi
dan magnifikasi yang diperoleh menjadi sekecil mungkin, maka jarak antara
tabung dan film harus 1,8 meter dan foto dibuat sewaktu penderita sedang
inspirasi dalam. Tekanan listrik yang dipergunakan biasanya 60 90 KV;
semakin tinggi semakin baik, karena ini mengurangi kontras antara hitam dan
putih. Pemakaian tekanan tinggi akan menambah daya tembus sinar, sehingga
bagian bagian mediastinal dan retrokardial dapat pula dilihat. Bagian ini
tidak mungkin terlihat bila tekanan listrik terlalu rendah. 7
Kadang kadang perlu dibuat foto dalam posisi berbaring untuk meneliti
lebih lanjut letak dan sifat cairan yang terkumpul dalam kavitas, rongga
pleura, atau sela pleura interlobaris. 7
Pembuatan foto juga penting untuk dokumentasi dan pemeriksaan berkala
untuk meneliti perkembangan penyakit apakah mengalami perbaikan atau
perburukan. 7
Indikasi foto toraks
o Penyakit respirsi
o Penyakit jantung
o Haemoptisis (batuk darah)
o Suspek emboli paru
o Suspek tuberculosis
o Pneumonia
o Pneumothorax
o Suspek metastasis
o Mengetahui perkembangan dari suatu penyakit
o Sesak nafas yang kronik
o Evaluasi dari gejala yang berkaitan dengan system kardiovaskular dan
gastrointestinal
o Mengetahui proses dari penyakit paru paru
o Memantau pasien di ICU
o Pasca pembedahan 8
Pemeriksaan foto thorax tidak memiliki persiapan khusus. Pasien hanya akan
diminta untuk melepas pakaian anda dan hanya mengenakan jubah selama
pemeriksaan. Pasien juga diminta untuk melepaskan perhiasan, kacamata dan
benda metal lainnya atau pakaian yang dapat mengganggu hasil foto thorax.

Pada pasien wanita, sebaiknya menginformasikan kepada dokter jika ada


kemungkinan pasien hamil. Kebanyakan pemeriksaan radiologi tidak
dilakukan jika dalam kondisi hamil untuk menghindari radiasi bagi foetus.
Jika x ray sangat dibutuhkan, persiapan dibutuhkan untuk meminimalisir
radiasi kepada bayi. 9
4.1 Efusi Pleura
Efusi pleura adalah keadaan patologis dimana terdapat kumpulan cairan pada
ruang pleura (lapisan parietal dan visceral), biasanya berisi cairan serosa,
namun juga dapat mengandung bahan lainnya. Normalnya, terdapat 10 15
mL cairan yang berfungsi sebagai cairan lubrikasi antara lapisan parietal dan
visceral. Efusi pleura dapat mencapai beberapa liter yang dapat menyebabkan
kompresi pada paru paru, pergeseran mediastinum dan penekanan pad
hemidiafragma. 10,11
Efusi pleura diklasifikasikan berdasarkan komposisi cairan terbagi atas :
o Transudate : cairan jernih dengan pH kurang dari 1.016 dan mengandung
protein kurang dari 3 g/dL. Test pandy negative. Gagal jantung kiri
adalah penyebab tersering dari cairan transudate. Asites pada sirosis
hepatis, nefrotik syndrome, dan myxedema juga dapat menjadi penyebab
dari efusi transudate. 10
o Exudate : cairan berwarna keruh yang mengandung lebih dari 3 g/dL
dengan berat jenis > 1.016 dengan pandy test positive. Pemeriksaan
mikroskopik dari elemen selular seperti granulosit, limfosit, eritrosit, dan
sel malignant dapat mempersempit differential diagnosis. Efusi yang
disebabkan oleh pneumoni adalah yang paling sering terjadi dan biasanya
merupakan penyakit sekunder dari infeksi paru paru. Cairan eksudat
akibat penyakit tuberculosis dibedakan oleh jumlah limfosit yang tinggi,
sedangkan efusi plura yang disebabkan oleh keganasan juga biasanya
adalah exudate hanya saja sel malignant tidak selalu terdeteksi pada
pemeriksaan sitologik.10
Penyebab tersering efusi pleura dengan abnormal-looking pada foto thoraks
antara lain :
1. Infeksi pada pleura (tuberculosis) dan abdomen (pankreatitis)
2. Carcinoma extratoraks, kecuali metastasis atau nodul mediastinum.

3. Penyakit kolagen (Rheumatoid artritis)


4. Sirosis hepatis dengan asites
5. Trauma dada tertutup atau post operasi abdomen. 12

Gambar 1. Efusi pleura sinistra


yang sebabkan oleh keganasan

Gambar 2. Efusi pleura dengan


kolaps paru dextra

Efusi pleura biasanya bersifat asimptomatik tetapi dapat menyebabkan nyeri


pleuritik dan terangkatnya hemidiafragma serta penurunan pernafasan. Efusi
yang banyak dapat menyebabkan sesak nafas. Pada auskultasi, suara
pernafasan biasanya menghilang.
Cairan pleura, pada posisi tegak, mengalami gravitasi pada bagian bawah
toraks yang memberikan gambaran sinar X dada sebagai berikut :
Lesi opak homogen, umumnya dengan densitas yang sama dengan

bayangan jantung;
Hilangnya garis diafragma
Tidak terlihat gambaran paru atau bronkus;
Batas atas cekung dengan lever tertinggi pada axilla.

Seiring bertambah banyaknya cairan, terjadi pengurangan volume paru dan


terjadi retraksi ke arah hilus. Pada awalnya cairan berkumpul dibagian
posterior, kemudian ke sinus costofrenicus dibagian lateral. Ketika cairan
terdeteksi pada foto thorax, yang ditandai oleh penumpulan sinus
costofrenicus, efusi pleura telah mencapai 200 300 mL. Jika efusi

bertambah luas, akan terjadi pergeseran mediastinum kearah yang


berlawanan. 11

Gambar 3. Foto thorax dan CT Scan yang menunjukkan efusi pleura dextra
(panah merah)

Gambar 4. Efusi Pleura Dextra

Gambar 5. Foto Thoraks posisi

Subpulmonic

Lateral memperlihatkan Efusi


Pleura Dextra Subpulmonic

Gambar 6. Efusi Pleura Dextra


Masif

Gambar 7. Posisi Lateral Efusi


Pleura Dextra Masif

gambar 8. Efusi Pleura Dextra Masif


Pemeriksaan USG pada efusi pleura memungkinkan untuk mendeteksi cairan
pleura dalam jumlah yang kecil yaitu 3 hingga 5 ml, yang pada pemeriksaan
x ray tidak dapat diidentifikasi. X ray hanya dapat mendeteksi ketika
cairan mencapai kurag lebih 50 mL. Kebalikan dari x ray, USG dapat
dengan mudah memberikan perbedaan dari cairan pleura apakah eksudat atau

transudate dan ini menjadi efisisen untuk penentuan titik ketika dilakukan
torakosintesis, meski jumlah cairan hanya sedikit. 13
Gambaran USG pada efusi pleura yaitu adanya echo free diantara pleura
visceral dan parietal. Sekat pada cairan pleura dapat mengindiksikan adanya
tuberculosis. 13

Gambar 9. Cardiomegali disertai efusi pleura bilateral

Gambar 10. Efusi Pleura Dextra

Gambar 11. Efusi Pleura


Sinistra

Gambar 12. Efusi Pleura Masif

Gambar 13. Efusi Pleura Transudative memberikan gambaran anechoic pada


pemeriksaan USG.

Gambar 14. Efusi pleura minimal


Pemeriksaan CT scan sangat bagus dalam mendeteksi cairan dalam jumlah
kecil dan juga terkadang dapat mengidentifikasi penyebab intratorakal
(seperti keganasan pada pleura atau tumor paru paru) dan penyakit pada
subdiafragma (seperti abses subdiafragmatik). Sebagai tambahan, CT Scan
juga dapat membantu membedakan antara efusi pleura dan empyema.13

Gambar 15. Efusi pleura kanan yang disebabkan oleh keganasan dengan
peningkatan penebalan pleura (a) dan pergeseran organ mediastinum (b)

Gambar 16. (E)

Efusi

Pleura Tipikal

pada

penderita non
Limfoma
Hodgkin

Gambar 18. Efusi pleura loculated


Gambar 17. (E) Efusi Pleura pada

pada paru sinistra (Di tunjukkan oleh

Malignancy

Panah Pink)

Gambar 19. (E) Efusi pleura

. Gambar 20. Efusi Pleura Dextra

loculated pada paru sinistra

(ditandai dengan warna kuning)

5.1 Tuberkuloma
6.1
Tuberkulosissampaisaatinimasihmenjadimasalahkesehatanlebihdari2
dekade.PasienTBParudengansputumnegativedanTBEkstraparumasih
sulituntukdidiagnosisdanmasihseringtidakterdiagnosispadabeberapatitik
pelayanankesehatan.EfekglobaldariTBsangatlahpentingmengingatbahwa
sekitar9jutaorangyangterkenaTBpada2013,1,5jutalainnyameninggal
akibat dari penyakit ini, menurut laporan dari WHO pada tahun 2014.
MeskipunseluruhorgandalamtubuhdapatterkenaolehkumanTB,paruparu
masihmenjadiorganterseringyangterkena.14
7.1
Secaraklasik,PulmonaryTB(PTB)dapatdibagimenjadiprimerdanpost
primer, yang masingmasing memiliki karateristik pada pemeriksaan
radiologis. Walaupun dalam prakteknya, sangat susah untuk membedakan
gambaran radiologis antara keduanya dan adanya tumpang tindih dalam
manifestasiradiologinya.TB Primer merupakan infeksi pertama kali
oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada pemeriksaan radiogi, TB Paru
primer memberikan empat gambaran utama, yaitu penyakit parenkim,
lifadenopati, efusi pleura dan TB milier atau kombinasi dari semua. TB Post
Primer merupakan salah satu dari banyak ( termasuk reaktivasi , sekunder ,
atau dewasa ) pada bentuk TB yang berkembang di bawah pengaruh
kekebalan tubuh. Gambaran radiologi yang paling banyak dari TB Post
Primer adalah konsolidasi heterogen yang melibatkan segmen apical dan

posterior pada lobus atas dan segmen superior dari lobus bawah. Pada
kebanyakan kasus, lebih dari satu lobus yang terlibat. Meskipun tuberculoma
pada paru merupakan hasil dari TB Paru yang dinyatakan sembuh,
tuberculoma juga dapat terjadi pada sekitar 5% pasien dengan TB reaktif
(relaps). 14
8.1
Tuberkuloma adalah satu dari kebanyakan tumor jinak dan mewakili 5
24% nodul pulmo soliter. Ukuran dari tuberculoma memiliki variasi dari
diameter 1 cm hingga 10 cm. tuberculoma biasanya ditemukan merupakan
nodul single, meskipun nodul multiple tidak jarang ditemukan. Biasanya
termasuk cavitas atau kalsifikasi, and biasanya berbatas tegas dan halus.
Tuberkuloma biasanya ditemukan di lobus atas. 15
9.1
Diagnosis tuberculoma masih menjadi tantangan, bukan hanya karena
membutuhkan

prosedur

invasive

seperti

aspirasi

perkutaneus

atau

thoracotomy terbuka, tapi dapat juga disertai oleh keganasan pada kasus yang
jarang. 15
10.1
Pada pemeriksaan radiologi, Tuberkuloma dapat berupa single nodul atau
multiple, dengan diameter mulai dari 1 cm hingga 5 cm atau lebih dan dapat
muncul di berbagai bagian di paru paru dengan densitas yang bervariabel,
terkadang didapatkan nodul yang terbungkus. 16
11.1
Bayangan satellite, kalsifikasi dan kavitas pada pemeriksaan radiologic
merupakan hal yang penting untuk diagnosis dan prognosis. Pemeriksaan
tomografi terkadang dibutuhkan untuk memastikan ada atau tidak bayangan
satellite, kalsifikasi dan kavitas dengan tepat. Bayangan satelit dihubungkan
dekat dengan lesi atau infiltrate dimanapun di paru sangat mengarah kepada
tuberculosis. 16

13.1

12.1
Gambar 21. Tampak nodul soliter pada lobus paru sinistra
14.1
15.1

Gambar 22. (a) Pada foto thorax memperlihatkan nodul soliter


pada paru (b) Pada CT Scan dengan pasien yang sama
memperlihatkan massa di lobus kanan bawah posterior
16.1

17.1

18.1

19.1

Gambar 23. Tampak

20.1

Gambar 24. Tampak

nodul soliter di lobus sinistra

dua nodul soliter di lobus paru

bagian bawah.

sinistra bagian atas.


21.1
24.1

22.1
23.1

Gambar 25. CT Scan


potongan transversal

memperlihatkan nodul soliter


pada paru sinistra lobus atas.

25.1

Gambar 26. CT Scan

nodul oval dengan kalsifikasi

dengan kontras potongan

pada lobus paru sinistra bagian

transversal memperlihatkan

bawah.

26.1
27.1

28.1

Gambar 27. CT- Scan

29.1

30.1

Gambar 28. FDG PET

potongan transversal

potongan transversal

memperlihatkan nodul soliter

memperlihatkan nodul (panah

(panah terbuka) dan nodul

pendek) dan nodul pada hilus

berbatas tegas yang dicurigai

(panah panjang)

tumor paru (panah tertutup)

31.1
32.1
33.1
34.1
35.1
36.1
37.1
38.1
39.1
40.1
41.1
42.1
43.1
44.1
45.1
46.1
47.1
48.1
49.1

BAB III

50.1
51.1

LAPORAN KASUS
52.1

53.1

Identitas Pasien

54.1 Nama
55.1 Umur

: Ny. S
: 61 tahun

56.1 Alamat

: Tombo - Tombolo

57.1 Anamnesis
58.1 KU

: Nyeri ulu hati

59.1 AT

: Pasien mengeluh nyeri ulu hati yang dirasakan sejak 2 hari


sebelum masuk rumah sakit, mual (+), muntah (-), batuk sekali kali.
Saat ini pasien sedang pengobatan TB kategori 1 bulan ke 3. Riwayat

DM (+) dengan penggunaan insulin.


60.1 Pemeriksaan fisik
61.1 TD

: 140/80 mmHg

P: 26x/menit

62.1 N

: 116x/menit

S: 37,5oC

63.1
64.1
65.1
66.1
67.1
68.1
69.1
70.1
71.1
72.1
73.1
74.1
75.1
76.1
77.1

Interpretasi Kasus

78.1
79.1
80.1

Hasil Pemeriksaan :
Tampak konsolidasi homogen pada baal paru kanan yang menutupi sinus
dan diafragma kanan setinggi ICS V anterior kanan. Tampak pula cavitas

ada dinding tebal dengan fluid level didalamnya pada parakardial kanan.
Cor : tidak dapat dinilai
Sinus dan diafragma kiri baik.

81.1
82.1

Kesan :

Efusi Pleura Dextra


Tuberkuloma dd/ tumor paru dextra
83.1
84.1
85.1
86.1
87.1
88.1
89.1

Daftar Pustaka

1. Mocelin HT, et al. 2002. Epidemiology, presentation, treatment of pleural


effusion.

Pediatric

Respiratory

Review,

(4).

Available

on

http://www.prrjournal.com/article/S1526-0542%2802%2900269-5/pdf
(Access on 18 Mei 2016)
2. Jeffrey Rubins, Ryland PB. Pleural Effusion. In Medscape [Online]. Available
on : http://emedicine.medscape.com/article/299959-overview#a8 [Access On
18 Mei 2016]
3. Porcel JM, et al. 2006. Diagnostic approach to pleural effusion in adults.
American

Family

Psycian,

73(7).

Available

On

http://www.aafp.org/afp/2006/0401/p1211.html [ Access on 18 Mei 2016 ]


4. Anderson, Paul D. 2008. Anatomi & Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta : EGC.
5. Guyton, A.C.,Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi
11.Jakarta: EGC
6. Sylvia Price. 2005. Edisi 6 Vol 1 Patofisiologi: KonsepKlinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta: EGC
7. Ekayuda, Iwan. RadiologiDiagnostik. EdisiKedua. 2011. FK UI. Jakarta.
8. Jones J, et al. Chest Radiography. In Radiopaedia [Online]. Available on
http://radiopaedia.org/articles/chest-radiograph [ Access On 19 Mei 2016 ]
9. Anonim. X-ray (Radiography) Chest. In Radiologyinfo for Patients [ Online
]. Available on : http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?pg=chestrad
[ Access on 19 Mei 2016 ]
10. Lange S, Walsh G. 2005. Radiology of chest disease. Edisi Ke 3. New
York : Thieme
11. Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes Radiologi. Jakarta : Erlangga.
12. Burgener, Francis A. 2008. Differential Diagnosis in Conventional Radiology.
Third Edition. New York : Thieme
13. Weerakkody Y, Jones J, et al. Pleural effusion. In Radiopaedia [Online].
Available on http://radiopaedia.org/articles/pleural-effusion [ Access On 19
Mei 2016 ]

14. Skoura E , Zumla A, Bomanji J. 2015. Imaging in Tuberculosis.


InternationalJournalofInfectiousDiseases,32:8793
15. Lee HS, Oh J.Y, Lee JH, Yoo CG, Lee CT, Kim YW, Han SK, Shin YS, Yim
JJ. 2004. Response of pulmonary tuberculomas to anti-tuberculous treatment.
European Respiratory Journal. 23: 452455

16. Moyes EN. 1951. Tuberculoma of the Lung. Thorax, 6: 238. Available on :
http://thorax.bmj.com [ Access on 20 Mei 2016 ]
90.1
91.1