Vous êtes sur la page 1sur 17

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id
5

37% nyeri sedang, dan 12% nyeri berat (Omidvar dan Begum, 2012).
Prevalensi dismenore di Malaysia sebesar 62,3% dengan derajat nyeri
yang berbeda-beda (Liliawati dkk, 2007) sedangkan di Thailand
prevalensi dismenore pada remaja putri sebesar 84,2% dengan keluhan
yang berbeda-beda (Tangchai et al., 2004).
Pada tahun 2005 prevalensi dismenore di Jepang sebesar 46 %, dan
27,3 % di antaranya tidak dapat melakukan aktivitas di sekolah dan di
tempat kerja (Osuga et al., 2005). Prevalensi dismenore di Turki pada
tahun 2012 sebesar 67,7% dengan 41,9% mengalami dismenore ringan,
20,3% dismenore sedang, dan 5,5% dismenore berat (Oral et al., 2012).
Sementara prevalensi dismenore di Indonesia pada

tahun

2008

sebesar 64,25% yang terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36%
dismenore sekunder (Hapsari dan Anasari, 2013). Penelitian pada
remaja putri di Jakarta Timur oleh Sianipar dkk (2009) menunjukkan
31,6% mengalami dismenore, sedangkan penelitian di Manado oleh
Lestari (2010) pada tahun 2010 menunjukkan 98,5% mengalami
dismenore dengan keluhan yang berbeda-beda.
Umumnya dismenore terjadi pada 40-70% wanita pada masa
reproduksi dan 70-90% di antaranya terjadi pada usia remaja sehingga
dapat mengganggu aktivitas belajar. Tidak hanya itu dismenore juga
dapat menyebabkan remaja putri tidak masuk sekolah dan mengganggu
motivasi belajar (Saguni dkk, 2013).
commit to user
5

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
6

c. Klasifikasi Dismenore
Manuaba dkk (2010) membagi dismenore berdasarkan ada tidaknya
kelainan pada organ reproduksi wanita menjadi dismenore primer dan
dismenore sekunder.
1) Dismenore primer
Dismenore primer adalah nyeri saat menstruasi yang terjadi
karena kadar prostaglandin uterus yang meningkat (Schwartz,
2005). Umumnya dismenore primer terjadi pada tahun-tahun
pertama menstruasi dengan nyeri yang timbul murni karena
peningkatan kadar prostaglandin dan proses kontraksi rahim tanpa
disertai penyakit dasar (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012).
Nyeri terjadi beberapa waktu atau 6-12 bulan sejak menstruasi
pertama (menarche) yang timbul sebelum menstruasi, atau di awal
menstruasi, dan berlangsung beberapa jam sampai beberapa saat
kemudian (Proverawati dan Misaroh, 2009). Terkadang nyeri pada
dismenore primer dapat disertai dengan gejala sistemik berupa
mual, muntah, sakit kepala, dan kembung (Harel, 2012).
2) Dismenore sekunder
Dismenore sekunder adalah nyeri pada menstruasi yang terjadi
karena keadaan patologis organ reproduksi wanita (Schwartz,
2005). Berbeda dengan dismenore primer, dismenore sekunder
jarang terjadi pada tahun-tahun pertama menstruasi dan lebih sering
terjadi pada usia 20-30 tahun (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
7

Keluhan yang dirasakan pada dismenore sekunder tidak berbeda


dengan dismenore primer namun tidak berkurang pada hari-hari
menstruasi selanjutnya karena disertai dengan penyakit yang
mendasari kejadian dismenore sekunder (Proverawati dan Misaroh,
2009).
d. Patofisiologi Dismenore
Patofisiologi dismenore terutama dismenore primer berhubungan
dengan peningkatan kadar prostaglandin dan leukotrien (Harel, 2006).
Menurut Anisa (2015), peningkatan kadar tersebut diawali dengan
sintesis fosfolipid membran sel sebagai respon terhadap penurunan
progesteron saat fase menstruasi. Selain itu, setelah ovulasi terjadi
pelepasan asam arakidonat dan asam lemak Omega-6 dalam tubuh yang
menyebabkan dimulainya kaskade prostaglandin dan leukotrien dalam
uterus (Harel, 2012).
Kaskade prostaglandin diperantarai oleh enzim siklooksigenase
menghasilkan PGE2 dan PGF2 (prostaglandin), PGI2 (prostasiklin),
serta TXA2

(Tromboksan A2), sedangkan

kaskade

leukotrien

diperantarai oleh enzim 5-lipooksigenase menghasilkan LTA4, LTB4,


LTC4, LTD4, dan LTE4 (Harel, 2006). PGE2 dan PGF2 menyebabkan
peningkatan kontraksi miometrium dan vasokontriksi pembuluh darah
sehingga timbul iskemik dan nyeri saat menstruasi, sedangkan
leukotrien menyebabkan timbulnya gejala sistemik pada dismenore
seperti mual, muntah, sakit kepala, dan kembung (Harel, 2012). Tidak
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
8

hanya itu leukotrien juga berperan dalam meningkatkan sensitivitas


serabut saraf nyeri di uterus saat menstruasi (Hillard, 2006).
Umumnya peningkatan prostaglandin dan leukotrien terjadi pada
dua hari pertama menstruasi sehingga rata-rata wanita mengalami
dismenore pada awal menstruasi dan akan menurun secara perlahan
setelah menstruasi selesai (Anisa, 2015).
e. Etiologi dan Faktor Risiko Dismenore
1) Etiologi dismenore
a) Dismenore primer
Penyebab

utama

terjadinya

dismenore

adalah

tidak

seimbangnya eikosanoid dari Omega-3 (bersifat antiinflamasi


dan vasodilator) dengan eikosanoid dari Omega-6 (bersifat
proinflamasi dan vasokonstriktor) (Saldeen dan Saldeen, 2004).
Eikosanoid

adalah

substansi

menyerupai

hormon

yang

dihasilkan sel di dalam tubuh, terdiri dari 3 tipe utama yaitu


prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien (Marks et al., 2012).
Eikosanoid dari Omega-3 (PGE3, PGI3, TXA3, dan LTB5)
berjumlah lebih sedikit di dalam sel daripada eikosanoid dari
Omega-6

(PGE2,

PGI2,

TXA2,

dan

LTB4)

sehingga

kemungkinan mengalami dismenore lebih tinggi daripada


sebaliknya (Saldeen dan Saldeen, 2004).

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
9

b) Dismenore sekunder
Penyebab dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan
pada organ reproduksi seperti: 1) endometriosis; 2) fibroid; 3)
adenomiosis; 4) salpingitis atau peradangan pada tuba fallopi; 5)
organ-organ dalam perut yang saling melekat secara abnormal;
6) pemakaian kontrasepsi IUD; dan 7) abnormalitas duktus pada
sistem reproduksi (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012).
2) Faktor risiko dismenore
Anisa

(2015)

menyebutkan

ada

beberapa

faktor

yang

berhubungan dengan kejadian dismenore, yaitu: a) usia <30 tahun;


b) indeks massa tubuh yang tinggi; c) sering merokok; d) usia
menarche <12 tahun; e) siklus menstruasi yang panjang; f) nulipara
atau belum pernah melahirkan; g) olahraga yang tidak adekuat; h)
status sosial ekonomi yang rendah; i) stress; j) diet yang tidak
sesuai; dan k) konsumsi ikan dalam jumlah sedikit.
f. Penatalaksanaan Dismenore
Penanganan

kejadian

dismenore

dibedakan

menjadi

terapi

farmakologis dan non farmakologis.


1) Terapi farmakologis
a) Obat analgetik atau obat penghilang rasa sakit seperti aspirin,
endomethacin, dan asam mefenamat (Nafiroh dan Indrawati,
2013).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
10

b) Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) yang dapat


menghambat

pengeluaran

hormon

prostaglandin

seperti

ibuprofen, naproksen, dan ketoprofen (Hillard, 2006).


2) Terapi non farmakologis
a) Terapi yang biasa diterapkan adalah olahraga ringan/senam
dismenore.
b) Dapat juga meringankan gejala dismenore dengan mengonsumsi
buah dan sayur, serta mengurangi kadar gula dan kafein
(Nafiroh dan Indrawati, 2013).
c) Konsumsi makanan kaya kalsium telur dan susu. Kalsium dapat
mengontrol

aktivitas

neuromuskular

dengan

menurunkan

eksitabilitas neuromuskular sehingga spasme dan kontraksi otot


pada uterus menurun (Razzak et al., 2010).
d) Konsumsi makanan kaya asam lemak Omega-3 seperti minyak
ikan, ikan salmon, paus, tuna, cod, patin, sarden, berbagai
seafood, daging, susu, roti, sayuran berdaun hijau, buah-buahan,
kacang-kacangan, serta minyak sayur (Panagan dkk, 2011; Ward
dan Singh, 2005; Mina et al., 2007; Gooder et al., 2007; Russo,
2009; Bere, 2007; Scales, 2013; Nettleton, 1995).
Selain penanganan di atas, ada beberapa cara untuk mengurangi
dismenore menurut Proverawati dan Misaroh (2009) yaitu:
1) Latihan aerobik, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang.
2) Kompres panas atau dingin pada daerah perut.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
11

3) Tidur yang cukup sebelum dan selama periode menstruasi.


4) Relaksasi yoga.

2. Remaja
a. Definisi
Menurut Kumalasari dan Andhyantoro (2012) remaja berasal dari
bahasa Latin adolescere yang berarti tumbuh ke arah kematangan.
Remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa
dengan adanya perubahan fisik, psikis, dan emosional (Saguni dkk,
2013).
b. Batasan Usia Remaja
Seseorang dikatakan telah memasuki masa remaja jika mengalami
perubahan fisik, psikis dan psikososial yang terjadi antara usia 12-21
tahun (Saguni dkk, 2013). Sedangkan menurut Kumalasari dan
Andhyantoro (2012) masa remaja terbagi menjadi tiga yaitu masa
remaja awal (usia 10-12 tahun), masa remaja pertengahan (usia 13-15
tahun), dan masa remaja akhir (usia 17-21 tahun).
c. Peran Penting dan Kebutuhan Remaja
Sebagai calon generasi penerus, remaja berperan dalam proses
pembangunan bangsa. Tidak hanya itu, remaja juga berperan dalam
mengemban dan melestarikan cita-cita perjuangan bangsa untuk
merubah bangsa menjadi lebih maju (Nafiroh dan Indrawati, 2013).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
12

Untuk mencapai peranan remaja tersebut, remaja butuh menuntut ilmu


setinggi langit baik melalui institusi sekolah ataupun institusi lainnya.
Proses menuntut ilmu bagi remaja sangatlah penting, khususnya
untuk remaja putri, mengingat sebagian besar dari remaja putri dapat
terganggu aktivitas belajarnya akibat gangguan menstruasi berupa
dismenore. Menurut Saguni, dkk (2013) remaja putri yang mengalami
dismenore akan terpengaruh aktivitas belajarnya karena sering tidak
hadir

dalam

kegiatan

sekolah,

sehingga

dapat

mengganggu

produktivitas dan memengaruhi prestasi belajar di sekolah yang


berakibat pada menurunnya kualitas hidupnya.
Selain kebutuhan remaja dalam bidang pendidikan, remaja juga
membutuhkan asupan makanan yang cukup untuk dapat tumbuh dan
berkembang menjadi dewasa. Remaja membutuhkan berbagai zat
seperti karbohidrat, protein, vitamin, kalsium, dan lemak (Rahayu dan
Sulisdiana, 2012). Lemak dibutuhkan oleh tubuh sebagai sumber energi
selain karbohidrat dan sumber asam lemak esensial yang tidak dapat
disintesis tubuh. Salah satu asam lemak esensial yang dibutuhkan tubuh
adalah asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid/PUFA)
Omega-3 (Sartika, 2008).

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
13

3. Asam Lemak Omega-3


a. Definisi
Asam lemak adalah rantai karbon yang memiliki gugus karboksil
(HO-C=O) di satu sisi dan gugus metil (CH3) di sisi yang lain dengan
di antara keduanya dihubungkan oleh rantai hidrokarbon (CH2) yang
panjangnya bervariasi dari 2 sampai 20 atau lebih (Nettleton, 1995).
Asam lemak dapat digolongkan berdasarkan panjang rantai karbonnya
menjadi rantai pendek (C2-C4), rantai sedang (C6-C12), dan rantai
panjang (C12-C24) (Sartika, 2008) atau dapat juga digolongkan
berdasarkan derajat kejenuhannya menjadi asam lemak jenuh
(saturated

fatty

acid),

asam

lemak

tidak

jenuh

tunggal

(monounsaturated fatty acid), dan asam lemak tidak jenuh jamak


(polyunsaturated fatty acid) (Tuminah, 2009). Salah satu jenis asam
lemak tak jenuh jamak adalah asam lemak Omega-3.
Asam lemak Omega-3 atau n-3 atau 3 adalah asam lemak tak
jenuh jamak yang terdiri dari 18 rantai karbon dengan 3 ikatan rangkap
(18:3) (asam linolenat/ALA), 20 atom karbon dengan 5 ikatan rangkap
(20:5) (asam eikosapentaenoat/EPA), dan 22 atom karbon dengan 6
ikatan rangkap (22:6) (asam dokosaheksaenoat/ DHA). Sedangkan
asam lemak Omega-6 atau n-6 atau 6 adalah asam lemak tak jenuh
jamak yang terdiri dari 18 rantai karbon dengan 2 ikatan rangkap (18:2)
(asam linoleat) dan 20 atom karbon dengan 4 ikatan rangkap (20:4)
(asam arakidonat) (Nettleton, 1995).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
14

b. Sumber Asam Lemak Omega-3


Asam lemak Omega-3 dapat ditemui di berbagai jenis makanan,
salah satunya terdapat dalam ikan terutama yang berasal dari perairan
dingin dan dalam seperti ikan salmon, paus, tuna, cod, patin, sarden,
lobster, kerang, udang, kepiting, dan tiram (Panagan dkk, 2011; Ward
dan Singh, 2005). Omega-3 juga terdapat pada: 1) kacang-kacangan
seperti kacang kedelai, kacang merah; 2) sayuran berdaun hijau seperti
sayur bayam, bunga kol, brokoli; 3) buah-buahan seperti blueberry,
strawberry, pisang, apel, jeruk, anggur, nanas, kiwi, melon, papaya,
mangga; 4) minyak sayur seperti minyak kedelai, minyak jagung
(Russo, 2009; Bere, 2007; Scales, 2013; Nettleton, 1995).
Mina et al. (2007) dan Gooder et al. (2007) mengatakan bahwa
cumi-cumi, gurita, kentang, daging juga mempunyai kandungan
Omega-3 di dalamnya. Tidak hanya itu, Scales (2013) juga
menambahkan ada beberapa makanan yang mengandung Omega-3 dan
membaginya berdasarkan kelompok makanan seperti kelompok daging,
telur, susu, roti, makanan ringan (mayonnaise, chips, dan popcorn), dan
makanan siap saji (burger dan pizza).
Makanan yang dikonsumsi dalam keadaan fresh atau masih segar
memiliki kandungan Omega-3 yang lebih banyak bila dibandingkan
dengan makanan yang diolah terlebih dahulu. Pengolahan makanan
dengan cara dimasak baik diasap, dipanggang, direbus, digoreng akan
mengurangi kandungan Omega-3 sampai 50% (Gooder et al., 2007).
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
15

Hal ini terjadi karena pada proses pengolahan, terutama pada suhu di
atas 120 , dapat merusak ikatan rangkap pada Omega-3 dan
menyebabkan terbentuknya senyawa baru dengan ikatan tunggal
(Sartika, 2008).
c. Faktor yang Memengaruhi Konsumsi Asam Lemak Omega-3
Pada usia 14-70 tahun dibutuhkan konsumsi yang adekuat dari
Omega-3 sebanyak 1,6 g/hari yang terdiri dari asam linolenat (1,4
g/hari) dan DHA/EPA (0,1-0,2 g/hari) (Ward dan Singh, 2005). Tabel
Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013 yang terlampir pada Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) No 75 Tahun
2013 tentang angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi Bangsa
Indonesia, menyebutkan jumlah konsumsi Omega-3 untuk perempuan
berusia 13-80 tahun adalah sebanyak 1,1 g/hari. Sedangkan menurut
French (2005) untuk mengurangi keluhan nyeri ketika menstruasi
diperlukan konsumsi Omega-3 sebanyak 2g/hari.
Namun tidak semua orang dapat mengonsumsi asam lemak Omega3 sesuai dengan jumlah adekuat yang dibutuhkan oleh tubuh.
Rahmawaty et al. (2013) menyebutkan ada beberapa faktor yang
memengaruhi konsumsi asam lemak Omega-3, yaitu: 1) harga; 2)
ketersediaan; 3) rasa; 4) aroma; 5) variasi makanan dan cara
pengolahannya; 6) anggota keluarga; 7) media massa; 8) promosi
kesehatan; 9) masyarakat; dan 10) alergi.
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
16

d. Fungsi Asam Lemak Omega-3


Dengan mengonsumsi Omega-3 sesuai dengan jumlah yang adekuat
akan menimbulkan dampak positif bagi kesehatan tubuh yaitu dapat
memodulasi faktor yang berperan dalam sindroma metabolik seperti
resistensi insulin, obesitas, dislipidemia, dan hipertensi. Tidak hanya
itu, Omega-3 juga dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler
serta mengurangi akibat dari depresi, postprandial satiety, dan penyakit
inflamasi (Garneau et al., 2012).
Saldeen dan Saldeen (2004) menyebutkan bahwa asam lemak
Omega-3 sangat bermanfaat dalam mencegah dan mengobati berbagai
penyakit, khususnya pada wanita. Kehamilan pada wanita yang infertil
mungkin dapat terjadi setelah mengonsumsi Omega-3. Selain itu
konsumsi asam lemak Omega-3 selama kehamilan dapat mengurangi
risiko bayi lahir prematur dan konsumsi selama menyusui dapat
meningkatkan perkembangan otak bayi. Saldeen dan Saldeen (2004)
juga mengatakan ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa
Omega-3 dapat mencegah preeklampsi selama kehamilan, depresi
setelah melahirkan, kanker payudara, masalah menopause dan
osteoporosis yang terjadi setelah menopause.
Khanaki et al. (2012) menyebutkan bahwa asam lemak Omega-3
juga dapat mensintesis prostaglandin E3 (PGE3) yang berkhasiat
mengurangi nyeri di daerah pelvis ketika dismenore. Hal ini disebabkan
karena prostaglandin yang dihasilkan asam lemak Omega-3 (PGE3)
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
17

mampu menekan gejala dismenore akibat prostaglandin yang


dihasilkan asam lemak Omega-6 (Saldeen dan Saldeen, 2004). Selain
itu Omega-3 juga berfungsi sebagai antiinflamasi serta dapat menekan
aktivitas interleukin 1-(IL-1), Tumor Necrosis Factor- (TNF-) dan
interleukin-6 (IL-6) (Simopoulos, 2006).
e. Rasio Asam Lemak Omega-6 dengan Omega-3
Rasio asam lemak Omega-6:Omega-3 adalah perbandingan kadar
asam lemak Omega-6 dengan Omega-3 yang terkandung di dalam
suatu makanan. Studi epidemiologi yang dilakukan Simopoulos (2006)
di Washington menunjukkan bahwa rata-rata rasio konsumsi makanan
yang mengandung Omega-6:Omega-3 sekitar 15:1 sampai 16,7:1,
dimana rasio Omega-6:Omega-3 yang baik adalah 1:1 sampai 4:1.
Konsumsi Omega-6 dalam jumlah banyak dapat menyebabkan
timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit kardiovaskuler, kanker,
osteoporosis, serta penyakit autoimun dan inflamasi (Russo, 2009).
Tidak hanya itu, konsumsi Omega-6 juga dapat berdampak pada nyeri
saat menstruasi, karena prostaglandin yang dihasilkan saat menstruasi
berasal dari asam lemak Omega-6 (Johnson dan Manson, 2012). Hal ini
dapat dicegah dengan mengurangi konsumsi makanan kaya Omega-6
dan meningkatkan konsumsi makanan kaya Omega-3, karena asam
lemak Omega-3 dapat berfungsi sebagai antiinflamasi serta dapat
menekan aktivitas interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor-
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
18

(TNF-) dan interleukin-6 (IL-6), yang tidak dapat dilakukan oleh


Omega-6 yang bersifat proinflamasi (Simopoulos, 2006).
Konsumsi makanan dengan rasio Omega-6:Omega-3 rendah, yaitu
1-2:1, biasanya dilakukan oleh sekelompok orang yang menyerupai
masa berburu-meramu (hunter-gatherer) pada zaman paleolitik,
sedangkan konsumsi makanan dengan rasio Omega-6:Omega-3 tinggi
dilakukan sekelompok orang dengan pola makanan menyerupai orang
barat (western diet) (Candela et al., 2011). Hal ini disebabkan karena
pada masa berburu-meramu lebih mudah mendapatkan makanan tinggi
serat daripada tinggi lemak.
Rasio Omega-6:Omega-3 tinggi dapat ditemukan pada kacangkacangan seperti kacang almond; minyak-minyakan seperti minyak
kelapa, minyak jagung, minyak bunga matahari, mentega, dan lemak
babi. Sedangkan makanan dengan rasio Omega-6:Omega-3 rendah
dapat ditemukan pada sayur-sayuran berdaun hijau seperti bayam, kol,
selada (Simopoulos, 2008) dan ikan laut seperti ikan salmon, tuna, cod
(Russo, 2009).
Selain itu hampir semua hewan dan tumbuhan yang diternak dan
ditanam sendiri memiliki rasio Omega-6:Omega-3 yang tinggi bila
dibandingkan dengan jenis hewan dan tumbuhan yang hidup secara
alami di alam. Sayuran berdaun hijau (bayam, kol, dan selada), telur,
dan ikan (terutama yang hidup bebas di laut, sungai, atau danau) dapat
memiliki kandungan Omega-3 tinggi jika dibiarkan hidup secara bebas
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
19

(Simopoulos, 2008). Hal ini membuktikan bahwa teknologi dan cara


pengolahan ikut berperan dalam menentukan rasio Omega-6:Omega-3
dalam makanan. Namun setelah dunia berevolusi, kini asam lemak
Omega-3 sudah dapat diperoleh dari makanan yang sering dikonsumsi
sehari-hari yaitu daging, telur, ikan, kacang-kacangan, (Simopoulos,
2006) dan buah-buahan seperti blueberry, pisang, apel, dan jeruk (Bere,
2007).

4. Hubungan Konsumsi Asam Lemak Omega-3 dengan Dismenore


Dismenore terjadi karena peningkatan kadar prostaglandin dan
leukotrien akibat tingginya jumlah konsumsi asam lemak Omega-6 dan
rendahnya konsumsi asam lemak Omega-3. Hal ini ditunjukkan oleh
Rahbar et al. (2012) dalam penelitiannya yang menyebutkan bahwa wanita
yang mengonsumsi Omega-3 mengalami penurunan intensitas nyeri saat
dismenore. Tidak hanya wanita yang mengonsumsi Omega-3 rendah yang
mengalami dismenore tapi wanita yang mengonsumsi makanan dengan
rasio Omega-6:Omega-3 tinggi juga dapat mengalami dismenore.
Begitupun sebaliknya, konsumsi makanan dengan rasio Omega-6:Omega-3
rendah dapat mengurangi kejadian dismenore (Saldeen dan Saldeen, 2004).
Konsumsi Omega-3 selama menstruasi menghasilkan prostaglandin
dan leukotrien yang kekuatannya lebih kecil daripada yang dihasilkan
Omega-6 (Harel, 2008). Prostaglandin yang dihasilkan Omega-3
merupakan generasi/seri ketiga (PGE3, PGI3, TXA3) (Saldeen dan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
20

Saldeen, 2004) yang dapat menurunkan kontraksi miometrium dan


vasokontriksi pembuluh darah (Harel, 2008). Sedangkan leukotrien yang
dihasilkan Omega-3 adalah generasi/seri kelima yang dapat menurunkan
gejala sistemik dismenore (Saldeen dan Saldeen, 2004).
Tidak hanya itu, asam lemak Omega-3 juga dapat menghambat
peningkatan kadar prostaglandin dan leukotrien dari Omega-6, sehingga
kontraksi miometrium dan vasokontriksi pembuluh darah saat dismenore
tidak terjadi (Harel, 2008). Sebagai akibatnya gejala-gejala yang sering
dialami wanita saat dismenore baik sistemik maupun non sistemik akan
menurun atau bahkan tidak terjadi.

B. Kerangka Pemikiran

commit to user
Gambar 2.1 Kerangka pemikiran

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id
21

Keterangan:
: merangsang, menyebabkan, memengaruhi
: variabel terikat dan bebas yang diteliti
: variabel ikut diteliti
: variabel yang tidak diteliti
n-3

: Omega-3

n-6

: Omega-6

OAINS

: obat anti inflamasi non steroid

C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran yang telah
dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ada hubungan antara konsumsi makanan kaya asam lemak Omega-3
dengan kejadian dismenore pada siswi SMAN 1 Gondangrejo Karanganyar.

commit to user