Vous êtes sur la page 1sur 9

ACARA IV

PENENTUAN TETAPAN GAS DAN VOLUME MOLAR OKSIGEN


A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum : a. Mempelajari cara penentuan tetapan gas dan volume molar
oksigen.
b.mempelajari hukum-hukum gas seperti, hukum Boyle,
Charles, Gay Lusac, Dalton, tentang tekanan parsial dan
hukum Avogadro.
2. Waktu Praktikum : Sabtu, 18 oktober 2014
3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Oksigen merupakan unsur non logam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup
manusia dan mahluk hidup lainnya. Di alam unsur oksigen terdapat dalam keadaan bebas
maupun berikatan dengan unsur-unsur lain (membentuk senyawa). Dalam keadaan bebas,
oksigen berwujud gas O2 yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Gas
oksigen dalam atmosfir bumi menempati 21% volume atmosfir atau 23,5% berat
atmosfir. Oksigen merupakan unusr yang mudah bereaksi dengan unsur-unsur lainnya
kecuali dengan unsur=unsur gas mulia. Reaksi antara unsur atau zat lainnya disebut
dengan reaksi oksidasi yang akan menghasilkan senyawa-senyawa oksigen dan lainnya
(Sunardi, 2006 : 71).
Gas hipotesis yang dianggap akan mengikuti hukum gabungan gas pada berbagai suhu
dan tekanan disebut gas ideal. Gas nyata akan menyimpang dari sifat gas ideal, tetapi
pada tekanan yang relatif rendah termasuk pada tekanan atmosfir dan suhu yang relatif
tinggi, semua gas akan mendekati keadaan ideal. Apabila kita gunakan harga STP (1 atm
00C atau 273 k) dan kita ambil 1 mol gas, maka volume gasnya dapat kita ukur dan
disebut volume molar pada STP. Hal ini karena merupakan volume dan 1 mol gas pada
keadaan 1 atm dan 00C. Apabila kita lakukan hal ini berbagai gas terlihat harganya
berbeda-beda karena memang gas nyata bukan merupakan gas ideal. Dari hasil
berbagai pengukuran, volume rata-rata yang ditempati oleh satu mol gas pada STP adalah
22,41. Harga ini diambil untuk volume molar dari gas ideal pada STP. Dengan memakai
harga ini, dapat dihitung harga R.

93

Atau R =
Kostanta R ini angkanya dapat berbeda tergantung dari satuan yang digunakan dalam
menyatakan tekanan dan volume (Brady, 2002 : 503).
Ada beberapa macam hukum yang berkaitan dengan gas, yaitu : Hukum Boyle,
menayatakan volume gas pada suhu tetap berbanding terbalik secara proporsional dengan
tekanannya. Hasil kali tekanan dan volume suatu gas pada suhu tetap adalah konstan. Ini
merupakan pernyataan lain dari hukum Boyle. Meskipun harga P dan V berubah-ubah.
Hasil kali P dan V akan selalu konstan asalkan suhunya tetap. Jadi pada kondisi yang
berbeda, pada suhu tetap, berlaku (Purwoko, 2006 : 136) :
P1V1 = P2V2
Hukum perbandingan konstan dari partikel dapat dibuktikan dengan cara menentukan
massa zat yang bereaksi atau mengukur volume gas ynag bereaksi. Pada tahun 1808
seorang sarjana kimia prancis berhasil membuktikan bahwa dalam pembentukannya
senyawa volume gas-gas yang bereaksi tidak hanya dalam perbandingan tertentu (Hukum
Proust), tetapi juga volume gas-gas reaksi berbandingan sebagai bilangan mudah dan
bulat. Demikian pula pada suhu dan tekanan yang sama, volume yang berupa gas dan
volume pereaksi berbanding sebagai bilangan mudah dan bulat. Dalton berusaha untuk
mencari hubungan antara hukum ini dengan pendapatnya

yang menyatakan bahwa

senyawa terbentuk dari atom yang bergabung menurut perbandingan sederhana. Ia mulai
denagn anggapan yang paling mudah, yaitu volume yang sama dari semua gas pada
temperatur dan tekanan yang sama mempunyai jumlah atom yang sama. Akan tetapi, jika
anggapan ini diterapkan dalam hasil eksprimen akan ditemukan hal yang bertentangan.
Menurut hipotesis Avogadro menyatakan bahwa pada kondisi temperatur dan tekanan
yang sama volume yang sama dan berbagai macam mempunyai jumlah molekul yang
sama (Achmad, 2010 : 50).
Salah satu perbaikan yang terpenting mengenai persamaan keadaan gas ideal diajukan
oleh Van Der Walls yang bentuk persamaannya :
nRT
Gaya gerak anatar molekul bertolakan pada jarak dekat dan terbentuk pada jarak jauh.
Gaya tidak menyebabkan molekul tidak dapat bertumpang tindih sehingga molekul
keluar dari volume yang ditempatinya dan volume efektif bukan V yang dikeluarkan
94

permolekul. Gaya tarik molekul perkelompok sehingga mengurangi volume efektif dari
molekul bebas dari gas dan mengurangi laju tumbukan (Oxtoby, 2001 : 117).
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat-alat Praktikum
a. Dongkrak
b. Gelas arloji
c. Gelas erlenmeyer 250 ml
d. Gelas ukur 50 ml
e. Klem
f. Labu alas bundar 500 ml
g. Pembakar spritus
h. Pipa
i. Selang
j. Spatula
k. Statif
l. Tabung reaksi
m. Termometer 100oC
n. Timbangan analitik
2. Bahan-bahan Praktikum
a. Aquades
b. KClO3/ MnO2 1,2 gram
D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Ditimbang satu tabung reaksi yang bersih dan kering di timbangan analitik.
2. Dimasukkan sebanyak 1,2 gram campuran KClO3 dan MnO2 kedalam tabung reaksi
(pada praktikum keduanya sudah tercampur).
3. Diisi labu alas bundar dengan aquades setengah penuh.
4. Dihubungkan gelas erlenmeyer dengan labu alas bundar dengan selang.
5. Dialirkan air ke dalam selang dengan cara ditiup dari pipa sampai tidak ada
gelembung udara pada selang, kemudian aliran air ditutup dengan klem.
6. Air yang ada dalam gelas erlenmeyer dibunag sampai tidak ada sisa.
7. Tabung reaksi yang isinya KClO3 dan MnO2 dipasang ke pipa yang menghubungkan
ke labu alas bundar.
8. Kemudian dipanaskan ujung tabung reaksi dengan menggunakan pembakar spritus.
9. Zat KClO3 dan MnO2 dipanaskan, klem dibuka sedikit dan tutup lagi setelah aliran air
berhenti mengalir ke gelas erlenmeyer, dicatat volume air yang keluar dan suhu air.
10. Tabung reaksi dan isinya ditimbang ulang.
E. HASIL PENGAMATAN
NO
PROSEDUR PERCOBAAN
1 Tabung reaksi kosong ditimbang dengan timbangan
2

analitik
KClO3 dan MnO2 ditimbang

HASIL PENGAMATAN
Massa tabung reaksi =
12,44 gram
Massa KClO3 dan MnO3 =
1,2 gram
95

Dimasukkan air ke dalam labu alas bundar setengah

penuh
Dipasang

set

alat

penentuan

volume

molar,

dihubungkan selang dengan labu alas bundar, selang


dengan gelas Erlenmeyer dipasangkn klem,ditiup
5

sampai tidak ada gelembung .


Tabung reaksi yang berisi KClO3+ MnO2 dipasang

T=32

dan dipanaskan dengan keadaan klem dibuka. Air


8

dibiarkan mengalir pada gelas erlenmeyer.


Diukur volume air dalam labu alas bundar dengan

Volume air = 78 ml

gelas ukur
Tabung reaksi ditimbang kembali

Massa = 13,36 gram

F. ANALISIS DATA
1. Gambar alat penentu volume molar oksigen

Keterangan :
a. Statif
b. Labu alas bundar
c. Termometer
d. Selang
e. Pipa
f. Pembakar spritus
g. Klem
h. Dongkrak
i. Tabung reaksi

: Sebagai penyangga.
: Sebagai wadah dari aquades.
: Sebagai alat ukur suhu.
: Penghubung labu alas bundar dengan tabung reaksi
: Penghubung labu alas bundar dengan gelas erlenmeyer.
: Membakar zat atau memanaskan larutan.
: Penutup dan pembuka selang.
: Tempat menaruh gelas erlenmeyer.
: Sebagai tempat ditaruhnya bubuk KClO3 + MnO2.
96

j. Bubuk KClO3 + MnO2


k. Gelas erlenmeyer
l. Aquades
2. Persamaan reaksi
2 KClO3(s)

: Bahan pembakaran.
: Tempat menampung H2O hasil pembakaran.

2KCl(s) + 3O2(g)

3. Perhitungan
a. Massa tabung reaksi kosong = 12,44 gram
b. Massa (KClO3(s) + MnO2(s)) = 1,2 gram
c. Massa tabung reaksi + (KClO3(s) + MnO2(s)) = 13,65 gram
Massa tabung reaksi + massa (KClO3(s) + MnO2(s)) setelah dipanaskan
d.
= 13,36 gram
Massa O2 = (Massa tabung reaksi + (KClO3(s) + MnO2(s))) (Massa tabung reaksi +
e.
massa (KClO3(s) + MnO2(s)) setelah dipanaskan)
= 13,65 13,36
=0,29 gram
f.

Mol O2

=
= 0,0091 mol
g.

h.

i.

Volume O2

= volume H2O yang tertampung pada erlenmeyer


= 78 ml
= 0, 078 L
Suhu O2
= 32oC
= 305 K
Penentuan tetapan gas
Diketahui :
a = 1360 L2 atm/mol2
b = 0,0318 L/mol
P = 1 atm
nRT

97

=
= 0,5463 L atm/mol K
j.

Penentuan volume molar O2


P.V = n.R.T
Vm =

=
= 1, 5163 L
k.

Persentase O2 dalam KClO3


a.

Mol KClO3 =
=
= 0,0061 mol

b.

Massa KClO3 = mol KClO3


= 0,0061

Mr KClO3

122,5

= 0,7473 gram
% O2 =

= 38,81 %
G. PEMBAHASAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari cara penentuan tetapan gas dan
volume molar oksigen serta untuk mempelajari hukum-hukum gas seperti, hukum Boyle,
Charles, Gay Lusac, Dalton, tentang tekanan parsial dan hukum Avogadro. Praktikum ini
dilakukan dengan percobaan yang sederhana yakni dengan penyedotan air oleh gas yang
terbentuk pada saat reaksi berlangsung.
98

Gas terdiri atas molekul yang bergerak menuju jalan-jalan yang lurus ke segala arah,
dengan kecepatan yang sangat tinggi, molekul gas ini selalu bertumbukan dengan
molekul yang lian atau dengan dindinh bejana. Tumbukan terhadap dinding bejana ini
yang menyebabkan adanya tekanan, volume dari molekul gas sangat kecil bila
dibandingkan dengan volume yang ditempati oleh gas tersebut, sehingga sebenarnya
banyak ruang kosong antara molekulnya. Hal ini menyebabkan gas mempunyai rapat
yang lebih kecil daripada cairan atau zat padat, sehingga menyebabkan gas bersifat
kompresibel atau mudah ditekan.
Percobaan ini dilakukan dengan memanaskan KClO3 dan MnO2 dimana MnO2
bertindak sebagai katalis, katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi denagn
menurunkan energi aktivasi suatu reaksi, tetapi katalis ini tidak akan membentuk zat baru
dan akan terbentuk kembali pada akhir reaksi. Adapun persamaan reaksinya :
2 KClO3(s)

2KCl(s) + 3O2(g)

Dari sini dapat diketahui bahwa setiap 1 mol KClO3 yang terurai akan menghasilkan 1,5
mol oksigen. Dan menghasilkan 1 mol endapan KCl. Oksigen yang dihasilkan
mendorong air yang berada dalam labu alas bundar yang tekanan udaranya sudah
disamakan dengan tekanan udara luar. Hal ini disebabkan karena sifat dasar materi yang
selalu menempati ruang, sehingga oksigen yang terbentuk tadi mencari ruang untuk
ditempati. Dari sifat dasar materi inilah dapat menjelaskan bahwa nantinya oksigen akan
mendorong air keluar dari labu alas bundar dan akan mengalir ke gelas erlenmeyer,
dengan kata lain volume oksigen yang terbentuk sama dengan volume air yang didorong
keluar dari labu alas bundar. Dari pengukuran yang dilakukan didapatkan volume oksigen
sebanyak 78 ml, massa oksigen sebanyak 0,29 gram, dan mol O 2 sebesar 0,0091 mol.
Penentapan harga R yang dihitung dari hasil percobaan disini menggunakan persamaan
Van Der Walls. Dengan a dan b sebagai faktor koreksi yang besarnya a = 1360 L2
atm/mol2 dan b = 0,0318 L/mol. Pada percobaan ini diperoleh harga R = 0,5463 L
atm/mol K berbeda jauh dengan ketetapan yang sudah disepakati yaitu 0,082 L atm/mol
K. Sedangkan nilai volume molar oksigen yang didapatkan sebesar 1,5163 liter berbeda
dengan volume molar yang sudah ditetapkan yaitu 22,4 liter. Jadi percobaan ini bisa
dikatakn tidak berhasil karena tidak sesuai dengan yang sudah ditetapkan. Hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya ketidaktelitian dalam memasukkan bubuk
KClO3 kedalam tabung reaksi, pembakaran yang tidak sempurna atau bisa karena masih
adanya gelembung pada pipa. Percobaan ini juga masih tergolong sederhana jadi hasil
yang didapatkan tidak valid.
99

H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Penentuan volume molar oksigen tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah
ditetapkan. Harga R yang didapatkan sebanyak 0,5463 L atm/mol K, sedangkan
ketetapan yang berlaku adalah 0,082 L atm/mol. Dan untuk volume molar oksigen
didapatkan 1,5163 liter, tidak sesuai dengan ketentuan yaitu 22,4 liter
2. Untuk mengetahui tetapan gas dapat diketahui denagn menggunakan persamaan Van
Der Walls yaitu :
nRT

100

DAFTAR PUSTAKA
Achmad dan Baradja. 2010. Stoikiometri.Bandung : PT Citra Aditya Bakti.
Brady, James. 2002. Kimia Universitas. Tangerang : Binarupa Aksara.
Oxtoby, David. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta : Erlangga.
Purwoko, Agus Abhi. 2006. Kimia dasar. Mataram : Mataram University Press.
Sunardi. 2006. 116 Unsur Kimia. Bandung : Yrama Media.

101