Vous êtes sur la page 1sur 21

TUGAS EVOLUSI

Asal Usul Kehidupan


(Prokariotik)

Oleh:
KELOMPOK 4
Al Humaerah (1314440019)
Murni (1314440017)

Jurusan Biologi
Fakultas Matemtika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Negeri Makassar

2016
ASAL-USUL KEHIDUPAN
PROKARIOTIK
A. Pengantar Sejarah Kehidupan
Kehidupan dimulai sangat dini dalam sejarah Bumi dan organisme
pertama itu merupakan nenek moyang bagi kleidoskop keanekaragaman
biologis yang kita lihat saat ini. Organisme yang paling kita kenal adalah
organisme makroskopik dan multiseluler-terutama tumbuhan dan hewan.
Namun demikian, pada tiga perempat awal sejarah evolusi, satu-satunya
organisme bumi adalah organisme makroskopik dan uniseluler (bersel tunggal).
Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun silam, dan kemungkinan
kehidupan baru dimulai beberapa ratus juta tahun kemudian. Para saintis telah
menemukan isotop karbon yang menunjukkan adanya aktivitas metabolisme
organisme dalam batuan yang berumur 3,8 miliar tahun di Greenland.
Seseorang dapat menebak dari struktur sel prokariotik yang relatif
sederhana (dibandingkan dengan sel eukariotik) bahwa yang paling awal ada
adalah prokariota. Catatan fosil yang ada sekarang mendukung dugaan
tersebut. Bukti-bukti kehidupan prokariota (purba) telah ditemukan pada
batuan yang disebut stromatolit (Bahasa Yunani stroma tempat tidur dan
lithos baru).
Stromatolit adalah kubah bergaris-garis yang tersusun dari batuan
sedimen yang sangat mirip dengan kerak berlapis-lapis, yang sekarang ini
terbentuk pada dasar rawa berair asin dan beberapa laguna laut hangat oleh
koloni bakteri dan sianobakteri.
Lapisan itu adalah endapan yang menempel kelapisan seperti jelli yang
tersusun dari mikroba yang motil, yang secara terus menerus bermigrasi, keluar
dari satu lapisan sedimen dan kemudian membentuk sebuah lapisan baru
diatasnya. Sehinga menghasilkan pola pita berlapis-lapis.
Meskipun beberapa stromalit dapat terbuat dari pengendapan mineral
tanpa adanya kehidupan, fosil yang mirip dengan prokariota berbentuk bola

(sferikal) dan berfilamen telah ditemukan pada stromalit berumur 3,5 miliar
tahun di Afrika bagian selatan dan Amerika barat. Fosil tersebut saat ini
merupakan fosil organisme hidup tertua yang diketahui.
Namun demikian, fosil yang terdapat di Australia barat tampak seperti
organisme fotosintetik, yang mungkin merupakan organisme penghasil
oksigen. Jika demikian halnya, maka mungkin kehidupan telah berkembang
jauh sebelum organisme ini hidup, kemungkinan sekitar 4,0 miliar tahun silam.
Oleh karena itu bertanya mengenai asal usul kehidupan atau bagaimana
kehidupan itu dimulai, sebenarnya adalah pertanyaan mengenai terjadinya
prokariota. Kira-kira antara 4,0 miliar tahun silam, ketika kerak bumi mulai
mengeras, dan 3,5 miliar tahun silam, ketika planet telah dihuni oleh cukup
banyak bakteri untuk membangun sromatolit, lahirlah organisme yang pertama.
Sebagian besar ahli biologi sependapat dengan hipotesis yang
menyatakan bahwa kehidupan diatas bumi berasal dari bahan-bahan tidak
hidup yang kemudian menjadi susunan kumpulan molekuler yang akhirnya
mampu membelah dan memperbanyak diri dan melakukan metabolisme
sendiri. Sejauh yang kita ketahui, kehidupan tidak dapat terjadi secara spontan
dari bahan-bahan tak hidup yanga ada saat ini, akan tetapi keadaan sangat
berbeda ketika bumi baru berumur 1 miliar tahun.
Atmosfer pada waktu itu sangat berbeda (misalnya, dulu hanya terdapat
sedikit oksigen) di atmosfe, petir, aktivitas vulkanik, hujan meteorit, dan
radiasi ultraviolet semuanya dulu lebih intens (kuat) dibandingkan dengan apa
yang kita alami saat ini. Pada lingkungan masa silam itu, asal mula kehidupan
terbukti memiliki kemungkinan untuk terjadi, dan kemungkinan tahap awal
kelahiran biologis tidak dapat dihindarkan lagi. Akan tetapi, banyak sekali
perdebatan mengenai apa yang terjadi selama tahapan awal ini.
Berdasarkan salah satu skenario hipotesis, organisme pertama merupakan
produk suatu evolusi kimiawi yang terdiri dari empat tahapan: (1) sintesis
abiotik (tak hidup) dan akumulasi molekul organik kecil, atau monomer seperti
asam amino dan nukleotida; (2) penyatuan monomer-monomer menjadi
polimer termasuk protein dan asam nukleat; (3) agregasi molekul yang
diproduksi secara abiotik menjadi droplet yang disebut protobion, yang
memiliki karakteristik kimiawi berbeda dari lingkungan sekitarnya; dan (4)

asal mula hereditas yang mungkin telah berlangsung bahkan sebelum tahapan
droplet).
Sebelum ada kehidupan, bahan kimiawi penyusunnya kemungkinan telah
terakumulasi sebelumnya sebagai suatu tahapan alamiah dalam evolusi
kimiawi planet ini. Pada keadaan seperti ini, sintesis abiotik molekul organik
yang lebih kompleks melalui penyatuan molekul-molekul yang lebih kecil juga
kemungkinan tidak dapat dihindari. Polimer organik seperti protein adalah
untaian rantai dengan bahan penyusun yang sama yang disebut monomer.
Dalam sel hidup, enzim spesifik mengkatalisis reaksi-reaksi yang ada. Sintesis
abiotik polimer awalnya harus terjadi tanpa bantuan enzim-enzim yang efisien
tersebut.
Lalu, ciri kehidupan kemudian muncul dari suatu interaksi molekulmolekul yang disusun kedalam urutan tingkat yang lebih tinggi. Sel-sel hidup
mungkin didahului oleh protobion, yaitu agregat (kumpulan) molekul-molekul
yang dihasilkan secara abiotik. Protobion tidak dapat bereproduksi secara tepat,
akan tetapi probion dapat mempertahankan suatu lingkungan kimia internal
yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya dan memperlihatkan beberapa ciri
yang berasosiasi dengan kehidupan, meliputi metabolisme dan eksitabilitas
sifat (dapat dirangsang).
Salah satu jenis protobium (yang dinamai koaservat oleh Oparin)
merupakan suatu droplet (butiran) stabil yang cenderung bergabung dengan
sendirinya, ketika suatu suspensi makromolekul (polipeptida, asam nukleat,
dan polisakarida (dikocok). Protobion dianggap sebaga bahan dasar
pembentuksel purba atau biasa disebut progenot. Progenot merupakan cikal
bakal universal semua jenis sel yanga da sekarang. Progenot berkembang
menjadi kelopok sel prokariotik purba seperti archaebacteria dan Eubacteria.
Secara sederhana kemunculan sel hidup dapat digambarkan dalam
diagram sebagai berikut :

Sumber:
B. Teori Asal Usul Kehidupan
Beberapa ilmuwan mencoba mencari jawaban mengenai asal usul
kehidupan. Dari hasil percobaan-percobaan mereka dihasilkan beberapa teori
mengenai asal usul kehidupan. Berikut berbagai teori dari berbagai
ilmuwan,diantaranya:
1. Teori Abiogenesis
Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari
benda tidak hidup atau makhluk hidup ada dengan sendirinya.Teori
ini dikenal dengan Generatio Spontanea. Teori ini dipelopori oleh
Aristoteles (384-322 SM) dan Nedham. Aristoteles melakukan
percobaan

pada

tanah

yang

direndam

air

akan

muncul

cacing.Percobaan Nedham,merebus kaldu dalam wadah selama


beberapa

menit,setelah

gabus.Setelah

beberapa

tersebut.Nedham

itu

wadah

ditutup

menggunakan

hari,terdapat

bakteri

dalam

bakteri

berasal

berpendapat

bahwa

kaldu
dari

kaldu.Teori ini dikuatkan oleh ilmuwan Belanda bernama Antony


van Leeuwenhoek pada tahun 1677. Ia mengamati adanya makhluk
renik pada air rendaman jerami menggunakan mikroskop hasil

temuannya. Hasil pengamatannya ini ditulis dalam sebuah catatan


ilmiah yang diberi judul Living in a Drop of Water.
2. Teori Biogenesis
Teori abiogenesis disanggah oleh teori biogenesis sejak abad
ke-19.Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari
makhluk hidup.Teori ini dikemukakan oleh Francesco Redi,Louis
Pasteur,dan Lazzaro Spallanzani berdasarkan percobaan yang
dilakukannya.
a. Francesco Redi (1626-1697)
Untuk menyanggah teori

Abiogenesis,

Redy

melakukan percobaan dengan sepotong daging yang


diletakkan dalam dua buah labu.
Pertama-tama disediakan dua buah wadah (stoples),
sementara itu daging disterilkan dengn cara merebusnya
dalam air mendidih. Potong-potongan daging tersebut
kemudian dimasukkan kedalam stoples pertama dan
stoples kedua, selanjutnya stoples dibiarkan terbuka
sedangkan

stoples

lainnya

ditutup

rapat.

Setelah

beberapa hari ternyata stoples pertama timbul beberapa


belatung

sedangkan

stoplas

kedua

tidak.

Redy

berkesimpulan bahwa belatung yang timbul berasal dari


telur-telur lalat yang hinggap.
b. Percobaan Lazarro Spallanzani (1750)
Lazzaro Spallazani melakukan percobaan dengan
menggunakan air kaldu. Mula-mula ia mempersiapkan 2
buah labu yang diisi air kaldu. Kemudian labu-labu berisi
air kaldu tersebut diperlakukan sebagai berikut:
Labu kedua dipanaskan sampai mendidih

kemudian dibiarkan terbuka.


Labu ketiga dipanaskan hingga
kemudian ditutup rapat.

mendidih

Setelah beberapa hari ternyata timbul kehidupan


pada tabung pertama dan tabung kedua, sedangkan pada
tabung ketiga yang tertutup rapat dan dipanaskan tidak
terjadi kehidupan. Ia menjelaskan bahwa dalam air kaldu
sudah terdapat mikroorganisme yang berasal dari udara.
Pada saat pemanasan semua organisme mati, tetapi bila
terbuka maka akan tercemar mikroorganisme lagi dari
udara, sebaliknya jika ditutup akan terbebas dari
mikroorganisme
c. Louis Pasteur (1863)
Para penganut abiogenesis keberatan dengan hasil
eksperimen Redy dan Spallazani. Mereka berpendapat
bahwa timbulnya kehidupan secara spontan dari benda
tidak hidup diperlukan gaya hidup. Pada percobaan
Spallazani gaya hidup tidak ada karena labu tertutup
rapat, dengan demikian Pasteur berusaha memperbaiki

percobaan

Spallazani

dengan

menggunakan

labu

berbentuk leher angsa.


Adapun langkah percobaan Pasteur, pertama labu
percobaan diisi dengan air kaldu, kemudian dipanaskan
sampai mendidih. Setelah itu labu ditutup dengan tutup
pipa berbentuk huruf S atau berleher angsa.

Setelah beberapa hari ternyata kaldu yang terdapat


dalam labu tidak berubah dan tidak timbul kehidupan.
Pasteur berkeimpulan bahwa kehidupan berasal dari
kehidupan lain, yang kemudian terkenal dengan slogan
omne vivum ex vivo
Berdasarkan hasil penelitian dari tokoh-tokoh ini,
akhirnya paham Abiogenesis/Generation spontanea menjadi
pudar karena paham tersebut tidak dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
3. Teori Evolusi Kimia
Ternyata gugurnya teori abiogenesis oleh teori biogenesis
tidak membuat ilmuwan berhenti menyelidiki tentang asal-usul
kehidupan. Sekarang, timbul pertanyaan, jika makhluk hidup
berasal dari makhluk hidup, dari manakah asal mula makhluk hidup
yang pertama? Untuk menjawab itu, muncullah teori evolusi kimia.
Ilmuwan yang menyatakan teori tersebut adalah Harold Urey.

Urey menyatakan bahwa pada periode tertentu, atmosfer


bumi mengandung molekul metana (CH4), amonia (NH4), air
(H2O), dan karbon dioksida (CO2). Karena pengaruh dari energi
petir dan sinar kosmis, zat-zat tadi bereaksi. Hasil reaksi tersebut
menghasilkan suatu zat hidup yang diduga virus. Zat hidup tersebut
berkembang selama jutaan tahun membentuk makhluk hidup. Teori
yang dikemukakannya tersebut, kemudian dikenal dengan teori
Urey.
Untuk membuktikan teori ini, Stanley Miller melakukan
sebuah percobaan. Peralatan yang dirancang Miller, yakni ruang
bunga api diisi dengan campuran gas meniru atmosfer purba,
sementara botol kaca kecil diisi dengan air murni seperti sup purba.
Miller membuat kilat buatan dengan bunga api listrik di antara dua
elektroda dalam atmosfer buatan tersebut. Ia juga memanaskan air
laut tiruannya. Percobaan ini berlangsung selama seminggu dan
dapat menghasilkan beragam senyawa organik.
Di alam nyata, reaksi kimia ini akan berjalan selama jutaan
tahun sehingga dapat membentuk hasil yang lebih kompleks. Pada
titik tertentu dari proses yang panjang ini, senyawa kimia dapat
terbentuk dengan sendirinya. Jika pada proses membentuk diri ini
terkadang

terdapat

kesalahan,

senyawa

kimia

ini

dapat

menyesuaikan diri dan berevolusi melalui proses seleksi kimiawi.


Jadi, kehidupan tidak terbentuk secara tibatiba melainkan timbul
secara bertahap dari senyawa tidak hidup.
Berikut ini adalah ilustrasi/gambar dari percobaan Stanley
Miller:

Sumber:
C. Kemunculan Prokariotik
Prokariota pertama kali muncul beberapa ratus juta tahun setelah
kerak bumi mendingin dan memadat. Prokariota memulai suksesi
mikroorganisme yang saat itu merupakan satu-satunya bentuk kehidupan
di Bumi selama sekitar 2 miliar tahun. Data urutan RNA menunjukkan
bahwa dua kelompok prokariota yang sangat berbeda. Bakteria dan
Arkhaea, memisahkan diri sekali dalam sejarah kehidupan. Menurut
catatan fosil, pembagian itu terjadi sekitar 3 miliar tahun silam.
Berdasarkan beberapa data molekuler, pemisahan itu terjadi 2 miliar tahun
silam.
Sekitar 2,5 miliar tahun silam, produksi oksigen (O 2) oleh
prokariota fotosintetik kuno menciptakan suatu atmosfer aerob, yang
memulai suatu tahapan untuk evolusi kehidupan aerob. Sementara evolusi
prokariotik terus berlanjut, beberapa organisme telah mampu mentolerir
pengaruh korosif oksigen atmosfer dan menjadi organisme pertama yang
menggunkan oksigen dan beberapa spesies bahkan menggunakan oksigen
untuk metabolisme molekul organik.

Mula-mula prokariot memanfaatkan sulfur dan nitrogen sebagai


sumber energi. Setelah itu, terbentuklah bermacam macam prokariot.
Beberapa

prokariot

kemudian

mempunyai

kemampuan

untuk

memanfaatkan CO2 dan air yang tersedia melimpah dengan membentuk


plastida. Dengan adanya proses fiksasi dengan memanfaatkan CO 2 dan
H2O, maka terbentuklah prokariot yang menggunakan energi dari
pemecahan CO2 dan mendapatkan energi secara efisien.
Prokariot tersebut kemudian menjadi sumber utama dari kehidupan
sekarang. Penggunaan CO2 dan H2O akan mengeluarkan oksigen sebagai
sisa metabolisme memberikan peluang untuk kehidupan selanjutnya,
karena mayoritas organisme di dunia memanfaatkan oksigen yang lebih
efesien.
D. Filogenik Prokariotik

Prokariota adalah organisme pertama dan bertahan hidup sampai


sekarang. Sebagai organisme hidup yang paling luas tempat hidupnya dan
paling banyak jumlahnya. Prokariota seringkali hidup dalam asosiasi yang
dekat dengan sesamanya dan dengan eukariota, dalam hubungan yang kita
sebut simbiosis. Kasus simbiosis yang secara historis paling penting
adalah berkembangnya mitokondria dan kloroplas dari prokariota menjadi
organel didalam sel-sel inang yang lebih besar. Dengan demikian hewan,
tumbuhan,

fungi,

dan

protista

kemungkinan

penggabungan simbiotik sel-sel nenek moyang.

berkembang

dari

Klasifikasi prokariota secara evolusi dibedakan kedalam dua


domain, yaitu Arkea dan Bakteri. Arkea (Archabacteria) merupakan
bakteri yang dapat beradaptasi terhadap suhu sekitar 100 O C, kadar garam
tinggi atau kadar asam tinggi, bersifat anaerob, memiliki dinding sel yang
tersusun dari berbagai jenis protein, memiliki pigmen fotosintetik berupa
bakteriorodoprin, dan mampu menghasilkan ATP sendiri.
1. Bakteri anaerob air panas (termofil ekstrim, hipertermofil),
hidup pada perairan yang bersuhu tinggi atau bahkan pada suhu
optimum. Untuk pertumbuhan bakteri ini berkisar antara 60-800C.
Contohnya adalah Halofiltermoasidofil yang merupakan arkaea
Sulfolobus warna hijau yang hidup menempati mata air sulfur di
Yellowstone National Park yang bersuhu 105C dan pH 2, energi
diperoleh dari mengoksidasi belerang.
2. Bakteri anaerob air asin (halofil ekstrim), kelompok arkaea ini
hidup berkoloni membentuk buih yang berwarna ungu yang
mengapung di permukaan perairan. Hidup pada air laut yang
berkadar garam tinggi. Contohnya adalah bakteri rhodopsin.
3. Bakteri Anaerob metanogen, kelompok bakteri ini diberi nama
sesuai dengan metabolisme energinya yang khas, dimana H2
digunakan

untuk

mereduksi

CO2

menjadi

metana

(CH4).

Metanogen termasuk bakteri anaerob obligat. Habitatnya di lumpur


dan di rawa-rawa dimana makhluk hidup lainnya tidak mampu
hidup disana, karena ketiadaan/ sedikit oksigen. Bakteri kelompok
ini dalam ekosistem berfungsi sebagai pengurai (dekomposer).
Contoh dari bakteri ini adalah Methanomonas methanica.
Kelompok sel yang lain yaitu Bakteri (Eubacteria), merupakan
bakteri yang hidup pada kondisi lingkungan yang tidak seekstrim kondisi
tempat hidup archaebacteria. Eubacteria ada yang bersifat aerob dan ada
pula yang bersifat anaerob, memiliki dinding sel yang tersusun dari
peptidogliga, memiliki pigmen fotosintetik berupa bakterioklorofil dan
mampu menghasilkan ATP secara lebih efisien karena transpor
elektronnnya lebih berkembang.

Domain bakteria terbagi menjadi lima kelompok filogenetik utama


bakteri (terutama didasarkan pada perbandingan signature sequence dalam
RNA ribosomal), yaitu:
1. Bakteri gram positif, Bakteri gram positif adalah bakteri
yang dinding selnya menyerap warna violet dan memiliki
lapisan

peptidoglikan

yang

tebal.

Contohnya:

Bifidobacterium, Lactobacillus, staphilococcus, clotridium,


actinomyces,

arachnia,

propionibacterium,

peptostreptococcus. Ciri-cirinya : Memiliki sitoplasma


lipid membran, lapisan peptidoglikan yang tebal, beberapa
spesies memiliki flagellum, beberapa spesies memiliki
kapsul polisakarida, ttidak memiliki kepekaan dengan
streptomysin, toksin yang dibentuk berupa Eksotoksin
Endotoksin.
2. Bakteri Hijau Fotosintetik, bakteri yang memiliki pigmen
hijau

yang

disebut

dengan bakterioviridin atau

bakterioklorofil.
3. Sianobakteri, sering disebut ganggang biru sebab
berwarna

hijau

kebiruan.

Cyanobacteria

dapat

berfotosintesis dan sebagian memiliki tubuh berbentuk


benang seperti ganggang. Namun, Cyanobacteria bukanlah
ganggang yang sebenarnya karena bersifat prokariotik,
sedangkan ganggang memiliki sel eukariotik. Ciri-cirinya :
tidak memiliki membran inti (prokariotk, memiliki pigmen
fotosintetik, fotoautotrof, uniseluler/multiseluler, hidup
soliter/berkoloni.
4. Bakteri Gram Negatif, bakteri yang dinding selnya
menyerap warna merah, dan memiliki lapisan peptidoglikan
yang tipis. Lapisan peptidoglikan pada bakteri Gram negatif
terletak di ruang periplasmik antara membram plasma
dengan membran luar. Contoh: aeruginosa, azotobacter,
influenzae, rhizobium leguminosarum, salmonella typhi,

helicobacter pylori, neisseria gonorrchoeae, pseudomonas


aeruginosa. Ciri-Cirinya: memiliki sitoplasmic membran,
kurang rentan terhadap senyawa penisilin, struktur dinding
sel yang tipis yaitu sekitar 10-15 mm, yang multilayer atau
berlapis tiga, tidak resisten terhadap gangguan fisik dan
mengandung lemak pada dinding sel yang banyak yaitu
sekitar 11-12.
5. Bakteri Ungu, bakteri yang memiliki pigmen ungu, merah
atau kuning. Pigmen ini disebut dengan bakteriopurpurin.
6. Spirochaeta, bakteri kemoheterotrof yang berbentuk heliks.
Panjangnya mencapai 0,25 mm, tetapi karena terlalu tipis
ia tidak dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop. Perputaran
filamen internal mirip flagela, menghasilkan gerakan seperti
pembuka sumbat botol. Anggota Spirokaeta ada yang hidup
bebas dan ada yang bersifat patogen. Contoh: Treponema
pallidum (penyebab

penyakit

sifilis),

dan Borrelia

burgdorferi (penyebabkan penyakit Lyme).


Adapun perbeadaan antara bakteri dan arkea adalah sebagai
berikut:
Karateristik
Peptidoglikan

Bakteri
Ada

Arkaea
Tidak ada

Lipid membrane

Rantai C tidak bercabang

Rantai C bercabang

Kepekaan anti

Dihambat

Tidak dihambat

Satu jenis

Beberapa jenis

Formil-metionin

Metionin

Tidak ada

Ada pada gen

biotic tertentu
RNA polymerase
Asam amino
inisiator untuk
permulaan sintesis
protein
Intron

tertentu
Tabel diatas memperlihatkan beberapa perbedaan mendasar pada
domain bakteria dan arkaea berdasarkan karateristik yang ada. Pada
dinding domain bakteria tersusun atas peptidoglikan, sedangkan pada
domain arkaea tidak tersusun atas peptidoglikan sehingga pertumbuhan sel
pada bakteria dapat terhambat oleh antibiotik tertentu dan pada sel arkaea
tidak dapat terhambat.
Membran plasma pada sel bakteria tersusun atas rantai karbon (C)
tunggal, sedangkan pada sel arkaea tersusun atas rantai karbon (C) yang
bercabang. Pada sel bakteria asam amino sebagai inisiator untuk
permulaan sintesis protein berupa formil-metionin, RNA polimerase terdiri
dari satu jenis, serta tidak terdapat intron (bagian gen yang bukan untuk
pengkodean).
Sedangkan pada sel arkaea menggunakan metionin sebagai asam
amino inisiator untuk permulaan sintesis protein, RNA polimerase terdiri
dari beberapa jenis serta terdapatnya intron (bagian gen yang bukan untuk
pengkodean).
E. Struktur, Fungsi Pada Sel Prokariot
Prokariota secara umum adalah organisme bersel tunggal,
meskipun beberapa diantaranya membentuk agregat (kumpulan), koloni,
atau suatu bentuk multi selular tunggal. Berikut ini akan diuraikan struktur
umum penyusun sel prokariotik yang meliputi:
1. Dinding sel
Hampir semua prokariota memiliki dinding sel yang
berada di luar membran plasmanya. Sebagian besar dinding
sel bakteri mengandung peptidoglikan yang terdiri dari
modifikasi

gula-gula

yang

diikat

silangkan

dengan

polipeptida pendek yang berbeda dari satu spesies ke


spesies

lain

(dinding

sel

arkhaea

tidak

memiliki

peptidoglikan). Pengaruhnya adalah adanya sebuah jaringan


molekuler tunggal yang membungkus dan melindungi
seluruh sel itu.
2. Membran plasma

Membran sel atau membran plasma tersusun atas


molekul lemak dan protein. Fungsinya sebagai pelindung
molekuler sel terhadap lingkungan di sekitarnya dengan
jalan mengatur lalu lintas molekul dan ion-ion dari dan ke
dalam sel.
3. Mesosom
Pada tempat tertentu, membran plasma melekuk ke
dalam membentuk mesosom. Mesosom berfungsi dalam
pembelahan sel dan sebagai penghasil energi. Biasanya
mesosom terletak dekat dinding sel yang baru terbentuk
pada saat pembelahan biner.
4. Sitoplasma
Sitolpasma tersusun atas air, protein, lemak,
mineral, dan enzim-enzim. Enzim-enzim digunakan untuk
mencerna

makanan

secara

ekstraseluler

dan

untuk

melakukan proses metabolisme sel.


5. Ribosom
Ribosom merupakan organel tak bermembran
tempat berlangsungnya sintesis protein.
6. DNA
Asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid,
disingkat DNA) merupakan persenyawaan yang tersusun
atas gula deoksiribosa, fosfat, dan basa-basa nitrogen. DNA
berfungsi sebagai pembawa informasi genetik, yakni sifatsifat yang harus diwariskan kepada keturunannya. Karena
itu DNA disebut pula sebagai materi genetik.
7. RNA
Asam ribonukleat (ribonucleic acid, disingkat
RNA) merupakan persenyawaan hasil transkripsi (hasil
cetakan, hasil kopian) DNA. Jadi, bagian tertentu DNA
melakukan transkripsi (mengopi diri) membentuk RNA.
RNA membawa kode-kode genetik sesuai dengan pesanan
DNA.

Selanjutnya,

kode-kode

genetik

itu

akan

diterjemahkan dalam bentuk urutan asam amino dalam


proses sintesis protein.
8. Flagella dan pili
Banyak diantara prokariota bersifat motil. Bakteri
motil mendorong dirinya sendiri dengan menggunakan
flagella, menggunakan filamen mirip flagella yang berada
didalam dinding sel (spirokaeta), atau meluncur pada
sekresi berlumpur. Dalam sautu lingkungan yang relatif
seragam, prokariota berflagella dapat bergerak secara acak,
namun dalam suatu lingkungan yang heterogen, banyak
prokariota yang dapat melakukan taksis, yaitu pergerakan
menuju atau menjauh dari suatu rangsangan. Prokariota
motil

yang

berfotosintesis

umumnya

menunjukkan

fototaksis positif, suatu prilaku yang mempertahankan


keberadaan prokariota dalam cahaya. Beberapa prokariota
mengandung

deretan

partikel

magnetik

kecil

yang

memungkinkan sel mengatur orientasi sesuai dengan medan


magnet. Partikel itu dapat membantu sel membedakan
bagian atas dari bagian bawah serta menyebabkan
prokariota bergerak menuju sedimen yang kaya akan zat
makanan pada dasar kolam dan laut dangkal.
F. Reproduksi prokariotik

Prokariotik bereproduksi hanya secara aseksual dengan cara


pembelahan biner (binary fissioon), sambil mensintesis DNA secara
kontinyu. Populasi prokariotik tumbuh dan beradaptasi secara cepat.
Sebuah sel prokariotik tunggal dalam suatu lingkungan yang sesuai akan
menjadi sebuah koloni keturunan melalui pembelahan berulang. Variasi
genetik terjadi melalui mutasi dan transfer gen. Transfer gen dapat terjadi
dengan cara: konjugasi yaitu pemindahan gen-gen secara langsung dari
satu prokariota ke prokariota lainnya, transduksi viral yaitu pemindahan
gen antar prokariota dengan bantuan virus, atau dengan cara transformasi
yaitu pemindahan sedikit materi genetik bahkan satu gen saja dari satu sel
prokariota ke sel prokariota yang lainnya dengan cara mengambil DNA
asing dari lingkungannya.
Prokariot berperan dalam pembentukan kondisi bumi hingga
sekarang. Akumulasi O2 atmosfer berasal dari aktivitas fotosintesis

Sianobakter 2,5 milyar tahun yang lalu, sedangkan prokariotik tertua hidup
3,5 milyar tahun yang lalu seperti fosil stromatolit yang ditemukan di
Australia Barat.
G. Dampak Ekologis Prokariotik
1. Prokariotik adalah penghubung yang harus ada dalam pendaur ulangan
unsur kimia dalam ekosistem.
Evolusi metabolisme prokariota merupakan penyebab sekaligus
akibat dari lingkungan dibumi yang berubah. Prokariota pertama
kemungkinan adalah kemoautotrof yang mendapatkan energi dari
reaksi yang melibatkan bahan kimia anorganik. Prokariotik fotosintetik
awal menggunakan pigmen dan tenaga cahaya fotosistem untuk
mengfiksasi karbon dioksida, yang membebaskan O2 sebagai hasil
sampingan. Hal ini secara drastis mengubah atmosfer bumi awal dan
mempengaruhi evolusi biologis selanjutnya.
2. Banyak prokariota adalah simbiotik.
Prokariota sangat jarang berfungsi sendirian di lingkungan.
Prokariota lebih sering berinteraksi dalam kelompok, seringkali
menyertakan

spesies

prokariota

atau

eukariota

lain

dengan

metabolisme yang saling melengkapi.


Simbiosis kemungkinan berperan penting dalam evolusi
prokariota dan juga dalam asal mula eukariota awal. Prokariota
ditemukan dalam berbagai macam simbiosis. Sebagai contoh,
tumbuhan dari famili legum (kacang-kacangan) memiliki bintil pada
akarnya yang disebut nodul, yang merupakan tempat hidup prokariota
mutualistik yang memfiksasi nitrogen untuk digunakan oleh inangnya.
Sedangkan

tumbuhan

(inang)

membalas

dengan

menyediakan

persediaan gula dan nutrien organik lainnya. Bakteri yang menempati


permukaan dalam dan luar tubuh manusia sebagian besar terdiri dari
spesies komensalisme, tetapi beberapa spesies adalah simbion mutual.
Sebagai contoh, bakteri fermentasi yang hidup dalam vagina
menghasilkan asam yang mempertahankan pH antara 4,0 dan 4,5 yang
menekan pertumbuhan kapang dan mikroorganisme yang memiliki

potensi membahayakan. Bakteri parasitik adalah bakteri yang


dikelompokkan sebagai patogen karena mereka menyebabkan penyakit
pada inangnya.
3. Manusia menggunakan prokariota dalam riset dan teknologi.
Manusia telah mempelajari berbagai cara untuk memanfaatkan
kemampuan metabolik prokariota yang beraneka ragam, baik untuk
tujuan penelitian ilmiah maupun untuk tujuan praktis. Metabolisme
dan biologi molekuler telah dipelajari di laboratorium dengan
menggunakan prokariota sebagai suatu sistem model yang relatif
sederhana. Pada kenyataannya,

E. coli dan prokariota lain bagi

banyak laboratorium riset adalah organisme yang dipahami paling baik


diantara semua organisme.

REFERENSI
Aryulina, Diah, dkk. 2004. Biologi 3. Jakarta: Erlangga.
E. Rosenberg, I. Zilber-Rosenberg. 2013. Origin of Prokaryotes and Eukaryotes.
Switzerland: Springer International Publishing
Ferdinan, P. Fictor., Moekti, Ariwibowo. 2009. Praktis Belajar Biologi. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Neil, A. Campbell., et al. 2003. Biologi Edisi V Jilid III. Jakarta: Erlangga.
Murdiah. 2014. Asal Usul Kehidupan. http://www.materisma.com/2014/03/teoriasal-usul-kehidupan-teori-evolusi.html. Diakses pada tanggal 23 Maret 2016.