Vous êtes sur la page 1sur 32

BAGIAN ANESTESIOLOGI

REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

JANUARI 2016

UNIVERSITAS PATTIMURA

ANESTESI REGIONAL DAN ANESTESI LOKAL

Disusun oleh:
Ria Lelemuku Tutkey
NIM. 2009-83-017

Konsulen :
dr. Ony W. Angkejaya, Sp. An

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ANESTESIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Penekanan saraf perifer dalam waktu yang panjang melebihi waktu yang
semestinya akan menyebabkan analgesia yang lebih dalam pada bagian distal dari
tempat penekanan saraf. Hal tersebit merupakan dasar dari metode anestesi masa
lampau ysng diperkenalkan pada abad ke-16 oleh seorang ahli bedah militer Perancis,
Ambroise Pare (1510-1590). Dominique Jean Larrey (1766-1842), ketua ahli bedah
tentara Napoleon, menjelaskan pengamatannya terhadap cedera dingin pada saraf dan
memberikan efek analgesik pada tentara selama amputasi. Sifat anestesi kokain dikenal
dan diterbitkan pada abad ke-19. Pada tahun 1898, Bier (1861-1949) dan residennya,
Hildebrand (1868-1954) melakukan anestesi spinal pertama dan mempublikasikan
pengalaman pribadi mereka setelah mereka berusaha melakukan anestesi spinal pada
diri mereka sendiri. Saat itu Hildebrand berhasil mendapatkan analgesia yang baik dari
anestesi spinal, namun ia menderita sakit kepala yang parah dan Bier berkecil hati
tentang penggunaan anestesi spinal dan butuh beberapa tahun lagi sebelum anestesi
spinal dijadikan teknik anestesia regional. Pada tahun 1908, Bier menggambarkan
injeksi intravena untuk anestesi lokal, yang disebut Bier block. Banyak teknik awal
yang masih digunakan sampai sekarang dan sering hanya dilengkapi dengan teknik
yang lebih baru atau obat-obatanya.
Anestesi umum tergantung pada kerja obat sistem saraf pusat yang mengakibatkan
kesadaran hilang.Teknik anestesi regional menggunakan obat yang berefek lokal dengan
memblok implus saraf sebelum mencapai saraf pusat.Obat akan memblok transmisi
impuls saraf.Serat saraf yang membawa impuls sakit, suhu dan eferen simpatis akan
terhambat kemudian impuls proprioseptif dan motorik yang mengatur tonus otot
volunter.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Teknik anestesi regional menggunakan obat yang berefek lokal dengan
memblok implus saraf sebelum mencapai saraf pusat.1

Anestesi lokal adalah hilangnya sensasi sementara pada suatu area tubuh yang
relatif kecil atau terbatas yang tercapai dengan aplikasi topikal atau injeksi obatobat yang menekan eksitasi ujung saraf atau menghambat konduksi impuls

sepanjang saraf perifer


Anestesi regional adalah proses yang sama dengan anestesi lokal, yang
melibatkan area jaringan subkutan yang lebih luas atau saraf-saraf perifer yang
lebih luas.1
Secara umum anestetik lokal mempunyai rumus dasar yang terdiri atas tiga

bagian: gugus amin hidrofil yang berhubungan dengan gugus residu aromatic lipofil
melalui suatu gugus antara. Gugus amin selalu berupa amin tersier atau amin sekunder.
Gugus antara dan gugus aromatik dihubungkan dengan ikatan amin atau ester. Maka
secara kimia, anestetik lokal digolongkan atas senyawa ester dan senyawa amid. Adanya
ikatan ester sangat menentukan sifat anestetik lokal sebab pada degradasi dan inaktivasi
didalam badan, gugus tersebut akan dihidrolisis. Karena itu golongan ester umumnya
kurang stabil dan mudah mengalami metabolisme dibandingkan dengan golongan
amid.Anestetik lokal yang tergolong dalam senyawa ester ialah tetrakain, benzokain,
kokain, dan prokain dengan prokain sebagai prototip. Sedangkan yang tergolong
senyawa amid ialah dibukain, lidokain,bupivakain, mepivakain dan prilokain.

Gambar 1. Gugus anestetik lokal

Tabel 1. Perbedaan golongan Amida dan Ester


Amida
Ester
Lebih stabil dalam bentuk larutan
Relatif tidak stabil dalam bentuk larutan
Dimetabolisme dalam hati
Dimetabolisme dalam plasma oleh enzim
pseudocholinesterase
Masa kerja lebih panjang
Masa kerja pendek
Pka rendah
Pka tinggi
Tidak bersifat allergen
Dapat bersifat allergen

B. MEKANISME KERJA
Anestetik lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf.Tempat
erjanya di membrane sel efeknya pada aksoplasma hanya sedikit saja.Sebagaimana
diketahui, potensial aksi saraf terjadi karena ada peningkatan sesaat (sekilas)
permeabilitas membran terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membran.
Proses fundamental inilah yang dihambat oleh anestetik lokal, hal ini terjadi akibat
adanya interaksi langsung antara zat anestetik lokal dengan kanal Na + yang peka
terhadap adanya perubahan voltase muatan listrik (voltage sensitive Na+ channel).
Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf, maka ambang
rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial
aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengamanan (safety factor)
konduksi saraf juga berkurang. Faktor-faktor ini akan mengakibatkan pengurangan
menjalarnya potensial aksi dan dengan demikian mengakibatkan kegagalan konduksi
saraf.

Gambar 2. Mekanisme kerja anestesi lokal


3

Anestetik lokal juga mengurangi permeabilitas membrane bagi K+ dan Na+


dalam keadaan istirahat, sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak
perubahan pada potensia;l istirahat. Hasil penelitian membuktikan bahwa anestetik
lokal menghambat hantaran saraf tanpa menimbulkan depolarisasi saraf, bahkan
ditemukan hiperpolarisasi ringan.Pengurangan permeabilitas membran oleh anestesia
lokal juga timbul pada otot rangka baik waktu istirahat atau waktu terjadinya
potensial aksi.
Potensi berbagai zat anestetik lokal sejajar dengan kemampuannya untuk
meninggikan tgangan selaput lipid monomolekular. Mungkin sekali anestetik lokal
meninggikan tegangan permukaan lapisan lipid yang merupakan membrane sel saraf,
dengan demikian menutupi pori dalam membrane sehingga menghambat gerak ion
melalui membran. Hal ini akan menyebabkan penurunan permeabilitas membran
dalam keadaan istirahat sehingga akan membatasi peningkatan permeanilitas Na +.
dapat dikatakan bahwa cara kerja utama obat anestetik lokal ialah bergabung dengan
reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na+ sehingga mengakibatkan terjadinya
blokasde pada kanal tersebut dan hal ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion
melalui membran.
1. Persediaan Sensitivitas Serat Saraf
Pada umumnya serabut saraf kecil lebih peka terhadap anestetik lokal.Serabut
saraf kecil yang tidak bermielin pada umumnya lebih cepat dihambat daripada
serabut bermielin. Faktor lain yang menentukan kepekaan saraf terhadap anestetik
lokal ialah tipe serabut secara anatomis. Kepekaan serabut saraf terhadap anestetik
lokal tidak tergantung dari fungsi serabut itu, dengan demikian serabut sensorik
maupun motorik yang sama besar tidak berbeda kepekaannya. Kepekaan serabut
halus bermielin melebihi kepekaan serabut besar bermielin. Sekiranya tempat
kerja anestetik lokal berlokasi dalam aksoplasma maka serabut halus yang
memiliki permukaan yang lebih luas per unit volume akan menyerap anestetik
lokal lebih cepat daripada serabut besar dan dapat dimengerti bahwa serabut kecil
akan lebih cepat mengalami efek anestetik lokal.
Bila anestetik lokal dikenakan pada saraf sensorik, maka yang hilang bertuturturut adalah modalitas nyeri, dingin, panas, raba, dan tekanan dalam.Sebaliknya
4

anestesia

akibat

penekanan

serabut

saraf

pertama-tama

ditandai

oleh

menghilannya rasa raba, dan modalitas nyeri hilang paling akhir.Diduga bahwa
impuls rasa raba dihantarkan oleh serabut yang lebih besar sedangkan nyeri oleh
serabut kecil.
2. Pengaruh pH
Dalam bentuk basa bebas anestesi lokal hanya sedikit larut dan tidak stabil dalam
bentuk larutan.Oleh karena itu, anestetik lokal diperdagangkan dalam bentuk
garam yang mudah larut di dalam air, biasanya garam hidroklorid.Anestetik lokal
merupakan basah lemah tetapi larutan asamnya bersifat agak asam hal ini
menguntungkan karena menambah stabilitas anestetik lokal tersebut.Banyak bukti
yang menunjukan bahwa dalam jaringan, garam asam ini harus dinetralkan lebih
dahulu dan dilepaskan suatu basa bebas sebelum obat tersebut menembus jaringan
dan menghasilkan efek anestetik. Anesteti lokal yang digunakan umumnya
mengandung atom N tersier atau sekunder oleh karena itu tergantung dari pKa dan
pH larutan akan terbentuk amin tersier atau sekunder yang tidak bermuatan listrik
atau terbentuk kation ammonium.
Anestetik lokal yang biasanya digunakan mempunyai pKa antara 8-9, sehingga
pada pH jaringan tubuh hanya didapati 5-20% dalam bentuk basa bebas.Bagian ini
walaupun kecil sangat penting, karena untuk mencapai tempat kerjanya obat harus
berdifusi melalui jaringan penyambung jaringan dan membran sel lain, dan hal ini
hanya mungkin terjadi dengan bentuk amin yang tidak bermuatan listrik.
3. Perpanjangan efek oleh vasokonstriktor
Masa kerja anastetik lokal berbanding langsung dengan waktu kontak aktifnya
dengan saraf. Akibatnya tindakan yang dapat melokalisasi obat pada saraf akan
memperpanjang

waktu

anesthesia.

Kokain

sendiri

dapat

menyebabkan

vasokonstriksi dengan demikian memperlamabat penyerapannya sehingga masa


kerja kokain lebih panjang daripada anestetik lokal lain. Penambahan epinefrin
pada anestetk lokal akan memperpanjang dan memperkuat kerja anestetik lokal.
Dalam klinik larutan suntik anestesi lokal biasanya mengandung epinefrin (1
dalam 200.000 bagian), norepinefrin (1:100.000 bagian) atau fenilefrin. Pada
umumnya zat konstriktor ini harus diberikan dalam kadar efektif minimal.
Epinefrin mengurangi kecepatan absorbsi anestetik lokal sehingga akan
mengurangi juga toksisitas sistemiknya.
5

Sebagian vasokonstriktor mungkin akan diserap dan bila jumlahnya cukup banyak
akan menimbulkan efek samping misalnya gelisah, takikardi, palpitasi dan nyeri
di dada. Untuk mengurangi perangsangan adrenergik yang berlebihan dan yang
tidak diinginkan tersebut, perlu dipertimbangkan penggunaan obat penghambat
alfa atau beta adrenergic.Mungkin pula terjadi perlambatan penyembuhan luka,
edema atau nekrosis.Efek yang terakhir ini dapat terjadi karena amin
simpatomimetik menyebabkan peninggian pemakaian oksigen jaringan dan
dengan adanya vasokonstriksi terjadi hipoksia atau kerusakan jaringan setempat.
Keadaan ini akan membahayakan bila zat anestetik lokal digunakan pada tindaan
pembedahan jari tangan atau kaki atau sirkumsisi. Vasokonstriksi pembuluh nadi
utama yang hanya mempunyai sedikit sirkulasi kolateral akan menimbulkan
kerusakan jaringan yang ireversibel atau ganggren. Selain itu, zat anestetik lokal
sendiri mungkin dapat mengganggu proses penyembuhan luka.
C. FARMAKOKINETIK
1. Lipid solubility
Hubungan

antara

kelarutan

lemak

dengan

potensi

obat

berbanding

lurus.Lipid/Water solubility ratio, menentukan Onset of Action. Semakin


tinggi kelarutan dalam lemak akan semakin tinggi potensi anestesi local.
2. Protein binding
Lama kerja obat lokal anestesi bergantung pada kemampuannya beriikatan
dengan protein. Bagian yang bertanggung jawab untuk aksi anestesi lokal adalah
kanal sodium yang merupakan molekul protein oleh karena itu ikatan yang
semakin tinggi akan mempengaruhi lama kerja obat anestesi lokal. Semakin
tinggi ikatan dengan protein akan semakin lama durasi nya.
Anestetik lokal golongan amida 55-95% diikat protein plasma terutama 1glikoprotein.Kadar protein ini dapat meningkat pada karsinoma, trauma, infark
miokard, merokok dan uremia atau dapat menurun pada penggunaan
pilkontrasepsi. Perubahan kadar protein ini dapat menyebabkan perubahan kadar
anestetik lokal yang dibawa ke hati untuk dimetabolisme sehingga akan
mempengaruhi toksisitas sistemiknya.
3. pKa
6

pKa suatu zat kimia diartikan sebagai pH. Onset anelgesia tergantung bentuk basa
(yang tidak bermuatan) dalam suatu larutan.Jumlah bentuk basa yg terbentuk
berbanding terbalik pKa suatu obat anestesi lokal.Semakin tinggi pKa semakin
lambat onset anelgesinya. Obat anestesi lokal yang mempunyai pKa yang
mendekati pH tubuh (7,35-7,45) onset anelgesia lebih cepat.
D. FARMAKODINAMIK
1. Sistem saraf pusat
Semua anestetik lokal merangsang SSP, menyebabkan kegelisahan dan tremor
yang mungkin berubah menjadi kejang klonik.Secara umum, semakin kuat suatu
anestetik makin mudah menimbulkan kejang. Perangsangan ini akan diikuti
depresi dan kematian biasanya terjadi karena kelumpuhan napas. Penggunaan
perangsangan napas tidak efektif sebab anestetik lokal sendiri merangsang
pernapasan, depress napas timbul karena perangsangan SSP berlebihan.
Perangsangan yang kemudian disusul oleh depresi pada pemakaian anastetik lokal
itu hanya disebabkan oleh depresi pada aktivitas neuron.Perangsangan terjadi
karena adanya depresi selektif pada neuron penghambat.
Pada keracunan lanjut disamping memperbaiki pernapasan penting juga
mengggunakan hipnotik untuk mencegah dan mengobati kejang.Dosis sedatif
barbiturat kurang bermanfaat untuk kejang akibat keracunan anestetik
lokal.Dalam hal ini pemberian diazepam IV merupakan obat terpilih, untuk
mencegah maupun untuk menghentikan kejang.Kokain sangat kuat untuk
merangsang

korteks,

dan

menimbulkan

adiksi

pada

penggunaan

berulang.Sebaliknya anestetik lokal sintetik umumnya kurang merangsang korteks


dan tidak menyebabkan adiksi.

2. Sambungan saraf otot dan ganglion


Anestetik lokal dapat mempengaruhi tranmisi di sambungan saraf otot, yaitu
menyebabkan berkurangnya respon otot atas rangsangan saraf atau suntikan
asetilkolin intra-ateri, sedangkan perangsangan listrik langsung pada otot masih
menyebabkan kontraksi.Prokain dapat mengurangi produksi asetilkolin pada
ujung saraf motorik.Khasiat prokain dan fisostigmin berlawanan.Prokain dan
7

kurare bersifat adiktif.Berbeda dengan kurare, prokain memiliki efek nyata pada
akhir serabut praganglion dan pada sel ganglion.
3. Sistem Kardiovaskular
Pengaruh utama anestetik lokal pada miokard ialah menyebabkan penurunan
eksitabilitas, kecepatan konduksi dan kekuatan kontraksi.Anestetik lokal sintetik
juga menyebabkan vasodilatasi arteriol. Efek anestetik lokal terhadap sistem
kardiovaskular biasanya baru terlihat sesudah dicapai kadar obat sistemik yang
tinggi dan sesudah menimbulkan efek pada SSP. Walaupun jarang, pada
pemakaian anestetik lokal dosis kecil untuk anestesia infiltrasi dapat terjadi kolaps
kardiovaskular dan kematian.
4. Alergi
Dermatitis alergi, serangan asma atau reaksi anafilaktik yang fatal dapat timbul
akibat anestetik lokal.Reaksi alergi ini terutama terjadi pada penggunaan obat
anestetik lokal golongan ester yang pada hidrolisis dihasilkan asam para
aminobenzoat (PABA) dan diduga menimbulkan reasi alergi.Sedangkan golongan
amida boleh dikatakan tidak menimbulkan reaksi hipersensitivitas namun bahan
pengawet yang terdapat di dalam larutan dapat juga menimbulkan reaksi alergi.
Tabel 2. Perbedaan antara intoksikasi dan alergi
Intoksikasi

Alergi

Berlaku umum
Tergantung dosis
Gejala berbeda
Pengobatan berbeda

Individual
Tidak tergantung dosis
Gejala sama
Pengobatan sama

Tabel 3. Gejala intoksikasi akibat obat anestetik lokal


Gejala CNS
Gejala CVS
Tinitus
Takikardi
Visual disturbance
Bradikardi
Takipneu
Hipotensi
Twiching
Hipertensi
Konvulsi
Cardiac arrest
Koma
Apneu

5. Biotranformasi

Toksisitas suatu anestesi lokal sebagian besar tergantung keseimbangan antara


kecepatan absorbsi dan kecepatan destruksinya.Kecepatan absorbsi dapat
diperlambat oleh vasokonstriktor maka ecepatan destruksinya yang berbeda-beda
merupakan faktor utama yang menentukan aman atau tidaknya suatu anestesi
lokal.Sebagian besar anestesi lokal adalah golongan ester dan biasanya
toksisitasnya hilang setelah mengalami hidrolisis di hati dan plasma. Anestetik
golongan amida misanya lidokain akan mengalami destruksi di dalam retikulum
endoplasma hati, mula-mula terjadi proses N-dealkilasi yang disusul dengan
hidrolisis

sebaliknya

prilokain

mula-mula

mengalami

hidrolisis

yang

menghasilkan metabolit o-toluidin yang dapat menyebabkan methemoglobinemia.


Anestetik lokal golongan ester mengalami degradasi oleh esterase hati dan juga
oleh suatu esterase plasma yang mungkin sekali kolinesterase.Pada manusia
degradasi dengan esterase plasma ini sangat penting karena degradasi prokain
terutama terjad didalam plasma hanya sebagian kecil saja dihati.Pada penyuntikan
intratekal anestesia dapat berlangsung lama dan baru berakhir setelah anesthesia
lokal tersebut diserap kedalam darah, karena cairan serebrospinal mungkin tidak
mengandung esterase.
Pada manusia sebagian besar kokain mengalami degradasi di dalam hati
sedangkan pada kelinci degradasi sebagian besar kokain terjadi didalam plasma.
Oleh karena itu tiap anestetik lokal dimetabolisme di tempat yang berbeda-beda
maka urutan relatif mengenai kekuatan dan toksisitas suatu anestetik lokal
biasanya tergantung dari cara pemberian dan spesies hewan yang digunakan. Ini
berate bahwa kita harus berhati-hati dalam menilai kekuatan dan keamanan suatu
anestetik lokal baru.

Anestetik lokal yang dirusak di dalam hati secara lambat sebagian akan dikeluarkan
bersama urin.

Tabel 5.Dosis anestesi lokal


Tabel 4. Dosis anestesi lokal
Obat
Lidokain 1%
Prilokain 1%
Lidokain 1% + epinefrin 5g/ml(1:200.000)
Bupivakain 0,25%
Bupivakain 0,25% +epinefrin 5g/m
(1:200.000)

Dosis
maxsimum
(mg/kgBB)
4
6
7
1,5
2

Dosis maximum
untuk orang
dewasa dengan
BB 60 Kg (ml)
24
36
42
36
48

E. MACAM-MACAM OBAT ANESTESI LOKAL


1. Kokain
Didapat dari daun Erthroxylon coca, bekerja menghambat hantaran saraf.Efek
sistemiknya paling mencolok yaitu rangsangan SSP di kortex.Dapat menyebabkan
banyak bicara, gelisah dan euforia.Dapat juga merangsang pada batang otak, pusat
vasomotor dan pusat muntah.Pada sistem kardiovaskular, dosis besar dapat

10

menyebabkan kematian akibat payah jantung.Suhu badan.Pada keracunan kokain tjd


pireksiaSistemsaraf

simpatis

terstimulasi

menyebabkan

sensitisasi

terhadap

katekolamin yang menyebabkan vasokonstriksi dan midriasis.Kokain diabsorbsi


disegala tempat termasuk selaput lendir.Namun mudah terhidrolisis di usus
besar.Dosis fatal adalah 1,2 gr.
2. Lidokain
Lidokain (xilokain) adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas
dengan pemberian topical dan suntikan.Anestesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih
lama dan lebih ekstensif daripada yang ditimbulkan oleh prokain pada konsentrasi
yang sebanding.Lidokain merupakan aminoeilamid dan merupakan prototip dari
anestesi lokal golongan amide. Larutan lidokain 0,5% digunakan untuk anestesia
infiltrasi sedangkan 1,0-2% untuk anestesia blok dan topical. Anestesia ini efektif
bila digunakan tanpa vasokonstriktor tetapi kecepatan absorbsi dan toksisitasnya
bertambah dan masa kerjanya lebih pendek.Lidokain merupaka obat pilihan bagi
mereka yang hipersensitif terhadap anestetik lokal golongan ester. Sediaan berupa
0,5-5% dengan atau tanpa epinefrin (1:50.000 atau 1: 200.000).
Sediaan lidokain (murni) dengan dosis total kurang dari 300 mg dalam waktu
24 jam, bila dengan epinefrin dosis berupa 500 mg dalam waktu 24 jam.Untuk
kedokteran gigi (larutan 1-2% dengan epinefrin). Anestesi rongga mulut,
kerongkongan dan saluran cerna bagian atas yaitu larutan 1-4 % dengan dosis
maksimal 1 gram sehari dibagi dalam beberapa dosis
Lidokain dapat diserap dari tempat suntikan, saluran cerna dan saluran
pernapasan serta dapat melewati sawar darah otak. Kadarnya dalam plasma darah
fetus dapat mencapai 60% kadar dalam darah ibu. Dalam hati lidokain mengalami
dealkilasi oleh enzim oksidase fungsi ganda (mixed-function oksidases) membentuk
monoetilglisin xilidid dan glisin xilidid.Kedua metabolit ini masih memiliki efek
anestetik lokal.
Efek samping
Efek samping berhubungan dengan efek terhadap sistem saraf pusat misalnya
mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma dan
kejang.Mungkin sekali metabolit lidokain yaitu monoetilglisin xilidid dan glisisn
xilidid ikut berperan dalam timbulnya efek samping ini.Lidokain dosis berlebihan
dapat menyebabkan kematian oleh fibrilasi ventrikel atau oleh henti jantung.
Indikasi
11

Lidokain sering digunakan pada anstesi infiltrasi, blok saraf, anestesia spinal,
anstesia epidural mauapun kaudal dan secara setempat untuk anestesia selaput lendir,
Tabel 6. Berbagai sediaan lidokain
NAMA
PT
ISI
INDIKASI
EMLA

Astrazen
ca

Lidokain 25
mg +
prilokain 25
mg

Anestesi topical
pada kulit yang
berhubungan
dengan jarum
suntik dan
prosedur
pembedahan
superfisial
Anesttikum lokal

Extracai
n

Ethica

Lidokain HCl
2% +
adrenalin
1:100000

Pehacai
n

Pharpos

Lidokain HCl
2% dalam
(1:80.000)
tiap 2 ml inj.

Anestetikum
lokal

Xylocai
n

Astrazen
ca

Lidokain
20mg/ml inj.
Atau jeli atau
spray 10%

Anestesi

infiltrasi, perifer
dan blok saraf
pusat, anestesi
regional iv, blok
terapeutik dan

diagnosis

SEDIAAN
Krim 5 gr Rp.
44.000

Dus 100 amp.


2 ml 135.000

Polyampul 20
ml 2%
Rp.260.000
10 syringe 10
gr jeli 2% Rp.
531.000
Botol 10%
spray
Rp.265.000

3. Prokain
Prokain merupakan golongan ester.Mula kerja lambat dan masa kerja
pendek.Dihidrolisis menjadi PABA (para amino benzoid acid) yang dapat
menghambat kerja sulfonamid dan bersifat alergen.
4. Bupivakain

12

Struktur mirip lidokain bedanya gugus yang mengandung amin adalah butil
piperidin.Masa kerja panjang, efek blokade sensorik lebih besar daripada
motorik.Dosis besar dapat menyebabkan aritmia ventrikular dan depresi miokard.
Larutan bupivakain hidroklorida 0,25% utk infiltrasi dan 0,5% utk paravertebral.
5. Dibukain
Dibukain merupakan derivat kuinolon.Paling kuat, paling toksic dan masa
kerja panjang.Sudah tidak digunakan sebagai preparat suntik, kecuali anestesi spinal.
6. Mepivakain HCL
Toksik untuk neonatus sehingga tidak untuk anestesia obstetrik.Tidak efektif
untuk topical anestesi.Sediaan untuk suntikan berupa 1%, 1,5% dan 2%
7. Tetrakain
Jarang digunakan setelah adanya bupivakain.Diperlukan dosis besar dan mula
kerja lambat namun masa kerja lebih lama pada anestesi spinal.Pemberian IV ,10x
lebih aktif dan toksik dari prokain. Biasanya digunakan pada mata berupa larutan
tetrakakin 0,5%, untuk hidung dan tenggorok berupa 2%. Untuk anestesi spinal dosis
total 10-20 mg.

8. Prilokain
Mula kerja dan masa kerja lebih lama.Efek vasodilatasi lebih kecil sehingga
tidak perlu vasokonstriktor.Toksisitas terhadap susunan saraf pusat lebih rendah
sehingga aman untuk blockade intravena.Sediaan suntikan: 1,0% , 2,0% dan 3,0%.

F. TEKNIK PEMBERIAN ANESTESI LOKAL


1.

Anestesia permukaan
Krioanestesi
Anestesi semprot yang pertama kali digunakan yaitu etil klorida, dengan efek
samping mudah meledak jika bercampur dengan udara, dapat menyebabkan
hepatotoksisitas, dan jika uapnya terhirup dalam jumlah besar dapat menyebabkan
anestesi sistemik.

13

Anestesi Topikal
EMLA (eutectic mixture of local anesthetics) lidokain 2,5% + prilokain 2,5%
dalam vehikulum khusus. Pada bayi, EMLA dapat menjadi pilihan untuk
sirkumsisi.

Gambar 3. Aplikasi anestesi permukaan


2.

Anestesi infiltrasi
Tujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui kontak langsung

dengan obat. Pada umumnya, injeksi infiltrasi tidak dilakukan secara langsung pada
lesi tetapi justru pada sekitar lesi, dengan beberapa tusukan membentuk suatu cincin
untuk mencakup seluruh area operasi

Gambar 4. Anestesi infiltrasi pada sekitar luka


Anestesi regional dapat dicapai dengan injeksi obat anestesi berdurasi kerja
panjang pada daerah proksimal lokasi operasi, di sekitar saraf sensorik utama.
3.

Daerah Wajah
Daerah dahi disarafi oleh saraf supraorbitalisdan supratroklearis. Saraf

supraorbitalis keluar dari foramen supraorbitalis, yang dapat diraba sepanjangbatas


atas orbita, kira-kira 2,5 cm lateral garis tengah wajah. Blok saraf ini dapat dilakukan

14

dengan injeksi 2-3 ml lidokain 1% ke dalam foramen supraorbitalis.Sedangkan saraf


supratroklearis keluar di sepanjang batas atas orbita, kira-kira 1 cm medial foramen
supraorbitalis. Blok saraf supratroklearis dilakukan dengan injeksi 2-3 ml lidokain
1% pada batas atas orbita, 1 cm medial foramen supraorbitalis. Untuk blok kedua
saraf sekaligus, infiltrasi 5-7 ml lidokain 1% dilakukan pada dua pertiga tengah alis,
tepat di atas tulang orbita.

Gambar 4. Blok saraf daerah wajah


Saraf infraorbitalis mensarafi daerah sentral wajah, mencakup bibir atas, pipi,
dan sebagian cuping hidung.Saraf ini keluar dari foramen infraorbitalis, yang terletak
tepat di bawah orbita, sedikit ke arah nasal terhadap garis imajiner yang ditarik dari
pertengahan kelopak mata bawah. Untuk blok saraf, jarum ditusukkan sekitar 1 cm
inferior foramen infraorbitalis dan didorong ke arah foramen, kemudian masukkan 24 ml lidokain 1%.
Telinga disarafi oleh saraf aurikularis, osipital, dan aurikulotemporalis. Injeksi
10-20 ml obat anestesi di atas dan bawah daun telinga akan menghasilkan blok
berbentuk belah ketupat. Bibir atas dianestesi dari dua titik, masing-masing pada tiap
sudut mulut.Secara keseluruhan, sepanjang dua garis ke arah ala nasi disuntikkan 510 ml obat anestesi.
Bibir bawah dianestesi dari titik tengah dagu, kemudian jaringan ikat
diinfiltrasi secara oblik ke arah sudut mulut.Biasanya secara keseluruhan diperlukan
10-15 ml obat anestesi.

15

Gambar 5. Blok daerah bibir


Saraf mentalis memberi inervasi sensorik pada bagian anterior mandibula.Saraf
ini keluar dari foramen mentalis, yang terletak di antara batas atas dan bawah
mandibula serta berada dalam satu garis imajiner dengan foramen supraorbitalis,
pupil, dan foramen infraorbitalis. Jarum ditusukkan kurang lebih 1,5 cm
posterolateral foramen ke arah foramen, kemudian diinjeksikan 2-3 ml lidokain 1%.

Gambar 6. Blok daerah telinga


4.

Daerah Ekstremitas atas


Saraf medianus memberi sensasi pada sisi radial telapak tangan, sisi palmar ibu

jari, jari telunjuk, jari tengah, dan separuh jari manis, serta dasar kuku jari-jari
tersebut. Saraf medianus berada di antara tendo-tendo fleksor karpi radialis dan
palmaris longus, di bawah fleksor retinakulum.Kedua tendo tersebut dapat dikenali
dengan meminta pasien mempertemukan ibu jari dan jari kelingking.Jarum
disuntikkan dengan sudut 45 ke antara tendo-tendo pada lipatan pergelangan tangan
proksimal. Injeksi 2-5 ml obat anestesi lokal akan memblok nervus medianus. Jika

16

timbul parestesia, jarum harus ditarik sedikit (sekitar 2 mm) untuk menghindari
kerusakan serabut saraf atau injeksi intraneural.
Cabang superfisialis saraf radialis mensarafi dorsum tangan dan bagian
proksimal sendi interfalangeal distal tiga jari pertama. Sebelum mencapai
pergelangan tangan saraf ini memiliki banyak cabang, sehingga area yang perlu
dianestesi untuk mencapai blok total cukup luas. Pertama-tama, 3 ml lidokain 1%
diinjeksikan tepat di lateral arteri radialis pada lipatan pergelangan tangan
proksimal.Jarum kemudian digeser dan ditusukkansecara subkutan melintasi tepi
proksimal snuffbox menuju pertengahan sisi dorsal pergelangan tangan.Injeksi 5-7 ml
obat anestesi dilakukan secara melingkar sambil menarik jarum.
Saraf ulnaris bercabang ke palmar dan dorsal pada lipatan fleksor proksimal
pergelangan tangan, mensarafi bagian ulnaris permukaan palmar dan dorsal telapak
tangan dan jari kelingking, serta separuh bagian ulnaris jari kelingking. Injeksi 5-7
ml obat anestesi sedalam 1-2 cm ke daerah antara tendo fleksor karpi ulnaris dan
arteri ulnaris akan memblok cabang palmar dari saraf ulnaris. Cabang ulnaris dorsal
dapat diblok dengan infiltrasi 3-4 ml cairan pada daerah distal prosesus stiloideus
ulnaris.Kedua cabang saraf tersebut juga dapat diblok sekaligus pada siku. Caranya,
siku difleksikan 90, jarum ditusukkan 0,5 cm ke dalam kulit antara olekranon dan
epikondilus medialis, kemudian suntikkan 3-5 ml cairan. Risiko kerusakan saraf pada
prosedurini lebih tinggi karena saraf dapat terjebak di antara anestesi lokal dan
tulang, menyebabkan iskemia saraf.

17

Gambar 7. Blok pergelangan tangan


Kedua saraf yang berjalan pada tiap sisi jari tangan dan kaki dapat diblok
dengan injeksi pada tiap sisi jari.Jarum ditusukkan ke arah tulang, pada perbatasan
permukaan palmar dan dorsal jari, 1-2 cm distal sela jari.Anestesi diberikan dengan
jarum tegak lurus jari, kemudian sedikit bersudut ke arah palmar dan dorsal.Biasanya
hanya dibutuhkan 1,5 ml obat anestesi untuk tiap sisi jari.Jangan melebihi 4 ml
karena dapat menyebabkan cidera jaringan.

18

Gambar 8.Blok jari tangan maupun kaki.


5.

Daerah Ekstremitas bawah


Anestesi lokal pada telapak kaki relatif sulit karena rasa nyeri yang nyata saat

penetrasi; blok saraf regional seringkali lebih disukai. Blok pergelangan kaki
posterior digunakan untuk menganestesi telapak kaki melaluiblok saraf suralis dan
tibialis posterior. Saraf suralis berjalan di belakang fibula dan maleolus lateral, dan
mensarafi tumit dan sisi lateral kaki. Untuk melakukan blok saraf suralis, pasien
diposisikan telungkup dengan kaki sedikit dorsofleksi. Jarum ditusukkan di lateral
tendo Achilles dan 1-2 cm di atas ujung lateral maleolus.Obat anestesi disuntikkan
dengan pola sepertikipas dari satu sisi ke sisi lain untukmencakup seluruh persarafan.
Saraf tibialis terletak di antara malleolus medialis dan tendo Achilles,
mensarafibagian medial telapak kaki dansisi medial kaki.Saraf ini berjalan
diposterior

arteri

tibialis

posterior.Untukmemblok

saraf

tibialis,

pasien

diposisikantelungkup dengan kaki sedikitdorsofleksi.Jarum ditusukkan di anterior


tendo Achilles, 1-2 cm di atas malleolus medialis, kemudian didorong menuju arteri
tibialis posterior. Saraf tibialis terletak di bawah retinaculum fleksor yang padat,
sehingga masuknya jarum akan terasa saat menembus retinakulum. Sekitar 5 ml
lidokain 1% disuntikkan di sekitar saraf setelah dilakukan aspirasi untuk mencegah
injeksi intraarteri.Sambil menarik jarum, ditambahkan 5 ml lidokain lagi. Blok
pergelangan kaki anterior

digunakan untuk prosedur pada dorsum kaki dan

melibatkan anestesi saraf safena, serta saraf peroneus superfisial dan profunda.

19

Saraf peroneus profunda mensarafi ruang antara jari kaki pertama dan kedua;
terletak antara tendo tibialis anteriordan tendo ekstensor halusis longus.Pasien
diposisikan terlentang dan pergelangan kaki sedikit plantarfleksi,kemudian jarum
ditusukkan di bagian atas maleolus antara tendo-tendo tibialis anterior dan ekstensor
halusislongus. Tendo-tendo ini akan menonjol jika pergelangan kaki dalam posisi
dorsofleksi dan ibu jari kaki melawan tahanan. Jika arteri tibialis anterior teraba,
jarum ditusukkan tepat di lateral arteri, didorong ke dalam tendo di atas periosteum,
dan setelah aspirasi disuntikkan 5 ml lidokain 1%.
Saraf peroneus superfisial dapat diblok dengan menusukkan jarum tepat di
superoanterior maleolus medialis.Sekitar 5 ml obat anestesi disuntikkan subkutan di
antara tepi anterior tibia dan tepi superior maleolus lateralis.
Saraf safena yang berjalan di medial vena safena magna dapat diblok dengan
menusukkan jarum tepat di superoanterior maleolus medialis dan menyuntikkan 3-4
ml obat anestesi pada jaringan subkutan di sekitar vena safena magna.

Gambar 8. Blok pergelangan kaki


6.

Anestesi regional intravena.


Teknik ini dilakukan dengan menyuntikan anestesi lokal intravena pada lengan

yang diisolasi dari sirkulasi dengan tornikuet. Dengan teknik ini didapatkan analgesia
yang baik, tapi karena komplikasi dari tornikuet, sebaiknya digunakan terbatas untuk
tindakan yang kurang dari 1 jam. Pasien tiba-tiba pingsan, ini terjadi jika obat
anestesi lokal mengalir di bawah tornikuet selama penyuntikan atau ketika tornikuet
dilepaskan pada akhir tindakan. Sehingga alat resusitasi lengkap harus ada.

20

Gambar 9. anestesi intravena

Untuk mempersiapkan vena sepanjang waktu, sebaiknya pasanglah jarum atau


kanula ke dalam vena pada sisi kontralateral. Kemudian, pasanglah kanula pada
lengan yang akan dianestesi dan kosongkan darah dengan menggunakan
pembalut Es march, atau pada fraktur dengan meninggikan lengan selama 3
menit. Pasanglah tornikuet dan pompalah sampai 100 mmHg (13,3 kPa) di atas
tekanan sistolik pasien (jangan menggunakan manset tensimeter). Suntikan
prilokain 0,5% sebanyak 20-40 ml, atau lidokain 0,5% (tanpa epinefrin) melalui
kanula. Jangan menggunakan dosis bupivakain yang lebih tinggi, karena dapat
menyebabkan kematian bila diberikan secara intravena. Analgesia dimulai
setelah beberapa menit dan akan tetap bertahan selama tornikuet tetap
dipertahankan pada tekanan tersebut. Meskipun tindakan hanya membutuhkan
waktu yang singkat, biarkan tornikuet minimal 20 menit agar anestesi lokal
terikat pada jaringan dan untuk menghindari reaksi sistemik secara langsung ke
7.

dalam sirkulasi karena pelepasan tornikuet.


Anestesi Spinal, Epidural dan Kaudal
a. Anastesi Spinal
Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan
penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subaraknoid. Anestesi
spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok
intratekal. Anestesi spinal dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgesik lokal
ke dalam ruang subaraknoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4L5.
Indikasi:
Bedah ekstremitas bawah
Bedah panggul
Tindakan sekitar rectum perineum
21

Bedah obstetik-ginekologi
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya dikombinasikan

dengan anestesia umum ringan


Kontraindikasi absolut:
Pasien menolak
Infeksi pada tempat suntikan
Hypovolemia berat, syok
Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan
Tekanan intrakranial meningkat
Fasilitas resusitasi minim
Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsulen anestesi
Kontra Indikasi relatif:

Infeksi sistemik
Infeksi sekitar tempat suntikan
Kelainan neurologis
Kelainan psikis
Bedah lama
Penyakit jantung
Hypovolemia ringan
Nyeri punggung kronik

Persiapan analgesia
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada
anastesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelaina anaomis tulang punggung atau
pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu
perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:

Informed consent (izin dari pasien)


Kita tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui anestesia spinal
Pemeriksaan fisik
Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung dan
lain-lainnya.
Pemeriksaan laboratorium anjuran
Hemoglobin, hematocrit, PT (prothrombine time) dan PTT (partial

thromboplastine time).
Teknik anestesi spinal

22

Vertebra lumbalis merupakan vertebra yang paling penting dalam spinal


anestesi, karena sebagian besar penusukan pada spinal anestesi dilakukan pada
daerah ini. Kolumna vertebralis terdiri dari 33 korpus vertebralis yang dibagi
menjadi 5 bagian yaitu 7 servikal, 12 thorakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 4 koksigeus. 2,3

gambar 10. penampamg vertebra


Segmen medulla spinalis terdiri dari 31 segmen : 8 segmen servikal, 12
thorakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 1 koksigeus yang dihubungkan dengan melekatnya
kelompokkelompok saraf. Lapisan yang harus ditembus untuk mencapai ruang
subarakhnoid dari luar yaitu kulit, subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum
flavum dan duramater.Arakhnoid terletak antara duramater dan piamater serta
mengikuti otak sampai medulla spinalis dan melekat pada duramater. Antara
arakhnoid dan piamater terdapat ruang yang disebut ruang sub arakhnoid.2,3
Duramater dan arakhnoid berakhir sebagai tabung pada vertebra sakral 2,
sehingga dibawah batas tersebut tidak terdapat cairan serebrospinal. Ruang sub
arachnoid merupakan sebuah rongga yang terletak sepanjang tulang belakang berisi
cairan otak, jaringan lemak, pembuluh darah dan serabut saraf spinal yang berasal
dari medulla spinalis. Pada orang dewasa medulla spinalis berakhir pada sisi bawah
vertebra lumbal.2,3,4

23

Gambar 11. Penampang melintang vertebra dan medulla spinalis

Pada dasarnya persiapan pasien untuk analgesia spinal seperti persiapan pada
anesthesia umum.Hal ini bertujuan sebagai antisipasi perubahan mendadak tekanan
darah, laju nadi, atau masalah oksigenasi.Harus ada akses intavena yang adekuat dan
perlengkapan monitor pasien misalnya EKG, monitor tekanan darah non invasive,
atau kateter arterial, dan pulse oxymeter.Monitoring suhu badan sebaiknya disiapkan
karena pasien dapat terserang hipotermia selama spinal atau epidural, terutama pada
operasi yang lama. Mesin anestesi, sungkup muka, sumber O 2, dan suction harus
tersedia dan siap pakai. Obat-obatan sedasi, induksi, emergensi dan pelumpuh otot
harus tetap tersedia meskipun tidak langsung di dalam spuit.Alat-alat manajemen
napas seperti pipa endotrakea, laringoskop, dan pipa orofaringeal harus juga
tersedia.3,4,5
Teknik anestesi regional antara lain :3,4
1. Setelah diberi monitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus
lateral. Beri bantal kepala, selain nyaman bagi pasien juga agar tulang
belakang stabil. Buat pasien membungkuk maksimal agar prosesus spinosus
mudah teraba. Posisi lain ialah duduk.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan
tulang ialah L4 atau L4-5. Tentukan tempat tusukan misalnya L2-3, L3-4
atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau di atasnya berisiko trauma terhadap
medulla spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alcohol.

24

4. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2% 23 ml.
5. Cara tusukan median atau para median. Untuk jarum spinal besar 22 G, 23 G
atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27 G atau
29 G, dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum
suntik biasa semprit 10 cc. tusukan introducer sedalam kira-kira 2 cm agak
sedikit ke arah sefal, kemudian masukan jarum spinal berikut mandrinnya ke
lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock)
irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan duramater, yaitu pada posisi tidur
miring bevel menghadap ke atas atau ke bawah, untuk menghindari
kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal.
Setelah resistensi menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keluar
likuor, pasang semprit beri obat dan obat dapat dimasukan pelan-pelan (0,5
ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk menyakinkan posisi jarum
tetap baik. Bila telah yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan
likuor tidak keluar, putar arah jarum 900 biasanya likuor keluar. Untuk
analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter.
6. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hemoroid dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulit-ligamentum flavum
dewasa 6 cm.
2. Anestesia epidural
Anestesia atau analgesia epidural ialah blockade saraf dengan menempatkan
obat di ruang epidural (peridural, ekstradural).Ruang ini berada di antara ligamentum
flavum dan duramater.Bagian atas berbatasan dengan foramen magnum di dasar
tengkorak dan dibawah dengan nselaput sakrokoksigeal.Kedalaman ruang ini ratarata 5 mm dan di bagian posterior kedalaman maksimal pada daerah lumbal.

25

Obat anestetik lokal di ruang epidural bekerja langsung pada akar spinal
yang terletak di bagian lateral.Awal kerja anestesia epidural lebih lambat
disbanding spinal, sedangkan kualitas blockade sensorik-motorik juga lebih
lemah.
Indikasi anestesia epidural:
Pada umumnya indikasi epidural anestesi sama dengan spinal anestesi.
Sebagai keuntungan epidural anestesi adalah anestesi dapat diberikan secara
kontinyu setelah penempatan cateter epidural, oleh karena itu tehnik ini cocok
untuk pembedahan yang lama dan analgesia setelah pembedahan.
Indikasi Khusus:
Pembedahan sendi panggul dan lutut.
Dibandingkan dengan anestesi umum, anestesi epidural untuk pembedahan
panggul dan lutut dapat mengurangi insidens trombosis vena. Penyebab
kematian

pasien yang menjalani pembedahan sendi yang total adalah

emboli paru. Lagi

pula

kehilangan darah selama pembedahan sendi

panggul lebih kecil pada pemakaian tehnik anestesi epidural.


Revaskularisasi ektremitas bawah
Penelitian menunjukkan bahwa anestesia epidural pada pasien dengan
penyakit pembuluh darah periper, aliran darah kedistal selama rekonstruksi
pembuluh darah

anggota

gerak bagian

bawah adalah baik dan

penyumbatan cangkokan pembuluh darah setelah operasi adalah kecil

dibandingkan dengan anestesi umum.


Persalinan.
Pasien-pasien obsteric yang takut nyeri melahirkan dapat ditangani dengan
epidural anestesi dan memperoleh bayi dengan riwayat biokemia yang baik
dari pada bayi dilahirkan pada ibu yang diberikan opioid atau anetestetik

lainnya secara intravena.


Penanganan nyeri post operasi
Anestesi local konsentrasi rendah dan opoid atau kombinasi obat ini dengan
analgesik lain adalah manjur pada kontrol nyeri post operasi. Analgesia
post operasi ini memudahkan ambulatory dini dan kerja sama yang baik
dengan phisio terapi.

Kontra Indikasi:
Absolut :

26

Pasien tidak setuju


Infeksi local pada daerah kulit yang akan ditusuk.
Sepsis generalisata (seperti septicemia, bacteremia).
Koagulopathi.
Alergi terhadap suatu jenis anestetik local.
Peningkatan tekanan intracranial.

Relatif:

Hipovolemia
Penyakit SSP
Nyeri punggung kronik.
Pasien yang mendapat obat penghambat platelet, termasuk aspirin,
dripiridamol, dan NSAID

Teknik Analgesia Epidural


Pengenalan ruang epdural lebih sulit disbanding dengan ruang subaraknoid.
1. Posisi pasien pada saat tusukan seperti pada analgesia spinal
2. Tusukan jarum epidural biasanya dikerjakan pada ketinggian L3-L4,
karena jarak antara ligamentum flavum-duramater pada ketinggian ini
adalah yang terlebar.
3. Jarum epidural yang digunakan ada dua macam
a. Jarum ujung tajam (Crawford)
Untuk dosis tunggal
b. Jarum ujung khusus (Tuohy)
Untuk pemandu memasukkan kateter ke ruang epidural.Jarum ini
biasanya ditandai setiap cm.

Gambar 12. Posisi tangan pada jarum epidural

4. Untuk mengenal ruang epidural digunakan banyak teknik. Tetapi yang


paling populer ialah teknik hilangnya resistensi dan teknik tetes
tergantung.
Teknik hilangnya resistensi (loss of resistance)
27

Teknik ini menggunakan semprit kaca atau semprit plastik rendah


resistensi yang diisi oleh udara atau NaCl sebanyak 3 ml. setelah
diberikan anestetik lokal pada tempat suntikan, jarum epidural
ditusukkan sedalam 1-2 cm. Kemudian udara atau NaCl disuntikan
perlahan-lahan secara terputus-putus (intermiten) sambil mendorong
jarum epidural sampai terasa menembus jaringan keras (ligamentum
flavus) yang disusul hilangnya resistensi. Setelah yakin ujung jarum

berada dalam ruang epidural, dilakukan uji dosis (test dose)


Teknik tetes tergantung (hanging drop)
Persiapan sama seperti teknik hilangnya resistensi, tetapi pada teknik
ini hanya menggunakan jarum epidural yang diisi NaCl sampai
terlihat ada tetes NaCl yang menggantung. Dengan mendorong jarum
epidural perlahan-lahan secara lembut sampai terasa menembus
jaringan keras yang kemudian disusul oleh tersedotnya tetes NaCl ke
ruang epidural.Setelah yakin ujung jarum berada dalam ruang
epidural, dilakukan uji dosis (test dose).

Gambar13 . Cara memasukkan jarum kedalam ruang epidural

5. Uji dosis (test dose)


Uji dosis anestetik lokal untuk epidural dosis tunggal dilakukan setelah
ujung jarum diyakini berada dalam ruang epidural dan untuk dosis
berulang (kontinyu) melalui kateter. Masukkan anestetik lokal 3 ml yang
sudah bercampur adrenalin 1:200.000.
Tak ada efek setelah beberapa menit, kemungkinan besar letak jarum

atau kateter benar


Terjadi blokade spinal, menunjukkan obat masuk ke ruang
subaraknoid karena terlalu dalam.

28

Terjadi peningkatan laju nadi sampai 20-30%, kemungkinan obat

masuk vena epidural.


6. Cara penyuntikan
Setelah diyakini posisi jarum atau kateter benar, suntikan anestetik lokal
secara bertahap setiap 3-5 menit sebanyak 3-5 ml sampai tercapai dosis
total. Suntikan terlalu cepat menyebabkan tekanan dalam ruang epidural
mendadak tinggi, sehingga menimbulkan peninggian tekanan intrakranial,
nyeri kepala dan gangguan sirkulasi pembuluh darah epidural.
7. Dosis maksimal dewasa muda sehat 1.6 ml/segmen yang tentunya
bergantung pada konsentrasi obat. Pada manula dan neonates dosis
dikurangi sampai 50% dan pada wanita hamil dikurangi sampai 30%
akibat pengauh hormon dan mengecilnya ruang epidural akibat ramainya
vaskularisasi darah dalam ruang epidural
8. Uji keberhasilan epidural
Keberhasilan analgesia epidural:
Tentang blok simpatis diketahui dari perubahan suhu (cold test)
Tentang blok sensoris dari uji tusuk jarum (pin prick test)
Tentang blok motorik dari skala Bromage
Tabel 1. Skala Bromage untuk blok motorik

Blok tak ada


Blok parsial
Blok hampir lengkap
Blok lengkap

Melipat Lutut
++
+
-

Melipat Jari
++
++
+
-

Komplikasi:

Blok tidak merata


Depresi kardiovaskuler (hipotensi)
Hipoventilasi (hati-hati keracunan obat)
Mual-muntah

3. Anestesia Kaudal
Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesia epidural, karena
kanalis kaudalis adalah kepanjangan dari ruang epidural dan obat ditempatkan di
ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Hiatus sakralis ditutup oleh ligamentum
sakrokogsigreal tanpa tulang yang analog dengan gabungan antar ligamentum

29

supraspinosum, ligamentum interspinosum dan ligamentum flavum.Ruang


kaudal berisi saraf sacral, pleksus venosus, felum terminale dan kantong dura.
Indikasi:Bedah daerah sekitar perineum, anorektal misalnya hemoroid,
fistula paraanal.Kontraindikasi: Seperti analgesia spinal dan analgesia epidural
Teknik anestesi kaudal
1. Posisi pasien telungkup dengan simfisis diganjal (tungkai dan kepala lebih
rendah dari bokong) atau dikubitus lateral, terutama pada wanita hamil.
2. Dapat digunakan jarum suntik biasa atau jarum dengan kateter vena
(venocath, abbocath) ukuran 20-22 pada pasien dewasa.
3. Pada dewasa biasanya digunakan volume 12-15 ml (1-2 ml/segmen)
4. Pada anak prosedur lebih mudah
5. Identifikasi hiatus sakralis diperoleh dengan menemukan kornu sakralis
kanan dan kiri yang sangat mudah teraba pada penderita kurus dan spina
iliaka superior posterior. Dengan menghubungkan ketiga tonjolan tersebut
diperoleh hiatus sakralis.
Setelah dilakukan tindakan dan antiseptic pada daerah hiatus sakralis,
ditusukkan jarum yang mula-mula 90 terhadap kulit. Setelah diyakini masuk
kanalis sakralis arah jarum diubah 45-60 dan jarum didorong sedalam 1-2 cm.
Kemudian suntikkan NaCl sebanyak 5 ml secara agak cepat sambil meraba
apakah ada perkembanga di kulit untuk menguji apakah cairan masuk dengan
benar di kanalis kaudalis.

30

DAFTAR ISI
1. Yuanita DU. Anestesi Lokal dan Regional untuk Biopsi Kulit. SMF Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RS
dr. Kariadi, Semarang.2010;(180) 537
2. Hruza GJ. Anesthesia. Dalam: Bolognia J, Jorizzo JL, Rapini RP, editor.
Dermatology. Toronto: Mosby;2003.h.2233-9.
3. Gmyrek R, Ratner D, Butler DF, Albertini JG, Quirk C, Elston DM. Local
Anesthesia and Regional Nerve Block Anesthesia. February 24, 2005.
URL http://www.emedicine.com/emerg/topic383.htm
4. Robinson JK, Hruza GJ. Dermatologic Surgery: Introduction and Approach.
Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI,
editor. Fitzpatrick`s Dermatology in General Medicine. Edisi ke-6. New York:
Mc Graw-Hill;2003.h.2517-20.
5. Dobson MB, Penuntun praktis anestesi.Jakarta :EGC.1994 hal. 89-104
6. Gunawan SG, Setiabudi R, Elizabeth. Farmakologi dan terapi edisi 5. Jakarta :
fakultas kedokteran universitas Indonesia. 2007. Hal. 259-272

31