Vous êtes sur la page 1sur 13

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dan Morfologi Skabies

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan

sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, hominis, dan produknya. Sarcoptes

scabiei adalah tungau yang termasuk filum Arthropoda, famili Sarcoptidae,

ordo Acari, kelas Arachnida. Badannya berbentuk oval dan gepeng; yang

betina berukuran 300 x 350 mikron; sedangkan yang jantan berukuran 150 –

200 mikron. Stadium dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang merupakan

pasangan kaki depan dan 2 pasang lainnya kaki belakang (Sungkar, 2004).

Setelah melakukan kopulasi S. scabiei jantan mati, tetapi kadang-

kadang dapat bertahan hidup beberapa hari. Sarcoptes betina yang gravid

mencari tempat untuk meletakkan telur di lapisan kulit (stratum corneum)

dengan membuat terowongan sambil bertelur. Siklus hidup dari telur sampai

menjadi dewasa berlangsung satu bulan (Sungkar, 2004).

B. Transmisi Skabies

Cara penularan (transmisi) skabies dapat terjadi melalui kontak

langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama

dan hubungan seksual. Transmisi dapat juga melalui kontak tidak langsung

(melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal (Djuanda, 2006).


7

Tungau tidak dapat terbang atau loncat, tetapi dapat merayap dengan

kecepatan 2,5 cm per menit. Tungau dapat bertahan selama 24 – 36 jam pada

suhu ruangan dan rata – rata kelembapan dan mampu menginfestasi dan

membuat terowongan pada epidermis. Semakin banyak parasit pada

seseorang, maka semakin mudah transmisi tungau terjadi, baik secara

langsung (kulit ke kulit) ataupun tidak langsung (melalui tempat tidur,

pakaian) (Chosidow, 2006).

Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah

dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes

scabiei var. animalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia, terutama

pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya anjing

(Djuanda, 2006).

C. Faktor Risiko Skabies

Berdasarkan segitiga epidemiologi, terjadinya kejadian sakit

dipengaruhi manusia itu sendiri (host), agen penyebab penyakit (agent), dan

lingkungan (environment) (Mukono, 2000).

Host

Agent Environment
2. 1. Gambar Segitiga Epidemiologi
8

Faktor host termasuk faktor intrinsik yang sangat dipengaruhi oleh

sifat genetik manusia. Terjangkitnya seseorang oleh skabies dipengaruhi

sistem imun orang tersebut. Semakin rendah imunitas orang tersebut, maka

semakin besar resiko orang tersebut tertular skabies. Sedangkan faktor agent

atau penyebab penyakit biasanya berlokasi pada lingkungan tertentu. S.

scabiei sebagai penyebab skabies berhubungan dengan terjadinya skabies.

Apabila agen penyebab penyakit jumlahnya semakin banyak maka resiko

terjadinya penyakit juga semakin besar. Faktor lingkungan yang dibagi

menjadi lingkungan fisik, biologi, dan sosial dapat menyebabkan penyakit.

Lingkungan dengan sanitasi buruk merupakan faktor resiko terjadinya skabies

(Mukono, 2000).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan para ahli, terdapat

berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit

skabies, antara lain:

1. Tingkat pengetahuan

Pada penelitian yang dilakukan di Afyon, Turki mengenai

prevalensi skabies pada anak-anak yang belum sekolah, dinyatakan

bahwa tingkat pendidikan berpengaruh terhadap kejadian skabies. Pada

penelitian ini 1.134 anak yang berusia diantara empat sampai enam

tahun dievaluasi; 607 (53,5%) dari subjek merupakan laki-laki dan 527

(46,5%) adalah perempuan. Infestasi skabies ditemukan di 14 (1,2%)

dari 1.134 anak; sembilan (0,8%) anak menderita pediculosis capitis dan

lima (0,4%) anak menderita skabies (Ciftci et al., 2006).


9

Selain itu, tingkat pendidikan ibu juga berhubungan dengan

kejadian pediculosis dan skabies. Ibu dari anak yang terjangkit penyakit

tersebut sebagian besar dengan latar belakang SMP, sedangkan ibu

dengan latar belakang SMU atau S1 mempunyai jumlah yang lebih

sedikit (Ciftci et al., 2006). Penemuan ini didukung oleh beberapa

penelitian dengan metodologi yang serupa, yang dilakukan di Sekolah

Dasar, Turki (Ciftci et al., 2006).

2. Higiene perorangan

Higiene adalah ilmu yang berkenaan dengan masalah kesehatan

dan berbagai usaha untuk mempertahankan atau memperbaiki kesehatan

(Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Skabies hampir selalu ditularkan dari satu orang ke orang yang

lain melalui kontak yang dekat. Penularan dapat terjadi pada dan dari

siapa saja, misalnya anak-anak, teman, ataupun anggota keluarga yang

lain. Setiap orang rentan terkena skabies. Skabies adalah suatu penyakit

yang tidak hanya dapat terjadi pada keluarga dengan tingkat ekonomi

rendah, ataupun pada anak jalanan, meskipun demikian, skabies lebih

sering terjadi pada kondisi tempat tinggal yang padat dengan higienitas

yang buruk (AAD, 2007).

Hubungan antara prevalensi skabies dengan higiene perorangan

merupakan sesuatu yang kompleks. Pada penelitian yang dilakukan di

Institut Pendidikan Islam, Dhaka, Bangladesh menyatakan bahwa


10

kejadian skabies dipengaruhi oleh higiene perorangan yang buruk, yaitu

21% memakai handuk bersama, 8% melakukan pinjam meminjam

pakaian dalam, 30% tidur dalam 1 tempat tidur yang sama, dan 81%

menyimpan pakaian yang sudah digunakan di dalam rak (Karim et al.,

2007).

Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan di pondok

pesantren Kabupaten Lamongan. Sebagian besar santri (213 orang)

mempunyai higiene perorangan yang jelek dengan prevalensi penyakit

skabies 73,70%. Sedangkan santri dengan higiene perorangan baik (121

orang) mempunyai prevalensi penyakit skabies 48,00%. Tampak sekali

peran higiene perorangan dalam penularan penyakit skabies (Isa,

Soedjajadi, Hari, 2005).

3. Sanitasi lingkungan

Sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik,

biologis, sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia.

Pengawasan dilakukan dengan cara lingkungan yang berguna

ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki

atau dihilangkan (Entjang, 1993).

Pentingnya lingkungan yang sehat ini telah dibuktikan WHO

dengan penelitiian di seluruh dunia dimana didapatkan hasil bahwa

angka kematian (mortality), angka perbandingan orang sakit (morbidity)

yang tinggi serta seringnya terjadi epidemic, terdapat di tempat-tempat

dimana higiene dan sanitasi lingkungannya buruk, yaitu di tempat-


11

tempat dimana terdapat benyak nyamuk, lalat, pembuangan kotoran, dan

sampah yang tak teratur, air rumah tangga yang buruk, perumahan yang

terlalu sesak dan keadaan sosio ekonomi yang buruk. Ternyata pula

bahwa di tempat-tempat dimana higiene dan sanitasi lingkungan

diperbaiki, mortality dan morbidity menurun, dan wabah berkurang

dengan sendirinya (Entjang, 1993).

Skabies didapat terutama di daerah kumuh dengan keadaan

sanitasi yang sangat jelek. Reservoir scabies adalah manusia; penularan

terjadi secara langsung dari orang ke orang ataupun lewat peralatan

seperti pakaian. Hal ini dipermudah oleh keadaan penyediaan air bersih

yang kurang jumlahnya. Oleh karenanya skabies banyak didapat juga

sewaktu terjadi peperangan (Slamet, 2004).

4. Kepadatan tempat tinggal (Overcrowding)

Tingkat kepadatan yang tinggi mempunyai efek dalam

penyebaran skabies. Penyebaran skabies dapat dilihat berdasarkan cara

penularan penyakit ini yaitu melalui kontak antara seseorang dengan

orang yang lain (Currie and Walton, 2007).

Pada komunitas aborigin, Australia, faktor status ekonomi yang

rendah, fasilitas kesehatan yang tidak adekuat, dan overcrowding, turut

menyumbang kepada tingginya endemik skabies. Baru - baru ini adanya

laporan yang mendokumentasikan bahwa adanya hubungan yang

signifikan antara kepadatan yang tinggi (30 orang per rumah tangga)

dengan prevalensi skabies mencapai 50%.. penelitian yang dilakukan di


12

India juga menunjukkan tingkat endemik skabies yang sama. Tingginya

insidensi skabies pada kelompok individual mengindikasikan bahwa

transmisi penyakit diperantarai oleh hubungan personal yang dekat,

misalnya seperti tidur bersana. Hubungan seksual memiliki arti yang

penting dalam transmisi diantara orang dewasa (McCarthy, 2004).

5. Status gizi

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di negara dengan

pendapatan rendah, sub-Sahara Afrika, penyakit skabies teridentifikasi

positif pada orang yang mendapatkan upah kerja kurang dari 2 dollar

perharinya. Penyakit ini terutama muncul di daerah pedesaan dan pada

pemukiman dengan status ekonomi yang rendah (Hotez, 2007).

Status ekonomi yang rendah dihubungkan dengan buruknya

status gizi. Status gizi yang buruk dapat menyebabkan tingkat imunitas

individu dan juga pada akhirnya dapat meningkatkan kejadian penyakit

dalam suatu komunitas. Status gizi sudah dilaporkan sebagai suatu

faktor resiko yang signifikan dalam outbreak skabies di pedesaan Indian,

dan malnutrisi merupakan faktor predisposisi suatu individu menderita

crusted skabies (Currie and Walton, 2007).

6. Faktor usia

Kejadian skabies dapat muncul pada semua usia, tetapi lebih

sering muncul pada anak-anak. Penyakit ini merupakan permasalahan

kesehatan umum pada komunitas dengan tingkat ekonomi yang rendah

dan pada negara berkembang (Johnston and Sladden, 2005).


13

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Mumbai, prevalensi

dari penyakit skabies pada kelompok usia 8-14 tahun adalah 80%,

sedangkan pada usia 15-20 tahun 35%. Semakin muda usia seseorang

maka semakin besar kemungkinannya untuk terinfeksi skabies

(Mukherjee, 2006).

D. Gejala Klinis Skabies

Pasien mengeluh gatal, yang secara khas terasa sekali pada waktu

malam hari. Hendaklah dicurigai adanya skabies bila seseorang mengutarakan

keluhan seperti itu. Terdapat dua tipe utama lesi kulit pada skabies

(terowongan dan ruam skabies). Terowongan terutama ditemukan pada tangan

dan kaki (bagian samping jari tangan dan jari kaki, sela – sela jari,

pergelangan tangan, dan punggung kaki). Pada bayi, terowongan sering

terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, dan bisa juga terdapat pada badan,

kepala, dan leher. Terowongan pada badan biasanya ditemukan pada usia

lanjut, dan bisa juga terjadi pada kepala dan leher. Masing – masing

terowongan panjangnya beberapa milimeter, biasanya berliku – liku, dan ada

vesikel pada salah satu ujung yang berdekatan dengan tungau yang sedang

menggali terowongan, dan seringkali dikelilingi eritema ringan. Terowongan

bisa juga ditemukan pada genitalia pria, biasanya tertutupi oleh papula yang

meradang, dan papula tersebut yang ditemukan pada penis dan skrotum adalah

patognomosis untuk skabies. Bila pada seorang pria diduga terdapat skabies,

hendaklah genitalianya selalu diperiksa (Brown and Burns, 2005).


14

Ruam skabies berupa erupsi papula kecil yang meradang, yang

terutama terdapat di sekitar aksila, umbilikus, dan paha. Ruam ini merupakan

statu reaksi alergi tubuh terhadap tungau (Brown and Burns, 2005).

Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies,

tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi

disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang

memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan

kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan

lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, eskoriasi, krusta, dan infeksi

sekunder (Djuanda, 2006).

Selain lesi primer tadi, bisa juga didapatkan kelainan sekunder seperti

ekskoriasi, eksematisasi, dan infeksi bekteri sekunder. Pada beberapa tempat

di dunia, adanya infeksi sekunder oleh lesi skabies dengan streptokokus

nefrogenik dikaitkan dengan terjadinya glomerulonefritis sesudah terjadinya

infeksi streptokokus pada kulit (Brown and Burns, 2005).

Gejala klinis yang muncul pada penyakit skabies ada 4 tanda kardinal.

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal berikut:

1) Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang

disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih

lembab dan panas.

2) Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok,

misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga

terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat


15

penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh

tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota

keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak

memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).

3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi

yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau

berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan

papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi

polimarf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya

biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu

sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar,

lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong,

genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat

menyerang telapak tangan dan telapak kaki.

4) Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik.

Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini (Djuanda,

2006).
16

E. Kerangka Teori

Faktor resiko:

a. Tingkat pengetahuan rendah

b. Higiene perorangan buruk

c. Sanitasi lingkungan buruk

d. Tingkat kepadatan tinggi (overcrowding)

e. Status gizi

f. Usia

Transmisi:

Langsung : Kulit dengan kulit. Misalnya berjabat

Etiologi: tangan, tidur bersama, hubungan seksual

Sarcoptes scabiei Tidak langsung : Melalui benda. Misalnya pakaian,

handuk, sprei, bantal, dll

Sarcoptes scabiei menginfestasi permukaan kulit


17

Skabies

F. Kerangka Konsep

Variabel bebas Variabel terikat

Faktor resiko:

• Tingkat pengetahuan

• Higiene perorangan Skabies

• Status gizi

Faktor resiko:

• Sanitasi lingkungan

• Tingkat kepadatan

• Usia

Keterangan:

= faktor resiko yang diteliti

= faktor resiko yang tidak diteliti

G. Hipotesis
18

1. Semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka semakin rendah kejadian

skabies di pondok pesantren Al- Hidayah, Karangsuci, Purwokerto Utara

tahun 2009.

2. Semakin baik higiene perorangan, maka semakin rendah kejadian

skabies di pondok pesantren Al- Hidayah, Karangsuci, Purwokerto Utara

tahun 2009.

3. Semakin baik status gizi, maka semakin rendah kejadian skabies di

pondok pesantren Al- Hidayah, Karangsuci, Purwokerto Utara tahun

2009.