Vous êtes sur la page 1sur 96

Akuntansi Perpajakan

PEMBUKUAN PAJAK

A. SISTEM PEMBUKUAN PAJAK

Pembukuan secara akuntansi harus mengikuti standar akuntansi yang berlaku


umum. Standar akuntansi mengharuskan perusahaan untuk menampilkan laporan
keuangan secara multiple purpose sehingga laporan keuangan yang disusun sesuai
dengan SAK harus di”rekonsiliasi” supaya sesuai dengan peraturan perpajakan. Oleh
karena terdapat perbedaan antara akuntansi dengan pajak maka kemudian timbul
istilah akuntansi pajak. Akuntansi pajak sebenarnya merupakan peraturan
perpajakan yang ada kaitannya dengan akuntansi. Akuntansi pajak sebenarnya
adalah jurnal-jurnal yang diperlukan sehubungan dengan transaksi yang
berhubungan dengan pajak.

B. METODE PEMBUKUAN

UU KUP mendefinisikan pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang


dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang
meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga
perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun
laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap tahun pajak
berakhir. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk pembukukan pajak
adalah :
» suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan
data dan informasi keuangan.
» meliputi Asset, Libalilities, Equity, Revenue dan Expenses, serta jumlah Cost
(harga perolehan) dan penyerahan barang atau jasa.
» Proses tersebut menghasilkan laporan keuangan berupa Balance Sheet dan
Income Statement.

1
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Aturan pajak mengenai pembukuan secara jelas dan tegas diatur dalam Pasal 28
dan penjelasan UU 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara
Perpajakan. Kewajiban pembukuan harus dilakukan oleh Wajib Pajak Orang
Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas (peredaran usaha
setahun mencapai Rp.4,8 miliar dan Wajib Pajak Badan di Indonesia.

Prinsip taat asas adalah prinsip yang sama digunakan dalam metode pembukuan
dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk mencegah penggeseran laba atau rugi.
Prinsip taat asas dalam metode pembukuan misalnya dalam penerapan stelsel
pengakuan penghasilan yang digunakan.

Stelsel pengakuan penghasilan yaitu :


1. Stelsel akrual adalah suatu metode penghitungan penghasilan dan biaya dalam
arti penghasilan diakui pada waktu diperoleh dan biaya diakui pada waktu
terutang. Jadi tidak tergantung kapan penghasilan itu diterima dan kapan biaya
itu dibayar tunai. Definisi ini mencakup pengakuan penghasilan berdasarkan
metode % tingkat penyelesaian pekerjaan yang umumnya dipakai di bidang
konstruksi dan metode lainnya yang dipakai di bidang usaha tertentu seperti
Build Operate and Transfer (BOT), Real Estate, dan lain-lain.
2. Stelsel kas adalah suatu metode yang penghitungannya didasarkan atas
penghasilan yang diterima dan biaya yang dibayar secara tunai. Menurut stelsel
ini, penghasilan baru dianggap sebagai penghasilan, bila benar-benar telah
diterima tunai dalam suatu periode tertentu, serta biaya baru dianggap sebagai
biaya, bila benar-benar telah dibayar tunai dalam suatu periode tertentu. Stelsel
ini biasanya digunakan oleh perusahaan kecil orang pribadi atau perusahaan
jasa. Dalam stelsel kas murni, penghasilan dari penyerahan barang atau jasa
ditetapkan pada saat diterimanya pembayaran dari langganan, dan biaya-biaya
ditetapkan pada saat dibayarnya barang, jasa, dan biaya operasi lainnya. Dengan
cara ini, pemakaian stelsel kas dapat mengakibatkan penghitungan yang
mengaburkan tehadap penghasilan, yaitu besarnya penghasilan dari tahun ke
tahun dapat disesuaikan dengan mengatur penerimaan kas dan pengeluaran kas.
Oleh karena itu untuk penghitungan Pajak Penghasilan dalam memakai stelsel
kas harus memperhatikan hal-hal antara lain sebagai berikut :
1. Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh
penjualan, baik yang tunai maupun yang bukan. Dalam menghitung harga
pokok penjualan harus diperhitungkan seluru pembelian dan persediaan.
2. Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat
diamortisasi, biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat
dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi.

2
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

3. Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten).


Kesimpulan : penggunaan stelsel kas untuk tujuan perpajakan adalah stelsel
campuran.

Persyaratan pembukuan menurut UU 28 Tahun 2007 adalah :


1. Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan
memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha
yang sebenarnya (tidak ada penggelapan).
2. Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan
menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan
disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh
Menteri Keuangan.
3. Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel
akrual atau stelsel kas, tahun buku, Metode penilaian persediaan, Metode
penyusutan dan amortisasi. Perubahan terhadap metode pembukuan dan
atau tahun buku, harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.

Pada dasarnya metode-metode pembukuan yang dianut harus taat asas yaitu
harus sama dengan tahun-tahun sebelumnya, misalnya dalam hal penggunaan
metode pengakuan penghasilan dan biaya (metode kas atau akrual), metode
penyusutan aktiva tetap, metode penilaian persediaan dan sebagainya. Namun
demikian perubahan metode pembukuan masih dimungkinkan dengan syarat telah
mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak sebelum dimulainya tahun buku
yang bersangkutan dengan menyampaikan alasan-alasan yang logis dan dapat
diterima serta akibat-akibat yang mungkin timbul dari perubahan tersebut.

Perubahan metode pembukuan akan mengakibatkan perubahan dalam prinsip


taat asas yang dapat meliputi perubahan metode dari kas ke akrual atau sebaliknya
atau perubahan penggunaan metode pengakuan penghasilan atau pengakuan biaya
itu sendiri. Misalnya dalam metode pengakuan biaya yang berkenaan dengan
penyusutan aktiva tetap dengan menggunakan metode penyusutan tertentu.

Contoh :
Wajib Pajak tahun 2002 menggunakan metode penyusutan garis lurus
atau straight line method. Dalam tahun 2003 Wajib Pajak bermaksud mengubah
metode penyusutan aktiva dengan menggunakan metode penyusutan saldo
menurun atau declining balance method.

3
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Untuk keperluan tersebut, Wajib Pajak harus minta persetujuan terlebih
dahulu kepada Direktur Jenderal Pajak (Kantor Pelayanan Pajak) yang diajukan
sebelum dimulainya tahun buku 2003 dengan menyebutkan alasan-alasan
dilakukannya perubahan metode penyusutan dan akibat dari perubahan
tersebut.

Selain itu perubahan periode tahun buku berakibat berubahnya jumlah


penghasilan atau kerugian Wajib Pajak. Oleh karena itu perubahan tersebut juga
harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak (c.q Kantor Pelayanan
Pajak).

Tahun Pajak adalah sama dengan tahun takwim (tahun kalender) kecuali
Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim.
Apabila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun
takwim, maka penyebutan tahun pajak yang bersangkutan menggunakan tahun
yang di dalamnya termasuk 6 (enam) bulan pertama atau lebih.

Contoh :

Pembukuan 1 Juli 2002 sampai dengan 30 Juni 2003, tahun pajaknya adalah tahun
2002. Pembukuan 1 Oktober 2002 sampai dengan 30 September 2003, tahun
pajaknya adalah tahun 2003.

Output minimal pembukuan adalah catatan mengenai asset, liabilities, modal,


penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian, sehingga dapat dihitung
besarnya pajak yang terutang. Selain dapat dihitung besarnya Pajak Penghasilan,
pajak-pajak lainnya juga harus dapat dihitung dari pembukuan tersebut. Agar Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dapat dihitung dengan
benar maka pembukuan harus mencatat juga jumlah harga perolehan atau nilai
impor, jumlah harga jual atau nilai ekspor, jumlah harga jual dari barang yang
dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, jumlah pembayaran atas
pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean dan atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di
dalam Daerah Pabean, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan yang
tidak dapat dikreditkan.

Dengan demikian pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem


yang lazim dipakai di Indonesia misalnya berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan
(ada 59 PSAK yang sudah dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia), kecuali
peraturan perundang-undangan perpajakan menentukan lain. Pembukuan dengan

4
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh
Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan.
Buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembukuan
atau pencatatan dan dokumen lain wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di
Indonesia yaitu di tempat kegiatan atau di tempat tinggal bagi Wajib Pajak. Orang
Pribadi atau di tempat kedudukan bagi Wajib Pajak Badan. Buku-buku, catatan-
catatan, dan dokumen-dokumen termasuk hasil pengolahan data elektronik yang
menjadi dasar pembukuan atau pencatatan harus disimpan selama 10 (sepuluh)
tahun di Indonesia, dengan maksud agar apabila Direktur Jenderal Pajak akan
mengeluarkan surat ketetapan pajak, bahan pembukuan atau pencatatan yang
diperlukan masih tetap ada dan dapat segera disediakan.

Kurun waktu 10 (sepuluh) tahun penyimpanan buku-buku, catatan-catatan, dan


dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan adalah sesuai
dengan ketentuan yang mengatur mengenai batas daluwarsa penetapan pajak.

PEMBUKUAN DALAM BAHASA DAN MATA UANG ASING

Kriteria wajib pajak yang dapat menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing
dan mata uang selain Rupiah adalah :
a. Wajib Pajak dalam rangka PMA yaitu Wajib Pajak yang beroperasi berdasarkan
ketentuan undang-undang yang mengatur mengenai PMA;
b. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya yaitu Wajib Pajak yang beroperasi
berdasarkan kontrak dengan Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai pertambangan;
c. Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Bagi Hasil yaitu Wajib Pajak yang beroperasi
berdasarkan undang-undang yang mengatur mengenai pertambangan minyak dan
gas bumi;
d. Bentuk usaha tetap (Pasal 2 ayat (5) UU 36 / 2008 atau menurut Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang terkait;
e. Wajib Pajak yang berafiliasi dengan perusahaan induk di luar negeri yaitu
perusahaan anak (subsidiary company) yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan
induk (parent company) di luar negeri dalam hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) huruf a dan b UU 36 Tahun 2008.

Bahasa asing dan mata uang selain rupiah yang diperbolehkan untuk dipergunakan
dalam pembukuan Wajib Pajak adalah bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika
Serikat. Penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar
Amerika Serikat oleh Wajib Pajak harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari
5
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Menteri Keuangan kecuali bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontak Karya atau Kontrak
Bagi Hasil. Izin tertulis dapat diperoleh Wajib Pajak dengan mengajukan surat
permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum
tahun buku yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika
Serikat tersebut dimulai, atau 3 (tiga) bulan sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak
baru. Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan memberikan keputusan atas
permohonan izin penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang
Dollar Amerika Serikat. Keputusan Menteri Keuangan atas permohonan diterbitkan
paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permohonan dari Wajib Pajak.
Apabila jangka waktu diatas telah lewat, Menteri Keuangan tidak memberi suatu
keputusan, maka permohonan tersebut dianggap diterima.

Wajib Pajak dala rangka Kontrak Karya atau Kontrak Bagi Hasil yang akan
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan mata uang
Dollar Amerika Serikat wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor
Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar paling lambat 1 (satu) bulan sebelum
tahun buku yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika
Serikat tersebut dimulai.

Bagi Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam


bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat berlaku ketentuan konservasi ke
mata uang Dollar Amerika Serikat sebagai berikut :

a. Pada awal tahun buku


Penyelenggaraan pembukuan dalam mata uang Dollar Amerika Serikat untuk
pertama kali dilakukan dengan bertitik tolak dari Neraca akhir tahun buku
sebelumnya (dalam mata uang Rupiah) yang dikonversikan ke mata uang Dollar
Amerika Serikat dengan menggunakan kurs :
1) untuk harga perolehan harta berwujud dan atau harta tidak berwujud yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun menggunakan kurs yang
sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta tersebut;
2) untuk akumulasi penyusutan dan atau amortisasi harta menggunakan kurs yang
sebenarnya berlaku pada saat perolehan harta tersebut;
3) untuk harta lainnya dan kewajiban menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku
pada akhir tahun buku sebelumnya, berdasarkan sistem pembukuan yang dianut
yang dilakukan secara taat asas;
4) apabila terjadi revaluasi aktiva tetap, di samping menggunakan nilai histories,
atas nilai selisih lebih dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat
dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat dilakukannya
revaluasi;

6
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

5) untuk laba ditahan atau sisa kerugian dalam mata uang Rupiah dari tahun-
tahun sebelumnya, dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat
dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun buku
sebelumnya, berdasarkan sistem pembukuan yang dianut yang dilakukan secara
taat asas;
6) untuk modal saham dan ekuitas lainnya menggunakan kurs yang sebenarnya
berlaku pada saat terjadinya transaksi;
7) dalam hal terdapat selisih laba atau rugi sebagai akibat konversi dari mata uang
Rupiah ke mata uang Dollar Amerika Serikat, maka selisih laba atau rugi
tersebut dibebankan pada rekening laba ditahan.

b. Dalam
Dalam tahun berjalan :
1) Untuk transaksi yang dilakukan dengan mata uang Dollar Amerika Serikat,
pembukuannya dicatat sesuai dengan dokumen transaksi yang bersangkutan;
2) Untuk transaksi, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang menggunakan
mata uang selain Dollar Amerika Serikat, dikonversikan ke mata uang Dollar
Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku pada saat
terjadinya transaksi, yaitu sebagai berikut :
a) apabila dari dokumen transaksi diketahui kurs yang berlaku, maka kurs yang
dipakai adalah kurs yang diketahui dari transaksi tersebut;
b) apabila dari dokumen transaksi tidak diketahui kurs yang berlaku, maka kurs
yang dipakai adalah kurs yang sebenarnya berlaku, berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut yang dilakukan secara taat asas.

Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1),
ayat (2), dan ayat (4) UU 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan untuk tahun pajak
pertama penyelenggaraan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar
Amerika Serikat adalah sebesar Pajak Penghasilan Pasal 25 dalam mata uang Rupiah
yang dikonversikan dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir tahun buku sebelum dimulainya
pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat. Pembayaran
Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 serta Pajak Penghasilan Final yang dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam
bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat dapat dilakukan dalam mata uang
rupiah.

Dalam hal pembayaran pajak dilakukan dalam mata uang rupiah Wajib Pajak harus
mengkonversasikan pembayaran dalam mata uang Rupiah tersebut ke mata uang Dollar
Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam keputusan Menteri
Keuangan yang berlaku pada tanggal pembayaran.
7
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Wajib Pajak yang diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa
Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat wajib menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan beserta lampirannya dalam bahasa
Indonesia kecuali lampiran berupa laporan keuangan dan dalam mata uang Dollar
Amerika Serikat.

Dalam penerapan tarif Pasal 17 UU PPh lapisan penghasilan kena pajak dikonversi
ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs yang
ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada akhir Tahun Pajak
yang bersangkutan. Dalam hal terdapat bukti pembayaran atas pemotongan /
pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 23 dalam mata uang Rupiah yang
akan dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan harus
dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika Serikat dengan menggunakan kurs
yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan yang berlaku pada tanggal
pembayaran atau pemotongan / pemungutan pajak tersebut.

SANKSI PELANGGARAN

Wajib Pajak yang ternyata :


a. Tidak mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam
bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat atau permohonannya ditolak
atau tidak menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar namun tetap menyelenggarakan pembukuan dalam
bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat; atau
b. Telah diizinkan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan
mata uang Dollar Amerika Serikat atau telah memberitahukan ke Kantor Pelayanan
Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar, namun pembukuannya tetap diselenggarakan
dalam bahasa Indonesia atau mata uang Rupiah;

Maka izin untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata
uang Dollar Amerika Serikat dicabut dan Wajib Pajak tidak boleh lagi mengajukan
permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata
uang Dollar Amerika Serikat.

Perlakuan tidak dikenakan apabila Wajib Pajak memberitahukan secara tertulis


mengenai pembatalan untuk menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan
mata uang Dollar Amerika Serikat dalam batas waktu 3 (tiga) bulan setelah tahun buku
berjalan sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Persetujuan Menteri Keuangan.

8
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Sisa kerugian fiskal dalam mata uang Rupiah dari tahun-tahun sebelumnya yang
dapat dikompensasikan ke Tahun Pajak dimulainya pembukuan dalam bahasa Inggris
dan mata uang Dollar Amerika Serikat, dikonversi ke dalam mata uang Dollar Amerika
Serikat dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Keuangan yang berlaku pada akhir tahun buku pada saat kerugian fiskal tersebut
terjadi.

Wajib Pajak yang telah memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam


bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat sebelum berlakunya Keputusan
Menteri Keuangan ini, tidak perlu mengajukan permohonan baru dan izin tersebut
tetap berlaku.

Bagi Wajib Pajak yang telah mengajukan permohonan untuk memperoleh izin
menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika
Serikat sebelum berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, maka terhadap
pemberian izin tersebut berlaku Keputusan Menteri Keuangan ini.

9
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

HARGA PEROLEHAN

Pasal 10 UU Pajak Penghasilan mengatur tentang cara penilaian harta termasuk


persediaan dalam rangka menghitung penghasilan sehubungan dengan penggunaan
harta dalam perusahaan, menghitung keuntungan atau kerugian apabila terjadi
penjualan atau pengalihan harta, dan penghitungan penghasilan dari penjualan barang
dagangan.

Definisi harga perolehan adalah harga yang sesungguhnya dibayar. Termasuk dalam
harga perolehan adala harga beli dan biaya yang dikeluarkan dalam rangka
memperoleh harta tersebut, seperti bea masuk, biaya pengangkutan dan biaya
pemasangan. Dengan Hubungan Istimewa (Pasal 18 ayat (4) UU PPh) apabila terdapat
hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima.

Dalam jual beli yang dipengaruhi hubungan istimewa maka bagi pihak pembeli
nilai perolehannya adalah jumlah yang seharusnya dibayar dan bagi pihak penjual nilai
penjualannya adalah jumlah yang seharusnya diterima. Adanya hubungan istimewa
antara pembeli dan penjual dapat menyebabkan harga perolehan menjadi lebih besar
atau lebih kecil di bandingkan dengan jika jual beli tersebut tidak dipengaruhi oleh
hubungan istimewa. Oleh karena itu dalam ketentuan ini diatur bahwa nilai perolehan
atau nilai penjualan harta bagi pihak-pihak yang bersangkutan adalah jumlah yang
seharusnya dikeluarkan atau yang seharusnya diterima.

Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah
jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. Pada
prinsipnya apabila terjadi pengalihan harta, penilaian harta yang dialihkan dilakukan
berdasarkan harga pasar. Pengalihan harta tersebut dapat dilakukan dalam rangka
pengembangan usaha berupa penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan
pengambilalihan usaha. Selain itu pengalihan tersebut dapat dilakukan pula dalam
rangka likuidasi usaha atau sebab lainnya.

Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan merupakan
penghasilan yang dikenakan pajak.

10
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Contoh :
PT A dan PT B melakukan peleburan dan membentuk badan baru, yaitu PT C. Nilai
sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut adalah sebagai berikut :

PT A PT B

Nilai sisa buku Rp. 200.000.000,00 Rp. 300.000.000,00


Harga Pasar Rp. 300.000.000,00 Rp. 450.000.000,00

Pada dasarnya penilaian harta yang diserahkan oleh PT A dan PT B dalam


rangka peleburan menjadi PT C adalah harga pasar dari harta. Dengan demikian PT
A mendapat keuntungan sebesar Rp. 100.000.000,00 (Rp. 300.000.000,00-Rp.
200.000.000,00) dan PT B mendapat keuntungan sebesar Rp. 150.000.000,00 (Rp.
450.000.000,00-Rp. 300.000.000,00). Sedangkan PT C membukukan semua harta
tersebut dengan jumlah Rp. 750.000.000,00 (Rp. 300.000.000,00 + Rp.
450.000.000,00). Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan di bidang
sosial, ekonomi, investasi, moneter dan kebijakan lainnya, Menteri Keuangan diberi
wewenang untuk menetapkan nilai lain selain harga pasar, yaitu atas dasar nilai sisa
buku (“pooling of interest”). Dalam hal demikian PT C membukukan penerimaan
harta dari PT A dan PT B tersebut sebesar Rp. 500.000.000,00 (Rp. 200.000.000,00 +
Rp. 300.000.000,00).

Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi,
penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar,
kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. Penyertaan Wajib Pajak dalam
permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan setoran tunai atau pengalihan
harta. Ketentuan ini mengatur tentang penilaian harta yang diserahkan sebagai
pengganti saham atau penyertaan modal dimaksud yaitu dinilai berdasarkan nilai
pasar dari harta yang dialihkan tersebut.

11
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

PERSEDIAAN

A. ASPEK AKUNTANSI PERSEDIAAN

Definisi
Menurut Paragraf 3 PSAK 16 ruang lingkup Persediaan adalah aktiva tersedia
untuk dijual dalam kegiatan usaha normal dalam proses produksi dan atau dalam
perjalanan atau dalam bentuk badan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan
dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha
normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan
untuk melaksanakan penjualan.

Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali,
misalnya barang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah
dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakupi barang jadi
yang telah diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi
perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam
proses produksi (Paragraf 4 PSAK 16).

Pengukuran Persediaan
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih mana yang
lebih rendah (the lower of cost and net realizable value). (Paragraf 5 PSAK 16).

Biaya persediaan kecuali yang disebut dalam paragraph 19, harus dihitung
dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau
FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average cost method), atau masuk terakhir
keluar pertama (MTKP atau LIFO). (Paragraf 20 PSAK 16).

Formula MPKP / FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama


dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam
12
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Dengan rumus biaya
rata-rata tertimbang, biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya rata-rata
tertimbang dari barang serupa pada awal periode dan biaya barang serupa yang
dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara
berkala, atau pada setiap penerimaan kiriman, tergantung pada keadaan perusahaan.
Rumus MTKP / LIFO mengasumsikan barang yang dibeli atau diproduksi terakhir
dijual atau digunakan terlebih dahulu, sehingga yang termasuk dalam persediaan
akhir adalah yang dibeli atau diproduksi terdahulu.

Pengakuan Sebagai Beban


Pengakuan ini dicantumkan jika barang dalam persediaan dijual, maka nilai
tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya
pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai persediaan di bawah
biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh kerugian persediaan harus diakui
sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap
pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai
realisasi bersih, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban
persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut. (Paragraf 28 PSAK 16).

Pengungkapan
Paragraf 31 PSAK 16 mengungkapkan Laporan keuangan harus mengungkapkan
kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk
rumus biaya yang dipakai; total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat
menurut klasifikasi yang sesuai bagi perusahaan; jumlah tercatat persediaan yang
dicatat sebesar nilai realisasi bersih jumlah dari setiap pemulihan dari setiap
penurunan nilai yang diakui sebagai penghasilan selama periode sebagaimana
dijelaskan pada paragraf 28 PSAK 16; kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya
pemulihan nilai persediaan yang diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf
28; dan nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

B. ASPEK PAJAK PERSEDIAAN

Persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai


berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara
mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama. Pada umumnya terdapat 3 (tiga)
golongan persediaan barang, yaitu barang jadi atau barang dagangan, barang dalam
proses produksi, bahan baku dan bahan pembantu. Ketentuan Pasal 10 ayat (5) UU
36/ 2008 mengatur bahwa penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan
harga perolehan. Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok
hanya boleh dilakukan dengan cara rata-rata atau dengan cara mendahulukan
persediaan yang didapat pertama (“first-in first-out atau disingkat FIFO”). Sesuai
13
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
dengan kelaziman, cara penilaian tersebut juga diberlakukan terhadap sekuritas.
Sekali Wajib Pajak memilih salah satu cara penilaian pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok tersebut, maka untuk tahun-tahun selanjutnya harus
digunakan cara yang sama.

14
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

FIXED ASSET MANAJEMEN

Perusahaan di dalam menjalankan bisnisnya akan menggunakan beberapa aktiva


dalam kegiatan operasinya. Aktiva tersebut dapat berupa peralatan, mesin dll.

Penggunaan aktiva tersebut akan berdampak dalam :


- Initial outlay pada saat pembelian
- Maintenance cost yang harus dikeluarkan selama masa manfaat
- Penghapusan aktiva
- Tampilan neraca dan rugi akibat pemakaian asset
- Dampak pemakaian asset terhadap pajak

Penyediaan aktiva yang sering dilakukan oleh perusahaan adalah dengan


pembelian, leasing, dan sewa. Terhadap kebijakan tersebut perusahaan mempunyai
alasan masing-masing. Berikut ini akan disajikan dampak perpajakan akibat kebijakan
ketiga unsur tersebut.

A. ASPEK AKUNTANSI AKTIVA TETAP

1. Ruang Lingkup
PSAK Aktiva Tetap ini harus ditetapkan dalam akuntansi aktiva tetap dan
aktiva lain-lain kecuali bila standar akuntansi keuangan lainnya mensyaratkan
suatu perlakuan akuntansi yang berbeda. Pernyataan ini tidak berlaku bagi :
a. hutan dan sumber daya alam serupa yang dapat diperbaharui;
b. kuasa pertambangan, ekplorasi dan penggalian mineral, minyak, gas alam
dan sumber daya alam serupa yang tidak dapat diperbaharui.
Namun demikian, pernyataan ini berlaku untuk aktiva tetap yang
digunakan untuk mengembangkan atau memelihara aktivitas atau aktiva yang
tercakup dalam (a) dan (b) di atas, tetapi dapat dipisahkan dari aktivitas atau
aktiva tersebut.

15
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap
pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi
perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal
perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Penyusutan
adalah alokasi sistematik jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva
sepanjang masa manfaat.

Jumlah yang dapat disusutkan (deperciable amount) adalah biaya perolehan


suatu aktiva, atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya perolehan dalam
laporan keuangan, dikurangi nilai sisanya.

Masa manfaat adalah periode suatu aktiva diharapkan dapat digunakan oleh
perusahaan atau jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh
dari aktiva oleh perusahaan.

Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau
nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada
saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aktiva tersebut dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dipergunakan.

Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan
sebagai aktiva tetap bila besar kemungkinan (probable) bahwa manfaat
keekonomian di masa yang akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut
akan mengalir ke dalam perusahaan dan biaya perolehan aktiva dapat diukur
secara handal.

Aktiva tetap sering merupakan suatu bagian utama aktiva perusahaan, dan
karenanya signifikan dalam penyajian posisi keuangan. Lebih jauh lagi,
penentuan apakah suatu pengeluaran merupakan suatu aktiva atau beban dapat
berpengaruh signifikan pada hasil operasi yang dilaporkan perusahaan.

Suatu benda berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai


aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur
berdasarkan biaya perolehan. Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari
harga belinya, termasuk Bea Impor dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi (non-
refundable), dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam
membawa aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva aktiva tersebut dapat
bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan; setiap potongan dagang dan rabat
dikurangkan dari harga pembelian.

16
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah :


a. biaya persiapan tempat;
b. biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat
(handling costs);
c. biaya pemasangan (installation costs); dan
d. biaya profesional seperti arsitek dan insyinyur.

2. Pertukaran Aktiva
` Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atau petukaran
sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau aktiva lain. Biaya dari
pos semacam itu diukur pada nilai wajar aktiva yang dilepaskan atau yang
diperoleh, yang mana yang lebih handal, ekuivalen dengan nilai wajar aktiva
yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau setara kas
yang ditransfer.

Suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atas suatu aktiva yang
serupa yang memiliki manfaat yang serupa dalam bidang usaha yang sama dan
memiliki suatu nilai wajar serupa. Suatu aktiva tetap juga dapat dijual dalam
pertukaran dengan kepemilikan aktiva yang serupa. Dalam kedua keadaan
tersebut, karena proses perolehan penghasilan (earning process) tidak lengkap,
tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui dalam transaksi. Sebaliknya
biaya perolehan aktiva baru adalah jumlah tercatat dari aktiva yang dilepaskan.
Tetapi, nilai wajar aktiva yang diterima dapat menyediakan bukti dari suatu
pengurangan (impairment) aktiva yang dilepaskan. Dalam keadaan ini aktiva
yang dilepaskan diturun nilai buku-kan (written down) dan nilai turun nilai
buku (written down) ini ditetapkan untuk aktiva baru. Contoh dari pertukaran
aktiva serupa termasuk pertukaran pesawat terbang, hotel, bengkel dan properti
real estate lainnya. Jika aktiva lain seperti kas termasuk sebagai bagian transaksi
pertukaran, ini dapat mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak
memiliki suatu nilai yang serupa. Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan
harus dicatat sebesar harga taksiran atau harga pasar yang layak dengan
mengkreditkan akun “Modal Donasi”.

Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang


memeperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat
keekonomian di masa yang akan datang dalam bentuk peningkatan kapasitas,
mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada
jumlah tercatat aktiva yang bersangkutan.

17
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) pada properti,


pabrik dan peralatan hanya diakui sebagai suatu aktiva jika pengeluaran
meningkatkan kondisi aktiva melebihi standar kinerja semula. Contoh
peningkatan yang menghasilkan peningkatan manfaat keekonomian masa yang
akan datang mencakup :
a. modifikasi suatu pos sarana pabrik untuk memperpanjang usia manfaatnya
termasuk suatu peningkatan kapasitasnya;
b. peningkatan kemampuan mesin (up-grading machine parts) untuk
mencapai peningkatan besar dalam kualitas output; dan
c. penerapan proses produksi baru yang memungkinkan suatu pengurangan
besar biaya operasi.

Pengeluaran untuk perbaikan atau perawatan aktiva tetap untuk menjaga


manfaat keekonomian masa yang akan datang yang dapat diharapkan
perusahaan untuk mempertahankan standar kinerja semula atas suatu aktiva,
biasanya diakui sebagai beban saat terjadi. Contohnya, biaya pemeliharaan dan
reparasi (servicing) atau turun mesin (overhauling) pabrik dan peralatan
biasanya merupakan beban karena memelihara daripada meningkatkan standar
kinerja semula.

Perlakuan akuntansi yang tepat untuk pengeluaran yang terjadi setelah


perolehan suatu aktiva tetap tergantung pada keadaan yang diperhitungkan
pada pengukuran awal dan pengakuan pos yang berkaitan dari aktiva tetap dan
apakah pengeluaran setelah perolehan (subsequent expenditures) dapat pulang
pokok. Contohnya, jika jumlah tercatat aktiva tetap telah memperhitungkan
suatu kerugian dalam manfaat keekonomian masa yang akan datang yang
diharapkan dari dikapitalisasi asalkan saja jumlah tercatat tidak melebihi jumlah
yang dapat diperoleh kembali dari aktiva. Ini juga keadaan dimana harga
pembelian suatu aktiva telah mencerminkan kewajiban perusahaan untuk
membuat pengeluaran dalam masa yang akan datang yang perlu untuk
membawa aktiva ke kondisi kerjanya. Contohnya adalah perolehan suatu
gedung membutuhkan renovasi. Dalam keadaan tersebut, pengeluaran setelah
perolehan ditambahkan ke jumlah tercatat aktiva sepanjang dapat diperoleh
kembali dari manfaat masa yang akan datang dari aktiva.

3. Penyusutan
Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan
secara sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus
mencerminkan pola pemanfaatan keekonomian aktiva (the pattern in which the
asset’s economic benefits are consumed by the enterprise) oleh perusahaan.
18
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang
bersangkutan, kecuali termasuk sebagai jumlah tercatat aktiva lain.

Bersamaan dengan manfaat keekonomian yang diwujudkan dalam suatu


aktiva dikonsumsi oleh perusahaan sepanjang masa manfaat aktiva. Tetapi faktor
lain seperti keusangan teknis dan aus serta rusak (wear and tear) saat suatu
aktiva menganggur (iddle), juga dapat mengurangi manfaat keekonomiannya
yang mungkin telah diharapkan tersedia dari aktiva. Karenanya, seluruh faktor
berikut harus dipertimbangkan dalam menentukan masa manfaat suatu aktiva.

Penggunaan aktiva yang diharapkan oleh perusahaan :


• Penggunaan dinilai dengan pedoman kapasitas aktiva yang diharapkan atau
output fisik;
• keusangan fisik yang diharapkan, yang tergantung pada faktor operasional
seperti jumlah pergantian kelompok kerja (shifts) dimana aktiva digunakan
dan program perbaikan dan perawatan dari perusahaan, dan perawatan
aktiva pada saat menganggur (iddle);
• keusangan teknis yang timbul dari perubahan atau perbaikan produksi, atau
dari perubahan permintaan pasar untuk produk atau jasa yang dihasilkan
oleh aktiva; dan
• pembatasan hukum atau yang serupa atas penggunaan aktiva, seperti
habisnya waktu dari sewa guna usaha yang berkaitan.

Masa manfaat aktiva ditentukan berdasarkan kegunaan yang diharapkan


oleh perusahaan. Kebijakan manajemen aktiva suatu perusahaan mempengaruhi
jumlah penyusutan aktiva setelah suatu waktu yang ditentukan atau setelah
konsumsi dari proporsi tertentu atas manfaat keekonomian yang diwujudkan
dalam aktiva. Karenanya, masa manfaat suatu aktiva dapat lebih pendek
daripada usia keekonomiannya. Estimasi masa manfaat suatu aktiva tetap
merupakan masalah pertimbangan yang berdasarkan pada pengalaman
perusahaan dengan aktiva serupa.

Tanah dan bangunan harus diperlakukan sebagai aktiva yang terpisah untuk
tujuan akuntansi, walaupun diperoleh secara sekaligus. Tanah biasanya memiliki
usia tak terbatas, oleh karena itu tidak disusutkan. Bangunan memiliki usia
terbatas, oleh karena itu disusutkan. Peningkatan nilai tanah tempat bangunan
didirikan tidak mempengaruhi masa manfaat bangunan.

19
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Beban penyusutan untuk suatu periode biasanya diakui sebagai suatu beban.
Tetapi, dalam keadaan tertentu, manfaat keekonomian yang terwujud dalam
suatu aktiva diserap perusahaan dalam memproduksi aktiva lain bukan
memberikan kenaikan pada suatu beban. Dalam keadaan ini, beban penyusutan
mencakup bagian biaya perolehan aktiva lain dan termasuk dalam jumlah
tercatatnya. Sebagai contoh, penyusutan pabrik dan peralatan pabrik termasuk
dalam biaya proses produksi persediaan (lihat Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 14 tentang persediaan). Demikian pula, penyusutan aktiva tetap
yang digunakan untuk aktivitas pengembangan dapat dimasukkan dalam biaya
pengembangan yang dikapitalisasi sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan.

4. Penghentian dan Pelepasan


Suatu aktiva tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aktiva
secara permanent ditarik dari penggunaannya dan tidak ada manfaat
keekonomian masa yang akan datang diharapkan dari pelepasannya.

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian atau pelepasan


suatu aktiva tetap diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba
rugi.

Jika suatu aktiva tetap dipertukarkan untuk suatu aktiva yang serupa, dalam
keadaan yang dijelaskan dalam paragraf 21, biaya perolehan aktiva yang
diperoleh adalah sama dengan jumlah tercatat aktiva yang dilepaskan dan tidak
ada keuntungan atau kerugian yang dihasilkan.

Aktiva tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif dan ditahan untuk
dilepaskan dinilai pada yang terendah antara jumlah tercatatnya dan nilai
realisasi neto.

5. Pengungkapan
Laporan Keuangan harus mengungkapkan, dalam hubungan dengan setiap
jenis aktiva tetap :
 dasar penilaian yan digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto.
Jika lebih dari satu dasar yang digunakan, jumlah tercatat bruto untuk dasar
dalam setiap kategori harus diungkapkan;
 metode penyusutan yang digunakan;
 masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;

20
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

 jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir
periode;
 suatu rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode
memperlihatkan:
 penambahan;
 pelepasan;
 akuisisi melalui penggabungan usaha;
 revaluasi yang dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah;
 penurunan nilai tercatat sesuai dengan paragraf 43;
 penyusutan;
 beda nilai tukar neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan
suatu entitas asing; dan
 setiap pengklasifikasian kembali.

Pemilihan metode penyusutan dan estimasi masa manfaat aktiva adalah


masalah pertimbangan. Karenanya, pengungkapan metode yang digunakan dan
usia manfaat yang diestimasi atau tarif penyusutan menyediakan pemakai
laporan keuangan dengan informasi yang mengijinkan mereka meninjau
kebijakan yang dipilih oleh manajemen dan memungkinkan perbandingan
dibuat dengan perusahaan lain. Untuk alasan serupa, adalah perlu untuk
mengungkapkan penyusutan yang dialokasikan dalam suatu periode dan
akumulasi penyusutan pada akhir periode tersebut.

21
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

PENYUSUTAN

Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang
masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke
pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. (Paragraf 2 PSAK 18).

Aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang diharapkan untuk digunakan
selama lebih dari satu periode akuntansi, dan memiliki suatu masa manfaat yang
terbatas, dan ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau
memasok barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Jumlah yang dapat disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan suatu
aktiva, atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan
dikurangi nilai sisanya.

Penghapusan aktiva adalah penghapusan nilai buku yang tercantum tidak lagi
menggambarkan manfaat dari aktiva yang bersangkutan. Penghapusan aktiva berbeda
dengan penyusutan.

A. METODE PENYUSUTAN

Jumlah yang dapat disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama


masa manfaat aktiva dengan berbagai metode yang sistematis. Metode manapun
yang dipilih, konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu tanpa memandang
tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan agar dapat
menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari period eke periode.

Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat


dikelompokkan menurut kriteria berikut :

22
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Berdasarkan waktu :
a) metode garis lurus (straight-line method)
b) metode pembebanan yang menurun;
c) metode jumlah-angka-tahun (sum-of-the-years-digit-method)
d) metode saldo menurun / saldo menurun-ganda (declining / double-declining
balance method).
e) berdasarkan penggunaan;
f) metode jam-jasa (service-hours method)
g) metode jumlah unit produkai (productive-output method)

Berdasarkan kriteria lainnya :


a) metode berdasarkan kelompok dan jenis (group and composite method)
b) metode anuitas (annuity method)
c) sistem persediaan (inventory systems)
d) Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan harus diestimasi setelah
mempertimbangkan faktor berikut :
e) taksiran aus dan kerusakan fisik (physical wear and tear)
f) keuangan
g) pembatasan hukum atau lainnya atas penggunaan aktiva.

B. ASPEK PERPAJAKAN PEMBELIAN AKTIVA

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyusutan

1. Dasar penyusutan
Penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan,
perbaikan, atau perubahan harta berwujud kecuali tanah yang berstatus hak milik,
hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar
selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut.

Apabila Wajib Pajak melakukan penilaian kembali aktiva, maka dasar


penyusutan atas harta adalah nilai setelah dilakukan penilaian kembali aktiva
tersebut.
23
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Syarat aktiva (selain tanah) yang dapat disusutkan dan deductible expenses adalah :
a) Aktiva tersebut dapat disusutkan
b) Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud (selain tanah)
c) Mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
d) Untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan cara
mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut
melalui penyusutan.

2. Saat dimulainya penyusutan


Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud selain bangunan, dapat juga
dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung
dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa
manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat
asas.

Saat dimulainya penyusutan.


Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta
yang masih dalam proses pengerjaan penyusutannya dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tersebut.
Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak diperkenankan
melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang
bersangkutan mulai menghasilkan.

Penyusutan Bidang tertentu


Penyusutan atas harta berwujud yang dimiliki dan digunakan dalam usaha tertentu,
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Dalam rangka menyesuaikan dengan
karakteristik bidang-bidang usaha tertentu, seperti pertambangan minyak dan gas
bumi, perkebunan tanaman keras, perlu diberikan pengaturan tersendiri untuk
penyusutan harta berwujud yang digunakan dalam usaha tersebut yang ketentuannya
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

3. Pengalihan harta
Apabila terjadi pengalihan atau penarikan harta Pasal 4 ayat (1) huruf d UU 36 /
2008 atau penarikan harta karena sebab lainnya, maka jumlah nilai sisa buku harta
tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian
asuransinya yang diterima atau diperoleh dibukukan sebagai penghasilan pada
tahun terjadinya penarikan harta tersebut. Apabila hasil penggantian asuransi yang

24
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

akan diterima jumlahnya baru dapat diketahui dengan pasti di masa kemudian,
maka dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak c.q KPP jumlah sebesar kerugian
Pasal 11 ayat (8) dibukukan sebagai beban masa kemudian tersebut.

Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat dalam Pasal 4 (3) huruf
a&b, yang berupa harta berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta tersebut tidak
boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yan mengalihkan. Pada dasarnya
keuntungan atau kerugian karena pengalihan harta dikenakan pajak dalam tahun
dilakukannya pengalihan harta tersebut.

Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka penerimaan neto dari
penjualan harta tersebut, yaitu selisih antara harga penjualan dengan biaya yang
dikeluarkan berkenaan dengan penjualan tersebut dan atau penggantian
asuransinya dibukukan sebagai penghasilan pada tahun terjadinya penjualan atau
tahun diterimanya penggantian asuransi dan nilai sisa buku dari harta tersebut
dibebankan sebagai kerugian dalam tahun pajak yang bersangkutan.

Dalam hal penggantian asuransi yang diterima jumlahnya baru dapat diketahui
dengan pasti di mana kemudian, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan
kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian tersebut dapat
dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut. Menyimpang dari
ketentuan Pasal 11 ayat (8), dalam hal pengalihan harta berwujud yang memenuhi
syarat Pasal 4 ayat (3) huruf a & b, nilai sisa bukunya tidak boleh dibebankan
sebagai kerugian oleh pihak yang mengalihkan.

25
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

LEASING

PENGERTIAN

Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan


dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara
langsung dari masyarakat melalui deposito, tabungan, giro dan lain-lain. Lembaga
pembiayaan ini dalam perkembangannya kemudian dikenal sebagai Lembaga Keuangan
Bukan Bank (LKBB).

Lembaga pembiayaan yang pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di


Indonesia adalah kegiatan sewa guna usaha (Leasing) pada tahun 1974 dengan
dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan
dan Menteri Perindustrian Nomor : KEP-122 / MK / 2 / 1974, Nomor : 32 / M / SK / 2 /
1974 dan Nomor : 30 / Kpb / I / 74 tanggal 7 Februari 1974 tentang “Perijinan Usaha
Leasing”.

Definisi leasing sebagaimana dituangkan dalam pasal 1 SKB Menteri Keuangan,


Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian tersebut diatas adalah :
Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang
modal untuk digunakan oleh suatu prusahaaan untuk suatu jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (optie)
bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan
atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah
disepakati bersama.

Definisi tersebut tampaknya hanya menampung satu jenis leasing yang lazim
disebut finance lease atau capital lease atau sewa guna usaha pembiayaan. Namun
demikian, dengan dkeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 (Paket
Kebijaksanaan 20 Desember 1988) serta ditetapkannya Keputusan Menteri Keuangan
No. 1251 / KMK.013 / 1988 tanggal 20 Desember 1988,

26
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Jenis kegiatan sewa guna usaha tersirat dalam Pasal 1 keputusan tersebut yang
menampung definisi-definisi berikut ini :
• Leasing Company (perusahaan sewa guna usaha atau lessor) adalah badan usaha
yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal
baik secara finance lease maupun operating lease untuk digunakan oleh
penyewa-guna-usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara berkala.
• Finance lease adalah kegiatan sewa guna usaha, dimana penyewa-guna-usaha
(lessee) pada akhir masa kontrak mempunyai hak Opsi untuk membeli objek
sewa guna usaha berdasrkan nilai sisa yang disepakati bersama.
• Operating lease adalah kegiatan sewa guna usaha dimana penyewa-guna-usaha
(lessee) tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha.
• Lessee (penyewa-guna-usaha) adalah perusahaan atau perorangan yang
menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan sewa
guna usaha (lessor).

Ketentuan tersebut ternyata tidak banyak mengubah pengertian dasar leasing di


Indonesia karena hanya membuka peluang bagi perusahaan leasing untuk melakukan
kegiatan usahanya dalam operating lease yang pada hakekatnya merupakan usaha
sewa-menyewa biasa. Namun demikian, dengan terbukanya kemungkinan bagi
perusahaan leasing untuk memperluas bidang usaha yang mancakup baik sewa guna
usaha pembiayaan (finance lease) maupun sewa-menyewa biasa (operating lease) maka
dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan standar akuntansi
keuangan yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk mencatat dan melaporkan
transaksi-transaksi sewa guna usaha sesuai dengan karakteristik serta ruang lingkup
yangtelah ditetapkan dalam keputusan Menteri Keuangan tersebut. Pengurus Pusat
Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994 telah mensahkan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan Nomor 30 tentang Akuntansi Sewa Guna Usaha.

Di samping itu, meskipun kegiatan leasing di Indonesia sudah dikenal dan


berkembang sejak tahun 1974, perlakuan perpajakan atas transaksi leasing ternyata
masih berbentur pada berbagai masalah pelik dan rumit yang senantiasa menjadi objek
pertentangan / perdebatan. Hal ini terkait dengan beberapa kali berubahnya undang-
undang perpajakan, terutama Undang-undang Pajak Penghasilan dan Undang-undang
PPN. Perubahan undang-undang perpajakan yang ada selama ini tidak dengan segera
diiringi perubahan ketentuan perpajakan atas transaksi leasing sehingga dalam
praktiknya menimbulkan penafsiran-penafsiran yang berbeda dalam transaksi leasing,
terutama atas transaksi Sales and Leaseback. Sampai saat ini acuan tentang ketentuan
perpajakan atas transaksi leasing masih berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor :1169 / KMK.01 / 1991, tanggal 27 November 1991. Padahal sejak
dikeluarkannya keputusan Menteri Keuangan tersebut Undang-undang PPh telah

27
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
berubah tiga kali dan Undang-undang PPN telah berubah dua kali.
Mencermati ketentuan akuntansi dan ketentuan perpajakan atas transaksi sewa
guna usaha ternyata ada perbedaan-perbedaan. Sedangkan pada tahun 1997, Pengurus
Pusat Ikatan Akuntansi Indonesia telah mensahkan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan Nomor 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan yang mengatur agar
dilakukan pengakuan terhadap future tax effects yang timbul sebagai akibat adanya
transaksi dan peristiwa yang telah diakui dalam laporan keuangan dan SPT yang
disebabkan oleh perbedaan temporer. Pengakuan future tax effects tersebut dilakukan
dengan mengakui adanya aktiva pajak tangguhan (deferred tax asset) atau kewajiban
pajak tangguhan (deferred tax liability) dengan menggunakan Balance Sheet Liability
Method.

Materi ini dimaksudkan untuk membantu wajib pajak dalam memahami :


a. Aspek akuntansi atas transaksi Sewa Guna Usaha
b. Aspek pajak atas transaksi Sewa Guna Usaha
c. Pajak Tangguhan atas transaksi Sewa Guna Usaha

Jenis Leasing
Jenis leasing yang sudah dikenal secara umum, termasuk dua jenis leasing yang
telah ditampung dalam Keputusan Menteri Keuangan tersebut, adalah sebagai berikut:

a. Finance Lease (Sewa Guna Usaha Pembiayaan)


Dalam hal ini, perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah pihak yang
membiayai penyediaan barang modal yang dibutuhkan oleh lessee. Lessee biasanya
memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas nama perusahaan leasing sebagai
pemilik barang tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan, serta pemeliharaan
barang modal yang menjadi objek transaksi leasing. Selama masa sewa guna usaha
berjalan, lessee melakukan pembayaran secara berkala dimana jumlah seluruhnya
ditambah dengan pembayaran nilai sisa (residual value), kalau ada, mencakup
pengembalian harga perolehan barang modal yang dibiayai serta bunganya, yang
merupakan pendapatan perusahaan sewa guna usaha.

b. Operating Lease (Sewa-Menyewa Biasa)


Dalam leasing jenis ini, lessor membeli barang modal dan selanjutnya disewa-
guna-usahakan kepada lessee. Berbeda dengan finance lease, jumlah seluruh
pembayaran sewa guna usaha berkala dalam operating lease tidak mencakup jumlah
biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan
bunganya. Perbedaan ini disebabkan karena lessor mengharapkan keuntungan

28
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

justru dari penjualan barang modal yang disewa-guna-usahakan, atau melalui


beberapa kontrak sewa guna usaha lainnya.
Dalam hal ini, dibutuhkan keahlian khusus dari lessor untuk memelihara dan
memasarkan kembali barang modal yang disewa-guna-usahakan. Berbeda dengan
finance lease, dalam operating lease, lessor biasanya bertanggungjawab atas biaya-
biaya pelaksanaan sewa guna usaha seperti asuransi, pajak maupun pemeliharaan
barang modal yang bersangkutan.

c. Sales-type Lease (Sewa Guna Usaha Penjualan)


Sewa guna usaha jenis ini merupakan transaksi pembiayaan sewa guna usaha
secara langsung (direct finance lease) di mana dalam jumlah transaksi termasuk laba
yang diperhitungkan oleh pabrikan atau penyalur yang juga merupakan perusahaan
leasing. Leasing jenis ini seringkali merupakan suatu cara pemasaran bagi produk
perusahaan tertentu.

d. Leveraged Lease
Transaksi sewa guna usaha jenis ini melibatkan, setidaknya tiga pihak, yakni
lessee, lessor, dan kreditor jangka panjang yang membiayai bagian terbesar dari
transaksi sewa guna usaha.

Pelaksanaan transaksi sewa guna usaha

Ditinjau dari teknis pelaksanaannya, transaksi sewa guna usaha dapat


dilaksanakan sebagai berikut :
a. Direct Lease (Sewa Guna Usaha Langsung)
Dalam transaksi jenis ini lessee belum pernah memiliki barang modal yang
menjadi objek sewa guna usaha tersebut, sehingga atas permintaannya, lessor
membeli barang modal. Tujuan utama lessee adalah mendapatkan pembiayaan
melalui leasing untuk memperoleh barang modal yang dapat digunakan dalam
proses produksi.

b. Sale and Leaseback (Penjualan dan Penyewaan Kembali)


Dalam transaksi ini, lessee terlebih dahulu menjual barang modal yang sudah
dimiliki kepada perusahaan sewa guna usaha dan atas barang modal yang sama
ini kemudian dilakukan kontrak leasing antara lessee (pemilik semula) dengan
lessor.

29
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

c. Syndicated Lease (Sewa Guna Usaha Sindikasi)


Dalam sewa guna usaha sindikasi beberapa lessor secara bersama melakukan
transaksi sewa guna usaha dengan satu lessee. Sewa guna usaha ini dilakukan
karena nilai tansaksi yang terlampau besar atau karena faktor-faktor lain. Salah
satu lessor akan ditunjuk sebagai koordinator sehingga lessee cukup
berkomunikasi dengan perusahaan ini untuk melaksanakan segala sesuatu yang
menyangkut transaksi sewa guna usaha. Pelaksanaan transaksi ini dapat
dilakukan baik melalui direct lease maupun sale and leaseback

Dasar Pertimbangan
Dalam Pasal 3 ayat (3) Keputusan Menteri Keuangan No. 1251 / KMK.013 / 1998
tanggal 20 Desember 1988 dinyatakan bahwa sepanjang perjanjian sewa guna usaha
masih berlaku, hak milik atas barang modal obyek transaksi sewa guna usaha berada
pada perusahaan sewa guna usaha. Dengan demikian, selama jangka waktu sewa guna
usaha, hak milik (legal title) atas aktiva yang disewa-guna-usahakan tetap berada pada
perusahaan sewa guna usaha (lessor) meskipun berdasarkan suatu perjanjian sewa guna
usaha tanggung jawab atas penggunaan aktiva tersebut diserahkan kepada penyewa
guna usaha (lessee).

Terlepas dari ketentuan tersebut, ditinjau dari aspek akuntansi, paragraf 35


Kerangka Dasar Penyusutan dan Penyajian Laporan Keuangan menyatakan bahwa
laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomi (economic substance) dari
suatu peristiwa / transaksi daripada bentuk hukumnya (legal form). Oleh karena itu,
apabila suatu transaksi leasing yang berdasarkan makna ekonominya merupakan
pemindahan dari seluruh manfaat serta resiko yang melekat pada kepemilikan suatu
aktiva, maka transaksi tersebut harus dipandang sebagai perolehan suatu aktiva
pembiayaan (finance lease) bagi lessor.

Sebaliknya apabila suatu transaksi leasing yang berdasarkan makna ekonominya


bukan merupakan suatu pemindahan seluruh manfaat dan resiko yang melekat pada
kepemilikan aktiva tersebut, maka transaksi tersebut harus di pandang sebagai transaksi
sewa menyewa biasa (operating lease) oleh perusahaan sewa guna usaha.

Tujuan PSAK 30
Pernyataan ini dirumuskan berdasarkan beberapa alasan berikut ini :
a. Diperlukan ketegasan tentang perlakuan dan pelaporan transaksi leasing yang
dapat mengungkapkan status aktiva yang disewa-guna-usahakan baik bagi lessor
maupun lessee.

30
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

b. Perlu adanya pedoman tentang keseragaman pelakuan akuntansi transaksi


leasing sehingga data keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan dapat
dianalisis dan ditafsirkan dengan mudah oleh semua pihak yang
berkepentingan.
c. Dengan meluasnya transaksi leasing di Indonesia setelah kebijakan deregulasi
dan debirokratisasi, maka perlu diatur pengungkapan yang layak dalam standar
akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai laporan
keuangan.

Kriteria Pengelompokkan Transaksi Sewa Guna Usaha


Berhubungan dasar pertimbangan utama yang digunakan adalah asas makna
ekonomi, maka suatu transaksi sewa-guna-usaha akan dikelompokkan sebagai capital
lease bagi lessee atau finance lease bagi lessor apabila dipenuhi semua kriteria berikut
ini :
a. Lessee memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang disewa-guna-usahakan
pada akhir masa sewa guna usaha denga harga yang telah disetujui bersama pada
saat dimulainya perjanjian leasing.

b. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh lessee ditambah dengan nilai
sisa (residu) mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang
disewa-guna-usahakan serta bunganya sebagai keuntungan bagi lessor (full
payout lease).

c. Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) tahun.

d. Kalau salah satu kriteria tersebut di atas tidak terpenuhi maka transaksi leasing
dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease).

PERLAKUAN AKUNTANSI OLEH PERUSAHAAN SEWA GUNA USAHA (LESSOR)

1. Finance Lease
Penanaman neto dalam aktiva yang disewa-guna-usahakan harus diperlakukan
dan dicatat sebagai penanaman neto leasing. Jumlah penanaman neto tersebut
terdiri dari jumlah piutang leasing ditambah nilai sisa (harga opsi) yang akan
diterima oleh lessor pada akhir masa sewa guna usaha dikurangi dengan Pendapatan
Leasing yang Belum Diakui (unearned lease income) dan Simpanan Jaminan
(security deposit). Selisih antara piutang leasing ditambah nilai sisa (harga opsi)

31
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
dengan harga perolehan aktiva yang disewa-usaha-kan diperlakukan sebagai
Pendapatan Leasing yang Belum Diakui (unearned lease income).
Pendapatan leasing yang belum diakui harus dialokasikan secara konsisten sebagai
pendapatan periode berjalan berdasarkan suatu tingkat pengembalian berkala
(periodic rate of return) atas penanaman neto perusahaan sewa guna usaha.
Apabila lessor menjual barang modal kepada lessee sebelum berakhirnya masa
sewa guna usaha, maka perbedaan antara harga jual dengan penanaman neto dalam
leasing pada saat penjualan dilakukan harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan
atau kerugian periode berjalan. Pendapatan lain yang diterima sehubungan dengan
transaksi leasing harus diakui dan dicatat sebagai pendapatan periode berjalan.

2. Operating Lease
Barang modal yang disewa-guna-usahakan harus diperlakukan dan dicatat
sebagai aktiva sewa guna usaha berdasarkan harga perolehan. Pembayaran sewa
guna usaha (lease payments) selama tahun berjalan yang diperoleh dari lessee diakui
dan dicatat sebagai Pendapatan Sewa. Pendapatan sewa harus diakui dan dicatat
berdasarkan metode garis lurus sepanjang masa sewa guna usaha, meskipun jumlah
pembayaran sewa guna usaha mungkin tidak sama untuk setiap periode.
Penyusutan aktiva yang disewa-guna-usahakan harus dilakukan dalam jumlah yang
layak dijual maka perbedaan nilai buku dan harga jual harus diakui dan dicatat
sebagai Keuntungan atau Kerugian tahun berjalan.

PERLAKUAN AKUNTANSI BAGI LESSEE

1. Capital Lease
Transaksi leasing diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban
pada awal masa sewa guna usaha sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran guna
usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh lessee pada akhir
masa sewa guna usaha. Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna
usaha dialokasikan dan dicatat sebagai Angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha
dan beban bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa
kewajiban penyewa guna usaha.

Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari


pembayaran sewa guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh lessor
atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha. Aktiva yang
disewa-guna-usaha harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar berdasarkan
taksiran masa manfaatnya.

32
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Kalau aktiva yang disewa-guna-usaha dibeli sebelum berakhirnya masa sewa


guna usaha, maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan dengan sisa
kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan. Kewajiban sewa guna
usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka panjang sesuai dengan
praktek yang lazim untuk jenis usaha lessee.

Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sales and leaseback)
maka transaksi tersebut harus diperlakukan sebagai dua transaksi yang terpisah
yaitu transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. Selisih antara harga jual
dan nilai buku aktiva yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau
kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntungan atau kerugian yang
ditangguhkan harus dilakukan secara proporsional dengan biaya amortisasi aktiva
yang disewa guna usaha apabila leaseback merupakan capital lease atau secara
proporsional dengan biaya sewa apabila leaseback merupakan operating lease.

2. Operating Lease
Pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa
yang diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus selama masa sewa guna
usaha, meskipun pembayaran sewa guna usaha dilakukan dalam jumlah yang tidak
sama setiap periode.

PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN TRANSAKSI LEASING OLEH LESSOR.

1. Finance Lease
Aktiva dilaporkan berdasarkan urutan likuidasinya, kewajiban dilaporkan
berdasarkan urutan jatuh temponya tanpa mengelompokkan ke dalam unsur lancar
dan tidak lancar (unclassified balance sheet).
Penanaman neto dalam aktiva yang disewa guna usahakan harus dilaporkan dalam
neraca dengan rincian sebagai berikut :
Piutang Sewa Guna Usaha Rp. xxx
Nilai Sisa Yang Terjamin xxx
Pendapatan Sewa Guna Usaha Yang Belum Diakui (xxx)
Simpanan Jaminan (xxx)
Penanaman Netto Sewa Guna Usaha Rp. xxx
Penyisihan Piutang Sewa Guna Usaha Yang Diragukan (xxx)
Jumlah Penanaman Rp. xxx

33
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Laporan laba rugi disajikan sedemikian rupa sehingga seluruh pendapatan


dilaporkan dalam kelompok yang terpisah dari kelompok biaya (single step).
Pendapatan sewa guna usaha harus dilaporkan sebagai komponen utama dalam
kelompok Pendapatan. Jumlah penanaman neto dan pendapatan sewa guna usaha
dalam leasing sindikasi dan leveraged lease harus dilaporkan oleh masing-masing
pihak secara proporsional sesuai dengan penyertaannya.

Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan


keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut :
a) kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi
sewa guna usaha.
b) Jumlah pembayaran sewa guna usaha paling tidak untuk 2 (dua) tahun
berikutnya.
c) Sifat dari simpanan jaminan yang merupakan kewajiban lessor kepada lessee.
d) Piutang sewa guna usaha yang dijaminkan kepada pihak ketiga.
e) Sewa guna usaha sindikasi dan leveraged leases.

2. Operating Lease
Barang modal yang disewa-guna-usahakan dilaporkan berdasarkan harga
perolehan setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutannya. Aktiva yang disewa-
guna-usahakan dilaporkan secara terpisah dari aktiva tetap yang tidak disewa-guna-
usahakan. Perhitungan rugi laba harus disusun sedemikian rupa sehingga seluruh
pendapatan dilaporkan dalam kelompok yang terpisah dari kelompok biaya (single
step). Pendapatan leasing harus dilaporkan sebagai komponen utama dalam
kelompok Pendapatan. Penyusutan aktiva yang disewa-guna-usahakan dilaporkan
secara terpisah dari penyusutan aktiva yang tidak disewa-guna-usahakan.

Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan


keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut :
a) Kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi
leasing.
b) Jumlah pembayaran sewa guna usaha paling tidak untuk 2 (dua) tahun
berikutnya.
c) Sifat dari simpanan jaminan (jika ada).
d) Aktiva yang disewa-guna-usahakan yang dijaminkan kepada pihak ketiga.
e) Leasing sindikasi dan Leveraged Leases.

34
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

TRANSAKSI LEASING OLEH LESSEE


PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN TRANSAKSI

1. Capital Lease
Aktiva yang disewa-guna-usaha dilaporkan sebagai bagian aktiva tetap dalam
kelompok tersendiri. Kewajiban sewa guna usaha yang bersangkutan harus
disajikan terpisah dari kewajiban lainnya.

Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan


keuangan mengenai hal-hal sebagai berikuut :
a) Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dibayar paling tidak untuk 2
(dua) tahun berikutnya.
b) Penyusutan aktiva yang disewa-guna-usaha yang dibebankan dalam tahun
berjalan.
c) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi leasing.
d) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya
sehubungan dengan transaksi sale and leaseback.
e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian leasing (major
covenants).

2. Operating Lease
Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan
keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut :
a) Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan yang dibebankan
sebagai biaya sewa.
b) Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dilakukan paling tidak untuk 2
(dua) tahun berikutnya.
c) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi leasing.
d) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya
sehubungan dengan transaksi sale and leaseback.
e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha
(major covenants).

35
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

ASPEK PAJAK SEWA GUNA USAHA

Menurut ketentuan perpajakan, kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai


sewa guna usaha dengan hak Opsi (finance lease) apabila memenuhi semua kriteria
berikut :

1. Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha (lease term)
pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal, harus dapat menutup harga
perolehan barang modal dan keuntungan lessor.
Masa sewa guna usaha sekurang-kurangnya :
• 2 tahun untuk barang modal golongan I
• 3 tahun untuk barang modal golongan II dan III
• 7 tahun untuk barang modal golongan bangunan.

2. Penggolongan jenis barang tersebut ditetapkan berdasarkan Pasal 11 Undang-


undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Sedangkan undang-
undang ini sudah berubah 3 kali sampai saat ini.

3. Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan mengenai hak opsi bagi lessee.
Kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha tanpa hak opsi
apabila memenuhi semua kriteria berikut :
a) Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha (lease term)
pertama tidak dapat menutupi harga perolehan barang modal yang disewa guna
usahakan dan keuntungan yang diperhitungkan oleh lessor.
b) Perjanjian sewa guna usaha tidak memuat ketentuan mengenai hak opsi bagi
lessee.
c) Perlakuan perpajakan untuk transaksi sewa guna usaha sudah diatur oleh
pemerintah baik dari sisi lessor maupun lessee. Ketentuan tersebut diatur dalam
Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1169 / KMK.01 / 1991, yaitu sebagai
berikut:

36
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

TRANSAKSI FINANCE LEASE DARI SUDUT LESSOR

Atas pembayaran sewa guna usaha yang diterima atau diperoleh dari transaksi sewa
guna usaha dengan hak opsi bukan merupakan obyek pemotongan PPh Pasal 23. Atas
penyerahan jasa dalam transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi dari Lessor kepada
Lessee, bukan merupakan Jasa Kena Pajak sehingga tidak terutang PPN.

Lessor yang melakukan transaksi sewa guna usaha dengan hak opsi dapat
membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-ragu sebesar 2,5% dari rata-rata saldo
awal dan saldo akhir Jumlah Piutang Sewa Guna Usaha. Kerugian dari Piutang Sewa
Guna Usaha yang sebenarnya karena tidak dapat ditagih lagi, dibebankan kepada
perkiraan Cadangan Penghapusan Piutang Ragu-ragu. Selisih dana cadangan dan
piutang yang nyata-nyata tidak tertagih dimasukkan ke dalam Rugi / Laba tahun yang
bersangkutan (direct expense). Angsuran PPh Pasal 25 berdasarkan laporan keuangan
triwulan yang terakhir disetahunkan dibagi 12. Tidak ada perbedaan perlakuan
akuntansi dan perpajakan atas transaksi-transaksi Finance Lease dari sudut Lessor.

TRANSAKSI CAPITAL LEASE DARI SUDUT LESSEE

Lessee tidak boleh menyusutkan aktiva. Dasar penyusutan setelah lessee


menggunakan hak opsi adalah nilai sisa aktiva. Tanah tidak boleh disusutkan.
Pembayaran sewa guna usaha merupakan biaya kecuali pembebanan atas tanah.

Jika terjadi transaksi sale and leaseback, harus dipisahkan antara transaksi penjualan
dan transaksi sewa guna usaha. (Dalam kasus ini : ada perbedaan pendapat berkaitan
dengan pengenaan PPN atas penyerahan aktiva bekas eks Pasal 16D UU PPN).
Pembayaran sewa guna usaha dengan hak opsi bukan merupakan obyek pemotongan
PPh Pasal 23.

Ada perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan atas Transaksi Finance Lease
dari sudut Lessee. Perbedaan tersebut hanya perbedaan sementara dalam alokasi biaya.
Hal ini akan mempengaruhi dampak pajak di masa mendatang yang harus disajikan
dalam laporan keuangan sebagai pajak tangguhan berdasarkan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan Nomor 46.

37
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
TRANSAKSI OPERATING LEASE DARI SUDUT LESSOR

Atas pembayaran sewa guna usaha yang diterima atau diperoleh dari transaksi sewa
guna usaha tanpa hak opsi merupakan obyek pemotongan PPh Pasal 23. Atas
penyerahan Jasa dalam transaksi sewa guna usaha tanpa hak opsi dari Lessor kepada
lessee, merupakan Jasa Kena Pajak sehingga terutang PPN. Lessor membebankan biaya
penyusutan.

Penyusutan dimulai pada bulan diperolehnya aktiva. Pada saat Keputusan Menteri
Keuangan Nomor : 1169/KMK.01/1991, ketentuan penyusutan masih menggunakan
ketentuan berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1983, dimana penyusutan dilakukan secara
gabungan. UU Nomor 10 Tahun 1994 mengubah ketentuan penyusutan dilakukan
secara individual mulai tahun diperolehnya aktiva. UU Nomor 17 Tahun 2000
mengubah ketentuan penyusutan dilakukan secara individual mulai bulan
diperolehnya aktiva.

Angsuran PPh Pasal 25 berdasarkan laporan keuangan triwulan yang terakhir


disetahunkan dibagi 12.

TRANSAKSI OPERATING LEASE DARI SUDUT LESSEE

Lessee tidak boleh menyusutkan aktiva. Pembayaran sewa merupakan biaya.


Pembayaran sewa wajib dipotong PPh Pasal 23 atau PPh Pasal 4 ayat(2) Final. Lessee
berhak mengkreditkan PPN yang dibayarkannya kepada lessor.

38
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

ASPEK AKUNTANSI AKTIVA TIDAK BERWUJUD

Aktiva tak berwujud (intangible asset) adalah aktiva tak lancar (non current asset)
dan tak berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya
dan dalam laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang
lain. Salah satu karakteristik aktiva tak berwujud yang paling penting adalah tingkat
ketidak pastian mengenai nilai dan manfaatnya dikemudian hari. Dalam banyak kasus,
nilai aktiva tak berwujud antara lain dapat berbentuk hak paten, hak cipta, franchise,
merk dagang dan goodwill.

Perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud menyangkut masalah yang tidak berbeda
dengan perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap, diantaranya adalah penentuan nilai
perolehan, pelakuan akuntansi selanjutnya terhadap nilai perolehan tersebut dalam
kondisi usaha normal (amortisasi), dan perlakuan akuntansi atas penurunan nilai aktiva
tak berwujud yang material dan permanen. Kesulitan yang dihadapi dalam pemecahan
masalah perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud pada umumnya disebabkan oleh sifat
aktiva tersebut, seperti tidak adanya wujud fisik yang menyebabkan bukti
keberadaannya kabur, dan kesulitan dalam penentuan nilai perolehan serta masa
manfaat keekonomiannya.

Aktiva tak berwujud dibedakan menurut sifat kekhususannya, masa manfaatnya,


hubungannya dengan kegiatan usaha, dan penghapusannya. Dasar penggolongan aktiva
tak berwujud adalah sebagai berikut :
a. kemampuan untuk diidentifikasikan : dapat atau tidak dapat diidentifikasikan
secara khusus.
b. cara perolehan : diperoleh secara individual, secara kelompok, melalui
penggabungan badan usaha atau dikembangkan sendiri.
c. masa manfaat yang diharapkan : tergantung pada pembatasan yang diatur oleh
hukum / perjanjian, pada faktor keekonomian atau manusia, atau pada jangka waktu
yang tidak terbatas atau tidak dapat ditentukan di masa depan.
d. kemampuan untuk dipisahkan dari keseluruhan perusahaan : hak yang dapat
dialihkan tanpa bukti pemilikan, dapat dijual atau tidak dapat dipisahkan dari
perusahaan atau dari bagian pokoknya.

39
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Perusahaan harus mencatat nilai perolehan aktiva tak berwujud yang diperoleh dari
individu atau badan usaha lain sebagai aktiva. Biaya pemeliharaan atau penyimpanan
aktiva tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan secara khusus tidak dapat
ditentukan masa manfaatnya / umurnya, atau tidak dapat dihindarkan dalam suatu
kegiatan usaha harus dibebankan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan.

Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu, sehingga
harga perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama
taksiran masa manfaatnya dan tidak boleh dibebankan seluruhnya pada periode
perolehan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menaksir masa manfaat suatu
aktiva tak berwujud adalah sebagai berikut :
a. Ketentuan hukum, peraturan, perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum.
b. Kemungkinan untuk memperbaharui atau memperpanjang batas masa manfaat yang
telah ditentukan.
c. Pengaruh keusangan, permintaan, persaingan dan faktor perubahan ekonomi dan
teknologi yang mempengaruhi masa manfaat.
d. Prakiraan tindakan yang akan dilakukan oleh pesaing, pelaksana hukum / peraturan
dan lainnya yang membatasi keunggulan dalam daya saing (competitive advantage).
e. Adanya suatu masa manfaat yang tidak terbatas, dan masa manfaat yang diharapkan
tidak dapat ditaksir secara wajar.
f. Kemungkinan aktiva tak berwujud terdiri dari beberapa jenis / faktor yang
mempunyai masa manfaat yang berbeda.

Untuk menentukan masa manfaat aktiva tak berwujud secara wajar maka hal-hal
tersebut diatas harus dianalisa terlebih dahulu. Taksiran masa manfaat yang wajar
biasanya ditentukan dengan membuat batas atas dan batas bawah karena taksiran masa
manfaat yang sesungguhnya sulit untuk ditentukan.

Metode amortisasi aktiva tak berwujud adalah metode garis lurus (Straight Line
method), kecuali jika ada metode lain yang lebih sesuai dengan kondisi perusahaan.
Laporan keuangan harus mengungkapkan metode dan periode amortisasi yang
digunakan.

Perusahaan harus mengevaluasi periode amortisasi aktiva tak berwujud secara


teratur untuk memutuskan apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut
perubahan taksiran masa manfaat yang ditentukan. Jika taksiran masa manfaat berubah,
maka jumlah harga perolehan yang belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa
masa manfaat yang baru, dengan syarat tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun dari
tanggal perolehan. Taksiran nilai dan manfaat masa depan suatu aktiva tak berwujud

40
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

yang belum diamortisasi tersebut harus dikurangi dengan jumlah tertentu sebagai
beban usaha dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Meskipun demikian,
kerugian pada satu atau beberapa tahun tertentu secara berurutan tidak dapat dijadikan
alasan untuk membebankan semua atau sebagian harga perolehan aktiva tak berwujud
yang diamortisasi sebagai pembebanan luar biasa pada periode yang bersangkutan. Jika
ada pembebanan luar biasa, maka alasan pembebanannya harus diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.
Berdasarkan eksistensinya, aktiva tak berwujud dapat dikelompokkan dalam 2 (dua)
kategori :
1. Aktiva tak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh ketentuan perundang-
undangan, peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau
sifat dari aktiva tersebut, misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, franchise yang
terbatas lisensi.
2. Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak dapat
dipastikan masa berakhirnya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia,
perpetual franchise, goodwill.

AMORTISASI AKTIVA TAK BERWUJUD

Amortisasi terhadap intangible asset adalah atas pengeluaran untuk memperoleh


harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna
bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1
(satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan, dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar atau dalam bagian-bagian
yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif
amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa
manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas.
Kelompok amortisasi :

Kelompok Harta Masa Manfaat Tarif Amortisasi berdasarkan


Tak Berwujud metode

Garis Lurus Saldo Menurun

Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %

Kelompok 2 8 tahun 12,5 % 25 %

Kelompok 3 16 tahun 6,25 % 12,5 %

Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %

41
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Wajib Pajak dapat melakukan amortisasi sesuai dengan metode yang dipilihnya
berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya dari tiap harta tak berwujud. Tarif
amortisasi yang diterapkan didasarkan pada kelompok masa manfaat sebagaimana yang
diatur dalam ketentuan ini. Untuk harta tidak berwujud yang masa manfaatnya tidak
tercantum pada kelompok masa manfaat yang ada, maka Wajib Pajak menggunakan
masa manfaat yang terdekat. Misalnya harta tak berwujud dengan masa manfaat yang
sebenarnya 6 (enam) tahun dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat)
tahun atau 8 (delapan) tahun. Dalam hal masa manfaat yang sebenarnya 5 (lima) tahun,
maka harta tak berwujud tersebut diamortisasi dengan menggunakan kelompok masa
manfaat 4 (empat) tahun.

Macam-
Macam-macam amortisasi
1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya perluasan modal suatu perusahaan
dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau amortisasi.

2. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan minyak
dan gas bumi dilakukan dengan menggunakan metode satuan produksi. Metode
satuan produksi dilakukan dengan menerapkan persentase amortisasi yang besarnya
setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi penambangan
minyak dan gas bumi pada tahun yang bersangkutan dengan taksiran jumlah
seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut yang dapat diproduksi.
Apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang
diperkirakan, sehingga masih terdapat sisa pengeluaran untuk memperoleh hak atau
pengeluaran lain, maka atas sisa pengeluaran tersebut boleh dibebankan sekaligus
dalam tahun pajak yang bersangkutan.

3. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain diatas


yaitu hak pengusahaan hutan dan hak pengusahaan sumber alam serta hasil alam
lainnya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dilakukan dengan
menggunakan metode satuan produksi paling tinggi 20 % (dua puluh persen)
setahun.

4. Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan gas bumi,
hak pengusahaan hutan, atau hasil alam lainnya seperti hak pengusahaan hasil laut
diamortisasi berdasarkan metode satuan produksi dengan jumlah paling tinggi 20 %
(dua puluh persen) setahun.

42
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Contoh :
Pengeluaran untuk memperoleh hak pengusahaan hutan, yang mempunyai
potensi 10.000.000 (sepuluh juta) ton kayu, sebesar Rp. 500.000.000,00 diamortisasi
sesuai dengan persentase satuan produksi yang direalisasikan dalam tahun yang
bersangkutan. Jika dalam satu tahun pajak ternyata jumlah produksi mencapai
3.000.000 (tiga juta) ton yang berarti 30% (tiga puluh persen) dari potensi yang
tersedia, maka walaupun jumlah produksi pada tahun tersebut mencapai 30 % (tiga
puluh persen) dari jumlah potensi yang tersedia, besarnya amortisasi yang
diperkenankan untuk dikurangkan dari penghasilan brutopada tahun tersebut
adalah 20 % (dua puluh persen) dari pengeluaran atau Rp. 100.000.000,00.
Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi sesuai
dengan ketentuan yang ada.
Dalam pengertian pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial,
adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum operasi komersial, misalnya biaya
studi kelayakan dan biaya produksi percobaan tetapi tidak termasuk biaya-biaya
operasional yang sifatnya rutin, seperti gaji pegawai, biaya rekening listrik dan
telepon, dan biaya kantor lainnya. Untuk pengeluaran operasional yang rutin ini
tidak boleh dikapitalisasi tetapi dibebankan sekaligus pada tahun pengeluaran.

PENGALIHAN AKTIVA TIDAK BERWUJUD

Apabila terjadi pengalihan harta tak berwujud maka nilai sisa buku harta atau hak-
hak tersebut dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai
penggantian merupakan penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan tersebut.

Apabila terjadi pengalihan harta yang memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) huruf a &b
36 Tahun 2008 yang berupa harta tak berwujud, maka jumlah nilai sisa buku harta
tersebut tidak oleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang mengalihkan.

43
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

ASPEK PPh ATAS JASA KONSTRUKSI

PENGANTAR

Dalam bab ini khusus ditujukan untuk Pengusaha yang kegiatan usahanya
melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) berupa Jasa Perencanaan, Jasa
Pelaksanaan, dan Jasa Pengawasan Konstruksi, atau yang lebih populer disebut sebagai
Kontraktor.

PERATURAN TERKAIT

1. UU Nomor 17 Tahun 2000;


2. PP Nomor 138 Tahun 2000;
3. PP Nomor 140 Tahun 2000;
4. KMK Nomor : 559 / KMK.04 / 2000;
5. Keputusan DJP Nomor : Kep-305 / PJ. / 2001;
6. PP Nomor : 42 Tahun 1995 jo PP Nomor : 63 Tahun 1998 jo PP Nomor : 43
Tahun 2000;
7. KMK Nomor : 239 / KMK.04 / 1995 jo KMK Nomor : 463 / KMK.04 / 1998 jo
KMK Nomor : 486 KMK.04 / 2000;
8. Keputusan DJP Nomor : 526 / PJ. / 2000.

ASPEK PEMOTONGAN PPh

Berdasarkan PP 140 Tahun 2000 dan KMK-559/KMK.04/2000 ditegaskan bahwa


atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap dari
Usaha di Bidang Jasa Konstruksi, dikenakan PPh berdasarkan ketentuan umum UU
PPh dan merupakan obyek Pemotongan PPh Pasal 23. Atas penghasilan yang diterima
Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap dari Usaha di Bidang Jasa
Konstruksi, yang memenuhi kualifikasi sebagai usaha kecil berdasarkan sertifikat yang
dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, serta yang mempunyai nilai pengadaan
44
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

sampai dengan Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), dikenakan PPh yang bersifat
Final. Jadi mulai Tahun 2001, aspek pemotongan PPh atas Jasa Konstruksi harus dilihat
terlebih dahulu penerima penghasilan memenuhi kualifikasi sebagai usaha kecil atau
tidak, untuk menentukan apakah atas penghasilan jasa konstruksi tersebut dipotong
PPh Final atau PPh Pasal 23, meskipun tarif pemotongannya sama, yaitu :
1. 4% dari jumlah imbalan bruto untuk Jasa Perencanaan dan Pengawasan Konstruksi;
2. 2% dari jumlah imbalan bruto untuk Jasa Pelaksanaan Konstruksi

Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) KEP-305 / PJ. / 2001, dinyatakan bahwa jumlah
imbalan bruto khusus untuk jasa konstruksi adalah jumlah imbalan yang dibayarkan
seluruhnya, termasuk atas pemberian jasa dan pengadaan material / barangnya.

Namun ketentuan mengenai aspek pemotongan PPh atas jasa kontruksi berubah
menjadi final sesuai ketentuan pasal 4 ayat 2 UU PPh Jo. PP 51 tahun 2008 Jo. PP 40
tahun 2009 Jo. PMK-187/PMK-03/2008 adapun tarif pemotongannya :
a. 2% (dua persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia
Jasa dengan kualifikasi usaha kecil;
b. 4% (empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia
Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha;
c. 3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia
Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b;
d. 4% (empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi
yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha; dan
e. 6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi
yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.

ASPEK PPh BADAN

Berdasarkan PP 140 Tahun 2000 dan KMK-559/KMK.04/2000 ditegaskan bahwa


atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak Dalam Negeri dan Bentuk Usaha Tetap dari
Usaha di Bidang Jasa Konstruksi, dikenakan PPh berdasarkan ketentuan umum UU
PPh. Hal ini berarti mulai tahun pajak 2001 Pengusaha Jasa Konstruksi wajib
menyusun laporan keuangan fiscal untuk menghitung penghasilan netto-nya pada
tahun pajak yang bersangkutan.

45
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Berdasarkan Pasal 6 PP 138 tahun 2000, diatur bahwa Laba Bruto Usaha dalam
suatu tahun pajak yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang berusaha di bidang
jasa konstruksi, yang proses pekerjaan fisiknya meliputi masa beberapa tahun pajak
dihitung berdasarkan metode prosentase tingkat penyelesaian pekerjaan.

Metode prosentase tingkat penyelesaian pekerjaan ini dapat di hitung dengan


menggunakan 2 pendekatan :
Metode Prosentase Selesai Berdasarkan Biaya.
Tiap-tiap akhir tahun dihitung biaya yang sudah dikeluarkan dan taksiran biaya
untuk menyelesaikan, sebagai dasar untuk menghitung taksiran laba.

CONTOH :
PT. KONSTRUKSI UTAMA menangani proyek konstruksi dengan nilai kontrak Rp.
1.000.000.000,00 (1 milyar rupiah) dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama
5 tahun (Tahun 2001 s.d. 2005).

2001 2002 2003 2004 2005

Actrual Cost 1 150 Juta 250 Juta 200 Juta 150 Juta 125 Juta

Akumulasi Biaya 2 150 Juta 400 Juta 600 Juta 750 Juta 875 Juta
S.D Akhir Tahun

Perkiraan Sisa 3 700 Juta 450 Juta 250 Juta 100 Juta ---
Biaya

Perkiraan Total 4 850 Juta 850 Juta 850 Juta 850 Juta 875 Juta
Biaya

Perkiraan Total 5 150 Juta 150 Juta 150 Juta 150 Juta 125 Juta
Laba Bruto

Akumulasi Laba (2 / 4) x 5 26.470.588 70.588.235 105.882.35 132.352.94 125 Juta


Bruto 2 1

Laba (Rugi) 26.470.588 44.117.647 35.294.117 35.294.117 (7.352.941)


Bruto Per Tahun

Metode Prosentase Selesai Berdasarkan Prosentase Selesai Fisik.

46
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

CONTOH :

2001 2002 2003 2004 2005

% Selesai Fisik 20 % 55 % 65 % 80 % 100 %

Nilai Kontrak Yang Diselesaikan 200 Juta 550 Juta 650 Juta 800 Juta 1 Milyar

Biaya Aktual 150 Juta 250 Juta 200 Juta 150 Juta 125 Juta

Akumulasi Biaya S.D Akhir Tahun 150 Juta 400 Juta 600 Juta 750 Juta 875 Juta

Akumulasi Laba Bruto 50 Juta 150 Juta 50 Juta 100 Juta 125 Juta

Laba (Rugi) Bruto Per Tahun 50 Juta 100 Juta (100 Juta) 50 Juta 25 Juta

Untuk menghitung penghasilan netto, laba bruto usaha tersebut di atas dikurangi
dengan biaya pengeluaran lain yang diperkenankan menurut UU PPh.

Namun, seperti halnya PPh pemotongan/pemungutan yang bersifat final, aspek PPh
badanpun mulai tahun pajak 2008 bersifat final artinya:
• kalaupun pajak yang sudah dipotong/dipungut atau dibayar/disetor sendiri,
merupakan pelunasan pajak sehingga tidak akan kena pajak lagi di akhir tahun.
• Pajak-pajak yang sudah dipungut/dipotong, tidak dapat dikreditkan
• Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka mendapat, menagih, dan
memelihara penghasilan tidak dapat dibiayakan.
Dengan demikian, jika penghasilan badan tersebut hanya dari jasa konstruksi saja, bisa
dipastikan pajak akhir tahunnya akan nihil.

ASPEK PPh BADAN BERKAITAN DENGAN PROYEK PEMERINTAH YANG DI


BIAYAI DENGAN HIBAH
HIBAH ATAU DANA PINJAMAN LUAR NEGERI

Proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri dari
tahun 1995 sampai dengan tahun 2001 ini telah mengalami beberapa kali perubahan
berdasarkan PP no 42 tahun 1995 jo PP Nomor 63 Tahun 1998 jo PP Nomor 43 Tahun
2000 jo PP Nomor 25 Tahun 2001. Hal penting yang harus mendapat perhatian adalah
atas proyek pemerintah yang PPh-nya Ditanggung Pemerintah kontraktor harus
menghitung besarnya PPh Ditanggung Pemerintah yang dapat dikreditkan pada tahun
pajak berjalan.

47
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

CONTOH :

2001 2002 2003 2004 2005

Actual Cost 150 Juta 250 Juta 200 Juta 150 Juta 125 Juta

Akumulasi Biaya S. D. 150 Juta 400 Juta 600 Juta 750 Juta 875 Juta
Akhir Tahun

Perkiraan Sisa Biaya 700 Juta 450 Juta 250 Juta 100 Juta ---

Perkiraan Total Biaya 850 Juta 850 Juta 850 Juta 850 Juta 875 Juta

Perkiraan Total Laba 150 Juta 150 Juta 150 Juta 150 Juta 125 Juta
Bruto

Akumulasi Laba Bruto 26.470.588 70.588.235 105.882.352 132.352.941 125 Juta

Laba (Rugi) Bruto Per 26.470.588 44.117.647 35.294.117 26.470.589 (7.352.941)


Tahun

Actual Cost 150 Juta 250 Juta 200 Juta 150 Juta 125 Juta

Akumulasi Biaya S. D. 150 Juta 400 Juta 600 Juta 750 Juta 875 Juta
Akhir Tahun

Perkiraan Sisa Biaya 700 Juta 450 Juta 250 Juta 100 Juta ---

Perkiraan Total Biaya 850 Juta 850 Juta 850 Juta 850 Juta 875 Juta

Perkiraan Total Laba 150 Juta 150 Juta 150 Juta 150 Juta 125 Juta
Bruto

Akumulasi Laba Bruto 26.470.588 70.588.235 105.882.352 132.352.941 125 Juta

Laba (Rugi) Bruto Per 26.470.588 44.117.647 35.294.117 26.470.589 (7.352.941)


Tahun

Jumlah Laba Bruto 52.941.176 88.235.294 70.588.234 52.941.178 (14.705.882)

Deductible expense 10 Juta 10 Juta 10 Juta 10 Juta 10 Juta

Penghasilan Netto 42.941.176 78.235.294 60.588.234 42.941.178 (24.705.882)

Kompensasi 0 0 0 0 0

48
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

PhKp 42.941.176 78.235.294 60.588.234 42.941.178 (24.705.882)

PPh terutang 4.294.100 9.235.294 6.588.200 4.294.100 0

PPh Ditanggung 2.147.050 4.617.625 3.294.100 2.147.050 0


Pemerintah

PPh Dibayar Sendiri 2.147.050 4.617.625 3.294.100 2.147.050 0

49
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN


POKOK-
POKOK-POKOK PSAK 46

TUJUAN
Mengatur perlakuan akuntansi pajak penghasilan
Dalam akuntansi pajak penghasilan, agar dilakukan pengakuan (recognition)
terhadap future tax effects yang timbul sebagai akibat adanya transaksi dan peristiwa
yang telah diakui dalam laporan keuangan dan SPT. Di samping itu agar dilakukan
pengakuan terhadap future tax effects dari kompensasi kerugian fiskal yang belum
digunakan (unused tax losses carryforward) apabila persyaratan tertentu dipenuhi.

Pengakuan future tax effects diakui dengan mengakui adanya account pajak
tangguhan (deferred tax liabilities atau deferred tax assets). Pengakuan pajak tangguhan
dalam PSAK 46 dilakukan dengan menggunakan Balance Sheet Liability Method.
Beberapa Terminologi Baru Yang Perlu Dipahami

Laba Akuntansi Laba Fiskal


(Accounting Profit) (Taxable Profit)

Dasar Pengenaan Pajak atau Nilai Nilai Buku – Akuntansi


Buku Fiskal
(Accounting Base)
(Tax Base)

Perbedaan Tempore
(Temporary Differences)

Perbedaan Temporer Kena Pajak Perbedaan Temporer yang Boleh Dikurangkan


(Taxable Temporary Differences) (Deductible Temporary Differences)

Pajak Kini Pajak Tangguhan


(Current Tax) (Deferred Tax)

Beban Pajak Penghasilan Pajak


(Tax Expense) (Tax Income)

50
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Kewajiban Pajak Tangguhan Aktiva Pajak Tangguhan


(Deferred Tax Liability) (Deferred Tax Asset)

POKOK-
POKOK-POKOK PSAK 46 DAN ASPEK TEKNIS YANG PERLU DIPAHAMI OLEH
PERUSAHAAN

Balance Sheet Approach For Deferred Taxes


Apabila sebelumnya perusahaan lazimnya menggunakan tax payable method dalam
akuntansi pajak penghasilan, maka dengan berlakunya PSAK 46, perusahaan harus
melakukan suatu perubahan mendasar dalam akuntansi pajak penghasilan karena harus
menghitung dan mengakui pajak tangguhan (deferred tax) atas future tax effects
dengan menggunakan balance sheet liability method atau disebut juga asset / liability
method. Penggunaan balance sheet liability method merupakan suatu hal yang baru
dalam standar akuntansi, mengingat selama ini yang lazim diterapkan di berbagai
negara dan juga dibahas dalam berbagai literatur adalah pengakuan pajak tangguhan
(deferred tax) dengan menggunakan deferred method atau disebut juga income
statement liability method.

Untuk dapat menghitung dan mengakui pajak tangguhan berdasarkan balance sheet
liability method sebagaimana diadopsi oleh PSAK 46, maka kunci utama yang perlu
dipahami adalah konsep tentang temporary differences (TD / perbedaan temporer). TD
adalah perbedaan antara Accounting Base yaitu nilai buku atas nilai tercatat aktiva dan
kewajiban menurut pembukuan (akuntansi) dengan Tax Base yaitu nilai buku fiskal
yang digunakan sebagai dasar pelaporan SPT PPh Badan (Formulir 1771).

Apabila jumlah TD pada tanggal neraca telah diketahui dari pembandingan antara
saldo menurut buku (per books) dan saldo menurut fiskal (per SPT), maka pada tanggal
neraca dapat dihitung jumlah aktiva pajak tangguhan (deferred tax assets / DTA) dan
kewajiban pajak tangguhan (deffered tax liability / DTL) sebagai akibat TD tersebut. Di
samping itu, dilakukan juga pengakuan adanya aktiva pajak tangguhan (defeered tax
assets) atas sisa kerugian fiskal yang belum dikompensasikan (tax loss carryforward),
apabila persyaratan tertentu dipenuhi. Di samping itu, perlu kiranya diketahui bahwa
penghasilan tertentu di Indonesia dikenakan PPh yang bersifat final. Terhadap
penghasilan yang telah dikenakan PPh final, maka terhadap unsur aktiva dan
kewajiban yang terkait dengan penghasilan yang telah dikenakan PPh final tersebut
tidak boleh diakui adanya perbedaan temporer. Dengan demikian, untuk penghasilan
yang telah dikenakan PPh final tidak ada pengakuan aktiva dan kewajiban pajak
tangguhan atas unsur aktiva dan kewajiban terkait.

51
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Apabila saldo akhir DTA dan DTL yang berasal dari perbedaan temporer per
tanggal neraca telah diakui, maka dengan membandingkannya dengan saldo awal,
dapat segera diketahui perubahannya (kenaikan / penurunan) DTA / DTL. Jumlah
kenaikan/penurunan DTA / DTL merupakan beban pajak tangguhan atau penghasilan
pajak tangguhan (deferred tax expense atau deferred tax income) yang harus
diperhitungkan dalam laporan laba-rugi periode berjalan. Di samping itu, pengakuan
DTA yang dilakukan terhadap rugi fiskal, akan mempengaruhi jumlah penghasilan
pajak tangguhan.

Provision For Income Taxes (Taksiran PPh)


Selama ini perusahaan mengakui jumlah taksiran pajak penghasilan (provision for
income taxes) di laporan laba rugi sesuai dengan jumlah yang terutang menurut SPT
berdasarkan tax payable method. Dengan berlakunya PSAK 46, jumlah beban pajak (tax
expense) atau provision for income taxes yang harus diakui terdiri dari dua unsur
utama yaitu pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) ditambah satu
unsur tambahan (apabila ada) yaitu income for benefit due to loss carryforward.
Current tax merupakan jumlah PPh terutang atas penghasilan kena pajak periode
berjalan, sedangkan unsur deferred tax sebagaimana dijelaskan pada butir 4 diatas. Hal
baru yang perlu diketahui adalah bahwa jumlah agregat current tax dan deferred tax
tersebut dapat menghasilkan beban pajak (tax expense) suatu periode atau sebaliknya
dapat juga menghasilkan suatu penghasilan pajak (tax income), yang menjadi unsur
penambah Net Income (Loss) Before Taxes. Hal ini berbeda dengan tax payable method
yang selama ini lazim diterapkan oleh perusahaan di Indonesia, yang selalu
menghasilkan tax expense dalam bentuk Provision for income tax sebagai unsur
pengurang Net Income Before Taxes, dengan jumlah minimal nihil.

Bagi perusahaan yang selama ini menghitung taksiran PPh berdasarkan SPT (tax
payable method), taksiran PPh akan diakui nihil apabila pada suatu tahun pajak
perusahaan mengalami kerugian fiskal (tax loss) atau apabila jumlah sisa kompensasi
kerugian masih lebih besar dari Penghasilan Kena Pajak tahun berjalan. Dengan
perkataan lain, rugi fiskal tahun berjalan (current tax loss) dan sisa kompensasi
kerugian (tax loss carryforward) tidak diakui sebagai aktiva (assets) dalam neraca, dan
future tax effect atas rugi fiskal tersebut juga tidak diakui dalam laporan laba-rugi.
PSAK 46 menghendaki agar dilakukan pengakuan terhadap future tax e2 t dari
kerugian fiskal tersebut dalam laporan keuangan, apabila besar kemungkinan laba fiskal
periode mendatang cukup memadai untuk dikompensasikan.

Periodic Review
Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa pajak tangguhan (deferred tax) merupakan
future tax effect yang timbul sebagai akibat transaksi dan peristiwa yang telah terjadi
dan telah dilaporkan dalam laporan keuangan dan SPT yang diharuskan untuk diakui
dalam laporan keuangan periode berjalan. Dengan demikian, realisasi DTA atau
52
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

penyelesaian DTL akan terjadi pada periode mendatang. Apabila DTA diperkirakan
tidak akan dapat direalisasi sepenuhnya maka harus diturunkan nilainya (write-down)
dengan membentuk penyisihan. Selanjutnya apabila pada periode berikut terdapat
perubahan keadaan yang menambah tingkat keyakinan terhadap realisasinya, maka
jumlah yang telah diturunkan dapat dipulihkan kembali (write-up). Oleh karena itu,
terhadap DTA harus dilakukan periodic review untuk mengevaluasi realisasinya.
Walaupun deferred tax merefleksikan future tax effects yang diakui dalam laporan
keuangan, DTA tidak boleh didiskonto (discounted).
Perubahan tarif PPh maupun perubahan ketentuan perpajakan dapat
mempengaruhi realisasi atau penyelesaian DTA dan DTL. Oleh karena itu, apabila
terdapat perubahan tarif PPh atau perubahan ketentuan perpajakan yang secara
substansial telah berlaku maka jumlah DTA dan DTL harus merefleksikan perubahan
tersebut.

Direct Charge Or Credit To Equity


Perlu pula disadari bahwa terhadap transaksi tertentu, pembebanan atau
pengkreditannya tidak dilakukan ke laba-rugi tetapi langsung ke ekuitas, seperti selisih
penilaian kembali aktiva tetap, penyesuaian saldo laba awal periode (sebagai akibat
koreksi kesalahan mendasar, perubahan kebijakan akuntansi yang diterapkan secara
retrospektif, dsb), selisih kurs penjabaran laporan keuangan dan sebagainya. Karena
langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas, maka apabila ada current tax dan
deferred tax yang terkait harus dikreditkan atau dibebankan ke ekuitas.

Penyajian
Sehubungan dengan penyajian laporan keuangan terdapat beberapa hal penting
yang perlu diketahui, sebagai berikut :
1. Aktiva dan kewajiban pajak tangguhan (DTA / DTL) harus disajikan tersendiri
sebagai unsur non current. Dalam PSAK 46 tidak dinyatakan dengan tegas apakah
DTA tidak boleh atau harus dikompensasikan (offset) dengan DTL dalam penyajian
di neraca. Apabila DTA maupun DTL terkait dengan pengenaan pajak penghasilan
oleh otoritas pajak yang sama dan terhadap entitas pajak yang sama serta terdapat
legal right of set-off, maka berdasarkan IAS 12 (revised 1996). DTA dan DTL harus
di-offset dan disajikan neto. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah apakah DTA
dan DTL yang berasal dari berbagai entitas pajak yang berbeda dalam suatu laporan
keuangan konsolidasi boleh disajikan neto?
2. DTA / DTL harus dipisahkan dengan aktiva pajak kini (current tax asset, seperti
tagihan restitusi PPh) dan kewajiban pajak kini (current tax liability, seperti hutang
PPh pasal 29, pasal 25, dst).Aktiva pajak kini dan kewajiban pajak kini harus di-
offset dan yang disajikan di neraca adalah jumlah netonya.

53
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
3. Tax expense (tax income) untuk aktivitas normal, harus disajikan tersendiri. Hal ini
berarti harus dilakukan Intraperiod Tax Allocation.
4. Beban pajak (tax expense) atas penghasilan yang telah dikenakan PPh final, diakui
dalam laporan laba-rugi sebagai pajak kini (current tax) secara proporsional dengan
jumlah pendapatan periode berjalan yang diakui menurut akuntansi. Selisih antara
jumlah PPh Final yang terutang dengan PPh Final yang dibebankan dalam laba-
rugi diakui sebesar PPh dibayar dimuka atau PPh yang masih harus dibayar,
masing-masing harus disajikan secara terpisah. Perlakuan akuntansi ini berbeda
dengan praktek yang lazim berlaku saat ini.

Perlakuan Akuntansi Atas SKP


Surat Ketetapan Pajak (SKP) yang diterbitkan oleh DJP, apabila jumlahnya berbeda
dengan SPT, maka selisihnya (pokok dan denda) dibukukan sebagai pendapatan atau
beban lain-lain, kecuali diajukan keberatan dan banding (dalam hal ini, tambahan
pokokdan denda ditangguhkan pembebanannya). Apabila ternyata terdapat kesalahan
mendasar dalam penerapan ketentuan perpajakannya, maka perlakuan akuntansi atas
selisih tersebut mengacu pada PSAK 25.

Pengungkapan
Berbagai pengungkapan yang cukup rinci diwajibkan oleh PSAK 46.

Masalah Dalam Implementasi Permulaan PSAK 46


Sebagaimana diketahui, bagi perusahaan yang menerbitkan surat-surat berharga
yang diperdagangkan kepada publik, PSAK 46 mulai berlaku untuk tahun buku yang
dimulai pada atau setelah 1 Januari 1999, sedangkan bagi perusahaan lainnya dimulai
Januari 2001. Sehubungan dengan mulai berlakunya PSAK 46, timbul berbagai
pertanyaan tentang apakah implementasi PSAK 46 dilakukan secara prospektif atau
retrospektif. Berdasarkan paragraf 62-65 PSAK 25, penerapan SAK (baru) dilakukan
secara retrospektif kecuali apabila dalam masa transisi dinyatakan lain. Mengingat
dalam PSAK 46 harus dilakukan secara retrospektif karena terjadi perubahan kebijakan
akuntansi sebagaimana diatur dalam paragraf 62-65 PSAK 25. Dengan pemberlakuan
PSAK 46 secara retrospektif berarti perlu dilakukan restatement terhadap informasi
komparatif dan dilakukan penyesuaian (adjustment) terhadap saldo laba awal periode
untuk masa sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif.

KESIMPULAN
Harus diakui bahwa pajak tangguhan (deferred taxes) merupakan suatu konsep baru
yang belum lazim digunakan dalam praktik akuntansi di Indonesia, walaupun opsi
penerapan pajak tangguhan dalam akuntansi pajak penghasilan telah diperkenankan di
Indonesia sejak 1 Januari 1995, sebagaimana diatur dalam paragraf 77-PSAK 16.

54
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Perubahan orientasi dalam pendekatan yang digunakan oleh standar akuntansi dalam
akuntansi pajak penghasilan dari pendekatan lama yang masih bersifat income
statement approach ke pendekatan baru yang lebih condong ke balance sheet approach
telah menambah kompleksitas baru bagi para akuntan, karena litreratur lama dalam
akuntansi pajak penghasilan masih banyak yang menggunakan income statement
approach. Perubahan pendekatan tersebut tentunya akan menuntut perubahan “pola
berpikir” par aakuntan dalam upaya memahami esensi PSAK 46. Namun demikian,
akhirnya sesuatu yang baru dapat dikuasai dengan konsep “bisa karena biasa”.

Mengingat tahun 1999 merupakan tahun pertama implementasi PSAK 46 bagi emiten
di Indonesia, maka tentunya akan ditemukan berbagai masalah teknis baik dalam
pemahaman maupun dalam implementasinya.

CONTOH KASUS
Tanggal 1 Juli 2001 PT ABYAN (Lessee yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak) memperoleh mesin (Aktiva Tetap Kelompok I) dari PT AINI (Lessor).

Mesin tersebut dibeli oleh PT AINI dari PT BRILIAN (Supplier yang telah dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak).

Harga Mesin (Tidak termasuk PPN) Rp. 250.000.000,00


Taksiran Nilai Residu Rp. 10.000.000,00
Security Deposit Rp. 10.000.000,00
Hak Opsi Rp. 10.000.000,00
Taksiran Umur Mesin 4 tahun
Masa SGU 3 tahun
Angsuran per triwulan dibayar dibelakang Rp. 28.100.000,00
Tingkat bunga per triwulan 5,525%

Baik secara akuntansi maupun pajak, mesin tersebut disusutkan dengan


menggunakan metode garis lurus. Setelah masa SGU berakhir, secara akuntansi mesin
tersebut disusutkan sesuai dengan sisa masa manfaatnya. Sedangkan secara pajak mesin
tersebut masuk Aktiva Tetap Kelompok I.
Pada tanggal 20 Maret 2009 Mesin tersebut dijual dengan harga Rp. 15.000.000,-

55
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

DAFTAR PEMBAYARAN SGU – DENGAN HAK OPSI

TINGKAT BUNGA = 5,625% PER TRIWULAN

NO TANGGAL JUMLAH ANGSURAN PEMBAYARAN SISA

PEMBAYARAN POKOK BUNGA POKOK

01-Jul-01 0 0 0 240.000.000

1 30-Sep-01 28.100.000 14.600.000 13.500.000 225.400.000

2 31-Des-01 28.100.000 15.421.250 12.678.750 209.978.750

Sub Total 56.200.000 30.021.250 26.178.750

3 31-Mar-02 28.100.000 16.288.695 11.811.305 193.690.055

4 30-Jun-02 28.100.000 17.204.934 10.895.066 176.485.120

5 30-Sep-02 28.100.000 18.172.712 9.927.288 158.312.408

6 31-Des-02 28.100.000 19.194.927 8.905.073 139.117.481

Sub Total 112.400.000 70.861.269 41.538.731

7 31-Mar-03 28.100.000 20.274.642 7.825.358 118.842.840

8 30-Jun-03 28.100.000 21.415.090 6.684.910 97.427.749

9 30-Sep-03 28.100.000 22.619.689 5.480.311 74.808.060

10 31-Des-03 28.100.000 23.892.047 4.207.953 50.916.014

Sub Total 112.400.000 88.201.468 24.198.532

11 31-Mar-04 28.100.000 25.235.974 2.864.026 25.680.039

12 30-Jun-04 28.100.000 25.680.039 2.419.961 0

Sub Total 56.200.000 50.916.013 5.283.987

TOTAL 337.200.000 240.000.000 97.200.000

56
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

RESTRUKTURISASI
RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN

ASPEK AKUNTANSI RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN

PSAK ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk penggabungan


usaha (business combination). Pernyataan ini mengatur akuisisi (acquisition) suatu
perusahaan oleh perusahaan lainnya dan juga penyatuan kepemilikan (uniting/pooling
of interest) apabila pengakuisisi tidak dapat diidentifikasi. Akuntansi untuk akuisisi
mencakup penentuan biaya perolehan (cost of Accuisition), alokasi biaya perolehan
(cost) pada aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi, dan akuntansi untuk
goodwill yang timbul pada saat setelah akuisisi. Masalah akuntansi lain sehubungan
dengan penggabungan usaha adalah penentuan jumlah kepemilikan minoritas,
akuntansi untuk serangkaian akuisisi selama suatu periode tertentu, perubahan yang
terjadi atas biaya perolehan, identifikasi terhadap aktiva dan kewajiban, dan
pengungkapan yang diperlukan.

Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara yang didasarkan pada
pertimbangan hukum, perpajakan, atau alasan lainnya. Penggabungan usaha dapat
berupa pembelian saham suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau pembelian aktiva
neto suatu perusahaan. Penggabungan usaha dapat dilakukan dengan penerbitan saham
atau dengan penyerahan kas, aktiva setara kas, atau aktiva lainnya. Transaksi dapat
terjadi antar pemegang saham perusahaan yang bergabung atau antar suatu perusahaan
dengan pemegang saham perusahaan lain. Penggabungan usaha dapat berupa
pembentukan suatu badan usaha baru (new enterprise) untuk mengendalikan
perusahaan yang bergabung, pengalihan aktiva neto dari satu atau lebih badan usaha
yang bergabung kepada badan usaha lain atau pembubaran satu atau lebih badan usaha
yang bergabung. Apabila substansi dari transaksi konsisten dengan definisi
penggabungan usaha dalam pernyataan ini, maka perlakuan akuntansinya harus
mengacu pada pernyataan ini, terlepas dari bentuk hukum yang dipilih dalam
melakukan penggabungan usaha.

Penggabungan usaha dapat menyebabkan timbulnya hubungan induk dan anak


perusahaan. Dalam keadaan demikian, induk perusahaan menerapkan pernyataan ini
dalam laporan keuangan konsolidasinya. Kepemilikannya pada anak perusahaan dicatat
sebagai investasi (penyertaan) pada anak perusahaan.

57
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Penggabungan usaha (busines combination) dapat dilakukan melalui pembelian
aktiva neto, termasuk goodwill, dari badan usaha lain dan bukan pembelian saham
badan usaha lain tersebut. Penggabungan usaha tersebut tidak menyebabkan timbulnya
hubungan induk dan anak perusahaan. Dalam keadaan tersebut, perusahaan
pengakuisisi menerapkan pernyataan ini dalam penyusunan laporan keuangannya
sendiri, serta dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi.
Penggabungan usaha (busines combination) dapat mengakibatkan terjadinya legal
merger. Suatu legal merger biasanya merupakan merger dua badan usaha melalui salah
satu cara berikut ini :
1. aktiva dan kewajiban dari suatu perusahaan dialihkan ke perusahaan lain dan
perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan; atau
2. aktiva dan kewajiban dari dua atau lebih perusahaan dialihkan ke perusahaan baru
dan kedua perusahaan yang melakukan pengalihan tersebut dibubarkan.

Seringkali legal merger terjadi dalam rangka restrukturisasi atau reorganisasi dari suatu
grup. Transaksi demikian diluar cakupan pernyataan ini karena merupakan transaksi
antar perusahaan dibawah pengadilan yang sama (under common control).

Penggabungan usaha (Bussines Combination) adalah penyatuan dua atau lebih


perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan
menyatu dengan (uniting with) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas
aktiva dan operasi perusahaan lain.

Akuisisi (Acquisition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan,
yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi
perusahaan yang diakuisisi (acquiree), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui
suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham.

Penyatuan kepemilikan (uniting of interest / pooling of interest) adalah suatu


penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung
bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh, atau secara efektif seluruh aktiva neto
dan operasi perusahaan yang bergabung tersebut dan selanjutnya memikul bersama
segala risiko dan manfaat yang melekat pada entitas gabungan, sehingga tidak ada pihak
yang dapat diidentifikasi sebagai peruahaan pengakuisisi (acquirer).

Akuisisi (Acquisition)
Pada dasarnya, pada semua penggabungan usaha, salah satu perusahaan yang
bergabung memperoleh kendali atas perusahaan lain. Pengendalian (control)
diasumsikan diperoleh apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh

58
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

lebih dari 50% hak suara pada perusahaan lain, kecuali apabila dapat dibuktikan
sebaliknya bahwa tidak terdapat pengendalian walaupun pemilikan lebih dari 50%.
Meskipun salah satu dari perusahaan yang bergabung tidak memiliki lebih dari 50%
hak suara pada perusahaan lain, perusahaan pengakuisisi mungkin tetap dapat
diidentifikasi apabila salah satu perusahaan yang bergabung memperoleh :
1. kekuasaan (power) lebih dari 50% hak suara atas perusahaan yang lain tersebut
berdasarkan perjanjian dengan investor lain;
2. kekuasaan (power) untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasi perusahaan
laoin tersebut berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian; pengurus perusahaan
yang lain tersebut;
3. kekuasaan untuk mendapatkan hak suara mayoritas dalam rapat direksi perusahaan
yang lain tersebut.

Walaupun kadangkala sulit untuk mengidentifikasi perusahaan pengakuisisi, akan


tetapi terdapat salah satu indikasi berikut untuk menentukan pengakuisisi (acquirer).
Contoh :
Nilai wajar suatu perusahaan yang bergabung lebih besar secara signifikan daripada
perusahaan lainnya. Dalam hal ini, perusahaan yang lebih besar tersebut adalah
pengakuisisi.

Penggabungan usaha dilaksanakan melalui pertukaran saham berhak suara (voting


common shares) dengan uang kas. Dalam hal ini, perusahaan yang membayar tunai
tersebut adalah perusahaan pengakuisisi; atau

Penggabungan usaha mengakibatkan manajemen suatu perusahaan mendominasi


penentuan anggota manajemen perusahaan gabungan. Dalam hal ini, perusahaan yang
dominan tersebut adalah perusahaan pengakuisisi.

Reverse Acquisition
Kadangkala suatu perusahaan memperoleh saham perusahaan lain tetapi, sebagai
bagian dari suatu transaksi pertukaran, perusahaan tersebut mengeluarkan sahamnya
yang berhak suara (voting shares) dalam jumlah tertentu sehingga menyebabkan
pengendalian perusahaan atas perusahaan gabungan beralih ke pemegang saham
perusahaan yang sahamnya telah diakuisisi. Akuisisi ini disebut Reverse Acquisition.
Meskipun secara formal perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dapat disebut
sebagai induk perusahaan, akan tetapi perusahaan yang pemegang sahamnya sekarang
mengendalikan perusahaan gabungan adalah perusahaan pengakuisisi yang menikmati
hak suara tersebut atau kekuasaan lainnya seperti dijelaskan pada paragraf 10.
Perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dianggap telah diakuisisi oleh

59
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
perusahaan lain yang bergabung, dan perusahaan lain tersebut dianggap sebagai
perusahaan pengakuisisi dan dengan demikian harus menerapkan metode pembelian
atas aktiva dan kewajiban perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut.

Penyatuan Kepemilikan (Uniting of Interest)


Dalam keadaan tertentu mungkin sulit sekali mengidentifikasi pengakuisisi. Tidak
ada pihak dominan yang timbul dari penggabungan tersebut, akan tetapi para
pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama mengendalikan seluruh
(atau secara efektif seluruh) aktiva neto dan operasi. Di samping itu, manajemen
perusahaan-perusahaan yang bergabung menjadi bagian dari manajemen perusahaan
gabungan. Akibatnya, para pemegang saham perusahaan yang bergabung bersama-sama
berbagi risiko dan manfaat atas perusahaan gabungan tersebut. Penggabungan usaha
demikian diperlukan sebagai penyatuan kepemilikan (uniting of interest).

Pembagian bersama risiko dan manfaat secara seimbang biasanya tidak mungkin
tanpa adanya pertukaran hak suara yang seimbang antar perusahaan-perusahaan yang
bergabung. Pertukaran tersebut menjamin bahwa porsi pemilikan perusahaan yang
bergabung dan juga risiko serta manfaat pada perusahaan gabungan dapat
dipertahankan dan wewenang kedua belah pihak dalam pengambilan keputusan tetap
terlindungi. Meskipun demikian, agar keseimbangan pertukaran menjadi efektif, tidak
boleh terjadi penurunan signifikan atas hak suara pada salah satu dari perusahaan yang
bergabung, agar tidak ada salah satu pihak yang pengaruhnya berkurang.

Untuk mencapai pembagian risiko dan manfaat secara seimbang antar perusahaan
yang bergabung maka :
(a) mayoritas dari saham berhak suara perusahaan yang bergabung dipertukarkan
atau digabungkan;
(b) para pemegang saham setiap perusahaan tetap mempertahankan hak suara dan
kepemilikan yang seimbang dalam perusahaan gabungan, relatif sama dengan
sebelum perusahaan bergabung.

Pembagian risiko dan manfaat secara seimbang pada perusahaan gabungan semakin
berkurang dan perusahaan pengakuisisi semakin dapat diidentifikasi bila :
(a) keseimbangan nilai wajar perusahaan yang bergabung menurun dan persentase
saham berhak suara yang dipertukarkan berkurang;
(b) kesepakatan finansial secara relatif menguntungkan sekelompok pemegang saham
dari suatu perusahaan dibandingkan dengan kelompok pemegang saham lainnya.
Kesepakatan finansial tersebut dapat terjadi baik sebelum maupun setelah
penggabungan usaha; dan

60
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

(c) bagian ekuitas salah satu pihak pada perusahaan gabungan tergantung pada
kinerja yang akan dicapai oleh perusahaan setelah penggabungan terjadi.

Akuisisi (Acquisition)
Penggabungan usaha melalui akuisisi harus dipertanggungjawabkan dengan
menggunakan metode pembelian, sebagaimana diatur pada paragraf 19-56. Penggunaan
metode pembelian untuk akuisisi suatu perusahaan dibukukan seperti halnya
pembelian aktiva lainnya. Hal ini dilakukan karena dalam akuisisi terjadi transaksi
pengalihan aktiva, timbulnya kewajiban atau penerbitan saham dalam rangka
memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan lain. Metode pembelian
menggunakan biaya perolehan (cost) sebagai dasar untuk mencatat akuisisi tersebut.

ASPEK
ASPEK PAJAK RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN

Umum
Mulai Juli 1997 sampai sekarang krisis ekonomi Indonesia belum berakhir. Krisis
ekonomi mempunyai dampak yang sangat luas sekali. Dampak dari krisis ekonomi yang
secara nyata dialami dunia bisnis adalah :
a. perusahaan rugi dan kemudian menutup tempat usahanya
b. perusahaan rugi dan kemudian bergabung dengan perusahaan lain
c. perusahaan rugi dan kemudian membentuk perusahaan baru
d. perusahaan rugi dan kemudian melakukan pemekaran usaha

Peraturan perpajakan telah mengantisipasi dampak krisis ekonomi yang melanda


Indonesia dengan mengeluarkan seperangkat aturan mengenai “perlakuan pajak bagi
perusahaan-perusahaan yang melakukan penggabungan usaha, peleburan dan
pemekaran usaha”. Peraturan perpajakan ini dikeluarkan mulai tahun 1998. Peraturan
ini untuk mengantisipasi sekaligus menjadi petunjuk bagi wajib pajak yang melakukan
penggabungan, peleburan dan pemekaran usaha.
Peraturan mengenai restrukturisasi perusahaan bertujuan memberikan kelonggaran
bagi wajib pajak dalam membayar pajak khususnya dampak perpajakan akibat
penggabungan, peleburan atau pemekaran usaha. Hal ini sesuai dengan tujuan pajak
yaitu sebagai regulator. Peraturan tentang restrukturisasi diharapkan dapat
memberikan stimulus ekonomi dan membangkitkan dunia usaha sehingga ekonomi
nasional dapat segera pulih. Namun di sisi lain negara akan kehilangan penerimaan
pajak akibat adanya peraturan mengenai peleburan, penggabungan dan pemekaran
usaha. Namun penerimaan pajak yang hilang ini akan dapat ditutup dengan pulihnya
perekonomian.

61
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Dampak penggabungan, peleburan dan pemekaran usaha akan dapat berdampak
bagi pihak yang mengalihkan (transferor company) maupun pihak yang menerima
pengalihan (acquiring company). Aspek perpajakan yang ada adalah BPHTB, PPh
Pengalihan Tanah dan Bangunan, PPN Pasal 16D, dan keuntungan karena pengalihan
harta.

Definisi
Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan
cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan
usaha lainnya yang menggabung.

Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara
mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung.

Pemekaran usaha adalah pemisahan satu badan usaha menjadi dua badan usaha atau
lebih dengan cara mendirikan badan usaha dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva
kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang
lama.

Kronologis peraturan perpajakan mengenai restrukturisasi perpajakan


Tahap Pertama :
Peraturan perpajakan yang keluar adalah KMK-422 / KMK.04 / 1998 tanggal 09
September 1998. Dengan keluarnya aturan ini maka KMK-637 / KMK.04 / 1994 jo
KMK-474 / KMK.04 / 1995 jo KMK-117 KMK.04 / 1998 tidak berlaku lagi.

Tahap Kedua :
Peraturan perpajakan yang keluar adalah : KMK-469 / KMK.04 / 1998 tanggal 30
Oktober 1998. Peraturan ini mengubah Pasal 4 KMK-422 / KMK.04 / 1998 tanggal 09
September 1998.

Untuk dapat melakukan penggabungan, peleburan dan pemekaran usaha dengan


menggunakan nilai buku, wajib pajak mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak
dan melunasi seluruh utang pajak dari tiap badan usaha yang terkait. Wajib pajak yang
melakukan penggabungan, peleburan dan pemekaran usaha tidak boleh mengalihkan
kerugian / sisa kerugian badan usaha lama kecuali WP tersebut melakukan revaluasi
aktiva tetapnya terlebih dahulu dan masih aktif menjalankan usaha dan WP yang
menerima penggabungan usaha atau WP hasil peleburan usaha harus aktif menjalankan
usaha sekurang-kurangnya sampai dengan 2 (dua) tahun setelah selesainya proses
penggabungan atau peleburan usaha.
62
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Tahap Ketiga :
Dikeluarkan peraturan KMK-434 / KMK.04 / 1999 tanggal 24 Agustus 1999 Jo.
KMK-211/KMK.03/2003 Jo. PMK-43/PMK.03/2008, SE-21 / PJ.42 / 1999 tanggal 26 Mei
1999, KEP-20 / PJ. / 1999, KMK-180 / KMK.04 / 1999, KEP-141 / PJ. / 1999, dan SE-118
/ PJ. / 1999. Dalam tahap ini Dirjen Pajak mengeluarkan panduan dan petunjuk
komprehensif bagi wajib pajak yang ingin menggunakan nilai buku maupun harga
pasar dalam penggabungan usaha, peleburan dan pemekaran usaha.

63
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

JENIS-
JENIS-JENIS PENGGABUNGAN USAHA

PENDAHULUAN

Banyaknya perusahaan yang melakukan perubahan bentuk usaha dengan


melakukan merger, peleburan dan pemekaran mengharuskan Dirjen Pajak
mengeluarkan aturan tentang definisi, ruang lingkup dan macam-macam
penggabungan usaha. Buku panduan tersebut dikeluarkan dengan SE-21 / PJ. / 999. Isi
ringkasnya adalah :
1. Penggabungan Usaha (Merger)
a. Bentuk Umum Penggabungan Usaha (Basic Merger)
Bentuk umum penggabungan usaha adalah sebagai berikut semua aktiva, kecuali
uang kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham yang tidak setuju
(disapproving shareholders), dan utang dari satu badan atau lebih (transferor
company) dialihkan kepada badan usaha lainnya (acquiring company). Para
pemegang saham dari badan usaha yang mengalihkan harta tersebut yang setuju
dengan penggabungan usaha (approving shareholders) menjadi pemegang saham
dari badan yang menerima pengalihan harta dan badan usaha yang mengalihkan
harta tersebut menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam badan
usaha yang menerima pengalihan harta.
b. Penggabungan Usaha Ke Induk Perusahaan (upstream merger)
Dalam penggabungan usaha ke induk perusahaan sebelum penggabungan, suatu
induk perusahaan (parent company) memiliki saham pada anak perusahaan
(subsidiary company) dalam proses penggabungan maka semua aktiva kecuali
uang kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham yang tidak setuju
(disapproving shareholders), dan utang anak perusahaan dialihkan kepada induk
perusahaan. Para pemegang saham minoritas (minority shareholders) dari anak
perusahaan dapat memilih menjadi pemegang saham dari induk perusahaan atau
menukarkan sahamnya pada anak perusahaan dengan uang tunai dan anak
perusahaan menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam induk
perusahaan.
Catatan : dalam penggabungan usaha ke induk perusahaan ini, induk
perusahaan adalah badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring

64
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

company), dan anak perusahaan adalah badan usaha yang mengalihkan harta
(transferor company).
c. Penggabungan Usaha Ke Anak Perusahaan (Downstream Merger)
Dalam penggabungan usaha ke anak perusahaan, sebelum penggabungan suatu
induk perusahaan (subsidiary company) dalam proses penggabungan maka
semua aktiva, kecuali uang kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham
yang tidak setuju (disapproving shareholders) dan utang perusahaan induk
dialihkan kepada anak perusahaan dan para pemegang saham dari induk
perusahaan yang setuju dengan penggabungan usaha (approving shareholders)
menjadi pemegang saham dari anak perusahaan serta induk perusahaan
menghentikan kegiatan usahanya dan digabung ke dalam anak perusahaan.
Catatan : dalam penggabungan usaha ke anak perusahaan ini, induk perusahaan
adalah badan usaha yang mengalihkan hartanya (transferor company) dan anak
perusahaan adalah badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring
company).
d. Penggabungan Usaha Horisontal (Brother – Sister Merger)
Dalam penggabungan usaha horizontal, sebelum penggabungan pemegang
saham yang sama memiliki saham pada badan usaha yang menerima pengalihan
harta (acquiring company) dan pada badan usaha yang mengalihkan harta
(transferor company). Kedua badan usaha tersebut merupakan badan-badan
usaha yang setara tingkatannya (brother sister companies). Dalam proses
penggabungan, maka semua aktiva, kecuali uang kas yang dibayarkan pada para
pemegang saham yang tidak setuju (disapproving shareholders) dan utang dari
badan usaha yang mengalihkan harta dialihkan kepada badan usaha yang
menerima pengalihan harta (dengan atau tanpa penerbitan saham baru) dan
badan usaha yang mengalihkan harta menghentikan kegiatan usahanya dan
digabung ke dalam badan usaha yang menerima pengalihan harta.

2. Peleburan Usaha (Consolidation)


Dalam peleburan usaha, maka :
a. Semua aktiva, kecuali kas yang dibayarkan pada para pemegang saham yang
tidak setuju (disapproving shareholders) dan utang dari dua badan usaha atau
lebih (transferor companies) dialihkan kepada badan usaha baru (acquiring
company);
b. Pemegang saham dari masing-masing badan usaha yang menyetujui peleburan
usaha (approving shareholders) menjadi pemegang saham dari badan usaha yang
menerima pengalihan harta;
c. Badan-badan usaha yang mengalihkan harta menghentikan kegiatan usahanya
dan dilebur menjadi badan usaha baru;
d. Bentuk-bentuk Transaksi Lainnya dengan Substansi Ekonomis yang Serupa
65
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
e. Direktorat Jendral Pajak mempunyai mempunyai kewenangan untuk
menentukan apakah suatu transaksi memenuhi definisi penggabungan usaha
(merger) atau peleburan usaha (consolidation) apapun bentuk dan nama
transaksi tersebut, sepanjang dimungkinkan oleh Undang-undang Nomor 1 /
1995 tentang Perseroan Terbatas (atau undang-undang penggantian) dan
substansi ekonomisnya serupa dengan salah satu bentuk penggabungan usaha.

3. Pemekaran Usaha (Expansion)


Dalam pemekaran usaha (expansion) badan usaha yang telah ada (“parent
company”) mengalihkan sebagian harta dan untungnya kepada badan usaha yang baru
dibentuk (“subsidiary company”) sebagian pengganti saham dan badan usaha baru
tersebut, sehingga dengan demikian induk perusahaan tetap melanjutkan usahanya
dengan harta yang tersisa dan anak perusahaan melakukan usaha barunya dengan harta
yang dialihkan kepadanya.

66
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

SYARAT RESTRUKTURISASI
RESTRUKTURISASI

RESTRUKTURISASI DENGAN MENGGUNAKAN NILAI BUKU

Penjelasan berikut memberikan penjelasan tentang pengalihan harta dengan


menggunakan nilai buku dalam rangka penggabungan usaha (merger) peleburan usaha
(consolidation) dan pemekaran usaha (expansion) yang memenuhi persyaratan. Untuk
dapat memenuhi syarat sebagai pemekaran usaha dengan menggunakan nilai buku (tax
neutral expansion) suatu transaksi harus memenuhi definisi pemekaran usaha
(penggabungan, peleburan dan pemekaran) dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan sesuai dengan aturan penggabungan, pemekaran dan peleburan usaha.

PEMEKARAN USAHA YANG MEMENUHI PERSYARATAN (QUALIFYING


EXPANSION)

Kondisi Dan Persyaratan Yang Harus Dipenuhi


Suatu pemekaran usaha dapat diperlakukan sebagai pemekaran usaha yang
memenuhi syarat (tax neutral expansion), maka kondisi dan persyaratan yang ada harus
dipenuhi. Dalam pemekaran usaha yang memenuhi syarat, susunan para pemegang
saham boleh berubah.
1. Penggunaan Nilai Buku Fiskal
Harta dan induk perusahaan (parent company) yang dialihkan kepada anak
perusahaan (subsidiary company) dalam suatu pemekaran usaha, harus dicatat oleh
anak perusahaan sesuai dengan nilai buku komersial, sepanjang wajib pajak
menyelenggarakan wajib pajak menyelenggarakan pembukuan yang memadai
sehingga jelas perbedaan antara nilai buku fiskal dan nilai buku komersial.

2. Utang Tidak Boleh Melebihi Nilai Buku Fiskal


Jumlah dari : nilai utang induk perusahaan yang dialihkan kepada anak perusahaan;
dan nilai utang yang terkait dengan harta yang dialihkan kepada anak perusahaan,
tidak boleh melebihi jumlah nilai buku fiskal dari harta yang dialihkan kepada anak
perusahaan.

67
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
3. Persyaratan Penawaran Kepada Publik
Sebelum akhir periode baik induk perusahaan atau anak perusahaan harus :
Menyerahkan pernyataan pendaftaran kepada BAPEPAM untuk penawaran saham
kepada publik (public offering), dan menawarkan penjualan saham-sahamnya
dalam public offering.
Penawaran saham kepada publik harus dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun sejak
disetujuinya pemekaran usaha oleh Direktorat Jenderal Pajak. Batas waktu 1 tahun
tersebut dapat diperpanjang dengan tambahan 2 tahun oleh Kepala Kantor Wilayah
karena alasan-alasan diluar kekuasaan wajib pajak. Apabila diperlukan, jangka waktu 3
tahun ini dapat diperpanjang lagi dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak.

4. Persetujuan
(a) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
Dalam pemekaran usaha, induk perusahaan (Parent company) harus
mengajukan permohonan persetujuan pengalihan harta dengan menggunakan
nilai buku kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang
membawahi Kantor Pelayanan Pajak tempat induk perusahaan yang
bersangkutan terdaftar, selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah proses
pemekaran usaha berlaku secara efektif.

(b) Kelengkapan Permohonan


Permohonan dianggap lengkap dan memenuhi syarat untuk mendapat
persetujuan dari Kepala Kantor Wilayah, tanpa memperhatikan (dalam hal-hal
tertentu) apakah badan Pemerintah lainnya (seperti Departemen Kehakiman /
HAM atau BKPM) harus menyetujui aspek rencana pemekaran usaha. Sebelum
rencana tersebut dilaksanakan. Dalam hal tersebut, permohonan kepada Kantor
Wilayah harus menyertakan fotocopi surat-surat yang telah diajukan ke badan
Pemerintah tersebut.

(c) Surat keputusan Persetujuan / Penolakan


Kepala Kantor Wilayah harus menerbitkan surat keputusan persetujuan atau
penolakan atau permohonan tersebut dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak
tanggal permohonan diterima secara lengkap. Jika permohona dianggap belum
lengkap, kepala kantor wilayah harus memberitahukan kepada pemohon secara
tertulis segera setelah tanggal penerimaan permohonan yang pertama, dan
menjelaskan data / informasi tambahan yang diperlukan untuk melengkapi
permohonannya. Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak diterimanya
permohonan secara lengkap, Kepala Kantor Wilayah tidak menerbitkan surat
keputusan dan (dalam hal permohonan tidak lengkap) tidak meminta data /

68
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

informasi tambahan secara tertulis, maka permohonan dianggap disetujui dan


kepala pemohon diberikan keputusan persetujuan.

(d) Hak Untuk Mengajukan Peninjauan Kembali


Apabila terjadi perselisihan antara pemohon dengan Kepala Kantor Wilayah
mengenai ketentuan yang berlaku, atau dalam hal permohonan di tolak oleh
Kepala Kantor Wilayah pemohon dapat mengajukan permasalahannya kepada
Direktur Jenderal Pajak.

(e) Akibat / Konsekwensi Penolakan


Apabila permohonan untuk persetujuan pengalihan harta dengan menggunakan
nilai buku dalam rangka pemekaran usaha ditolak oleh Direktorat Jenderal
Pajak, pengalihan harta tersebut harus dinilai berdasarkan harga pasar, dan atas
keuntungan yang diperoleh terutang Pajak Penghasilan.

(f) Pelunasan Tunggakan Ketetapan Pajak


Induk perusahaan (parent company), sebelum mendapatkan persetujuan dari
Kepala Kantor Wilayah, harus sudah melunasi semua tunggakan ketetapan
pajak. Kepala Kantor Wilayah tidak akan menunda proses pemekaran usaha
dalam hal wajib pajak sedang dilakukan pemeriksaan pajak.

(g) Pemeriksaan Akuntan Publik


Untuk tahun pajak di mana induk perusahaan (parent company) melakukan
pemekaran usaha dan untuk tahun pajak pertama bagi anak perusahaan
(subsidiary company) baru, keduanya harus menggunakan laporan hasil
pemeriksaan Akuntan Publik yang menyatakan bahwa : akuntan publik telah
melakukan pemeriksaan buku dan catatan badan usaha yang bersangkutan dan
pembukuan dan catatan tersebut, menurut pendapat akuntan, telah menyajikan
keadaan keuangan badan usaha secara wajar pada akhir tahun pajak yang
diperiksa, dengan kualifikasi yang harus dinyatakan secara jelas dalam laporan;
dan pembukuan dan catatan tersebut dapat direkonsiliasi dengan pembukuan
dan catatan untuk tujuan perpajakan.

69
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Konsekuensi Perpajakan Bagi Pemekaran Usaha Yang Memenuhi Syarat.
Perlakuan Terhadap Induk Perusahaan (Parent Company)

1. Tidak Ada Keuntungan Atau Kerugian Akibat Pengalihan Harta.


Induk perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau kerugian atas pengalihan
sebagian hartanya kepada anak perusahaan baru dalam rangka pemekaran usaha
yang memenuhi syarat. Oleh karenanya, induk perusahaan tidak terutang Pajak
Penghasilan dari pengalihan harta tersebut, termasuk Pajak Penghasilan sebesar 5%
atas pengalihan hak atas tanah dan bangunan (PP 27 Tahun 1996)

2. Pajak Pertambahan Nilai


Induk perusahaan terutang Pajak Pertambahan Nilai atas pengalihan harta kepada
anak perusahaan dengan dasar pengenaan pajak sebesar nilai buku (sesuai dengan
Pasal 16DUU 18 Tahun 2000)

3. Nilai Buku Fiskal Saham Anak Perusahaan (Subsidiary Company)


Induk perusahaan harus mencatat nilai buku fiskal saham anak perusahaan yang
diterimanya sama dengan nilai buku fiskal dari harta yang dialihkan kepada anak
perusahaan, setelah dikurangi dengan jumlah utang yang dialihkan kepada anak
perusahaan.
Contoh :
PT A (Parent Company) mengalihkan kepada PT B (Subsidiary Company) : harta
dengan nilai buku fiskal sebesar Rp. 50.000.000; dan Utang dengan nilai buku fiskal
sebesar Rp. 20.000.000. Nilai buku fiskal saham PT. B yang harus dicatat oleh PT. A
adalah sebesar Rp. 30.000.000 (Rp. 50.000.000 – Rp. 20.000.000).

4. Kompensasi Kerugian Fiskal Induk Perusahaan (Parent Company)


Kerugian fiskal dari induk perusahaan tidak dapat dialihkan kepada anak
perusahaan dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat.

5. Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Hak&Kewajiban Wajib Pajak (Parent Company)


Hak dan kewajiban perpajakan induk perusahaan tidak dapat dialihkan kepada anak
perusahaan dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat.

70
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

6. Pemungutan / Pemotongan Pajak Penghasilan


Atas transaksi penjualan saham yang terdaftar di bursa terutang (dipungut /
dipotong) Pajak Penghasilan sebesar 0,1% dari nilai transaksi. Tambahan PPh final
sebesar 0,5% dikenakan terhadap saham pendiri dalam penawaran saham perdana
(initial public offering).

Anak Perusahaan (Subsidiary Company)


Perlakuan Terhadap Anak
1. Tidak Ada Keuntungan Ataupun Kerugian Atas Perolehan Harta
Anak perusahaan tidak memperoleh keuntungan atau kerugian dari perolehan harta
induk perusahaan dalam rangka pemekaran usaha yang memenuhi syarat.

2. Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB)


Anak perusahaan terutang BPHTB sebesar 5% atas perolehan atas tanah dan
bangunan dan pengalihan harta (Pasal 2 UU 20 Tahun 2000)

3. Nilai Buku Fiskal Harta


Anak perusahaan akan mencatat nilai harta yang diterima dari induk perusahaan
dengan nilai buku fiskal yang sama sebagaimana yang tercatat dalam pembukuan
induk perusahaan pada saat pengalihan.

Perlakuan Perpajakan terhadap Badan Usaha Yang Melakukan Pengalihan Harta


(Transferor Company)

a. Tidak Ada Keuntungan Atau Kerugian Akibat Pengalihan Harta.


Badan usaha yang mengalihkan harta (transferor company) tidak memperoleh
keuntungan atau kerugian sebagai akibat dari pengalihan harta. Oleh karena itu,
badan usaha yang melakukan pengalihan harta tersebut tidak terhutang Pajak
Penghasilan, termasuk Pajak Penghasilan sebesar 5% atas pengalihan hak atas tanah
dan bangunan (PP 27 Tahun 1996)

b. Pajak Pertambahan Nilai


Atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha tidak
terhutang PPN, demikian juga tidak diharuskan untuk melunasi PPN yang ditunda
pengenaannya berdasarkan fasilitas “masterlist”. Namun perlu diingat bahwa Pasal
16D UU 18 Tahun 2000 menyebutkan pengalihan aktiva bekas merupakan objek
PPN.

71
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
c. Kompensasi Timbal-Balik (Offset) Utang-Piutang
Apabila sebelum dilakukan penggabungan atau peleburan usaha, antara badan
usaha yang mengalihkan harta (transferor company) dan badan usaha yang
menerima pengalihan harta (acquiring company) satu sama lain mempunyai
hubungan utang-piutang, maka tidak ada penghasilan maupun biaya yang timbul
sebagai akibat kompensasi timbal-balik (offset) atas utang-piutang tersebut.
d. Tahun Pajak Terakhir Bagi Badan Usaha Yang Mengalihkan Harta (Transferor
Company)
Tahun pajak terakhir bagi badan usaha yang melakukan pengalihan harta akan
berakhir pada tanggal berlakunya penggabungan atau peleburan usaha.
Contoh (1) :
PT A dan PT B masing-masing menggunakan tahun takwim (1 Jan-31 Des)
sebagai tahun pajaknya. Tanggal 31 Desember 2002 PT B efektif bergabung ke
dalam PT A. Tahun pajak terakhir bagi PT B adalah keseluruhan tahun pajak
(2002) yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2002. PT A dan PT B masih
melaporkan SPT PPh masing-masing untuk tahun pajak 2002.

Contoh (2) :
Dengan tahun pajak yang sama dengan tahun kalender seperti Contoh (1),
tanggal efektif penggabungan adalah tanggal 31 Oktober 2002. Dalam hal ini,
tahun pajak terakhir bagi PT. B akan merupakan bagian tahun pajak (2002)
mulai dari tanggal 1 Januari 2002 sampai dengan tanggal 31 Oktober 2002, dan
PT B melaporkan SPT PPh untuk bagian tahun pajak (2002) tersebut. Seluruh
jenis penghasilan, pengurangan, dan kredit pajak serta seluruh pengeluaran yang
berkaitan dengan kegiatan usaha PT B sejak tanggal 1 Nopember 2002 sampai
dengan 31 Desember 2002 harus dimasukkan kedalam SPT PPh PT A untuk
tahun pajak 2002.

Contoh (3) :
Tahun pajak PT A menggunakan tahun takwim (1 Jan-31 Des) PT. B
menggunakan tahun buku (1 Oktober-30 September). Tanggal 30 Nopember
2002 PT B efektif bergabung dengan PT A. Tahun pajak terakhir bagi PT B akan
merupakan bagian tahun pajak (2003) mulai dari tanggal 1 Oktober 2002 sampai
dengan tanggal 30 Nopember 2002. Dan PT B masih melaporkan SPT PPh untuk
bagian tahun pajak serta seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan kegiatan
usaha PT B sejak tanggal 1 Desember sampai dengan 31 Desember 2002 harus
dimasukkan ke dalam SPT PPh PT A untuk tahun pajak 2002.

72
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

e. Kompensasi Kerugian Fiskal Badan Usaha Yang Mengalihkan Harta (Transferor


Company)
Apabila Badan Usaha yang melakukan pengalihan harta (Transferor Company)
mempunyai kerugian fiskal tahun berjalan atau hak kompensasi kerugian fiskal
tahun-tahun yang lalu (termasuk kerugian selisih kurs) pada tahun pajak
terakhirnya, dan telah melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya sesuai
ketentuan / prosedur yang berlaku, atas sisa kerugian fiskal yang masih ada setelah
diperhitungkan dengan penghasilan tahun pajak terakhir (termasuk selisih lebih
yang diperoleh dari penilaian kembali aktiva tetap) dapat dialihkan kepada badan
usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring company), sepanjang dipenuhi
persyaratan sebagai berikut :
• Pada saat penggabungan atau peleburan usaha akan dilaksanakan, badan usaha
yang mengalihkan harta (transferor company) menjalankan kegiatan usahanya;
dan
• Sekurang-kurangnya untuk kurun waktu 2 tahun setelah penggabungan atau
peleburan usaha, badan usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring
company) masih tetap aktif menjalankan kegiatan usahanya.

Contoh :
Terhitung sejak tanggal 31 Oktober 2002, PTA(acquiring company) menerima
pengalihan harta dan utang dari PT. B (transferor company) dalam suatu
penggabungan usaha. PT. A dan PT. B masing-masing menggunakan tahun
pajak sama dengan tahun kalender. Dalam tahun pajak (2002) yang dimulai
tanggal 1 Januari 2002, PT. B mempunyai sisa kerugian fiskal yang dapat
dikompensasikan sebesar (Rp. 150.000.000). Tahun pajak terakhir (2002) PT. B
akan berakhir pada tanggal 31 Oktober 2002. Pada tanggal tersebut nilai buku
fiskal untuk seluruh aktiva tetap PT. B berjumlah Rp. 10.000.000, yang dapat
dinilai kembali berdasarkan harga pasar menjadi Rp. 100.000.000.

Apabila penggabungan usaha tidak memenuhi persyaratan, PT. B akan


memperoleh keuntungan sebesar Rp. 90.000.000 atas pengalihan aktiva tetapnya
dalam bagian tahun pajak(2002) yang berakhir pada tanggal 31 Oktober 2002.
Akan tetapi keuntungan ini (serta penghasilan tahun berjalan lainnya) harus
dikurangkan terlebih dahulu dengan sisa kerugian fiskal PT. B yang masih dapat
dikompensasikan. Setelah penggabungan usaha, PT. A akan memiliki aktiva
tetap tersebut dengan nilai buku baru sebesar Rp. 100.000.000. Sisa kerugian
fiskal PT. B yang tidak habis dikompensasikan akan diabaikan.

Apabila PT. A dan PT. B melakukan penggabungan usaha yang memenuhi


persyaratan dan PT. B tidak melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya, maka
tidak akan terjadi pengenaan pajak (PPh) atas keuntungan dari aktiva tetap PT.
73
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
B. Setelah penggabungan usaha, PT. A harus mencatat nilai perolehan harta dari
PT. B sesuai dengan nilai bukunya yaitu sebesar Rp. 10 juta. Sisa kerugian fiskal
PT. B yang tidak habis dikompensasikan akan diabaikan.

Apabila PT. A dan PT. B melakukan penggabungan usaha yang memenuhi


persyaratan dan PT. B melakukan penilaian kembali aktiva tetapnya dalam
bagian tahun pajak (2002) yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2002, maka
penggabungan usaha tersebut dapat memperhitungkan sisa kerugian fiskal PT. B
setelah dikompensasi dengan penghasilan dalam tahun pajak terakhirnya,
dengan syarat : pada tanggal 31 Oktober 2002, PT. B masih aktif menjalankan
kegiatan usahanya; dan PT. A masih tetap menjalankan usaha tersebut
sekurang-kurangnya sampai dengan tanggal 1 November 2004.

Horisontal (brother-sister merger) yang memenuhi persyaratan, PT. B


(transferor company) bergabung dengan PT. A (acquiring company). PT.A tidak
menerbitkan saham baru kepada wajib pajak Y dan 100 lembar sahamnya pada
PT. B dibatalkan. Wajib pajak Y tidak memperoleh keuntungan dari
penggabungan usaha tersebut, dan untuk 100 lembar sahamnya pada PT. A akan
mempunyai nilai buku baru yaitu menjadi sebesar Rp. 35 juta.

c. Para Pemegang Saham Yang Tidak Setuju (Disapproving Shareholders)


Apabila sebagian pemegang saham dari badan usaha yang mengalihkan hartanya
(transferor company) tidak menyetujui penggabungan atau peleburan usaha,
mereka dapat menerima uang pengganti sahamnya pada badan usaha yang
mengalihkan harta. Pemegang saham yang mempunyai pembukuan atu catatan
akan memperoleh keuntungan sebesar selisih lebih dari jumlah uang yang
diterima dengan nilai buku saham yang dilepas, atau kerugian sebesar selisih
lebih dari nilai buku saham yang dilepas, atau kerugian sebesar selisih lebih dari
nilai buku saham yang dilepas atas jumlah uang tersebut.

Menerima Pengalihan Harta (Acquiring


Perlakuan Terhadap Badan Usaha Yang Menerima
Company).

a. Tidak Ada Keuntungan Atau Kerugian Akibat Penerimaan Harta.


Badan Usaha yang menerima pengalihan harta (acquiring Company) tidak
memperoleh keuntungan atau kerugian sebagai akibat penerimaan harta dari badan
usaha yang mengalihkan harta (transferor company).

74
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

b. Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB).


Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 181 / KMK.04 / 1999 tanggal 27
Mei 1999, atas permohonan badan usaha yang bersangkutan (acquiring Company).
Direktur Jenderal Pajak dapat memberikan pengurangan Bea Perolehan Hak Atas
Tanah dan Bangunan sebesar 100% (seratus persen). UU 20 Tahun 2000.

c. Nilai Buku Fiskal Harta Yang Dialihkan


Badan usaha yang menerima pengalihan harta (Acquiring Company) harus
mencatat nilai harta yang diterima berdasarkan nilai buku yang sama sebagaimana
yang tercatat terakhir pada pembukuan badan usaha yang mengalihkan harta
(Transferor Company).

ASPEK PAJAK RESTRUKTURISASI

A. PERATURAN PERPAJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN


DENGAN
RESTRUKTURISASI

1. Bagi Pihak Yang Mengalihkan (transferor company).


PPh Badan
Pasal 4 ayat (1) huruf d angka (3) UU 17 Tahun 2000 yaitu :
Pemecahan, dan pengambilalihan usaha. Selain itu pengalihan tersebut dapat
dilakukan pula dalam rangka likuidasi usaha atau sebab lainnya.

Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang dialihkan
merupakan penghasilan yang dikenakan pajak.

Contoh :
PT A dan PT B melakukan peleburan dan membentuk badan baru, yaitu PT C.
Nilai sisa buku dan harga pasar harta dari kedua badan tersebut adalah sebagai
berikut :

PT A PT B

Nilai sisa buku Rp. 200.000.000,00 Rp. 300.000.000,00


Harga Pasar Rp. 300.000.000,00 Rp. 450.000.000,00

75
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Pada dasarnya, penilaian harta yang diserahkan oleh PT A dan PT B dalam


rangka peleburan menjadi PT C adalah harga pasar dari harta. Dengan demikian
PT A mendapat keuntungan sebesar Rp. 100.000.000,00 (Rp. 300.000.000,00 –
Rp. 200.000.000,00) dan PT B mendapat keuntungan sebesar Rp. 150.000.000,00
(Rp. 450.000.000,00 – Rp. 300.000.000,00). Sedangkan PT C membukukan
semua harta tersebut dengan jumlah Rp. 750.000.000,00 (Rp. 300.000.000,00 +
Rp. 450.000.000,00).

Namun dalam rangka menyelaraskan dengan kebijakan di bidang sosial,


ekonomi, investasi, moneter dan kebijakan lainnya, Menteri Keuangan diberi
wewenang untuk menetapkan nilai lain selain harga pasar, yaitu atas dasar nilai
sisa buku (“pooling of interest”). Dalam hal demikian PT C membukukan
penerimaan harta dari PT A dan PT B tersebut sebesar Rp. 500.000.000,00 (Rp.
200.000.000,00 + Rp. 300.000.000,00).

Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi,
penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga
pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
Penyertaan Wajib Pajak dalam permodalan suatu badan dapat dipenuhi dengan
setoran tunai atau pengalihan harta.

Ketentuan ini mengatur tentang penilaian harta yang diserahkan sebagai


pengganti saham atau penyertaan modal dimaksud, yaitu dinilai berdasarkan
nilai pasar dari harta yang dialihkan tersebut.

Kriteria wajib pajak yang dapat menggunakan nilai buku :


Wajib Pajak yang dapat menggunakan nilai buku dalam pengalihan harta menurut
Keputusan Menteri Keuangan R. I Nomor 422 / KMK.04 / 1998 tanggal 9 September
1998 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan R. I. Nomor
469 / KMK.04 / 1998 tanggal 30 Oktober 1998 adalah :
1. Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta dalam rangka penggabungan
atau peleburan usaha;

Prosedur Persetujuan
Apabila permohonan Wajib Pajak sudah lengkap, Kepala Kantor Wilayah atas nama
Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan proses penelitian dan konfirmasi yang
diperlukan, menerbitkan surat keputusan persetujuan atau penolakan selambat-

76
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

lambatnya 1 (satu) bulan sejak diterimanya permohonan secara lengkap dengan


menggunakan formulir baku. Dalam hal keputusan penolakan, harus diberikan
alasannya. Jika batas waktu 1 (satu) bulan tersebut telah lewat dan Kepala Kantor
Wilayah belum menerbitkan keputusan maka permohonan Wajib Pajak dianggap
diterima dan kepadanya diterbitkan surat keputusan persetujuan. Tindasan keputusan
disampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan
Kepala Kantor Pemeriksaan Pajak terkait.

Dalam hal pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku di atas tidak mendapat
persetujuan Direktur Jenderal Pajak, maka pengalihan harta tersebut harus dinilai
dengan harga pasar dan atas keuntungan yang diperoleh dikenakan Pajak Penghasilan
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2000.

Dalam hal pengalihan harta dengan menggunakan nilai buku telah mendapat
persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak yang menerima pengalihan harta
tersebut harus mencatat nilai perolehannya sesuai dengan nilai buku sebagaimana
tercantum dalam pembukuan Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta.

Dalam hal Wajib Pajak sebelum penggabungan, peleburan, atau pemekaran usaha
telah melakukan revaluasi aktiva tetap, maka nilai buku yang dicatat adalah nilai buku
setelah dilakukan revaluasi aktiva tetap. Penyusutan dan amortisasi atas harta yang
dialihkan untuk tahun buku di mana pengalihan harta terjadi, dilakukan secara prorata
(perhitungan bulanan) berdasarkan masa manfaat yang tersisa sebagaimana tercantum
dalam pembukuan Wajib Pajak yang melakukan pengalihan harta. Bagi Wajib Pajak
yang melakukan pengalihan harta, penyusutan dan amortisasi atas harta yang dialihkan
dihitung secara prorate sampai dengan bulan dilakukannya pengalihan harta
penghitungan prorata sebanyak sisa bulan sesudah bulan pengalihan harta, dengan
menggunakan metode penyusutan dan amortisasi yang dianut Wajib Pajak yang
bersangkutan.

Apabila penggabungan atau peleburan usaha dilakukan dalam tahun pajak berjalan,
maka jumlah angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 Wajib Pajak yang menerima
pengalihan harta setelah penggabungan atau peleburan usaha tidak boleh lebih kecil
dari penjumlahan angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 dari seluruh Wajib Pajak yang
terkait sebelum penggabungan atau peleburan usaha.

Dalam hal Wajib Pajak yang menerima pengalihan harta (setelah penggabungan
atau peleburan usaha) mengalami penurunan usaha, Wajib Pajak yang bersangkutan
dapat mengajukan permohonan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sesuai
ketentuan/prosedur sebagaimana diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak
77
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Nomor 537 / PJ. / 2000). Yaitu setelah 3 (tiga) bulan angsuran PPh Pasal 25 dipenuhi.
a) Saham baru tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan dan nilai perolehan
saham baru dicatat sebesar nilai saham lama;

b) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta menerima sejumlah saham baru dan sejumlah uang dari badan usaha yang
menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama, maka atas
penerimaan sejumlah uang tersebut merupakan penghasilan yang dikenakan
Pajak Penghasilan dengan tarif umum;

c) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta tidak setuju dengan rencana pengalihan harta tersebut dan pemegang
saham dimaksud memilih menjual sahamnya, maka :
 atas selisih lebih antara harga perolehan dengan harga jual merupakan
capital gain yang diterima pemegang saham tersebut dan terhutang Pajak
Penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
 atas selisih kurang antara harga perolehan dengan harga jual yang diterima
pemegang saham tersebut dapat dibebankan sebagai biaya, dengan syarat
sepanjang pemegang saham yang bersangkutan menyelenggarakan
pembukuan.
Terhadap pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan dari Wajib Pajak yang
memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan dari pengenaan PPh
sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 jo PP 27
Tahun 1996.

Wajib Pajak yang telah mendapatkan persetujuan untuk menggunakan nilai buku
atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dengan
persyaratan dalam waktu 1 (satu) tahun sudah harus mengajukan pernyataan
pendaftaran kepada BAPEPAM untuk Intial Public Offering / Secondary Offering.

MATERI AKUNTANSI PERPAJAKAN DAN PSAK 46

1. Berdasarkan data di bawah ini hitunglah koreksi fiskal laba bruto maksimum &
minimum apabila WP menggunakan metode LIFO.

78
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

RINCIAN PENJUALAN DAN PEMBELIAN

UNIT HARGA PER UNIT TANGGAL

PEMBELIAN PENJUALAN PEMBELIAN PENJUALAN KIRIM TERIMA

250 - 1.000.000 - 2 / 1 / 02 17 / 2 / 02
- 200 - 1.250.000 3 / 2 / 02 18 / 3 / 02
300 - 1.100.000 - 4 / 3 / 02 19 / 4 / 02
- 250 - 1.350.000 5 / 4 / 02 20 / 5 / 02
350 - 1.200.000 - 6 / 5 / 02 21 / 6 / 02
- 300 - 1.450.000 7 / 6 / 02 22 / 7 / 02
400 - 1.300.000 - 8 / 7 / 02 23 / 8 / 02
- 350 - 1.500.000 9 / 8 / 02 24 / 9 / 02
450 - 1.350.000 - 2 / 11 / 02 25 / 1 / 03
- 400 - 1.600.000 3 / 11 / 02 26 / 1 / 03
500 - 1.400.000 - 4 / 12 / 02 27 / 1 / 03
- 450 - 1.650.000 5 / 12 / 02 28 / 1 / 03

2.250 1.950

Syarat penjualan untuk pengiriman bulan Februari, Juni, Nopember, 2002 adalah
F.O.B. Destination

Syarat penjualan untuk pengiriman bulan April, Agustus, dan Desember 2002
adalah F.O.B. Shipping point.
Syarat pembelian untuk pengiriman bulan Januari, Mei, dan Nopember 2002 adalah
F.O.B. Shipping point.

Syarat pengiriman untuk bulan Maret, Juli dan Desember 2002 adalah F.O.B.
Destination.

Persediaan akhir tahun 2001 yang tersedia di gudang sejumlah 300 unit @ Rp.
1.000.000,- termasuk 100 unit merupakan barang konsinyasi (consigment goods)
dan 50 unit merupakan barang yang dipisahkan (segregated goods).

79
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
2. Berdasarkan data di bawah ini hitunglah besarnya koreksi fiskal maksimum dan
minimum apabila Wajib Pajak dalam menghitung Cost of Goods menggunakan
metode LIFO dengan sistem pencatatan berdasar physical :

Cost / Unit MARKET / UNIT UNIT


(Rp.) (Rp.)

Beginning Inventory 10.000.000 10.500.000 200


Purchases 12.000.000 - 400
Sales - 13.000.000 500
Purchases 13.000.000 - 300
Sales - 15.000.000 200
Purchases 14.000.000 - 100

3. Berdasarkan data aktiva tetap yang dimiliki PT. Artha (transferor Company)
dibawah ini hitunglah besarnya Depreciation Expenses (menggunakan metode
Saldo menurun) untuk tahun pajak 2002 sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU PPh
Bagi PT. Widya yang merupakan Acquiring Company dan pajak terutang pada saat
pengalihan apabila pada saat merger (1 Juli 2002) penggunaan book value telah
mendapat persetujuan dari Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Nomor.

AKTIVA TETAP 1-7-2002 YANG DIALIHKAN (jutaan Rp.)

JENIS AKTIVA TETAP Tahun Beli Harga Beli / Unit Unit

Eks golongan 2 27-10-1994 234 6


Eks golongan 3 24-12-1994 567 5
Kelompok 1 24-07-1998 123 4
Kelompok 2 04-06-1996 456 3
Kelompok 3 06-06-1997 789 2
Bangunan Permanen 11-08-1994 1.234 1

80
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

SOAL 1
AKTIVA TETAP PER 1-1-2001 (Dalam jutaan rupiah)

Jenis Aktiva Tetap Tahun Beli Harga Beli Unit

Eks Golongan 2 27-10-1994 1.234 6


Eks Golongan 3 24-12-1992 5.678 5
Kelompok 1 24-07-1998 123 4
Kelompok 2 04-06-1996 456 3
Kelompok 3 06-06-1997 789 2
Bangunan Permanen 11-08-1993 4.321 1

Informasi lainnya berkaitan dengan aktiva tetap :


Satu unit aktiva tetap eks golongan 3 yang harga perolehannya Rp. 50 juta pada tanggal
11-08-2002 dijual seharga Rp. 30 juta.
Satu unit aktiva tetap kelompok 2 yang harga perolehannya Rp. 75 juta, pada tanggal 27
Oktober 2002 ditukar dengan yang baru (berdasarkan KMK No. 520 / KMK.04 / 2000
termasuk 3)
Untuk itu Wajib Pajak harus mengeluarkan lagi uang sejumlah Rp. 120 juta karena
harta yang diserahkan hanya dinilai seharga Rp. 40 juta.
Satu unit aktiva tetap eks golongan 2 yang dibeli dengan harga Rp. 175 juta, pada
tanggal 1-8-2002 terbakar. Sebagai penggantinya pada tanggal 24-12-2002 dilakukan
impor aktiva yang sejenis (termasuk kelompok 2 menurut Keputusan Menteri
Keuangan No. 520 / KMK.04 / 2000 Jo KMK 138 / KMK.03 / 2002) dengan
mengeluarkan uang dengan rincian sebagai berikut :
Cost Insurance US$ 200.000
Bea Masuk 1%
PPN Impor 10%
PPh Pasal 22 2,5%
Biaya asuransi & pengangkutan dari pelabuhan ke pabrik Rp. 2.500.000
Biaya Pemasangan Rp. 5.000.000
Biaya penyelesaian dokumen impor dan lain-lain Rp. 5.000.000
Aktiva eks golongan 2 yang tersisa pada tanggal 1 Juli 2001 dilakukan perbaikan untuk
menambah masa manfaat yang diperkenankan mampu mencapai tahun 2004 dengan
mengeluarkan biaya Rp. 110 juta (termasuk PPN)

81
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Sejak tanggal 27 Oktober 2002 telah digunakan untuk kegiatan operasional satu unit
gedung kantor seluas 400 m² yang dibangun sendiri dengan mengeluarkan dana
sejumlah Rp. 416 juta dengan rincian sebagai berikut :
Biaya bahan (material) Rp. 264.000.000,00
Upah Rp. 136.000.000,00
PPN yang disetor Rp. 136.000.000,00
Hitunglah :
Depreciation Expenses mengacu ketentuan Pasal 11 UU PPh berdasarkan metode saldo
menurun untuk tahun pajak 2001 dan 2002 apabila Kurs US$ 1 pada saat impor
menurut MenKeu adalah Rp. 11.200,00 sedangkan kurs tengah Bank Indonesia adalah
Rp. 11.250,00.

Other Income / Other Expenses


Nilai yang harus tersaji pada kredit Neraca persidangan 31 Desember 2002 untuk Akun
Selisih Lebih Revaluasi apabila appraisal menetapkan harga pasar wajar adalah 60% dari
Nilai Buku Fiskal / Harga Perolehan persidangan 1 Juli 2002.

Besarnya pajak yang harus disetor ke Kas Negara tahun 2001 dan 2002.

1998 1999 2000 2001


KETERANGAN
Rp. Rp. Rp. Rp.

Sebelum
Taksiran 281.016.197 1.744.896.931 4.710.914.985 8.138.674.266
Penghasilan (1) 193.760.711 (184.165.478) 298.270.907 678.169.925
Tetap Waktu
Depresiasi
Amortisasi (1.651.284.096) (2.483.732.180) (666.162.560) (6.960.033.671)
Jangka panjang (140.950.000) 145.118.000 (4.168.000)
Laba penjualan - (777.882.727) (34.340.018) (274.667.212)
Aktiva tetap (1.317.457.188) 284.081.992 4.304.515.314 15.502.201.650
Laba kena pajak (1.317.457.188) (1.811.257.923)
(rugi fiskal) (1.811.257.923)
Koreksi Rugi Fiskal 98
Akumulasi rugi fiskal
Kompensasi rugi fiskal 2.493.257.391 15.502.210.650
Laba Kena Pajak 739.227.110 4.641.913.000
Setelah

82
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Kompensasi
Taksiran Pajak 281.016.197 1.744.896.931 3.971.687.885 3.496.761.266
Penghasilan (2)
Laba (rugi)
Bersih-Komersial
(1) – (2)

SOAL 2 (PSAK) 46

PT. ARTHA didirikan pada tahun 1998 data laporan keuangan perusahaan adalah
sebagai berikut :

1. PT. MERDEKA bergerak di bidang usaha persewaan ruangan kantor melakukan


kegiatan sebagai berikut :
Pada 1 Mei tahun 1999 membeli 5 (lima) buah kendaraan semuanya untuk
operasional dan antar jemput pegawai, harga satu kendaraan Rp. 150.000.000,00
secara akuntansi disusutkan dengan metode garis lurus, taksiran umur 5 tahun
tanpa nilai residu. Penyusutan Fiskal saldo menurun.

Pada tanggal 1 November 2003 :


3 (tiga) buah kemdaraan diambil oleh pemegang saham (tidak dibayar)
1 (satu) buah kendaraan dibeli oleh pegawai bukan pemegang saham dengan harga
Rp. 12.000.000,00
1 (satu) buah kendaraan dijual secara tunai laku Rp. 60.000.000,00

Diminta :
Hitung penyusutan untuk tahun 2003 !
Hitung keuntungan (kerugian) pengalihan kendaraan tersebut !
Bagaimana perlakuan perpajakannya atas transaksi pengalihan kendaraan tersebut?

83
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
2. PT. MERDEKA melakukan usaha dalam bidang industri keramik menyewa gedung
pabrik dan kantor di Industri dan kantor di ERA 2000 Bekasi. Pada tanggal 1 Mei
1999 melakukan impor mesin pabrik seharga US$ 4,000,000 termasuk bea masuk,
bea pengangkutan, dan bea pemasangan dan sebagainya. Harga perolehan mesin
tersebut sebesar Rp. 9.600.000.000,00.

Mesin tersebut termasuk kelompok 3 (tiga) metode penyusutan saldo menurun.


Pada awal tahun 2003 (1 Januari 2003), mesin tersebut dilakukan penilaian kembali
dengan harga pasar wajar berdasarkan penilai sebesar Rp. 12.000.000.000,00.

Rugi Fiskal (dalam ribuan rupiah) persidangan 31 Desember 2002 :

Keputusan Putusan
Tahun SPT PPh SKP
Keberatan Pengadilan Pajak

1997 300.000 Nihil Nihil 250.000


1998 500.000 200.000 200.000 350.000
1999 1.800.000 600.000 1.000.000 ----
2000 1.000.000 400.000 ---- ----
2001 1.600.000 ---- ---- ----
2002 1.400.000 ---- ---- ----

Diminta :
Hitung penyusutan Fiskal dan Nilai Buku Fiskal persidangan 1 Januari 2003 !
Hitung Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan pada akhir tahun 2002 !
Hitung selisih lebih penilaian kembali dan PPh-nya !

Apabila PT. MERDEKA bermaksud tidak mengkompensasikan Rugi Fiskal pada


selisih lebih Revaluasi, teapi pada laba tahun 2003, boleh apa tidak ?

MERDEKA, Inc, berkedudukan di Jepang, pada awal tahun 1999 menyetor modal
sebesar US$ 1.000.000 (satu juta US$) Kurs tengah BI persidangan US$ sebesar
Rp. 2.200.000 ke PT. DINO Indonesia (pembukuan rupiah).

84
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Pada tanggal 11 Oktober 2003, MERDEKA, Inc menjual saham PT. DINO Indonesia
ke LCH Ltd. Singapura dengan harga US$ 600,000 (enam ratus ribu US$), Kurs
tengah BI persidangan US$ = Rp. 9.000,00.
Bagaimana cara pengenaan pajaknya atas transaksi tersebut ?
Berapa PPh Yang harus dan siapa yang harus membayarnya ?

3. Pada tanggal 1 Maret 1997, PT. MERDEKA (pembukuan rupiah) mendapat


pinjaman US$ 10.000.000 (sepuluh juta US$) – dari BCA Jakarta, dirupiahkan
dengan Kurs Rp. 2.400,00 Persidangan US$, untuk membeli hotel.
Harga tanah 40% dan harga Bangunan Hotel 60%.

Rugi Laba kurs diakui tiap-tiap akhir tahun berdasarkan Kurs tengah BI.

Tanggal Kurs Tengah BI


Per 1 US$

31-12-1997 Rp. 4.650,00


31-12-1998 Rp. 8.025,00
31-12-1999 Rp. 7.100,00
31-12-2000 Rp. 9.595,00
31-12-2001 Rp. 10.400,00

Bunga selalu dibayar, tetapi hutang pokok tidak pernah diangsur (dibayar).

Pada akhir tahun 2001 PT MERDEKA menyatakan tidak sanggup membayar lagi.
Dengan melalui PRAKASA JAKARTA atau KKSK diadakan restrukturisasi utang
dengan cara pengalihan harta kepada kreditur untuk penyelesaian utang (DEBT TO
ASSET SWAP) yaitu Hotel (tanah dan gedung) diserahkan ke BCA untuk
penyelesaian utang yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2002, bunga 2002
tidak dihitung dengan posisi utang persidangan 31 Desember 2001.

Harga pasar hotel tersebut 31 Desember 2002 sebesar Rp. 50.000.000.000,00 dan
Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan sebesar Rp. 20.000.000,00.

85
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Pertanyaan :
Hitung nilai buku Fiskal tanah dan bangunan hotel persidangan 31 Desember 2001 !
Hitung jumlah hutang persidangan 31 Desember 2001 !
Bagaimana perlakuan perpajakan atas DEBT TO ASSET SWAP tersebut ?

Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada huruf a dapat diperpanjangan karena


keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak dengan persetujuan Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang paling lama 2 (dua) tahun;

Apabila setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sebagaimana dimaksud Wajib
Pajak belum dapat melaksanakan penawaran umum perdana, maka jangka waktu
tersebut dapat diperpanjang setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal
Pajak;

Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi ketentuan diatas, maka nilai pengalihan harta
atas pemekaran usaha yang dilakukan berdasarkan nilai buku dihitung kembali
berdasarkan nilai pasar.

Ketentuan bagi pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan
pengalihan harta dalam rangka penggabungan, peleburan, atau pemekaran :
a) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta menerima sejumlah saham baru dari badan usaha yang menerima
pengalihan harta sebagai pengganti saham lama, maka atas penerimaan saham
baru tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan dan nilai perolehan saham baru
dicatat sebesar nilai saham lama;

b) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yamh melakukan pengalihan
harta menerima sejumlah saham baru dan sejumlah uang dari badan usaha yang
menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama, maka atas
penerimaan sejumlah uang tersebut merupakan penghasilan yang dikenakan
Pajak Penghasilan dengan tarif umum;

c) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta tidak setuju dengan rencana pengalihan harta tersebut dan pemegang
saham dimaksud memilih menjual sahamnya, maka :

86
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

• atas selisih lebih antara harga perolehan dengan harga jual merupakan
capital gain yang diterima pemegang saham tersebut dan terhutang Pajak
Penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

• atas selisih kurang antara harga perolehan dengan harga jual yang diterima
pemegang saham tersebut dapat dibebankan sebagai biaya, dengan syarat
sepanjang pemegang saham yang bersangkutan menyelenggarakan
pembukuan.

Terhadap pengalihan harta berupa tanah dan / atau bangunan dari Wajib Pajak
yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan dari
pengenaan PPh sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun
1994 Jo PP 27 Tahun 1996.

Wajib Pajak yang telah mendapatkan persetujuan untuk menggunakan nilai buku
atas pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dengan
persyaratan dalam waktu 1 (satu) tahun sudah harus mengajukan pernyataan
pendaftaran kepada BAPEPAM untuk Intial Public Offering / Secondary Offering.

MATERI AKUNTANSI PERPAJAKAN DAN PSAK 46


Berdasarkan data di bawah ini hitunglah koreksi fiskal laba bruto maksimum &
minimum apabila WP menggunakan metode LIFO.

87
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
RINCIAN PENJUALAN DAN PEMBELIAN

UNIT HARGA PER UNIT TANGGAL

PEMBELIAN PENJUALAN PEMBELIAN PENJUALAN KIRIM TERIMA

250 - 1.000.000 - 2 / 1 / 02 17 / 2 / 02
- 200 - 1.250.000 3 / 2 / 02 18 / 3 / 02
300 - 1.100.000 - 4 / 3 / 02 19 / 4 / 02
- 250 - 1.350.000 5 / 4 / 02 20 / 5 / 02
350 - 1.200.000 - 6 / 5 / 02 21 / 6 / 02
- 300 - 1.450.000 7 / 6 / 02 22 / 7 / 02
400 - 1.300.000 - 8 / 7 / 02 23 / 8 / 02
- 350 - 1.500.000 9 / 8 / 02 24 / 9 / 02
450 - 1.350.000 - 2 / 11 / 02 25 / 1 / 03
- 400 - 1.600.000 3 / 11 / 02 26 / 1 / 03
500 - 1.400.000 - 4 / 12 / 02 27 / 1 / 03
- 450 - 1.650.000 5 / 12 / 02 28 / 1 / 03

2.250 1.950

Syarat penjualan untuk pengiriman bulan Februari, Juni, Nopember, 2002 adalah f.o.b.
Destination

Syarat penjualan untuk pengiriman bulan April, Agustus, dan Desember 2002 adalah
f.o.b. Shipping point.

Syarat pembelian untuk pengiriman bulan Januari, Mei dan Nopember 2002 adalah
f.o.b. Shipping point.

Syarat pengiriman untuk bulan Maret, Juli dan Desember 2002 adalah f.o.b.
Destination

Persediaan akhir tahun 2001 yang tersedia di gudang sejumlah 300 unit @ Rp.
1.000.000,- termasuk 100 unit merupakan barang konsinyasi (consigment goods) dan 50
unit merupakan barang yang dipisahkan (segregated goods).

88
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Berdasarkan data di bawah ini hitunglah besarnya koreksi fiskal maksimum dan
minimum apabila Wajib Pajak dalam menghitung Cost of Goods menggunakan metode
LIFO dengan sistem pencatatan berdasarkan physical :

2. Berdasarkan data di bawah ini hitunglah besarnya koreksi fiskal maksimum dan
minimum apabila Wajib Pajak dalam menghitung Cost of Goods menggunakan
metode LIFO dengan sistem pencatatan berdasar physical :

Cost / Unit MARKET / Unit UNIT


(Rp.) (Rp.)

Beginning Inventory 10.000.000 10.500.000 200


Purchases 12.000.000 - 400
Sales - 13.000.000 500
Purchases 13.000.000 - 300
Sales - 15.000.000 200
Purchases 14.000.000 - 100

3. Berdasarkan data aktiva tetap yang dimiliki PT. Artha (transferor Company)
dibawah ini hitunglah besarnya Depreciation Expenses (menggunakan metode
Saldo menurun) untuk tahun pajak 2002 sesuai dengan ketentuan Pasal 11 UU PPh
bagi PT.Widya yang merupakan Acquiring Company dan pajak terutang pada saat
pengalihan apabila pada saat merger (1 Juli 2002) penggunaan book valus telah
mendapat persetujuan dari Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Nomor.

AKTIVA TETAP 1-7-2002 YANG DIALIHKAN (jutaan Rp.)

JENIS AKTIVA TETAP Tahun Beli Harga Beli / Unit Unit

Eks golongan 2 27-10-1994 234 6


Eks golongan 3 24-12-1994 567 5
Kelompok 1 24-07-1998 123 4
Kelompok 2 04-06-1996 456 3
Kelompok 3 06-06-1997 789 2
Bangunan Permanen 11-08-1994 1.234 1

89
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
SOAL 1
AKTIVA TETAP PER 1-1-2001 (dalam jutaan rupiah)

Jenis Aktiva Tetap Tahun Beli Harga Beli Unit

Eks Golongan 2 27-10-1994 1.234 6


Eks Golongan 3 24-12-1992 5.678 5
Kelompok 1 24-07-1998 123 4
Kelompok 2 04-06-1996 456 3
Kelompok 3 06-06-1997 789 2
Bangunan Permanen 11-08-1993 4.321 1

Informasi lainnya berkaitan dengan aktiva tetap :

Satu unit aktiva tetap eks golongan 3 yang harga perolehannya Rp. 50 juta pada tanggal
11-08-2002 dijual seharga Rp. 30 juta.

Satu unit aktiva tetap kelompok 2 yang harga perolehannya Rp. 75 juta, pada tanggal 27
Oktober 2002 ditukar dengan yang baru (berdasarkan KMK No. 520 / KMK.04 / 2000
termasuk 3)

Untuk itu Wajib Pajak harus mengeluarkan lagi uang sejumlah Rp. 120 juta karena
harta yang diserahkan hanya dinilai seharga Rp. 40 juta.

Satu unit aktiva tetap eks golongan 2 yang dibeli dengan harga Rp. 175 juta, pada
tanggal 1-8-2002 terbakar. Sebagai penggantinya pada tanggal 24-12-2002 dilakukan
impor aktiva yang sejenis (termasuk kelompok 2 menurut Keputusan Menteri
Keuangan No. 520 / KMK.04 / 2000 Jo KMK 138 / KMK.08 / 2002) dengan
mengeluarkan uang dengan rincian sebagai berikut :
Cost insurance US$ 200.000
Bea Masuk 1%
PPN Impor 10%
PPh Pasal 22 2,5%
Biaya asuransi & pengangkutan dari pelabuhan ke pabrik Rp. 2.500.000
Biaya Pemasangan Rp. 5.000.000
Biaya penyelesaian dokumen impor dan lain-lain Rp. 5.000.000

90
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Aktiva eks golongan 2 yang tersisa pada tanggal 1 Juli 2001 dilakukan perbaikan untuk
menambah masa manfaat yang diperkirakan mampu mencapai tahun 2004 dengan
mengeluarkan biaya Rp. 110 juta (termasuk PPN)

Sejak tanggal 27 Oktober 2002 telah digunakan untuk kegiatan operasional satu unit
gedung kantor seluas 400 m2 yang dibangun sendiri dengan mengeluarkan dana
sejumlah Rp. 416 juta dengan rincian sebagai berikut :

Biaya bahan (material) Rp. 264.000.000,00


Upah Rp. 136.000.000,00
PPN yang disetor Rp. 136.000.000,00

Hitunglah :
Depreciation Expenses mengacu ketentuan Pasal 11 UU PPh berdasarkan metode saldo
menurun untuk tahun pajak 2001 dan 2002 apabila Kurs US$ 1 pada saat impor
menurut MenKeu adalah Rp. 11.200,00 sedangkan kurs tengah Bank Indonesia adalah
Rp. 11.250,00.

Other Income / Other Expenses


Nilai yang harus tersaji pada kredit Neraca persidangan 31 Desember 2002 untuk Akun
Selisih Lebih Revaluasi apabila appraisal menetapkan harga pasar wajar adalah 60% dari
Nilai Buku Fiskal / Harga Perolehan persidangan 1 Juli 2002.

Besarnya pajak yang harus disetor ke Kas Negara tahun 2001 dan 2002.

91
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
SOAL 2 (PSAK) 46
PT. ARTHA didirikan pada tahun 1998 data laporan keuangan perusahaan adalah
sebagai berikut :

KETERANGAN 1998 1999 2000 2001


Rp. Rp. Rp. Rp.
Rp.

Sebelum
Taksiran 281.016.197 1.744.896.931 4.710.914.985 8.138.674.266
Penghasilan (1) 193.760.711 (184.165.478) 298.270.907 678.169.925
Tetap waktu

Depresiasi (1.651.284.096) (2.483.732.180) (666.162.560) (6.960.033.671)


Amortisasi (140.950.000) 145.118.000 (4.168.000)
jangka panjang - (777.882.727) (34.340.018) (274.667.212)
laba penjualan (1.317.457.188) 284.081.992 4.304.515.314 15.502.201.650
Aktiva Tetap (1.317.457.188) (1.811.257.923)
Laba kena pajak (1.811.257.923)
(rugi fiskal)
koreksi Rugi
Fiskal 98 2.493.257.391 15.502.210.650
Akumulasi rugi fiscal 739.227.110 4.641.913.000
Kompensasi rugi
fiskal
Laba Kena pajak 281.016.197 1.744.896.931 3.971.687.885 3.496.761.266
setelah
kompensasi
Taksiran Pajak
Penghasilan (2)
Laba (rugi)
Bersih-Komersial
(1) – (2)

92
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

SOAL 3

1. PT. MERDEKA bergerak di bidang usaha persewaan ruangan kantor melakukan


kegiatan sebagai berikut :
Pada 1 Mei tahun 1999 membeli 5 (lima) buah kendaraan semuanya untuk
operasional dan antar jemput pegawai, harga satu kendaraan Rp. 150.000.000,00
secara akuntansi disusutkan dengan metode garis lurus, taksiran umur 5 tahun
tanpa nilai residu. Penyusutan Fiskal saldo menurun.

Pada tanggal 1 November 2003 :

3 (tiga) buah kendaraan diambil oleh pemegang saham (tidak dibayar)


1 (satu) buah kendaraan dibeli oleh pegawai bukan pemegang saham dengan harga
Rp. 12.000.000,00
1 (satu) buah kendaraan dijual secaar tunai laku Rp. 60.000.000,00

Diminta :
Hitung penyusutan untuk tahun 2003 !
Hitung keuntungan (kerugian) pengalihan kendaraan tersebut !
Bagaimana perlakuan perpajakannya atas transaksi pengalihan kendaraan tersebut?

2. PT. MERDEKA melakukan usaha dalam bidang industri keramik menyewa gedung
pabrik dan kantor di Industri dan kantor di ERA 2000 Bekasi, pada tanggal 1 Mei
1999 melakukan impor mesin pabrik seharga US$ 4,000,000 termasuk bea masuk,
bea pengangkutan, dan pemasangan dan sebagainya. Harga perolehan mesin
tersebut sebesar Rp. 9.600.000.000,00.

Mesin tersebut termasuk kelompok 3 (tiga) metode penyusutan saldo menurun.

Pada awal tahun 2003 (1 Januari 2003), mesin tersebut dilakukan penilaian kembali
dengan harga pasar wajar berdasarkan penilai sebesar Rp. 12.000.000.000,00.

93
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Rugi FISKAL(dalam ribuan rupiah) persidangan 31 Desember 2002 :

Tahun SPT PPh SKP Keputusan Putusan


Keberatan Pengadilan Pajak

1997 300.000 Nihil Nihil 250.000


1998 500.000 200.000 200.000 350.000
1999 1.800.000 600.000 1.000.000 ----
2000 1.000.000 400.000 ---- ----
2001 1.600.000 ---- ---- ----
2002 1.400.000 ---- ---- ----

Diminta :
Hitung penyusutan Fiskal dan Nilai Buku Fiskal persidangan 1 Januari 2003 !
Hitung Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan pada akhir tahun 2002 !
Hitung selisih lebih penilaian kembali dan PPh-nya !

Apabila PT. MERDEKA bermaksud tidak mengkompensasikan Rugi Fiskal pada


selisih lebih Revaluasi, tetapi pada laba tahun 2003, boleh apa tidak ?

MERDEKA, Inc. berkedudukan di Jepang, pada awal tahun 1999 menyetor modal
sebesar US$ 1.000.000 (satu juta US$) Kurs tengah BI persidangan US$ sebesar
Rp. 2.200,00 ke PT. DINO Indonesia (pembukuan rupiah).

Pada tanggal 11 Oktober 2003, MERDEKA, Inc. menjual saham PT. DINO
Indonesia ke LCH Ltd. Singapura dengan harga US$ 600,000 (enam ratus ribu US$),
Kurs tengah BI persidangan US$ = Rp. 9.000,00.
Bagaimana cara pengenaan pajaknya atas transaksi tersebut?
Berapa PPh Yang harus dan siapa yang harus membayarnya ?

3. Pada tanggal 1 Maret 1997, PT. MERDEKA (pembukuan rupiah) mendapat


pinjaman US$ 10.000.000(sepuluh juta US$) – dari BCA Jakarta, dirupiahkan
dengan kurs Rp. 2.400,00 Persidangan US$, untuk membeli hotel.
Harga tanah 40% dan harga Bangunan Hotel 60%.

94
TaxSys
Akuntansi Perpajakan

Rugi Laba kurs diakui tiap-tiap akhir tahun berdasarkan Kurs tengah BI.
Tanggal Kurs Tengah BI
Per 1 US$
31-12-1997 Rp. 4.650,00
31-12-1998 Rp. 8.025,00
31-12-1999 Rp. 7.100,00
31-12-2000 Rp. 9.595,00
31-12-2001 Rp. 10.400,00

Bunga selalu dibayar, tetapi hutang pokok tidak pernah diangsur (dibayar).
Pada akhir tahun 2001 PT. MERDEKA menyatakan tidak sanggup membayar lagi.
Dengan melalui PRAKASA JAKARTA atau KKSK diadakan restrukturisasi utang
dengan cara pengalihan harta kepada kreditur untuk penyelesaian utang (DEBT TO
ASSET SWAP) yaitu Hotel (tanah dan gedung) diserahkan ke BCA untuk
penyelesaian utang yang dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2002, bunga 2002
tidak dihitung dengan posisi utang persidangan 31 Desember 2001.

Harga pasar hotel tersebut 31 Desember 2002 sebesar Rp. 50.000.000.000,00 dan
Rugi Fiskal yang masih dapat dikompensasikan sebesar Rp. 20.000.000,00.

Pertanyaan :
Hitung nilai buku Fiskal tanah dan bangunan hotel persidangan 31 Desember 2001 !
Hitung jumlah hutang persidangan 31 Desember 2001 !
Bagaimana perlakuan perpajakan atas DEBT TO ASS

Jangka waktu sebagaimana di maksud pada huruf a dapat diperpanjangan karena


keadaan diluar kekuasaan Wajib Pajak dengan persetujuan Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak yang berwenang paling lama 2 (dua) tahun.

Apabila setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sebagaimana dimaksud Wajib Pajak
belum dapat melaksanakan penawaran umum perdana, maka jangka waktu tersebut
dapat diperpanjang setelah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak.

Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi ketentuan diatas, maka nilai pengalihan harta
atas pemekaran usaha yang dilakukan berdasarkan nilai buku dihitung kembali
berdasarkan nilai pasar.
95
TaxSys
Akuntansi Perpajakan
Ketentuan bagi pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta dalam rangka penggabungan, peleburan, atau pemakaran;
a) apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta menerima sejumlah saham baru dari badan usaha yang menerima
pengalihan harta sebagai pengganti saham lama, maka atas penerimaan saham
baru tersebut tidak terhutang Pajak Penghasilan dan nilai perolehan saham baru
dicatat sebesar saham lama.
b) Apabila pemegang saham dari badan yang melakukan pengalihan harta
menerima sejumlah saham baru dan sejumlah uang dari badan usaha yang
menerima pengalihan harta sebagai pengganti saham lama, maka atas
penerimaan sejumlah uang tersebut merupakan penghasilan yang dikenakan
pajak Pajak Penghasilan dengan tarif umum.
c) Apabila pemegang saham dari badan usaha lama yang melakukan pengalihan
harta tidak setuju dengan rencana pengalihan harta tersebut dan pemegang
saham dimaksud memilih menjual sahamnya, maka:
• Atas selisih lebih antara harga perolehan dengan harga jual merupakan
capital gain yang diterima pemegang saham tersebut dan terhutang pajak
penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
• Atas selisih kurang antara harga perolehan dengan harga jual yang
diterima pemegang saham tersebut dapat dibebankan sebagai biaya,
dengan syarat sepanjang pemegang saham yang bersangkutan
menyelenggarakan pembukuan.
Terhadap pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan dari Wajib Pajak yang
memenuhi pesyaratan sebagaimana dimaksud di atas dikecualikan dari pengenaan PPh
sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1994 Jo 27 tahun
1996.

Wajib Pajak yang telah mendapatkan persetujuan untuk menggunakan nilai buku atas
pengalihan harta dalam rangka penggabungan atau peleburan usaha dengan
persyaratan dalam waktu 1 (tahun) tahun sudah harus mengajukan pernyataan
pendaftaran kepada BAPEPAM untuk intial public offering/secondary offering.

96
TaxSys