Vous êtes sur la page 1sur 11

AKUTANSI MASA INFLASI

A.DEFINISI INFLASI

Inflasi adalah kecenderungan harga-harga barang dan jasa termasuk faktor-faktor


produksi diukur dengan satuan mata uang yang semakin menaik secara umum dan terus
menerus. Dimana harga umum mengalami kenaikan harga. Kondisi dimana daya beli
masyarakat menurun.

Ada 4 kategori inflasi berdasarkan intensitas:

• Ringan : kenaikan harga < 10 %

• Sedang : 10-30 %

• Berat : 30-100%

• Hiper inflasi : 100%

Definisi akutansi inflasi : Suatu proses perolehan data akutansi untuk menghasilkan
informasi yang telah memperhitungkan tingkat perubahan harga sehingga informasi yang
dihasilkan menunjukkan ukuran satuan mata uang dengan tingkat harga yang berlaku.

Penyebab dari inflasi adalah :

1. Demand inflation : inflasi akibat dari perubahan agregat, permintaan masyarakat


berubah akibat dari banyak uang yang beredar melebihi ketersediaan barang dan jasa
yang dijual (ketersediaan terbatas karena tidak mencukupi permintaan).

2. Cost inflation : inflasi akibat dari naiknya harga input produksi.

Untuk mengukur inflasi digunakan:

a. Laporan bulanan

b. Laporan index harga eceran barang-barang

B. METODE SISTEM PENDEKATAN INFORMASI MENGENAI INFLASI


Ada 3 pendekatan untuk menunjukkan informasi:

1. Pendekatan biaya berlaku : CCA (Current Cost Account)

Membandingkan harga yang dulu dengan harga yang sekarang (dilakukan


penyesuaian)

2. Pendekatan harga umum

Menggunakan indeks harga: seluruh aset x indeks harga

3. Kombinasi keduanya

Dalam pencatatan/perhitungan biaya yang terjadi sekarang pada proses akutansi ada 2
metode:

1. Biaya historis (Historical Cost Account : HCA), yaitu perhitungan yang selama
ini dipelajari.

Menurut prinsip akutansi Indonesia/akutansi yang konvensional, laporan keuangan


didasarkan pada prinsip harga perolehan historis dan menganggap bahwa hbarga adalah tetap
(HCA), tetapi dalam kenyataan harga selalu berubah dan cenderung semakin menaik.

Misal:Pada tahun 1980 harga traktor Rp 2,5 juta. Tetapi kalau kita ingin membeli traktor
yang sama pada tahun 1993, kita tidak akan lagi mendapakan pada harga yang sama,
karena kemungkinannya adalah harga telah meningkat.

Jika kita bertahan pada prinsip HCA dan terjadi inflasi, akibatnya :

1. Memberikan penilaian yang tinggi pada π yang diperoleh (over state)

Contoh : traktor harga beli awalnya Rp 15 juta, sekarang Rp 20 juta dengan penerimaan
Rp 25 juta, maka HCA = Rp 10 juta, CCA = Rp 5 juta. Dengan demikian seolah-olah
jumlah yang menjadi bagian pemilik saham akan lebih tinggi, demikian pula dengan
pajak usahanya.

Mengapa sampai diberikan harga tertinggi ? karena :

• Perhitungan depresiasi berdasarkan HCA akan menghasilkan underestimate dengan


nilai yang sebenarnya.

• Kemungkinan adanya peningkatan nilai persediaan/stok barang akibat kenaikan harga


sehingga menyebabkan penerimaan bertambah.

2. Asset/harta yang disajikan dalam neraca akan dinilai lebih rendah

Misal : harga bangunan awal Rp 25 juta sekarang Rp 28 juta.

 Masalah-masalah dalam HCA:

a. Pembayaran pajak yang terlalu tinggi.

b. Penggantian mesin/harta tetap lainnya karena penyusutan dinilai terlalu rendah, maka
uang yang ada tidak akan cukup untuk membeli harta yang baru.

 Alasan HCA dipertahankan:

1. Biaya historis relevan dalam proses pengambilan keputusan dalam ekonomi.

Biaya itu relevan:

a. Tolak ukur apapun yang digunakan manajemen memerlukan informasi tentang


kualitas yang mereka capai di masa lalu, termasuk di dalam menentukan harga
yang akan datang, juga digunakan harga di masa lalu.

b. Biaya historis menyajikan masukan yang memuaskan, karena manajer tidak


mencari optimasi tetapi kepuasaan.
c. Biaya historis didukung faktor lingkungan.

2. Biaya historis didasarkan pada keadaan yang nyata, bukan hasil perkiraan.

3. Sepanjang sejarah akutansi biaya historis terbukti berguna,

4. Pengertian yang baik selama ini tenteng laba adalah selisih kelebihan penghasilan
(dari penjualan) dengan biaya historisnya, laba ini menunjukkan ukuran prestasi.

5. Penggunaan HCA mendukung integritas akuntan, karena dengan menggunakan HCA


dapat menghindari terjadinya manipulasi internal.

6. Sejauh mana manfaat informasi berdasarkan biaya berlaku masih dipertanyakan.

7. Dalam beberapa kasus informasi biaya historis tidak jauh berbeda dengan informasi
biaya berlaku.

 Kelemahan dalam konsep HCA:

1. Informasi laporan keuangan tidak hanya membutuhkan biaya historis tetapi


mencakup informasi tentang kenaikan dan penurunan nilai asset akibat perubahan
harga, aliran kas dan informasi lain yang relevan.

2. Evaluasi terhadap keputusan manajemen tidak cukup hanya dengan melihat


pendapatan yang dihitung berdasarkan nilai historis, sebab pendapatan tersebut
mengandung 2 unsur kenaikan nilai aktiva , yaitu :

a. Kenaikan harga (holding Gain)

b. Operating Gain (kenaikan operasi)

3. Biaya historis tidak lagi berkaitan dengan peristiwa sekarang, sebab ; nillai
uang pada saat perolehan aktiva sudah lain nilainya dengan untuk pendapatan periode
berlaku/periode sekarang.

4. HCA mengekibatkan pendapatn dinyatakan terlalu tinggi dan penilaian


terhadap modal berkurang secara tidak sengaja.
2. Biaya berlaku (CCA)

Nilai usaha adalah asset yang kita punyai dinilai berdasarkan suatu nilai yang
hilang/ditanggung oleh perusahaan tersebut apabila asset harus diganti dengan yang baru.

 Patokan-patokan yang harus diperhatikan dalam penilaian usaha:

1. Nilai terhadap usaha adalah nilai terendah dari ongkos penggantian (Replacement
Cost) pada saat ini.

2. Benefit langsung yang diterima pada masa yanng akan datang dipilih yang paling
tinggi dari 2 komponen, yaitu:

a. Net realizable = nilai jual – nilai sisa

b. Economic Value = nilai sekarang dari nilai pendapatan yang akan diterima pada
saat yang akan datang dari pemilikan asset yang kontinyu.

Ada 2 istilah yang diperhatikan dalam menilai asset:

1. Holding Gain adalah nilai yang diperoleh karena memegang asset dengan tidak
mengkomersilkannya adalah merupakan perbedaan nilai historis suatu asset dengan
nilai saat ini (karena perubahan harga).

2. Operating Gain adalah nilai yang diperoleh karena melakukan sesuatu terhadap assets
yang dimiliki.

C. PENYESUAIAN PADA SAAT INFLASI


Seandainya terjadi inflasi serius, perlu dilakukan penyesuaian, bila tidak dilakukan
penyesuaian (dicatat berdasarkan nilai Historic Cost Account) maka:

1. Seolah-olah kita dapat mengambil nilai dari π tersebut yang akan dibagikan sebagai
deviden (dibagi berdasarkan keuntungan kepada setiap pemegang saham).

2. Akibat selanjutnya, penyusutan harta tetap akan dinilai terlalu rendah, artinya: bila
penyusutan dihitung kembali, kita tidak punya cadangan uang tunai untuk membeli
mesin yang baru, karenaharga mesin meningkat pada saat mesin yang lama habis
masa produktifnya (harganlebih mahal dari yang diperkirakan)

3. Nilai harta secara keseluruhan yang dicantumkan dalam neraca akan lebih kecil
perkiraannya.

Ada 4 cara penyusutan yang harus dilakukan pada saat terjadinya inflasi:

1. Penyesuaian terhadap penyusutan harta (Depreciation Adjustment)

Penyusutan berdasarkan nilai pada saat ini (based on the value of bussiness)

Contoh : sebuah traktor dibeli dengan harga Rp3.000.000,- dan diperkirakan masa
operasinya 2 tahun dan nilai sisa Rp0,-. Penyusutan dihitung dengan metode GARIS
LURUS.

Penyusutan =

%penyusutan/tahunan=

Kalau traktor yang sama pada akhir tahun ke 1 naik menjadi Rp4.000.000,- dan tahun
ke 2 sebesar Rp5.000.000,-

Maka penyesuaian (CCA):

A. Tahun pertama 50 % x Rp4.000.000,- = Rp2.000.000,-


Tahun kedua 50 % x Rp5.000.000,- = Rp2.500.000,-

= Rp4.500.000,-

Masih kekurangan Rp500.000,- untuk membeli mesin baru seharga Rp5.000.000,-


(kekurangan Rp500.000,- disebut backlog depreciation).

B. Penyesuaian yang dilakukan setelah tahun ke 2 baru akan berakhir (setela harga
kenaikan pada tahun ke 2 baru diketahui sebesar Rp5.000.000,-)

Tahun pertama 50% x Rp5.000.000,- = Rp2.500.000,-

Tahun kedua 50% x Rp5.000.000,- = Rp2.500.000,-

= Rp5.000.000,-

Pada tahun ke 2 pengurangan deviden dapat dilakukan karena π perusahaan berkurang


sebesar Rp1.000.000,- (Rp2.500.000,- - Rp1.500.000,- (penyusutan)). Pengurangan deviden
baru bisa dilakukan pada tahun ke 3.

Cara B adalah cara terbaik yang dapat digunakan untuk memperoleh dana penggantian.

1. Penyesuaian nilai stok

Stok terutama stok input pada saat inflasi harus dihitung berdasarkan nilai
penggantiannya (digunakan adalah harga setelah inflasi/perhitungan secara kasar).

Untuk penyesuaian sebagian input (tidak keseluruhan/partial cost), penyesuaian


dilakukan berdasarkan perubahan index harga kalau penyesuaian diperuntukkan bagi
keseluruhan input.

Kalau dilakukan penyesuaian terhadap partial cost, maka mutlak yang digunakan
adalah : Cost of Sales Adjusment (COSA) atau berdasarkan harga jual, juga menggunakan
index harga tapi untuk barang-barang yang diperhitungkan saja Metode Rerataan (Averaging
method).
Perubahan nilai stok tidak menunjukkan apa sebenarnya yang berubah, karena nilai
stok berubah meliputi:

• Fisik stok

• Nilai stok

• Fisik dan nilai stok

Dalam laporan rugi laba yang diperhitungkan hanya fisiknya saja atau nilai tetap,
sedangkan untuk perhitungan inflasi fisik stok tetap dihitung, tetapi nilainya berubah (karena
inflasi). Jadi cara penyesuaian nilai stok ini, fisik dianggap tetap. Misal:

a. Pada awal tahun terdapat 10 ton pakan @ Rp100.000,-/ton. Jadi nilai pakan tersebut
adalah Rp1.000.000,-. Pada akhir tahun terdapat jumlah stok yang sama (10 ton),
harganya naik Rp110.000,-/ton. Jadi nilai stok adalah Rp1.100.000,-, maka harus
dilakukan penyesuaian adalah sebesar = Rp1.100.000,- - Rp1.000.000,- =
Rp100.000,-

Kalau pakan tersebut hanya disimpan,maka akan diperoleh Holding Gain (π) sebesr
Rp100.000,- tetapi kalau pakan tersebut digunakan akan mengalami kerugian.

b. Bila pada awal tahun terdapat 10 ton @ Rp-100.000,-/ton, jadi nilai Rp1.000.000,-.
Pada akhir tahun terdapat 15 ton @ Rp110.000,- nilai stok menjadi Rp1.650.000,-,
maka beda nilai adalah sebesar :Rp1.650.000,- - Rp1.000.000,- = Rp650.000,-
(perubahan nilai dan fisik). Jadi perubahan nilai stok sebenernya adalah
menggambarkan biaya penjualan yang tidak diperhitungkan dalam laporan rugi laba.

 Metode Rerataan

Misal awal tahun100.000 index rata-rata =105

akhir tahun110.000

maka index rata-rata=

Index rata-rata digunakan: digunakan untuk penyesuaian stok awal dan penyesuaian
stok akhir.
- stock awal pada harga rata-rata = ,-

- stock awal pada harga rata-rata= ,-

- kenaikan stok pada harga rata-rata : Rp1.575.000,- - Rp1.050.000,-

= Rp525.000,-

(menggambarkan perubahan fisik dari 10 ton ke 15 ton)

2. Penyesuaian modal kerja (Monetary Working Capital Adjustment (MWCA)).

Terutama ditujukan pada barang-barang yang dijual/dibeli secara kredit atau angsuran.
Tujuannya adalah untuk memperhitungkan pengaruh perubahan harga terhadap nilai bersih
penjualan dan pembelian secara kredit.

Misal : suatu perusahaan menjual secara kredit 1.000 unit barang setiap bulan dengan
pembayaran 1 bulan kemudian. Kalau nilai jual sekarang Rp1.000/unit, sedang pada bulan
yang akan datang karena terjadi inflasi maka menjadi Rp1.500/unit.

Maka: pembeli akan membayar Rp1.500/unit itu (sesuai dengan perjanjian bahwa dibayar 1
bulan kemudian), begitu juga untuk pembelian secara angsuran perlu juga diadakan
penyesuaian.

Perjanjian bahwa jumlah kredit akan bertambah adalah harga akan berubah sesuai
dengan perubahan harga di pasar:

- Kalau terjadi perubahan nilai kerja.

- Selisih perubahan nilai igunakan untuk penyesuaian modal.

3. Penyesuaian pinjaman (Gearing and Loan Adjustment).

Misalkan: ada 2 perusahaan A dan B

A B

modal sendiri Rp1.000.000,- Rp 500.000,-

modal pinjaman Rp 500.000,-

Rp1.000.000,- Rp1.000.000,-
Diasumsikan bahwa kedua perusahaan tersebut mempunyai investasi:

- Harta yang sama (jenis perusahaan yang sama), perubahan harta (assets) =
Rp1.250.000,-, karena adanya perubahan harga.

- Bahwa pada perhitungan Historic Cost Account (HCA), π yang diperoleh sebelum
pembayaran =Rp400.000,- bagi masing-masing perusahaan.

- Nilai penyesuaian depresiasi (penyusutan) + penyesuaian stok + penyesuaian modal


kerja = Rp200.000,-

- Bunga yang harus dibayar perusahaan B = Rp50.000,- (10%)

- Sejumlah Rp200.000,- dari keuntungan A dan Rp150.000,- dari keuntungan B


dibagikan.

- Neraca pada akhir tahun.

A B

- modal sendiri Rp1.250.000 Rp 750.000

Modal pinjaman Rp 500.000

Rp1.250.000 Rp1.250.000

- Gearing Ratio A

Pada awal tahun

- Gearing ratio B

Pada awal tahun /2=100%/2=50%

Jadi untuk modal sendiri : 50% (1:1)

Pada akhir tahun: x100%=66%

 Seharusnya perusahaan B membagikan π yang lebih besar


Penyesuaian yang dilakukan twrhadap ongkos penjualan (COSA), penyusutan dan
penyesuaian modal kerja (MWCA), asumsi:

Gearing Adjustment: 50% x Rp200.000,- = Rp100.000,-

Untuk B;

Laba HCA = Rp400.000,-

Minus deprectiation

COSA

MWCA = Rp200.000,-

Laba(laba operasi) = Rp200.000,-

Minus Bunga = (Rp 50.000,-)

= Rp150.000,-

Plus Gearing Adjustment = Rp100.000,-

Bagian pemegang saham Rp250.000,-

 Jadi bagian pemegang saham Rp250.000,- dari B bukan Rp150.000,-