Vous êtes sur la page 1sur 6

Mu’tazilah

Pendahuluan
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT akhirnya makalah ini dapat kami
selesaikan dengan cukup baik dengan beberapa keterbatasan sumber pengetahuan
yang kami dapat mengenai paham Mu’tazilah ini. Adapun kami akan
memaparkan beberapa menganai paham yang pertama kali muncul di Basra ,Irak
ini .

Sejarah Kemunculan
Sejarah munculnya mu’tazilah kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah
( IraQ ), pada abad ke – 2 Hijriyah , antara tahun 105 – 110 H , tepatnya pada
masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifa Hisyam Bin
Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-
Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal . nah
kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim
berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan
al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah
awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan
Guru , dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Seiring
dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan
sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami
buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka
sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam
(yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As
Sunnah )(1).

Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal
lebih didahulukan daripada syariat (Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’, pen) dan
akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan
akal –menurut persangkaan mereka– maka sungguh syariat tersebut harus dibuang
atau ditakwil(2).(Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih
utama dari syariat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya
ketika terjadi perselisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk
merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat dalam
Surat An-Nisa: 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah tidak
akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka membimbing mereka
menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam An-Nahl: 36. Kalaulah
akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok
ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini.

Mengapa disebut Mu’tazilah ? Mu’tazilah, secara etimologis bermakna: orang-


orang yang memisahkan diri. Sebutan ini mempunyai suatu kronologi yang tidak
bisa dipisahkan dengan sosok Al-Hasan Al-Bashri, salah seorang imam di
kalangan tabi’in.Asy-Syihristani t berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-
laki kepada Al-Hasan Al-Bashri seraya berkata: “Wahai imam dalam agama, telah
muncul di zaman kita ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di
bawah dosa syirik). Dan dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat
mengeluarkan pelakunya dari agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan
kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa
syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam
madzhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan
tidak berpengaruh terhadap keimanan sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh
terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu
dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam
beragama)?” Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan
tersebut. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin
Atha’ berseloroh: “Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun
ia juga tidak kafir, bahkan ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan,
tidak mukmin dan juga tidak kafir.” Lalu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah
satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya tersebut kepada murid-
murid Hasan Al-Bashri lainnya. Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Washil telah
memisahkan diri dari kita”, maka disebutlah dia dan para pengikutnya dengan
sebutan Mu’tazilah(3). Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-
Bashri dengan jawaban Ahlussunnah Wal Jamaah: “Sesungguhnya pelaku dosa
besar (di bawah dosa syirik) adalah seorang mukmin yang tidak sempurna
imannya. Karena keimanannya, ia masih disebut mukmin dan karena dosa
besarnya ia disebut fasiq (dan keimanannya pun menjadi tidak sempurna) {4}.

Asas dan landasan Mu’tazilah Mu’tazilah mempunyai asas dan landasan yang
selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka
dibangun.Asas dan landasan itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima
landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut dan sekaligus kami iringi
dengan bantahan cara pemahaman mereka mengenai azaz dan landasan keislaman
mereka , sebagai berikut : 1. Tauhid Yang mereka maksud dengan At-Tauhid
adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa
menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya
tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menurut mereka(5). Oleh karena itu
mereka menamakan diri dengan Ahlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-
orang yang mensucikan Allah). Bantahannya : 1. Asy-Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Dalil ini sangat lemah, bahkan
menjadi runtuh dengan adanya dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli yang menerangkan
tentang kebatilannya. mensifati dirinya sendiri dengan sifat-sifat Adapun dalil
sam’i bahwa Allah yang begitu banyak , padahal Dia Dzat Yang MahaTunggal.
Allah berfirman:

Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang


menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), Dialah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha
Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruuj: 12-16).
“Sucikanlah Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, Yang Menciptakan dan
Menyempurnakan (penciptaan-Nya), Yang Menentukan taqdir (untuk masing-
masing) dan Memberi Petunjuk, Yang Menumbuhkan rerumputan, lalu Ia jadikan
rerumputan itu kering kehitam-hitaman.” (Al-A’la: 1-5). Adapun dalil ‘aqli:
bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang disifati, sehingga
ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak menunjukkan bahwa yang disifati
itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat yang dimiliki oleh dzat
yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu yang ada ini pasti mempunyai berbagai
macam sifat … “ 2. Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan
sifat makhluq bukanlah bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah berkata dalam Ar-Risalah Al-Hamawiyah: “Menetapkan sifat-sifat
Allah tidak termasuk meniadakan kesucian Allah, tidak pula menyelisihi tauhid,
atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.” Bahkan ini termasuk konsekuensi
dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan yang meniadakannya, justru
merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan. Karena sebelum
meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka terlebih dahulu menyamakan sifat-
sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Lebih dari itu, ketika mereka meniadakan
sifat-sifat Allah yang sempurna itu, sungguh mereka menyamakan Allah dengan
sesuatu yang penuh kekurangan dan tidak ada wujudnya. Karena tidak mungkin
sesuatu itu ada namun tidak mempunyai sifat sama sekali. Oleh karena itu Ibnul-
Qayyim rahimahullah di dalam Nuniyyah-nya menjuluki mereka dengan ‘Abidul-
Ma’duum (penyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya). Atas dasar ini mereka
lebih tepat disebut dengan Jahmiyyah, Mu’aththilah, dan penyembah sesuatu yang
tidak ada wujudnya.

2. Al – ‘adl ( Keadilan ) Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan


bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan . DalilnyaIkejelekan
datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah :
“Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205) “Dan Dia tidak
meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)Menurut mereka kesukaan
dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil
bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau
menginginkan untuk terjadi ( mentaqdirkannya ) oleh karena itu merekan
menamakan diri mereka dengan nama Ahlul ‘Adl atau Al – ‘Adliyyah .
Bantahannya :

As-Syaikh Yahya bin Abil – Khair Al – ‘imrani berkata : kita tidak sepakat bahwa
kesukaan dan keinginan itu satu , dasarnya adalah dalam Al – Qur’an Allah
berfirman :

“ Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai Orang – orang kafir “

Padahal kita semua tau Allah – lah yang menginginkan adanya orang kafir
tersebut dan Dia – lah yang menciptakan mereka(6). Terlebih lagi Allah telah
menyatakan bahwa sanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan hamba tidak lepas
dari kehendak dan ciptaan – Nya , Allah berfirman :
“ Dan kalian tidak akan mampu menghendaki ( jalan itu ) , kecuali bila
dikehendaki Allah .” ( Al – Ihsan : 30 ) .

“ Padahal Allah – lah yang meciptakan kalian dan yang kalian perbuat” (Ash-
Shaafaat : 96 ) . Dari sini kita tau bahwa ternyata istilah keadilan itu mereka
jadikan sebagai yang merupakan bagian dari takdir Allah , kedok untuk
mengingkari kehendak Allah . atas dasar inilah mereka lebih pantas dikatakan
Qadariyyah , Majusyiah , dan orang – orang yang zalim .

3. Al-Wa’du Wal-Wa’id

Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk
memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam
Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar
(walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di
dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka
disebut dengan Wa’idiyyah.

Bantahannya : 1. Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan


mendapatkan pahalanya (seperti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan
nikmat dari-Nya. Dan tidaklah pantas bagi makhluk untuk mewajibkan yang
demikian itu , karena termasuk pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai
bentuk keraguan kepada Allah terhadap Firman – Nya :
“ Sesungguhnya Allah tidak menyelisihi janji – Nya “ ( Ali-Imran : 9 ) Bahkan
Allah mewajibkan bagi diri – Nya sendiri sebagai keutamaan untuk para hamba –
Nya . Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa
besarnya (di bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka
sesuai dengan kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan ancaman-
Nya dan Maha berhak pula untuk tidak melaksanakannya, karena Dia telah
mensifati diri-Nya dengan Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun ,
Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang . terlebih lagi Dia telah menyatakan :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya
meninggal dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48). 2. Adapun
pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abadi di An-
Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat
48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah r yang artinya: “Telah
datang Jibril kepadaku dengan suatu kabar gembira, bahwasanya siapa saja dari
umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya
akan masuk ke dalam al-jannah.” Aku (Abu Dzar) berkata: “Walaupun berzina
dan mencuri?” Beliau menjawab: “ Walaupun berzina dan mencuri “ ( HR. Al-
Bukhori Dan muslim dari sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari ) namun meskipun
mungkin mereka harus masuk neraka terlebih dahulu.

4. Suatu keadaan di antara dua keadaan (Posisi di antara 2 posisi ) Yang mereka
maksud adalah, bahwasanya keimanan itu satu dan tidak bertingkat-tingkat,
sehingga ketika seseorang melakukan dosa besar (walaupun di bawah syirik)
maka telah keluar dari keimanan, namun tidak kafir (di dunia). Sehingga ia berada
pada suatu keadaan di antara dua keadaan (antara keimanan dan kekafiran).
Bantahannya : 1. Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah :

“ Dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya Kepada mereka , maka bertambahlah


keimanan mereka “ ( Al – Anfal : 2 ) Dan juga firman-Nya : “Dan apabila
diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang
berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya)
surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya,
sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati
mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di
samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir “
( At-Taubah : 124-125 )

Dan dalam Firman-Nya yang lain juga :

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka
perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah
Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali
‘Imran: 173)
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku
bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum
yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar
hatiku tetap mantap (dengan imanku)…” ( Al – Baqarah : 260 ) Rasulullah
bersabda : “Keimanan tu memiliki ( mempunyai ) enam puluh sekian atau tujuh
puluh sekian cabang / tingkat , yang paling utama adalah yang paling utama
ucapan “Laa ilaaha illallah”, dan yang paling rendah menyingkirkan gangguan
dari jalan, dan sifat malu itu cabang dari iman.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari
sahabat Abu Hurairah ) . 2. Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik)
tidaklah bisa dikeluarkan dari keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai
mukmin namun kurang iman, karena Allah masih menyebut dua golongan yang
saling bertempur (padahal ini termasuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang
yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertempur,
maka damaikanlah antara keduanya…” (Al-Hujurat: 9) 5. Amar Ma’ruf Nahi
Mungkar

Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap


pemerintah (muslim) yang zalim. Bantahannya : Memberontak terhadap
pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang bertentangan
dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana Allah berfirman :

““Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan
ulil amri (pimpinan) di antara kalian.” (An-Nisa: 59) Rasulullahbersabda: “Akan
datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak
menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka yang berhati setan
namun bertubuh manusia.” (Hudzaifah berkata): “Wahai Rasulullah, apa yang
kuperbuat jika aku mendapati mereka?” Beliau menjawab: “Hendaknya engkau
mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan
hartamu diambil.” (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman){7}.
IV. Sesatkah Mu’tazilah ?

Dari lima landasan pokok mereka yang batil dan bertentangan dengan Al Qur’an
dan As-Sunnah itu, sudah cukup sebagai bukti tentang kesesatan mereka. Lalu
bagaimana bila ditambah dengan prinsip-prinsip sesat lainnya yang mereka
punyai, seperti: – Mendahulukan akal daripada Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’
Ulama. – Mengingkari adzab kubur, syafa’at Rasulullah untuk para pelaku dosa,
ru’yatullah (dilihatnya Allah) pada hari kiamat, timbangan amal di hari kiamat,
Ash-Shirath (jembatan yang diletakkan di antara dua tepi Jahannam), telaga
Rasulullah di padang Mahsyar, keluarnya Dajjal di akhir zaman, telah
diciptakannya Al-Jannah dan An-Naar (saat ini), turunnya Allah ke langit dunia
setiap malam, hadits ahad (selain mutawatir), dan lain sebagainya. – Vonis
mereka terhadap salah satu dari dua kelompok yang terlibat dalam pertempuran
Jamal dan Shiffin (dari kalangan shahabat dan tabi’in), bahwa mereka adalah
orang-orang fasiq (pelaku dosa besar) dan tidak diterima persaksiannya. Dan
engkau sudah tahu prinsip mereka tentang pelaku dosa besar, di dunia tidak
mukmin dan juga tidak kafir, sedangkan di akhirat kekal abadi di dalam an-naar. –
Meniadakan sifat-sifat Allah, dengan alasan bahwa menetapkannya merupakan
kesyirikan. Namun ternyata mereka mentakwil sifat Kalam (berbicara) bagi Allah
dengan sifat Menciptakan, sehingga mereka terjerumus ke dalam keyakinan kufur
bahwa Al-Qur’an itu makhluq, bukan Kalamullah. Demikian pula mereka
mentakwil sifat Istiwaa’ Allah dengan sifat Istilaa’ (menguasai). Kalau memang
menetapkan sifat-sifat bagi Allah merupakan kesyirikan, mengapa mereka
tetapkan sifat menciptakan dan Istilaa’ bagi Allah?! (8)

Diperoleh dari “http://wiki.myquran.org/index.php/Mu%27taziliyah“