Vous êtes sur la page 1sur 25

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Hasil Percobaan Tepung Beras “Rose Brand”
4.1.1.1 Hasil Percobaan Tepung Beras “Rose Brand” pada 1 L Beaker Glass
Tabel 4.1 Hasil Percobaan Tepung Beras “Rose Brand” pada 1 L Beaker Glass

z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)


Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 13 13 13 0 0 0 100,00 150,00 200,00
2 11,2 12 12,5 0,500 0,369 0,323 116,07 162,50 208,00
4 10,2 11,4 12,3 0,455 0,353 0,307 127,45 171,05 211,38
6 9,2 10,7 11,9 0,429 0,335 0,293 141,30 182,24 218,49
8 8,1 10,1 11,5 0,377 0,304 0,194 160,49 193,07 226,09
10 7,2 9,6 11,3 0,344 0,298 0,188 180,56 203,13 230,09
12 6,3 9,1 11 0,300 0,276 0,144 206,35 214,29 236,36
14 5,8 8,6 10,6 0,216 0,257 0,155 224,14 226,74 245,28
16 5,5 8,1 10,3 0,167 0,239 0,150 236,36 240,74 252,43
18 5,1 7,6 9,9 0,142 0,225 0,147 254,90 256,58 262,63
20 4,9 7,2 9,5 0,106 0,210 0,144 265,31 270,83 273,68
22 4,8 6,8 9,3 0,089 0,179 0,141 270,83 286,76 279,57
24 4,7 6,5 9 0,078 0,158 0,139 276,60 300,00 288,89
26 4,6 6,2 8,7 0,069 0,150 0,136 282,61 314,52 298,85
28 4,5 5,9 8,4 0,060 0,142 0,133 288,89 330,51 309,52
30 4,5 5,7 8,2 0,054 0,123 0,129 288,89 342,11 317,07
32 4,4 5,5 8 0,050 0,107 0,126 295,45 354,55 325,00
34 4,3 5,4 7,7 0,044 0,096 0,122 302,33 361,11 337,66
36 4,2 5,2 7,4 0,042 0,088 0,118 309,52 375,00 351,35
38 4,2 5,1 7,2 0,039 0,080 0,114 309,52 382,35 361,11
40 4,1 5 7 0 0,073 0,112 317,07 390,00 371,43
42 4,1 4,9 6,8 0 0,065 0,110 317,07 397,96 382,35
44 4,1 4,9 6,6 0 0,048 0,106 317,07 397,96 393,94
46 4,7 6,5 0,037 0,087 414,89 400,00
48 4,7 6,5 0,033 0,061 414,89 400,00
50 4,6 6,2 0,030 0,050 423,91 419,35
52 4,6 6,1 0,028 0,045 423,91 426,23
z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)
Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
54 4,5 5,9 0,027 0,041 433,33 440,68
56 4,5 5,8 0,026 0,035 433,33 448,28
58 4,4 5,7 0,025 0,033 443,18 456,14
60 4,4 5,6 0,024 0,031 443,18 464,29
62 4,3 5,5 0 0,029 453,49 472,73
64 4,3 5,4 0 0,028 453,49 481,48
66 4,3 5,4 0 0,026 453,49 481,48
68 5,3 0,027 490,57
70 5,3 0,025 490,57
72 5,2 0,023 500,00
74 5,1 0 509,80
76 5,1 0 509,80
78 5,1 0 509,80

Keterangan:
Co = Konsentrasi sampel mula-mula (gr/L)
z = Tinggi antarmuka cairan jernih dan suspensi keruh (cm)
v = Laju pengendapan partikel (cm/menit)
CL = Konsentrasi padatan (gr/L)
4.1.1.2 Hasil Percobaan Tepung Beras “Rose Brand” pada 1 L Gelas Ukur
Tabel 4.2 Hasil Percobaan Tepung Beras “Rose Brand” pada 1 L Gelas Ukur

z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)


Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 13 13 13 0 0 0 100,00 150,00 200,00
2 11,4 12,5 12,8 0,595 0,403 0,284 114,04 156,00 216,67
4 10,1 12,3 12,5 0,545 0,363 0,259 128,71 158,54 208,00
6 8,9 12 12,3 0,504 0,341 0,236 146,07 162,50 211,38
8 8,5 11,8 11,9 0,404 0,318 0,218 152,94 165,25 218,49
10 7,9 11,5 11,6 0,364 0,300 0,205 164,56 169,57 224,14
12 7,6 11,2 11,3 0,341 0,275 0,202 171,05 174,11 230,09
14 7,2 10,9 11,1 0,300 0,245 0,182 180,56 178,90 234,23
16 6,8 10,7 10,9 0,222 0,227 0,170 191,18 182,24 238,53
18 6,6 10,4 10,7 0,202 0,209 0,159 196,97 187,50 242,99
20 6,2 10,2 10,5 0,170 0,183 0,148 209,68 191,18 247,62
22 6 9,9 10,3 0,130 0,163 0,135 216,67 196,97 252,43
24 5,4 9,7 10 0,105 0,156 0,127 240,74 201,03 260,00
26 5,1 9,5 9,8 0,090 0,141 0,119 254,90 205,26 265,31
28 4,7 9,2 9,6 0,078 0,134 0,111 276,60 211,96 270,83
30 4,3 8,9 9,4 0,065 0,125 0,100 302,33 219,10 276,60
32 3,8 8,7 9,1 0,053 0,117 0,092 342,11 224,14 285,71
34 3,6 8,4 8,9 0,045 0,113 0,086 361,11 232,14 292,13
36 3,4 8,2 8,7 0,037 0,103 0,081 382,35 237,80 298,85
38 3,3 7,9 8,5 0,032 0,096 0,076 393,94 246,84 305,88
40 3,3 7,6 8,2 0,029 0,087 0,071 393,94 256,58 317,07
42 3,25 7,4 8 0,026 0,079 0,068 400,00 263,51 325,00
44 3,2 7,2 7,7 0 0,073 0,064 406,25 270,83 337,66
46 3,2 7 7,5 0 0,069 0,061 406,25 278,57 346,67
48 3,2 6,7 7,2 0 0,066 0,058 406,25 291,04 361,11
50 6,5 7 0,059 0,055 300,00 371,43
52 6,4 6,8 0,057 0,052 304,69 382,35
z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)
Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
54 6,3 6,7 0,053 0,050 309,52 388,06
56 6,3 6,5 0,049 0,047 309,52 400,00
58 6,2 6,3 0,046 0,044 314,52 412,70
60 6,2 6,1 0,042 0,041 314,52 426,23
62 6,1 5,9 0,040 0,038 319,67 440,68
64 6,1 5,8 0,034 0,037 319,67 448,28
66 6 5,7 0 0,034 325,00 456,14
68 6 5,6 0 0,033 325,00 464,29
70 6 5,5 0 0,031 325,00 472,73
72 5,4 0,029 481,48
74 5,3 0,028 490,57
76 5,3 0,026 490,57
78 5,2 0,024 500,00
80 5,2 0,023 500,00
82 5,1 0 509,80
84 5,1 0 509,80
86 5,1 0 509,80

Keterangan:
Co = Konsentrasi sampel mula-mula (gr/L)
z = Tinggi antarmuka cairan jernih dan suspensi keruh (cm)
v = Laju pengendapan partikel (cm/menit)
CL = Konsentrasi padatan (gr/L)
4.1.2 Hasil Percobaan Kapur Sirih
4.1.2.1 Hasil Percobaan Kapur Sirih dalam 1 L Beaker Glass
Tabel 4.3 Hasil Percobaan Kapur Sirih pada 1 L Beaker Glass

z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)


Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 13 13 13 0 0 0 100,00 150,00 200,00
2 3,6 6,7 10,3 0,671 0,810 0,813 361,11 291,04 252,43
4 2,7 4,3 8,2 0,400 0,375 0,559 481,48 453,49 317,07
6 2,6 3,9 6,7 0,233 0,221 0,400 500,00 500,00 388,06
8 2,5 3,6 5,8 0,155 0,174 0,246 520,00 541,67 448,28
10 2,4 3,4 5,2 0,116 0,163 0,197 541,67 573,53 500,00
12 2,4 3,3 5 0,104 0,128 0,179 541,67 590,91 520,00
14 2,3 3,3 4,9 0 0,109 0,124 565,22 590,91 530,61
16 2,3 3,2 4,7 0 0,085 0,102 565,22 609,38 553,19
18 2,3 3,1 4,6 0 0 0 565,22 629,03 565,22
20 3,1 4,6 0 0 629,03 565,22
22 3,1 4,6 0 0 629,03 565,22

4.2.1.2 Hasil Pewrcobaan Kapur Sirih pada 1 L Gelas Ukur


Tabel 4.4 Hasil Percobaan Kapur Sirih pada 1 L Gelas Ukur
z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)
Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 13 13 13 0 0 0 100,00 150,00 200,00
2 2 8 8,7 0,846 1,160 0,787 650,00 243,75 298,85
4 1,8 5,8 4,6 0,556 0,558 0,647 722,22 336,21 565,22
6 1,7 4,4 3,2 0,300 0,284 0,568 764,71 443,18 812,50
8 1,6 3,8 2,9 0,205 0,213 0,375 812,50 513,16 896,55
10 1,5 3,5 2,8 0,132 0,192 0,303 866,67 557,14 928,57
12 1,5 2,9 2,6 0,118 0,134 0,279 866,67 672,41 1000,00
14 1,4 2,3 2,5 0,081 0,109 0,214 928,57 847,83 1040,00
16 1,4 2,2 2,4 0,067 0,085 0,177 928,57 886,36 1083,33
1000,0
0 0,063 0,127 975,00 1130,43
18 1,3 2 2,3 0
1000,0
0 0,048 0,115 975,00 1181,82
20 1,3 2 2,2 0
1000,0 1026,3
0 0,034 0,104 1238,10
22 1,3 1,9 2,1 0 2
1083,3
0 0,092 1238,10
24 1,8 2,1 3
z (cm) v(cm/menit) CL (gr/L)
Waktu
Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200 Co=100 Co=150 Co=200
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
26 1,8 2 0 0 1083,33 1300,00
28 1,8 2 0 0 1083,33 1300,00
30 2 0 1300,00

4.2 Pembahasan
4.2.1 Hubungan tinggi antarmuka (z) terhadap waktu pengendapan (t)
4.2.1.1 Sampel Tepung Beras “Rose Brand”

Grafik 4.1 Tinggi antarmuka (cm) vs Waktu Pengendapan (menit) pada sampel
Tepung Beras “Rose Brand”

Grafik 4.1 menunjukkan pengaruh waktu pengendapan (t) terhadap tinggi


antarmuka (z). Dalam grafik di atas dapat dilihat bahwa pada beaker glass dengan
konsentrasi Co=100 gr/L, Co=150 gr/L, dan Co=200 gr/L memerlukan waktu 44
menit, 66 menit, dan 78 menit untuk konstan. Sedangkan pada gelas ukur dengan
konsentrasi yang sama mempunyai waktu pengendapan (t) yang lebih lama dari pada
beaker glass, pada gelas ukur dengan konsentrsi Co=100 gr/L, Co=150 gr/L, dan
Co=200 gr/L memerlukan waktu 48 menit, 70 menit, dan 86 menit untuk konstan.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi (Co) maka semakin lama
waktu yang dibutuhkan untuk pengendapan. Dari data yang diperoleh dapat dilihat
bahwa pada konsentrasi Co=100 gr/L untuk beaker glass memerlukan waktu 44
menit dan untuk gelas ukur memerlukan waktu 48 menit untuk konstan. Hal ini
menunjukkan waktu pengendapan (t) yang dibutuhkan untuk mengendapkan suatu
bahan dengan menggunakan gelas ukur lebih lama daripada beaker glass.
Berdasarkan teori bahwa semakin lama waktu pengendapan (t) maka tinggi
antarmuka (z) semakin berkurang dan berangsur-angsur turun hingga mencapai
tinggi akhirnya dengan laju yang seragam sehingga muncul suatu zona jernih. Hal ini
disebabkan oleh pemampatan atau kompresi pada endapan bawah yang dipengaruhi
oleh gravitasi. Konsentrasi padatan dan luas penampang dari wadah juga
mempengaruhi laju pengendapan. Semakin besar konsentrasi, semakin lama waktu
pengendapan. Diameter kolam pengendap juga harus cukup besar untuk menampung
aliran zat cair dan zat padat. Luas ini harus cukup besar sehingga kecepatan zat cair
kurang dari kecepatan pengendapan partikel terkecil. Artinya semakin besar aliran
bahan yang masuk, maka semakin besar juga ukuran bejana yang harus dibuat.
Semakin besar luas penampang dari wadah, maka laju pengendapan semakin cepat
(McCabe dkk, 1999).
Dari hasil yang telah diperoleh, percobaan telah sesuai dengan teori, yaitu
tinggi antarmuka (z) semakin berkurang hingga mencapai tinggi akhirnya. Semakin
tinggi konsentrasi (Co) maka semakin lama waktu pengendapan. Dan waktu
pengendapan pada beaker glass lebih kecil dibandingkan gelas ukur. Hal ini
disebabkan beaker glass mempunyai luas penampang yang lebih besar dibandingkan
gelas ukur, sehingga partikel yang turun lebih cepat.
4.2.1.2 Sampel Kapur Sirih

Grafik 4.2 Tinggi antar muka (cm) vs Waktu Pengendapan (menit) pada sampel
Kapur Sirih

Grafik 4.2 menunjukkan pengaruh waktu pengendapan (t) terhadap tinggi


antarmuka (z). Dalam grafik di atas dapat dilihat bahwa pada beaker glass dengan
konsentrasi Co=100 gr/L, Co=150 gr/L, dan Co=200 gr/L memerlukan waktu 18
menit, 22 menit, dan 22 menit untuk konstan. Sedangkan pada gelas ukur dengan
konsentrasi yang sama mempunyai waktu pengendapan (t) yang lebih lama dari pada
beaker glass, pada gelas ukur dengan konsentrsi Co=100 gr/L, Co=150 gr/L, dan
Co=200 gr/L memerlukan waktu 22 menit, 28 menit, dan 30 menit untuk konstan.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi (Co) maka semakin lama
waktu yang dibutuhkan untuk pengendapan. Dari data yang diperoleh dapat dilihat
bahwa pada konsentrasi Co=100 gr/L untuk beaker glass memerlukan waktu 18
menit dan untuk gelas ukur memerlukan waktu 22 menit untuk konstan. Hal ini
menunjukkan waktu pengendapan (t) yang dibutuhkan untuk mengendapkan suatu
bahan dengan menggunakan gelas ukur lebih lama daripada beaker glass.
Berdasarkan teori bahwa semakin lama waktu pengendapan (t) maka tinggi
antarmuka (z) semakin berkurang dan berangsur-angsur turun hingga mencapai
tinggi akhirnya dengan laju yang seragam sehingga muncul suatu zona jernih. Hal ini
disebabkan oleh pemampatan atau kompresi pada endapan bawah yang dipengaruhi
oleh gravitasi. Konsentrasi padatan dan luas penampang dari wadah juga
mempengaruhi laju pengendapan. Semakin besar konsentrasi, semakin lama waktu
pengendapan. Diameter kolam pengendap juga harus cukup besar untuk menampung
aliran zat cair dan zat padat. Luas ini harus cukup besar sehingga kecepatan zat cair
kurang dari kecepatan pengendapan partikel terkecil. Artinya semakin besar aliran
bahan yang masuk, maka semakin besar juga ukuran bejana yang harus dibuat.
Semakin besar luas penampang dari wadah, maka laju pengendapan semakin cepat
(McCabe dkk, 1999).
Dari hasil yang telah diperoleh, percobaan telah sesuai dengan teori, yaitu
tinggi antarmuka (z) semakin berkurang hingga mencapai tinggi akhirnya. Semakin
tinggi konsentrasi (Co) maka semakin lama waktu pengendapan. Dan waktu
pengendapan pada beaker glass lebih kecil dibandingkan gelas ukur. Hal ini
disebabkan beaker glass mempunyai luas penampang yang lebih besar dibandingkan
gelas ukur, sehingga partikel yang turun lebih cepat.
4.2.2 Hubungan Laju Pengendapan (v) terhadap Konsentrasi Padatan (CL)
4.2.2.1 Sampel Tepung Terigu

Grafik 4.3 Laju Pengendapan (cm/menit) vs Konsentrasi Padatan (gr/L) pada sampel
Tepung Beras “Rose Brand”

Pada grafik 4.3 ditunjukkan hubungan laju pengendapan dengan konsentrasi


padatan. Dapat dilihat bahwa secara keseluruhan semakin tinggi konsentrasi Co maka
semakin lambat laju pengendapan. Berdasarkan kurva, umumnya percobaan dengan
gelas ukur dan beaker glass pada konsentrasi Co=75 gr/L mempunyai laju
pengendapan lebih besar dibandingkan konsentrasi Co=100 gr/L dan konsentrasi
Co=125 gr/L. Percobaan dengan gelas ukur pada konsentrsi Co=75 gr/l, dari
konsentrasi padatan 300gr/L ke 500 gr/L laju pengendapan berkurang dari 1
cm/menit ke 0,867 cm/menit. Percobaan dengan gelas ukur pada konsentrasi Co=75
gr/L, dari konsentrasi padatan 327,270 gr/L ke 486,490 gr/L laju pengendapan malah
naik dari 0,556 cm/menit ke 0,765 cm/menit. Dari sini telah terjadi perbedaan karena
terjadi kenaikan laju pengedapan dari 0,556 menjadi 0,765. Denga kata lain kurva
pada grafik banyak mengalami fluktuasi.
Adapun kecepatan pengendapan diperoleh sebagai gradien kurva tinggi antar
muka vs waktu, misalnya V1 pada ketinggian Z1, diperoleh konsentrasi C1. Maka
pada kcepatan Vi ketinngian Zi dapat diperoleh konsentrasi Ci menurut persamaan:
C 0 .Z O
Ci =
Zi (Geankoplis, 1997)
Berdasarkan teori bahwa semakin berkurang laju pengendapan maka semakin
besar konsentasi padatan (CL). Hal ini disebabkan makin besar konsentrasi maka
semakin besar gaya yang ditimbulkan antar partikel, yang menyebabkan laju
pengendapan semakin kecil (McCabe dkk, 1999).
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa, hasil percobaan yang dilakukan telah
sesuai dengan teori untuk beberapa kurva, dimana semakin besar konsentasi padatan
(CL), semakin berkurang laju pengendapan, namun masih terdapat fluktuasi kurva
Hal ini disebabkan oleh :
1. Adanya pola aliran tangensial yang terbentuk pada saat proses pencampuran
dengan cara pengadukan fasa padat dengan air mengakibatkan terjadi
penggumpalan partikel dimana konsentrasi yang besar mengakibatkan
penggumpalan partikel yang lebih besar, sehingga laju pengendapan fasa
padat terganggu.
2. Pembentukan partikel-partikel flokulan yang tidak merata di dalam bejana
sehingga laju pengendapan tidak stabil dan pengendapan partikel terganggu.
4.2.2.2 Sampel Tepung ketan

Grafik 4.4 Laju Pengendapan (cm/menit) vs Konsentrasi Padatan (gr/L) pada sampel
Kapur Sirih

Pada grafik 4.4 ditunjukkan hubungan laju pengendapan dengan konsentrasi


padatan. Dapat dilihat bahwa secara keseluruhan semakin tinggi konsentrasi Co maka
semakin lambat laju pengendapan. Berdasarkan kurva, umumnya percobaan dengan
gelas ukur pada konsentrasi Co=75 gr/L mempunyai laju pengendapan lebih besar
dibandingkan konsentrasi Co=100 gr/L dan konsentrasi Co=125 gr/L.Tetapi kurva
dengan gelas ukur terjadi perbedaaa dimana konsenterasi Co = 75 gr/L laju
pengendapannya lebih rendah dari konsenterasi Co=100 gr/L dan Co = 125 gr/L.
Pada percobaan dengan gelas ukur untuk tiap titiknya terjadi penurunan laju
pengendapan jika konsenterasi bertambah pada konsenterasi Co = 75 gr/L untuk
gelas ukur kenaikan konsenteras dari 133,33 menjadi 160 terjadi penurunan laju
pengendapan dari 1,167 menjadi 1,067. Namun hal yang sama tidak terjadi pada
percobaan dengan beaker gelas yaitu terjadi kenaikan laju pengendapan seiring
naiknya konsenterasi padatan yaitu untuk Co = 75 gr/L kenaikan konsenterasi dari
133,33 menjadi 240 diikuti kenaikan laju pengendapan dari 1 menjadi 1,015.
Adapun kecepatan pengendapan diperoleh sebagai gradien kurva tinggi antar
muka vs waktu, misalnya V1 pada ketinggian Z1, diperoleh konsentrasi C1. Maka
pada kcepatan Vi ketinngian Zi dapat diperoleh konsentrasi Ci menurut persamaan:
C 0 .Z O
Ci =
Zi (Geankoplis, 1997)
Berdasarkan teori bahwa semakin berkurang laju pengendapan maka semakin besar
konsentasi padatan (CL). Hal ini disebabkan makin besar konsentrasi maka semakin
besar gaya yang ditimbulkan antar partikel, yang menyebabkan laju pengendapan
semakin kecil (McCabe dkk, 1999).
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa, hasil percobaan yang dilakukan telah
sesuai dengan teori dimana semakin besar konsentasi padatan (CL), semakin
berkurang laju pengendapan
4.3 Perbandingan antara Tepung Beras “Rose Brand” dan Kapur Sirih
4.3.1 Pada Beaker Glass

Grafik 4.5 Perbandingan Laju Pengendapan (v) antara Tepung Beras “Rose Brand”
dan Kapur Sirih pada 1 L Beaker Glass untuk Konsentrasi awal 100 gr/L

Grafik 4.5 menunjukkan perbandingan kecepatan pengendapan antara


Tepung bogasari dan tepung ketan dalam 1 L beaker glass pada konsentrasi 100
gr/L. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa laju pengendapan (v) semakin berkurang
seiring dengan bertambahnya waktu (t). Pada sampel tepung terigu bogasari
diperlukan waktu selama 16 menit hingga kecepatan pengendapannya konstan dan
tidak ada lagi partikel-partikel yang mengendap, sedangkan untuk sampel tepung
ketan diperlukan waktu yang lebih cepat, yakni 12 menit hingga kecepatan
pengendapannya konstan. Hal ini menunjukkan bahwa partikel-partikel tepung terigu
bogasari memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengendap dibandingkan tepung
ketan.
Berdasarkan teori bahwa semakin lama waktu pengendapan (t), maka laju
pengendapan semakin berkurang hingga akhirnya tidak ada lagi partikel-partikel
yang mengendap. Hal ini disebabkan oleh pemampatan atau kompresi pada endapan
bawah yang dipengaruhi oleh gravitasi. Densitas atau berat jenis padatan juga
mempengaruhi laju pengendapan. Semakin besar densitas suatu padatan, maka
semakin cepat waktu yang diperlukan oleh padatan-padatan itu untuk mengendap.
Begitu juga sebaliknya, semakin kecil densitas suatu padatan, maka semakin lama
pula waktu yang diperlukan oleh padatan-padatan itu untuk mengendap. Hal ini
sesuai dengan persamaan :

(McCabe dkk, 1999).


Dimana,
u = Kecepatan pengendapan partikel (m/s)
g = Percepatan gravitasi bumi (m/s2)
= Densitas partikel (kg/m3)
= Densitas zat cair (kg/m3)
= Viskositas zat cair (Pa.s)
D = Diameter partikel (m)

Densitas tepung ketan lebih besar dari tepung terigu dimana densitas tepung
ketan adalah 0,58 dan tepung terigu 0,48. Jadi dari percobaan yang dilakukan dapat
disimpulkan bahwa sampel Tepung terigu memerlukan waktu yang lebih lama untuk
mengendap dibandingkan dengan sampel tepung ketan. Dan hal ini sesuai dengan
percobaan.
4.3.2 Pada Gelas Ukur

Grafik 4.6 Perbandingan Laju Pengendapan (v) antara Tepung Beras “Rose Brand”
dan Kapur Sirih pada 1 L Gelas Ukur untuk Konsentrasi awal 100 gr/L

Grafik 4.6 menunjukkan perbandingan kecepatan pengendapan antara tepung


terigu bogasari dan tepung ketan dalam 1 L gelas ukur pada konsentrasi 100 gr/L.
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa laju pengendapan (v) semakin berkurang
seiring dengan bertambahnya waktu (t). Pada sampel tepung terigu bogasari
diperlukan waktu selama 16 menit hingga kecepatan pengendapannya konstan dan
tidak ada lagi partikel-partikel yang mengendap, sedangkan untuk tepung ketan
bogasari diperlukan waktu yang lebih lama, yakni 24 menit hingga kecepatan
pengendapannya konstan. Hal ini menunjukkan bahwa partikel-partikel tepung beras
memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengendap dibandingkan kapur sirih.
Berdasarkan teori bahwa semakin lama waktu pengendapan (t), maka laju
pengendapan semakin berkurang hingga akhirnya tidak ada lagi partikel-partikel
yang mengendap. Hal ini disebabkan oleh pemampatan atau kompresi pada endapan
bawah yang dipengaruhi oleh gravitasi. Densitas atau berat jenis padatan juga
mempengaruhi laju pengendapan. Semakin besar densitas suatu padatan, maka
semakin cepat waktu yang diperlukan oleh padatan-padatan itu untuk mengendap.
Begitu juga sebaliknya, semakin kecil densitas suatu padatan, maka semakin lama
pula waktu yang diperlukan oleh padatan-padatan itu untuk mengendap. Hal ini
sesuai dengan persamaan :

(McCabe dkk, 1999).


Dimana,
u = Kecepatan pengendapan partikel (m/s)
g = Percepatan gravitasi bumi (m/s2)
= Densitas partikel (kg/m3)
= Densitas zat cair (kg/m3)
= Viskositas zat cair (Pa.s)
D = Diameter partikel (m)

Densitas tepung ketan lebih besar dari tepung terigu dimana densitas tepung
ketan adalah 0,58 dan tepung terigu 0,48. Jadi dari teori dapat disimpulkan bahwa
sampel Tepung terigu memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengendap
dibandingkan dengan sampel tepung ketan. Dan hal ini tidak sesuai dengan
percobaan. Hal – hal yang mernjadikan penyimpangan pada percobaan adalah :
1. Kesalahan pengukuran akibat kesalahan pandangan yang terhalang oleh
tepung
2. Terbentuk flokulan yang tidak merata sehingga akan mempengaruhi laju
sedimentasi
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan percobaan Sedimentasi, maka dapat diperoleh beberapa
kesimpulan, yaitu
1. Ketinggian permukaan cairan (z) dipengaruhi oleh waktu yang diperlukan
selama proses pengendapan. Semakin lama waktu (t) yang dibutuhkan
untuk mengendap maka akan semakin berkurang tinggi permukaan (z).
2. Konsentrasi padatan awal (Co) mempengaruhi waktu pengendapan (t)
yang diperlukan dalam mengendapkan padatan secara sempurna ke nilai
konstan, semakin besar konsentrasi awal (Co) padatan maka waktu (t)
yang diperlukan untuk mencapai nilai tinggi permukaan (z) yang konstan
akan semakin lama.
3. Semakin besar konsentrasi padatan (Co) maka akan semakin tinggi
endapan (z) yang dihasilkan.
4. Laju pengendapan (v) akan mempengaruhi konsentrasi padatan (CL),
karena semakin besar konsentrasi padatan (CL), maka akan semakin
rendah laju pengendapan (v) sampai besar konsentrasi padatan konstan.
5. Laju pengendapan (v) pada kapur sirih lebih besar daripada tepung beras
karena densitas kapur sirih lebih besar daripada tepung beras.

5.2 Saran
Setelah dilakukan percobaan sedimentasi, maka dapat dikemukakan saran, yaitu :
1. Dilakukan variasi sampel dengan tingkat ukuran partikel yang besar.
2. Pengendapan dilakukan dengan pemberian kecepatan pada cairan yang
mau diendapkan
3. Bagaiman kalau dilakukan variasi pengadukan terhadap kecepatan
pengendapan.
DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, Christie J. 1997. Transpor Processes and Unit Operation. 3th Edition.
New Delhi : Prentice Hall of India.
McCabe, Warren L., dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
LAMPIRAN A
DATA PERCOBAAN

A.1 Hasil Percobaan Tepung Terigu


A.1.1 Hasil Percobaan Tepung Terigu dalam gelas ukur
Tabel A.1 Hasil percobaan tepung terigu dalam gelas ukur

z (cm)
Waktu
Co=75 Co=100 Co=125
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 12 12 12
4 7,5 8 9
8 4 5,5 8
12 2,4 3,7 6
16 2,4 2 5,5
20 2,4 2 4,5
24 2,4 2 3,9
28 2 3,5
32 3,5
36 3,5
A.1.2 Hasil Percobaan Tepung Terigu dalam beaker gelas
Tabel A.2 Hasil Tepung Terigu dalam beaker gelas

z (cm)
Waktu
Co=75 Co=100 Co=125
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 12 12 12
4 1,5 8 9
8 2,3 6 7,5
12 2,3 4 6,5
16 3 3,5 5,5
20 3 3,5 5,5
24 3 3,5 5,5
28 3 3,5 5,5
32 3,5

A.2 Hasil Percobaan Tepung Ketan


A.2.1 Hasil Percobaan Tepung Ketan dalam Gelas ukur
Tabel A.3 Hasil Percobaan Tepung Ketan dalam Gelas ukur
z (cm)
Waktu
Co=75 Co=100 Co=125
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 12 12 12
4 9 9 11
8 7,5 7 8
12 3 6 6,5
16 2,5 4 4,5
20 2,5 3,5 4
24 2,5 3,5 4
28 2,5 3,5 4
32 3,5

A.2.2 Hasil Percobaan Tepung Ketan dalam Beaker gelas


Tabel A.4 Hasil Percobaan Tepung Ketan dalam Beaker gelas

z (cm)
Waktu
Co=75 Co=100 Co=125
(Menit) (gr/L) (gr/L) (gr/L)
0 12 12 12
4 9 9 9,5
8 5 8 8
12 4,5 4 6
16 3 4 4,5
20 3 4 4,5
24 3 4 4,5
28 3 4,5
LAMPIRAN B
CONTOH PERHITUNGAN

Acuan contoh perhitungan untuk percobaan sedimentasi berikut berdasarkan


hasil percobaan dengan wadah gelas ukur dan konsentrasi awal (Co) = 75 gr/L
dimana data yang digunakan untuk sampel tepung beras Tepung terigu yaitu data
pada t = 4 menit dengan z = 7,5 cm dan untuk sampel Tepung ketan , yaitu data pada
t = 4 menit dengan z = 9 cm.

B.1 Menentukan Laju Pengendapan (v)


B.1.1 Menentukan Laju Pengendapan (v) pada Tepung Ketan
Untuk mencari laju pengendapan yaitu ditarik dari slope setiap garis dari
grafik berikut ini:

Slope pada saat t = 4 menit dan z = 7,5 cm, diperoleh t’ = 13 menit z’ = 11 cm


sehingga laju pengendapan ( v ):

V=

V= = 0,846 cm/menit
B.1.2 Menentukan Laju Pengendapan (v) pada Kapur Sirih
Untuk mencari laju pengendapan yaitu ditarik dari slope setiap garis dari
grafik berikut ini:

Slope pada saat t = 4 menit dan z = 9 cm, diperoleh t’ = 12 menit z’ = 14 cm


sehingga laju pengendapan ( v ):

z’
V=t’
’ z’
V= = 1,167 cm/menit

B.2 Menentukan Konsentrasi Padatan (CL)


B.2.1 Menentukan Konsentrasi Padatan (CL) Tepung Beras “Rose Brand”
Co = 75 gr/L
zo = 12 cm

 Pada saat t = 4 menit dan zL = 7,5 cm

Co.zo = CL.zL
Co.zo zL
CL =

= 75 x 12
7,5
CL = 120 gr/L
B.2.2 Menentukan Konsentrasi Padatan (CL) Kapur Sirih
Co = 75 gr/L
zo = 12 cm

 Pada saat t = 4 menit dan zL = 9cm

Co.zo = CL.zL
Co.zo zL
CL =

= 75 x 12
9
CL = 100 gr/L