Vous êtes sur la page 1sur 11

MAKALAH

K3 DI PERTAMBANGAN EMAS

Di susun oleh:
Apriyadi Dwi Yudhanto (F34090043)
Kartika Wulandari (F34090051)
Utami Umul Mu’min (F34090076)
Imastia Rahma Siwi (F34090120)
Duwi Ichsan Yahya (F34090128)
Sholeh Khaldi Hamdi (F34090164)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas terselesaikannya
tugas makalah “Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Pertambangan Emas” ini.
Semoga apa yang kami tuangkan di dalam makalah ini bisa bermanfaat baik untuk
diri sendiri maupun orang lain. Dengan sepenuh hati kami menyelesaikan tugas
ini dan tidak ada keterpaksaan sama sekali. Sebagai salah satu tugas yang
diberikan dengan tujuan agar mahasiswa menjadi terampil dalam menulis.
Motivasi kami bukan hanya sekedar memenuhi salah satu tugas yang diberikan.
Namun kami juga ingin menuangkan materi-materi yang telah diberikan saat
kuliah agar nantinya bisa bermanfaat juga untuk orang lain.
Terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu menyumbangkan ide
dan pikirannya dalam penyelesaian makalah ini. Terimakasih kepada bapak
Tajuddin dan bapak Yani sebagai dosen matakuliah “Kesehatan dan Keselamatan
Kerja” yang telah memacu kami untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Terima
kasih juga kepada pengarang buku, artikel, dan referensi lainnya yang turut
membantu dalam pencarian bahan dan mempermudan penyelesaian tugas makalah
yang kami buat.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik dan
saran untuk perbaikan sangat kami harapkan. Kami berharap semoga makalah
yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi pihak lain yang membacanya. Semoga
kita termasuk dalam orang-orang yang berniat mulia demi membangun Indonesia
lebih baik dan bermartabat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Bogor, Desember 2010

Penulis
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penambangan emas merupakan suatu kegiatan yang dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat. Namun demikian penambangan emas juga dapat
merugikan apabila dalam pelaksanaannya tidak diikuti proses pengolahan
limbah hasil pengolahan biji emas secara baik dan penerapan kesehatan dan
keselamatan kerja.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja,
yaitu unsafe condition dan unsafe behavior. Unsafe behavior merupakan
perilaku dan kebiasaan yang mengarah pada terjadinya kecelakaan kerja
seperti tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) dan penggunaan
peralatan yang tidak standar sedang unsafe condition merupakan kondisi
tempat kerja yang tidak aman seperti terlalu gelap, panas, dan gangguan-
gangguan faktor fisik lingkungan kerja lainnya. Faktor-faktor tersebut dapat
dieliminasi dengan adanya komitmen perusahaan dalam menetapkan
kebijakan dan peraturan K3 serta didukung oleh kualitas SDM perusahaan
dalam pelaksanaannya.
Derajat kesehatan dan keselamatan yang tinggi di tempat kerja
khususunya pada pertambangan emas merupakan hak pekerja yang wajib
dipenuhi oleh perusahaan disamping hak-hak normatif lainnya. Perusahaan
hendaknya sadar dan mengerti bahwa pekerja bukanlah sebuah sumber daya
yang terus-menerus dimanfaatkan melainkan sebagai makhluk sosial yang
harus dijaga dan diperhatikan mengingat banyaknya faktor dan resiko bahaya
yang ada di tempat kerja.
Hal ini mengingat banyaknya potensi bahaya yang berada di lingkungan
pertambangan itu sendiri. Potensi bahaya yang dapat terjadi dalam
pertambangan emas antara lain bahaya kimia, bahaya fisik. Bahaya kimia
yang dapat timbul antara lain terhirupnya gas beracun, bahaya Hg. Sedangkan
bahaya fisik yang dapat timbul antara lain tertimbun reruntuhan tanah,
kecelakaan karena alat.
B. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah memaparkan bahaya dan resiko yang ada
di pertambangan emas, pengendalian bahaya dan resiko, penggunaan personal
protection equipment, serta manajemen sistem K3.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Jenis Bahaya dan Resiko di Pertambangan Emas


 Jenis Bahaya
Beberapa bahaya yang terdapat dalam pertambangan emas diantaranya:
1. Terhisapnya debu anorganik dari proses penambangan emas.
2. Bahaya kebakaran yang ditimbulkan oleh kesalahan alat.
3. Semburan gas metan yang bisa datang tiba-tiba.
4. Bahaya logam berat seperti Hg (Merkuri): dalam pertambambangan
emas merkuri dugunakan sebagai pemecah partikel tanah agar dapat
meningkatkan butiran-butiran emas dalam mineral yang diperoleh.
5. Runtuhan batu dari hasil galian tanah yang membentuk tebing dalam.
 Jenis Resiko
Berikut adalah resiko yang ditimbulkan oleh bahaya yang ada di tambang
emas
1. Bocornya kepala akibat tertimpa reruntuhan batuan.
2. Resiko kematian karena menghirup gas beracun.
3. Resiko terkontaminasi logam berat (Hg).

Pengendalian Bahaya dan Resiko di Pertambangan Emas

Penggunaan PPE (Personal Protection Equipment) di Pertambangan Emas


Dalam penanggulangan bahaya di pertambangan emas, selain mengurangi
resiko yang ada, kita tetap membutuhkan peralatan yang melindungi diri dari
kemungkinan bahaya yang ada di area kerja pertambangan hal tersebut perlu
dilakukan karena seberapapun pengurangan bahaya yang kita lakukan pasti tidak
bisa 100% bahaya tersebut hilang. Usaha lain yang bisa kita lakukan untuk
melindungi diri kita dari bahaya tersebut adalah menggunakan peralatan yang
dapat melindungi diri kita dari rasiko bahaya yang ada (Personal Protection
Equipment).
Syarat-syarat pelindung diri adalah sebagai berikut :
a. Memiliki daya pencegahan dan memberikan perlindungan efektif terhadap
jenisbahaya yang dihadapi oleh karyawan.
b. Konstruksi dan kemampuannya harus memenuhi standart yang berlaku.
c. Efisiensi, ringan, dan nyaman dipakai.
d. Tidak mengganggu gerakan-gerakan yang diperlukan.
e. Tahan lama dan pemeliharaannya mudah.
Beberapa PPE yang diperlukan dalam pertambangan emas antara lain sebagai
berikut:
1. Helm

Fungsi helm pengaman sudah jelas, untuk melindungi kepala dari


jatuhan batu atau benda lainnya. Helm yang digunakan di terowongan
agak berbeda dengan yang dipermukaan. Helm pekerja tambang bawah
tanah memiliki tepi yang lebih melebar dengan cantelan di bagian depan
untuk mengaitkan lampu kepala.
2. Lampu kepala
Malam dan siang hari di terowongan tak ada bedanya sama-sama
gelap. Itu sebabnya lampu kepala jadi wajib dikenakan. Lampu ini bisa
bertenaga aki (elemen basah) atau baterai (elemen kering) yang digantung
di pinggang. Dibanding baterai, aki memiliki beberapa kelemahan. Selain
ukuran dan bobot aki yang lebih berat, cairan asam sulfat yang bocor dapat
merusak pakaian.
3. Kaca mata keselamatan
Tidak hanya pekerja tambang bawah tanah, yang bekerja di
permukaan pun sebenarnya wajib mengenakan alat pelindung ini. Untuk
orang berkacamata minus atau plus, disediakan lensa khusus sesuai dengan
kebutuhan yang bersangkutan. Yang pasti, lensa ini tidak boleh terbuat
dari kaca, karena jika terjadi benturan dan lensa pecah, serpihan kaca
malah akan membahayakan penggunanya.
4. Respirator
Respirator atau masker berguna untuk melindungi jalur pernapasan
para pekerja. Respirator yang digunakan adalah respirator khusus, jadi
tidak sekedar kain kasa putih yang biasa digunakan untuk menangkal
influenza. Respirator ini mesti memiliki filter yang dapat diganti-ganti.
Penggunaan filter harus disesuaikan dengan keadaaan, apakah untuk
menangkal debu atau gas berbahaya.
5. Sabuk
Sabuk ini terutama digunakan sebagai cantelan berbagai alat
keselamatan lain. Setidaknya ada dua alat yang melekat setia pada sabuk,
aki/batere untuk lampu kepala dan self resquer. Sabuk juga dilengkapi kait
di bagian belakang yang dapat digunakan untuk cantelan alat-alat tangan
(kunci inggris, palu) atau senter.
6. Self resquer
Dalam kondisi darurat akibat kebakaran atau ditemukannya gas
beracun, alat inilah yang dapat jadi penyelamat para pekerja. Alat ini
dirancang dapat memasok oksigen secara mandiri kepada pekerja.
Pemakaian alat ini tidak lama, tetapi diharapkan memberikan cukup
waktu bagi pekerja untuk mencari jalan keluar atau mencapai tempat
pengungsian yang lebih permanen.
7. Safety vest
Safety vest adalah nama lain untuk rompi keselamatan. Rompi ini
diengkapi dengan iluminator, bahan yang dapat berpendar jika terkena
cahaya. Bahan berpendar ini akan memudahkan dalam mengenali posisi
pekerja ketika berada di kegelapan terowongan. Ini menjadi penting untuk
menghindari tertabrak ketika mereka mesti bekerja dengan alat-alat berat.
8. Sepatu boot
Dengan kondisi terowongan yang umumnya berlumpur, sepatu boot
menjadi kebutuhan pokok. Sepatu pendek hanya akan menyebabkan kaki
terbenam dalam lumpur. Sepatu boot ini juga mesti dilengkapi dengan sol
berlapis logam dan lapisan logam untuk melindungi jari kaki.
9. Alat tambahan
Untuk pekerja yang melakukan tugas khusus, alat pelindung ini bisa
bertambah. Untuk bekerja di ketinggian, pekerja memerlukan safety
harness. Alat ini digunakan sebagai pelindung jatuh, agar ketika terpeleset,
pekerja tetap tertahan dan tidak berdebam. Pekerja yang melakukan
pengelasan, juga membutuhkan alat pelindung mata atau muka khusus.

Manajemen Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Agar pelaksanaan K3 di perusahaan dapat berjalan dengan baik dan dapat
menciptakan kondisi yang aman dan kondusif, maka perlu dibentuk organisasi K3
di dalam struktur organisasi perusahaan. Badan K3 merupakan Komite Pelaksana
K3 yang mempunyai tugas untuk melaksanakan dan menjabarkan kebijakan K3
perusahaan serta melakukan peningkatan-peningkatan K3 di unit kerja yang
menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Bagian dari sistem manajemen
organisasi untuk membangun dan menerapkan kebijakan K3 dan mengelola resiko
resiko K3. Sistem manajemen adalah sekumpulan elemen yang berkaitan yang
digunakan untuk menetapkan kebijakan dan sasaran dan untuk mencapai sasaran
tersebut. Sistem manajemen mencakup struktur organisasi, aktifitas perencanaan
(termasuk, sebagai contoh, penilaian resiko dan penetapan sasaran), tanggung
jawab, praktek-praktek, prosedur-prosedur, proses-proses dan sumber daya. Oleh
karena itu K3 sudah menjadi bagian dari struktur organisasi perusahaan, maka
tugas dapat secara kontinyu pada operasional perusahaan serta pelaksanaannya
secara fingsional dan tersedianya anggaran tersendiri. Di samping itu, organisasi
K3 harus bertanggung jawab atas penerapan dan pengembangan K3 di perusahaan
kepada manajemen. Berdasarkan pengalaman dan pertimbangan manajemen
perusahaan, organisasi K3 diletakkan di dalam organisasi yang terdapat karyawan
dengan jumlah terbanyak dan Direktorat yang mempunyai potensi bahaya
tertinggi, yaitu di Direktorat Produksi. Pembentukan organisasi K3 secara
fungsional akan mempermudah koordinasi dan kontrol terhadap bahaya - bahaya
yang mungkin timbul di unit kerja dan dapat memberikan pengaruh kepada
pimpinan dan karyawan di unit kerjanya masing-masing, sehingga pengendalian
kerugian yang diakibatkan oleh kecelakaan, kebakaran, dan insiden lainnya dapat
dihindari (ISO 14001:2004).
Tugas - tugas Bagian Keselamatan K3 :
a. Secara administrative bertanggung jawab kepada Karo pemeriksaan dan
keselamatan kerja.
b. Menerapkan UU. No. 1 Tahun 1970 secara efektif di perusahaan.
c. Membuat dan melaksanakan program K-3 agar setiap tempat kerja aman
dari bahaya.
d. Melakukan pembinaan dan pelatihan K-3 kepada seluruh karyawan dan
tenaga kerja yang ada
e. Melakukan pengawasan K-3 di tempat kerja
PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas telah dipaparkan bahaya dan resiko yang ada di
pertambangan emas, pengendalian bahaya dan resiko, penggunaan personal
protection equipment, serta manajemen sistem K3. Banyak bahaya dan resiko
yang ada di pertambangan emas yang bisa mengakibatkan kerugian yang
diakibatkan oleh kecelakaan, kebakaran, dan insiden lainnya. Oleh karena itu
untuk mengurangi atau meminimalisir bahaya dan resiko tersebut diperlukan
Personal Protection Equipment dan menejemen K3 yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Adaweyah, Rabiatul. 2008. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta:


Bumi Aksara.
[Anonim]. 2010. Pohon Industri ikan tuna. http://www.google.co.id/imglanding?
q=bagan+Industri+ikan+tuna&um=1&hl=id&tbs=isch:1&tbnid=gn42NhzI
zKtlKM:&imgre furl [10 Desember 2010]
[Anonim]. 2008. Badan Statistika. http://statistik.dkp.go.id/download/Statistik KP
2007/BUKU2/TABEL%203_3.pdf [10 Oktober 2010]
Widodo, Johanes. 2006. Pengelolaan Sumber daya Perikanan Laut.Yogyakarta:
Gajah Mada Press.