Vous êtes sur la page 1sur 17

Universitas Trunojoyo Madura

Variable Costing
Dengan Metode Harga Pokok Pesanan Dan Harga Pokok Produksi

Oleh 1. Nasikhuddin 09.00088 2. Herwina Lusitania 10.00073 3. Nurul Hidayati 10.00079 4.

BAB 6 VARIABLE COSTING DENGAN METODE HARGA POKOK PESANAN DAN METODE HARGA POKOK PRODUKSI

1.

Definisi: Pembiayaan atau yang disebut dengan Costing merupakan pekerjaan yang penting untuk efesiensi management perusahaan dan memberikan informasi yang sangat berguna untuk perhitungan keuangan. Selain itu, dengan menghitung dan melakukan kegiatan Costing dapat dilakukan tindakan antisipatif terhadap kerugian yang memungkinkan akan terjadi dan semua kegiatan pembelanjaan dapat dikontrol. Didalam aplikasinya, akan terdapat berbagai persoalan yang akan menyebabkan tidak efisiennya kegiatan tersebut. Perhitungan biaya yang direncanakan secara tepat akan mampu mengatasi masalah tersebut dan memungkinkan adanya kejelasan adminstrasi yang menggambarkan keadaan sesungguhnya. Sehingga,

seseorang yang bertanggung jawab pada hal tersebut mampu berupaya untuk meningkatkan profit dan meminimalkan biaya. (Kesavan, R., Elanchezhian,
C., Ramnath, B.V., 2009.)

Metode variable costing merupakan metode alternatif untuk menghitung harga pokok produksi. metode pengumpulan biaya produksi tergantung dari sifat pengolahan produk. Pengolahan produk dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu: pengolahan produk berdasarkan pesanan dan pengolahan produk yang merupakan produksi massa. Oleh karena itu metode pengumpulan biaya produksi dibedakan menjadi dua, yaitu:  metode harga pokok pesanan (job order cost method)  metode harga pokok proses (process cost method) 1.1. Variable Costing Berdasarkan Metode Harga Pokok Pesanan Dalam metode harga pokok pesanan, harga pokok produk dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi, sehingga biaya overhead pabrik harus dibebankan pada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka.

Perusahaan yang berproduksi atas dasar pesanan, memulai kegiatan produksinya setelah menerima order dari pembeli, tetapi sering juga terjadi, perusahaan mengeluarkan order produksi untuk mengisi persediaan di gudang. Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan produksi perusahaan tersebut. Oleh karena itu sebelum dibahas metode harga pokok pesanan, perlu diuraikan terlebih dahulu karakteristik kegiatan usaha perusahaan yang

produksinya berdasarkan pesanan. Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan. Karakteristik usaha perusahaan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Proses pengolahan produk jadi secara terputus-putus. Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses produksi

dihentikan, dan mulai dengan pesanan berikutnya. 2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian, pesanan yang satu dapat berbeda dengan pesanan yang lain. 3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan. 1.1.1. Karakteristik metode harga pokok pesanan Metode harga pokok pesanan tersebut dapat kita identifikasi dengan beberapa karakteristik sebagai berikut: 1. Setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual 2. Biaya produksi dibagi 2:biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung 3. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja dan dibebankan berdasarkan biaya yang

sesungguhnya terjadi. Biaya tidak langsung: BOP dibebankan berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka 4. Harga pokok produksi per unit dihitung saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang

dikeluarkan untuk pesanan tersebut dengan jumlah unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. 1.1.2. Cara Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Pesanan. a. Pencatatan Biaya Bahan Baku (BBB). Dibagi menjadi 2 prosedur antara lain :  Prosedur pencatatan pembelian bahan baku, jurnalnya: Persediaan Bahan Baku Utang Dagang/Kas  xxx xxx

Prosedur pencatatan pemakaian bahan baku, menggunakan metode mutasi persediaan (perpetual). Dalam setiap

pemakaian bahan baku harus diketahui pesanan mana yang memerlukannya. Jurnalnya: Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Persediaan Bahan Baku b. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL)  Diperlukan pengumpulan dua macam jam kerja, yaitu:  Jam kerja total selama periode kerja tertentu.  Jam kerja yang digunakan untuk mengerjakan setiap pesanan.  Perusahaan harus menyelenggarakan kartu hadir masing2 karyawan, untuk mengumpulkan informasi jam kerja total selama periode kerja tertentu, untuk pembuatan Daftar Upah. Disamping itu, perusahaan harus mencatat xxx xxx

penggunaan jam kerja masing2 karyawan untuk mengerjakan pesanan.  (Masing2 karyawan dibuatkan Kartu Jam

Kerja/Job Time Ticket) Jurnal untuk pembagian upah: Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung Gaji dan Upah xxx xxx

c. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik (BOP)  BOP dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu:       Biaya Bahan Penolong Biaya reparasi dan pemeliharaan, berupa pemakaian persediaan spareparts dan persediaan supplies pabrik Biaya tenaga kerja tak langsung Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap (contoh: biaya penyusutan aktiva tetap) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu (contoh: terpakainya asuransi dibayar di muka) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung

memerlukan pengeluaran tunai (contoh: biaya reparasi mesain pabrik, biaya listrik)  BOP dalam metode harga pokok pesanan harus dibebankan kepada setiap pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.  Tarif BOP ditentukan pada awal tahun/periode dengan cara sebagai berikut:

Tarif BOP = Taksiran jumlah BOP selama 1 periode Jumlah Dasar pembebanan*

Dasar Pembebanan BOP:       Satuan produk Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Langsung Jam Tenaga Kerja Langsung Jam Mesin

BOP yang sesungguhnya terjadi dikumpulkan selama satu tahun yang sama, kemudian pada akhir tahun dibandingkan dengan yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif.

Pencatatan BOP yang Dibebankan kepada produk: Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Biaya Overhead Pabrik Dibebankan xxx xxx

Jurnal penutupan rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan (untuk mempertemukan BOP Dibebankan dengan BOP Sesungguhnya) Biaya Overhead Pabrik Dibebankan Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya xxx xxx

d. Pencatatan Produk Selesai  Biaya produksi yang telah dikumpulkan dalam Kartu Harga Pokok dijumlah dan dikeluarkan dari rekening Barang Dalam Proses dengan jurnal sbb: Persediaan Produk Jadi Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku xxx xxx

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung xxx Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik  xxx

Harga Pokok Produk jadi dicatat dalam Kartu Persediaan (Finish Goods Ledger Card) dan Kartu Harga Pokok Pesanan tersebut dipindahkan ke dalam arsip Kartu Harga Pokok Pesanan yang telah selesai.

1.1.3. Masalah-Masalah Khusus Masalah yang timbul dalam biaya produksi pada metode harga pokok pesanan adalah: 1.1.3.1. Biaya Bahan Baku. a) Unsur harga pokok bahan baku Sesuai dengan prinsip harga perolehan (cost), maka harga pokok terdiri dari: - Harga beli menurut faktur - Ongkos angkut

- Biaya-biaya lain sampai dengan bahan baku itu siap untuk dipakai, akan tetapi atas pertimbangan biaya administrasi maka dalam praktek harga pokok bahan pada umumnya dicatat berdasarkan faktur. b) Penentuan harga pokok bahan baku Untuk menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai kedalam proses produksi dapat dipakai metode: - Metode tanda pengenal khusus - Metode FIFO (First In First Out) - Metode LIFO (Last In First Out) - Metode Rata-Rata c) Sisa Bahan Merupakan bahan yang tidak terpakai (tidak menjadi bagian dari produk) dalam proses produksi dan tidak dapat dipakai dalam proses produksi berikutnya (telah rusak) tetapi masih mempunyai harga jual. Pencatatan terhadap harga jual sisa bahan dilakukan sebagai berikut:  Apabila harga jual tersebut rendah, maka pencatatan harga dilakukan pada saat penjualan  Apabila harga jual besar jumlahnya, maka pencatatan dilakukan pada saat sisa bahan tersebut diserahkan ke gudang. d) Produk Rusak (Spoiled Goods) Merupakan produk yang tidak memenuhi kualitas yang seharusnya dan tidak dapat diperbaiki.Perlakuan terhadap produk rusak adalah sebagai berikut: - Apabila produk rusak disebabkan spesifikasi sesuatu pesanan, maka harga pokok produk rusak dibebankan ke pesanan tempat terjadinya produk rusak tersebut. - Apabila terjadinya produk rusak dianggap merupakan hal yang normal, maka kerugian akibat produk rusak dibebankan kepada semua produk dengan memperhitungkan ke dalam tarip BOP dimana terdapat kerugian akibat produk rusak tersebut.

e) Produk cacat (defective goods) Produk cacat ialah Produk yang tidak memenuhi kualitas yang

seharusnya, tetapi masih dapat diperbaiki dengan pengerjaan kembali (rework). Biaya yang timbul akibat pengejaan kembali (rework cost)

pencatatannya sama halnya seperti dalam produk rusak yaitu:  Apabila timbulnya produk cacat akibat spesifikasi pesanan, maka biaya pengerjaan kembali dibebankan ke pesanan yang bersangkutan.  Apabila produk cacat merupakan hal biasa terjadi, maka biaya pengerjaan kembali, dibebankan ke tarip BOP dengan demikian dipikul oleh semua produk (pesanan) 1.1.3.2. Biaya Tenaga Kerja Dalam hubungan dengan perhitungan harga pokok produksi, maka pada umumnya tenaga kerja dibedakan sebagai berikut :. Tenaga kerja langsung : yaitu tenaga kerja yang mengerjakan produk langsung dibebankan ke perkiraan barang dalam proses Tenaga kerja tidak langsung : yaitu tenaga kerja yang tidak secara langsung turut dalam pengerjaan produk dan biaya yang terjadi

dibebankan ke perkiraan biaya overhead pabrik. Beberapa masalah yang timbul dalam pencatatan biaya tenaga kerja antara lain: a) Cara perhitungan besarnya gaji dan upah Dalam hal ini banyak perusahaan yang memakai cara dengan mengalikan jumlah jam kerja dengan tarip upah per jam b) Cara pemberian intensip Pemberian intensip pada umumnya bertujuan agar karyawan bekerja lebih baik. pemberian intensip dapat didasarkan atas waktu kerja maupun kuantitas produksi maupun kombinasi dari keduanya. c) Perhitungan jumlah pajak atas pendapatan karyawan

Pada prinsipnya besarnya pendapatan karyawan adalah sebagai berikut: - Ditetapkan besarnya pendapatan sisa kena pajak per tahun, yaitu pendapatan sisa kena pajak per bulan 12 (dua belas). - - Atas sisa kena pajak satu tahun dikenakan tarip pajak untuk mengetahui jumlah pajak satu tahun. d) Untuk menentukan besarnya potongan pajak pendapatan, maka jumlah pajak satu tahun di bagi 12 (dua belas). Kemudian tentang proses

pencatatan biaya tenaga kerja adalah seperti yang telah dijelaskan di muka dalam prosedur akuntansi biaya pokok pesanan.

1.2. Variable Costing Berdasarkan Metode Harga Pokok Proses Dalam metode harga pokok proses, harga pokok produk ditentukan setiap akhir periode, misalnya setiap akhir bulan, dengan cara membagi total biaya produksi variable selama satu bulan dengan total ekuivalensi produksi selama periode yang sama. sehingga overhead pabrik dapat dibebankan kepada produk berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi dalam periode akuntansi yang bersangkutan. 1.2.1. Cara Pengumpulan Biaya Produksi dalam Metode Harga Pokok Proses 1. Biaya Bahan.  Pencatatan pemakaian Bahan Baku: Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku Persediaan Bahan Baku  xxx xxx

Pencatatan pemakaian Bahan Penolong pada Bagian Produksi: Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong 1 Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong 2 Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Penolong 3 Persediaan Bahan Penolong xxx xxx xxx xxx

2.

Biaya Tenaga Kerja (Langsung & Tak Langsung):  Pencatatan biaya tenaga kerja (langsung & tak langsung) di Departemen Produksi:

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja 1 Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja 2 Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja 3 Gaji dan Upah 3. Biaya Overhead Pabrik

xxx xxx xxx xxx

 BOP pada Metode Harga Pokok Proses adalah biaya produksi selain biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan biaya tenaga kerja, baik langsung maupun tak langsung yang terjadi di departemen produksi.  BOP dapat dibebankan kepada produk atas dasar tarif dan dapat juga dibebankan atas dasar BOP yang sesungguhnya terjadi dalam satu periode.  Pembebanan BOP sesungguhnya kepada produk dapat dilakukan jika: Produksi relatif stabil dari periode ke periode BOP, terutama yang tetap, bukan merupakan bagian yang berarti dibandingkan dengan jumlah seluruh biaya produksi Hanya diproduksi satu macam produk.  Pencatatan berbagai jenis BOP di Departemen Produksi: Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik Persediaan Spareparts Persediaan Bahan lain-lain Asuransi Dibayar di Muka xxx xxx xxx xxx

2. Perbedaan Karakteristik Proses Produksi Metode Harga Pokok Proses Dan Metode Harga Pokok Pesanan

Tabel 1. Perbedaan metode HP Proses dengan metode HP Pesanan

Metode Harga Pokok Proses Biaya produksi dikumpulkan Setiap bulan atau periode penentuan harga pokok produk Harga pokok per satuan produk dihitung Rumus perhitungan harga pokok per satuan Pada akhir bulan/periode penentuan harga pokok produk Jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan selama bulan/periode tertentu dibagi dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama bulan/periode ybs.

Metode Harga Pokok Pesanan Untuk setiap pesanan

Apabila pesanan telah selesai diproduksi

Jumlah biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk pesanan tertentu dibagi dengan jumlah satuan produk yang diproduksi dalam pesanan ybs.

Karena variable costing menggolongkan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume dalam kegiatan, biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum juga perlu dipisahkan menurut perilakunya. Biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum yangb sesungguhnya terjadi pertama kali dicatat kedalam rekening kontrol pemasaran atau biaya administrasi dan umum. Pada akhir bulan, biaya pemasaran dan administrasi & umum yang didebitkan ke dalam rekening Biaya Pemasaran atau Biaya Administrasi & Umum dianalisis untuk menentukan biaya yang berperilaku variabel dan biaya yang berperilaku tetap. Teknik analisis yang digunakan dapat berupa analisis statistik (analisis regresi) atau analisis yang lebih sederhana (misalnya metode titik tertinggi dan terendah). Hasil analisis terhadap rekening Biaya Pemasaran

dan Biaya Administrasi & Umum tersebut digunakan untuk mendebit rekening Biaya Pemasaran Variabel, Biaya Pemasaran Tetap, Biaya Administrasi & Umum Variabel, dan Biaya Administrasi & Umum Tetap. 3. Manfaat Informasi yang Dihasilkan oleh Metode Variable Costing Laporan keuangan yang disusun berdasar metode Variable Costing bermanfaat bagi manajemen untuk : (1) Perencanaan laba jangka pendek Dalam jangka pendek, biaya tetap tidak berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan, sehingga hanya biaya variabel yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen (2) Pengendalian biaya dan Biaya tetap dalam variable costing dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yakni : discretionary fixed cost dan committed fixed cost. Discretionary fixed cost merupakan biaya yang berperila- ku tetap karena kebijakan manajemen. Dalam jangka pendek biaya ini dapat dikendalikan oleh manajemen. Sedangkan committed fixed cost merupakan biaya yang timbul dari pemilikan pabrik, ekuipmen dan organisasis pokok. Dalam jangka pendek biaya tersebut tidak dapat dikendalikan oleh manajemen. (3) Pembuatan keputusan. Pihak manajemen dengan menggunakan metode variable costing dapat menentukan pengambilan keputusan misal dalam hal pesanan khusus. 4. Contoh Soal: PT Eliona berusaha dalam bidang percetakan. Semua pesanan diproduksi berdasarkan spesifikasi dari pemesan, dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Pendekatan yang digunakan perusahaan dalam penentuan harga pokok produksi adalah full costing. Dalam bulan november 2009, PT Eliona mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1500 lembar dari PT Rimedi. Harga yang dibebankan kepada

pemesan tersebut adalah Rp 3000,- per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebesar Rp 1000,- per lembar.pesanan dari PT Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan PT Oki diberi nomor 102. Jawab: 1. Pembelian bahan baku dan bahan penolong.

Pada tgl 3 nov perusahaan membeli bahan baku dan penolong: Bahan baku: Kertas jenis X Kertas jenis Y Tinta jenis A Tinta jenis B 85 ream @ Rp 10.000,10 roll @ Rp 350.000,5 kg 25 kg @ Rp 100.000,@ Rp 25.000,Rp Rp Rp Rp Rp 850.000 3.500.000 500.000 625.000 5.475.000

Jumlah bahan baku yang dibeli Bahan penolong: Bahan penolong P Bahan penolong Q 6 17kg @ Rp 10.000 0 L @ Rp 5.000

Rp 170.000 Rp 300.000 Rp 470.000 Rp5.945.000

Jumlah bahan penolong yang dibeli Jumlah total


Jurnal 1

Persediaan bahan baku Utang dagang


Jurnal 2

Rp 5.475.000 Rp 5.475.000

Persediaan bahan penolong Rp470.000 Utang dagang Rp 470.000

2.

Pemakaian bahan baku dan bahan penolong dalam produksi.

Bahan baku yang digunakan untuk pesanan 101 Kertas jenis X 85 ream @ Rp 10.000,Tinta jenis A 5 kg @ Rp 100.000,Rp850.000 Rp500.000 Rp1.350.000

Jumlah bahan baku untuk pesanan 101 Bahan baku yang digunakan untuk pesanan 102 Kertas jenis Y 10 roll @ Rp 350.000,-

Rp3.500.000

Tinta jenis B

25 kg

@ Rp 25.000,-

Rp625.000 Rp 4.125.000 Rp 5.475.000

Jumlah bahan baku untuk pesanan 102 Jumlah bahan baku yang dipakai

Bahan penolong P Bahan penolong Q

10 kg @ Rp 10.000 40 L @ Rp 5.000

Rp 100.000 Rp 200.000 Rp300.000

Jumlah bahan penolong yg dipakai

Jurnal 3 Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku BDP-BBB Rp5.475.000 Rp5.475.000

Persediaan Bahan baku Jurnal 4

Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan penolong BOP Sesungguhnya Rp 300.000 Rp 300.000

Persediaan Bahan Penolong

3.

Pencatatan biaya tenaga kerja. Rp 900.000 Rp 5.000.000 Rp 3.000.000 Rp 8.900.000 Rp 4.000.000 Rp 7.500.000 Rp11.500.000 Rp20.400.000

Upah langsung pesanan 101 225jam@Rp4000 Upah langsung pesanan 102 1.250jam@Rp4000 Upah tidak langsung Jumlah upah Gaji karyawan adm & umum Gaji karyawan bag pemasaran Jumlah gaji Jumlah biaya tenaga kerja Pencatatan BTK dilakukan melalui 3 tahap berikut:

1. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan 2. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja 3. Pencatatan pembayaran gaji dan upah

Jurnal 5

Gaji dan upah

Rp 20.400.000 Rp 20.400.000

utang gaji dan upah b. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja Jurnal distribusi biaya tenaga kerja Jurnal 6 BDP-BTKL BOP Sesungguhnya B. Adm & Umum B. Pemasaran Gaji dan upah c. Pencatatan pembayaran gaji dan upah Jurnal 7 Utang Gaji dan Upah Kas 4. Pencatatan BOP Rp5.900.000 Rp3.000.000

Rp4.000.000 Rp 7.500.000 Rp 20.400.000

Rp 20.400.000 Rp 20.400.000

BOP dibebankan kepada produk atas dasar tarif sebesar 150% dari BTKL. BOP yang dibebankan kepada tiap pesanan dihitung sbb: Pesanan 101 150% xRp 900.000 Pesanan 102 150% xRp 5.000.000 Rp 1.350.000 Rp 7.500.000 Rp8.850.000 Jurnal 8 BDP-BOP Rp8.850.000 Rp 8.850.000

BOP yang dibebankan

Misalnya biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi selai bahan penolong dan BTKL: Biaya depresiasi mesin Biaya depresiasi gedung pabrik Biaya asuransi gedung pabrik dan mesin Biaya pemeliharaan mesin Biaya pemeliharaan gedung Jumlah Rp 1.500.000 Rp 2.000.000 Rp 700.000 Rp 1.000.000 Rp 500.000

Rp 5.700.000

Jurnal untuk mencatat BOP sesungguhnya: Jurnal 9 Biaya overhead pabrik sesungguhnya Biaya depresiasi mesin Biaya depresiasi gedung pabrik Rp 5.700.000 Rp 1.500.000 Rp 2.000.000

Biaya asuransi gedung pabrik & mesin Rp 700.000 Biaya pemeliharaan mesin Biaya pemeliharaan gedung Rp 1.000.000 Rp 500.000

Untuk mengetahui apakah BOP yang dibebankan berdasar tarif menyimpang dari BOP Sesungguhnya, saldo rekening BOP yang dibebankan ditutup ke rekening BOP sesungguhnya. Jurnal 10 BOP yang dibebankan BOP S Debit : Jurnal 4 Jurnal 6 Jurnal 9 Rp300.000 Rp3.000.000 Rp 5.700.000 Rp9.000.000 Kredit : Jurnal 11 Selisih pembebanan kurang Jurnal 11 Selisih BOP BOP Sesungguhnya Rp 150.000 Rp 150.000 Rp 8.850.000 Rp 150.000 Rp 8.850.000 Rp 8.850.000

5. Pencatatan harga pokok produk jadi HPP dihitung sbb: B Bahan baku BTKL BOP Rp 1.350.000 Rp 900.000

Rp 1.350.000

Jumlah harga pokok pesanan 101Rp3.600.000 Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi: Jurnal 12 Persediaan Produk Jadi BDP-BBB BDP-BTKL BDP-BOP Rp 3.600.000 Rp 1.350.000 Rp 900.000 Rp 1.350.000

Pencatatan Harga pokok produk dalam proses


Pesanan 102 pada akhir periode belum selesai dikerjakan. Jurnal untuk mencatat harga pokok pesanan yang belum selesai Jurnal 13

Persediaan Produk dalam Proses Rp 16.625.000 BDP-BBB BDP-BTKL BDP-BOP Pencatatan harga pokok produk yang dijual Jurnal 14 Harga pokok penjualan Rp 3.600.000 Rp 3.600.000 Rp 1.350.000 Rp 900.000 Rp 1.350.000

Persediaan Produk Jadi