Vous êtes sur la page 1sur 3

Aja sira deksura, ngaku luwih pinter tinimbang sejene.

Aja rumangsa bener dhewe, jalaran ing donya iki ora ana sing bener dhewe. Janganlah congkak, merasa lebih pandai daripada yang lain. Jangan merasa engkau yang paling benar, sebab di dunia ini tidak ada yang paling benar

KETUNTASAN PROGRAM WAJIB BELAJAR SEMBILAN TAHUN DAN MODEL SOSIALISASINYA

Abstrak
ABSTRAK

Nurdiana, Anisa Laili Dewi. 2010. Ketuntasan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun Dan Model Sosialisasinya Di Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M. Pd; (II) Prof. Dr. H. M. Huda, A. Y. M. Pd.

Kata kunci: ketuntasan, wajib belajar sembilan tahun, sosialisasi

Penuntasan Wajar Sembilan Tahun adalah tingkat capaian pelayanan wajib belajar untuk menguasai kemampuan dasar yang dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau masuk ke dalam kehidupan di masyarakat. Sedangkan Wajar Sembilan Tahun adalah kewajiban anak usia 7-15 tahun untuk memperoleh pendidikan dan menamatkan Sekolah Dasar atau yang sederajat dan mengikuti Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat sampai tamat. Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu untuk memahami program yang disampaikan oleh pemerintah agar dapat berperan dan berfungsi dengan kelompoknya sehingga program tersebut dapat berjalan. Secara geografis Kabupaten Blitar terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Keadaan geografis demikian mempengaruhi kelancaran komunikasi dan transportasi. Lokasi SMP pada umumnya berada di kota-kota jauh dari jangkauan anak didik yang bertempat tinggal di daerah-daerah terpencil. Untuk itu pemerintah Kabupaten Blitar perlu lebih mensosialisasikan kepada masyarakat terhadap pentingnya pendidikan di

Kabupaten Blitar agar diketahui faktor penghambat demi menuntaskan Program Wajar Sembilan Tahun. Selama ini, sosialisasi Wajar Sembilan Tahun belum menyentuh semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan. Di daerah Blitar pada kecamatan yang jauh dari kota belum mendapatkan akses sosialisasi Wajib Belajar. Hal ini dibuktikan oleh pengakuan sebagian masyarakat yang secara nyata tidak mengetahui, bahwa belajar di tingkat SD dan SMP itu wajib. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk menelaah tentang Ketuntasan Program Wajar Sembilan Tahun Dan Model Sosialisasinya di Kabupaten Blitar. Ada lima tujuan dalam penelitian ini: (1) Untuk mengetahui ketuntasan program Wajib Belajar pada Pendidikan Dasar di Kabupaten Blitar, (2) Untuk mengetahui sosialisasi pelaksanaan program Wajar Sembilan Tahun yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat, (3) Untuk mengetahui faktor apa yang mendukung sosialisasi dari pihak pemerintah, masyarakat, sekolah,dan siswa terhadap program Wajar Sembilan Tahun, (4) Untuk mengetahui faktor apa yang penghambat sosialisasi dari pihak pemerintah, masyarakat, sekolah, dan siswa terhadap program Wajar Sembilan Tahun, (5) Untuk mengetahui model sosialisasi yang efektif untuk menuntaskan program Wajar Sembilan Tahun. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Blitar dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dikembangkan melalui penelitian pengembangan (R&D) untuk mengetahui model sosialisasi yang efektif untuk menuntaskan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kabupaten Blitar. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan: (1) Wawancara mendalam; (2) Studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini adalah: (1) Reduksi data; (2) Display data; (3) Verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Ketuntasan Program Wajar Sembilan Tahun di Kabupaten Blitar untuk tingkat SD adalah tuntas paripurna karena memiliki persentase Angka Partisipasi Kasar 98,98%. Sedangkan untuk tingkat SMP adalah tuntas madya karena memiliki persentase Angka Partisipasi Kasar 88,13%; (2) Sosialisasi Program Wajar Sembilan Tahun kepada masyarakat Kabupaten Blitar, yaitu: (a) Pembentukan tim wajib belajar tingkat Kabupaten Blitar, (b) Pendataan usia Wajar Sembilan Tahun (7-15 tahun), (c) Pendataan usia Wajar Sembilan Tahun yang belum dan yang sudah tertampung di pendidikan dasar, (d) Pendataan jumlah lembaga sekolah, jumlah ruang kelas, jumlah guru kelas, (e) Memasukkan anggaran Wajar Sembilan Tahun di APBD tingkat II, (f) Pelaksanaan sosialisasi, (g) Evaluasi; (3) Faktor yang mendukung proses sosialisasi adalah: (a) Bantuan Dana BOS, (b) Letak geografis (daerah perkotaan), (c) Pendirian SD Kecil dan SMP Terbuka, (d) Rehabilitasi gedung sekolah yang rusak, (e) Kerjasama dengan pusat telekomunikasi untuk melaksanakan Siaran Radio Pendidikan untuk siswa, (f) Melaksanakan Paket A/B, (g) merekrut guru swasta dan tutor paket A/B, (h) Mengikuti rapat-rapat Dinas, (i) mengikuti seminar dan diklat , (j) Mengadakan kegiatan-kegiatan; (4) Faktor yang menghambat adalah: (a) Keadaan geografis, (b) Dukungan orangtua rendah, (c) Faktor ekonomi, (d) Kurangnya partisipasi masyarakat,

(e) Perlu adanya dana untuk kegiatan sosialisasi, (f) Pendidikan orangtua rendah, (g) Kesalahan persepsi masyarakat tentang pendidikan, (h) motivasi belajar anak rendah, (i) SMP di daerah kurang, (j) Karena tingkat kemampuan akademik peserta didik kurang, (k) Karena banyaknya fasilitas yang merugikan; (5) Model Sosialisasi yang cocok adalah pengadaan SD dan SMP satu atap dan pengadaan kegiatan-kegiatan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian sasaran-saran diajukan adalah (1) Bagi Masyarakat Kabupaten Blitar, hendaknya ikut aktif berperan serta dalam pelaksanaan proses sosialisasi demi ketuntasan program Wajar Sembilan Tahun. Kepada masyarakat terutama orangtua yang berekonomi rendah hendaknya menyekolahkan anaknya dengan memanfaatkan bantuan dana bantuan khusus siswa miskin; (2) Bagi Kepala Bagian Bina Program Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, hendaknya memprioritaskan penuntasan Wajar Sembilan Tahun di Kecamatan yang tertinggal. (3) Bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan lebih banyak mengkaji lembaga pendidikan informal yang bersinggungan langsung dengan ranah pendidikan berbasis masyarakat sebagai pendalaman pada ilmu manajemen pendidikan; (4) Bagi peneliti lain, disarankan kepada peneliti yang akan datang untuk menyempurnakan teori hasil penelitian yang telah ditemukan, sehingga penelitian ini mempunyai nilai guna praktis dan teoritis pembangunan pendidikan di Indonesia.

Vous aimerez peut-être aussi