Vous êtes sur la page 1sur 31

Dalam praktik hukum, penggunaan alat perekam dan hasil rekaman telah merupakan bagian dari proses

projustisia perkara pidana. Di dalam KUHAP tidak diatur mengenai hasil rekaman sebagai alat bukti
(Pasal 184) kecuali keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Di dalam Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi ditegaskan, setiap orang
dilarang melakukan kegiatan penyadapan atas informasi yang disalurkan melalui jaringan telekomunikasi
dalam bentuk apa pun (Pasal 40) kecuali untuk keperluan proses peradilan pidana rekaman pembicaraan
melalui jaringan telekomunikasi tidak dilarang (Pasal 42 ayat [2]).
Penegasan dibolehkannya penggunaan rekaman itu diperkuat dengan ketentuan bahwa pemberian
rekaman informasi oleh penyelenggara jasa telekomunikasi kepada pengguna jasa telekomunikasi untuk
kepentingan peradilan pidana bukan merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 40 di atas.

Di dalam UU No 11 Tahun 2008 tentang lnformasi danTransaksi Elektronik ditegaskan, alat bukti
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan termasuk aIat bukti Iain berupa
informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik.
Dokumen elektronik dirumuskan, setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima,
atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal atau se-jenisnya,yangdapat
dilihat,ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik.

Di dalam UU No. 20 Tahun 2001 Perubahan atas UU No. 31 Tahun l999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi hasil rekaman termasuk aIat bukti perunjuk (Pasal 26 A).
Pasal 26 A UU tersebut memperluas bukti petunjuk, termasuk alat bukti lain berupa informasi yang
diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan
itu, dan dokumen, yaitu setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar
yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas,
benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, yang berupa tulisan, suara,
gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.

KUHAP mendefinisikan, petunjuk, sebagai suatu perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena perse-
suaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain maupun dengan tindak pidana itu sendiri,
menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya (Pasal 188 ayat [1]).
eski demikian, penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk sepenuhnya diserahkan kepada
hakim setelah mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati
nuraninya (Pasal 188 ayat [3]).
Pembentuk UU memasukkan ketentuan ayat (3) tersebut karena alat bukti petunjuk merupakan alat bukti
yang masih memerlukan alat bukti lain untuk kesempurnaan pembuktian. Kesempurnaan pembuktian
dimaksud tersirat dalam KUHAP (Pasal 183) yang menegaskan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan
pidana kepada seorang kecuali apabila sekurang-kurangnya dari dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar telah terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.

erujuk pada ketentuan mengenai bukti petunjuk di atas, jelas bahwa bagi seorang hakim diwajibkan
untuk menggali alat bukti lain sebagaimana telah diuraikan di atas.
Selain itu, terhadap alat bukti petunjuk dituntut kecermatan dan ketelitian seorang hakim di dalam
memberikan penilaiannya, terutama terhadap ada atau tidak adanya persesuaian antara suatu kejadian
atau keadaan yang berkaitan dengan tindak pidana yang menjadi dasar dakwaan jaksa penuntut umum
(JPU).
Sudah tentu untuk kesempurnaan pembuktian melalui bukti elektronik (electronic evidence) sehingga
hakim memiliki keyakinan atas terjadinya suatu tindak pidana dan seseorang adalah pelakunya, hakim
memerlukan bantuan seorang ahli (keterangan ahli), kecuali pembicara dalam rekaman tersebut
mengakuinya bahwa suara yang diperdengarkan di muka sidang pengadilan adalah suara dirinya.

Berlainan halnya dengan kekuatan pembuktian rekaman di dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang, hasil rekaman atau alat bukti elektronik tersebut
telah ditetapkan sebagai aIat bukti tersendiri, tidak termasuk bukti petunjuk sebagaimana di dalam
UU Pemberantasan Korupsi.
Pasal 38 menegaskan bahwa alat bukti pemeriksaan tindak pidana pencucian uang, termasuk alat bukti
sebagaimana dimaksud dalam KUHAP, juga alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu, dan dokumen
sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 26 A UU Nomor 20 tahun 2001 di atas.

Terlepas dari kontroversi penggunaan alat perekam sehingga telah terjadi penyadapan atas telepon
seseorang yang diduga kuat telah melakukan suatu tindak pidana, sesuai dengan bunyi Pasal 12 ayat (1)
huruf a UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, di dalam rangka penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan, KPK dapat melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan.
Ketentuan ini menegaskan bahwa penyadapan dan perekaman dapat dilakukan dalam tiga tahap proses
pro justisia sehingga semakin jelas bahwa perkara tindak pidana korupsi merupakan perkara luar biasa
(extra-ondinary cases) karena memang tindak pidana korupsi, termasuk tindak pidana suap, merupakan
perkara yang sulit pembuktiannya sehingga memerlukan cara penanganan yang luar biasa, termasuk
menyadap dan merekam pembicaraan.
Hal ini tidak berarti bahwa kepolisian dan kejaksaan tidak memiliki wewenang penyadapan dan merekam
pembicaraan karena UU Telekomunikasi telah memberikan alasan hukum kepada kedua lembaga
penegak hukum tersebut untuk melakukan penyadapan. Bedanya dengan KPK, kepolisian atau
kejaksaan diwajibkan terlebih dulu menyampaikan permintaan tertulis, sedangkan KPK tidak memerlukan
prosedur seperti itu.

Sesungguhnya wewenang penyadapan bukan monopoli KPK saja; hanya masalahnya tergantung dari
komitmen pimpinan lembaga penegak hukum untuk sungguh-sungguh menuntaskan kasus korupsi
sampai ke akar- akarnya.

hLLp//wwwendradharmalaksanacom/conLenL/vlew/119/46/langlndonesla/

KEKUATAN PENBUKT!AN ALAT BUKT! ELEKTRON!K SUATU STUD!
PERBAND!NCAN ANTARA T!NDAK P!DANA UNUN DAN T!NDAK P!DANA
KORUPS!
Usulan Peneltian
(KEKUATAN PENBUKT!AN ALAT BUKT! ELEKTRON!K SUATU STUD! PERBAND!NCAN ANTARA T!NDAK
P!DANA UNUN DAN T!NDAK P!DANA KORUPS!)


BAB !

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Perkembangan teknologi yang semakin pesat mengubah berbagai kejahatan yang semakin canggih dan
terorganisir, terlebih pengaturan alat bukti elektronik dalam hukum acara pidana di !ndonesia yang masih
terbatas. Kendati telah diatur dalam beberapa UndangUndang, namun bukti elektronik sifatnya masih
parsial, sebab bukti elektronik hanya dapat digunakan dalam hukum tertentu. Akan tetapi, dengan
keluarnya UndangUndang Nomor 11 Tahun 2008 tentang !nformasi dan Transaksi Elektronik|1] atau
sering disingkat UU !TE telah mengakomodir mengenai alat bukti elektronik yang dapat dipakai dalam
hukum acara di !ndonesia. Pasal S ayat (1) UU !TE menyebutkan bahwa informasi elektronik dan/atau
dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah. Lebih lanjut Pasal S ayat (2)
UU !TE mengatakan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan
Hukum Acara yang berlaku di !ndonesia.

Akan tetapi, dalam perkembangannya alat bukti sebagaimana yang diatur dalam KUHAP|2] tidak lagi
dapat mengakomodasi perkembangan teknologi informasi, hal ini menimbulkan permasalahan baru.
Permasalahan ini menyebabkan tergesernya bentuk media cetak menjadi bentuk media digital (paper
less). Pergeseran ini menjadikan perubahan yang sangat signifikan dalam kejahatan dengan
menggunakan komputer, karena buktibukti kejahatan akan mengarahkan suatu peristiwa pidana adalah
berupa data elektronik, baik yang berada di dalam komputer itu sendiri (hardisk/floppy disc) atau yang
merupakan hasil print out, atau dalam bentuk lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas pengguna
komputer.|3] Tentu saja upaya penegakan hukum tidak boleh terhenti dengan ketidakadaan hukum yang
mengatur penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik di dalam penyelesaian suatu tindak pidana,
terutama tindak pidana umum dan tindak pidana korupsi.

Dengan adanya perkembangan kejahatan dengan menggunakan komputer, Penyidik dan Penuntut Umum
serta Hakim dihadapkan pada eksistensi buktibukti elektronik seperti data komputer, dokumen
elektronik, email, maupun catatan transaksi rekening|4], sehingga alat bukti tidak hanya terbatas pada
keterangan saksi, surat, ahli, petunjuk dan keterangan terdakwa, akan tetapi mencakup informasi dan
dokumen yang tersimpan secara elektronik.|S]

Yahya Harahap mengungkapkan bahwa Hakim tidak terkait atas kebenaran persesuaian yang diwujudkan
atas petunjuk sebagai alat bukti, karena alat bukti elektronik tidak bisa berdiri sendirisendiri untuk
membuktikan kesalahan terdakwa. Oleh karena itu, perlu didukung oleh alat bukti lain.|6] Edmon
Nakarim mengemukakan bukti elektronik sebagai suatu alat bukti yang sah dan yang berdiri sendiri,
tentunya harus dapat diberikan jaminan bahwa suatu rekaman/salinan data (data recording) berjalan
sesuai dengan prosedur yang berlaku (telah dikalibrasi dan diprogram) sedemikian rupa sehingga hasil
print out sutau data diterima dalam pembuktian suatu kasus.|7] Hal serupa juga dikatakan oleh T.
Nasrullah yang menegaskan bahwa alat bukti elektronik seperti SNS (short message service) hanya
berlaku dalam hukum pidana khusus dan tidak berlaku pada hukum pidana umum. Sementara pakar
teknologi komunikasi, Roy Suryo menyatakan SNS tidak dapat dijadikan alat bukti tunggal. Penggunaan
SNS sebagai alat bukti harus didukung dengan keterangan ahli (expertise).|8]

Selain itu, proses mengajukan dan proses pembuktian alat bukti yang berupa data digital perlu
pembahasan tersendiri mengingat alat bukti dalam bentuk informasi elektronik ini serta berkas acara
pemeriksaan telah melalui proses digitalisasi dengan proses pengetikan (typing), pemeriksaan (editing),
dan penyimpanan (storing) dengan menggunakan komputer. Namun, hasilnya tetap saja dicetak di atas
kertas (printing process). Oleh karena itu, diperlukan kejelasan bagaimana mengajukan dan melakukan
proses pembuktian terhadap alat bukti yang berupa data digital.

Pembuktian terhadap suatu alat bukti berupa data digital juga menyangkut aspek validasi yang dijadikan
alat bukti, karena bukti elektronik mempunyai karakteristik khusus dibandingkan bukti nonelektronik,
karakteristik khusus tersebut karena bentuknya yang disimpan dalam media elektronik, disamping itu
bukti elektronik dapat dengan mudah direkayasa sehingga sering diragukan validitasnya.|3]

Aspek lain terkait adalah masalah menghadirkan alat bukti tersebut, apakah dihadirkan cukup dengan
perangkat lunaknya (software) ataukah harus dengan perangkat kerasnya (hardware). Amerika Serikat
mengatur alat bukti elektronik dalam Criminal Procedure Code, barang bukti elektronik dimasukkan ke
dalam real evidence yakni sama halnya dengan foto, video, rekaman, dan film dapat dihadirkan dengan
perangkat lunak dan/atau perangkat kerasnya.

Beberapa negara seperti Cina, Australia, ]epang, dan Singapura telah memiliki peraturan hukum yang
mengakui data elektronik menjadi alat bukti. Di Kanada misalnya disamping telah memiliki hukum
pembuktian yang menerima data elektronik menjadi alat bukti. Praktekpraktek pengadilan
melengkapinya dengan prosedurprosedur bagaimana bukti elektronik tersebut bisa diterima di
pengadilan.|10] Hukum acara negara Perancis yang dikenal dengan nama Code de Procdure de Pnal
yang didasarkan pada surat edaran Counsil d'etat tahun 1338 (LO! 13382341 La Reconaisance des
evidence de dossiers et informations informatiques) tentang sahnya dokumendokumen dan informasi
informasi elektronik sebagai alat bukti yang sah.

Berbeda pengaturannya di Nalaysia, bukti elektronik dimasukkan ke dalam kategori alat bukti primer
yaitu alat bukti berupa dokumen yang orisinil yang dihadirkan di pengadilan, yakni seluruh dokumen yang
dibuat secara tertulis, maupun terekam pada pita foto, baik berupa surat, buku, jurnal, film, video, dan
lain sebagainya. Bagianbagian dari dokumen tersebut sepanjang itu orisinal dianggap sebagai alat bukti
primer. Selain alat bukti primer, dikenal juga alat bukti sekunder hal mana baru digunakan sebagai alat
bukti, jika alat bukti primer tidak ada atau tidak mencukupi.

Walaupun demikian, menurut Hakim Nohammed Chawki dari Komputer Crime Research Center
mengklasifikasikan bukti elektronik menjadi 3 (tiga) kategori, sebagai berikut.

1. Real Evidence atau Physical Evidence

Bukti yang terfiri dari objek nyata atau berwujud yang dapat dilihat dan disentuh. Real evidence juga
merupakan bukti lansgung berupa rekaman otomatis yang dihasilkan oleh komputer itu sendiri dengan
menjalankan software dan receipt dari informasi yang diperoleh dari alat yang lain, misalnya computer
log files.|11]

2. Testamentary Evidence

Dikenal dengan istilah hearsay evidence, dimana keterangan dari saksi maupun ahli dapat diberikan
selama persidangan, berdasarkan pengalaman dan pengamatan individu. Perkembangan ilmu dan
teknologi sedikit banyak membawa dampak terhadap kualitas metode kejahatan, memaksa kita untuk
mengimbanginya dengan kualitas dan metode pembuktian yang memerlukan pengetahuan dan keahlian
(skill and knowledge).|12] Kedudukan seorang ahli dalam memperjelas tindak pidana yang terjadi serta
menerangkan atau memperjelas bukti elektronik sangat penting dalam memberikan keyakinan hakim
dalam memutus perkara kejahatan.

3. Circumstantial Evidence

Bukti elektronik terperinci yang diperoleh beradasarkan ucapan atau pengamatan dari kejadian
sebenarnya yang mendorong untuk mendukung suatu kesimpulan, tetapi bukan untuk membuktikannya.
Circum evidence merupakan kombinasi dari real evidence dan hearsay evidence.

Penggolongan alat bukti elektronik masih belum diterima sepenuhnya, padahal disatu sisi dalam
kejahatan luar biasa (extraordinary crime), seperti tindak pidana korupsi, kejahatan HAN Berat,
Terorisme mempunyai pembuktian yang sulit. Hal ini disebabkan karena kejahatan tersebut dilakukan
secara rapi dan sistematis dengan menggunakan komputer sebagai sarana untuk melaksanakan tindak
pidana tersebut, dan pemerintah menyadari tindak pidana tersebut merupakan suatu tindak pidana yang
luar biasa (extraordinary crime), sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary
measures).|13] Buktibukti yang akan mengarahkan kepada suatu tindak pidana merupakan datadata
elektronik yang berada dalam komputer atau yang merupakan printout atau dalam bentuk lain berupa
jejak dari suatu aktivitas penggunaan komputer.|14]

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuliskan 3 (tiga) alasan yang menjadi problematika pemeriksaan
perkara tindak pidana korupsi :|1S]

1. Tindak pidana korupsi merupakan collar crime, dengan ciriciri terorganisir, canggih, dan
memanfaatkan celah hukum.

2. Hukum pidana formal dan meteriil telah memberi beberapa perangkat hukum baru, namun kurang
dipahami oleh Hakim biasa.

3. Banyak perkara bebas (vrijspraak) yang disebabkan alat bukti tidak optimal, lemahnya standar teknis
yuridis dan kapasitas penegak hukum menghadapi perkembangan modus operandi.

Dari permasalahan diatas nampaknya dibutuhkan bahkan menjadi suatu kebutuhan akan pengaturan alat
bukti elektronik, terlebih lagi pada pengaturan di hukum acara pidana di !ndonesia karena terkait dengan
seberapa kuat alat bukti elektronik di perhitungkan dalam kasus tertentu yaitu kasus tindak pidana umum
maupun tindak pidana korupsi.

B. Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, dirumuskan beberapa pokok permasalahan yang akan menjadi fokus
pembahasan dalam penelitian ini, yaitu

1. Bagaimana pengaturan mengenai alat bukti elektronik dalam hukum acara pidana di !ndonesia?

2. Nengapa terjadi perbedaan antara kekuatan pembuktian alat bukti elektronik pada Tindak Pidana
Umum Dan Tindak Pidana Korupsi?

3. Bagaimanakah kekuatan pembuktian alat bukti elektronik pada Tindak Pidana Umum Dan Tindak
Pidana Korupsi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan ini dibagi menjadi dua, yaitu tujuan penulisan secara umum dan tujuan penulisan
secara khusus, adapun tujuannya sebagai berikut.

1. Tujuan Umum

Pembahasan masalah ini ditujukan untuk mengkaji pengaturan alat bukti elektronik sebagai bagian dari
alat bukti dalam hukum acara pidana di !ndonesia. Dengan demikian, pembahasan ini diharapkan dapat
mengidentifikasi kekuatan pembuktian dalam tindak pidana umum dana tindak pidana korupsi.

2. Tujuan Khusus

Penelitian mengenai kekuatan pembuktian alat bukti elektronik yang melihat perbandingan antara tindak
pidana umum dan tindak pidana korupsi bertujuan:

1. Nenjelaskan pengaturan mengenai alat bukti elektronik dalam hukum acara pidana di !ndonesia

2. Nengetahui alasan terjadi perbedaan antara kekuatan pembuktian alat bukti elektronik pada Tindak
Pidana Umum Dan Tindak Pidana Korupsi

3. Nenjelaskan kekuatan pembuktian alat bukti elektronik pada Tindak Pidana Umum Dan Tindak Pidana
Korupsi

D. Tinjauan Pustaka

1. ]udul : Pengantar Hukum Telematika: Suatu Kompilasi Kajian

Pengarang : Edmon Nakarim, S.Kom., S.H., LL.N.

Penerbit : Raja Crafindo Persada

Tahun : 200S

Uraian : Buku ini merupakan suatu pengantar umum bagi orangorang yang hendak mempelajari hukum
telematika, yang menarik dari buku ini bagi penulis adalah selain mendapatkan suatu pengetahuan baru
mengenai hukum telematika, buku ini mulai menekankan pada keterkaitan antara teknologi dengan
tindak pidana pada salah satu ulasannya, sehingga pembahasan dari alat bukti tidak terbatas pada apa
yang telah tertuang secara nyata dalam bentuk yang berwujud, tetapi lebih dari itu yaitu data elektronik
baik yang masih berada dalam komputer maupun yang berupa hasil printout dari data tersebut.

2. ]udul : Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP:

Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan

Peninjauan Kembali

Pengarang : Yahya Harahap

Penerbit : Sinar Crafika

Tahun : 2001

Uraian : Pada umumnya buku Pembahasan, Permasalahan, dan Penerapan KUHAP yang dibuat oleh
Yahya Harahap ini membahas dan mengupas Kitab Hukum Acara Pidana secara keseluruhan. Penulis
tertarik pada buku ini adalah pembasan secara terperinci dan komprehensif mengenai pembuktian hukum
acara pidana secara menyeluruh. Terlebih lagi alat bukti yang belum diatur dalam KUHAP dapat menjadi
diskusi yang sangat menarik apabila terdapat landasanlandasan teori yang kuat. Dalam buku ini, penulis
mendapatkan landasan yang berbasis praktis maupun teoritis berkaitan dengan pengaturan alatalat
bukti.

3. ]udul : Hukum Acara Pidana Edisi Revisi

Pengarang : Andi Hamzah

Penerbit : Sinar Crafika

Tahun : 2001

Uraian : Dalam buku Hukum Acara Pidana Edisi Revisi yang ditulis oleh Andi Hamzah, dijelaskan secara
terperinci mengenai hukum pidana terutama mengenai bagaimana aspek beracara dalam hukum pidana.
Beliau secara nyata menerangkan bagaimana hukum pidana itu ketika diterapkan, mulai dari segi awal
adanya penyelidikan ketika adanya kasus pidana sampai bagaimana pembuktian di persidangan. Alasan
penulis memasukkan buku ini sebagai salah satu referensi dalam penelitian ini adalah karena pada salah
satu bab dalam buku ini penulis menemukan sebuah pembahasan yang cukup mendalam mengenai alat
bukti elektronik itu sendiri dan keberlakuan dari alat bukti elektronik tersebut dalam kasus pidana.

4. ]udul ]urnal : Electronic Evidence and Computer Forensic

Pengarang : L. volodino

Penerbit : Communication of A!S

Tahun : 2003, vol. 12

Uraian : Buku ini menjelaskan bagaimana alat bukti elektronik bukanlah menjadi masalah lagi dalam
konteks pembuktian di Pengadilan. Hal tersebut sekaligus memberikan kepastian hukum bagi para pihak
untuk melakukan berbagai hal di dunia elektronik, termasuk membuktikan. Dalam jurnal ini dijelaskan
secara mendalam mengenai kekuatan pembuktian dalam persidangan. Selain itu, jurnal ini memberikan
trik dalam menilai keabsahan alat bukti elektronik sehingga hakim dalam menjatuhkan putusan tidak
mengalami kekeliruan.

S. ]udul : Electronic Evidence

Pengarang : Alan N. Cahtan

Penerbit : Carswell

Tahun : 1333

Uraian : Buku ini memberikan pemahaman yang begitu besar terhadap indentifikasi alat bukti elektronik.
Buku ini mempertanyakan alat bukti elektronik dalam memastikan otentifikasinya atau keasliannya.
Secara sederhana, otentifikasi dilakukan terhadap alat bukti elektronik dengan memastikan terlebih
dahulu apakah alat bukti elektronik tersebut dihasilkan dari sumber yang benar. Pengetahuan elektronik
yang digabungkan dengan pembuktian dalam persidangan menjadikan buku ini menjadi pegangan
apabila ingin meneliti alat bukti elektronik.

6. ]udul : Bukti Elektronik Dalam Kejahatan Komputer: Kajian Atas

Tindak Pidana Korupsi dan Pembaharuan Hukum Pidana

!ndonesia

Pengarang : Arie Eko Yuliearti

Penerbit : Tesis Pascasarjana Reguler

Tahun : 2006

Uraian : Penulis tertarik dengan tesis ini, karena terdapat alasanalasan serta masukanmasukan yang
berarti bagi pembaharuan hukum pidana, terlebih lagi hukum acara pidana. Pembahasan tesis ini tidak
terabtas pada tindak pidana korupsi tetapi tindak pidana lainnya yang juga termasuk tindak pidana
umum, hanya saja pemabahasan tesis ini lebih mengedepankan pada tindak pidana korupsi sebagai
extraordinary crime. Perumusan yang ringan membuat penulis menjadikan salah satu bahan referensi
untuk menyusun penelitian ini.

7. ]udul : Tindak Pidana Terkait dengan Komputer dan !nternet:

Suatu Kajian Pidana Nateriil dan Formil

Pengarang : Edmon Nakarim, S.Kom., S.H., LL.N.

Penerbit : Seminar Pembuktian dan Penanganan Cyber Crime di

!ndonesia, FHU!

Tahun : 2008

Uraian : Pembahasan dalam makalah seminar cyber crime perlu mendapatkan perhatian, karena di masa
lalu alat bukti yang dapat diterima di Pengadilan terbatas pada alatalat bukti yang bersifat materiil, yaitu
alat bukti yang dapat dilihat dan diraba. Dalam konteks !ndonesia, alat bukti yang diperkenankan secara
pidana diatur dalam pasal 184 KUHAP yaitu alat bukti saksi, saksi ahli, keterangan, surat dan petunjuk.
Secara literlijk seluruh alat bukti yang disebutkan dalam KUHAP tersebut tidak mengakomodir alat bukti
elektronik. Akan tetapi, dengan perkembangan yang sangat modern menjadikan alat bukti elektronik
mendapatkan perhatian yang begitu luar biasa besarnya. Hal ini diungkapkan oleh Edmon Nakarim dalam
makalah seminar tersebut. Penulis memberikan apresiasi yang besar atas perumusan makalah tersebut,
karena beliau memperbandingkan alatalat bukti dengan alat bukti dalam tahap globalisasi.

8. ]udul artikel : Alat Bukti Elektronik Kian Nendapat Tempat

Pengarang : tanpa nama pengarang

Penerbit : http://www.hukumonline.com

Tahun :10 ]uli 2006

Uraian : Artikel ini membahas mengenai perkembangan alat bukti begitu cepat, sementara KUHAP tidak
mungkin diubah dalam waktu singkat. Penulis berharap pengertian alat bukti petunjuk dalam pasal 184
KUHAP tidak lagi diartikan secara letterlijk oleh aparat penegak hukum, sehingga saat ini menurut penulis
perlu ada perluasanperluasan. Perluasan alat bukti ini perlu dilakukan dalam rangka mengakomodir
perkembangan teknologi informasi yang semakin berpengaruh dalam segala aspek kehidupan. Nulai dari
kegiatan suratmenyurat (email) sampai transaksi ekonomi berskala besar dapat dilakukan lewat internet
sehingga bukan tidak mungkin ada tindak pidana yang melibatkan kegiatan tersebut di atas. Terbatasnya
jumlah alat bukti yang terdapat di dalam KUHAP yang sekarang bukan berarti membatasi pula penyidik
untuk memajukan dokumen elektronik sebagai alat bukti di dalam persidangan.

3. ]udul artikel: Data Elektronik sebagai Alat Bukti Nasih Dipertanyakan

Pengarang : Rapin Nudiardjo

Penerbit : http://www.hukumonline.com

Tahun : 8 ]uli 2002

Uraian : Artikel yang berjudul Data Elektronik sebagai Alat Bukti masih dipertanyakan yang ditulis oleh
Rapin Nudiardjo ini membahas mengenai data elektronik yang seharusnya dapat dimasukkan sebagai
alat bukti elektronik dalam persidangan. Artikel ini begitu menarik perhatian penulis karena Rapin
Budiardjo membahas mengapa data elektonik tersebut belum dapat dijadikan suatu alat bukti baik dalam
kasus pidana, masalahmasalah yang mungkin ditimbulkan oleh data elektronik tersebut dijawab oleh
beliau dengan lugas dan tepat, dari jawabanjawaban beliau itulah muncul gebrakan agar para ahli
hukum tidak hanya mendasarkan pada hukum positif yang telah ada saja dalam dalam menilai data
elektronik, tetapi juga harus mulai ada pemikiran untuk melakukan suatu pengembangan revolusi hukum
yang mengakui bahwa data elektronik seharusnya disejajarkan juga dengan alat bukti lainnya dalam
tahap pembuktian, karena seharusnya hukum itu juga harus mengikuti perkembangan masyarakat.

E. Kerangka Konsep

Penulisan dalam penelitian ini menggunakan beberapa istilah yang merupakan katakata kunci yang perlu
dijabarkan secara khusus. Penjelasan beberapa istilah tersebut diambil dari beberapa bahan bacaan yang
berkaitan dengan penulisan dalam penelitian ini. Beberapa istilah yang dimaksud, antara lain.

1. Bukti Elektronik adalah informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik
dengan alat optik atau yang serupa dengan itu, termasuk setiap rekaman data atau informasi yang dapat
dilihat, dibaca, dan/atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana baik
yang tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik
yang berupa tulisan, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka, atau perforasi yang memiliki
makna.|16]

2. !nformasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik termasuk tetapi tidak terbatas pada
tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (ED!), surat elektronik
(electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol,
atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mempu
memahaminya.|17]

3. Dokumen elektronik adalah Setiap informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima,
atau disimpan daam bnetuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat,
ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas
pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda angka, Kode Akses,
simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mempu
memahaminya.|18]

4. Alat bukti adalah alat bukti yang terdapat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu keterangan saksi,
keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.|13]

S. Alat bukti elektronik adalah alat bukti yang berisi segala bentuk data, informasi, dan cetakan yang
sifatnya tidak berwujud fisik, namun dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh panca indra
manusia.|20]

6. Pembuktian adalah ketentuanketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang tata cara yang
dibenarkan undangundang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa.|21]

7. Tindak pidana umum adalah Perbuatan yang diatur dan diancamkan kepada pelaku yang melakukan
atau memenuhi unsurunsur pasal pada Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP).|22]

8. Tindak pidana korupsi adalah perbuatan yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara.|23]

3. Hukum Pidana adalah serangkaian ketentuanketentuan yang mengatur: tingkah laku yang dilarang
atau yang diharuskan yang (terhadap pelanggarnya) diancam dengan pidana, jenis dan macam pidana
dan caracara menyidik, menuntut, pemeriksaan persidangan serta melaksanakan pidana.|24]

F. Netode Penelitian

Netode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode kepustakaan, yang bersifat yuridis
normatif, artinya penelitian ini mengacu pada norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang
undangan dan keputusan pengadilan serta normanorma yang berlaku dan mengikat masyarakat atau
juga menyangkut kebiasaan yang berlaku di masyarakat.|2S]

Tipe penelitian yang digunakan menurut sifatnya adalah penelitian deskriptif, menurut tujuannya adalah
penelitian penemuan fakta (fact finding)|26] yang bertujuan mengetahui fakta bagaimana perbandingan
kekuatan pembuktian alat bukti elektronik dalam tindak pidana umum dan tindak pidana korupsi,
menurut penerapannya adalah penelitian berfokus masalah yaitu suatu penelitian yang mengaitkan
penelitian murni dengan penelitian terapan.,|27] dan menurut ilmu yang dipergunakan adalah penelitian
monodisipliner, artinya laporan penelitian ini hanya didasarkan pada satu disiplin ilmu, yaitu ilmu hukum.

]enis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum
primer, sekunder, dan tersier sebagai berikut.|28]

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat berupa peraturan
perundangundangan !ndonesia.
2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer dan
dapat membantu menganalisa, memahami, dan menjelaskan bahan hukum primer, yang antara lain
adalah buku, internet, artikel ilmiah, tesis, surat kabar, dan makalah.
3. Bahan hukum terssier, adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan atas
bahan hukum primer dan sekunder, yaitu kamus.

Nengenai alat pengumpul data, peneliti memakai studi dokumen ditambah dengan wawancara dengan
narasumber untuk melengkapi data yang terkumpul. Netode pendekatan analisis data yang dipergunakan
adalah metode analisis kualitatif sehingga menghasilkan sifat dan bentuk laporan secara deskriptif
analitis.

C. Kegunaan Teoritis dan Praktis

Kegunaan Praktis dalam penelitian ini antara lain.

1. Nemberikan masukan bagi penyusun rancangan peraturan perundangundangan hukum acara pidana
terutama yang berkaitan dengan alat bukti elektronik.

2. Nemberikan pemahaman bagi aparatur penegak hukum dalam membedakan kekuatan alat bukti
elektronik dengan alat bukti lainnya

3. Nemberikan kejelasan bagi pemakaian alat bukti elektronik pada perkara tindak pidana umum dan
tindak pidana lainnya seperti tindak pidana korupsi korupsi.

H. Biaya

Untuk pembiayaan penelitian ini dirancang anggaran pengeluaran sebagai berikut:

1. Honorarium Peneliti dan Narasumber

a. Honor Peneliti : Rp. 6.000.000,00

b. Honor Narasumber : Rp. 2.000.000,00

2. Studi Dokumen : Rp. S.000.000,00

3. Transportasi dan Akomodasi : Rp. 300.000,00

4. Pengolahan Data

Biaya Rental !nternet : Rp. 200.000,00

S. Administrasi Penelitian

a. Tinta Printer (2 x Rp. 1S0.000,00) : Rp. 300.000,00

b. Kertas (3 rim x Rp. 40.000,00) : Rp 120.000,00

c. Recorder : Rp. 1.2S0.000,00

d. Alat Tulis : Rp. 200.000,00

e. CDR (S x Rp. 3.000,00) : Rp 1S.000,00

6. Penyusunan hasil penelitian : Rp. S00.000,00

7. Penggandaan hasil penelitian (10 x Rp.30.000,) : Rp. 300.000,00

Total Rp.16.78S.000,00

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Alan N. Cahtan, Electronic Evidence, Ontario, Carswell, 1333.

Friedman, Lawrence N., American Law, New York: W.W. Norton and Co., 1384.

Hamzah, Andi, Hukum Acara Pidana !ndonesia Edisi Revisi, ]akarta: Sinar Crafika, 2001.

Harahap, N. Yahya, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang Pengadilan,
Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, (]akarta: Sinar Crafika, 138S).

Kanter, E.Y. dan S.R. Sianturi, AsasAsas Hukum Pidana Di !ndonesia Dan Penerapannya, cet. !!!,
]akarta: Storia Crafika, 2002.

Nakarim, Edmom, Pengantar Hukum Telematika: Suatu Kompilasi Kajian, ]akarta: PT Raja Crafindo
Persada, 200S.

Nakarim, Edmon, Tindak Pidana Terkait dengan Komputer dan !nternet: Suatu Kajian Pidana Nateriil dan
Formil, Seminar Pembuktian dan Penanganan Cyber Crime di !ndonesia, FHU!, ]akarta, 12 April 2008.

Namudji, Sri, et al. Netode Penelitian dan Penulisan Hukum, ]akarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum
Universitas !ndonesia, 200S.

Nasrullah, T., Sepintas Tinjauan Yuridis Baik Aspek Hukum Nateril Naupun Formil Terhadap Undang
undang No. 1S/2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Nakalah Pada Semiloka tentang
Keamanan Negara", 23 Naret 2008.

Prints, Darwan, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, ]akarta: Djambatan, 1383.

Rice, Paul R. , Electronic Evidence Law and Practice, New York: American Bar Association, 2006.

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, cet. !!!, ]akarta: U!Press, 1386.

Totty, Richard, and Anthony Hardcastle, Computer Related Crime, Ceorge Washington University Law
School, vol. 78, No. 4, November 2003.

volodino, L., Electronic Evidence and Computer Forensic, Communication of A!S, vol. 12, October 2003.

Yuliearti, Arie Eko, Bukti Elektronik Dalam Kejahatan Komputer: Kajian Atas Tindak Pidana Korupsi dan
Pembaharuan Hukum Pidana !ndonesia, Tesis Pascasarjana Reguler, ]akarta: Fakultas Hukum Universitas
!ndonesia, 2006.

B. Peraturan Perundangundangan

!ndonesia (a), UndangUndang tentang !nformasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 11 Tahun 2008,
LN Nomor S8 Tahun 2008, TLN Nomor 4843.

!ndonesia (b), UndangUndang Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU Nomor 8, LN. Nomor 76
Tahun 1381, TLN. 3203.

C. Artikel

Ahsan Dawi Nansur, SNS Sebagai Alat Bukti, Koran Nerapi, 13 April 2006.

|1] !ndonesia (a), UndangUndang tentang !nformasi dan Transaksi Elektronik, UU Nomor 11 Tahun
2008, LN Nomor S8 Tahun 2008, TLN Nomor 4843.

|2] KUHAP kepanjangan dari Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana, yang diatur dalam Undang
Undang Nomor 8 Tahun 1381 tentang Hukum Acara Pidana.

|3] Edmom Nakarim, Pengantar Hukum Telematika: Suatu Kompilasi Kajian, (]akarta: PT Raja Crafindo
Persada, 200S) hlm. 4SS.

|4] Arie Eko Yuliearti, Bukti Elektronik Dalam Kejahatan Komputer: Kajian Atas Tindak Pidana Korupsi dan
Pembaharuan Hukum Pidana !ndonesia, Tesis Pascasarjana Reguler, (]akarta: Fakultas Hukum
Universitas !ndonesia, 2006), hlm. 10.

|S] !bid, hlm. 138.

|6] N. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Pemeriksaan Sidang
Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, (]akarta: Sinar Crafika, 138S), hlm. 312.

|7] Nakarim, op.cit, hlm. 4S1.

|8] Ahsan Dawi Nansur, SNS Sebagai Alat Bukti, Koran Nerapi, 13 April 2006.

|3] L. volodino, Electronic Evidence and Computer Forensic, (Communication of A!S, vol. 12, Oktober
2003), hlm. 7.

|10] Alan N. Cahtan, Electronic Evidence, (Ontario, Carswell, 1333), hlm. 1S2.

|11] Edmon Nakarim, Tindak Pidana Terkait dengan Komputer dan !nternet: Suatu Kajian Pidana Nateriil
dan Formil, Seminar Pembuktian dan Penanganan Cyber Crime di !ndonesia, FHU!, ]akarta, 12 April
2008.

|12] N. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP ]ilid ! dan !!, (]akarta: Sinar
Crafika), hlm. 237.

|13] T. Nasrullah, Sepintas Tinjauan Yuridis Baik Aspek Hukum Nateril Naupun Formil Terhadap Undang
undang No. 1S/2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Nakalah Pada Semiloka tentang
Keamanan Negara" yang diadakan oleh !ndonesia Police Watch bersama Polda Netropolitan ]akarta
Raya, Selasa 23 Naret 2008, hlm. 3.

|14] ]ejak suatu operasi computer dapat digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan bukti kembali,
manakala ukti yang tersimpan dalam computer telah dihapus pelaku. Lihat Richard Totty and Anthony
Hardcastle, Computer Related Crime, (Ceorge Washington University Law School, vol. 78, No. 4,
November 2003), hlm. 71.

|1S] Disampaikan oleh Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan draft ke1 DPD dengan judul
Nempersiapkan Pengadilan Tipikor, mengenai Rancangan UndangUndang tentang Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi, pada tanggal 1S ]anuari 2003 di gedung Nusantara v DPR R!.

|16] Penjelasan Pasal 177 ayat (1) huruf c Rancangan UndangUndang Hukum Acara Pidana.

|17] !ndonesia (a), op. cit., Pasal 1 angka 1.

|18] !bid., Pasal 1 angka 4.

|13] !ndonesia (b), UndangUndang Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), UU Nomor 8, LN. Nomor 76
Tahun 1381, TLN. 3203, Pasal 184 ayat (1).

|20] Paul R. Rice, Electronic Evidence Law and Practice, (New York: American Bar Association, 2006), hal.
74.

|21] Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana !ndonesia Edisi Revisi, (]akarta: Sinar Crafika, 2001), hal. S3

|22] Darwan Prints, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, (]akarta: Djambatan, 1383), hal. 21.

|23] !bid., hal. 83.

|24] E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, AsasAsas Hukum Pidana Di !ndonesia Dan Penerapannya, cet. !!!,
(]akarta: Storia Crafika, 2002), hal. 8.

|2S] Lawrence N. Friedman, American Law, (New York: W.W. Norton and Co., 1384), hal. 6.

|26] Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet. !!!, (]akarta: U!Press, 1386), hal. S0S1.

|27] Sri Namudji, et al. Netode Penelitian dan Penulisan Hukum, (]akarta: Badan Penerbit Fakultas
Hukum Universitas !ndonesia, 200S), hal. 4S.
hLLp//mknunsrlblogspoLcom/2010/06/kekuaLanpembukLlanalaLbukLlhLml

edudukan AIat Bukti EIektronik DaIam Pembuktian
Perkara Pidana
BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar BeIakang.
Dalam era informasi (information age), keberadaan suatu informasi mempunyai arti dan
peranan yang sangat penting didalam aspek kehidupan sehingga ketergantungan akan tersedianya
informasi semakin meningkat. Perubahan bentuk masyarakat menjadi suatu masyarakat informasi
(information society) memicu perkembangan teknologi informasi (information technology revolution) yang
menciptakan perangkat teknologi yang kian canggih dan informasi yang berkualitas.
Kita telah berada dalam teknologi elektronik yang berbasiskan lingkungan digital,
contohnya komputer pribadi, mesin fax, penggunaan kartu kredit, dan hal-hal lainnya
Hal yang membuat internet memiliki peran yang sangat penting adalah potensi yang dimilikinya
sebagai media teknologi informasi, antara lain :
1.keberadaannya sebagai jaringan elektronik publik yang sangat besar;
2.mampu memenuhi ber bagai kebut uhan beri nf ormasi danberkomunikasi secara murah,
cepat, dan mudah diakses, dan;
3. menggunakan data elektronik sebagai media penyampai an pesan/data sehingga dapat dilakukan
pengiriman, penerimaan, dan penyebarluasan informasi secara mudah dan ringkas.
Di ndonesia, perkembangan teknologi informasi semakin pesat danpengggunanya pun
semakin banyak tetapi perkembangan ini tidak diimbangi dengan perkembangan hukumnya data
atau informasi elektronik akan diolah dan diproses dalam suatu sistem elektronik dalam bentuk
gelombang digital (/igital information). Dengan kemajuan teknologi informasi yang pesat, diiringi dengan
terjadinya perikatan antar pihak yang dilakukan dengan cara pertukaran informasi untuk melakukan
transaksi perdagangan secara elektronik di ruang lingkup maya (cyber).
Transaksi elektronik yang sering disebut sebagai "online contract"sebenarnya ialah transaksi yang
dilakukan secara elektronik denganmemadukan jaringan (networking) dari sistem informasi
berbasiskan komputer (computer-base/ information system) dengan sistem komunikasi yang
berdasarkan atas jaringan dan jasa telekomunikasi (telecommunication-base/),yang selanjutnya
difasilitasi oleh keberadaan jaringan komputer global internet.
Akan tetapi kerap timbul dampak negatif dari perkembangan teknologiinformasi tersebut salah
satu contohnya seperti pembobolan rekening nasabah secara online melalui dunia maya
(cyber). Secara teknis, informasi dan/atau sistem informasi itu sendiri sangat rentan untuk tidak
berjalan sebagaimana seharusnya (malfunction),dapat diubah-ubah ataupun diterobos oleh pihak lain.
Untuk melindungi kerahasiaan informasi pribadi dari ancaman pelanggaran kerahasiannya, dibutuhkan
keamanan data (/ata security), keamanan komputer serta jaringannya. Dalam Asosiasi Teknologi
nformasi Kanada pada Kongres ndustri nformasi nternasional 2000 di Quebec, pernah menyatakan
bahwa :
"Information technology touches every aspect of human life an/ so can electronically
enable/ crime"
Demikian pula perkembangan zaman banyak kejahatan konvensionaldilakukan dengan
modus operandi yang canggih sehingga dalam proses beracara diperlukan teknik atau prosedur khusus
untuk mengungkap suatu kejahatan. Kegiatan perbankan yang memiliki potensi kejahatan dunia
maya antara lain adalah layananonline shopping (berbelanja secara online) yang memberikan fasilitas
pembayaran melalui kartu kredit (cre/it car/ frau/). Jenis kejahatan ini muncul akibat kemudahan sistem
pembayaran menggunakan kartu kredit yang diberikan online shop. "odusnya ialah pelaku
menggunakan nomor kartu kredit korban untuk berbelanja di online shop . Pelaku
dapat saja memperoleh nomor kartu kredit korban dengan model kejahatan kartu kredit yang
konvensional atau melalui dunia maya.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi selain juga memberikan/,25,poitif
tentu pada sisi ainnya telah membuka peluang baru atau bahkan fasilitas bagi para pelaku
kejahatan untuk menggunakan nya sebagai i nstrumen mel akukan kejahatan yang berdimensi
dan modus baru di wilayah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, ol eh karena
i tu di perl ukan pranata hukum yang dapat memberi kan proteksi;
Berlakunya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang nformasi dan Transaksi
Elektronik ( UU TE), terciptalah suatu bidang kajian baru dalam hukum menyangkut dunia maya
(law in cyberspace). Kehadiran bidang baru ini membawa dampak perubahan bagi hukum di dalam
hal kriminalisasi perbuatan-perbuatan yang ada di dunia siber.
Jika dahulu, perbuatan-perbuatan merugikan di dunia siber sulit untuk dibuktikan, maka
dengan keberadaan UU TE ini dapat terbantu. Oleh karena dunia siber ada dimensi yang berbeda
dengan dunia nyata maka pengaturan hukum dalam dunia siber tentu berbeda pula.
Terdapat karakteristik-karakteristik teknologi informasi yang harus mendapat pengkajian
hukum lebih lanjut. Salah satunya, tentang electronic mail ( e-mail). Dengan tegas UU TE
memberikan pernyataan bahwa email merupakan salah satu dari alat bukti yang sah (pasal 5 ayat
(1) UU TE).
Keberadaan email sebagai salah satu bentuk dokumen elektronik memiliki suatu identitas
baru yaitu sebagai salah satu bentuk alat bukti baru di dalam hukum pidana. Lantas,
bagaimanakah kedudukan email di antara alat bukti lain yang di atur dalam hukum pidana?

B. #umusan MasaIah
Bertolak dari latar belakang masalah diatas, dengan demikian dapat dirumuskan masalahnya
sebagai berikut :
1. Bagaimana Kedudukan Alat bukti E-mail dalam perkara Pidana?


BAB II
PEMBAHASAN

edudukan AIat bukti E-maiI daIam perkara Pidana

A. Teori Pembuktian.

"enurut Pitlo, pembuktian adalah suatu cara yang dilakukan oleh suatupihak atas fakta dan
hak yang berhubungan dengan kepentingannya.
71
"enurutSubekti, yang dimaksudkan dengan
"membuktikan adalah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil ataupun dalil-dalil yang
dikemukakan oleh para pihak dalam suatu persengketaan. Pembuktian tentang benar tidaknya
terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, merupakan bagian yang terpenting dalam hukum acara
pidana. embuktikan berarti memberi kepastian kepada hakim tentang adanya peristiwa-peristiwa
tertentu.
Adapun enam butir pokok yang menjadi alat ukur dalam teori pembuktian, dapat
diuraikan sebagai berikut

:
1. Dasar pembuktian yang tersimpul dalam pertimbangan keputusan pengadilan untuk
memperoleh fakta-fakta yang benar (bewijsgron/en)
2. Alat-alat bukti yang dapat digunakan oleh hakim untuk mendapatkan gambaran
mengenai terjadinya perbuatan pidana yang sudah lampau (bewijsmi//elen)
3. Penguraian bagaimana cara menyampaikan alat-alat bukti kepada hakim di sidang
pengadilan (bewijsvoering)
4. Kekuatan pembuktian dalam masing-masing alat-alat bukti dalam rangkaian penilaian
terbuktinya suatu dakwaan (bewijskracht)
5. Beban pembuktian yang diwajibkan oleh undang-undang untuk membukti kan
tentang dakwaan di muka si dang pengadi l an (bewijslast)Bukti mi nimum yang
di perl ukan dal am pembukti an unt uk mengikat kebebasan hakim (bewijsminimum)
6. Bukti mi ni mum yang di perl ukan dal am pembukti an unt uk mengikat kebebasan
hakim (bewijsminimum).


B. Sistem Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Positif (Positief
Wettelijk Bewijstheorie)
Suatu sistem pembuktian yang berkembang pada zaman pertengahanyang ditujukan
untuk menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa harus berpedoman pada prinsip pembuktian dengan
alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang.

Sistem ini berbanding terbalik dengan onviction in
Time, dimana keyakinan hakim disampingkan dalam sistem ini. enurut sistem ini, undang-undang
menetapkan secara limitatif alat-alat bukti yang mana yang boleh dipakai hakim. Jika alat-alat bukti
tersebut telah dipakai secara sah seperti yang ditetapkan oleh undang-undang, maka hakim harus
menetapkan keadaan sah terbukti, meskipun hakim ternyata berkeyakinan bahwa yang harus dianggap
terbukti itu tidak benar. enurut D. Simmon, sistem ini berusahauntuk menyingkirkan semua
pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hakim dengan peraturan pembuktian yang keras. Sistem ini
disebut juga dengan teori pembuktian formal (formele bewijstheorie)". Teori ini ditolak oleh
Wirjono Prodjodikoro untuk dianut di ndonesia, karena katanya bagaimana hakim dapat menetapkan
kebenaran selain dengan cara menyatakan kepada keyakinannya tentang hal kebenaran itu, lagipula
keyakinan seorang hakim yang jujur dan berpengalaman mungkin sekali adalah sesuai dengan keyakinan
masyarakat.
83




C. AIat-aIat Bukti
1. Jenis-jenis AIat Bukti menurut UHAP
Setiap macam alat-alat bukti disebutkan secara limitatif didalam KUHAPdan di uraikan menurut
urutan dal am Pasal 184 KUHAP, antara l ai n :
a. eterangan Saksi
Pada umumnya, setiap orang dapat menjadi saksi di muka persidangan. Kekecualian
menjadi saksi tercantum dalam Pasal 186 KUHAP, adalah sebagai berikut :
1)keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari
terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;
2)saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak,
juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan, dan anak-anak saudara
terdakwa sampai derajat ketiga;
Disamping karena hubungan keluarga atau semenda, juga ditentukan oleh Pasal 170 KUHAP
bahwa mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia,
dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi. Contoh orang yang
harus menyimpan rahasia jabatannya misalnya seorang dokter yang harus merahasiakan penyakit yang
diderita pasiennya. Sedangkan yang dimaksud karena martabatnya dapat mengundurkan diri adalah
mengenai hal yang dipercayakan kepada mereka, misalnya pastor agama Katolik Roma yang
berhubungan dengan kerahasiaan orang-orang yang melakukan pengakuan dosa kepada pastor
tersebut. enurut Pasal 170 KUHAP di atas mengatakan "dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk
memberi keterangan sebagai saksi... maka berarti apabila mereka bersedia menjadi saksi, dapat diperiksa
oleh hakim. "Oleh karena itu, kekecualian menjadi saksi karena harus menyimpan rahasia jabatan
atau karena martabatnya merupakan kekecualian relatif. Kekecualian menjadi saksi dibawah
sumpah juga ditambahkan dalam Pasal 171 KUHAP, yaitu :
anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum pernah kawin;
b. eterangan AhIi
Keterangan seorang ahli disebut sebagai alat bukti pada urutan yang kedua
setelah keterangan saksi oleh Pasal 183 KUHAP. Didalam Pasal 186 KUHAP menyatakan bahwa
keterangan seorang ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. "enurut Yahya
Harahap, apabila keterangan ahli bersifat "diminta', ahli tersebut membuat "laporan sesuai dengan yang
dikehendaki penyidik.

Laporan tersebut menurut penjelasan Pasal 186 KUHAP dibuat dengan mengingat sumpah di
waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan. Oleh penjelasan Pasal 186, laporan seperti itu "bernilai
sebagai alat bukti keterangan ahli yang diberi nama alat bukti keterangan ahli "berbentuk laporan.
Apabila hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum, maka pada
pemeriksaan di sidang, seorang ahli diminta untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam berita
acara pemeriksaan. "Keterangan tersebut diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji di
hadapan hakim. "enurut Yahya Harahap, padasisi lain, alat bukti keterangan ahli yang berbentuk
laporan juga menyentuh alat bukti surat.
93
Hal ini diatur dalam Pasal 187 huruf (c) KUHAP
yang menentukan salah satu yang termasuk alat bukti surat ialah "surat keterangan dari seorang ahli
yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang
diminta secara resmi daripadanya. Hal ini tergantung pada kebijakan hakim dapat menilainya sebagai alat
bukti keterangan ahli "berbentuk laporan atau menyebutnya sebagai alat bukti surat. "Kedua alat bukti
tersebut samasama bersifat "kekuatan pembuktian yang bebas dan tidak mengikat. Keterangan yang
sekalipun diberikan oleh beberapa ahli namun dalam
c. Surat
Selain Pasal 184 KUHAP yang menyebutkan alat-alat bukti secara limitatif,didalam Pasal 187
diuraikan tentang alat bukti surat yang terdiri dari empat butir. Asser-Anema memberikan pengertian
mengenai surat ialah segala sesuatu yang mengandung tanda-tanda baca yang dapat dimengerti,
dimaksud untuk mengeluarkan isi pikiran. "Sedangkan surat menurut Prof. A. Pitlo adalah pembawa
tanda tangan bacaan yang berarti, yang menerjemahkan suatu isi pikiran. Tidak termasuk kata surat,
adalah foto dan peta, sebab benda ini tidak memuat tanda bacaan.

Surat sebagaimana tersebut dalam
Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :
1)berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau
yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang
didengar, dilihat, atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang
keterangannya itu;
2)surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat
mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang
diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;
3)surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai
sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya;
4)urat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
Jenis-jenis surat ini tercantum dalam Pasal 187 KUHAP sebagai alat buktiyang sah di
persidangan.
Pasal 187 butir (a) dan (b) diatas disebut juga akta otentik, berupa berita acara atau surat resmi
yang dibuat oleh pejabat umum, seperti notaris, paspor, surat izin mengendarai (S), kartu tanda
penduduk (KTP), akta lahir, dan sebagainya. Pasal 187 butir (c), misalnya keterangan ahli yang berupa
laporan atauvisum et repertum, kematian seseorang karena diracun, dan sebagainya. Pasal 187 butir
(d) disebut juga surat atau akte dibawah tangan.
"enurut artiman Prodjohamodjojo, Pasal 187 butir (d), adalah surat yang tidak sengaja
dibuat untuk menjadi alat bukti, tetapi karena isinya surat ada hubungannya dengan alat bukti yang
lain, maka dapat dijadikan sebagai alat bukti tambahan yang memperkuat alat bukti yang lain.
98
enurut
Andi Hamzah, selaras dengan bunyi Pasal 187 butir (d), maka surat di bawah tangan ini masih
mempunyai nilai jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain. Contoh surat ini
adalah keterangan saksi yang menerangkan bahwa ia (saksi) telah menyerahkanuang kepada terdakwa.
"Keterangan ini merupakan satu-satunya alat bukti di samping sehelai surat tanda terima (kuitansi) yang
ada hubungannya dengan keterangan saksi tentang pemberian uang kepada terdakwa cukup sebagai
bukti minimum sesuai dengan Pasal 183 KUHAP dan Pasal 187 butir (d) KUHAP.

Secara formal, alat
bukti surat sebagaimana disebut dalam pasal 187 huruf (a), (b), dan (c) adalah alat bukti sempurna,
sebab dibuat secara resmi menurut formalitas yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan,
sedangkan surat yang disebut dalam butir (d) bukan merupakan alat bukti yang sempurna. Dari segi
materiil, semua bentuk alat bukti surat yang disebut dalam Pasal 187 bukanlah alat bukti yang
mempunyai kekuatan mengikat. Sama seperti keterangan saksi atauketerangan ahli, surat juga
mempunyai kekuatan pembuktian yang bersifat bebas (vrij bewijskracht). Adapun alasan ketidakterikatan
hakim atas alat bukti surat didasarkan pada beberapa asas antara lain, asas proses pemeriksaan perkara
pidana ialah untuk mencari kebenaran materiil atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran sejati (materiel
waarhei/), bukan mencari keterangan formil. Selain itu, asas batas minimum pembuktian (bewijs
minimum) yang diperlukan dalam pembuktian untuk mengikat kebebasan hakim sebagaimana tercantum
dalam Pasal 183, bahwa hakim baru boleh menjatuhkan pidana kepada seorang terdakwa telah
terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan keyakinan hakimbahwa t er dakwal ah
yang mel akukannya. Dengan demi ki an, bagaimanapun sempurnanya alat bukti surat, namun alat
bukti surat ini tidaklah dapat berdiri sendiri, melainkan sekurang-kurangnya harus dibantu dengan
satu alat bukti yang sah lainnya guna memenuhi batas minimum pembuktian yang telah ditentukan
dalam Pasal 183 KUHAP.
d. Petunjuk
Petunjuk merupakan alat bukti keempat yang disebutkan dalam Pasal 184 KUHAP. Dalam Pasal
188 ayat (1) disebutkan pengertian petunjuk, yaitu perbuatan, kejadian atau keadaaan, yang karena
persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri,
menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
Yahya Harahap mendefinisikan petunjuk dengan menambah beberapa kata, yakni petunjuk
adalah suatu "isyarat yang dapat "ditarik dari suatu perbuatan, kejadian, atau keadaan dimana
isyarat tadi mempunyai "persesuaian antara yang satu dengan yang lain maupun isyarat tadi mempunyai
persesuaian dengan tindak pidana itu sendiri, dan dari isyarat yang bersesuaian tersebut "melahirkan
atau"mewujudkan suatu petunjuk yang "membentuk kenyataan terjadinya suatu tindak pidana dan
terdakwalah pelakunya.
enurut Pasal 188 ayat (2) KUHAP dalam hal cara memperoleh alat bukti petunjuk, hanya dapat
diperoleh dari : 1) keterangan saksi; 2) surat; dan 3) keterangan terdakwa.
Apabila alat bukti yang menjadi sumber dari petunjuk tidak ada dalam persidangan
pengadilan, maka dengan sendirinya tidak akan ada alat bukti petunjuk. Nilai kekuatan pembuktian
(bewijskracht) dari alat bukti petunjuk sama dengan alat bukti yang lain yaitu bebas. Hakim tidak terikat
atas kebenaran persesuaian yang diwujudkan oleh petunjuk. Namun demikian, sebagaimana
dikatakan Pasal 188 ayat (3), penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap
keadaantertentu dilakukan oleh hakim dengan arif dan bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan
dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.

e. eterangan Terdakwa
Pengertian keterangan terdakwa tercantum dalam Pasal 189 ayat (1)KUHAP yang berbunyi,
keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau
yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat
digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat
bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya. Keterangan terdakwa hanya dapat
digunakan terhadap dirinya sendiri. Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia
bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti
yang lain.
Terhadap bunyi Pasal 189 ayat (2), Yahya Harahap mengatakan, bentuk keterangan yang dapat
diklasifikasikan sebagai keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang adalah :
1)keterangan yang diberikannya dalam pemeriksaan penyidikan;
2)dan keterangan itu dicatat dalam berita acara penyidikan;
3)serta berita acara penyidikan itu ditandatangani oleh pejabat penyidik dan terdakwa.
Pengakuan tersangka dalam tingkat penyidikan dapat dicabut kembalidalam pemeriksaan
pengadilan. "Alasan klise dicabutnya pengakuan tersebut adalah karena tersangka disiksa oleh
petugas penyidik.


D. Pengertian Barang Bukti
Barang bukti adalah barang atau benda yang berhubungan dengankejahatan.
Barang atau benda tersebut dapat dikategorikan sebagai corpus /elictiyang berarti barang-
barang atau benda-benda yang menjadi objek delik dan barang dengan mana delik dilakukan yaitu alat
yang dipakai untuk melakukan kejahatan. Ada pula yang termasuk barang bukti ialah barang-barang
yang dikategorikan sebagai instrumenta /elicti yang berarti barang-barang atau benda-benda hasil
kejahatan, barang atau benda yang berhubungan langsung dengan tindak
pidana.
Barang bukti dengan alat bukti mempunyai hubungan yang erat dan merupakan rangkaian yang
tidak terpisahkan. Dalam persidangan setelah semua alat bukti diperiksa, selanjutnya dilanjutkan
dengan pemeriksaan barang bukti. Barang bukti dalam proses pembuktian biasanya diperoleh melalui
penyitaan. Dengan penyitaan maka penyidik akan mencari keterhubungan antara barang
yangdiketemukan dengan tindak pidana yang dilakukan. Barang bukti mempunyainilai/fungsi dan
bermanfaat dalam upaya pembuktian, walaupun barang bukti yang disita oleh petugas penyidik
tersebut secara yuridis formal bukan sebagai alat bukti yang sah menurut KUHAP. Akan tetapi,
dalam praktik peradilan, barang bukti tersebut ternyata dapat memberikan keterangan yang
berfungsi sebagai tambahan dari alat bukti yang sah dalam bentuk keterangan saksi, keterangan ahli
(visum et repertum), maupun keterangan terdakwa. isalnya sebuah benda berupa senjata api atau
senjata tajam setelah disita menjadi barang bukti kemudian ditunjukkan dan ditanyakan kepada saksi dan
saksi tersebut memberikan keterangan bahwa barang bukti tersebut oleh tersangka telah digunakan
untuk melakukan pembunuhan atau penganiayaan. Demikian pula mayat korban pembunuhan setelah
dilakukan pemeriksaan ilmiah oleh Ahli Kedokteran Kehakiman (Laboratorium Forensik) kemudian hasil
pemeriksaannya dituangkan dalam visum et repertum yang isinya bersesuaian dengan keterangan saksi
yang diperkuat oleh keterangan tersangka/terdakwa. Disamping itu, dengan diajukannya barang bukti di
muka persidangan, maka hakim melalui putusannya dapat secara sekaligus menetapkan status hukum
dari barang bukti yang bersangkutan, yaitu apakah diserahkan kepada pihak yang paling berhak
menerimanya atau dirampas untuk kepentingan negara atau untuk dimusnahkan atau dirusak sehingga
tidak dapat dipergunakan kembali {Pasal 194 jo 197 ayat (1) huruf (i) KUHAP}.
105























E. AIat Bukti EmaiI DaIam UHAP

Keberadaan alat bukti sangat penting terutama untuk menunjukkan adanya peristiwa
hukum yang telah terjadi. enurut PAF Lamintang, orang dapat mengetahui bahwa adanya dua
alat bukti yang sah itu adalah belum cukup bagi hakim untuk menjatuhkan pidana bagi seseorang.
Tetapi dari alat-alat bukti yang sah itu hakim juga perlu memperoleh keyakinan, bahwa suatu
tindak pidana benar-benar telah terjadi.
Adanya alat bukti yang sah sangat penting bagi hakim pidana dalam meyakinkan dirinya
membuat putusan atas suatu perkara. Alat bukti ini harus sah (wettige bewijsmiddelen). Hanya
terbatas pada alat-alat bukti sebagaimana di sebut dalam Undang-undang (KUHAP atau Undang-
undang lain). UU TE melalui pasal 5 ayat (1) dan (2) ternyata memberikan 3 buah alat bukti baru
yaitu; nformasi elektornik, dokumen elektronik dan hasil cetak dari keduanya.
Email pun termasuk sebagai alat bukti yang diakui dalam UU TE, yakni sebagai salah satu
bentuk dari dokumen elektornik. Lebih lanjut UU TE ternyata memberikan 'akte lahir' dari alat
bukti yang baru ini sebagai perluasan dari alat bukti yang sah sebagaimana di atur dalam KUHAP.
Di dalam hukum acara pembuktian perkara pidana kedudukan alat bukti begitu penting
mengingat alat bukti ini yang menjadi dasar pertimbangan hakim pidana untuk memutuskan
perkara yang diajukan kepadanya (pasal 183 KUHAP).
Hukum acara pidana mengenal 5 macam alat bukti yang sah yaitu:
1.keterangan saksi;
2.keterangan ahli,
3.surat,
4.petunjuk, dan
5.keterangan terdakwa (pasal 184 KUHAP).



Apabila melihat kelima bentuk alat bukti ini, email masuk dalam kategori alat bukti surat
sebagaimana di atur dalam Pasal 187 KUHAP. Alat bukti surat yang dimaksud adalah :
1.Berita acara dan surat lain, dokumen dalam bentuk yang sesuai dibuat pejabat umum yang
berwenang;
2.Surat yang di buat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan tentang suatu keadaan;
3.Surat keterangan ahli yang diminta secara resmi;
4.Surat lain yang hanya berlaku jika berhubungan dengan isi dari alat pembuktian lain.


elihat penggolongan alat bukti surat yang diakui KUHAP diatas, maka email dapat
digolongkan sebagai surat yang hanya berlaku jika berhubungan dengan isi dari alat bukti lain. Hal
ini dikarenakan, email pada awal proses pembuatannya tidak dimaksudkan sebagai alat bukti dari
suatu peristiwa. Jadi baru dapat dianggap berlaku jika berhubungan dengan isi dari alat
pembuktian lain.
Email merupakan alat bukti yang tidak dapat berdiri sendiri namun membutuhkan alat bukti
lainnya. isalnya alat bukti keterangan saksi yang mengetahui pembuatan email itu atau
keterangan saksi ahli yang menerangkan keaslian email sebagai suatu alat bukti.
Oleh karena itu apabila ada perkara pidana dengan bukti berupa email, akan dinilai sangat
kurang bagi aparat penegak hukum untuk melakukan penangkapan pada tersangka. Namun bukan
berarti pelaku yang melakukan tindak pidana ini (penghinaan misalnya) bisa bebas seenaknya.
Aparat kepolisian harus segera melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk menemukan
bukti-bukti kuat yang mendukung terjadinya peristiwa pidana. Bisa dengan memperoleh saksi-saksi
yang mengetahui peristiwa email itu (provider/penyelenggara sistem elektronik) atau pun dengan
pengujian keaslian email yang ditulis oleh tersangka.








BAB III
PENUTUP


esimpuIan

Email merupakan alat bukti yang tidak dapat berdiri sendiri, namun membutuhkan alat bukti
lainnya. isalnya alat bukti keterangan saksi yang mengetahui pembuatan email itu atau
keterangan saksi ahli yang menerangkan keaslian email sebagai suatu alat bukti.
Oleh karena itu apabila ada perkara pidana dengan bukti berupa email, akan dinilai sangat
kurang bagi aparat penegak hukum untuk melakukan penangkapan pada tersangka. Namun bukan
berarti pelaku yang melakukan tindak pidana ini (penghinaan misalnya) bisa bebas seenaknya.
hLLp//slddlq4hm4d87blogspoLcom/2010/09/kedudukanalaLbukLlelekLronlkdalamhLml
Pemboktiun utu Ilektronik
ulum Pengudilun
JUN 17, 2009
oIeI RudInI SIIubun






z VoLes
l
9-DD-
11lotot 8elokooq
9embukLlan daLa elekLronlk adalah salah saLu penyelesalan perkara
yang menguaLkan seorang haklm unLuk menguaLkan argumenLnya unLuk
memberlkan sangsl kepada Lersangka cybercrlme dl pengadllan
Cybercrlme sendlrl merupakan Llndak pldana yang berob[ekkan dunla
lnformasl Leknologl dan elekLronlk yang dlaLur dl Dndangundang
lnformasl 1elekomunlkasl dan lekLronlk Dndangundang lnl memuaL
keLenLuankeLenLuan bagl pengguna Leknologl dan elekLronlk dldalam
penyelaksanaannya menglngaL banyaknya mafla dan pen[ahaL dunla
maya lnl Dndangundang lnl Lerlahlr berdasarkan kasuskasus cybercrlme
yang Ler[adl dan undangundang lnl mlmlllkl sangsl yang Legas dldalam
pelaksanaannya
l laln slsl pengakuan daLa elekLronlk sebagal alaL bukLl dl
pengadllan maslh dlperLanyakan valldlLasnya alam prakLek pengadllan
dl lndonesla penggunaan daLa elekLronlk sebagal alaL bukLl yang sah
belum blasa dlgunakan 9adahal dl beberapa negara daLa elekLronlk
dalam benLuk emall sudah men[adl perLlmbangan bagl haklm dalam
memuLus suaLu perkara (perdaLa maupun pldana) 9engakuan daLa
elekLronlk dl lndonesla maslh LerLlnggal [auh mellhaL pesaLnya
perkembangan dan penggunaan Leknologl lnformasl (lnLerneL) -egara
negara laln Lelah memlllkl payung hukum aLaupun peraLuran hukum yang
memberlkan pengakuan bahwa daLa elekLronlk dapaL dlLerlma sebagal
alaL bukLl yang sah dldalam pengadllan
engan perkembangan Leknologl lnformasl yang pesaL memungkln
bahwa segala Llndak Landuk masyarakaL yang berkenaan aLau
berhubungan langsung dengan keglaLan hukum serlng sekall Ler[adl
lmana perusahaan perusahaan yang menawarkan [asanya melalul
medla Cnllne serlng sekall mengadakan per[an[lan vla lnLerneL dengan
cllenL nya aLau dengan konsumennya 9er[an[lan lnl blasanya per[an[lan
[ual bell aLau sebagalnya mana kala Ler[adl suaLu sengkeLa Lerhadap
per[an[lan lnl bagalmana usaha konsumen unLuk menunLuLnya dl
pengadllan [lka pengakuan daLa elekLronlk belum dapaL dlLerlma sebagal
alaL bukLl yang sah dldalam pengadllan dl lndonesla ConLoh yang dlaLas
merupakan sebuah conLoh darl kasus yang berkenaan dengan per[an[lan
LenLunya yang berada dllapangan hukum perdaLa
ldalam lapangan hukum 9ldana sebenarnya pengakuan daLa
elekLronlk sebagal alaL bukLl yang sah sudah dlakul walaupun Lldak secara
seluruhnya dlpahaml sebagal conLoh Dndangundang -omor 8 Lahun
1981 LenLang ukum cara 9ldana dl mana suraL Lermasuk dalam salah
saLu alaL bukLl dldalam Dndangundang -omor 20 Lahun 2001 LenLang
9erubahan aLas DndangDndang no 31 Lahun 1999 LenLang
9emberanLasan 1lndak 9ldana korupsl yang menyaLakan bahwa alaL
bukLl yang sah dalam benLuk peLun[uk khusus unLuk Llndak pldana
korupsl [uga dapaL berupa alaL bukLl laln yang berupa lnformasl yang
dlucapkan dlklrlm dlLerlma aLau dlslmpan secara elekLronls serLa
dldalam Dndangundang -omor 13 Lahun 2002 LenLang 9emberanLasan
1lndak 9ldana 9encuclan Dang yang menegaskan bahwa alaL bukLl
pemerlksaan Llndak pldana pencuclan uang berupa lnformasl yang
dlslmpan secara elekLronls aLau yang Lerekam secara elekLronls hal lnl
menun[ukan bahwa sesungguhnya daLa elekLronlk Lelah dlLerlma sebagal
alaL bukLl yang sah dldalam pengadllan dl lndonesla walaupun dalam hal
pencarlan pembukLlannya dl perlukan keLerangan ahll yang ahll dalam
bldang LersebuL unLuk menguaLkan suaLu pembukLlan yang menggunakan
daLa elekLronlk LersebuL
12letomosoo mosolob
Apu suju yung menjudI bukLI-bukLI eIekLronIk (EIecLronIc EvIdence)
yung dIgunukun unLuk membukLIkun perkuru kejuIuLun dunIu muyu
duIum pemerIksuun dI PengudIIun?
z BuguImunu curu unLuk mengukuI duLu eIekLronIk sebuguI uIuL bukLI
yung suI dI duIum pengudIIun?
ll
9,-
z.:.Apc scjc cn menjcdi bulti-bulti eleltronil (Electronic
Etidence) cn diunclcn untul membultilcn perlcrc
lejchctcn dunic mcc dclcm pemerilsccn di Pencdilcn?
BukLI-bukLI EIekLronIk (EIecLronIc EvIdence) yung dIgunukun
unLuk membukLIkun perkuru kejuIuLun dunIu muyu duIum
pemerIksuun dI PengudIIun uduIuI berupu TumpIIun SILus yung
Terkenu DeIuce (yung dIrubuI LumpIIun websILe-nyu) dun og-Iog
IIe (wukLu LerjudInyu perbuuLun LersebuL) serLu nLerneL ProLocoI
(P) yung dIjudIkun Tundu BukLI DIrI yung dupuL mendeLeksI
peIuku KejuIuLun DunIu Muyu dun dupuL menunjukkun keberuduun
penggunu kompuLer ILu sendIrI Dengun meneIILI dun memerIksu
pemIIIk nomor P ukun dupuL dIkeLuIuI IokusI penggunu P
LersebuLDuIum pemerIksuun kejuIuLun dunIu muyu dI PengudIIun,
seorung AIII memegung perunun yung sunguL penLIng unLuk
memberIkun keLerungun yung berkuILun dengun rekumunJsuIInun
duLu (duLu recordIng) yung menjudI BukLI EIekLronIk LersebuL
upukuI suduI berjuIun sesuuI dengun prosedur yung berIuku (LeIuI
dIkuIIbrusI dun dIprogrum) serLu dIperoIeI durI sebuuI sIsLem
jurIngun kompuLer yung secure und LrusLworLIy (umun dun Iuyuk
dIpercuyu) sedemIkIun rupu seIInggu IusII prInL-ouL suuLu BukLI
EIekLronIk LersebuL dupuL LerjumIn keoLenLIkunnyu dun dupuL
dILerImu duIum pembukLIun perkuru kejuIuLun dunIu muyu sebuguI
uIuL bukLI yung suI dun yung dupuL berdIrI sendIrI sebuguI ReuI
EvIdence Kedudukun seorung AIII sebuguI TesLumenLury EvIdence
InI sunguL penLIng unLuk memperjeIus kejuIuLun dunIu muyu yung
LerjudI serLu dupuL menerungkunJmenjeIuskun vuIIdILus suuLu BukLI
EIekLronIk yung memberIkun keyukInun HukIm duIum memuLus
perkuru kejuIuLun dunIu muyuPemupurun BukLI DIgILuI (eIecLronIc
evIdence) PembukLIun duIum pemerIksuun dI persIdungun
memegung perunun yung sunguL penLIng Hukum PembukLIun
mengenuI suIuI suLu uIuL ukur yung menjudI LeorI pembukLIun, yuILu
penguruIun buguImunu curu menyumpuIkun uIuL-uIuL bukLI kepudu
IukIm dI sIdung pengudIIun (bewIjsvoerIng) DuIum persIdungun,
bukLI dIgILuI ukun dIujI keoLenLIkunnyu dengun curu
mempresenLusIkun bukLI dIgILuI LersebuL unLuk menunjukkun
Iubungun bukLI dIgILuI yung dIkeLemukun LersebuL dengun kusus
kejuIuLun dunIu muyu yung LerjudI DIkurenukun proses penyIdIkun,
penunLuLun sumpuI dengun proses pemerIksuun dI pengudIIun
memerIukun wukLu yung reIuLII cukup punjung, muku sedupuL
mungkIn bukLI dIgILuI LersebuL musII usII dun sepenuInyu sumu
(orIgIn) dengun pudu suuL perLumu kuIInyu dIIdenLIIIkusI dun
dIunuIIsu oIeI penyIdIk meIuIuI uboruLorIum orensIk KompuLer
z.z.ccimcnc ccrc untul menclui dctc eleltronil sebcci clct
bulti cn sch di dclcm pencdilcn?
Cara yang perLama lLegaskan [lka suaLu prakLek blsnls yang
menggunakan perangkaL elekLronlk (kompuLer) dalam keglaLan blsnls
maka Lldak ada saLu alasan unLuk menyeLarakan dengan Lullsan asll
Cakupannya beglLu luas seperLl perseLu[uan rekaman kompllasl daLa
dalam berbagal benLuk 1ermasuk undangundang oplnl dan hasll
dlagnosa yang dlhasllkan pada wakLu Lransaksl lLu dlbuaL aLau yang
dlhasllkan melalul perLukaran lnformasl dengan menggunakan kompuLer
eglLu pula dalam kasus pldana [lka Ler[adlnya suaLu Lransfer darl anLar
bank Lerhadap nlaL pelaku unLuk melakukan moneylaundry aLau korupsl
LenLu seLlap bank memlllkl daLadaLa dldalam kompuLernya beglLu [uga
dengan kasuskasus pldana lalnnya seperLl hal nya pencabulan
pornograflpenghlnaan nama balk dan sebagalnya sebaLas blla ke[ahaLan
lLu dllakukan dengan menggunakan medla compuLer emua bukLl
LersebuL dapaL dlakul oleh hukum seLelah mendengar pendapaL
(keLerangan) seorang ahll aLau kusLodlan (dalam pasar modal) aLa
LersebuL [uga blsa dlakul Lanpa adanya keLerangan [lka sebelumnya Lelah
ada serLlflkasl Lerhadap meLode blsnls LersebuL Cara dl aLas dlsebuL
sebagal pengakuan yang dldasarkan aLas kemampuan kompuLer unLuk
menylmpan daLa (compuLer sLorage) 9engakuan LersebuL serlng
dlgunakan dalam prakLek blsnls maupun nonblsnls unLuk menyeLarakan
dokumen elekLronlk dengan dokumen konvenslonal
Cara kedua unLuk mengakul dokumen elekLronlk adalah dengan
menyandarkan pada hasll akhlr slsLem kompuLer ,lsalkan dengan
ouLpuL darl sebuah program kompuLer yang hasllnya Lldak dldahulul
dengan campur Langan secara flslk ConLohnya rekaman log ln lnLerneL
rekaman Lelepon dan Lransaksl 1,Cambar yang dlupload dalam suaLu
slLus rLlnya dengan sendlrlnya bukLl elekLronlk LersebuL dlakul sebagal
bukLl elekLronlk dan memlllkl kekuaLan hukum kecuall blsa dlbukLlkan
laln daLa LersebuL blsa dl kesamplngkan
kemudlan yang Lerakhlr adalah dengan memadukan darl dua cara
dlaLas yalLu beberapa daLa yang dlhasllkan oleh ouLpuL pada suaLu
slsLem kompuLer ( compuLer sLorage) yang selan[uLnya dlLambahl dengan
keLerangan ahll dalam bldang kompuLer dan daLa elekLronlk LenLunya
lll
9-D1D9
arl semakln pesaLnya perkembangan lnformasl 1eknologl dan
lekLronlk memungklnkan para pengguna l1 unLuk melakukan ke[ahaLan
melalul dunla maya lnl lllhaL darl banyaknya kasuskasus yang Lelah
Ler[adl yang meruglkan negara maupun plhak darl pengguna l1 serLa
beglLu mudahnya unLuk mengakses cybercrlme bagl para pen[ahaL l1
maka sebalknya peran darl pemerlnLah sendlrl dalam hal lnl harus Legas
dan Lerarah dalam penyampalan cyber law ke pengguna l1
hLLp//rudlnl76banwordpresscom/2009/06/17/pembukLlandaLaelekLronlkdalampengadllan/