Vous êtes sur la page 1sur 1

ABSTRAK PERAN PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA TERHADAP RENCANA PENGURANGAN EMISI SAMPAH DI KOTA SEMARANG

Setiap kota menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Emisi yang dihasilkan oleh sebuah kota yang tidak diimbangi dengan ruang terbuka hijau yang cukup di kota tersebut dapat menimbulkan efek rumah kaca yang kemudian berdampak pada perubahan iklim global. Sampah merupakan salah satu emisi yang bersumber langsung dari masyarakat dan akan menjadi masalah ketika pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik. Permasalahan sampah yang sering terjadi di perkotaan antara lain adalah meningkatnya timbulan sampah, terbatasnya lahan tempat pembuangan akhir sampah, kurang meratanya pelayanan persampahan kota. Selain itu, munculnya budaya NIMBY (Not In My Backyard) di masyarakat cenderung menyebabkan ketidakpedulian masyarakat terhadap masalah persampahan tersebut. Pengelolaan sampah perkotaan sudah semestinya ditangani dan menjadi tanggung jawab pemerintah. Di Indonesia, pengelolaan persampahan yang ada sudah ditangani oleh pemerintah, namun selalu ada keterbatasan dari sistem pelayaan pemerintah khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Selain pemerintah, sampah juga menjadi tanggung jawab masyarakat sebagai sumber dari sampah yang secara langsung mempunyai tanggung jawab dalam hal pengelolaan sampah terutama yang ada di sekitarnya. Konsep zero waste yang berarti bahwa pengelolaan sampah mulai dari sumbernya bukan tidak dikenalkan oleh pemerintah kepada masyarakat, namun kembali lagi kepada pola serta gaya hidup masyarakat yang cenderung membuang tanpa mendayagunakan hasil buangan mereka dan kurang sadar akan bahaya dari hasil buangan tersebut. Sebagai contoh penerapan Zero Waste di Indonesia adalah regulasi mengenai konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada masyarakat. Konsep ini mengharuskan masyarakat sebagai penyumbang sampah organic rumah tangga terbesar untuk dapat mengurangi, menggunakan kembali, serta mendaur ulang sampah sebelum akhirnya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Konsep ini bertujuan untuk mengurangi emisi sampah serta memperpanjang umur TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah di Indonesia yang masih menggunakan sistem open dumping. Kota Semarang merupakan salah satu kota yang sudah menerapkan konsep 3R di beberapa wilayahnya, hanya saja belum ada rencana khusus yang mengatur mengenai pengelolaan sampah skala rumah tangga di Kota Semarang. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah mulai diperhatikan, seperti munculnya inisiasi pengelolaan sampah 3R di Kelurahan Sampangan, Kelurahan Bulu Lor, Kelurahan Padangsari serta di wilayah lainnya yang kini mulai dibentuk. Kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan menggunakan konsep 3R ini, secara tidak langsung berkontribusi pada pengurangan jumlah sampah yang pada akhirnya dibuang ke TPA Jatibarang, sehingga dapat mengurangi dampak emisi yang ditimbulkan serta dapat memperpanjang unur TPA Jatibarang. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengalisis peran masyarakat dalam pengurangan emisi melalui pengelolaan sampah rumah tangga. Metode analisis yang digunakan dalam studi ini adalah analisis deskriptif kuantitatif untuk mengetahui seberapa besar sampah yang dihasilkan rumah tangga serta besarnya valume sampah yang dapat diminimalisir dalam pengelolaan sampah skala rumah tangga yang menggunakan konsep 3R di lingkungannya. Selain itu, dalam studi ini juga dibahas mengenai manfaat penerapan konsep 3R rumah tangga bagi lingkungan sekitar sehingga dengan adanya studi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pembuatan rencana pengelolaan sampah di Kota Semarang khususnya dalam meminimalisir volume sampah organic dari Rumah Tangga yang pada akhirnya dibuang ke TPA Jatibarang.

Kata kunci: Emisi, Rumah Tangga, 3R, Semarang