Vous êtes sur la page 1sur 17

TEORI KEPERAWATAN MADELEINE LEININGER CULTURE CARE : DIVERSITY AND UNIVERSALITY THEORY A. SEJARAH TEORI CULTUR CARE Dr.

Madeline Leininger, seorang perawat yang ahli antropologi, mempunyai andil besar dalam meningkatkan riset dalam perawatan trans-kultural dan dalam merangsang program-program studi yang erat kaitannya. Ia adalah pelopor keperawatan transkultural dan seorang pemimpin dalam mengembangkan keperawatan transkultural serta teori asuhan keperawatan yang berfokus pada manusia. Leininger juga adalah seorang perawat professional pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan budaya. Madeline Leininger lahir di Sutton, Nebraska, dan memulai karir keperawatannya setelah tamat dari program diploma di St. Anthonys School of Nursing di Denver. Pada tahun 1950 ia meraih gelar sarjana dalam ilmu biologi dari Benedictine College, Atchison Kansas dengan peminatan pada studi filosofi dan humanistik. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut ia bekerja sebagai instruktur, staf perawatan dan kepela perawatan pada unit medikal bedah sererta membuka sebuah unit perawatan psikiatri yang baru dimana ia menjadi seorang direktur pelayanan keperawatan pada St. Josephs Hospital di Omaha. Selama waktu ini ia melanjutkan pendidikan keperawatannya di Creigthton University di Omaha. Tahun 1954 Leininger meraih gelar M.S.N. dalam keperawatan psikiatrik dari Chatolic University of America di Washington, D. C. Ia kemudian bekerja pada College of Health di Univercity of Cincinnati, dimana ia menjadi lulusan pertama (M. S. N ) pada program spesialis keperawatan psikiatrik anak . Ia juga memimpin suatu program pendidikan keperawatan psikiatri di universitas tersebut dan juga sebagai pimpinan dalam pusat terapi perawatan psikiatri di rumah sakit milik universitas tersebut. Leininger bersama C. Hofling pada tahun 1960 menulis sebuah buku yang diberi judul Basic Psiciatric Nursing Consept yang dipublikasikan ke dalam sebelas bahasa dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Selama bekerja pada unit perawatan anak di Cincinnati, Leininger menemukan bahwa banyak staff yang kurang memahami

mengenai faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Dimana diantara anak-anak ini memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Ia mengobservasi perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam asuhan dan penanganan psikiatri pada anak-anak tersebut. Terapi psikoanalisa dan terapi strategi lainnya sepertinya tidak menyentuh anak-anak yang memiliki perbedaan latar belakang budaya dan kebutuhan. Leininger melihat bahwa para perawat lain juga tidak menampilkan suatu asuhan yang benar-benar adequat dalam menolong anak tersebut, dan ia dihadapkan pada berbagai pertanyaan mengenai perbedaan budaya diantara anak-anak tersebut dan hasil terapi yang didapatkan. Ia juga menemukan hanya sedikit staff yang memiliki perhatian dan pengetahuan mengenai faktor-faktor budaya dalam mendiagnosa dan manangani klien. Suatu ketika, Prof. Margaret Mead berkunjung pada departemen psikiatri University of Cincinnati dan Leiniger berdiskusi dengan Mead mengenai adanya kemungkinan hubungan antara keperawatan dan antropologi. Meskipun ia tidak mendapatkan bantuan langsung, dorongan, solusi dari Mead , Leininger memutuskan untuk melanjutkan studinya ke program doktor (Ph.D) yang berfokus pada kebudayaan, sosial, dan antropologi psikologi pada Universitas Washington. Sebagai seorang mahasiswa program doktor, Leininger mempelajari berbagai macam kebudayaan dan menemukan bahwa pelajaran antroplogi itu sangat menarik dan merupakan area yang perlu diminati oleh seluruh perawat. Kemudia ia menfokuskan diri pada masyarakat Gadsup di Eastern Highland of New Guinea, dimana ia tinggal bersama masyarakat tersebut selama hampir dua tahun. Dia dapat mengobservasi bukan hanya gambaran unik dari kebudayaan melainkan perbedaan antara kebudayaan masyarakat barat dan non barat terkait dengan praktek dan asuhan keperawatan untuk mempertahankan kesehatan. Dari studinya yang dalam dan pengalaman pertama dengan masyarakat Gadsup, ia terus mengembangkan teori perawatan kulturalnya dan metode ethno nursing. Teori dan penelitiannya telah membantu mahasiswa keperawatan untuk memahami perbedaan budaya dalam perawatan, manusia, kesehatan dan penyakit. Dia telah

menjadi pemimpin utama perawat yang mendorong banyak mahasiswa dan fakultas untuk melanjutkan studi dalam bidang anthropologi dan menghubungkan pengetahuan ini kedalam praktik dan pendidikan keperawatan transkultural. Antusiasme dan perhatiannya yang mendalam terhadap pengembangan bidang perawatan transkultural dengan fokus perawatan pada manusia telah menyokong dirinya selama 4 dekade. Tahun 1950-an sampai 1960-an, Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari pengetahuan dan penelitian antara perawatan dan anthropologi: formulasi konsep keperawatan transkultural, praktek dan prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology : Two Words to Blend ; yang merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural, menjadi dasar untuk pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang mendasari perawatan kesehatan. Buku yang berikutnya, Transcultural Nursing : Concepts, theories, research, and practise (1978 ) , mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis, praktek dalam keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama dalam praktek perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa perawatan treanskultural dan anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain, menkipun berbeda. Teori dan kerangka konsepnya mengenai universality dijelaskan dalam buku ini. Sebagai perawat profesional pertama yang melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor dalam bidang antropologi dan untuk memprakarsai beberapa program pendidikan magister dan doktor, Leininger memiliki banyak bidang keahlian dan perhatian. Ia telah memepelajari 14 kebudayaan mayor secara lebih mendalam dan telah memiliki pengalaman dengan berbagai kebudayaan. Disamping perawatan transkultural dengan asuhan keperawatan sebagai fokus utama , bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah administrasi dan pendidikan komparatif, teori-teori keperawatan, politik, dilema etik keperawatan dan perawatan kesehatan, metoda riset kualitatif, masa depan keperawatan dan keperawatan kesehatan, serta kepemimpinan keperawatan. Theory of Culture Care saat ini digunakan secara luas dan tumbuh secara relevan Cultural care diversity and

serta penting untuk memperoleh data kebudayaan yang mendasar dari kebudayaan yang berbeda. B. PENGERTIAN Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budayakepada manusia (Leininger, 2002). C. ASUMSI DASAR Asumsi dari mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring serta adalah esensi keperawatan, membedakan, mendominasi mempersatukan

tindakankeperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya. D. KONSEP DAN DEFINISI DALAM TEORI LEININGER 1. Budaya (Kultur) adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.

2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan. 3. Cultur care diversity (Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan) merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985). 4. Cultural care universality (Kesatuan perawatan kultural) mengacu kepada suatu pengertian umum yang memiliki kesamaan ataupun pemahaman yang paling dominan, pola-pola, nilai-nilai, gaya hidup atau simbol-simbol yang dimanifestasikan diantara banyak kebudayaan serta mereflesikan pemberian bantuan, dukungan, fasilitas atau memperoleh suatu cara yang memungkinkan untuk menolong orang lain (Terminlogy universality) tidak digunakan pada suatu cara yang absolut atau suatu temuan statistik yang signifikan.

5. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain. 6. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim. 7. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia. 8. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.

9. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia. 10. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia. 11. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai. 12. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.

E. PARADIGMA KEPERAWATAN TRANSKULTURAL Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrewand Boyle, 1995). 1. Manusia Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan

melakukan

pilihan.

Menurut

Leininger

(1984)

manusia

memiliki

kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995). 2. Sehat Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Boyle, 1995). 3. Lingkungan Lingkungan sebagai didefinisikan totalitas sebagai dan keseluruhan perilaku dimana fenomena klien. klien yang mempengaruhi dipandang saling perkembangan, suatu kepercayaan Lingkungan Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and

kehidupan

dengan

budayanya

berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan. 4. Keperawatan Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya.

Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam budaya, asuhan keperawatan adalah dan perlindungan/mempertahankan mengakomodasi/negoasiasi budaya

mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991). a. Cara I : Mempertahankan budaya Mempertahankan dengan sesuai klien dengan dapat budaya nilai-nilai dilakukan yang bila dan relevan atau budaya yang pasien tidak bertentangan diberikan sehingga klien kesehatan. Perencanaan implementasi telah keperawatan dimiliki status

meningkatkan

mempertahankan

kesehatannya,

misalnya budaya berolahraga setiap pagi. b. Cara II : Negosiasi budaya Intervensi membantu menentukan kesehatan, dan implementasi keperawatan terhadap yang hamil pada tahap ini dilakukan yang untuk lebih klien beradaptasi lain budaya lebih tertentu mendukung pantang

menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan budaya misalnya klien peningkatan makan yang sedang mempunyai

berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani lain.

c. Cara III : Restrukturisasi budaya Restrukturisasi merugikan budaya klien dilakukan Perawat bila berupaya budaya yang dimiliki gaya status kesehatan. merestrukturisasi

hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut. F. PROSES KEPERAWATAN TRANSCULTURAL NURSING Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit

(sunrise model) seperti yang terlihat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 1. The Sunrise Model ( Model matahari terbit) Sunrise Model dari teori Leininger dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Matahari terbit sebagai lambang/ symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada puncak dari model ini dengan pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk mempertimbangkan arah yang membuka pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk menyelidiki berfokus pada keperawatan profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah berarti mempengaruhi tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-putus pada model ini mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa tubuh manusia tidak terpisahkan/ tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka. Suatu hal yang perlu diketahui adalah agar atau nilai-nilai bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak diasosiasikan oleh perawatan

tampak pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger seluruh terminologi tersebut dapat profesional lainya. Intervensi keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien yang akan dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak selalu sesuai dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat yang produktif untuk memberikan panduan dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan kebudayan serta penelitian ilmiah.

2. Proses Keperawatan

a. Pengkajian Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi

masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu : 1). Faktor teknologi (tecnological factors) Teknologi mendapat kesehatan. berobat kesehatan, tentang kesehatan penawaran Perawat atau alasan perlu mengatasi klien dan memungkinkan menyelesaikan mengkaji masalah memilih : individu masalah persepsi alasan untuk sehat memilih sakit, mencari dan untuk atau dalam pelayanan kebiasaan bantuan klien mengatasi

kesehatan,

pengobatan

alternatif teknologi

persepsi

penggunaan

pemanfaatan

permasalahan kesehatan saat ini. 2). Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors) Agama amat sangat atas adalah terhadap adalah realistis kuat : suatu bagi para sendiri. yang simbol yang mengakibatkan Agama di yang atas harus dan pandangan motivasi oleh yang yang di pemeluknya. Faktor dianut, cara memberikan dikaji cara

untuk menempatkan agama

kebenaran agama status

segalanya,

bahkan

kehidupannya penyebab

perawat klien yang

pernikahan,

pandang agama

penyakit,

pengobatan

kebiasaan

berdampak positif terhadap kesehatan. 3). Faktor sosial pada nama tipe dan tahap panggilan, keluarga, keterikatan ini umur harus dan keluarga tempat (kinship tanggal and lahir, social : jenis factors) nama kelamin, dan

Perawat lengkap, status,

mengkaji keputusan

faktor-faktor dalam

pengambilan

keluarga,

hubungan klien dengan kepala keluarga.

4). oleh

Nilai-nilai penganut adalah dan

budaya budaya suatu

dan

gaya

hidup

(cultural baik atau

value

and dan

life

ways)

Nilai-nilai budaya posisi sakit,

budaya

adalah yang kaidah yang

sesuatu yang

yang

dirumuskan sifat

ditetapkan Norma-norma terbatas yang kondisi kebiasaan

dianggap

buruk.

mempunyai oleh kepala yang aktivitas

penerapan

pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah : jabatan kebiasaan sakit dipegang keluarga, sehari-hari bahasa dalam dan digunakan, makan, berkaitan makanan dengan dipantang

persepsi

membersihkan diri.

5). Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors) Kebijakan sesuatu keperawatan jam dan yang lintas peraturan budaya jumlah rumah (Andrew anggota sakit kegiatan and Boyle, yang yang berlaku 1995). boleh adalah dalam Yang perlu segala asuhan dikaji cara mempengaruhi individu

pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan berkunjung, keluarga menunggu, pembayaran untuk klien yang dirawat. 6). Faktor ekonomi (economical factors) Klien material Faktor klien, biaya yang yang ekonomi sumber dari dirawat dimiliki yang biaya di harus rumah dikaji sakit oleh memanfaatkan sakitnya perawat yang agar dimiliki diantaranya biaya sumber-sumber segera : oleh sembuh. pekerjaan keluarga, kantor untuk membiayai tabungan asuransi,

pengobatan, lain misalnya

sumber

penggantian

dari

atau patungan antar anggota keluarga. 7). Faktor pendidikan (educational factors) Latar belakang jalur pendidikan pendidikan klien formal adalah tertinggi pengalaman saat ini. klien Semakin dalam tinggi menempuh

pendidikan ilmiah terhadap perlu pendidikan

klien budaya

maka yang

keyakinan dan sesuai ini

klien dengan

biasanya kondisi : tingkat belajar

didukung dapat

oleh

buktibukti beradaptasi Hal yang jenis

yang dikaji

rasional pada serta

individu adalah

tersebut

belajar

kesehatannya. pendidikan secara aktif

tahap

klien,

kemampuannya

untuk

mandiri

tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. b. Diagnosa keperawatan Diagnosa budayanya keperawatan yang dapat (Giger adalah dicegah, and respon diubah klien atau 1995). sesuai dikurangi Terdapat latar melalui tiga belakang intervensi diagnosa

keperawatan.

Davidhizar,

keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini. c. Perencanaan dan Pelaksanaan Perencanaan suatu proses dan pelaksanaan strategi tiga dalam yang keperawatan tepat dan yang trnaskultural pelaksanaan ditawarkan adalah adalah dalam suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah memilih 1995). melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, Ada pedoman keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan. a. Cultural care preservation/maintenance 1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan perawatan bayi.

2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien 3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat

b. Cultural care accomodation/negotiation 1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien. 2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan 3) Apabila kesepakatan dan standar etik c. Cultual care repartening/reconstruction 1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya. 2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok 3) Gunakan pihak ketiga bila perlu 4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua 5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya konflik tidak terselesaikan, pengetahuan lakukan biomedis, negosiasi pandangan dimana klien berdasarkan

masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.

Evaluasi Evaluasi keberhasilan asuhan klien keperawatan tentang transkultural budaya dilakukan yang sesuai terhadap dengan mempertahankan

kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien. Globalisasi menyebabkan masyarakat hidup dalam suasana multikultural yang disebabkan karena migrasi antar daerah dan negara menjadi lebih mudah. Keperawatan transkultural menjadi komponen utama dalam kesehatan dan menjadi konstituen penting dari perawatan, yang mengharapkan para perawat kompeten secara budaya dalam praktek sehari-hari. Perawat yang kompeten dalam budaya memiliki pengetahuan tentang budaya lain dan terampil dalam mengidentifikasi polapola budaya tertentu sehingga dirumuskan rencana perawatan yang akan membantu memenuhi tujuan yang telah ditetapkan untuk kesehatan pasien (Gustafson, 2005). Selain itu, praktik keperawatan memberikan perawatan yang holistik. Pendekatan holistik ini meliputi perawatan fisik, psikologi , emosional, dan kebutuhan rohani pasien. Penting untuk menekankan bahwa perawat harus mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan tersebut agar dapat memberikan perawatan individual, yang telah ditetapkan sebagai hak pasien dan merupakan ciri praktek keperawatan profesional (Locsin, 2001). Dalam rangka untuk memberikan perawatan holistik, perawat juga harus harus mempertimbangkan perbedaan budaya dalam membuat rencana keperawatan. Dengan demikian, perawat harus mempunyai kompetensi budaya dalam praktek sehari-hari mereka agar pasien merasa dikenal dan diperhatikan sebagai individu dalam suatu sistem kesehatan yang sangat kompleks dan beragam secara budaya. Pekerja sosial menggambarkan kompetensi budaya sebagai suatu proses terus-

menerus berusaha untuk menyadari, menghargai keragaman, dan meningkatkan pengetahuan tentang pengaruh budaya (Bonecutter & Gleeson, 1997). Dan perawat telah mengadopsi konsep ini. Perawat menggambarkan kompetensi budaya adalah kemampuan untuk memahami perbedaan budaya dalam rangka untuk memberikan layanan berkualitas kepada pasien dengan berbagai keanekaragaman budaya (Leininger, 2002). orientasi seksual. Dengan memiliki pengetahuan tentang perspektif budaya pasien memungkinkan perawat untuk memberikan perawatan yang tepat dan efektif. Sebagai contoh, pada kasus pasien yang menolak untuk diberikan tranfusi darah dengan alasan agama, perawat yang mempunyai kompetensi budaya akan memahami dan mengatasi masalah pasien tersebut dengan masalah keanekaragaman budaya. Perawat mungkin menghadapi pasien dari berbagai budaya dalam praktek sehari-hari dan tidak mungkin perawat dapat memahami seluruh keanekaragaman budaya. Namun, perawat dapat memperoleh pengetahuan dan skill dalam komunikasi transkultural untuk membantu memfasilitasi perawatan individual yang didasarkan pada praktek-praktek budaya. Perawat yang terampil dalam komunikasi transkultural akan lebih siap untuk memberikan perawatan yang kompeten secara budaya untuk pasien mereka. Baru-baru ini penelitian kualitatif menunjukkan bahwa masalah komunikasi adalah alasan utama perawat tidak dapat memberikan perawatan yang kompeten dalam budaya (Boi, 2000, Cioffi, 2003). Perawat menyampaikan bahwa mereka tidak nyaman dengan pasien dari budaya lain selain mereka sendiri karena hambatan bahasa. Lebih penting lagi, para perawat menjelaskan bahwa mereka tidak dapat memahami isyarat-isyarat lain yang digunakan oleh para pasien untuk berkomunikasi. Perawat menyampaikan memerlukan pendidikan dan pelatihan untuk memahami arti isyaratisyarat komunikasi nonverbal tertentu yang digunakan oleh kebudayaan yang berbeda, Perawat yang mempunyai kompetensi budaya mempunyai kepekaan terhadap isu-isu yang berkaitan dengan budaya, ras, etnis, gender, dan

misalnya kontak mata, sentuhan, diam, ruang dan jarak serta keyakinan terhadap kesehatan. Kontak mata adalah alat komunikasi yang penting, juga merupakan variabel yang paling berbeda diantara banyak budaya (Canadian Nurses Association, 2000). Perawat Amerika diajarkan untuk mempertahankan kontak mata ketika berbicara dengan pasien mereka. Berbeda dengan orang-orang Arab, yang menganggap kontak mata langsung tidak sopan dan agresif. Demikian pula, penduduk asli Amerika Utara juga menganggap kontak mata langsung hal yang tidak benar dalam budaya mereka, menatap lantai selama percakapan menunjukkan bahwa mereka mendengarkan dengan hati-hati dengan pembicara. Hispanik menggunakan kontak mata hanya bila dianggap tepat. Hal ini didasarkan pada usia, jenis kelamin, kedudukan sosial, status ekonomi, dan posisi kekuasaan. Misalnya, tetua Hispanik berbicara dengan anak-anak menggunakan kontak mata, tapi dianggap tidak pantas bagi anak-anak Hispanik untuk melihat secara langsung pada tetua mereka ketika berbicara. Dalam lingkungan perawatan kesehatan, pasien Hispanik berharap bahwa perawat dan penyedia layanan kesehatan lainnya langsung memberikan kontak mata saat berinteraksi dengan mereka, tetapi tidak diharapkan bahwa pasien Hispanik membalas dengan kontak mata langsung ketika menerima perawatan medis dan keperawatan. Ini hanya beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa orang-orang dari berbagai budaya kontak mata memandang berbeda. Sangat penting bahwa perawat harus sadar bahwa beberapa makna yang dapat disertakan pada kontak mata langsung agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan pasien. Namun demikian berikut adalah kelebihan dan kekurangan Teori Transkultural dari Leininger : A. Kelebihan : 1. Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan berbeda. pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang

2. Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll). 3. Penggunakan teori ini dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit. 4. Penggunanan teori transcultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan. 5. Teori ini banyak digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan . B. Kelemahan : 1. Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga tidak bisa berdiri sendiri dan hanya digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya. 2. Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya. Akhirnya, menurut Leininger, tujuan studi praktek pelayanan kesehatan transkultural adalah meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktek kesehatan dalam berbagai budaya (kultur) baik dimasa lalu maupun zaman sekarang, akan terkumpul persamaanpersamaan, sehingga kombinasi pengetahuan tentang pola praktek transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dari berbagai kultur.