Vous êtes sur la page 1sur 9

ASFIKSIA SECARA UMUM Oleh:

TEO SAIMARADONA (205210146) FAUZAN ARYA (0510070100125) OTTO HENRY FORD (204210026) FRISKA MARTA NOVA (205210161)

Pembimbing : dr. Rita Mawarni, Sp.F

DEFINISI
Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen (O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paruparu dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru.

GEJALA

Fase dispneu / sianosis Fase konvulsi Fase apneu Fase akhir / terminal / final

GAMBARAN POSTMORTEM PADA ASFIKSIA


Pada pemeriksaan luar : Muka dan ujung-ujung ekstremitas sianotik (warna biru keunguan) yang disebabkan tubuh mayat lebih membutuhkan HbCO2 daripada HbO2. Tardieus spot pada konjungtiva bulbi dan palpebra. Tardieus spot merupakan bintik-bintik perdarahan (petekie) akibat pelebaran kapiler darah setempat. Lebam mayat cepat timbul, luas, dan lebih gelap karena terhambatnya pembekuan darah dan meningkatnya fragilitas/permeabilitas kapiler. Hal ini akibat meningkatnya kadar CO2 sehingga darah dalam keadaan lebih cair. Lebam mayat lebih gelap karena meningkatnya kadar HbCO2.. Busa halus keluar dari hidung dan mulut. Busa halus ini disebabkan adanya fenomena kocokan pada pernapasan kuat.

Pada pemeriksaan dalam : Organ dalam tubuh lebih gelap & lebih berat dan ejakulasi pada mayat laki-laki akibat kongesti / bendungan alat tubuh & sianotik. Darah termasuk dalam jantung berwarna gelap dan lebih cair. Tardieus spot pada pielum ginjal, pleura, perikard, galea apponeurotika, laring, kelenjar timus dan kelenjar tiroid. Busa halus di saluran pernapasan. Edema paru. Kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring, fraktur tulang lidah dan resapan darah pada luka.

PATOFISIOLOGI
1.

Primer ( akibat langsung dari asfiksia ) Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe dari asfiksia. Sel - sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan O2. Bagian - bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak O2, dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel - sel serebrum, serebelum dan ganglia basalis. Di sini sel - sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial, sehingga pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru - paru, hati, ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan O2 langsung atau primer tidak jelas.

Sekunder ( berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh ) Keadaan ini didapati pada : Penutupan mulut dan hidung ( pembekapan ) Obstruksi jalan nafas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan korpus alienum dalam saluran nafas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru - paru Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan(traumatic asphyxia) Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan.
2.

JENIS ASFIKSIA

Anoksia anoksik ( anoxic anoxia ) Anoksia anemia ( anaemic anoxia ) Anoksia hambatan ( stagnant anoxia ) Anoksia jaringan ( histotoxic anoxia )

TERIMA KASIH