Vous êtes sur la page 1sur 26

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Abses dento-alveolar merupakan lesi akut dengan karakteristik struktur pus yang mengelilingi gigi. Kebanyakan pasien dapat dengan mudah diobati dengan analgesik, antibiotik, drainase dan atau dirujuk ke dokter gigi atau ahli bedah oral-maxillafacial. Bagaimanapun juga, pemeriksa harus mewaspadai komplikasi yang mungkin dari abses dento-alveolar simpleks. 1 Terjadinya abses dento-alveolar meliputi 3 proses yang jelas. Abses periapikal berasal dari pulpa dental dan biasanya sekunder terhadap caries dentis merupakan abses dental yang paling umum pada anak. Caries dentis merusak lapisan pelindung pada gigi (enamel, dentin) dan menyebabkan bakteri dapat dapat menginvasi pulpa, mengakibatkan pulpitis. Pulpitis dapat menjadi nekrosis, dengan invasi bakteri pada alveolar tulang, mengakibatkan abses. Abses periodontal melibatkan struktur penyokong pada gigi (ligamen periodontal, tulang alveolar). Ini merupakan abses dental yang paling umum pada orang dewasa tapi tidak tertutup kemungkinan muncul pada anak dengan terjepitnya benda asing pada ginggiva. Pericoronitis menggambarkan infeksi pada gusi yang meliputi bagian yang rusak dari molar ketiga.1 Kematian akibat abses dento-alveolar jarang terjadi dan kalau ada biasanya berhubungan dengan gangguan pada jalan napas. Angka kesakitan berhubungan dengan nyeri, kemungkinan gigi yang tanggal dan dehidrasi. Abses ini dapat mengenai semua ras tanpa ada yang spesifik. Abses ini juga tidak tergantung pada jenis kelamin. Dari segi usia, abses ini jarang terjadi pada balita karena abses tidak terbentuk sampai ada gigi yang rusak. Pada anak, abses periapikal adalah tipe yang paling umum dari abses dental. Ini karena kombinasi dari higiene yang buruk, enamel yang tipis, dan pertumbuhan gigi primer memiliki suplai darah yang lebih banyak, yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan terjadinya respon inflamasi.

Pada orang dewasa, abses periodontal lebih sering terjadi daripada abses periapikal.1 1.2 Batasan masalah Pembahasan referat ini dibatasi pada defenisi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan abses dento-alveolar. 1.3 Tujuan penulisan Referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai abses dento-alveolar. 1.4 Metode penulisan Referat ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur dilengkapi dengan kasus dan analisa kasus.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Abses periapikal akut adalah keadaan dimana setelah terjadi adanya pulpitis akut tetapi biasanya terlihat timbul secara spontan, dalam hubungannya dengan gigi dimana pulpanya telah mengalami nekrosis yang tidak menimbulkan gejala, baik setelah terjadinya trauma atau setelah dilakukan penambalan. Bila terdapat proses peradangan akut pada rahang pasien yang sangat hebat, tetapi meluas dengan cepat, membentuk pembengkakan peradangan pada jaringan lunak di dekatnya dan rasa sakit cenderung akan hilang. Gigi menjadi goyang dan nyeri bila disentuh, sehingga pasien berusaha menghindari makanan. Gigi ini disebut periostitik. Pada tahap awal warna sedikit kemerahan dan rasa nyeri dari mukosa mulut di atas apek gigi, mungkin merupakan tanda satu-satunya yang terlihat. Tetapi seringkali, abses periapikal yang sangat hebat berhubungan dengan pembentukan nanah intra-alveolar dan jaringan lunak didekatnya tampakmeradang dan bengkak, yang bila mengenai gigi atas dapat menutupi mata. Pembentukan nanah terjadi cukup cepat dan bila nanah meluas keluar tulang terbentuk rongga abses yang menonjol di dalam atau kadang-kadang diluar mulut. Keadaan ini disebut sebagai abses dento-alveolar. Selain pembengkakan, terlihat adanya trismus bila gigi belakang merupakan penyebab sakit tersebut. Hasil pemeriksaan sinat-X menunjukkan adanya daerah radiolusen pada sebagian besar keadaan.2 Abses periodontal akut adalah abses yang timbul pada bagian belakang poket periodontal dan terlihat berupa pembengkakan akut yang terasa sakit, sering timbul pada bagian palatal dari gigi geraham besar atas atau pada gigi seri bawah. Pembengkakan terlihat terlokalisir dan terbatasi pada alveolus. Pembengkakan eksternal sangat jarang terlihat. Gigi yang diserang selalu

dalam keadaan goyang dan hasil pemeriksaan roentgen menunjukkan pola kerusakan tulang yang tidak teratur.2 Perikoronitis akut adalah keadaan yang bersifat lebih dari nyeri permukaan, kelainan ini terbatas pada gigi geraham besar ketiga bawah (gigi bungsu), walaupun keadaan tersebut juga dapat terlihat pada gigi geraham besar atas.2 2.2. Etiologi Infeksi odontogenik bersifat polimikroba, rata-rata disebabkan 4-6 bakteri. Bakteri yang paling banyak ditemukan adalah bakteri anaerob batang gram negatif dan coccus gram positif, juga ditemukan bakteri fakultatif dan streptococcus mikroaerofilik. Perbandingan antara bakteri anaerob dan aerob adalah 2-3 : 1. Bakeri anaerob batang gram negatif lebih patogen dibandingkan bakteri fakultatif atau anaerob coccus gram positif.1 Abses dento-alveolar berasal dari infeksi periapikal akut yang seringkali merupakan akibat dari terbukanya pulpa oleh karies gigi. Kadangkadang pulpa yang vital dapat terinfeksi melalui saluran limfe, yang berhubungan dengan poket periodontal. Gigi non-vital karena trauma atau gangguan kimia dan fisik pada dentin koronal, dapat terinfeksi baik melalui saluran limpatik periodontal atau selama terjadinya bakterimia.2 Pada infeksi akut karena bakteri virulen, dapat terjadi pembentukan nanah pada apek gigi dan arah penyebaran nanah dipengaruhi oleh faktorfaktor anatomi, terutama hubungan apek terhadap bidang tulang kortikal, dan bila nanah telah terletak pada jaringan lunak, dipengaruhi oleh otot dan perlekatan fascia disekitar rahang.2 Keadaan-keadaan yang mempermudah terjadinya abses dento-alveolar, yaitu :1 1. Pulpitides adalah sebuah karies dentis yang disebabkan karena: Empeng bayi : Karies pada awal-awal masa kecil diubah pada term ini karena menyusui gambarannya termasuk diantaranya pada bayi yang

Plak : yaitu presipitasi protein saliva yang terdenaturasi yang memudahkan bakteri untuk menempel (adhesi) pada enamel gigi. 2. Pada pasien imunokompromais, bakteri dapat menyebar secara hematogen untuk menginvaginasi pulpa gigi. 3. Ginggivitis adalah infeksi secara progresif dari mahkota gigi sampai ke akar gigi. 4. Infeksi paska trauma atau infeksi paska operasi dapat menyebabkan abses dental. 2.3. Epidemiologi Abses gigi jarang terjadi pada bayi. Pada anak-anak paling banyak terjadi adalah abses periapikal. Hal ini karena higine buruk, enamel gigi yang tipis, pertumbuhan gigi primer yang memiliki suplai darah yang lebih banyak, mengkibatkan meningkatnya respon inflamasi. Pada remaja abses periodontal lebih sering terjadi daripada abses periapikal. Tidak ada perbedaan angka kejadian abses akar gigi antara laki-laki dan perempuan. Hingga saat ini juga belum ditemukan kemungkinan hubungan kejadian abses akar gigi dengan ras.1 2.4. Patogenesis Istilah dento-alveolar abses menggambarka tiga proses, yaitu :1 1. Abses periapikal 2. Abses periodontal 3. Perikoronitis Nanah dari gigi geraham atas biasanya menembus bidang tulang bukal yang tipis, di bawah daerah perluasan businator dan keluar pada sulkus bukal di dalam mulut. Kadang-kadang nanah dari gigi taring atau geraham besar pertama atas meluas dari atas daerah perluasan businator serta keluar ke pipi. Dari daerah gigi seri atas, nanah kadang-kadang meluas ke hidung, tetapi biasanya meluas ke vestibulum labial. Apek gigi seri kedua dan akar palataldari gigi geraham besar pertama terletak di dekat permukaan palatal

rahang atas, sehingga dapat merangsang terjadinya abses palatal, yang bila tidak dirawat dapat keluar pada daerah pertemuan palatum lunak dan keras. Dari gigi-gigi bawah nanah meluas terutama ke bukal, kecuali pada gigi geraham besar kedua dan ketiga, yang apeknya terletak di dekat permukaan lingual dan nanah akan meluas ke bawah otot milohoid, ke ruang submandibula dan keluar ke pipi. Dari gigi-gigi bawah yang lain nanah meluas ke bukal atau vestibulum, walaupun nanah dari gigi geraham besar pertama akan meluas ke bawah otot businator dan keluar ke kulit wajah. Abses gigi seri bawah akan menonjol pada dagu, dengan perluasan nanah melalui otot mentalis.2 2.5. Diagnosis Abses dento-alveolar dapat bersifat akut atau kronis. Pada kasus akut, terlihat abses yang timbul mendadak, biasanya tanpa gejala-gejala awal pada gigi tersebut. Selain itu terlihat pembengkakan yang sakit, serta timbul dengan cepat. Dari gigi-gigi depan atas, pembengkakan meluas disertai tertutupnya mata karena edema periorbital. Daerah pusat pembengkakan di atas gigi-gigi, terasa nyeri, membesar dengan kulit di atasnya yang berwarna merah, tetapi sebagian besar pembengkakan tersebut tidak disertai dengan rasa nyeri serta lebih mencerminkan adanya edem. Pemeriksaan sulkus bukal menunjukkan adanya pembengkakan yang nyeri, menutupi dasar vestibulum dan peradangan yang meluas ke bawah ke attached mukosa. Arah perluasan infeksi dari apek gigi lebih mudah diraba daripada dilihat. Dengan terjadinya pembentukan nanah dalam 2-3 hari, pembengkakan cenderung terlokalisir, dengan absorpsi dari edema, dan pada akhir minggu pertama abses menonjol keluar pada daerah tersebut.2 Pada sebagian besar kasus, jarang terjadi infeksi mendadak, dan kurang dramatis karena tanpa disertai edema perifer, pada keadaan tersebut lebih banyak nanah yang terbentuk dengan fluktuasi yang lebih besar.2 Hampir selalu terjadi limadenopati (submandibular) regional dan walaupun pasien terserang demam ringan, tetapi hanya ada sedikit, tandatanda gangguan sistemis yang berhubungan dengan penyakit infeksi, dan

gejala umum yang lebih berhubungan dengan rasa sakit, sukar menelan, kesulitan bernafas dan sukar tidur daripada dengan toksemia. Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis netrofil ringan dan ERS sementara meningkat. Abses gigi kronis jarang timbul pada orang dewasa dan biasanya berasal dari perawatan antibiotik tanpa menghilangkan faktor penyebab utama. Abses gigi-gigi susu biasanya bersifat kronis dan terlokalisisr, serta berhubungan dengan alveolus dan disebut parulis.2 Saluran sinus yang terbetuk akan tetap tinggal bila abses dentoalveolar tida dirawat atau dirawat denagn tidak tepat, dan mungkin berasal dari infeksi periapikal kronis. Kadang-kadang sinus pada mulut mengalami granulasi yang sangat mirip dengan piogenik granuloma. Sinus eksternal lebih sering terjafi seperti terlihat di atas dalam hubungannya dengan gigigigi seri bawah (sinus mentalis median) dan gigi geraham besar pertama, terutama gigi bawah. Pada keadaan ini, adanya band fibrotik yang menghubungkan kulit dengan rahang dapat dilihat dengan jelas.2 Gigi yang merupakan asal abses dapat segera dilihat baik sebagai gigi non-vital dengan perubahan warna ke abu-abuan atau sebagai karies yang luas atau tambalan yang besar. Gigi terasa sangat nyeri bila disentuh (periostitis) tetapi gigi-gigi didekatnya dapat juga terasa sakit. Hasil pemeriksaan radiografi mungkin diperlukan untuk membedakan gigi dengan radiolucency periapikal, tetapi hal ini tidak selalu dapat ditemukan.1,2 Gambaran foto polos diutamakan karena pemeriksaan paling mudah dilakukan. Posisi anteroposterior dan lateral leher mungkin dapat memperlihatkan massa di jaringan lunak leher yang menghalangi jalan nafas Pantomografi sangat berguna untuk mengindikasikan tulang atau gigi yang rusak. Ct scan dengan kontras intravena adalah metode paling akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, tepi dan hubungannya dengan proses inflamasi yang mengelilingi struktur vital.1 2.6. Penatalaksanaan

Pada kerusakan periodontal diobati dengan debrideman, kuretase subginggiva dan obat cuci mulut Hidrogen peroksida 3 %. Disamping itu, jika diikuti gejala-gejala sistemik seperti demam, dianjurkan pemberian pengobatan secara oral dengan menggunakan penisilin V dosis 25.000 sampai 50.000 unit/KgBB/24 jam dibagi 4 dosis. Biasanya, jika diobati gejala akan hilang dalam waktu 48 jam. Hal yang terpenting adalah konsultasi gigi, dianjurkan untuk pembersihan gigi yang teliti guna mencegah kekambuhan dan memperbaiki kerusakan periodontal.3 Penanganan komplikasi periodontitis fase akut ditujukan pada perbaikan perbaikan keadaan umum disertai pemberian antibiotik yang tepat untuk kuman penyebab dan dilakukan debrideman, selanjutnya dilakukan pembedahan untuk memperbaiki kerusakan. Upaya ini memerlukan perencanaan dan keahlian yang baik dengan mengutamakan pulihnya fungsi dari aspek kosmetik.4 2.7. Komplikasi1,2 1. Fistula dentocutaneus dari infeksi gigi kronik Fistula berkembang sebagai inflamasi kronik yang mengerosi tulang alveolar dan menyebar ke sekitar jaringan lunak. Sering tidak terdiagnosis karena infeksi gigi kronik yang sering asimtomatik dan lesi di kulit diduga bersifat lokal. 2. Osteomyelitis Osteomyelitis sering terjadi sebelum era terapi antibiotik. Osteomyelitis berasal dari inflamasi di kavitas medula dan korteks tulang. Mandibula sering dikenai daripada maksila karena maksila mempunyai suplai darah yang lebih baik. 3. Trombosis sinus kavernosus Kira-kira 10% pasien dengan trombosis sinus kavernosus memiliki fokus infeksi di gigi. Penyebaran infeksi berasal dari dental abses ke sinus kavernosus terjadi melalui pleksus vena pterygoid. Pasien sering sakit kepala, nyeri retroorbital unilateral, edema periorbital, demam, proptosis dan ptosis. Terapi terdiri dari anti biotik, anti koagulan dan terapi bedah.

4.

Angina ludwig

Terjadi karena infeksi di regio mandibula. Abses mandibula di molar 2 dan 3 bisa memperforasi mandibula dan menyebar ke daerah submandibula dan submental. Gejala klinik berupa bengkak di dasar mulut dan elevasi lidah serta displacement bagian posterior lidah. Infeksi awalnya unilateral tapi menyebar secara cepat termasuk ke bagian kontra lateral. Gejala klinik yang dominan adalah di mulut, leher, nyeri gigi, pembengkakan leher, odinofagi, disfonia, trismus dan lidah bengkak. Angina ludwig jarang pada anak-anak. 5. Sinusitis maksila Sinusitis maksila sering terjadi karena penyebaran langsunginfeksi gigi atau dari perforasi dasar sinus karena infeksi. 6. Bengkak daerah wajah, daerah yang paling sering terkena adalah submandibula dan sublingual 2.8. Prognosis Abses dento-alveolar memiliki prognosis baik dengan insisi, drainase, terapi anti biotik dan perawatan rutin.1

BAB 3 ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Suku Bangsa Alamat ANAMNESIS Seorang pasien laki laki, umur 62 tahun masuk bangsal THT RS Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 19 Agustus 2007 dengan : Keluhan Utama : Pipi kiri berlubang sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit.. Riwayat Penyakit Sekarang : Pipi kiri berlubang sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Awalnya 1 bulan yang lalu gigi kiri atas pasien nyeri dan membengkak. 2 hari kemudian pasien berobat ke rumah sakit Pariaman. Semakin lama bengkak semakin membesar dan 1 minggu yang lalu bengkak di pipi kiri pecah dan mengeluarkan nanah. Pasien berobat ke rumah sakit Pariaman dan dirawat selama 5 hari. Kemudian di rujuk ke rumah sakit M Djamil Padang. Demam sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit, hilang timbul, tidak tinggi, tidak menggigil. : Abu Bakar : 62 tahun : laki laki : Minang : Ampalu Pariaman

Riwayat hidung sering tersumbat tidak ada.. Riwayat bersin bersin di pagi hari tidak ada. Riwayat alergi makanan tidak ada. Penciuman pasien tidak terganggu. Nyeri pada telinga tidak ada. Telinga berair tidak ada. Tidak ada riwayat telinga berdenging. Rasa pusing seperti berputar tidak ada. Nyeri menelan tidak ada. Nyeri tenggorok tidak ada. Badan terasa lemah disertai nafsu makan yang menurun sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri daerah pipi kiri sejak 1 bulan yang lalu Riwayat sering sakit kepala tidak ada. Gigi berlubang atau sakit pada gigi sering dirasakan sejak lebih kurang 10 tahun yang lalu. Air ludah terasa kering atau terlalu banyak tidak ada. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat diabetes melitus sejak 8 tahun yang lalu. Tidak pernah menjalani operasi di daerah telinga, hidung dan tenggorokan sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan. Pasien adalah seorang nelayan Pasien mempunyai kebiasaan jarang menggosok gigi.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu : Tampak sakit sedang : CMC : 120/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : 370C

Pemeriksaan Sistemik Kepala Mata Leher Paru : : simetris kiri, kanan statis dan dinamis : fremitus kiri = kanan : sonor kiri = kanan : suara nafas vesikuler normal, rhonki -/-, wheezing -/: tidak ada kelainan : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : JVP 5-2 cmH2O. tidak ditemukan pembesaran KGB.

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung :

Inspeksi Palpasi Perkusi

: iktus tidak terlihat : iktus terba 1 jari medial LMCS RIC V, tidak kuat angkat : batas jantung normal

Auskultasi Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Extremitas

: bunyi jantung murni, irama teratur, bising ()

: tak tampak membuncit : hepar dan lien tidak teraba : tympani : bising usus + normal : edem -/-

Status Lokalis THT Telinga Pemeriksaan Daun telinga Kelainan Kel kongenital Trauma Radang Kel. Metabolik Nyeri tarik Nyeri tekan tragus Cukup lapang (N) Sempit Hiperemi Edema Massa Bau Warna Jumlah Jenis Membran timpani Utuh Warna Reflek cahaya Bulging Retraksi Atrofi Jumlah perforasi Jenis Kwadran Pinggir Putih mengkilat Arah jam 5 Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Putih mengkilat Arah jam 7 ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Dekstra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kuning kecoklatan sedikit kering Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kuning kecoklatan sedikit kering

Dinding liang telinga

Sekret/serumen

Perforasi

Gambar

Mastoid

Tes garpu tala

Tanda radang Fistel Sikatrik Nyeri tekan Nyeri ketok Rinne Schwabach Weber kesimpulan

Audiometri Hidung Pemeriksaan Hidung luar Kelainan Deformitas Kelainan kongenital Trauma Radang Massa

Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada positif positif Sama dengan Sama dengan pemeriksa pemeriksa Lateralisasi tidak ada Normal Normal Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Dektra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Sinus paranasal Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketok Rinoskopi Anterior Pemeriksaan Vestibulum Cavum nasi Sekret Kelainan Vibrise Radang Cukup lapang (N) Sempit Lapang Lokasi Jenis Dekstra Ada Tidak ada Cukup lapang (N) Tidak ada Tidak ada Sinistra Ada Tidak ada Cukup lapang(N) Tidak ada Tidak ada Dekstra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

Konka inferior

Konka media

Septum

Massa

Jumlah Bau Ukuran Warna Permukaan Edema Ukuran Warna Permukaan Edema Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Spina Arista Abses Perforasi Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Warna Konsistensi Mudah digoyang Pengaruh vasokonstriktor

Tidak ada Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Cukup lurus licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Cukup lurus Licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Gambar

Rinoskopi Posterior Pemeriksaan Koana Kelainan Cukup lapang (N) Sempit Lapang Warna Edem Jaringan granulasi Dekstra Cukup lapang Sinistra Cukup lapang

Mukosa

Merah muda Tidak ada Tidak ada Sukar dinilai

Merah muda Tidak ada Tidak ada Sukar dinilai

Konka inferior

Adenoid Muara tuba eustachius Massa Post Nasal Drip

Ukuran Warna Permukaan Edem Ada/tidak Tertutup sekret Edem mukosa Lokasi Ukuran Bentuk Permukaan Ada/tidak Jenis

Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Eutrofi Merah muda Licin Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Gambar

Orofaring dan mulut Pemeriksaan Palatum mole + Arkus Faring Dinding faring Kelainan Simetris/tidak Warna Edem Bercak/eksudat Warna Permukaan Ukuran Warna Permukaan Muara kripti Detritus Eksudat Perlengketan dengan pilar Warna Edema Abses Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Konsistensi Dekstra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Tidak hiperemis Licin Tidak melebar Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sinistra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Tidak hiperemis Licin Tidak melebar Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Tonsil

Peritonsil

Tumor

Gigi

Lidah

Karies/Radiks Kesan Warna Bentuk Deviasi Massa

Ada Ada Hiegene gigi dan mulut kurang baik Merah muda Merah muda Normal Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Gambar

Laringiskopi Indirek Pemeriksaan Epiglotis Kelainan Bentuk Warna Edema Pinggir rata/tidak Massa Warna Edema Massa Gerakan Warna Edema Massa Warna Gerakan Pingir medial Massa Massa Sekret Massa Sekret Massa Sekret ( jenisnya ) Dekstra Seperti kubah Merah muda Tidak ada rata Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada Baik Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Simetris Rata Tidak ada Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sinistra Seperti kubah Merah muda Tidak ada Rata Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada Baik Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Simetris Rata Tidak ada Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai

Ariteniod

Ventrikular band Plica vokalis

Subglotis/trakea Sinus piriformis Valekula

Gambar Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher

Inspeksi : tidak membesar Palpasi : tidak membesar

Pemeriksaan laboratorium Hb Leukosit Trombosit GDR : 13,6 gr% : 9500/ mm3 : 609 000/mm3 :135 mg%

Diagnosis Kerja Diagnosis Tambahan Diagnosis Banding Pemeriksaan Anjuran

: Abses maksila ::: - Rontgen foto sinus paranasal - CT Scan - kultur dan sensitifiti tes

Terapi

: IVFD RL 28 tetes/menit Ceftriaxon 2 x 1 gram Metronidazol 3 x 500 mg Konsul penyakit dalam

Prognosis - quo ad vitam - quo ad sanam

: : bonam : dubia ad bonam

Jawaban konsul penyakit dalam ; kesimpulan : PPOK

Anjuran : spirometri dan cek gula darah ulang. Ekspertise rontgen foto sinusparanasal : tidak ditemukan tanda tanda sinusitis.

Follow up 27 Agustus 2007 A/ nyeri pada pipi kiri dan mata kiri. Mata kiri berair. Sesak nafas (+). PF/ KU kesadaran nadi 80x/mnt TD nafas suhu afebris

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 25x/menit

Maksila sinistra : abses dengan ukuran 4x2 cm. Regio orbita sinistra inferior : abses dengan ukuran 6x1 cm. Diagnosa : abses maksila ec periodontal abses Terapi : 28 Agustus 2007 A/ nyeri (-), sesak nafas (+) PF/ KU kesadaran nadi 75x/mnt TD nafas suhu afebris ceftriaxon 2x 1 gram metronidazol 3x 500 mg viliron 1x1 tablet

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 20x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), pada pinggir luka tidak ada jaringan nekrotik, penyembuhan luka baik. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis

Terapi :

ceftriaxon 2x 1 gram metronidazol 3x 500 mg viliron 1x1 tablet

29 Agustus 2007 A/ nyeri (-), sesak nafas (+) PF/ KU kesadaran nadi 80x/mnt TD nafas suhu afebris

Lemah CMC Status lokalis :

120/80 21x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), pada pinggir luka tidak ada jaringan nekrotik, penyembuhan luka baik Hasil PA : radang kronik eksaserbasi akut. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Terapi : 30 Agustus 2007 A/ nyeri (-), sesak nafas (+) PF/ KU kesadaran nadi 84x/mnt TD nafas suhu afebris ceftriaxon 2x 1 gram metronidazol 3x 500 mg viliron 1x1 tablet

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 23x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), pada pinggir luka tidak ada jaringan nekrotik, penyembuhan luka baik.

Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Terapi : 31 Agustus 2007 A/ nyeri (-), sesak nafas (+), keluar nanah dari tukak (+) PF/ KU kesadaran nadi 78x/mnt TD nafas suhu afebris ceftriaxon 2x 1 gram metronidazol 3x 500 mg viliron 1x1 tablet

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 20x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), pada pinggir luka tidak ada jaringan nekrotik, penyembuhan luka baik. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Terapi : ceftriaxon 3x500 mg metronidazol 3x 500 mg

1 September 2007 A/ nyeri (+), nanah sedikit PF/ KU kesadaran nadi 72x/mnt TD nafas suhu afebris

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 18x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), penyembuhan luka baik. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Terapi : ceftriaxon 3x500 mg

metronidazol 3x 500 mg

3 September 2007 A/ nyeri (+), nanah sedikit PF/ KU kesadaran nadi 72x/mnt TD nafas suhu afebris

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 18x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), penyembuhan luka baik. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Terapi : ceftriaxon 3x500 mg metronidazol 3x 500 mg

4 September 2007 A/ nyeri (+), nanah sedikit PF/ KU kesadaran nadi 72x/mnt TD nafas suhu afebris

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 18x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), penyembuhan luka baik. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Jawaban konsul : Bagian gigi dan mulut; pemberian premedikasi sebelum ekstraksi : amoksisilin 3x500 mg metronidazol 3x500 mg asam mefenamat 3x500 mg

Bagian kulit dan kelamin; diagnosa : dermatitis seboroik Terapi : - interhistin 2x1 tablet Terapi : nerilon cream. ceftriaxon 3x 500 mg metronidazol 3x 500 mg

6 September 2007 A/ nyeri (+), nanah sedikit PF/ KU kesadaran nadi 72x/mnt TD nafas suhu afebris

Lemah CMC Status lokalis :

130/80 18x/menit

Maksila sinistra dan Regio orbita sinistra inferior : Inspeksi : pus (+), penyembuhan luka baik. Diagnosa : abses maksila dan orbita sinistra inferior ec caries dentis Terapi : ceftriaxon 3x 500 mg metronidazol 3x 500 mg

BAB 4 Diskusi Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki, 62 tahun dengan diagnosis abses maksila ec periodontal abses. Abses maksila ini merupakan abses yang terjadi akibat perluasan periodontal abses gigi geraham atas meluas dari atas daerah perluasan businator ke arah pipi. Perjalan penyakit pada pasien ini adalah suatu karies dentis yang berlanjut menjadi gangren pulpa gigi molar 1 atas (sesuai dengan konsul ke bagian gigi & mulut), yang kemudian berlanjut menjadi abses periapikal, kemudian berlanjut lagi menjadi periodontal abses dan menjadi abses maksila. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dengan pemberian antibiotik untuk kuman anaerob dan aerob dan debridement, kemudian dikonsulkan ke bagian gigi. Untuk menghilangkan fokus infeksi dilakukan ekstaksi pada gigi molar 1 ketika abses periodontal sudah tenang, karena jika fokus infeksi tidak dihilangkan akan kambuh kembali. Kasus ini sebaiknya dilakukan rawat bersama dengan bagian bedah mulut karena fokus infeksinya adalah gigi dan jaringan periodontal. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien ini jika tidak ditangani dengan baik adalah sinusitis maksila dan osteomielitis. Namun pada paiein ini dari pemeriksaan fisik dan rongent foto tidak ditemukan tanda-tanda sinusitis maksila dan osteomielitis.

Pasien dinasehatkan untuk menjaga kebersihan rongga mulut karena penyakit ini berawal dari hygiene mulut yang kurang dan sedapat mungkin memeriksakan diri ke dokter gigi secara teratur.

BAB 5 PENUTUP 5.1. Kesimpulan: 1. abses maksila merupakan perluasan dari periodontal abses 2. kebersihan rongga mulut yang buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya periodontal abses yang merupakan komplikasi karies dentis 3. penatalaksanaan pada abses maksila adalah dengan antibiotik, debridement dan ekstraksi gigi yang menjadi fokus infeksi

5.2. Saran: 1. penatalaksanaan abses maksila sebaiknya dilakukan bersama dengan bagian bedah mulut 2. menjaga kebersihan rongga mulut dan memeriksakan gigi secara teratur ke dokter gigi

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. Schneider MD, Karen. Dental Abcess. Diakses dari : www.emedicine.com. Last update 30 Maret 2006. Gayford, JJ. Penyakit Mulut ( Clinical Oral Medicine ), alih bahasa : Lilian Yuwono. Jakarta : EGC, 1990 : 44-199 Gorlin. R.J Penyakit Rongga Mulut dalam BOIES: Buku Ajar Penyakit THT. Ed.6, Jakarta : EGC, 1997: 286-288 Sjamsuhidajat. R, Jong W.D Kepala dan Leher dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed Revisi. Jakarta. EGC.1998: 449-450