Vous êtes sur la page 1sur 2

Antara aku dan Pelacur

Antara aku dan pelacur sama-sama tercipta dari Rahim seorang perempuan, banyak orang yang menganggap seorang pelacur adalah seorang yang tak punya harga diri dimata dia tapi bagiku dia sangat mulia. Tidakkah kau pernah tahu mengapa dia bekerja seperti itu tiap malam setelah menjelang anak-nya tertidur lenyap diranjang kegelapan malam, kemudian ia keluar dari pintu rumahnya dengan pelan-pelan sambil menetehkan air mata di lubuk hatinya yang dalam, itu karena persoalan ekonomi yang mencengkram batinnya demi bertahan hidup dan demi kebagiaan anaknya. namun jalannya saja berbeda dengan kita, Manusia mana yang tak ingin hidup sempurna, setiap apa yang kita butuhkan terpenuhi. Pada zaman kenabian isa as, banyak terjadi kerusakan karena ulah kaisar romawi yang zalim. Kelaparan dan kemiskinan merajalela di negeri palestina. Berbagai cara dilakukan oleh rakyat terutama para kaum miskin untuk melawan kelaparan dan kemiskinan itu Banyak cerita yang kita dengar tentang sosok pelacur "kisah seorang pelacur yang masuk surga karena menolong anjing" karena sifat murah hatinya kepada seekor anjing akhirnya masuk syurga padahal selama hidupnya melacurkan diri. Ada juga kisah seorang kiai mencari jodoh ditempat pelacuran sebut saja Kiai Marwan, ia adalah seorang kiai dari Nganjuk. + puluh tahun usianya, tetapi masih membujang. Keinginan untuk berkonsentrasi sebagai Kiai tanpa menghiraukan urusan dunia termasuk wanita, membuatnya menjadi bujang lapuk. Tapi soal kebutuhan penyaluran syahwat, tetap saja mengusik setiap hari. Apalagi kalau ia berfikir, siapa nanti yang meneruskan pesantrennya kalau ia tidak punya putra ? Dengan segala kejengkelan pada diri sendiri dan gemuruh jiwanya, akhirnya Kiai Marwan melakukan istikharoh, mohon petunjuk kepada Allah, siapa sesungguhnya wanita yang menjadi jodohnya? Petunjuk yang muncul dalam istikharoh, adalah agar Kiai Marwan mendatangi sebuah komplek pelacuran terkenal di daerahnya. Disanalah jodoh anda nanti kata suara dalam istikharoh itu. Tentu saja Kiai Marwan menangis tak habishabisnya, setengah memprotes Tuhannya. Kenapa ia harus berjodoh dengan seorang pelacur ? Bagaimana kata para santri dan masyarakat sekitar nanti, kalau Ibu Nyainya justru seorang pelacur? Ya Allah! Apakah tidak ada perempuan lain di dunia ini ? Dengan tubuh yang gontai, layaknya seorang yang sedang mabuk, Kiai Marwan nekad pergi ke komplek pelacuran itu. Peluhnya membasahi seluruh tubuhnya, dan jantungnya berdetak keras, ketika memasuki sebuah warung dari salah satu komplek itu. Dengan kecemasan luar biasa, ia memandang seluruh wajah pelacur di sana, sembari menduga-duga, siapa diantara mereka yang menjadi jodohnya. Dalam keadaan tak menentu, tiba-tiba muncul seorang perempuan muda yang cantik, berjilbab, menenteng kopor besar, memasuki warung yang sama, dan duduk di dekat Kiai Marwan. Masya Allah, apa tidak salah perempuan cantik ini masuk ke warung ini? kata benaknya. Mbak, maaf, Mbak. Mbak dari mana, kok datang kemari ? Apa Mbak tidak salah alamat ? tanya Kiai Marwan pada perempuan itu.

Perempuan itu hanya menundukkan mukanya. Lama-lama butiran airmatanya mulai mengembang dan menggores pipinya. Sambil menatap dengan mata kosong, perempuan itu mulai mengisahkan perjalanannya, hingga ke tempat pelacuran ini. Singkat cerita, perempuan itu minggat dari rumah orang tuanya, memang sengaja ingin menjadi pelacur, gara-gara ia dijodohkan paksa dengan pria yang tidak dicintainya. Masya Allah. Masya Allah Mbak.. Begini saja Mbak, Mbak ikut saya saja . kata Kiai Marwan, sambil mengisahkan dirinya sendiri, kenapa ia pun juga sampai ke tempat pelacuran itu. Dan tanpa mereka sadari, kedua makhluk itu akhirnya sepakat untuk berjodoh. Kisah tentang kiai Marwan ini sesungguhnya merupakan refleksi dari rahasia Allah yang hanya bisa difahami lebih terbuka dari dunia Sufi. Begitu mulyanya seorang pelacur, sementara aku belum tentu mendapatkan mahkota indah di surga tuhanku. Masihkah kau menganggap seorang pelacur adalah sampah bayangan hidupmu sementara kau lebih hitam darinya dan kau, aku, yang bermain di belakang sluit menganggap suci dibanding dia padahal kantung ajaib yang dia tutup sama seperti pelacur atau bahkan lebih penyusun, maman, 07 februari 2012 .