Vous êtes sur la page 1sur 5

TUGAS K3 ASAM SIANIDA

DISUSUN OLEH : NAMA : MUH.HANDRI HAMZAH NIM : 200925037 JURUSAN : TEKNIK KIMIA

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI AL KAMAL (ISTA) JAKARTA

ASAM SIANIDA (HCN)

Asam sianida seperti halida hidrogen, adalah zat molekular yang kovalen, namun mampu terdisosiasi dalam larutan air, merupakan gas yang sangat beracun (meskipun kurang beracun dari H2S), tidak bewarna dan terbentuk bila sianida direaksikan dengan sianida. Dalam larutan air, HCN adalah asam yang sangat lemah, pK25= 9,21 dan larutan sianida yang larut terhidrolisis tidak terbatas namun cairan murninya adalah asam yang kuat. Cairan HCN memiliki titik didih 25,6C dan memiliki tetapan dielektrik yang sangat tinggi (107 pada 25) sehubungan dengan penggabungan molekul molekul polar (seperti H2O) oleh ikatan hidrogen dan cairan HCN tidak stabil dan dapat terpolimerisasi dengan hebat tanpa adanya stabilisator (Cotton dan Wikinson, 1989: 305) Asam bebas HCN mudah menguap dan sangat berbahaya, sehingga semua eksperimen, dimana kemungkinan asam sianida akan dilepas atau dipanaskan, harus dilakukan didalam lemari asam. Asam sianida cepat terserap oleh alat pencernaan dan masuk kedalam aliran darah lalu bergabung dengan hemoglobin di dalam sel darah merah. Keadaan ini menyebabkan oksigen tidak dapat diedarkan dalam sistem badan. Sehingga dapat menyebabkan sakit atau kematian dengan dosis mematikan 0,5-3,5 mg HCN/kg berat badan. Glikosida sianogenetik merupakan senyawa yang terdapat dalam bahan makanan nabati dan secara potensial sangat beracun karena dapat terurai dan mengeluarkan hidrogen sianida. Asam sianida dikeluarkan dari glikosida sianogenetik pada saat komoditi dihaluskan, mengalami pengirisan atau mengalami kerusakan.

Senyawa glikosida sianogenetik terdapat pada berbagai jenis tanaman dengan nama senyawa berbeda-beda, seperti amigladin pada biji almond, apricot, dan apel, dhurin pada biji shorgun dan linimarin pada kara dan singkong. Nama kimia amigladin adalah glukosida benzaldehida sianohidrin, dhurin adalah glukosidap-hidroksi-benzaldehida sianohidrin dan linamarin glikosida aseton sianohidrin

PENENTUAN, SIFAT FISIK, MANFAAT DAN GEJALA KERACUNAN HCN Penentuan asam sianida

Bila suatu larutan perak nitrat ditambahkan pada suatu larutan yang mengandung ion sianida (misalnya, suatu alkali sianida), akan terbentuk endapan putih, tetapi setelah diaduk endapan akan larut kembali disebabkan oleh terbentuknya suatu sianida kompleks yang stabil, yang garam alkalinya dapat larut Ag+ + CN[Ag(CN)]-

Bila reaksi di atas telah lengkap, penambahan larutan perak nitrat berlebih akan menghasilkan perak sianoargentat yang tidak dapat larut, maka titik akhir titrasi ditunjukkan oleh pembentukan suatu endapan atau kekeruhan yang permanen. Kesukaran satu-satunya dalam memperoleh titik akhir yang tajam terletak pada fakta bahwa perak sianida, yang diendapkan oleh konsentrasi ion perak setempat yang sedikit berlebih sebelum titik ekivalen, sangat lambat larut kembali dan titrasi memakan banyak waktu. Pada modifikasi Deniges, ion iodida (biasanya KI, kira-kira 0,01 M) digunakan sebagai indikator, dan larutan air amonia (kira-kira 0,2 M) dimasukkan untuk melarutkan perak sianida itu. Ion iodida dan larutan amonia ditambahkan sebelum titrasi dimulai, pembentukan perak iodida (sebagai kekeruhan) akan menunjukkan titik akhir.

[Ag(NH3)2]+ + I-

AgI + 2 NH3

Selama titrasi, setiap perak iodida yang cenderung terbentuk akan ditahan dalam larutan oleh ion sianida berlebih yang selalu ada, sampai titik ekivalen tercapai. AgI + 2 CN [Ag(CN)2] - + I-

Pengendapan perak sianoargentat pada titik akhir dapat dihindari dengan penambahan larutan amonia, jika sedikit larutan kalium iodida ditambahkan sebelum titrasi dimulai, perak iodida yang sangat sedikit dapat larut, yang tak dapat larut dalam larutan amonia, akan diendapkan pada titik akhir. Pengendapan ini akan terlibat dengan jelas jika melihat menggunakan dasar yang berwarna hitam. Pada metode yang kedua, difenilkarbazida digunakan sebagai indikator adsorpsi. Titik akhir ditandai dengan berubahnya warna merah jambu menjadi violet pucat (hampir tak berwarna) di atas endapan koloidal dalam larutan encer (kira-kira 0,01 M) sebelum terlihat pendar oval. Dalam larutan-larutan 0,1 M, perubahan warna terlihat di atas partikel perak sianoargentat yang mengendap.

Sifat fisik

Penampilan : biru tidak berwarna atau pucat benda cair, atau gas tidak berwarna, (tergantung kepada suhu) dengan satu bau kenari pahit Titik leleh : -14 oC Titik didih : 25. 6 oC Berat jenis : 0. 6899 pada 18 oC Titik nyala : -18 oC

Kestabilan : Tidak cocok dengan asam, pelaku mengoxidasi kuat. Sangat tinggi mudah terbakar.

Manfaat Sianida

Asam sianida selain berbahaya bagi makhluk hidup juga dapat dimanfaatkan sebagai : 1. 2. Pengendalian binatang perusak Dalam kamar gas digunakan untuk memberi hukuman mati.

H2SO4 + 2 NaCN 2 HCN + Na2SO4 3. Dalam Industri, HCN ditambahkan langsung pada alkena, misalnya butadiene

menghasilkan adiponitril NC(CH2)4CN dengan adanya katalis Ni valensi-nol-alkilfosfit, yang bekerja dengan reaksi aditif-oksidatif dan reaksi pemindahan.

Gejala Keracunan Asam sianida

Gejala-gejala keracunan asam sianida adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Mual, perut panas, lemah dan sesak Pernafasan cepat dengan bau khas Kejang, lemas, berkeringat, mata menonjol dan midriasi Mulut mengeluarkan busa yang bercampur darah Warna kulit merah bata (pada orang kulit putih) dan sianosis