Vous êtes sur la page 1sur 4

Aborsi atau pengguguran kandungan dari kehamilan yang tidak diinginkan tergolong dosa besar dan haram hukumnya,

aborsi bisa diterima apabila ada pengecualian yang memberatkan misal mengancam nyawa si ibu, begitu pula perempuan hamil menderita sakit berat, akibat perkosaan atau janin yang terdeteksi cacat genetik secara medis. Sementara di Indonesia belum memiliki peraturan perudang-undangan dan fatwa yang memungkinkan pemberian pelayanan aborsi secara aman, ini mengakibatkan permintaan aborsi terhadap yang tidak berkompeten menjadi tinggi yang selanjutnya berkontribusi terhadap angka kematian yang tinggi, rencana amandemen UU 23 tahun 1992 tentang kesehatan untuk melegalisasikan aborsi menimbulkan wacana kontroversi, pada tanggal 22 januari 2003 sejumlah tokoh agama, masyarakat dan LSM membuat pernyataan bersama yang intinya menolak tegas legalisasi aborsi dengan alasan moralitas. Sementara itu desakan untuk melegalisasi aborsi disuarakan oleh Yayasan Kesehatan Perempua, Perkumpulan Keluarga Berencana ( PKBI ) alasa utama adalah selain memberikan alternatif bagi yang menghadapi masalah kehamilan yang tidak diinginkan sebaiknya tidak dilihat dari wacana moral. Tetapi berdasarkan UU no 1 tahun 1946 tetntang KUHP menjelaskan bahwa dengan alasan apapun melakukan tidakan aborsi adalah melanggar hukum, sedangkan pada UU Kesehatan 23 tahun 1992 aborsi diperbolehkan dengan alasan medis, isi UU yang saling bertolak belakang ini menimbulkan dilema bagi tenaga medis, sehingga dibutuhkan ketegasa Pemerintah dalam membuat undang-undang yang mengatur masalah aborsi.
Aborsi yang tidak aman merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering terabaikan di negara-negara berkembang dan juga masalah yang perlu mendapatkan perhatian yang serius pada perempuan dalam usia reproduksinya. (kesrepro.info,2002) Kalangan kedokteran sebenarnya mengenal dua jenis aborsi, antara lain :1. Abortus Spotaneusmerupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan sebelum berumur 28 minggu. Penyebabnya dapat disebabkan oleh karena penyakit si ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya berhubungan dengan kealinan pada sistem reproduksi (Syafrudin,2003)2. Abortus Provocatus ( induced abortion)Yaitu terminasi kehamilan yang dilakukan dengan sengaja karena alasan tertentu.Tentu saja yang kita bahas dalam hal ini adalah Abortus Provocatus. Sampai saat ini Indonesia masih belum melakukan legalisasi penuh terhadap aborsi. Aborsi yang diijinkan sampai saat ini hanyalah aborsi karena indikasi medis dengan persyaratan yang agak rumit yaitu persetujuan dua ahli kompeten lainnya (selengkapnya). Aborsi yang dilakukan karena sebuah kehamilan yang tidak diinginkan sampai saat ini belum dilegalisasi dengan bertameng pada alasan moral, agama, dan budaya.Marilah kita sejenak melihat sisi lain dari aborsi. Sebuah penelitian di tahun 1950-an menunjukkan hampir separuh dari kematian ibu di daerah pedesaan di Turkey disebabkan karena aborsi yang tidak aman. Banyak perempuan berupaya menghentikan kehamilannya sendiri dengan cara memasukkan batang rumput atau benda tajam lain ke dalam rahimnya untuk memancing kontraksi. Demikian banyaknya perempuan yang pernah melakukan aborsi sehingga ketika survey lain dilakukan pada waktu yang hampir bersamaan mendapatkan bahwa aborsi merupakan tindakan yang bisa diterima oleh banyak perempuan dan tenaga medis. Sayangnya saat itu, pelayanan aborsi yang aman hanya tersedia hanya di fasilitasfasilitas kesehatan di daerah perkotaan.

Kondisi di Turkey ini mungkin hampir sama dengan kondisi di Indonesia saat ini dimana aborsi tidak aman berkontribusi kepada tingginya kematian ibu. Walaupun Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menyebutkan aborsi berkontribusi 11,1% terhadap kematian ibu di Indonesia, angka sebenarnya mungkin lebih besar lagi mengingat belum dilakukannya pencatatan data mengenai tindakan aborsi. Bahkan secara informal, Direktora Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Indonesia berani menyatakan aborsi tidak aman berkontribusi hingga 50% dari kematian ibu di Indonesia ( keserepro.info,2002)Dari ilustrasi diatas, kita dapat melihat sebuah kontribusi yang diberikan oleh tindakan aborsi yang tidak aman pada meningkatnya angka kematian maternal.Patut kita pikirkan sejenak, tindakan aborsi kebanyakan terjadi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Sesuai dengan namanya, maka si Ibu pun biasanya berusaha dengan berbagai cara untuk mengakhiri kehamilannya tersebut. Jika ia tidak dapat memperoleh pertolongan melalui jalur resmi tentu saja si Ibu akan mencoba jalur non-resmi yang tentu saja memiliki risiko amat tinggi dan tentu saja kemungkinan besar tindakan ini akan berakhir pada kematian sang Ibu. Kemudian timbul satu pertanyaan, Apakah membiarkan wanita-wanita meninggal karena aborsi yang tidak aman merupakan tindakan bermoral ? Jawabannya tentu Tidak .Kebanyakan orang takut, legalisasi aborsi akan berujung pada terbukanya lebar-lebar pintu untuk Free Sex, inilah yang sering kali menjadi alasan kontra terhadap legalisasi aborsi. Mengenai masalah ini, sebenarnya masyarakat harusnya sudah cukup dewasa untuk mengetahui untung-rugi dari sebuah tindakan. Setelah mereka mengetahui itu dan masih tetap saja mempraktikkan Free Sex sehingga berujung pada sebuah Unwanted Pregnancy, sudah seyogyanyalah bagi mereka untuk menanggung sendiri risiko dari tindakan yang mereka perbuat. Risiko yang mereka hadapi sudah sangat besar. Pelarangan aborsi akan berarti penambahan risiko aborsi menjadi lebih besar. Daripada mereka meminta tolong kepada tenaga-tenaga tidak kompeten tentu akan lebih baik jika disediakan tenaga-tenaga kompeten dan legal untuk memenuhi keinginan mereka.Praktisnya, tentu saja dokter yang akan melakukan tindakan aborsi menjelaskan untung-rugi dari perbuatan aborsi itu. Menjelaskan risiko yang mungkin terjadi dan lain sebagainya. Namun, jika akhirnya pasien tetap berketetapan untuk mengakhiri kehamilannya sudah menjadi tanggung jawab seorang dokter untuk menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.Moral, budaya dan agama menjadi alasan. Padahal kita seharusnya lebih merasa tidak bermoral, tidak berbudaya dan tidak beragama bila membiarkan saja begitu banyak perempuan mati dan kesakitan karena aborsi tidak aman.

Dalam era globalisasi dan westernisasi banyak sekali para kaum muda bahkan para remaja sudah mengenal seks bebas dan tak jarang pula masa depan mereka putus ditengah jalan, yang dikarenakan hamil sebelum nikah. Ada lebih dari 2,5 juta aborsi dilakukan pertahun di Indonesia. Sungguh angka yang memprihatinkan. Janin yang diaborsi belum tentu mereka tumbuh membawa kesialan ada juga yang mungkin akan menjadi putra bangsa yang mewakili Indonesia diajang dunia. Mungkin pula ada yang menjadi artis, dan orangorang yang berguna. Lawan pendukung aborsi mungkin menemukan posisi mereka bertumbuh secara popularitas. Berdasarkan New York Times dan poling CBS yang diambil pada November, 34 persen dari mereka yang disurvei ingin tetap menjaga aborsi dapat terus dilakukan, Itulah besarannya sekarang. 44 persen ingin pembatasan yang ketat dan 21 persen ingin untuk melarang pelaksanaan aborsi. Beberapa informasi terbaru yang berhubungan dengan aborsi adalah MUI mengharamkan aborsi, kecuali beberapa alasan tertentu. Misalnya, keberadaan janin membahayakan nyawa sang ibu, janin dideteksi mengalami cacat yang tidak bisa disembuhkan, dan janin hasil perkosaan. Namun, syaratnya aborsi dilakukan sebelum janin berumur 40 hari. IDI: aborsi hanya dapat dilakukan oleh alasan medis. Barack Obama adalah pendukung aborsi, dan salah satu kebijakan pertamanya adalah mengubah keputusan George Bush sebelumnya yang tidak memberikan dana pada organisasi pendukung aborsi. Debat aborsi selalu berakhir pada satu pertanyaan: apakah janin dapat dikategorikan sebagai manusia? Seseorang tidak dapat meyatakan dengan pasti, tetapi kelompok pendukung kehidupan menitik-beratkan kerugian aborsi pada kasus-kasus kelainan sosial yang ditimbulkannya. Sedangkan kelompok pendukung aborsi menyatakan bahwa apa yang diinginkan kelompok pendukung kehidupan adalah memberikan hukuman terhadap seorang wanita atas hubungan intim yang dilakukannya atau untuk mendapatkan cuti melahirkan bagi para wanita. Bagaimanapun, jawaban ya atau tidak tidaklah menjadi soal, yang menjadi masalah adalah persoalan hidup dan mati. Dalam keputusan dari kasus sidang pengadilan antara Nona Roe yang diketahui menggugurkan kandungannya melawan Jaksa Penuntut Wade, Hakim Harry Blackmun menulis, jika kita setuju untuk menyatakan janin yang masih dalam kandungan adalah seorang manusia, maka hak menggugurkan kandungan akan hancur dan si janin memiliki jaminan hak untuk hidup. Tetapi, itulah masalahnya. Kemanusiaan si janin masih terus diperdebatkan.

Kelompok pendukung aborsi menyatakan bahwa janin adalah manusia dan mahluk hidup, tetapi ia belum menjadi bagian dari kita belum benar-benar seorang manusia. Masalah ini memang sukar untuk dibuktikan baik secara logika maupun ilmiah dan dapat menyeret kita pada pola hak hidup mahluk lainnya, karena kita bisa mengatakan bahwa mereka bukan bagian dari kita. Marilah kita lihat beberapa alasan yang dilontarkan untuk menyatakan bahwa janin itu bukan seorang manusia. Banyak sekali orang-orang pendukung aborsi mengatakan alasan-alasan yang semestinya mereka tau bahwa alasan tersebut tidak masuk akal. Diantaranya alasan-alasan tersebut adalah janin bukan manusia karena ukurannya begitu kecil. Janin bukan manusia karena saya tidak menginginkannya, janin bukan manusia karena belum memiliki rupa manusia, janin bukan manusia karena akan lahir cacat, janin bukan manusia karena nantinya dia akan mengalami siksaan, janin bukan manusia karena belum dapat merasakan apa-apa, janin bukan manusia karena belum memiliki jiwa, janin bukan manusia karena hidup didalam tubuh ibunya. Abad ini telah mengajarkan pada kita, dalam banyak pelajaran berharga, bahwa adalah berbahaya untuk mempersepsikan janin sebagai bukan manusia. Merendahkan martabat janin, mencari-cari alasan yang tepat untuk aborsi, mengganti istilah aborsi demi untuk melakukannya, membuang bayi dalam kandungan, sepertinya sudah menjalar keluar dari cincin-cincin kebijaksanaan. Saat seorang wanita setuju untuk mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya bukanlah seorang manusia sebagai alasan ia dapat diterima di lingkungan masyarakatnya, maka banyak hal yang dipertaruhkannya. Sebaiknya kita bersama-sama memeriksa keberadaan kita, perasaan kita, keinginan kita kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.