Vous êtes sur la page 1sur 11

SEGERA BANGUN JEMBATAN SELAT SUNDA!

oleh: Dr. Ir. I.F. Poernomosidhi Poerwo, M.Sc, MCIT, MIHT Tenaga Ahli Fungsional Ditjen Penataan Ruang Departemen PU

Indonesia terletak di antara dua benua, dua samudra, dan terdiri dari gugus pulau yang disebut Nusantara. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.508 pulau. Membentang 1.888 km dari 60080 Lintang Utara sampai 110150 Lintang Selatan dan 940450 Bujur Timur sampai 1410050 Bujur Barat. 81% wilayah Indonesia terdiri atas lautan/perairan, termasuk zona ekonomi ekslusif. Aglomerasi permukiman dan sebaran penduduk di Indonesia menciptakan fenomena anthropocentris dari ribuan suku dan ras di seluruh kepulauan Nusantara. Komposisi dan ratio antara jumlah penduduk dan luas wilayah pulau (besar) dan Gugus Kepulauan Laut menjadi tidak seimbang dalam konteks daya dukung Pulau dan thresholdnya. Saat ini diperkirakan penduduk Indonesia mencapai 225.6 juta (2007, Bank Dunia). Ini berarti Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke-4 di dunia. Namun kurang lebih 60% penduduk tinggal di Pulau Jawa yang luasnya sekitar 6% dari seluruh Nusantara. Ditambah dengan P.Sumatera, maka dua pulau besar di bagian Barat Indonesia ini membangkitkan tidak saja pergerakan barang dan manusia, tetapi juga kegiatan ekonomi. Perhubungan antar pulau, khususnya pulau-pulau besar dilakukan dengan kapal laut dan pesawat terbang. Namun kedua sarana angkutan tersebut tidak lepas dari pengaruh cuaca, angin, kabut, arus laut serta kondisi siang dan malam. Pulau Jawa dan Sumatera, dihubungkan oleh Selat Sunda yang secara administratif masuk dalam wilayah dua propinsi. Pulau Sangiang ke timur masuk wilayah Propinsi Banten, sedangkan pulau-pulau sebelah barat Pulau Sangiang masuk wilayah propinsi Lampung. Jarak Bakauheni ke Teluk Betung adalah 90 km, sedangkan jarak Anyer ke Jakarta adalah 120 km.

Dalam konstelasi ekonomi dunia, posisi P.Sumatera (RA) dan P.Jawa (JA) berperan sangat penting dalam konteks regional. Berdasarkan laporan Bank Dunia 2007, rata-rata pertumbuhan tenaga kerja 1.9% di atas pertumbuhan Asia Timur & Pasifik yang 1.2%, dengan proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan 17%. Gagasan Pembangunan Jembatan Selat Sunda

I F Poernomosidhi Poerwo

Dengan adanya akses Jembatan Selat Sunda, pengaruh kedua pulau ini pada Geoekonomi Dunia akan sangat signifikan. Terutama terhadap sektor industri jasa Pariwisata & Transportasi Lintas ASEAN bahkan ASIAAustralasia, termasuk akses ekonomi dengan Semenanjung Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, Singapura). Peta Geoekonomi Industri Pariwisata akan berubah dengan dihubungkannya Kawasan Telah Berkembang P.Sumatera dan Kawasan Sangat Berkembang P.Jawa-Bali.

Gagasan untuk menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dengan prasaran jembatan maupun terowongan melalui Selat Sunda telah sering disampaikan, dipublikasikan, didiskusikan dan dipelajari. Pada saat itu persoalan utama dalam mewujudkan gagasan tersebut adalah karena keterbatasan pengetahuan mengenai kondisi selat dan kekuatan alam yang mengaturnya, ketersediaan teknologi dan biaya, dan keterbatasan sumber daya manusia, sehingga keraguan yang tak terpecahkan menyebabkan perkembangan gagasan tersebut tidak berlanjut. Untuk menyeberangi Selat Sunda dibutuhkan jembatan dengan bentang yang panjang. Namun demikian, teknologi yang telah diterapkan pada beberapa negara dewasa ini telah menggugah kembali untuk melihat kemungkinan tersebut sebagai tantangan. Jembatanjembatan dengan bentang panjang melalui selat-selat yang ada telah dimungkinkan dan telah diwujudkan dibeberapa negara seperti Jepang, Denmark, Inggris, Amerika Serikat dan lain-lain. Tujuan pembangunan Infrastruktur Penghubung Selat Sunda dikaji dan rumuskan dari sisi: a. Keseimbangan sumberdaya dan pemerataan penduduk karena pada saat ini sumber daya manusia terkumpul di Pulau Jawa sedangkan Pulau Sumatera memiliki potensi sebagai sumberdaya alam. b. Komunikasi lebih intensif sehingga akan berdampak pada kestabilan politik, ekonomi dan sosial.
I F Poernomosidhi Poerwo

c.

d.

Jaringan jalan arteri primer. Untuk menutup kesenjangan jaringan jalan arteri primer sepanjang 3.500 km di Sumatera (Banda Aceh-Bangkauheni) dan 1.000 km di Jawa (Anyer-Banyuwangi) Pengembangan Pariwisata domestik akan lebih mudah dipromosikan.

Jembatan Selat Sunda perlu, karena: a. Transportasi barang dan jasa antara Jawa dan Sumatera melalui jalan darat dan penyeberangan kapal feri pada Selat Sunda sudah sangat padat. Waktu tempuh selama 2 - 3 jam untuk menyeberang Selat Sunda dengan menggunakan kapal feri dapat ditekan serta memberikan alternatif prasarana angkutan lain (jembatan) yang tidak tergantung pada pengaruh cuaca dan waktu. Jumlah penumpang yang naik dari Bakauheni adalah 450.523 orang per tahun dan dari Merak 364.329 orang per tahun dengan perkiraan pertumbuhan 6,29% per tahun. b. Pengembangan kegiatan industri yang terkonsentrasi di Pulau Jawa dapat didistribusikan ke Pulau Sumatera. c. Pembangunan jembatan Selat Sunda akan mempengaruhi pola pemanfaatan ruang dan struktur kegiatan di pulau Jawa dan pulau Sumatera terutama pada kawasan yang dipengaruhi (Propinsi Banten dan Lampung) Rencananya, jembatan di atas Selat Sunda itu memanjang 27,4 km, namun lokasi titik awal dan akhirnya belum ditetapkan (masih dalam tahap pre-FS). Pulau-pulau yang dilalui adalah pulau Kandang Lumuk, pulau Prajurit, pulau Sangiang dan pulau Ular dengan kedalaman dasar laut antara + 25 m s/d + 200 m dibawah permukaan air laut. Terdapat palung selebar 2 3 km dengan panjang lebih dari 14 km yang terletak antara pulau Sangiang dan pulau Jawa. Sementara itu, meski aktifitas gunung Anak Krakatau semenjak tahun 1927 telah terjadi 24 kali letusan (erupsi) namun merupakan letusan yang normal dan tidak membahayakan jembatan yang akan dibangun. Berdasarkan penelitian kemungkinan letusan dasyat akan terjadi lagi pada tahun 2363. Payung Hukum Jembatan Selat Sunda Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRWN telah memberikan arahan: (1) pengembangan transportasi nasional ditujukan untuk menunjang kegiatan sosial, ekonomi, pertahanan keamanan negara, menggerakkan dinamika pembangunan, dan memantapkan kesatuan wilayah nasional dengan mendukung peruntukan ruang di kawasan budidaya dan penyebaran pusat-pusat permukiman serta sektor terkait lainnya; (2) pengembangan jaringan transportasi nasional menghubungkan antar pulau, pusat permukiman, kawasan produksi, pelabuhan laut dan udara, sehingga terbentuk satu kesatuan sistem transportasi darat, laut dan udara, dan (3) jaringan transportasi nasional dikembangkan saling terkait meliputi wilayah nasional dengan luar negeri, antar wilayah dan antar kota, dan dalam keterkaitan intra dan intermoda transportasi. Sedangkan jaringan transportasi jembatan dan terowongan antarpulau dititik beratkan untuk melayani arus lalu lintas antar pulau yaitu antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, antara Pulau Jawa dan Pulau Madura, antara Pulau Jawa dan Pulau Bali, serta di kawasan yang mendukung kelancaran kerjasama antara pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain.

I F Poernomosidhi Poerwo

Sementara visi pemanfaatan ruang yang terdapat dalam RTRWN adalah : a. perkembangan kegiatan ekonomi antar pulau yang semakin seimbang dan semakin terkait untuk mendorong terwujudnya pemerataan pembangunan dan kesatuan wilayah nasional. b. sektor industri yang semakin menyebar di luar P. Jawa dan P. Sumatera sesuai dengan potensinya untuk mempercepat perkembangan ekonomi wilayah. c. penyebaran kegiatan ekonomi yang sesuai dengan potensi kawasan di wilayah nasional dan membentuk keterkaitan yang mewujudkan penguatan struktur ekonomi secara sektoral dan regional. d. industri di P. Jawa tetap berkembang akan tetapi perlu memberi perhatian khusus pada ketersediaan air dan kelestarian lingkungan. e. luas lahan pertanian secara nasional tetap dipertahankan untuk menjaga kemandirian dibidang produksi pangan. Dengan demikian perubahan fungsi lahan pertanian yang ada di P. Jawa yang menjadi permukiman dan kawasan industri harus diganti dengan pembukaan sawah baru di luar P. Jawa. f. penyebaran kegiatan ekonomi didorong ke KTI dengan memperhatikan potensi sumber daya alam, saling menguatkan dengan pengembangan pusat-pusat permukiman dan dapat menciptakan kesempatan kerja sehingga dapat menarik penduduk dari daerah padat. Jika kembali melihat ke dalam PP 26 tahun 2008, ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan, yaitu kawasan-kawasan lindung diupayakan agar dapat membentuk suatu kesatuan, dan di dalam kawasan lindung sejauh mungkin dihindari kegiatan budi daya dan permukiman. Apabila dalam kawasan lindung perlu dikembangkan kegiatan budi daya yang sangat menguntungkan untuk pembangunan nasional, kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan syarat fungsi lindung tidak terganggu. Apabila dibutuhkan, jaringan prasarana dasar seperti jaringan transportasi, jaringan kelistrikan, jaringan telekomunikasi, prasarana dan sarana distribusi air bersih serta bangunan pengendali gempa dan bencana alam dapat dibangun melalui atau dalam kawasan lindung dengan tetap mempertahankan fungsi kawasan lindung dan tidak mengganggu kelestariannya. Sementara pemanfaatan ruang dan sumber daya untuk kegiatan produksi dalam kawasan budi daya di darat, laut dan udara diutamakan untuk kemakmuran masyarakat melalui upaya peningkatan keterkaitan dengan kegiatan lain yang berdekatan, serta upaya mengurangi semaksimal mungkin dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan dan kehidupan sosial-budaya masyarakat di sekitarnya. Kegiatan budi daya di darat, laut dan udara dikembangkan saling menguatkan, serasi dan selaras dengan pengembangan permukiman, dengan memperhatikan potensi sumber daya alam, sumber daya buatan, prasarana pendukung, kemampuan investasi nasional dan kondisi ekonomi global.

I F Poernomosidhi Poerwo

Kotabumi

Peta Kawasan Andalan & Sistem Kota-kota


Metro

2
Bdr Lampung Kalianda Bakauheni Merak

Keterangan Kawasan Andalan 1. Bojonegara Merak Cilegon dsk. 2. Bandar Lampung Metro dsk. PKN PKW PKL

Cilegon Serang

Tangerang

Pandeglang Rangkasbitung

Pada saat yang sama perlu diupayakan untuk menyebarkan perkembangan kawasan-kawasan andalan dengan sektor unggulannya di wilayah nasional untuk mendorong pertumbuhan dan pemerataan perkembangan antar wilayah. Perkembangan tersebut dilakukan dengan memperhatikan potensi daerah, permukiman dan sumberdaya manusia, kemampuan investasi nasional, sumber daya buatan dan kondisi ekonomi global.

Perlu juga diupayakan untuk meningkatkan keterkaitan yang saling menguatkan antar kawasan andalan dalam wilayah nasional untuk meningkatkan sinergi perkembangan sebesar-besarnya. Kawasan permukiman diupayakan dapat berfungsi sebagai pusat pelayanan ekonomi yang berkembang secara selaras, saling memperkuat dan serasi dalam ruang wilayah nasional. Pusat-pusat permukiman tersebut membentuk suatu sistem yang mencerminkan fungsi dan hirarki pusat sesuai dengan wilayah pelayanannya dan pola keterkaitan pusat-pusat permukiman serta antara permukiman perkotaan dan perdesaan. Pengembangan pusat-pusat kegiatan itu didukung perluasan jaringan transportasi nasional untuk melayani kegiatan sosial ekonomi masyarakat, termasuk permukiman transmigrasi, kawasan-kawasan terpencil, daerah terbelakang, dan daerah perbatasan. Jaringan transportasi itu ini juga berguna untuk menghubungkan pintu-pintu ekspor-impor. Pengembangan jaringan transportasi diselaraskan dan dipadukan dengan pengembangan sistem permukiman dengan menggunakan pertimbangan : 1. pusat-pusat permukiman sebagai simpul pelayanan transportasi; 2. kebutuhan pelayanan dan jenis moda pada masing-masing simpul didasarkan pada hirarki dan fungsi permukiman serta tingkat perkembangan kawasan. 3. untuk kota-kota metropolitan, diupayakan mengembangkan jaringan transportasi yang efisien melalui penggunaan moda angkutan umum masal dipadukan dengan moda angkutan umum lainnya dengan memperhatikan efisiensi penggunaan ruang dan mempertimbangkan kemungkinan penggunaan terpadu (multi use) dari suatu ruang. Untuk kota yang memungkinkan pengembangannya diarahkan dengan pemanfaatan ruang di bawah kota. Pengembangan lintas dilakukan melalui pembangunan salah satu atau kombinasi dari prasarana jalan darat (jalan raya, kereta api, sungai dan danau) dan angkutan penyeberangan yang dapat mendorong peningkatan perkembangan kawasan dan permukiman. Melalui sistem transportasi yang efisien dan efektif dengan keterpaduan antar dan intramoda. Selanjutnya, berkaitan dengan arahan pengembangan kawasan andalan di dalam PP 26 tahun 2008 perlu dikenali beberapa kawasan andalan yang terpengaruh dengan adanya Jembatan Selat Sunda ini, yaitu Kawasan Andalan Bojonegara Merak Cilegon dsk. di
I F Poernomosidhi Poerwo

Propinsi Banten dengan sektor unggulan industri, tanaman pangan, pariwisata, perikanan dan pertambangan dan Kawasan Andalan Bandar Lampung Metro dsk. di Propinsi Lampung dengan sektor unggulan perkebunan, pariwisata, tanaman pangan, industri, dan perikanan. Beberapa Isu Strategis Pulau Sumatera Ada beberapa pokok masalah yang ada di Pulau Sumatera, di antaranya, kesenjangan perkembangan wilayah antara Pantai Barat Pantai Timur Sumatera. Wilayah Pantai Barat Pulau Sumatera lebih tertinggal dibandingkan dengan Pantai Timur Pulau Sumatera. Kemudian, pertumbuhan penduduk Sumatera rata-rata tahun 1995 1999 sebesar 1,90% per tahun relatif lebih tinggi dari laju tertumbuhan nasional pada periode waktu yang sama yang hanya sebesar 1,66%, namun pertumbuhan penduduk ini secara spasial tidak tersebar merata, hanya pada bagian Tengah dan Pantai Timur Sumatera saja. Selain itu, adanya gejala primacy kota dan lemahnya keterkaitan antar kota pada setiap propinsi di Pulau Sumatera, terutama yang berstatus sebagai ibukota propinsi. Kota-kota metropolitan Medan dan Palembang merupakan konsentrasi penduduk dan ekonomi di Sumatera, serta kota-kota cepat bertumbuh berada di Pantai Timur dan Pantai Tengah. Di Pantai Barat hanya terdapat kota Padang dan Bengkulu yang minim keterkaitannya satu dengan yang lain. Keterkaitan kedua kota ini justru ke Pantai Timur dengan kota Pekanbaru dan Palembang sebagai outlet utama. Juga lemahnya koordinasi pengelolaan kawasan lindung lintas propinsi dan Kabupaten/Kota. Dalam pengelolaan sumberdaya alam dan kelautan juga terdapat sejumlah masalah, seperti pendayagunaan potensi sumberdaya kelautan kurang optimal bahkan kurang terkontrol. Penguasaan teknologi prosesing perikanan laut masih lemah sehingga sumberdaya kelautan masih terbatas pada perikanan laut yang dalam kondisi mentah. Marineindustry belum berkembang dengan baik di Pulau Sumatera. Ini karena kurangnya perhatian dalam pengembangan pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil terutama di bagian barat Pulau Sumatera menjadi kawasan yang relatif terisolir dan kurang dapat berkembang, karena infrastruktur pendukung kegiatan perikanan laut masih sangat terbatas. Dalam pengembangan ekonomi kawasan dan kerjasama regional di Pulau Sumatera juga masih terjadi kompetisi antar propinsi untuk komoditi yang sama. Seharusnya, menyikapi kerjasama regional IMT-GT dan IMS-GT, masing-masing propinsi berupaya mengembangkan komoditi atau sektor unggulan agar daya saingnya lebih tinggi. Keterkaitan ekonomi antar propinsi se Sumatera (inter-regional trade) juga belum tercipta karena masing-masing propinsi cenderung melakukan kebijakan berorientasi ekspor komoditi mentah, dibanding industri processing seperti agroindustri dan agrobisnis dengan nilai tambah tinggi. Dalam pengembangan prasarana wilayah di Pulau Sumatera, termasuk bidang transportasi masih lemah. Karena kurang terpadunya pengembangan prasarana yang mendukung sistem inter-moda transportasi, yang dapat dilihat dari dominasi transportasi di Sumatera oleh transportasi jalan raya sehingga akibat tingginya arus kendaraan, kerusakan jalan merupakan tantangan yang sangat serius. Sementara alternatif untuk mengatasi hal itu, yaitu pengembangan sistem jaringan kereta api (Trans Sumatera Railway) yang sinergis, masih terbatas pada pelayanan di daerah-daerah di Sumatera Utara, Sumatera Barat,
I F Poernomosidhi Poerwo

Sumatera Tengah dan Lampung. Sedangkan moda lainnya seperti sistem transportasi laut dan udara, kurang bisa optimal karena ada prasyarat teknis yang harus dipenuhi. Keterisoliran pulau-pulau kecil di sekitar pantai barat Sumatera yang diakibatkan kecilnya skala ekonomi yang dihasilkan untuk langsung dijual ke kota besar. Orientasi langsung ke kota besar kurang menguntungkan bagi daerah ini. Saat sekarang wilayah ini hanya dilayani secara terbatas baik frekuensi penyeberangan maupun jumlah dan kualitas prasarana yang ada. Sistem jaringan telekomunikasi yang terbentuk di Sumatera telah melayani seluruh wilayah, hanya saja belum membentuk sistem yang kompak dan sama terutama pada pantai Barat dan Kepualuannya. Untuk itu perlu dilakukan integrasi sistem jaringan telekomunikasi dalam skala Pulau Sumatera. Beberapa Isu Strategis Pulau Jawa Sejumlah persoalan pada umumnya sama dengan Pulau Sumatera, bahkan di Jawa dengan tingkat intensitas persoalan yang dua kali lipat. Contoh, kesenjangan Pertumbuhan Kawasan Koridor Pantura dan Pansela Jawa maupun masalah kawasan rawan bencana gunung berapi, gempa bumi, gerakan tanah longsor dsb. Saat ini penduduk Pulau Jawa naik dari 128 juta (2005) ke 151 juta (2020) atau 58% dari 220 (2005) ke 55% dari 274 juta (2020) seluruh penduduk RI. 65% penduduk Jawa adalh kaum urban (2020). Lemahnya penyelenggaraan penataan ruang nasional dan daerah terutama implementasi rencana tata-ruang dan pengendalian, mengakibatkan hutan-tanahsungai Jawa rusak dan mengakibatkan bencana banjir serta erosi yang memukul penduduk miskin. Padahal tingkat Kesuburan tanah Jawa 4 x Sumatera, 6 x Kalimantan untuk tanaman padi. Air tawar Jawa menciut langka. Daya dukung ekologi dan PDB hijau membuktikan ambang batas pulau dilampaui. Kebutuhan Lahan Per Orang Per Tahun Berdasarkan Kriteria Dunia: 1. untuk lahan energi = 2.34 ha/orang 2. lahan terdegradasi = 0.20 ha/orang 3. kebun = 0.02 ha/orang 4. lahan pertanian = 0.66 ha/orang 5. lahan peternakan = 0.46 ha/orang 6. hutan = 0.50 ha/orang Total Kebutuhan Lahan = 4.18 ha/orang Berdasarkan Kriteria tersebut, maka Daya Dukung Pulau Jawa rata-rata sudah dilampaui.

I F Poernomosidhi Poerwo

Tabel Jejak Ekologi ( Ecological Footprint ) untuk P. Jawa


(Sumber Tim Studi Daya Dukung P.Jawa Ditjen Taru & Menko Perekonomian 2007)
Pendu duk (juta orang) 9.16 38.34 29.69 2.90 33.80 113.89 Kebut Lahan (Ha/orng) 4.18 4.18 4.18 4.18 4.18 Total Kebuthn Lahan (Ha) 38,288,800 160,261,200 124,104,200 12,122,000 141,284,000 476,060,200

No 1 2 3 4 5

Provinsi DKI Jabar Banten Jateng DIY Jatim Total P.Jawa

Luas Lahan (Ha) 66,100 4,630,000 3,420,600 318,800 4,792,200 13,227,700

Kondisi (Ha) -38,222,700 -155,631,200 -120,683,600 -11,803,200 -136,491,800 -462,832,500

Daya Dukung dilampaui dilampaui dilampaui dilampaui dilampaui dilampaui

Jadi, perlu dicermati lebih lanjut bagaimana perkiraan dampak pembangunan Jembatan Selat Sunda terhadap Daya Dukung dan Daya Tampung Pulau Jawa versus Pulau Sumatera. Pulau Jawa sendiri memiliki banyak Sumber Daya Alam yang dapat dikembangkan. Misal, Tropical terrestrial and marine resources yang khas utk bahan baku obat, kosmetika, produk industri dan pangan. Namun Prinsip Eco Region atau Bio-Region yang dipakai sebagai landasan UU 26/2007 Tentang Penataan Ruang perlu dijabarkan dalam konsep One Island One Plan One Integrated Management. Apalagi saat ini air tawar menjadi bahan langka, karena hutan dan Daerah Aliran Sungai dalam kondisi kritis. Pada tahun 1800an, terdapat 11.5 juta ha lahan hutan. Tahun 1989 tinggal 3 juta ha. Lahan pertanian dalam periode 1880-1930an meningkat tajam seiring laju pertumbuhan penduduk. Sampai dengan Tahun 1990 lahan pertanian relatif konstan, sementara pertumbuhan penduduk terus meningkat tajam. (Kajian Daya Dukung P.Jawa, Tim Menko Perekonomian, 2007) Dampak Pembangunan Jembatan Selat Sunda a. Perubahan struktur dan pola pemanfatan ruang pada kawasan pengaruh (outletinlet, kabupaten dan pulau-pulau yang dilalui oleh jembatan Selat Sunda).

I F Poernomosidhi Poerwo

b.

c. d. e.

Perubahan kegiatan ekonomi, sosial budaya regional yang lebih intensif yang berdampak pada adanya kecenderungan regionalisasi wilayah pengembangan tanpa dibatasi oleh batas administrasi. Kecenderungan perubahan fungsi kegiatan pelabuhan baik di Bakauheni, Panjang maupun Merak. Perubahan fungsi sistem jaringan jalan Sumatera Jawa serta perubahan tata guna lahan sepanjang jaringan jalan tersebut. Lokasi pilar jembatan menyebabkan perubahan arus air laut yang mempengaruhi
Lingkup P. Jawa
KERUSAKAN SDA DAN DAYA DUKUNG MENURUN

i r a d t a b i k a
KEMISKINAN & KUALITAS SDM

Masalah Distribusi Penduduk secara Nasional dan Dampak Ekonomi Global

OVER EXPL SDA & TATA RUANG

KINERJA PENGELOLA SDA

i r a d t a b i k a

MASALAH DASAR: Hak dan Akses terhdap SDA

MASALAH LANJUT : P-SDA berbasis - e , SDA -asset

MASALAH STRUKTURAL : PerUU, birokrasi, administrasi

Bagaimana DAMPAK Pembangunan Infrastruktur Lintas Pulau SumatRA JAwa ?

f. g. h. i. j.

k.

l.

jalur pelayaran regional dan internasional dan berdampak pada ekosistem laut di sekitarnya, pola tangkapan ikan serta abrasi pantai. Adanya perubahan fungsi kota (PKL, PKW) dan fungsi kegiatan kota (pariwisata, industri, permukiman, pertanian). Timbulnya kegiatan ekonomi (perubahan pemanfaatan ruang) di sepanjang akses yang dapat mengganggu tingkat aksesibilitas. Adanya kemungkinan terganggunya ekosistem laut antara lain terumbu karang. Adanya reklamasi pantai disebelah barat pulau Ular yang memerlukan pengelolaan ruang. Adanya peningkatan polusi (sampah, suara, estetika) pada daerah pantai dan pulau Sangiang karena peningkatan kegiatan. Adanya gangguan lingkungan akibat galian material yang membutuhkan pengelolaan terpadu antar wilayah. Potensi KaliandaWay KambasTeluk Semangka Waduk Batutegi, Anak Krakatau, Tj. Lesung, P. Sangiang, Anyer dsb. sebagai tempat pariwisata dapat lebih dikembangkan. 9

I F Poernomosidhi Poerwo

m.

Lesson Learned dari Jembatan yang menghubungkan P.Honshu dengan P. Shikoku di Jepang (Gambar : Jembatan Seto-Chuo 37 km) maka waktu kajian kelayakan, termasuk kajian pengembangan wilayahnya sampai dengan Disain Rinci diperlukan paling tidak 20 tahun (19551975), untuk konstruksi sampai selesai 15 tahun (1975-1990). (Sumber: Survey, R&D, Design and Construction for Seto Ohashi Bridges Presentation, 2008).

CATATAN PENUTUP 1. Perlunya analisis Penataan Ruang yang

mendalam terhadap dampak Infrastruktur (Jembatan) Selat Sunda, pada : o o o o o o

Kotabumi

Peta Orientasi Pelayanan Sebelum Dibangun JRaja

Metro

2
Bdr Lampung

2.

Perubahan pola dan struktur pemanfaatan ruang Perubahan Orientasi Pelayanan Sebelum 1 Sesudah (Before&After) (Lihat Gambar) Perubahan sistem transportasi Perubahan fungsi pelabuhan Kajian sosial ekonomi dan action plan untuk masyarakat terkena dampak Peta Orientasi Pelayanan Pengembangan kegiatan pariwisata Sesudah Dibangun JRaja meliputi : Kalianda Way Kambas Tl. Semangka Waduk Batutegi, A. 2 Krakatau, Tj. Lesung, P. Sangiang, Anyer dsb. Perlunya Kajian yang mendalam terhadap Pilihan Tipe Infrastruktur 1 Lintas Pulau yang dapat mengurangi dampak negatif dan menjadi pengungkit (leverage) untuk pengembangan wilayah di kedua Pulau dengan padanan dunia International terhadap Infrastruktur berbasis Jalan atau berbasis Jalan Rel atau Infrastruktur Bangunan Layang (spt Jembatan) atau Infrastruktur Bangunan Bawah Tanah / Bawah Laut (spt Terowongan). Demikian pula pengaruh gandanya (Multiplier Effect) terhadap perwujudan Ruang Nusantara. 3. Perlunya buffer zone di sepanjang Terowongan Jalan Rel Selat Inggris-Perancis. Channell Tunnel panjang 505 km jalan nasional untuk menghindari tumbuhnya kegiatan-kegiatan di sepanjang jalan tersebut 4. Perlunya sosialisasi rencana kegiatan pada stake holder pada saat FS untuk mendapatkan masukan perubahan tata ruang akibat pembangunan Jembatan Selat Sunda
Kalianda Bakauheni Merak Cilegon
Tangerang Pandeglang

Seran g

Jkt

Rangkasbitung

Keterangan

PKN

PKW PKL

10

Kotabumi

Metro

Bdr Lampung

Kalianda

Bakauheni

Merak

Cilegon

Tangerang

Pandeglang

Seran g

Jkt

Rangkasbitung

Keterangan

PKN

PKW PKL

11

I F Poernomosidhi Poerwo

10

5. 6. 7.

8.

9.

10. 11.

Perlunya kerjasama pihak perencana desain teknik Jembatan Selat Sunda dengan pihak perencana tata ruang untuk mengantisipasi dampak pemanfaatan ruang Perlunya revisi RTR propinsi/kabupaten/kota dengan masukan dari analisis dampak pemanfaatan ruang pada studi Amdal dan desain teknik Perlunya dibentuk forum kerjasama pengembangan wilayah melalui legalisasi untuk mendukung terjadinya regionalisasi kegiatan yang merumuskan kesepakatan serta jaminan kepastian hukum dalam pemanfaatan ruang Perlunya kerjasama Pemerintah Propinsi Banten, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, serta Pemerintah Propinsi Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan untuk menyiapkan sistem jaringan jalan lokal dan regional yang tidak hanya bertumpu pada / membebani jalan nasional Perlunya revitalisasi kawasan pelabuhan Merak yang akan mengalami penurunan fungsi Perlunya kajian terhadap integrasi moda transportasi dan utilitas. Akhirnya dari berbagai pengalaman dunia Internasional Gagasan untuk mewujudkan Jembatan Selat Sunda harus segera dirintis sebagaimana Gagasan Terowongan Selat Inggris (Channel Tunnel/ Chunnel/Eurotunnel) sudah dimulai sejak 1802 dan dibuka pada 1993.

I F Poernomosidhi Poerwo

11