Vous êtes sur la page 1sur 8

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK 1.

ARTI PUBLIK Publik dapat diartikan sebagai rakyat atau masyarakat yaitu masyarakat secara umum, orang banyak, umum.
NIELS MULDER Publik adalah pihak yang menerima, dan karena pembangunan ekonomi adalah tujuan kebijakan yang paling menonjol, maka bisnis dan negara atau politik uanglah yang menjadi pemain utama dalam gelanggang politik IMMANUEL KANT Publik bukan lagi para pejabat atau institusi politis, melainkan masyarakat warga (civil society) yang kritis dan berorientasi pada kepentingan moral universal umat manusia

2. MASALAH-MASLAH PUBLIK. Menurut O Jones yang dimaksud dengan masalah adalah kebutuhan-kebutuhan manusia yang perlu diatasi. Diantanya : 3. Masalah kemiskinan dan kesejahtraan Masalah pendidikan Masalah kesehatan Masalah yang berkenaan dengan bantuan usaha kecil menengah Maslah pelayanan Masalah politik. KARAKTER MASALAH PUBLIK Karakter pemimpin : pada masa rezim otoriter kebijakan publik bukan digunakan untuk tujuan yang benar (maksudnya demi kepentingan publik). Tetapi lebih kepada upaya rezim untuk mempertahankan kekuasaanya sehingga dapat langgeng hingga waktu yang tak dapat ditentukan.(Leo Agustino, 2007) Masalah kebijakan publik biasanya dapat dipicu karena kondisi sosio kultural dari masyarakat. Seperti salah satu kebijakan yang menjadi kendala dalam proses penetapan kebijakan tentang RUU porno grafi, yang menjadi pengahmbat diputuskan nya UU tersebut adalah karena faktor sosio kultural. KARAKTERISTIK MASALAH PUBLIK 1. Memiliki salingketergantungan (interdependensi) 2. SubjekEf 3. Masalah publik bersifat arEfisial, tergantung penilaian aktor kebijakan 4. Masalah publik bersifat dinamis 4. KEBIJAKAN PUBLIK

Kabijakan publik merupakan keputusan pilitik yang dikembangkan oleh badan dan pejabat pemerintahan. 5. CIRI2 KEBIJAKAN PUBLIK Menurut Williyam Dunn. Saling bergantung (interdependence), maksudnya kebijakan seringkali berkelit atau mempengaruhi masalah kebijakan lainnya. Yang pada kenyataannya masalah kebijakan bukanlah masalah yang berdiri sendiri, mereka merupakan bagian dari keseluruhan sistem masalah. - Subjektif, yaitu suatu kondisi eksternal yang menimbulkan maslah yang didefinisikan , diklasifikasikan ,dijelaskan dan dievaluasi secara selektif. Meskipun terdapat pandangan yang mengatakan bahwa masalah kerupakan hal yang objektif tetapi banyak data yang diperoleh dari lapangan dapat diinterpretasi dalam bebrbagai cara. - Artifiasial, masalah kebijakan hanya mungkin jika individu mempertimbangkan mengenai perlunya merubah situasi problematis menjadi masalah yang objektif melalui kontruksi sosial dalam mekanisme formulasi kebijakan. - Masalah kebijakan memiliki ciri yang dinamis. Banyak pemecahan yang dapat diambil sebanyak definisi yang dapat diberikan kepada suatu masalah. 6. ISU KEBIJAKAN PUBLIK Issu adalah masalah-masalah umum yang bertentangan satu sama lain. Tidak semua masalah publik dapat menjadi isu. Dan tidak semua issu dapat menjadi agenda pemerintah.

isu kebijakan publik terutama karena telah terjadi konflik atau "perbedaan persepsional" di antara para aktor atas suatu situasi problematik yang dihadapi oleh masyarakat pada suatu waktu tertentu. Dilihat dari peringkatnya, maka isu kebijakan publik itu, secara berurutan dapat dibagi menjadi empat kategori besar, yaitu isu utama, isu sekunder, isu fungsional, dan isu minor (Dunn, 1990). Kategorisasi ini menjelaskan bahwa makna penting yang melekat pada suatu isu akan ditentukan oleh peringkat yang dimilikinya. Artinya, makin tinggi status peringkat yang diberikan atas sesuatu isu, maka biasanya makin strategis pula posisinya secara politis. Sebagai kasus yang agak ekstrem, dan perspektif politik bandingkan misalnya antara status peringkat masalah kemiskinan vs masalah pergantian pengurus organisasi politik di tingkat kecamatan. Namun. perlu kiranya dicatat bahwa kategorisasi isu di atas hendaknya tidak dipahami secara kaku. Sebab, dalam praktek, masing-masing peringkat isu tadi bisa jadi tumpang tindih, atau suatu isu yang tadinya hanya merupakan isu sekunder, kemudian berubah menjadi isu utama.
7. KRITERIA ISU KEBIJAKAN PUBLIK. Isu Kebijakan merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan, rincian, penjelasan, maupun penilaian atas sesuatu masalah tertentu (Dunn, dlm Wahab). Isu kebijakan tmbul akibat terjadinya konflik atau perbedaan persepsional di antara para aktor atas suatu situasi problematik yg dihadapi oleh masyarakat pada suatu waktu tertentu. Isu Kebijakan secara berurut dpt dibagi dlm 4 kategori, yaitu: Isu Utama, Isu sekunder, Isu fungsional, Isu minor. Artinya makin

tinggi status peringkat suatu isu, maka makin strategis posisinya secara politis. Pada kondisi normal, bahwa agar suatu isu dapat menjadi kebijkaan publik hrs mampu menembus pelbagai pintu akses kekuasaan berupa saluran tertentu (birokrasi dan politik) bai secara formal maupun informal yg relatif tersedia dlm sistem politik.

Diantara sejumlah kriteria itu yang penting ialah: 1. Isu tersebut telah mencapai suatu titik kritis tertentu, sehingga ia praktis tidak lagi bisa diabaikan begitu saja; atau ia telah dipersepsikan sebagai suatu ancaman serius yang jika tak segera diatasi justru akan menimbulkan luapan krisis baru yang jauh lebih hebat di masa datang. 2. Isu tersebut telah mencapai tingkat partikularitas tertentu yang dapat menimbulkan dampak (impact) yang bersifat dramatik. 3. Isu tersebut menyangkut emosi tertentu dilihat dan sudut kepentingan orang banyak bahkan umat manusia pada umumnya, dan mendapat dukungan berupa liputan media massa yang luas. 4. Isu tersebut menjangkau dampak yang amat luas. 5. Isu tersebut mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan (legitimasi) dalam masyarakat. 6. Isu tersebut menyangkut suatu persediaan yang fasionable, di mana posisinya sulit untuk dijelaskan tapi mudah dirasakan kehadirannya.Meskipun kriteria di atas memiliki derajat kredibilitas dan makna ilmiah yang cukup tinggi, namun hendaknya jangan dijadikan sebagai resep siap pakai, melainkan hanya sekadar dijadikan sebagai semacam kerangka acuan. Sebab, banyak bukti yang menunjukkan, bahwa meskipun beberapa persyaratan di atas relatif terpenuhi, dalam praktek kebijakan di Indonesia ternyata tidak jalan.

8. UNSUR-UNSUR DARI ARGUMENTASI KEBIJAKAN 9. AGENDA KEBIJAKAN Ada 2 tipe agenda dasar kebijakan menurut Roger Cobb dan Charles Elder, yaitu : aegnda sistemik (the systemic agenda) dan agenda institusional (institusional agenda). Agenda sistemik menurut mereka berisi mengenai semua persoalan yang dipandang secara umum oleh anggota kelompok politik sebagai suatu hal masalah yang berada dalam kewenangan sah dari setiap tingkat pemerintahan yang ada. Karena itu agenda sistemik akan ada pada variasi level sistem politik baik dalam skala lokal, regional dan nasional. Contoh, masalh kriminalitas dijalan, akan muncul pada tingkat pemerintah lokal, pemerintah regional, maupun pemerintahan nasional. Tetapi masalah pembayaran utang luar negri hanya akan ada pada agenda sistemik level nasional. Agenda institusional, merujuk kepada cobb dan Elder, dapat berisi maslah-maslah lama (old items) dan masalah maslah baru (new items). Maslah-maslah lama merupakan problem yang selalu muncul secara reguler pada agenda pemerintah, seperti misalnya : peningkatan gaji PNS, keamanan, penambahan fasilitas publik, atau alokasi anggaran. Sedangkan maslah baru timbul karena situasi atau kejadian tertentu, seperti : pemogokan karyawan kereta api, atau krisis kebijakan luar negeri, atau karena perkembangan dukungan yang meluas bagi suatu tindkan pada masalah masalah seperti pengawasan senjata atau pengurangan polusi udara. (Leo Agustino, 2008)

10. JENIS-JENIS AGENDA KEBIJAKAN PUBLIK 11. PERUMUSAN/ PROSES KEBIJAKAN PUBLIK Menurut Irfan Islamy, bahwa perumusan usulan kebijakan yang baik dan komprehensif akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan para analis kebijakan dalam merumuskan masalah kebijakan itu sendiri.ada beberapa langkah : Mengidentifikasi alternatif-alternatif kebijakan. Karena terlalu banyaknya masalah yang ada dalam masyarakat seorang analis biasanya lebih tertarik untuk mengidentifikasi permaslahan publik yang sifatnya telah terganda dengan baku. Seorang analis hanya memodifikasi alternatif kebijakan yang pernah ada itu disesuaikan dengan iklim yang tengah mewujud saat ini.namun ketika masalah itu baru mak perumus kebijakan harus lebih hatihati dalam mengidentifikasi problem. Dimaksudkan agar menemukan akar permasalahan yang benar. mendefinisikan dan merumuskan alternatif kebijakan. Setelah alternatif kebijakan telah diidentifikasi jati dirinya, maka masing-masing alternatif tadi kemudian diberi batasan pengertiannya. Ketika hal itu sudah dilakukan, asumsinya akan sangat mempermudah para perumus kebijakan untuk menilai atau mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing alternatif. - menilai alternatif masing-masing yang tersedia. Hal ini bertujuan untuk mengetahui konsekuensi (positif maupun negatif) masing-masing alternatif. Menilai berbagai alternatif kebijakan berarti memberi bobot atau nilai tertentu pada setiap kebijakan, sehingga nampak jelas dampak ekonomis dan nonekonomisnya kebijakan-kebijakan tersebut. - serta merumuskan dan memutuskan alternatif kebijakan yang visibel untuk dilaksanakan. (memilih alternatif yang memuaskan). Tendensi yang sering muncul dalam logika penilaian alternatif kebijakan ialah alternatif kebijakan yang dinilai memiliki konsekuensi positif yang lebih banyak dibanding konsekuensi negatifnya, maka elterntif itulah yang menjadi pilihan utama untuk ditetapkan sebagai pilihan atas alternatif yang tersedia.karena mau tidak mau pemilihan alternatif yang terbaik dan memuaskan kehendak warga sangat dipengaruhi atau tergantung pada hasil penilaian terhadap masing-masing penilaian alternatif kebijakan. 12. MODEL-MODEL PERUMUSAN KEBIJAKAN PUBLIK Menurut Thomas R. Dye dalam bukunya Understanding Publik Policy ,1955. Dikutif dari leo Agustino. Terdapat sembilan formulasi kebijakan, yaitu : Model sistem, suatu kebijakan tidak mungkin terwujud dalam ruang vakum tetapi ia menjadi suatu kebijakan oleh karena interaksinya dengan lingkungan sekitar. Dalam pendekatan ini dikenal lima intrumen penting untuk memahami proses pengambilan keputusan sebuah kebijakan : Input, proses/transformasi/ output, feedback, dan lingkungan itu sendiri. Lingkungan Input. 1. Tuntutan 2. Dukungan Transformasi proses

Output

Feedback Model Elite. Model ini hendak menyatakan bahwa formulasi kebijakan publik merupakan abstraksi dari keinginan elite yang berkuasa. Dalam kontek teori politik konvensional bahwa masyarakat hanya terdapat dua kelompok. Pertama adalah kelompok masyarakat yang berkuasa, jumlahnya lebih sedikit dibanding kelompok kedua, yaitu kelompok masyarakat yang dikuasai. Kelompok elite yang berkuasa menyatakan dalam dunia real pragmatis bahwa pemegang kekuasaan politiklah yang akan melaksanakan tugas formulasi kebijakan. Dpat dipastikan bahwa bagaimana kebijakan yang dihasilkan akan berwarna kepentingan elite dibandingkan kepentingan publik.utnuk mempertahankan kekuasaannya. Model institusional / model kelembagaan, merupakan model formulasi kebijakan yang berangkat dari turunan politik tradisional yang mengatakan bahwa tugas formulasi kebijakan merupakan tugas sentral lembaga-lembaga pemerintahan secara otonom tanpa perlu melakukan interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana model ini sebenarnya hendak mengatakan bahwa tugas membuat kebijakan adalah tugas pemerintah dan publik selaku pelaksana kebijakan yang dibuat oleh institusi pemerintah. Model kelompok. Formulasi kebijakan publik model kelompok sesungguhnya abstraksi dari konflik kepentingan antar kelompok atau antar partai dalam suatu institusi atau pemerintah dalam menetapkan kebijakan publik. Contoh kebutuhan akan mewadahi kepentingan warga menjadi tujuan utama partai-partai politik agar tetap mendapat dukungan dari para pemilih dalam pemilihan umum kedepan. Model proses. Kebijakan publik dimaknai sebagai suatu aktifitas yang menyertakan rangkaian-rangkain kegiatan (yang berproses) yang berujung evaluasi kebijakan publik. Dalam memformulasikan kebijakan ada standar-standar yang seharusnya dilakukan oleh para formulator kebijakan agar kebijakan yang dihasilkan minimal sesuai dengan apa yang hendak dicapai. Model Rasional. Prinsip dasar dari model ini adalah bagaiman keputusan yang diambil oleh pemerintah harus sudah diperhitungkan rasinalitas costs and benefit nya bagi warga masyarakat. Model inkremental. Model ini merupakan model kebijakan publik yang berusaha untuk merefisi formulasi kebijakan model rasional. Model ini juga merupakan formulasi kebijakan yang melanjutkan atau memodifikasi kebijakan-kebijakan yang tengah berlangsung ataupun kebijakan yang telah lalu. Model pilihan publik. Model ini menyatakan bahwa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah haruslah kebijakan yang memang berbasis pada publik choices (pilihan publik yang mayoritas). Hal ini sesuai dengan prinsip demokratis, yang mengedepankan one-man-one vote, maka siapa yang dapat menghimpun suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemegang kekuasaan/ keputusan. Model teori Permainan (game theory). Bahwa kebijakan publik berada dalam kondisi kompetisi yang sempurna, sehingga pengaturan strategi agar kebijakan yang ditawarkan

pada pengambil keputusan lain dapat diterima, khususnya oleh para penentang. Disini lebih mngedepankan strategi dalam pengambilan kebijakan. 13. TAHAP- TAHAP DALAM PROSES KEBIJAKAN 14. AKTOR-AKTOR DALAM PERUMUSAN KEBIJAKAN (RESMI DAN TIDAK RESMI). a. AKTOR AKTOR KEBIJAKAN RESMI : 1. PEJABAT PEMBUAT PEMBUAT KEBIJAKAN, Pejabat pembuat kebijakan adalah orang yang mempunyai wewenang yang sah untuk ikut serta dalam formulasi hingga penetapan kebijakan publik walau dalam kenyataannya, beberapa orang meempunyai wewenang sah untuk bertindak dikendalikan oleh orang lain, seperti pimpinan partai politik atau kelompok penekan. Adapun aktornya adalah : Legislatif : adalah mengatakan bahwa mereka berhubungan dengan tugas politik sentral dalam pembuatan peraturan dan pembentukan kebijakan dalam suatu sistem politik. Namun hal ini tidak berarti bahwa hanya karena legislatif ditunjuk secara formal, maka mempunyai fungsi memutuskan keputusan-keputusan politik secara bebas. Contoh kebijakan yang dipengaruhi keberpihakan terhadap rakyat, seperti pajak, kesejahtraan dll. Dilain sisi dapat dipengaruhi presiden sebagai kepala negara seperti contoh menyatakan perang. Ledislatif lebih berperan di negara demokratis daripada negara-negara otoriter. - Eksekutif. Di negara- negara berkembang , lembaga eksekutuf selalu lebih berpengaruh dalam pembuatan kebijakan daripada lembaga legislatif yang sejatinya memiliki kewenangan untuk membuat legislasi. Karena secara sederhana struktur pembuat kebijakan dinegara-negara berkembang hanya terletak pada pundak eksekutif selaku pembuat kebijakan itu sendiri. Yehezkel, 1968. Mengatakan : karena sering terdapat pelayanan sipil yang tidak profesional, maka eksekutif memainkan peranan yang besar dalam menyajikan kebijakan publik untuk menyelesaikan sebagian besar permasalahan; karena kekuasaan yang lebih terkonsentrasi, maka eksekutif bebas untuk menentukan kebijakan dalam banyak isu tanpa harus menghawatirkan tentang pembentukan suati koalisi. (leo Agustino). - Instansi Administrasi. Dalam masyarakat pasca industri seperti saat ini di mana keberagaman (pluralitas) menjadi hal yang lumrah, teknis dan komleksitas masalah kebijakan pun bertambah luas sehingga menyebagiankan penyerahan kekuasaan yang luas secara formal pada instansi administrasi terkait. Legislatif tak dapat lagi memerankan fungsinya sebagai wakil rakyat secara baik oleh karena partisipasi publik secara individual menjadi cerita baru dalam masyarakat pasca industri. Warga lebih yakin bila aspirasinya disampaikan langsung pada instansi terkait, seeperti masalah sanitasi, kebersiahan dll dibandingkan kalau harus menyalurkan kepada parlemen yang sering kali mendistorsi kebutuhan dan tuntutan rakyat. Akibatnya , instansi menjadi aktor pembuat kebijakan. - Lembaga Peradilan. Di negara-negara maju pengadilan banyak telibat berdasarkan dari tuntutan paling tidak dari beberapa segmen masyarakaat untuk melibatkan hukum yang lebih jauh dalam pembentukan kebijakan yang positif di masa mendatang. Di negara- negara berkembang, pengadilan yang ada tidak mempunyai pengaruh dalam pembuatan kebijakan. Seringkali ia hanya menjadi lembaga penjamin status quo rezim yang tengah berkuasa saat itu. b. AKTOR (Partisipan) Non-pemerintah dalam Pembuat Kebijakan.

1. Kelompok Kepentingan. Kelompok kepentingan muncul untuk memainkan tugas yang penting dalam pembuatan kebijakan di hampir semua negara. Kelompok kepentingan seperti yang ditampilkan oleh organisasi buruh , bisnis, dan kepemudaan, merupakan sumber utama pemerintah dalam memproses kebijakan-kebijakan publik ke depan. Dari kelompok kepentingan inilah, biasanya, pemerintah menggali keinginan- keinginan atau kebutuhan warga yang belum daapat diberikan atau disediakan dengan baik, sehingga dikemudian hari pemerintah dapat membuat kebijakan yang lebih komprehensif dan mampu menjawab keinginan / tuntutan dan keinginan masyarakatnya. Pengaruh kelompok kepentingan dalam keuputusan politik amat tergantung pada sejumlah faktor, yaitu: besar kecilnya anggota kelompok, keuangannya dan sumber-sumber lainnya, pemimpinnya, satus sosialnya, dll. 2. Partai Politik. Di negara demikratis sekalipun partai politik berperan sentral manakala kompetisi pada pemilu dalam rangka untuk mengawasi sekaligus mengisi orang-orang di pemerintah diberlangsungkan. Mereka lebih memperhatikan kekuasaan dari pada dengan kebijakan yang akan mereka lahirkan kelak. Di Amerika dan eropa Barat pada umumnya memiliki segmen pemilih yang berbeda. Hal ini dapat dimungkinkan oleh karena partai politik tidak lagi berpikir hanya untuk memperoleh kekuasaan, tetapi berusaha memberikan yang terbaik bagi warga melalui kebijakan yang dihasilkannya manakala mereka memenangkan pemilu. 3. Warga Negara sebagai Individu. Pemilu di negara-negara demokratis secara tidak langsung menambah kepedulian pejabat publik pada kepentingan warga negaranya, khususnya pada pelibatan mereka dalam proses pembuatan kebijakan publik. Bila disederhanakan, maka aktor pembuat kebijakan dala sistem pemerintahan demikratis, merupakan interaksi antara du aktor besar, yaitu : Inside Government Actors (IGA) dan Outside Government Actors (OGA). Para aktor pembuat kebijakan ini terlibat sejak kebijakan publik itu masih berupa issu dalam agenda setting hingga proses pengambilan keutusan berlangsung. Yang termasuk ke dalam kategori Inside Government actors diantaranya : Presiden, Lembaga Eksekutif (staf husus pemerintah), para menteri, dan aparatur birokrasi. Sedang yang termasuk kedalam Outside Government Actors adalah : Lembaga Legislatif, Lembaga Yudikatif, Militer, partai Politik, kelompok Kepentingan dan kelompok Penekan, serta Media Masa. 15. NILAI-NILAI YANG MEMPENGARUHI DALAM PEMBUATAN KEPUTUSAN/ KEBIJAKAN. Beberapa nilai yang mempengaruhi dalam membuat kebijakan. Political Values, nilai nilai atau standar- standar politik. Hal ini menggambarkan bagaimana nilai nilai politis dapat merangsek masuk dalam setiap pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pengambil keputusan. Karena dipandang sebagai alat yang menguntungkan atau alat untuk mencapai tujuan partai politik atau kelompok kepentingannya. Organization Values, nilai-nilai atau standar organisasional. Pembuat keputusan hususnya birokrat , dapat juga dipengaruhi oleh nilai organisasional. Personal Values, nilai-nilai personal. Urgensi untuk melindungi atau mempromosikan keadaan fisik atau keuangan seseorang yang baik, reputasi, atau posisi historis seseorang dapat juga dijadikan sebagai kriteria keputusan. Bahwa nilai personal ini tidak akan dapat dilepaskan pada saat pengambilan kebijakan.

16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Policy Values, nilai-nilai atau standar-standar kebijakan yang berwarna kepentingan publik. Pembuat keputusan dapat bertindak baik berdasarkan persepsi mereka mengenai kepentingan publik atau kepercayaan pada kebijakan publik yang secara moral benar atau pantas. Implementasi sebagai sebagai bagian dari kebijakan. Makna implementasi. Pendekatan dalam implementasi Model implementasi Persoalan dalam implementasi Studi implementasi kebijakan ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PENGERTIAN KEBIJAKAN PUBLIK

Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan( m e l a y a n i ) k e p e r l u a n o r a n g a t a u m a s y a r a k a t y a n g m e m p u n y a i kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dantata cara yang telah ditetapkan. Pelayanan publik (public services) oleh birokrasi publik tadia d a l a h m e r u p a k a n s a l a h s a t u p e r w u j u d a n d a r i f u n g s i a p a r a t u r negara sebagai abdi masyarakat di samping sebagai abdi negara. P e l a y a n a n p u b l i k ( p u b l i c s e r v i c e s ) o l e h b i r o k r a s i p u b l i k dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat (warga negara)

Pelayanan publik dengan demikian dapat diartikan sebagaipembe rian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakatyang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai denganaturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. DEFINISI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MODEL- MODEL IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK KEBIJAKAN- KEBIJAKAN YANG CENDERUNG MENGHADAPI MASALAH FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PUBLIK IMPLEMENTASI NON.... DAN IMPLEMENTASI... EVALUASI SEBAGAI PROSES KEBIJAKAN PENGERTIAN EVALUASI KEBIJAKAN MACA- MACAM EVALUASI KEBIJAKAN. STUDI EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK DEFINISI EVALUASI KEBIJAKAN LANGKAH-LANGKAH DALAM EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK DAMPAK KEBIJAKAN PUBLIK BERBAGAI MASALAH DALA EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PENDEKATAN ANALISIS KEBIJAKAN PROSEDUR / LANGKAH ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PROSES KEBIJAKAN PUBLIK BENTUK-BENTUK ANALISIS KEBIJAKAN .