Vous êtes sur la page 1sur 31

Oleh:

Rina Nofrienis
Pembimbing:

Dr. Dina Lidadari, Sp.KK

Pendahuluan

Agen anti jamur digunakan untuk pengobatan infeksi jamur. Infeksi jamur
Sistemik
- internal - subkutan

Dermatofit
Mukokutan

Tujuan utama pengobatan infeksi jamur adalah menghilangkan atau membunuh organisme yang patogen dan memulihkan kembali flora normal kulit.

Pemberian obat anti jamur bisa secara topikal dan juga sistemik.

Mekanisme Kerja Obat

Obat yang membuat saluran ion monovalen litik (Polyene makrolid) Obat yang mengganggu sintesis asam nukleat (antimetabolit) Obat yang menghambat mitosis dengan mengganggu sitoskeleton (Sitoskeleton Agen) Obat yang menghambat systhesis ergosterol (Imidazoles and triazoles) Obat yang menghambat oksidase squalene dan menghambat sintesis ergosterol (Allylamines) Obat yang menghambat pembentukan dinding sel (Echinocandin)

Obat Anti Jamur Topikal

digunakan untuk pengobatan infeksi lokal pada kulit tubuh yang tidak berambut kurang efektif untuk pengobatan infeksi pada kulit kepala dan kuku, infeksi pada tubuh yang kronik dan luas, infeksi pada stratum korneum yang tebal seperti telapak tangan dan kaki. Efek samping yang dapat ditimbulkan lebih sedikit dibandingkan obat anti jamur sistemik

Golongan Obat Anti Jamur Topikal


Poliene : Nystatin Azole - Imidazol : Klotrimazol, Ekonazol, Mikonazol, Ketokonazol, Sulkonazol, Oksikonazol, Terkonazol, Tiokonazol, Sertakonazol Alilamin / benzilamin : Naftifin, Terbinafin, Butenafin

Obat anti jamur topikal lain : Amorolfin, Siklopiroks, Haloprogin

Nistatin

Berikatan dengan ergosterol sehingga terjadi perubahan permeabilitas membran sel jamur

Digunakan terutama untuk infeksi kandida di kulit, mukosa dan GIS

Gol. Azol-Imidazol

Relatif berspektrum luas bersifat fungistatik dan bekerja dengan cara menghambat sintesis ergosterol jamur yang mengakibatkan timbulnya defek pada membran sel jamur.

Mikonazol
Diindikasikan untuk dermatofitosis, pitiriasis versikolor dan kandidiasis kutaneus, oral dan genital Tersedia dlm bentuk krim 2% dan bedak tabur dipakai 2x1 selama 2-4 minggu. Untuk intravaginal krim 2% 1x1 selama 7 hari. Untuk oral, diberikan oral gel 2% 4x sehari.

Ketokonazol
Indikasi untuk dermatofitosis, pitiriasis versikolor, kandidiasis kutaneus dan d.seboroik. ketokonazol 2% shampoo 1x1 (5 hari) untuk p.versikolor Untuk pengobatan d.seboroik, ketokonazol 1 % cr 2x1 (2-4 minggu)

Gol. Alilamin-Benzilamin

Cara kerja: menekan biosentesis ergosterol dengan mengambat aktifitas enzim squalene eposidase.

Alilamin dan benzilamin bersifat fungisidal terhadap dermatofit dan bersifat fungistatik terhadap Candida albicans

Naftifin dan Terbinafin


Untuk terapi t.korporis, t.kruris dan kandiasis

kutaneus digunakan selama 1-2 minggu Untuk terapi t.pedis selama 2-4 minggu Sediaan dalam bentuk krim 1% dan gel 1%

Butenafin
Untuk terapi t.korporis, t.kruris dan t.pedis Bersifat fungisidal Dioleskan 1 kali sehari selama 4 minggu.

Anti Jamur Topikal Lain

Amorolfine
derivat morpolin, bekerja dengan cara menghambat

biosintesis ergosterol jamur dan spektrumnya luas. Untuk terapi t.korporis, t.kruris,oleskan 1x1 (2-3 minggu), Untuk t.pedis 1x1 (> 6 bulan) Untuk terapi onikomikosis digunakan amorolfine 5% nail laquer, untuk kuku tangan dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama 6 bulan sedangkan untuk kuku kaki digunakan selama 9-12 bulan.

Siklopiroks
anti jamur sintetik hydroxypyridone, bersifat

fungisida, sporosida dan mempunyai penetrasi yang baik pada kulit dan kuku. Efektif untuk pengobatan t.korporis, t.kruris, t.pedis, onikomikosis, kandidosis kutaneus dan pitiriasis versikolor.

Haloprogin
merupakan halogenated phenolic, efektif

untuk terapi t.korporis, t.pedis dan pitiriasis versikolor, dengan konsentrasi 1% dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu.

Obat Anti Jamur Sistemik

Pemberian obat anti jamur sistemik digunakan untuk pengobatan infeksi jamur superfisial dan sistemik (deep mikosis)

infeksi jamur sistemik lebih sering terjadi pada individu dengan sistem kekebalan yang menurun (penderita AIDS, pasien transplantasi dan pasien kanker)

Beberapa obat anti jamur sistemik,yaitu:


Griseofulvin Flusitosin

Imidazol (Ketokonazol) dan Triazol

(Itrakonazol, Vorikonazol, Flukonazol) Terbinafin Amfoterisin B Caspofungin

Griseofulvin
Diisolasi dari Pencillium griseovulvum dierckx bersifat fungistatik, berikatan dengan protein mikrotubular dan menghambat mitosis sel jamur. aktifitas spektrum terbatas hanya untuk spesies Epidermophyton floccosum, Microsporum spesies dan Trichophyton spesies

Dosis (oral)
dewasa 500 -1000 mg / hari (mikrosize) dosis

tunggal atau terbagi Anak - anak 2 tahun 10 - 15 mg / kg BB / hari (mikrosize), dosis tunggal atau terbagi

Lama Pengobatan
Untuk t.korporis dan t.kruris selama 2 - 4 minggu Untuk t.kapitis paling sedikit selama 4 - 6 minggu Untuk tinea unguium selama 3 - 6 bulan.

Flusitosin

Bekerja dengan mengganggu sintesis protein jamur Flusitosin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas, efektif terhadap Candida spesies, Cryptococcus neoformans, Cladophialophora carrionii, Fonsecaea spesies dan Phialophora verrucosa.

Dosis
Dewasa dengan fungsi ginjal yang normal,diawali

dengan dosis 50-150 mg/kg BB dalam 4 dosis jika terdapat gangguan ginjal, di awali dengan dosis 25 mg/kg BB. Tersedia dalam kapsul 250 mg dan 500 mg

Imidazol (ketokonazol)

Cara kerjanya dengan menginhibisi enzim sitokrom P-450, yang bertanggungjawab merubah lanosterol menjadi ergosterol, sehingga dinding sel jamur menjadi permiabel dan terjadi penghancuran jamur. Efektif untuk histoplasmosis, kriptokokus nonmeningeal, koksidiodomikosis, kandidiasis dan dermatomikosis.

Dosis
Dewasa 200 mg / hari, dosis tunggal. Untuk anak-anak 3,3 - 6,6 mg / kg BB, dosis

tunggal

Lama Pengobatan
Untuk t.korporis dan t.kruris selama 2 - 4 minggu
Untuk P.versikolor selama 5 -10 hari sedangkan

untuk t.kapitis dan onikomikosis biasanya tidak direkomendasikan

Itrakonazol

Aktifitas antijamurnya lebih lebar dan efek sampingnya lebih kecil dari ketokonazol Tersedia dalam kapsul 100mg, dosis yang disarankan 200mg 1x1. juga dalam suspensi dan IV 10mg/mL Untuk onikomikosis 1x200mg (12 minggu)

Amfoterisin B

Hasil fermentasi Streptomyces nodosus Berspektrum luas dan bersifat fungisidal Dapat digunakan sebagai obat pilihan hampir untuk semua infeksi jamur yang mengancam kehidupan

Sediaannya berupa vial 50 mg, dilarutkan dgn akuades steril 10 mL. Lalu diencerkan dgn dex 5% sehingga didapat kadar 0,1 mg/mL

Dosis
0,3-0,5 mg/kgBB, selama 6 minggu. Bila perlu

boleh dilanjutkan sampai 3-4 bulan.

3 jenis formula dengan dasar lemak (lipidbased formulations) yaitu:


Liposomal amfoterisin B (AmBisome)

Amfoterisin B lipid kompleks (Abelcet, ABLC)


Amfoterisin B kolloidal dispersion (Amphocil,

Amphotec, ABCD).

Caspofungin

Berasal dari kelas Ekinokandin Bekerja menghambat sintesis beta (1,3)D-glukan. Efektif terhadap sebagian besar Candida species dengan efek fungisidal yang tinggi.

Dosis
Dewasa 70 mg IV single dose H1,

selanjutnya 50 mg single dose.


Pada pasien dgn Insufisiensi hati sedang.

Dianjurkan 35 mg/hari.
Pengobatan ini umumnya diberikan selama

14 hari.

Kesimpulan

Pengobatan infeksi jamur baik yang superfisial maupun yang sistemik telah mengalami perkembangan yang pesat. Obat anti jamur tersebut dapat diberikan dengan cara topikal, sistemik maupun intravenous. Pengetahuan tentang farmakologi obat-obat anti jamur sangat diperlukan sehingga dapat dicapai efektifitas pengobatan yang maksimal.