Vous êtes sur la page 1sur 4

Kronologis kasus Munir 6 September 2004 Pukul 21.

55 WIB Munir berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Amsterdam. Dari Jakarta kemudian transit di Bandara Changi, Singapura. Ia menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 974 jenis pesawat Boeing 747-400 dengan kapasitas penumpang sekitar 380 orang. 7 September 2004 Tiba di Bandara Changi untuk transit sekitar pukul 00.40 waktu setempat. 7 September 2004 Berangkat kembali ke Amsterdam menggunakan pesawat yang sama sekitar pukul 01.50 waktu setempat. Sebelumnya ia berkenalan dengan dr. Tarmizi Hakim, ahli bedah jantung dari Rumah Sakit Jantung dan pembuluh darah Harapan di pintu pemeriksaan. Setelah berbincang dua sampai tiga menit mereka berpisah. Tarmizi masuk lewat pintu depan di nomor 1E kelas bisnis sedangkan Munir lewat pintu belakang duduk satu barisan dengan dokter tersebut di nomor 40 kelas ekonomi. Tiga jam penerbangan kemudian Munir mengeluhkan sakit perut dan badannya lemas. Ia meminta pramugari mencari dr. Tarmizi untuk menolongnya. Sebelumnya ia telah enam kali muntah berak dan bolak-balik ke toilet. Tarmizi bangun dan menolong Munir dan memberikan obat untuk menghentikan muntahnya. Namun tak berhasil. Sehabis makan obat, Munir kembali ke toilet. Setidaknya dua kali dia muntah setelah makan obat. Munir kemudian mulai tenang dan minta tidur di lantai dekat toilet. Dia sempat diberikan teh manis campur garam dan air putih campur garam. Kemudian dr. Tarmizi juga memberikan obat penenang dengan dosis ringan. Sekitar pukul 6 waktu setempat. Dr. Tarmizi bangun dan sempat menanyakan kondisi Munir. Pramugari yang ditanya mengatakan kondisi Munir baik-baik saja. Munir sudah pindah tidur dari dekat toilet ke kursi nomor empat. Setelah dr. Tarmizi selesai makan, pramugari memintanya mencek kondisi Munir karena tidak ada reaksi. Setelah diperiksa ternyata Munir telah menghembuskan nafasnya. Pukul 08.10 waktu Amsterdam Pesawat mendarat di Bandara Schipoll. Polisi dan dokter memeriksa jenazah Munir. dr. Tarmizi diinterogasi di Bandara.

11 September 2004 Jenazah Munir tiba Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh pada Sabtu (11/9) tepat pukul 21.10. Jenazah almarhum dan rombongan pengantar diangkut

dengan Boeing 737 Merpati MZ-3300. 12 September 2004 Jenazah Munir, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum, Kota Batu, Minggu (12/9). Isak tangis, sedih dan haru ribuan pelayat mewarnai prosesi pemakaman mulai dari rumah duka di Jalan Diponegoro hingga ke pemakaman yang berjarak sekitar 2 km. Suciwati, istri Munir meminta hasil otopsi terhadap jenazah almarhum. Dia datang bersama Smita Nososusanto, Emmy Hafizd, Usman Hamid dan Bini Buchori. Pihak kepolisian menyatakan dalam tubuh Munir terkandung zat arsenik yang melampui batas normal. 17 November 2004 Kontras, Suciwati dan tim kepolisian akan berangkat ke Belanda meminta akta otentik otopsi terhadap jenazah Munir. Fakta Hukum Permasalahan Hukum Apakah Garuda Indonesia bertanggung jawab atas kematian Munir? Bagaimana bentuk tanggungjawab yang dapat diberikan Garuda Airlines? Analisis Berdasarkan Warsawa Convention Pasal 17 Konvensi Warsawa 1929 menyatakan bahwa pengangkut udara hanya bertanggungjawab terhadap setiap kecelakaan yang dialami penumpang selama penerbangan. Definisi kecelakaan itu sendiri tidak dijelaskan dalam konvensi, oleh karenanya hakim mempunyai wewenang penuh untuk menafsirkan sendiri definisi kecelakaan tersebut. Suatu kejadian dapat dikatakan sebagai kecelakaan pesawat apabila memenuhi 3 syarat, yaitu: Adanya kerugian yang dialami penumpang oleh suatu kecelakaan Kecelakaan tersebut ada hubungannya berada di dalam pesawat udara Kecelakaan tersebut berlangsung selama proses embarkasi dan disembarkasi. Apabila syarat tersebut terpenuhi maka akan menimbulkan tanggungjawab bagi pengangkut udara terhadap penumpang yang menderita kerugian. Untuk mengetahui apakah garuda Indonesia harus bertanggung jawab dalam kasus meninggalnya Munir maka harus dipastikan terlebih dahulu, apakah penyebab kematiannya adalah kecelakaan atau tidak. Kecelakaan yang dapat dimintakan pertanggungjawaban kepada

pengangkut udara hanyalah kejadian yang berasal dari faktor eksternal penumpang. Sedangkan kejadian yang berasal dari faktor internal penumpang tidak dapat dimintakan ganti rugi. Yang dimaksud dengan faktor eksternal disini adalah bahwa kejadian tersebut merupakan suatu hal yang tidak terduga (unexpected) dan di luar kebiasaan (unusual). Miller menyatakan secara harafiah, pasal 17 tidak mensyaratkan adanya hubungan kausalitas antara kerugian dan kematian, luka-luka atau penderitaan lainnya. Pasal 17 hanya menyatakan bahwa pengangkut bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita dalam hal kematian, luka-luka, atau penderitaan lainnya.1 Dalam kasus Evangelinos v. Trans World Airlines, Inc ketika personil maskapai tidak berperan aktif terhadap perbuatan yang merugikan, kejadian (event) dapat dikualifikasikan sebagai kecelakaan (accident) seperti dalam pasal 17 yang timbul jika kerugian tersebut merupakan karakteristik dari perjalanan udara. Dalam fakta hukum telah diketahui bahwa Munir selama penerbangan dari Singapura menuju Amsterdam berkali0kali ke Toilet Pesawat GA 974, bahkan Munir tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri dan akhirnya harus dibantu oleh awak kabin. Dalam BOM (Basic Operation Manual) 5.2.1, yang pada intinya mengatur bagaimana operasional penergangan garuda, seorang kapten harusnya mengikuti prosedur apabila ada penumpang dengan sakit serius, yaitu: Memutuskan untuk berkonsultasi dengan purser/senior kabin attendant mengenai perlu atau tidaknya meneruskan penerbangan sesuai dengan rencana perjalanan Jika terjadi keraguan, Kapten Pesawat harus selalu meminta saran medis dari darat Jika dokter medis atau perawat di pesawat, maka diharuskan untuk meminta sarannya. Namun, saran tersebut tidak mengikat dan tidak mengurangi tanggungjawab maskapai penerbangan atas penumpang yang sakit. Dalam kasus ini, Pillot In Command (PIC) telah mengkonsultasikan dengan dokter yang ada dalam pesawat namun tidak segera berkonsultasi dengan Ground Officer untuk meminta izin pendaratan pesawat ke bandara terdekat. Hal tersebut tidak dilakukan meskipun PIC telah mengetahui bahwa Munir dalam keadaan kritis. Hal tersebut merupakan bentuk kelalaian yang menunjukkan kegagalan dalam memberikan pertolongan yang diwajibkan kepada PIC. Sehingga memang Garuda Indonesia wajib memberikan bentuk pertanggungjawaban atas kejadian tersebut.
1 E. Saefulla, Hukum Transportasi Udara dari Warsawa 1929 ke Montreal 1999, PT. Kiblat Buku Utama, Bandung, 2008, hlm 160

Selanjutnya, mengenai terpenuhinya bagian bahwa kecelakaan tersebut terjadi dalam pesawat. Dalam hal ini tidak diperlukan lagi kapan racun dalam tubuh Munir dimasukkan. Apakah diluar pesawat atau dalam pesawat. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa akibat yang dapat dlihat langsung dari adanya racun dalam tubuh munir baru diketahui setelah Munir berada dalam pesawat sehingga dalam hal ini syarat harus terjadi dalam pesawat seperti diatur di pasal 17 terpenuhi.

Tanggungjawab tak terbatas. Dalam pasal 3 Konvensi Warsawa dinyatakan bahwa pengangkut udara bertanggungjawab secara tak terbatas apabila tidak diberikannya tiket pesawat oleh pengangkut kepada penumpang. Dalam perkara ini, Istri Munir berusaha keras untuk memaksakan adanya tanggungjawab tak terbatas yang harus dipenuhi oleh Garuda, padahal hal tersebut sama sekali tidak memiliki hubungan kausalitas yang dapat dijadikan dasar untuk menggugat Garuda untuk memberikan ganti kerugian.

Kematian yang dialami munir pada dasarnya telah memehuni syarat-syarat dalam pasal 17 Konvensi Warsawa 1929, oleh karena itu Garuda Indonesia bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan dari kelalaiannya. Tanggungjawab yang diberikan Garuda adalah berupa santunan bagi keluarga yang ditinggalkannya. Dalam gugatannya suciwati menggugat sebesar Rp. 4.028.407.100,sedangkan kerugian materiil yang dikabulkan oleh Hakim adalah sebesar Rp. 624.209.900 dengan pertimbangan pembayaran penghasilan Munir sebagai kepala keluarga, uang pendidikan 2 anak hingga S1, biaya terapi dn obat anak, biaya yang sudah dilkeluarkan Munir untuk S2 di Belanda, biaya pemakaman. Untuk kerugian immateril Hakim mengabulkan Rp. 40.000.000,- dengan dasar pasal 43 PP Nomor 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara,