Vous êtes sur la page 1sur 20

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia perlu berkomunikasi. Komunikasi adalah hal yang paling penting didalam sebuah organisasi, komunikasi sangat tergantung pada persepsi dan sebaiknya persepsi juga tergantung pada komunikasi. Komunikasi timbul karena seseorang ingin menyampaikan informasi kepada orang lain. Informasi ini membuat seseorang sama pengertiannya dengan orang lain dan ada kemungkinan berlainan, karena informasi yang dikomunikasikan tersebut membuat orang-orang mempunyai kesamaan dan perbedaan ini disebabkan persepsi orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Komunikasi merupakan hal yang amat penting dalam perilaku organisasi. Sayangnya, komunikasi yang amat penting ini jarang dapat dimengerti secara jelas sehingga menimbulkan beberapa hambatan. Komunikasi tidak sekedar proses penyampaian informasi yang simbol-simbolnya dapat dilihat, didengar dan dimengerti, tetapi proses penyampaian informasi secara kesuluruhan termasuk didalamnya perasaan dan sikap dari orang yang menyampaikan tersebut. Pada umumnya, seseorang menangkap hanya informasi saja dan dilupakan bagaimana perasaan dan sikap dari orang yang mempunyai informasi tersebut. Itulah sebabnya banyak terjadinya hambatan-hambatan yang dijumpai dalam praktek organisasi. Seringkali suatu organisasi mengalami beragam kesulitan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Padahal, organisasi tersebut ditunjang sumber daya yang handal. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi, anatara lain kelancaran komunikasi. Komunikasi-komunikasi yang terjadi dalam organisasi berpengaruh dalam kepuasan kerja dari karyawan-karyawan yang terlibat dalam organisasi tersebut. Kepuasan kerja merupakan respon seseorang (sebagai pengaruh) terhadap bermacam-macam lingkungan kerja yang dihadapinya. Biasanya karyawan yang puas dengan apa yang diperolehnya dari perusahaan akan memberikan lebih dari apa yang diharapkan dan ia akan terus berusaha memperbaiki kinerjanya. Sebaliknya karyawan yang kepuasan kerjanya rendah, cenderung melihat pekerjaan sebagai hal yang menjemukan dan membosankan, sehingga ia bekerja dengan terpaksa, asal-asalan dan dapat

merugikan perusahaan. Dengan tercapainya kepuasan kerja karyawan, produktivitaspun akan meningkat, kinerja lebih baik, dan suasana lingkungan kerja akan menyenangkan. Suasana lingkungan kerja yang menyenangkan akan menciptakan komunikasi yang baik antar karyawan sehingga tujuan dan target perusahaan dapat tercapai. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut : Sejauhmanakah komunikasi organisasi formal berpengaruh dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan di organisasi/perusahaan

BAB II

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI FORMAL


2.1 Pengertian

2.1.1

Komunikasi Istilah komunikasi mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris), berasal dari bahasa latin, communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Kata sifatnya adalah communis, yang artinya bersifat umum atau bersama-sama. Kata kerjanya, adalah communicare, artinya berdialog, berunding atau bermusyawarah (Arifin, 1998;19). Komunikasi merupakan proses yang secara umum digunakan manusia dalam melakukan interaksi sosialnya. Pada dasarnya komunikasi memiliki pengertian yang begitu luas, baik sebagai ilmu tersendri maupun sebagai suatu proses. Terdapat beberapa definisi mengenai komunikasi, Hovland, Janis dan Kelley (Komunikasi merupakan proses individu mengirim rangsangan (stimulus) yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain. Pada definisi ini mereka menganggap komunikasi sebagai suatu proses).Menurut Forsdale (1981), ahli komunikasi dan pendidikan communication is the process by which a system is established, maintained and altered by means of shared signals that operate according to rules. Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu sistem dibentuk, dipelihara, dan diubah dengan tujuan bahwa sinyal-sinyal yang dikirimkan dan diterima dilakukan sesuai dengan aturan. William J.Seller mengatakan bahwa komunikasi adalah proses dimana simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima dan diberi arti. Menurut lexicographer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Websters New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku. Ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, tidak bisa menghindari perspektif dari beberapa ahli yang tertarik pada kajian komunikasi, sehingga definisi dan pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya saling melengkapi dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi. Menurut Frank E.X. Dance dalam bukunya Human Communication Theory terdapat 126 buah definisi tentang komunikasi yang diberikan oleh beberapa ahli dan dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja Pengantar Ilmu Komunikasi

dijabarkan tujuh buah definisi yang dapat mewakili sudut pandang dan konteks pengertian komunikasi. Definisi-definisi tersebut adalahs sebagai berikut: Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). (Hovland, Janis & Kelley:1953) Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.(Berelson dan Stainer, 1964). Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what (Lasswell, 1960) 2.1.2 Proses Komunikasi Proses komunikasi dapat dilihat dari unsur unsur yang terdapat, berkaitan dengan siapa pengirimnya (komunikator), apa yang dikatakan atau dikirimkan (pesan), saluran komunikasi apa yang digunakan (media), ditujukan untuk siapa (komunikan), dan apa akibat yang akan ditimbulkannya (efek). Dalam proses komunikasi, kewajiban seorang pengirim atau komunikator adalah mengusahakan agar pesan-pesannya dapat diterima oleh si penerima (komunikan) sesuai kehendak pengirim. Proses komunikasi dapat dilihat dalam gambar sbb: effect?)

Encoding SENDER

Message Media

Decoding

RECEIVE R

NOIS E

Feedback

Response

Sumber : Kotler (2000: 551) Menurut Fandi Tjiptono (2008;219) ; Ada tiga unsur pokok model struktur proses komunikasi :
1. Pelaku komunikasi

Terdiri atas pengirim (sender) atau Komunikator yang menyampaikan pesan dan penerima (receiver) atau komunikan pesan. Dalam kontek ini dimana komunikatornya atasan sedangkan komunikannya adalah bawahan atau pegawai. 2. Material Komunikasi Ada beberapa material komunikasi yang penting , yaitu: a. Gagasan, yaitu materi pokok yang hendak disampaikan pengirim. b. Pesan, yaitu himpunan berbagai symbol (oral, verbal, atau non verbal) dari suatu gagasan.
c. Media, yaitu pembawa (transporter) pesan komunikasi. Pilihan media komunikasi bias

bersipat personal maupun non personal.


d. Response, yaitu reaksi pemahaman atas pesan yang diterima oleh penerima. e. Feed-back, yaitu pesan balik dari sebagian atau keseluruhan respon yang dikirim kembali

oleh penerima. f. Gangguan (noise), komunikasi. yaitu segala sesuatu yang dapat menghambat kelancaran proses

3. Proses Komunikasi Proses penyampaian pesan (dari pengirim kepada penerima) memerlukan dua penerima yaitu : a. Encoding adalah proses merancang atau mengubah gagasan secara simbolik menjadi suatu pesan untuk disampaikan kepada penerima. b. Decoding adalah proses penguraian atau mengartikan symbol seningga pesan yang di terima dapat di pahami.

2.2 Komunikasi Dalam organisasi Formal

Bila pesan mengalir melalui jalan resmi yang ditentukan oleh hirarki resmi organisasi atau oleh fungsi pekerjaan, maka pean itu menurut jaringan organisasi formal. Dalam konteks organisasi, arus komunikasi mengalir secara formal mengikuti saluran formal sesuai desain struktur organisasi dimaksud. Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok/organisasi itu selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup kelompok, yang terdiri dari pemimpin dan bawahan/karyawan. Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri dari berbagai maksud yang meliputi hubungan sosial/kebudayaan. Hubungan yang terjadi merupakan suatu proses adanya suatu keinginan masing-masing individu, untuk memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan yang berkelanjutan. Hubungan yang dilakukan oleh unsur pimpinan antara lain kelangsungan hidup berorganisasi untuk mencapai perkembangan ke arah yang lebih baik dengan menciptakan hubungan kerja sama dengan bawahannya. Hubungan yang dilakukan oleh bawahan sudah tentu mengandung maksud untuk mendapatkan simpati dari pimpinan yang merupakan motivasi untuk meningkatkan prestasi kerja ke arah yang lebih baik. Hal ini tergantung dari kebutuhan dan cara masing-masing individu, karena satu sama lain erat hubungannya dengan keahlian dan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.

Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk mempersatukan individuindividu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Berdasarkan sifat komunikasi dan jumlah komunikasi, komunikasi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori: 1. Komunikasi antar pribadi, Komunikasi ini penerapannya antara pribadi/individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama. 2. Komunikasi kelompok. Pada prinsipnya dalam melakukan suatu komunikasi yang ditekankan adalah faktor kelompok, sehingga komunikasi menjadi lebih luas. Dalam usaha menyampaikan informasi, komunikasi dalam kelompok tidak seperti komunikasi antar pribadi. 3. Komunikasi massa. Komunikasi massa dilakukan dengan melalui alat, yaitu media massa yang meliputi cetak dan elektronik. Dalam kehidupan organisasi terdiri dari berbagai unsur, yang mempunyai maksud dan tujuan agar organisasi yang dimilikinya tetap dipertahankan dan diarahkan demi untuk perkembangan yang lebih dinamis. Pada dasarnya komunikasi di dalam organisasi, terbagi kepada tiga bentuk: 1. Komunikasi vertikal Bentuk komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Artinya komunikasi yang disampaikan pimpinan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal balik. Fungsi komunikasi ke bawah digunakan pimpinan untuk: a. Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai pelaksanaan kerja bawahan. b. Menyampaikan pengarahan doktrinasi, evaluasi, teguran. c. Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan organisasi, insentif. Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap bawahannya. Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya. Fungsi komunikasi ke atas digunakan untuk: a. Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.

b. Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah. Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat, tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati terbuka oleh pimpinan. 2. Komunikasi horizontal Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal. Fungsi komunikasi horizontal/ke samping digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level yang sama. Komunikasi ini berlangsung dengan cara tatap muka, melalui media elektronik seperti telepon, atau melalui pesan tertulis. 3. Komunikasi diagonal Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi silang. Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi yang berbeda. Dalam arti pihak yang satu tidak berada pada jalur struktur yang lain. Fungsi komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain. Jadi pada garis besarnya setiap organisasi kepemimpinan di dalam melaksanakan dan kewajiban diperlukan pengertian yang sama diantara dua pihak yaitu atasan dan bawahan. Karena hal tersebut akan lebih memberi dorongan semangat dan gairah kerja untuk dapat menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan, artinya mengembangkan suatu kerja sama demi mewujudkan hasil kerja untuk mencapai tujuan organisasi. Melalui jalur hierarkhi/tingkatan seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya secara baik, sehingga dapat membangkitkan minat dan gairah kerja disertai komunikasi yang baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam penerapannya komunikasi dapat dilakukan secara formal dan informal. Umumnya komunikasi formal ada dalam setiap organisasi dan dapat terjadi antar personal dalam organisasi melalui jalur hirarkhi dengan prinsip pembagian tugas untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Komunikasi formal merupakan suatu sistem dimana para anggotanya bekerjasama secara tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Komunikasi formal pada dasarnya berhubungan dengan masalah kedinasan. Komunikasi informal adalah kebalikan dari komunikasi formal biasanya terjadi dengan spontan sebagai akibat dari adanya persamaan perasaan, kebutuhan, persamaan tugas dan tanggung jawab. Komunikasi informal pada pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu, ruang dan tempat, kadang-kadang komunikasi informal lebih berhasil, dan peranannya tidak kalah penting, karena dapat disampaikan setiap saat, asalkan bermanfaat untuk kemajuan organisasi. Namun penyampaiannya kurang sistematis, karena pertumbuhan dan penyebarannya tidak teratur. Kadang-kadang seorang pimpinan selalu beranggapan bahwa keberadaan organisasi informal merupakan suatu hal yang janggal, yang merupakan akibat gagalnya komunikasi formal yang

memunculkan ketidakstabilan organisasi formal. Bentuk komunikasi informal dapat berupa pertemuan yang tidak direncanakan, seperti: bertemu dan ngobrol di kantin pada jam makan siang, di resepsi, atau pertemuan lainnya. Komunikasi informal ini mempunyai hal-hal yang positif, seperti: a. Bila jalan yang ditempuh melalui komunikasi formal melewati hambatan, dengan terpaksa digunakan komunikasi informal. b. Dalam suasana konflik dan penuh ketegangan. c. Sebagai sarana komunikasi. Dari kedua bentuk komunikasi tersebut di atas, setiap pimpinan harus dapat menempatkan diri agar tidak timbul perasaan suka atau tidak tidak suka. Pimpinan harus mencari dan melaksanakan nilai-nilai positif dari hubungan-hubungan tersebut. Ukuran sukses tidaknya seorang pimpinan terletak pada bagaimana pimpinan memadukan nilai positif yang dihasilkan dari komunikasi formal dan informal. Setiap bawahan dari suatu organisasi tentunya mempunyai motivasi. Adanya kebutuhan, keinginan, ketegangan, ketidaksenangan dan harapan termasuk ke dalam motivasi. Pimpinan juga harus dapat memotivasi bawahannya, misalnya memberikan apresiasi, perlakuan yang adil, dan suasana kerja.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpualan

Komunikasi dalam organisasi formal ialah proses komunikasi yang terjadi di dalam organisasi yang meliputi komunikasi vertikal, horizotal dan diagonal, selain itu didalam organisasi terjadinya komunikasi interpersonal, kelompok dan massa. Komunikasi organisasidengan berbagai dimensinya dapat dipandang sebagai suatu cara untuk memetakan fenomena. Ketika kita menyadari bahwa pandangan terhadap fenomena/realitas pun tidak selalu ajeg, bergantung pada titik berdirinya, maska seyogyanya kita menyikapinya bahwa hal itu mencerminkan suatu relativisme ilmu yang mengarah kepada sesuatu yang baik. Demikian pula dengan komunikasi organisasi, adanya perbedaan-perbedaan pendekatan (objektif-subjektif) dalam pengkajiannya, di satu sisi dapat menjadi alternatif dalam menentukan pilihan, dan di sisi lainnya hal tersebut juga mencerminkan bahwa komunikasi organisasi juga bersifat kontekstual, bergantung pada faktor manusianya, bentuk organisasi, bidang organisasi, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Toha Mifta Perilaku Organisasi PT Raja Grafindo Persada Jakarta 1993

Robbins P Stephen Prinsip-prinsip perilaku organisasi Erlangga Jakarta 2002 Onong Uchyana Effendi, Dimensi-Dimensi Komunikasi Pace R Wayne Komunikasi Organisasi PT Remaja Rosda Karya, Bandung Komunikasi dalam organisasi www.google.com

KATA PENGANTAR Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah Swt., yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya kepada penulis dala menyelesaikan penulisan makalah ini, makalah ini penulis beri judul

komunikasi dalam organisasi formal sebagai bahan untuk melengkapi proses perkuliahan bagi kalangan mahasiswa. Penulisan makalah ini dapat terselesai berkar bimbingan dan sokongan dari berbagai pihak untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, semoga Allah Swt., akan membalasnya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan meskipun telah diupayakan semaksimal mungkin, namun masih terdapat banyak kekurangan dan kelemahan disana-sini, baik dari tata bahasa, materi maupun analisis terhadap data oleh keterbatasan penulis. Untuk itu penulis menantikan berbagai masukan yang sifatnya membangun untuk perbaikan yang akan datang. Akhirnya, untuk membalas segala jasa dan budi baik semua pihak yang telah berpartisipasi membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini, penulis serahkan kepada Allah Swt., semoga mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda, serta sukses dalam setiap aktifitasnya. Amin.

Cirebon, 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN BAB II : Komunikasi dalam Organisasi Formal 2.1 Pengertian 2.1.1 Komunikasi 2.1.2 Proses Komunikasi 2.2 Komunikasi dalam Organisasi Formal 1. Komunikasi Vertikal 2. Komunikasi Horizontal 3. Komunikasi Diagonal BAB III : PENUTUP 3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH TENTANG

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI FORMAL


(COMMUNICATION WTHIN A FORMAL ORGANIZATION)

Disusun Oleh : Kelompok 3

SARIPIN ARYANTO ACHMAD CAHYONO

PROGRAM STUDI MANAJEMEN INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

STMIK IKMI CIREBON


2012

area of human communication organizational: communication within a formal organization

some common purpose to increase productivity, raise morale, inform, persuade some skills-related concerns improving efficiency of upward, downward, and lateral communication; using communication to improve morale and increase productivity; reducing information overload; structuring networks to increase efficiency (bidang komunikasi manusia organisasi: komunikasi dalam organisasi formal tujuan bersama untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan moral, menginformasikan, membujuk beberapa keterampilan yang berhubungan dengan masalah meningkatkan efisiensi komunikasi ke atas, ke bawah, dan lateral; menggunakan komunikasi untuk meningkatkan semangat kerja dan meningkatkan produktivitas, mengurangi informasi yang berlebihan; penataan jaringan untuk meningkatkan efisiensi ) 1. Organisasi Formal Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional. Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya. Organisasi formal adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional. Contoh : Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya. Sebuah organisasi formal memiliki strukstur yang terumuskan dengan baik. Struktur ini menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas, dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran, dan melalui apa komunikasi berlangsung. Organisasi formal memiliki suatu struktur yang terumuskan dengan baik, yang menerangkan hubungan-hubungan otoritasnya, kekuasaan, akuntabilitas dan tanggung jawabnya. Struktur yang ada juga menerangkan bagaimana bentuk saluran-saluran melalui apa komunikasi berlangsung. Kemudian menunjukkan tugas-tugas terspesifikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasarat lainya terurutkan dengan baik dan terkendali. Selain itu organisasi formal

tahan lama dan mereka terencana dan mengingat bahwa ditekankan mereka beraturan, maka mereka relatif bersifat tidak fleksibel. Contoh organisasi formal dalah perusahaan besar, badanbadan pemerintah, dan universitas-universitas (J Winardi, 2003:9). Organisasi-organisasi formal menunjukkan tugas-tugas terspesikfikasi bagi masing-masing anggotanya. Hierarki sasaran-sasaran organisasi-organisasi formal dinyatakan secara eksplisit. Status, prestise, imbalan, pangkat dan jabatan, serta prasyarat-prasyarat lainnya terurutkan dengan baik dan terkendali. Organisasi-organisasi formal tahan lama, dan terencana. Mengingat dtekankan suatu keteraturan, maka mereka relatif bersifat fleksibel. Contoh-contoh organisasi-organisasi formal adalah perusahaan-perusahaan besar, badan-badan pemerintah, dan universitas-universitas. Pada sisi lain, dari kontinum pada gambar yang disajikan didalam media/tulisan download diatas terdapat apa yang dinamakan organisasi-organisasi informal. Organisasi-organisasi informal demikian terorganisasi secara lepas. Merekabersifat fleksibel, tidak terumuskan dengan baik,dan sifatnya adalah spontan. Komunikasi formal dalam Organisasi Komunikasi formal adalah cara termudah untuk berkomunikasi di tempat kerja, karena itu semua sudah ditetapkan oleh oleh struktur organisasi. Bagan organisasi menjabarkan struktur pelaporan, jalur kewenangan dan saluran komunikasi. Struktur organisasi yang khas terlihat seperti piramida, di bagian atas Anda menemukan bos besar, posisi yang memegang kekuasaan terbesar, kekuasaan dan tanggung jawab atas seluruh organisasi. Dalam kerangka struktur organisasi, saluran komunikasi formal termasuk ke bawah, ke atas, horizontal dan matriks komunikasi (ditandai dengan garis kuning pada tabel). Bagan Organisasi Komunikasi ke bawah adalah komunikasi yang mengalir menuruni rantai komando: perintah, arahan, pelatihan, konseling, tindakan disiplin, dan informasi umum. Komunikasi ke atas adalah komunikasi yang mengalir dalam rantai komando: laporan, kekhawatiran, pertanyaan, status, dan komunikasi umum.

Matriks Diagonal komunikasi Komunikasi alias tidak mengikuti rantai komando organisasi: supermemaksakan hal itu. Matrix komunikasi dianggap komunikasi formal karena telah pra-disetujui dan disepakati oleh orang-orang dalam posisi otoritas. Matrix komunikasi termasuk komunikasi proyek, satuan tugas komunikasi dan komunikasi komite. Proyek Komunikasi didasarkan pada pra-ditetapkan dan disepakati anggota tim proyek, yang dapat mencakup anggota dari beberapa departemen dan beberapa tingkatan. Komunikasi formal - Aturan Keterlibatan Komunikasi formal dalam organisasi memiliki aturan, beberapa dari mereka terbilang dan beberapa dari mereka yang tak terucapkan. Aturan eksplisit meliputi: Pergi melalui saluran Patuhi perintah dan arahan yang datang dari atas Meningkat masalah yang diperlukan akan melalui rantai komando Anda Aturan tak terucapkan meliputi: Hindari badmouthing bos Anda, itu akan kembali kepadanya / kapan-kapan, entah bagaimana. Jika Anda harus mengeluh tentang atasan Anda, kemudian melakukannya dengan seseorang di luar organisasi. Kecuali tentu saja, itu keluhan resmi, kemudian gunakan jalur organisasi yang tepat untuk itu. Anda dapat melewati jalur formal komunikasi, jika Anda melakukannya dengan keterampilan. Dalam pengaturan sosial, ketika Anda berinteraksi dengan orang lain di luar struktur komunikasi, menggunakan penilaian yang baik pada apa yang Anda membahas dan siapa Anda berbicara tentang. Banyak orang merasa bahwa memiliki akses ke bos dari bos mereka dalam lingkungan sosial memberikan kesempatan untuk mendiskusikan isu-isu tempat kerja. Memang, memang, tapi bos Anda adalah mungkin untuk mengambil masalah dengan itu. Hindari badmouthing bawahan Anda dengan atasan Anda. Atasan Anda mungkin berpikir (dan

memberitahu Anda) bahwa itu masalah bagi Anda untuk memecahkan. Anda mungkin muncul sebagai seseorang yang mencoba untuk mengelak dari tanggung jawab. Apa yang di luar jalur formal komunikasi? Menginjak di luar jalur formal komunikasi memiliki risiko dan imbalan. Dibutuhkan keterampilan untuk melakukannya dengan sukses, Anda hanya harus berhati-hati untuk tidak menginjak kaki rekan Anda, atau jari kaki bos Anda, atau jari kaki siapa pun untuk hal itu. Sebuah contoh dari potensi risiko dan manfaat: Anda relawan untuk memecahkan masalah bagi seseorang di daerah lain di departemen Anda. Jika semua berjalan dengan baik, Anda skor poin brownies dengan atasan Anda, heck, bahkan mungkin tanah Anda promosi atau kenaikan gaji. Namun, jika semua beres, Anda mungkin mengasingkan orang-orang di departemen yang bekerja pada masalah tertentu. Mereka mungkin tidak menyambut Anda menyeruduk dalam, bahkan jika itu memecahkan masalah mereka. Sebelum Anda memutuskan untuk mematahkan garis mapan komunikasi, Anda mungkin ingin membaca tentang konsekuensi potensial melanggar aturan kerja. Kesimpulan Rute termudah dan paling aman adalah dengan menempel pada jalur formal komunikasi, ketika meminta untuk arah, ketika melaporkan masalah, dan ketika bertukar informasi. Jika Anda menemukan struktur pelaporan Anda saat ini terlalu membatasi, membuat diri Anda tersedia untuk bergabung tugas atau proyek, di mana pekerjaan Anda akan lebih terlihat oleh orang lain selain bos Anda dan rekan kerja. Ketika Anda berada dalam posisi untuk mengambil risiko bertujuan untuk memajukan karir Anda, memupuk jalur komunikasi lainnya, lakukan saja terampil.
1. saluran komunikasi formal dan jaringan

Saluran komunikasi formal mengikuti struktur organisasi atau hirarki dan mengalir dalam empat arah:

Figure109.1 Empat arah aliran komunikasi Figure109.1 Empat arah aliran komunikasi Keempat arah di mana komunikasi dapat melakukan perjalanan adalah: ke bawah; ke atas; lateral atau horisontal, dan diagonal. Ke bawah (1) komunikasi melibatkan komunikasi dari tinggi ke tingkat yang lebih rendah sehingga kepemimpinan yang dapat mengkomunikasikan tujuan, strategi atau harapan peran. Atas (2) komunikasi mengalir dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi dari organisasi, misalnya, ketika ada kebutuhan untuk berkomunikasi masalah, hasil atau saran. Horisontal (3) komunikasi terjadi di tingkat yang sama dan melibatkan misalnya, koordinasi kegiatan dengan teman sebaya (tim, komite), penyebaran informasi yang berguna dari satu departemen ke departemen lain (misalnya untuk perkiraan penjualan dari departemen penjualan untuk produksi, dan masalah seperti sebagai masalah dengan desain produk dari departemen produksi untuk penelitian dan pengembangan). Komunikasi horizontal memfasilitasi tinta l berbagai bidang keahlian dan ini dapat mendorong inovasi. Diagonal (4) saluran berpotensi menyebabkan konflik karena melibatkan komunikasi antara tingkat lebih rendah dari satu departemen ke tingkat yang lebih tinggi di negara lain. Dalam diagram di atas, ini dapat menyebabkan gesekan antara karyawan di departemen akuntansi C dan Wakil Presiden (VP) Akuntansi sebagai karyawan telah pergi sekitar atau atasan sendiri. Namun demikian jenis komunikasi dapat berguna karena mungkin hanya informasi yang relevan kepada Departemen Pemasaran dan Akuntansi VP tidak perlu dilibatkan. Jaringan komunikasi formal juga terjadi dalam hirarki organisasi dan mencerminkan bagaimana kelompok karyawan, misalnya orang-orang di departemen, bekerja sama. Jaringan atau pemetaan aliran komunikasi dalam organisasi dapat menjadi perangkat yang

berguna. Hal ini dapat mengidentifikasi siapa yang berkomunikasi dengan siapa dan apakah jalur komunikasi yang efektif dan efisien, atau apakah ada potensi konflik destruktif atau ketegangan yang timbul dari saluran komunikasi (misalnya, komunikasi diagonal yang tidak tepat).

2.

komunikasi formal: masalah dan solusi Banyak masalah komunikasi muncul dari struktur organisasi. Dwyer (2005) menyebutkan tiga faktor organisasi terkait: sentralisasi, pembuatan lapisan organisasi terlalu banyak, dan struktur organisasi. Faktor lain mungkin termasuk perampingan yang mengarah ke struktur pelaporan ambigu dan kepemimpinan yang buruk. Banyak dari masalah ini dapat diatasi dengan: * Menganalisis struktur organisasi dan jaringan komunikasi untuk hambatan untuk efektifitas dan efisiensi * Memastikan perampingan yang terencana dan 'selamat' (yang ditinggalkan dalam organisasi) memahami dampak dari proses pada jaringan komunikasi dan prosedur * Merekrut untuk komunikasi yang kompeten, terutama ketika merekrut untuk peran kepemimpinan.