Vous êtes sur la page 1sur 2

MEMBANGUN BUDAYA HEMAT LISTRIK DITENGAH KRISIS

Bisakah manusia hidup tanpa listrik ?


Dinegara maju dan kota besar listrik merupakan sebuah kebutuhan vital. Hampir semua aktifitas pemerintah, industri dan rumah tangga energi listrik sangat berperan dalam menunjang kehidupan. Maka tidaklah berlebihan bila dikatakan listrik faktor utama dalam menunjang pembangunan dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Bisakah dibayangkan, bagaimana bila satu hari saja, sebuah pabrik yang mempekerjakan ribuan karyawannya tidak mendapat pasokan energi listrik. Atau berapa kerugian yang dialami kalangan industri akibat aliran listrik padam. Lebih jauh lagi, berapa banyak tugas aparatur pemerintah akan terhenti akibat komputer dikantor-kantor tidak menyala. Praktis akan banyak pihak kecewa dan merugi akibat arus listrik padam. Krisis energi listrik ini secara tidak sadar kini tengah terjadi melanda Indonesia. Sejak satu dekade terakhir masalah listrik menjadi persoalan krusial. Bencana Tsunami yang melanda Aceh pada 2004 semakin memperparah kondisi sistem kelistrikan di Aceh. Perusahan Listrik Negara (PLN) harus menginstal kembali jaringan listrik diperkampungan penduduk yang terkena imbas dengan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini semakin berdampak pada pelayanan PLN kepada pelanggan. Masalahnya masih terkutat karena beban pemakaian pelanggan lebih tinggi dibandingkan dengan pasokan energi listrik yang tersedia untuk Aceh. Alasan ini pula yang membuat pihak PLN harus menempuh jalur alternatif dengan melakukan pemadaman bergilir untuk mencukupi kebutuhan listrik kepada pelanggan.

Sebagai masyarakat kita masih berasumsi pemakaian arus listrik adalah hak pripasi mereka yang tidak ada pihak lain boleh mengintervensi. Ada anggapan berapapun biaya rekening listrik ang dibebankan, toh mereka masih mampu menutupinya. Tidak peduli dengan orang-orang disekitar mereka yang membutuhkan energi listrik utnuk menunjang kehidupannya. Akibatnya yang harus ditanggung bukan saja satu atau dua orang, akan tetapi akan berimbas pada semua pelanggan dalam bentuk pemadaman bergilir. Berikut adalah sebuah langkah sangat bijaksana jika semua kita sadar bahwa menghemat listrik adalah sebuah gerakan efektif untuk membantu pemerintah dalam mengatasi masalah krisis listrik yang melanda negeri ini. Budaya ini dapat dilakukan dengan mematikan 3 hingga 4 lampu saat beban puncak pukul 17.00 Wib hingga pukul 22.00 Wib. Bila masyarakat melakukan hal itu, PLN mampu menghemat energi mencapai 900 Mw. Dalam rangka mendukung program hemat listrik ini, pada 2008 PLN akan membagikan 50 juta lampu hemat energi (LHE). Pelanggan yang menggunakan LHE juga membayar tarif listrik lebih murah. Program ini dilakukan berdasarkan pengarahan Wakil Presiden Tanggal 3 Desember 2007 tentang upaya penghematan BBM pada semua sektor berkenan dengan kenaikan harga minyak dunia, surat menteri ESDM No. 1128/20/MEMS/2008 tanggal 12 Februari 2008 tentang persetujuan program pemakaian tenaga listrik serta surat Dirjen LPE No. 628/20/2008 tanggal 20 Februari 2008 tentang program penghematan tenaga listrik. Persoalan kelistrikan di Indonesia diperkirakan akan semakin pelit menyusul rencana kenaikan harga BBM dimana biaya operasional untuk menggerakkan pembangkit tenaga listrik akan semakin meningkat pula. Karena berbagai persoalan itu maka gerakan hemat listrik adalah solusi yang paling bijak yang harus disikapi secara positif oleh masyarakat. Paling tidak budaya hemat listrik ini harus ditanamkan dalam keluarga.