Vous êtes sur la page 1sur 8

AL-QURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP Al-Quran yang berasal dari kata kerja qaraa yaqrau (membaca) berarti bacaan.

. Secara terminologis, ia berarti wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, sebagai pedoman hidup manusia. Beberapa fungsi al-Quran adalah sebagai al-Hudaa (Petunjuk untuk kehidupan QS 2:185, 10:57), al-Bayaan / at-Tibyaan / Tafshiil (Penjelas sesuatu hal QS 2:185, 10:37), al-Furqaan (Pembeda atau pemisah antara haq dan bathiMengenai bukti bahawa Al-Quran itu datang dari Allah, dapat dilihat dari kenyataan bahawa Al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Dalam menentukan dari mana asal AlQuran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan.

Pertama, kitab itu merupakan karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad SAW. Ketiga, berasal dari Allah SWT saja.

Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab Al-Quran adalah khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya. Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah karangan orang Arab merupakan kemungkinan yang tertolak. Dalam hal ini Al-Quran sendiri telah menentang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat :

"Katakanlah: 'Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya" (Surah Hud 13). Di dalam ayat lain : "Katakanlah: ('Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cubalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya" (Surah Yunus 38). Orang-orang Arab telah berusaha keras mencubanya, akan tetapi tidak berhasil. Ini membuktikan bahawa Al-Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, ada tentangan dari Al-Quran dan usaha dari mereka untuk menjawab tentangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Nabi Muhammad s.a.w., adalah kemungkinan yang juga tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, Nabi Muhammad s.a.w. adalah orang Arab juga. Bagaimanapun cerdiknya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Nabi Muhammad s.a.w. yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Oleh kerana itu, jelas bahawa Al-Quran itu bukan karangan Nabi Muhammad s.a.w.. Terlebih lagi dengan banyaknya hadis shahih yang berasal dari Nabi Muhammad s.a.w. --yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadis dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal

Nabi Muhammad s.a.w., disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadis. Namun, ternyata keduanya tetap berbeza dari segi gaya sasteranya. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain. Kerana semua itu merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. Oleh kerana memang tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Quran dengan gaya bahasa hadis, bererti Al-Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad s.a.w. Sebab, pada masing-masing keduanya terdapat perbezaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab, orang-orang yang paling tahu gaya dan sastera bahasa arab, pernah menuduh bahwa AlQuran itu perkataan Nabi Muhammad s.a.w. atau mirip dengan gaya bicaranya. Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahawa Al-Quran itu dicipta Nabi Muhammad s.a.w. dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini pun telah ditolak keras oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

"(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: 'Bahawasanya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa 'ajami (bukan-Arab), sedangkan AlQuran itu dalam bahasa arab yang jelas" (Surah An-Nahl 103). Jika telah terbukti bahwa Al-Quran itu bukan karangan bangsa Arab, bukan pula karangan Nabi Muhammad s.a.w., maka sesungguhnya Al-Quran itu adalah firman Allah, kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya. l QS 2:185), asy-Syifaa (Penawar/obat penyakit rohani dan jasmani QS 10:57, 17:82), adzDzikr (Pengingat terhadap sesuatu, misalnya akhirat, QS 15:9), ar-Rahmah (Pendorong untuk kasih sayang QS 10:57, 17:82), al-Mauizhah (Pelajaran yang baik QS 10:57), Tashdiiq (Pembenar kitabullaah sebelumnya QS 10:37). Tidaklah mungkin al-Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam (QS Yunus 10:37). Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS al-Isra 17:82). Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitabkitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (QS al-Maidah 5:48).

Kitab suci al-Quran mempunyai banyak keistimewaa, antara lain : 1. Berasal dari Allah swt, bukan buatan Muhammad saw, (QS 2:23-24, 10:37-38, 11:13-14, 17:88-89) 2. Berlaku untuk seluruh ummat manusia, bukan hanya untuk orang Islam (QS 2:185, 25:1, 34:28) 3. Bersifat syumuliah, yaitu lengkap menyangkut semua aspek kehidupan (QS 6:38) 4. Mudah dipelajari, dibaca, dan dihapalkan (QS 54:17) 5. Dijamin asli oleh Allah swt, tidak dapat dipalsukan oleh manusia (QS 15:9, 2:23-24, 10:3738) Akhirnya, kewajiban manusia terhadap al-Quran adalah mengimaninya, membacanya, mempelajarinya (memahaminya), mengamalkannya, dan mendawahkannya. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya (QS alQiyaamah 75:16-19). Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya) (QS al-Isra 17:89). Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaanperumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir (QS al-Hasyr 59:21).

Al-Quran adalah kitab suci umat islam yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Malikat Jibril secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran merupakan kitab suci terakhir dan diturunkan sebagai penutup dari semua kitab-kitab yang sebelumnya. Kitab suci alquran isinya mencakup seluruh inti wahyu yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya. Al-Quran adalah mukjizat nabi Muhammad SAW yang terbesar diantara mukjizatmukjizat lainnya. Al-Quran merupakan pedoman sekaligus menjadi dasar hukum bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, para rasul datang untuk menyampaikan ajaran Tuhan kepada umatnya. Sebagai manusia para rasul tersebut pasti menemui ajalnya, meninggal dunia. Sepeninggal rasul, kehidupan umat manusia pasti akan kacau tanpa pegangan atau pedoman. Dengan diturunkannya kitab suci, maka umat manusia memiliki pedoman hidup walaupun nabi atau rasul telah tiada. Kepentingan diturunkannya kitab suci, dalam hal ini Al-Quran, yaitu : Agar manusia mengenal dan beriman kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Manusia cenderung mengakui adanya suatu

kekuatan atau kekuasaan di luar dirinya. Manusia dengan caranya masing-masing mencari zat yang Maha Kuasa. Pengalaman-pengalaman membuktikan, bahwa dengan hanya menggunakan akalnya manusia sering keliru mengenal Tuhannya. Untuk membantu manusia mengenal Tuhannya dengan benar, perlu adanya tuntunan dari Allah SWT. berupa wahyu yang diturunkan melalui para rasul. Dengan adanya wahyu, manusia dengan mudah dapat mengenal Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang Maha Pencipta. Al-quran sebagai pedoman hidup manusia dan umat Islam khususnya. Tanpa pegangan atau pedoman, manusia akan kehilangan arah. Kehidupan manusia penuh dengan berbagai persoalan, dari persoalan yang paling ringan sampai yang paling berat. Pada zaman nabi semua persoalan dapat diselesaikan langsung oleh nabi. Jika ada persoalan yang rumit yang nabi sendiri mengalami kesulitan, maka Allah memberi petunjuk melalui wahyu. Setelah Rasulullah tiada, manusia perlu pedoman agar kehidupan mereka tidak kacau balau. Wahyu-wahyu Allah yang dihimpun dalam sebuah kitab yang bernama Al-Quran itu menjadi pedoman yang lengkap bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam lingkungannya.
BUKTI KEBENARAN AL-QURAN : KITAB AL-QURAN TERJAGA KEASLIANNYA

Firman

ALLAH

SWT

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Quran Surat Al-Anam ayat 115) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Quran Surat Al-Hijr ayat 9) Dalam ayat diatas merupakan janji ALLAH untuk menjaga keaslian Al-Quran, dan terbukti diseluruh belahan dunia AL-Quran telah tersebar dalam berbagai media cetak dan elektronik dan terbukti tak ada satu huruf pun yang berbeda antara musyaf Al-Quran yang ada di Indonesia dengan musyaf yang ada di amerika, eropa dan negara lainnya. Adakah buku selain kitab suci AL-Quran yang isinya tetap sama (huruf, titik, koma) dan bertahan selama 1400 tahun tetap keasliannya??? Bukti-bukti Keaslian Al-Qur'an

Secara ilmiah, berbagai tudingan para orientalis dan misionaris yang menyerang otentisitas AlQuran itu sudah terjawab buku monumental Prof Dr Muhammad Musthafa Al-Azami The History of The Quranic Text, From Revelation to Compilation (edisi Indonesia: Sejarah Teks Al-Quran, Dari Wahyu Sampai Kompilasinya).

secara teknis, faktor keaslian Al-Qur'an terjaga bukan oleh tulisan dan manuskrip, tapi oleh banyaknya intelektual penghafal Al-Qur'an sejak zaman Nabi hingga saat ini. Sudah tak terhitung berapa juta manusia yang hafal Al-Qur'an di luar kepala tanpa salah satu titik koma pun. Dengan banyaknya para penghafal Al-Quran di seluruh dunia, maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berani berkomentar: Umat kita tidaklah sama dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang tidak mau menghafal kitab suci mereka. Bahkan seandainya seluruh mushaf itu ditiadakan, maka Al-Quran tetap tersimpan di hati kaum muslimin. Bila dibandingkan secara objektif, maka ada tiga perbedaan mendasar antara sejarah Al-Qur'an dan Bibel: Pertama. Al-Quran ditulis oleh puluhan juru tulis wahyu langsung di bawah pengawasan Rasulullah SAW. Beliau mendokumentasikan Al-Quran dalam bentuk tertulis sejak masa turunnya wahyu. Karenanya, beliau menugaskan puluhan shahabat sebagai penulis wahyu, antara lain: Abban bin Said, Abu Ayyub Al-Ansari, Abu Umamah, Abu Bakar As-Siddiq, Abu Hudzaifah, Abu Sufyan, Abu Salamah, Abu Abbas, Ubayy bin Kaab, Al-Arqam, Usaid bin AlHudair, Khalid bin Said, Khalid bin Al-Walid, Az-Zubair bin Al-Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khatthab, Amr ibn AlAsh, Muadz bin Jabal, Muawiyah, Yazid bin Abi Sufyan, dll. Saat wahyu turun, secara rutin Rasulullah memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat tersebut. Dalam hal penulisan ayat yang baru turun, Nabi memiliki kebiasaan untuk meminta penulis wahyu untuk membaca ulang ayat tersebut setelah menuliskannya. Menurut Zaid bin Tsabit, jika ada kesalahan dari penulisan maka beliau yang membetulkannya, setelah selesai barulah Rasulullah membolehkan menyebarkan ayat tersebut. Sementara Bibel ditulis dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun sepeninggal para nabi yang menerima wahyu dari Tuhan. Sementara kitab Perjanjian Lama disusun antara tahun 1.400 sampai 400 Sebelum Masehi, sedangkan Perjanjian Baru disusun antara tahun 50-100 Masehi. Ketidakhadiran para nabi dalam proses penulisan Bibel, menjadi peluang tersendiri terhadap pemalsuan (tahrif) terhadap kitab suci. Kedua. Al-Quran dihafal oleh para shahabat yang langsung belajar kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan Bibel sama sekali tidak dihafal oleh orang-orang yang mengimaninya. Ketiadaan orang yang hafal Bibel, tentunya memperbesar peluang distorsi dan pemalsuan ayat. Ketiga. Proses pembukuan Al-Quran adalah penyalinan ayat-ayat yang mengacu pada tulisan dan hafalan yang ditulis dan dihafal langsung di hadapan Rasulullah SAW semasa hidupnya. Sedangkan pembukuan Alkitab mengacu pada tulisan manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya. Manuskrip-manuskrip ini pun penuh dengan masalah, sebagian tidak diketahui penulisnya, sebagian lagi rusak dan tak terbaca.

Bukti Kebenaran Al-Quran

Bukti Kebenaran Al-Quran. Adakah mushaf Al-Quran di setiap rumah keluarga Muslim? Diduga jawabannya adalah tidak! Apakah anggota keluarga Muslim yang memiliki mushaf telah mampu membaca Kitab Suci itu? Diduga keras jawabannya adalah belum! Apakah setiap Muslim yang mampu membaca Al-Quran mengetahui garis besar kandungannya serta fungsi kehadirannya di tengah-tengah umat? Sekali lagi, jawaban yang diduga serupa dengan yang sebelumnya. Bukti Kebenaran Al-Quran. Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, antara lain dinamai Al-Kitab dan Al-Quran (bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca-tulis. Ini semua, dimaksudkan, agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama A1-Kitab adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya. Dari celah-celah redaksinya ditemukan tiga bukti kebenarannya. Pertama, keindahan, keserasian dan keseimbangan kata-katanya. Kata yaum yang berarti hari, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali (ini sama dengan satu tahun), dalam bentuk jamak diulangi sebanyak 30 kali (ini sama dengan satu bulan). Sementara itu, kata yaum yang berarti bulan hanya terdapat 12 kali. Kata panas dan dingin masing-masing diulangi sebanyak empat kali, sementara dunia dan akhirat, hidup dan mati, setan dan malaikat, dan masih banyak lainnya, semuanya seimbang dalam jumlah yang serasi dengan tujuannya dan indah kedengarannya. Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Awal surah Al-Rum menegaskan kekalahan Romawi oleh Persia pada tahun 614: Setelah kekalahan, mereka akan menang dalam masa sembilan tahun di saat mana kaum mukminin akan bergembira. Dan itu benar adanya, tepat pada saat kegembiraan kaum Muslim memenangkan Perang Badar pada 622, bangsa Romawi memperoleh kemenangan melawan Persia. Pemberitaannya tentang keselamatan badan Firaun yang tenggelam di Iaut Merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya (badannya yang diawetkan) ditemukan oleh Loret di Wadi Al Muluk Thaba, Mesir, pada 1896 dan_ dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 Juli 1907. Mahabenar Allah yang menyatakan kepada Firaun pada saat kematiannya : Hari ini Kuselamatkan badanmu supaya kamu menjadi pelajaran bagi generasi sesudahmu (QS 10: 92). Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya sungguh mengagumkan ilmuwan masa kini, apa lagi yang menyampaikannya adalah seorang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup di lingkumgan masyarakat terkebelakang. Bukti kebenaran (mukjizat) rasul-rasul Allah bersifat suprarasional. Hanya Muhammad yang datang membawa bukti rasional. Ketika masyarakatnya meminta bukti selainnva, Tuhan berpesan agar mereka mempelajari Al-Quran (lihat QS 29: 50). Sungguh disayangkan bahwa tidak sedikit umat Islam dewasa ini bukan hanya tak pandai membaca Kitab Sucinya, tetapi juga tidak memfungsikannya, kecuali sebagai penangkal bahaya dan pembawa manfaat dengan cara-cara yang irasional. Rupanya, umat generasi inilah antara lain yang termasuk diadukan oleh Nabi Muhammad: Wahai Tuhan, sesungguhnya umatku telah menjadikan AI-Quran sesuatu yang tidak dipedulikan (QS 25: 30).

Bukti Kebenaran Al-Quran. Tahap pertama untuk mengatasi kekurangan dan kesalahan di atas adalah meningkatkan kemampuan baca Al-Quran. Janganlah anak-anak kita disalahkan jika kelak di kemudian hari mereka pun mengadu kepada Allah, sebagaimana ditemukan dalam sebuah riwayat: Wahai Tuhanku, aku menuntut keadilan-Mu terhadap perlakuan orang-tuaku yang aniaya ini.
Topik pencarian yang masuk adalah :

bukti kebenaran alquran,bukti kebenaran al-quran,bukti kebenaran al quran,kebenaran al quran,Bukti-bukti kebenaran al-quran,menembus batas tujuan hidup dunia akherat,al quran kebenaran dan fungsi-fungsi utamanya,menembus batas gaib,kebenaran alquran di masa kini,kebenaran dan fungsi al-quran,kekalahan romawi terhadap persia,makalah bukti kebenaran islam,makalah bukti kebenaran alquran,makalah tentang kebenaran al quran,menyusun kalimat tujuan untuk karya tulis perang badar,menjadi mualaf setelah tahu bukti kebenaran alquran,kebenaran alquran dan rasul,kebenaran alquran beserta kandungannya,kebenaran alquran,al quran menembus Mengenai bukti bahawa Al-Quran itu datang dari Allah, dapat dilihat dari kenyataan bahawa AlQuran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Dalam menentukan dari mana asal Al-Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan.

Pertama, kitab itu merupakan karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad SAW. Ketiga, berasal dari Allah SWT saja.

Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab Al-Quran adalah khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya. Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah karangan orang Arab merupakan kemungkinan yang tertolak. Dalam hal ini Al-Quran sendiri telah menentang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat :

"Katakanlah: 'Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya" (Surah Hud 13). Di dalam ayat lain : "Katakanlah: ('Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cubalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya" (Surah Yunus 38). Orang-orang Arab telah berusaha keras mencubanya, akan tetapi tidak berhasil. Ini membuktikan bahawa Al-Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, ada tentangan dari Al-Quran dan usaha dari mereka untuk menjawab tentangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Nabi Muhammad s.a.w., adalah kemungkinan yang juga tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, Nabi Muhammad s.a.w. adalah orang Arab juga. Bagaimanapun cerdiknya, tetaplah ia sebagai seorang

manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Nabi Muhammad s.a.w. yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Oleh kerana itu, jelas bahawa Al-Quran itu bukan karangan Nabi Muhammad s.a.w.. Terlebih lagi dengan banyaknya hadis shahih yang berasal dari Nabi Muhammad s.a.w. --yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadis dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad s.a.w., disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadis. Namun, ternyata keduanya tetap berbeza dari segi gaya sasteranya. Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain. Kerana semua itu merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. Oleh kerana memang tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Quran dengan gaya bahasa hadis, bererti Al-Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad s.a.w. Sebab, pada masing-masing keduanya terdapat perbezaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab, orang-orang yang paling tahu gaya dan sastera bahasa arab, pernah menuduh bahwa AlQuran itu perkataan Nabi Muhammad s.a.w. atau mirip dengan gaya bicaranya. Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahawa Al-Quran itu dicipta Nabi Muhammad s.a.w. dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini pun telah ditolak keras oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

"(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: 'Bahawasanya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa 'ajami (bukan-Arab), sedangkan AlQuran itu dalam bahasa arab yang jelas" (Surah An-Nahl 103). Jika telah terbukti bahwa Al-Quran itu bukan karangan bangsa Arab, bukan pula karangan Nabi Muhammad s.a.w., maka sesungguhnya Al-Quran itu adalah firman Allah, kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya.