Vous êtes sur la page 1sur 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Skabies merupakan penyakit endemis pada banyak masyarakat, penyakit ini dapat mengenai ras dan golongan diseluruh dunia. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak dan dewasa muda, tetapi dapat mengenai semua umur. Insidennya sama pada pria dan wanita (Depkes RI, 2004)
Penyakit Skabies saat ini oleh badan dunia dianggap sebagai pengganggu dan perusak kesehatan yang tidak dapat lagi dianggap hanya sekedar penyakitnya orang miskin karena penyakit ini telah merebak menjadi penyakit kosmopolit yang menyerang semua tingkat sosial (M. Wasitaatmadja, 2007)

Pada sebuah komunitas, kelompok atau keluarga yang terkena skabies akan menimbulkan beberapa hal yang dapat mempengaruhi kenyamanan aktifitas dalam menjalani satu kehidupannya. Penderita selalu mengeluh gatal, terutama pada malam hari. Gatal yang terjadi terutama di bagian sela-sela jari tangan, di bawah ketiak, pinggang, alat kelamin, sekeliling siku, areola (area sekeliling puting susu) dan permukaan depan pergelangan, sehingga akan timbul perasaan malu karena pada usia remaja dan dewasa timbulnya skabies sangat mempengaruhi penampilannya juga tentang penilaian tentang tempat tinggal daerah desa yang dianggap kurang terjaga kebersihannya (Dariansyah F, 2006).
Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, dimana pelayanan kesehatan masyarakat belum memadai sehubungan dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Permasalahan utama yang dihadapi masih didominasi oleh penyakit infeksi yang sebagian besarnya adalah penyakit menular yang berbasis lingkungan. Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi penyakit skabies dalam masyarakat diseluruh Indonesia pada tahun 1996 adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari duabelas penyakit kulit. Jawa Barat merupakan provinsi dengan insidensi skabies tertinggi di Indonesia (Depkes RI, 2004)

Prevalensi penyakit skabies berdasarkan profil kesehatan Puskesmas Pondoksalam 2011 sebanyak 143 kasus yang merupakan sepuluh penyakit tertinggi di Kecamatan Pondoksalam. Berdasarkan laporan yang ada di Puskesmas Pondoksalam dari bulan Januari sampai Oktober tahun 2012 didapatkan 184 kasus, hal ini menunjukkan peningkatan dari angka kesakitan skabies di kecamatan Pondoksalam (Profil Kehatan Puskesmas Pondoksalam, 2011) Kegiatan untuk meningkatkan kesehatan (promotif) dan mencegah penyakit (preventif) merupakan dua upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat terhadap penyakit (Depkes RI, 2000). Ruang lingkup penelitian ini yaitu pada petugas pelayanan kesehatan puskesmas Pondoksalam. Lokasi penelitian yaitu Puskesmas Pondoksalam. Waktu penelitian yaitu selama sebulan dari tanggal 6 November hingga 1 Desember 2012.

1.2 Identifikasi Masalah Data Puskesmas pada tahun 2011 penyakit skabies merupakan termasuk sepuluh penyakit tertinggi dengan jumlah 86 untuk kasus baru atau sekitar 3.6%. walaupun ISPA merupakan penyakit terbanyak dalam urutan tersebut yaitu sebanyak 2660 kasus baru. Pada tahun 2012 ternyata jumlah kasus skabies meningkat, data dari puskesmas bulan Januari hingga Oktober didapatkan 184 kasus, meningkat dibandingkan dengan tahun 2011.Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang masalah yang ada maka mengambil judul Pandangan Petugas Pelayanan Kesehatan Pondoksalam terhadap Usaha Preventif dan Promotif Penyakit Skabies di Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta tahun 2012. 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menurunkan angka kesakitan penyakit skabies di wilayah kerja Puskesmas Pondoksalam, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta. 1.3.2 Tujuan Khusus Tujuan Khusus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan usaha preventif dan promotif penyakit skabies di wilayah kerja Puskesmas Pondoksalam Kabupaten Purwakarta. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada Puskesmas Pondoksalam mengenai : Memberikan informasi kepada pihak Puskesmas Pondoksalam mengenai permasalahan penyakit skabies. Bahan pertimbangan dalam menentukan jalan keluar yang akan di tempuh untuk memecahkan masalah mengenai penyakit skabies di wilayah kerja Puskesmas Pondoksalam.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian Pada penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian pada petugas pelayanan kesehatan Puskesmas Pondoksalam, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta. 1.6 Metodologi Metode penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut : Metode penelitian Rancangan penelitian : Cross sectional : Etnography

Teknik pengambilan data Instrumen pokok penelitian Populasi

: In depth interview : Pertanyaan pemandu dan perekam suara : Petugas pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pondoksalam, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta.

Jumlah populasi

: 35 orang

Teknik pengambilan sampel : Purposive sampling. Jumlah sampel Teknik analisis : 6 orang : Analisis kualitatif

1.7 Lokasi dan Waktu Lokasi Penelitian Puskesmas Pondoksalam Waktu Penelitian 6 November 1 Desember 2012