Vous êtes sur la page 1sur 34

REFERAT ANESTESI ANESTESI REGIONAL DAN SISTEM ANESTESI INHALASI

Pembimbing : dr. Bambang Widjianto, Sp.An

Penyusun : 1. Melisa Gunawan 2. Nina Amelia 3. Afif Maulana 2006.04.0.0053 2006.04.0.0055 2006.04.0.0056

FAKULTAS KEDOKTERAN UMUM UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNYA sehingga kami dapat menyelesaikan tugas referat dengan judul ANESTESI REGIONAL DAN SISTEM ANESTESI INHALASI. Adapun tugas referat ini ditulis sebagai salah satu persyaratan akademis dalam masa kepaniteraan klinik di bagian Anestesi RSAL dr.Ramelan surabaya, dengan tujuan untuk menambah wawasan tentang tata cara anestesi, serta memberi pengalaman dalam penulisan dan penyajian suatu karya tulis. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada dr. Bambang Widjianto, Sp.An selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dalam penulisan referat ini, serta semua pihak yang telah membantu, sehingga terselesaikannya referat ini.

Surabaya, Februari 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................... 2 Daftar Isi ............................................................................................................................. 3 Bab I Bab II Pendahuluan ............................................................................................... 4 Anestesi Regional Definisi ........................................................................................................ 5 Pembagian Anestesi Regional ................................................................... 16 Penggolongan Obat Anestesi Regional ..................................................... 18 Toksisitas Obat Anestesi Regional ............................................................ 19 Persyaratan Ideal Anestesi Regional ......................................................... 19 Bab III Sistem Anestesi Inhalasi Definisi ...................................................................................................... 20 Pembagian ................................................................................................. 21 Farmakologi .............................................................................................. 28 Bab IV Kesimpulan ................................................................................................ 33

Daftar Pustaka ................................................................................................................... 34

BAB I PENDAHULUAN

Kata anestesi, berasal dari bahasa yunani yang berarti An-tidak,tanpa Aesthetos-persepsi,kemampuan untuk merasa. Yang secara umum

dan

berarti

menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes pada tahun 1846. Beberapa tipe anestesi adalah : Anestesi Umum : Hilangnya kesadaran total Anestesi Lokal : Hilangnya rasa pada daerah tertentu yang di inginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh) Anestesi Regional : Hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya. Berat ringannya nyeri pasca operasi dari masing-masing penderita tidak dapat diketahui. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas, intensitas, dan lamanya nyeri pasca operasi ini antara lain : 1. Lokasi dan lamanya operasi, serta seberapa besar kerusakan jaringan akibat operasi tersebut. 2. Fisiologik maupun Psikologik penderita. 3. Persiapan operasi baik psikologik, fisik, maupun farmakologi dari penderita oleh tim pembedahan. 4. Komplikasi yang berhubungan dengan pembedahan. 5. Pengelolaan anestesi baik sebelum, selama dan sesudah pembedahan. 6. Kualitas dari perawatan pasca bedah.

BAB II ANESTESI REGIONAL


DEFINISI Anestesi regional ialah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsangan transmisi sepanjang saraf sentral atau perifer. Dengan demikian, menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas, atau dingin. Cara kerja anestesi regional, setelah keluar dari saraf di ikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap,tanpa di ikuti oleh kerusakan struktur saraf. Banyak persenyawaan lain yang juga memiliki daya kerja demikian, tetapi efeknya tidak reversible dan menyebabkan kerusakan permanen terhadap sel saraf. Misalnya mematikan rasa setempat dengan pendinginan yang kuat(freezing anestesia) atau melalui keracunan protoplasma(fenol). Semua obat anestesi regional baru adalah sebagai rekayasa obat lama yang dianggap masih mempunyai kekurangan-kekurangan. Kokain adalah obat anestesi pertama yang dibuat dari daun koka dan dibuat pertama kali tahun 1884. Penggunaan kokain aman hanya untuk anestesi topikal. Penggunaan sistemik akan menyebabkan efek samping keracunan sistem saraf, sistem kardiovaskular,ketagihan. Sehingga dibatasi pembuatannya hanya untuk topikal mata, hidung, tenggorokan, dan kedokteran gigi.

PEMBAGIAN 1. Blok sentral (blok neuroaksial) yaitu meliputi blok spinal, epidural, dan kaudal. 2. Blok perifer (blok saraf) misalnya blok pleksus brachialis, axilar, analgesia regional intravena. Anestesi Spinal Anestesi spinal (intratekal, intradural, subdural, subarachnoid) adalah pemberian obat anestetik lokal kedalam ruang subarachnoid.

Indikasi : Bedah ekstremitas bawah Bedah panggul Tindakan sekitar rektum-perineum Bedah obstetri dan ginekologi Bedah urologi Bedah abdomen bawah Kontra indikasi absolut : Pasien menolak Infeksi pada tempat suntikan Hipovolemia berat, syok Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan Tekanan intrakranial meninggi Fasilitas resusitasi minim Kurang pengalaman atau tanpa didampingi konsultan anti anestesia

Kontra indikasi relatif : Infeksi sistemik (sepsis, bakteremia) Infeksi sekitar suntikan Kelainan neurologis Kelainan psikis Bedah lama Penyakit jantung Hipovolemia ringan Nyeri punggung kronis

Teknik anestesi spinal : 1. Tidurkan penderita dalam posisi dekubitus lateral. Buat penderita membungkuk maksimal agar proccesus spinosus mudah teraba. Atau bisa juga dalam posisi duduk

2. Inspeksi, Garis yang menghubungkan dua titik tertinggi. Krista iliaka kanan dan kiri akan memotong garis tengah punggung setinggi L4-L5. Palpasi, Untuk mengenal ruang antara 2 vertebra lumbalis. Pungsi lumbal hanya diantara L2-L3, L3-L4, L4-L5, atau L5-S1. 3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine dan alkohol. 4. Dengan memakai sarung tangan steril, pungsi lumbal dilakukan dengan menyuntikkan jarum lumbal no.22 (atau lebih halus misalnya no.23, 25, 26) pada bidang median dengan arah 10-30 terhadap bidang horisontal ke arah kranial pada ruangan antar vertebra lumbalis yang sudah dipilih. Jarum lumbal akan menembus kulit-subcutis-ligamentum supraspinosum-ligamentum intraspinosumligamentum flavum-duramater-ruang subarachnoid.

5. Setelah stilet dicabut, cairan serebrospinal akan menetes keluar. Selanjutnya disuntikkan larutan obat analgestik lokal pelan-pelan, diselingi aspirasi sedikit kedalam ruang subarachnoid tersebut. Komplikasi tindakan : Hipotensi berat Bradikardi Hipoventilasi Trauma pembuluh darah Mual muntah Gangguan pendengaran seperti tinitus Blok spinal tinggi atau total Komplikasi Pasca tindakan : Nyeri tempat suntikan Nyeri punggung Nyeri kepala karena kebocoran liquor Retensio urine Meningitis

Anestesi Epidural Anestesi epidural adalah blokade saraf dengan menempatkan obat diruang epidural (peridural,ekstradural). Ruang ini diantara ligamentum flavum dan duramater. Bagian atas berbatasan dengan foramen magnum didasar tengkorak dan dibawah dengan selaput sakrokogsigeal. Kedalaman ruang ini rata-rata 5mm dan dibagian posterior kedalaman maksimal pada daerah lumbal. Obat anestetik regional di ruang epidural bekerja langsung pada akar saraf spinal yang terletak dibagian lateral. Awal kerja anestesia epidural lebih lambat dibanding anestesia spinal, sedangkan kualitas blokade sensorik-motorik juga lebih lemah. Isi ruang epidural : 1. Sakrus duralis 2. Cabang saraf spinal (spinal nerve roots) 3. Pleksus venosus epiduralis 4. Arteria spinal 5. Pembuluh Limfe 6. Jaringan lemak Indikasi anestesia epidural : Pembedahan dan penanggulangan nyeri pasca bedah Tatalaksana nyeri saat persalinan Penurunan tekanan darah saat pembedahan supaya tidak banyak perdarahan Tambahan pada anestesia umum ringan karena penyakit tertentu pasien. Penyebaran obat anestesi epidural bergantung pada : Volume obat yang disuntikkan Usia pasien (tua minimal, 19th maksimal) Kecepatan suntikan Besarnya dosis Ketinggian tempat suntikan Posisi pasien Panjang kolumna vertebralis. Suntikan 10-15ml obat akan menyebar ke kedua sisi sebanyak 5 segmen.
9

Teknik Anestesi epidural : 1. Posisi penderita seperti pada anestesi spinal 2. Tusukkan jarum epidural biasanya dikerjakan pada ketinggian L3-L4, karena jarak antara ligamentum flavum dan duramater pada ketinggian ini adalah yang terlebar. 3. Untuk mengenali ruang epidural, dapat digunakan banyak teknik. Tetapi yang paling populer adalah teknik hilanganya resistensi (loss of resistance) dan teknik tetes tergantung (hanging drop). 3.1 Teknik hilangnya resistensi (loss of resistance). Teknik ini menggunakan semprit kaca atau semprit plastik rendah resistensi yang diisi oleh udara atau NaCl sebanyak 3ml. Setelah itu diberikan anestesi lokal pada tempat suntikan, jarum epidural ditusukkan sedalam 1-2cm. Kemudian udara atau NaCl disuntikkan perlahan-lahan secara terputus-putus (intermitten) sambil mendorong jarum epidural sampai terasa menembus jaringan keras (ligamentum flavum) yang disusul oleh hilangnya resistensi. Setelah yakin ujung jarum berada pada ruang epidural, dilakukan uji dosis (test dose).

10

3.2 Teknik tetes tergantung (hanging drop). Persiapannya sama seperti teknik hilangnya resistensi, tetapi pada teknik ini hanya menggunakan jarum epidural yang diisi oleh NaCl sampai terlihat adanya NaCl yang menggantung. Dengan mendorong jarum epidural perlahan-lahan secara lembut sampai terasa menembus jaringan keras yang kemudian disusul oleh tersedotnya NaCl ke ruang epidural. Setelah yakin ujung jarum berada pada ruang epidural dilakukan uji dosis (test dose).

4. Uji dosis (test dose). Uji dosis anestesi lokal untuk epidural dosis tunggal dilakukan setelah ujung jarum diyakini berada dalam ruang epidural. Dan untuk dosis berulang (continue) melalui kateter, masukkan anestesi lokal 3ml yang sudah bercampur dengan adrenalin 1 : 200.000, dengan hasil : Tidak ada efek setelah beberapa menit, kemungkinan besar letak jarum atau kateter sudah benar. Terjadi blokade spinal, menunjukkan obat masuk ke ruang subarachnoid karena terlalu dalam. Terjadi peningkatan laju nadi sampai 20-30%, kemungkinan obat masuk kedalam vena epidural.
11

5. Cara Penyuntikkan. Setelah diyakini posisi jarum dan kateter benar, suntikkan anestesi lokal secara bertahap setiap 3-5 menit sebanyak 3-5ml sampai tercapai dosis total. Suntikan yang terlalu cepat bisa menyebabkan tekanan dalam ruang epidural mendadak tinggi sehingga menimbulkan peningkatan TIK, nyeri kepala, dan gangguan sirkulasi pembuluh darah epidural.

PERBEDAAN Lokasi Obat Onset Durasi Volume Obat Teknik Blok motoris Efek hemodinamik (hipotensi)

SPINAL Sub arachnoid Cepat (dalam 5 menit) 60-90 menit 4cc Lebih mudah Kuat Besar

EPIDURAL Ruang epidural 10-15 menit 180 menit 15 atau 20cc Lebih sulit Sedang Kecil-sedang

Anestesi Kaudal Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesi epidural karena kanalis kaudalis kepanjangan dari ruang epidural. Obat ditempatkan di ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Indikasi anestesi kaudal : adalah tindakan bedah daerah sekitar perineum dan anorektal. Misalnya, Hemorhoid, fistula perianal.

12

Teknik Anestesi Kaudal : 1. Posisi penderita telungkup dengan simphisis diganjal (tungkai dan kepala lebih rendah dari pantat) atau dekubitus lateral, terutama pada wanita hamil. 2. Dapat digunakan jarum suntik biasa atau jarum dengan kateter vena (venocath, abbocath) ukuran 20-22 pada penderita dewasa. 3. Pada dewasa biasanya ditusukkan pada L5-S1 dengan dosis 1ml. 4. Identifikasi hiatus sakralis diperoleh dengan menemukan kornu sakralis kanan dan kiri (sangat mudah teraba pada penderita kurus) dan SIPS. Dengan menghubungkan ketiga tonjolan tersebut diperoleh hiatus sakralis.

5. Setelah dilakukan tindakan aseptik pada daerah hiatus sakralis, tusukan jarum mula-mula 90 terhadap kulit. Setelah diyakini masuk kanalis sakralis, arah jarum dirubah 45-60 dan jarum didorong sedalam 1-2cm. Kemudian suntikkan NaCl sebanyak 5ml secara agak cepat sambil meraba apakah ada pembengkakan dikulit untuk menguji apakah cairan masuk dengan benar di kanalis kaudalis.

13

Anestesi Regional Intravena Anestesi regional intravena (Bier blok) dikerjakan untuk bedah singkat sekitar 45 menit di daerah lengan dan tungkai. Prosedur anestesi regional intravena : 1. Pasang kateter vena (venocath) pada kedua punggung tangan. Pada sisi tangan atau lengan yang akan dibedah, untuk memasukkan obat anestesi lokal, sedangkan sisi lain untuk memasukkan obat-obat yang mungkin diperlukan seandainya timbul kegawatan atau diperlukan cairan infus. 2. Eksanguinasi (mengurangi darah) pada sisi lengan yang akan dibedah dengan menaikkan lengan dan massage manual dengan bantuan perban elastik (eshmark bandage) dari distal ke proksimal. Tindakan ini juga untuk mengurangi sirkulasi darah pada dosis obat. 3. Pasang pengukur tekanan darah pada lengan atas seperti akan mengukur tekanan darah biasa dengan torniquet atau manset ganda dan bagian proksimal dikembangkan dahulu sampai 100mmHg diatas tekanan sistolik supaya darah arteri tidak masuk ke lengan dan tentunya juga darah vena tidak akan masuk ke sistemik. 4. Suntikkan Lidocain atau Prilocain 0,5% 0,6ml/kg (Bupivakain tidak dianjurkan karena toksisitasnya lebih besar) melalui kateter dipunggung tangan. Untuk tungkai lewat vena punggung kaki dengan dosis 1-1,2ml/kg dengan anelgesia tercapai dalam waktu 10-15 menit. 5. Setelah 20-30 menit atau kalau penderita sudah merasa tidak enak atau nyeri pada torniquet, kembangkan manset distal dan kempiskan manset proksimal. 6. Setelah pembedahan selesai, deflasi manset dilakukan secara bertahap. Buka tutup selama beberapa menit untuk menghindari keracunan obat.

14

15

PENGGOLONGAN OBAT ANESTESI REGIONAL Ada 2 golongan besar obat anestesi regional yaitu golongan ESTER dan golongan AMIDE. Yang termasuk golongan ester adalah : Kokain, Benzokain, Oksibuprokain, Ametokain, Prokain, Tetrakain, Kloroprokain. Yang termasuk golongan amide adalah : Lidokain, Mepivakain, Etidokain, Dibukain, Ropivakain, Levobupikain.

Ester Di hidrolisis di plasma Hidrolisis cepat Durasi singkat Alergi , karena hasil metabolitnya PABA

Amida Di hidrolisis di hepar Hidrolisis lambat Durasi lama Alergi

Kokain : Alkaloid yang dihasilkan dari daun koka Bentuk garam HCl Konsentrasi 4-10% Untuk anestesi topikal antara lain : hidung, faring,dan tracheo-bronchial Dosis maksimal : 200mg dalam satu kali pemakaian Prokain : Ester dietilamino etanol dan p-aminobenzoic acid Secara topikal aktivitas kurang namun mempunyai keuntungan antara lain : toksisitas sistemik minimal, iritasi lokal sedikit, sterilisasi mudah, durasinya pendek, murah. Kurangnya toksisitas sistemik dan durasi yang pendek dikarenakan oleh dihidrolisa dengan cepat oleh pseudokolin esterase. Kalah bersaing dengan golongan amide.

16

Tetrakain HCl : (pontocaine, pantocaine, amethocaine) Kekuatannya lebih tinggi Daya kerja lebih lama Toksisitas sistemik lebih besar karena dihidrolisa dengan pelan di dalam plasma Tetrakain untuk injeksi dalam larutan 0,1% untuk satu kali pemakaian dengan dosis maksimal 100mg. Dibukain HCl : Anestesi lokal yang kuat Toksisitas sistemik yang tinggi Daya kerja lama. Lidokain (xylocaine) : Onset cepat Iritasi lokal (-) Sebagian dimetabolisme dihepar, sebagian disekresi melalui urine dalam bentuk yang tidak berubah. Toksisitas dua kali lebih tinggi daripada prokain Konsentrasi injeksi 0,5-2% untuk topikal 4% Bebas dari reaksi alergi Dilapangan digunakan sebagai penghilang nyeri sebelum injeksi propofol Memperlemah vaskularisasi (termasuk obat emergency) Dosis maksimal : 3mg/kgBB (tanpa adrenalin), 7mg/kgBB (dengan adrenalin) Bupivakain HCl Lebih kuat dan lama kerjanya 2-3 kali lebih lama dibanding lidokain atau Mepivacain. Konsentrasi : 0,25-0,75% Dosis maksimal untuk satu kali pemberian 200-500mg Pada konsentrasi rendah blok motorik kurang adekuat Untuk operasi abdominal diperlukan konsentrasi 0,75% Onset anestesi lebih lambat dibanding lidokain

17

Etidokain : Struktur seperti lidokain dengan potensi lebih besar dan masa kerja lebih lama.

TOKSISITAS OBAT ANESTESI REGIONAL Obat anestesi regional bila diberikan dengan tepat dosis dan tepat lokasi merupakan obat yang cukup aman. Intoksikasi akan terjadi bila secara tidak sengaja masuk ke dalam intravaskuler atau melampaui dosis maksimal. Gejala intoksikasi berupa : 1. Gejala sistemik a. Sistem Saraf Pusat : Eksitasi & Depresi b. Sistem kardiovaskuler : Hipertensi, Hipotensi, Syok sampai dengan cardiac arrest. 2. Gejala Lokal a. Kerusakan saraf b. Gangguan otot 3. Gejala lain-lain a. Alergi b. Methemoglobinemia c. Adiksi Apabila obat anestesi masuk ke dalam intravaskuler, gejala intoksikasi akan timbul kurang dari 5 menit, sedangkan pada pemberian infiltrasi atau epidural gejala akan timbul dalam 20 menit. PERSYARATAN IDEAL ANESTESI REGIONAL 1. Poten dan bersifat sementara (reversible) 2. Tidak menimbulkan reaksi lokal, sistemik dan alergi. 3. Mula kerja cepat dengan durasi memuaskan 4. Stabil dan dapat disterilkan 5. Harganya murah.

18

KEUNTUNGAN ANESTESI REGIONAL Pasien tetap sadar, bahaya respirasi (-) Jalan nafas terjaga Sederhana/alat minimal Gangguan nafas/kardiovaskuler (-) Relaksasi otot baik Perawatan pasca bedah minimal Polusi (-) Komunikasi terjaga Pengelolaan nyeri lebih baik Baik untuk pasien rawat jalan KEKURANGAN ANESTESI REGIONAL Cemas Operasi belum selesai, obat sudah habis Waktu lebih lama Tidak selalu berhasil 100% Tidak bisa untuk lokasi tertentu Intoksikasi

19

BAB III SISTEM ANESTESI INHALASI

DEFINISI Sistem penghantar gas atau system anesthesia atau sirkuit anestesia ialah alat yang bukan saja menghantarkan gas atau uap anastetik dan oksigen dari mesin ke jalan nafas atau pasien tetapi juga harus sanggup membuang CO2 dengan mendorongnya dengan aliran gas segar atau dengan menghisapnya dengan kapur soda. Istilah faal yang berkaitan dengan system anastesi inhalasi : 1. Volume(VT) Volume udara yang dihisap atau dikeluarkan pada satu kali nafas biasa. Besarannya 8-10cc/kgBB. 2. Volume nafas semenit (V) Jumlah volume tidal dalam semenit (V=VT x F) 3. Ruang Rugi Bagian saluran nafas yang tidak terjadi pertukaran udara (VD = 1/3VT) 4. Ventilasi alveolar Volume udara yang mengadakan pertukran udara selama semenit.

{VA=(VT-VD)xF} 5. Rebreathing Pemakaian udara respirasi untuk inspirasi kembali. 6. CO2 absorber Bahan pengikat CO2 yang terjadi, terdiri dari Ca (OH)2 dengan Na (OH)2 (sodalime).

20

PEMBAGIAN Pembagian berdasarkan teknik system-nya membagi sirkuit anastesia menjadi open, semi-open, semi-closed, dan closed. Sistem Open Semi Open Close Semi Close CO2 Absorber + + Rebreathing Tidak ada Sebagian Total Sebagian

Sistem Open 1. Tidak terjadi nafas ulang (rebreathing) 2. Tidak ada penyerapan CO2 (CO2 Absorber) 3. Terutama untuk anestesi anak-anak < 20 Kg 4. Contoh : - Sistem Open dengan sungkup tanpa plastic Kelebihan : Pertukaran udara menjadi bebas Tidak ada rebrething Biasanya menggunakan eter tetes - Sistem Open dengan Jacson Rees Syaratnya : Aliran udara 2 harus2 kali volume semenit Mempunyai katup ekshalasi - Sistem open dengan Ayres T-Tube Sistem ini akan menjadi system terbuka bila aliran O2 sama dengan 2 kali volume semenit.

21

Sistem Semi Open 1. Udara ekspirasi tidak bebas keluar sehingga sebagian dari ekspirasi akan kembali pada waktu inspirasi. 2. Ada rebreathing sebagian 3. Tidak ada CO2 Absorber 4. Alat biasa menggunakan eter-air buatan LOOSCO atau EMO Sistem Close 1. Circle sirkuit katup ekshalasi tertutup 2. Udara ekspirasi dihisap lagi dan diikat dengan atmosfer 3. Tidak ada udara yang berhubungan dengan atmosfer 4. Hemat O2 dan obat anestesi 5. Berbahaya bila CO2 Absorver tidak berfungsi dengan baik Sistem Semi Close 1. Gas ekspirasi sebagian keluar ke atmosfir dan sebagian masuk ke dalam saluran inspirasi 2. Terdapat tabung penyerapan CO2

Klasifikasi yang membagi sirkuit anastesia menjadi open, semi-open, semi-closed, dan closed ini dirasa masih membingungkan. Ada pula klasifikasi yang membagi sirkuit anastesia menjadi nafas ulang (rebreathing) dan non nafas ulang (non-rebreathing) tetapi juga tidak memuaskan, karena bagaimanapun juga masih terdiri hirupan kembali udara ekspirasi walaupun hanya kecil. Sirkuit anastesia yang populer sampai saat ini ialah sirkuit lingkaran (cirvle system), sirkuit Magiil, sirkuit Bain dan sistem pipa T.

22

Sistem tetes terbuka Sistem tetes terbuka (open drop system) ialah system anastesia yang sederhana yaitu dengan meneteskan cairan anastetik (eter, koloform) dari botol khusus ke wajah dengan bantuan sungkup muka (face mask) Schimmelbusch. Sistem ini tahanan nafasnya minimal dapat ditambahkan O2 melalui pipa kecil ke dalam sungkup. Keburukan system ini ialah selain boros, udara ekspirasi mencemari lingkungan sekitar. Sistem Insuflasi Sistem ini diartikan sebagai penghembusan gas anastetik dengan sungkup muka melalui salah satu ke wajah pasien tanpa menyentuhnya. Biasanya dikerjakan pada bayi anak yang takut disuntik pada mereka yang sedang tidur supaya tidak terbangun (induksi mencuri, steal induction). Untuk menghindari pertumpukan gas CO2 aliran gas harus cukup tinggi sekitar 8 - 10 liter / menit. Seperti system tetes terbuka cara ini mencemari udara sekitar. Ada yang mengartikan, bahwa sistem ini adalah penghembusan campuran gas anstetik melalui lubang-lubang dengan menggunakan pipa nasofaring. Seperti melalui sungkup, aliran campuran gas juga harus tinggi sekitar 8 10 liter / menit. Sistem Mapelson Sistem Mapleson asli tak dilengkapi dengan penyerap CO2 sehingga aliran gas harus sanggup membuang CO2. System ini disebut juga sebagai sistem aliran nafas terkendali (flow controlled breathing system). System ini terdiri dari beberapa kelas yaitu ABCDE. Willis menambah dengan system F dan system ini dikelompokkan menjadi tiga yaitu kelas A, BC, dan kelas DEF. Sistem Mapleson disebut juga sebagai system semi-tertutup yang terdiri dari sungkup muka (face mask), pipa ombak

(carrugated tubing), kantong cadang ( reservoir bag) dan lubang aliran gas segar (fresh gas flow inlet).

23

Sistem Mapleson A Sistem Mapleson A disebut sebagai sistem Magiil atau Magiil attachment. System ini cocok digunakan pada anastesia dengan pernapasan spontan. Katub Ekspirasi (KE) diletakkan sungkup muka (SM=P), menggunakan pipa ombak, sedangkan tempat masuk aliran gas segar (AGS=FG) di dekat atau pada kantong cabang (KC=T). Pada pasien pernapasan spontan, aliran gas segar minimal harus sama dengan besarnya ventilasi pasien semenit (80 100 ml/kg) yang ada pada pasien dewasa sekitar 5 6 liter / menit dan katub ekspirasi dibuka maksimal. Pada pernapasan sebagian. System ini sekarang jarang digunakan. Sistem Mapleson B dan C Seperti pada Sistem Mapleson A, pada sistem Mapleson B katup ekspirasi tetap didekat sungkup, tetapi lubang masuk aliran gas segar juga dekat sungkup atau katup. Pipa ombak dan kantong cadang berfungsi sebagai ruang tertutup (blind limb), tempat berkumpulnya gas segar, gas ruang mati (dead space gas) dan gas alveolar. Kadang-kadang system ini digunakan di ruang pulih ( recovery room) pada pasien dengan nafas spontan dan pada system ini diperlukan aliran gas segar sekitar dua kali ventilasi semenit. Mapleson C seperti mapleson C ini disebut juga sebagai system Water to and fro. Sistem Mapleson D Pada Sistem Mapleson D, katup ekspirasi diletakkan didekat masing-masing cadang dan lubang aliran gas segar di dekat sungkup muka. Untuk mencegah penghisapan kembali CO2 perlu aliran gas segar 2,5 x ventilasi semenit. Modifikasi
24

system ini disebut system Bain. Pada sistem Bain pipa kecil yang mengalirkan gas segar di dekat sungkup masih di dalam pipa ombak. Pipa ombak biasanya dari plastic transparan, tembus pandang, sehingga kalau ada kerusakan pipa dalam segera diketahui. Keuntungan system Bain ialah : Lebih ringkas, lebih ringan, dengan pipa tunggal Dapat digunakan kembali dan untuk semua usia Dapat digunakan untuk napas spontan atau kendali Dapat digunakan dengan ventilator Mudah disterilkan Untuk napas spontan perlu aliran gas segar 100 150 ml/kg, napas kendali 70 ml /kg. Sistem Mapleson E dan F Sistem Mapleson E ini hanya terdiri dari sungkup muka, lubang masuk untuk aliran gas segar dan pipa ombak sebagai pipa cadang. System ini dikenal juga dengan nama Ayres T-Piece atau y-piece in Rees atau Mapelson F. Tambahan kantong cadang ini memudahkan memonitor napas spontan dan melakukan naps kendali. System ini cocok untuk bayi dan anak kecil. Untuk mencegah dilusi oleh gas inspirasi dengan udara atau inspirasi dengan CO2 maka diperlukan aliran gas segar 2x ventilasi semenit. Keuntungan sistem ini ialah tak ada sesintensi gas tang diperlukan ialah untuk : Berat badan 10 30 kg Berat badan > 30 kg 100 ml/kg + 1000 ml 50 ml/kg + 2000 ml ekspirasi. Sedangkan aliran

Untuk efisiensi napas spontan A

>

DFE > B >

C C

> B < A

Untuk efisiensi napas kendali DFE >

25

Sistem ABC sekarang jarang digunakan, sistem DEF umumnya digunakan dan di Amerika banyak digunakan sistem Bain. Sistem lingkar Sistem ini di Amerika, menggunakan dua katup ekspirasi, satu di dekat pasien yang lainnya di dekat kantong cadang. Aliran gas cukup 2 3 menit asalkan kadar O2 > 25%. Sistem ini variasinya cukup banyak dan umumnya terdiri dari beberapa komponen, yaitu : Tempat masuk campuran gas segar (fresh gas islet) Katup ombak inspirasi dan ekspirasi Pipa ombak inspirasi dan ekspirasi Konektor Y. Katup pop-off. Kantong cadang Kanister berisi kapur soda.

26

Untuk mencegah hirupan kembali CO2, perhatikan hal-hal dibawah ini : Dua katup searah harus diletakkan antara pasien dan kantong cadang pada ujung distal pipa ombak Gas segar jangan dimasukkan ke sirkuit antara pasien dan katup ekspirasi. Katup pop-off tak dapat ditempatkan karena pasien dan katup inspirasi.

Tergantung tingginya aliran gas segar, maka sistem ini dapat digunakan untuk: Semi Open (aliran gas tinggi, hirupan kembali minimal) Semi closed (sering digunakan, disertai hirupan kembali) Closed (hirupan kembali komplit)

Keuntungan system ini : Ekonomis (aliran gas rendah). Konsentrasi gas inspirasi relative stabil Ada kehangatan dan kelembapan pada jalan napas Tingkat polusi rendah

Kerugian sistem ini : Resistensi tinggi. Tidak ideal untuk anak Pengenceran oleh udara ekspirasi

Sistem ini kompleks dengan beberapa komponen di antaranya : Tempat gas segar masuk (fresh gas inlet) Katup searah inspirasi dan ekspirasi Pipa ombak inspirasi dan ekspirasi Konektor Y Katup pop-off. Kanister berisi kapur soda
27

Pada sistem lingkar perlu penyerap CO2, yaitu : 1. Kapur soda (soda lime), yang terdiri dari : Ca (OH)2 NaOH KOH Pelembab silikat 76 81% 4% 1% 14-19%

2. Baralime, yang terdiri dari : Ba(OH)2 Ca (OH)2 20% 80% BaCO3 + H2O

CO2 + Ba (OH) 2. 8HH2O

Tanda-tanda kapur soda tidak bekerja : Warna berubah Kapnograf CO2 meningkat Tekanan darah mula-mula meningkat lalu menurun. Nadi menurun Napas menurun Napas spontan dalam Luka operasi darahnya merembes (oozing)

FARMAKOLOGI Obat anastesi inhalasi yang pertama kali dikenal dan digunakan untuk membantu pembedahan adalah N2O. kemudian menyusul eter, klorofom, etil klorida, etilen, halotan, metoksifluran, isofluran, desfluran, dan sevofluran.

28

Obat-obat yang lain banyak ditinggalkan karena efek samping yang tidak dikehendaki, misalnya : Eter : sekresi bronkus yang berlebihan, mual, muntah, bau merangsang Klorofom : aritmia, kerusakan hepar Etil klorida : depresi jantung, kebakaran, peledakan Metoksifluran : toksis pada ginjal, kerusakan pada hepar, kebakaran

Halotan Halotan merupakan hidrokarbon halogenisasi dengan bau yang manis, tidak tajam, dan memiliki titik didih 50,2 C. konsentrasi yang digunakan untuk anestesi antara 0,2-3%. Halotan mudah menguap, tidak mudah menguap, tidak mudah terbakar dan meledak. Halotan memiliki induksi anestesi yang baik tetapi kurang bersifat analgetik. Penggunaan halotan untuk anestesi secara tunggal dapat menyebabkan depresi kardiopulmoner yang ditandai sianosis. Halotan memiliki efek relaksasi otot kurang dibandingkan eter. Halotan bersifat bronkodilator dan merelaksasi uterus. Depresi pusat pernafasan yang disebabkan halotan ditandai dengan pernafasan yang cepat dan peningkatan frekuensi pernafasan. Efek utama pada sistem kardiovaskuler adalah depresi langsung pada miokardium dengan penurunan curah jantung dan tekanan darah, tetapi terjadi vasodilatasi dikulit sehingga perfusi jaringan tampak baik. Retensi karbondioksida akibat depresi pernafasan menyebabkan sekresi katekolamin meningkat yang dapat menyebabkan penurunan curah jantung. Halotan juga menyebabkan jantung sensitif terhadap katekolamin sehingga dapat terjadi gangguan irama jantung. Halotan tidak mengiritasi membran mukosa dan tidak merangsang kelenjar ludah. Halotan memiliki efek hepatotoksik. Banyak kerugian yang didapatkan dengan penggunaan halotan dapat dikurangi dengan mengkombinasikan halotan dengan obat anestesi lain seperti nitrogen oksida atau trikloroetilen.

29

Trikloroetilen Trikloroetilen merupakan hidrokarbon halogenisasi dengan bau manis dan titik didih 87 C. Formula anestesinya berwarna biru Trikloroetilen memiliki efek analgetik kuat tetapi memiliki efek hipnotik yang sangat kurang sehingga penurunan kesadadaran membutuhkan waktu yang lama. Trikloroetilen memiliki kelarutan yang tinggi dalam darah sehingga induksi dan pemulihannya lama. Jika dapat digunakan sebagai anestesi tunggal dapat menyebabkan depresi kardiorespiratori dengan takipneu. Dosis analgetik sangat berguna untuk mengurangi rasa sakit pada persalinan secara inhalasi dengan konsentrasi 0,35-0,5%. Karena mempunyai efek analgetik kuat maka dapat digunakan untuk tindakan di permukaan, misal insisi abses atau mengganti perban pada pasien rawat jalan. Trikloroetilen merupakan analgetik yang baik, tetapi merupakan hipnotik yang buruk, biasanya dikombinasikan dengan halotan yang merupakan hipnotik yang baik tetapi analgetik yang buruk. Nitrous oxide (NO) Merupakan satu-satunya gas anorganik yang dipakai dalam bidang anestesiologi. NO merupakan gas yang tidak berwarna, berbau manis, dan tidak iritatif. NO merupakan gas yang stabil dan dapat bedifusi kedalam karet. Tidak mudah terbakar dan meledak. NO mempunyai sifat 15 kali lebih mudah larut dalam plasma dibandingkan oksigen. NO merupakan zat anestetik yang lemah. Menimbulkan efek analgetik yang kuat dan hipnotik lemah, Depresi pernafasan dapat terjadi pabila penggunaan NO tidak disertai dengan O. NO tidak merangsang sekresi kelenjar dan dapat menurunkan sensitivitas laring dan trakea terhadap manipulsai. NO bersifat mendesak O dalam tubuh sehingga dapat terjadi hipoksia difusi . Hal ini sering terjdi di masa pemulihan dimana pasien bernafas dengn udara normal (20%O), sejumlah besar NO masuk kedalam alveoli dan mendesak O di alveoli dan terjadilah hipoksia. Untuk mencegah terjadinya hipoksia difusi maka diberikan O aliran tinggi beberapa menit setelah selesai anestesi. NO pada umumnya dikombinasikan dengan O dengan perbandingan NO : O = 60% : 40%, 70% : 30%, 50% : 50%.

30

Enfluran (Ethran) Enfluran berbentk cairan, mudah menguap, dan berbau enak. Enfluran mendidih pada suhu 56,6 C. Enfluran merupakan anestetik yang kuat, Mendepresi SSP menimbulkan efek hipnotik. Pada konsentrasi 3%-3,5% dapat timbul perubahan pada EEG yaitu bentuk epileptiform yang merupakan predisposisi timbulnya kejang pad stadium anestesi, sehingga tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat epilepsi. Pada anestesi yang dalam dapat menyebabkan depresi miokardium sehingga menurunkan tekanan darah. Dapat menuunkan volume tidal dan meningkatkan laju nafas. Tidak menyebabkan hipersekresi kelenjar. Enfluran memiliki efek relaksasi otot bergaris yang moderat dan dapat meningkatkan efektifitas obat pelumpuh otot non depolarisasi. Enfluran konsentrasi rendah (0,5%-0,85) cukup aman digunakan untuk sectio caesaria tanpa mendepresi foetus tetapi pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan relaksasi uterus dan menyebabkan perdarahan. Enfluran tidak memiliki efek hepatotoksik maupun nefrotoksik. Induksi dengan Enfluran cepat dan masa pemulihannya cepat. Isofluran Isofluran merupakan isomer dari enfluran dengan efek samping yang minimal. Induksi dan pemulihan dengan Isofluran cepat Seperti Enfluran, Isofluran juga dapat menimbulkan depresi pernafasan. Isofluran memiliki efek bronkodilatsi dan baik untuk digunakan pada pasien PPOK dan asma bronkial. Isofluran memiliki efek relaksasi otot bergaris yang baik dan berpotensiasi dengan obat pelumpuh otot. Pada dosis anestesi (1,5%-3%), Isofluran tidak menyebabkan relaksasi otot uterus. Isofluran tidak menyebabkan perubahan gambaran EEG berupa epileptiform. Isofluran tidak menimbulkan efek hepartotoksik dan nefrotoksik.

31

Desfluran Desfluran (suprane) merupakan halogenasi eter yang rumus bangun dan efek klinisnya mirip isofluran. Desfluran sangat mudah menguap dibandingkan anestetik volatil lain, sehingga perlu menggunkan vaporizer khusus (TEC-6). Titik didihnya mendekati suhu ruangan (23.5 C). Potensinya rendah (MAC 0.6%). Ia bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardia dan hipertensi. Efek depresi nafasnya sepeti isofluran dan etran. Desfluran merangsang jalan nafas atas, sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesia. Efek terhadap kardovaskuler cukup stabil, jarang menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan belum ada laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian dihentikan sevofluran cepat dikeluarkan oleh badan. Walaupun sevofluran beraksi dengan kapur soda yang pada tikus menyebabkan toksis pada ginjal, tetapi belum ada laporan membahayakan terhadap tubuh manusia. Tabel 2.1 Farmakologi klinik anestetik inhalasi.

32

BAB IV KESIMPULAN

Anestesi regional dan anestesi inhalasi sangat sering digunakan. Oleh karena itu, setelah mempelajari pokok bahasan ini kita diharapkan mampu untuk : 1. Mengetahui macam-macam obat lokal anestesi dan penggunaanya 2. Mengetahui macam-macam teknik anestesi regional dan sistem anestesi inhalasi 3. Mengetahui penyulit-penyulit yang akan timbul. Secara garis besar, di dapatkan perbedaan antara anestesi regional dan anestesi umum. Anestesi Umum Menghilangkan nyeri Hilang kesadaran Temporer Anestesi Regional Menghilangkan nyeri Tanpa hilang kesadaran Temporer

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Latief AS, Suryandu KA, et al. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Kedua. Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif FK UI. 2. Purnawan J, et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga, Jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta 2001. 3. Tanu Jan. Farmakologi dan Terapi. Edisi Keempat. Bagian Farmakologi FK UI 1995. 4. http://asramamedicafkunhas.blogspot.com/search/label/Anastesi

34