Vous êtes sur la page 1sur 22

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Abortus provocatus adalah istilah Latin yang secara resmi dipakai dalam kalangan kedokteran dan hukum. Maksudnya adalah dengan sengaja mengakhiri kehidupan kandungan dalam rahim seseorang perempuan hamil. Karena itu abortus provocatus harus dibedakan dengan abortus spontaneus, dimana kandungan seorang perempuan hamil dengan spontan gugur. Jadi perlu dibedakan antara abortus yang disengaja dan abortus spontan. Secara medis abortus dimengerti sebagai penghentian kehamilan selama janin belum viable, belum dapat hidup mandiri di luar rahim, artinya sampai kira-kira 24 minggu atau sampai awal trimester ketiga.

BAB II PEMBAHASAN A. ABORTUS Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 g atau usia kehamilan 20 minggu. (terakhir, WHO/FIGO 1998 : 22 minggu) Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur.

Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi:

Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami. Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah: Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan. Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.

Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu : Kelaianan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau alkohol. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan toksoplasmosis Kelainan traktus genetalia seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua) retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.

Faktor-faktor yang menyebabkan kematian fetus : 1. Kelainan ovum :


Ovum abnormal karena terdapat degenari hidatid villi Terjadi pada UK < 1 bln 50 80% pada abortus spontan

2. Kelainan genitalia ibu : Ibu menderita : o Anomaly congenital (hipoplasia uteri, uterus bikornism, dll) o Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi, seperti berkurangnya progresteron dan estrogen, endometriosis, mioma submukosa Uterus terlalu cepat meregang (kehamilan ganda, mola) Distorsia uterus, misalnya : karena terdorong oleh tumor pelvis

3. Kelainan sirkulasi plasenta : Pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomaly plasenta 4. Penyakit-penyakit pada ibu :

Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi : pneumoni, thypoid, rubella kematian fetus terjadi akibat toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus

Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alcohol, dll Ibu yang asfiksia seperti decompensasi cordis, penyakit paru berat, anemia gravis Malnutrisi, avitaminosis, gangguan metabolism, hipotiroid, DM

5. Antagonis rhesus :

Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus

6. Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atropi :

Karena factor serviks, yaitu inkompetens serviks, servikitis

7. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi : Terkejut, obat uterotonika, ketakutan, dll Trauma langsung pada fetus, selaput janin rusak langsung karena instrument, benda dan obat-obatan Patogenesis Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus. Manifetasi Klinis

Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu. Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.

Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi

Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus Pemeriksaan ginekologi : a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berbau busuk dario ostium. c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

Pemeriksaan Penunjang

Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 3 minggu setelah abortus Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

Komplikasi

Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.

B. JENIS JENIS ABORTUS Diagnosis Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi atas : 1. Abortus iminens, perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa ada tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat.

2. Abortus insipiens, bila perdarahan diikuuti dengan dilatasi serviks. 3. Abortus inkomplit, bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. Bila abortus inkomplit disertai infeksi genetalia disebut abortus infeksiosa 4. Abortus komplit, bila seluruh jaringan janin sudah keluar dari uterus 5. Missed abortion, kematian janin sebelum 20 minggu, tetapi tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Proses abortus dapat berlangsung spontan (suatu peristiwa patologis), atau artifisial / terapeutik (suatu peristiwa untuk penatalaksanaan masalah / komplikasi). Abortus spontan diduga disebabkan oleh : - kelainan kromosom (sebagian besar kasus) - infeksi (chlamydia, mycoplasma dsb) - gangguan endokrin (hipotiroidisme, diabetes mellitus) - oksidan (rokok, alkohol, radiasi dan toksin)

Proses Abortus dapat dibagi atas 4 tahap : abortus imminens, abortus insipiens, abortus inkomplet dan abortus komplet. 1. Abortus Iminens Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Ciri : perdarahan pervaginam, dengan atau tanpa disertai kontraksi, serviks masih tertutup Jika janin masih hidup, umumnya dapat bertahan bahkan sampai kehamilan aterm dan lahir normal. Jika terjadi kematian janin, dalam waktu singkat dapat terjadi abortus spontan. Penentuan kehidupan janin dilakukan ideal dengan ultrasonografi, dilihat gerakan denyut jantung janin dan gerakan janin. Jika sarana terbatas, pada usia di atas 12-16 minggu denyut jantung janin dicoba didengarkan dengan alat Doppler atau Laennec. Keadaan janin sebaiknya segera ditentukan, karena mempengaruhi rencana penatalaksanaan / tindakan. Penatalaksanaan

Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik berkurang. Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap empat jam bila pasien panas Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila hasil negatif mungkin janin sudah mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup. Berikan obat penenang, biasanya fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600 1.000 mg Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat. 2. Abortus Insipiens Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam uterus. Ciri : perdarahan pervaginam, dengan kontraksi makin lama makin kuat makin sering, serviks terbuka. Penatalaksanaan : Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul dengan kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular.

Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam deksrtose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit. Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual. 3. Abortus Inkomplit Abortus inkompletus adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Ciri : perdarahan yang banyak, disertai kontraksi, serviks terbuka, sebagian jaringan keluar. Penatalaksanaan : Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg intramuskular Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual. Berikan antibiotik untuk mencegah infeks
4. Abortus Komplit

Abortus kompletus adalah terjadinya pengeluaran lengkap seluruh jaringan konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Ciri : perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks sudah menutup, ada keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus. Diagnosis komplet ditegakkan bila jaringan yang keluar juga diperiksa kelengkapannya. Penatalaksanaan :

Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3 5 hari Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
5. Abortus Abortion

Kematian janin dan nekrosis jaringan konsepsi tanpa ada pengeluaran selama lebih dari 4 minggu atau lebih (beberapa buku : 8 minggu ?). Biasanya didahului tanda dan gejala abortus imminens yang kemudian menghilang spontan atau menghilang setelah pengobatan. Penatalaksaan : Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam Bila kadar finrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan serviks dengan gagang laminaria selama 12 jam lalu dilakukan dilatasi serviks dengan dalatator Hegar kemudian hasil konsepsi diambil dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan dietilstilbestrol 3 x 5 mg lalu infus oksitosin 10 IU dalam dektrose 5% sebanyak 500 ml mulai 20 tetes per menit dan naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus. Oksitosin dapat diberikan sampai 100 IU dalam 8 jam. Bila tidak berhasil, ulang infus oksitosin setelah pasien istirahat satu hari. Bila fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri melalui dinding perut. 6. Abortus Septik

Sepsis akibat tindakan abortus yang terinfeksi (misalnya dilakukan oleh dukun atau awam). Bahaya terbesar adalah kematian ibu. Abortus septik harus dirujuk kerumah sakit Penanggulangan infeksi : a. Obat pilihn pertama : penisilin prokain 800.000 IU intramuskular tiap 12 jam ditambah kloramfenikol 1 gr peroral selanjutnya 500 mg peroral tiap 6 jam
b. Obat pilihan kedua : ampisilin 1 g peroral selanjutnya 500 g tiap 4 jam

ditambah metronidazol 5000 mg tiap 6 jam c. Obat pilihan lainnya : ampisilin dan kloramfenikol, penisilin, dan metronidazol, ampisilin dan gentamisin, penisilin dan gentamisin. Tingkatkan asupan cairan Bila perdarahan banyak , lakukan transfusi darah Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat lagi bila terjadi perdarahan, sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus. 7. Abortus terapeutik Dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu, atas pertimbangan / indikasi kesehatan wanita di mana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan dirinya, misalnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal, korban perkosaan (masalah psikis). Dapat juga atas pertimbangan / indikasi kelainan janin yang berat. Pada pasien yang menolak dirujuk beri pengobatan sama dengan yang diberikan pada pasien yang hendak dirujuk, selama 10 hari :

Di rumah sakit : Rawat pasien di ruangan khusus untuk kasus infeksi

Berikan antibiotik intravena, penisilin 10-20 juta IU dan streptomisin 2 g Infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat disesuaikan kebutuhan cairan Pantau ketat keadaan umum, tekanan darah , denyut nadi dan suhu badan Oksigenasi bila diperlukan, kecepatan 6 8 liter per menit Pasang kateter Folley untuk memantau produksi urin Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, hematokrit, golongan darah serta reaksi silang, analisi gas darah, kultur darah, dan tes resistensi. Apabila kondisi pasien sudah membaik dan stabil, segera lakukan pengangkatan sumber infeksi Abortus septik dapat mengalami komplikasi menjadi syok septik yang tandatandanya ialah panas tinggi atau hipotermi, bradikardi, ikterus, kesadaran menurun, tekanan darah menurun dan sesak nafas PRINSIP Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu
a. Jangan langsung dilakukan kuretase

b. Tentukan dulu, janin mati atau hidup. Jika memungkinkan,periksa dengan USG c. Jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin.

C. DIAGNOSTIK

1. Anamnesis : perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidak gejala / keluhan lain, cari faktor risiko / predisposisi. Riwayat penyakit umum dan riwayat obstetri / ginekologi. 2. Prinsip : wanita usia reproduktif dengan perdarahan per vaginam abnormal HARUS selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya kehamilan. 3. Pemeriksaan fisis umum : keadaan umum, tanda vital, sistematik. JIKA keadaan umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera ! 4. Pemeriksaan ginekologi : ada tidaknya tanda akut abdomen. Jika memungkinkan, cari sumber perdarahan : apakah dari dinding vagina, atau dari jaringan serviks, atau darah mengalir keluar dari ostium ? 5. Jika diperlukan, ambil darah / cairan / jaringan untuk pemeriksaan penunjang (ambil sediaan SEBELUM pemeriksaan vaginal touche) 6. Pemeriksaan vaginal touche : hati-hati. Bimanual tentukan besar dan letak uterus. Tentukan juga apakah satu jari pemeriksa dapat dimasukkan ke dalam ostium dengan MUDAH / lunak, atau tidak (melihat ada tidaknya dilatasi serviks). Jangan dipaksa. Adneksa dan parametrium diperiksa, ada tidaknya massa atau tanda akut lainnya. D. TEKNIK PENGELUARAN SISA ABORTUS Pengeluaran jaringan pada abortus : setelah serviks terbuka (primer maupun dengan dilatasi), jaringan konsepsi dapat dikeluarkan secara manual, dilanjutkan dengan kuretase. 1. Sondage, menentukan posisi dan ukuran uterus.
2. Masukkan tang abortus sepanjang besar uterus, buka dan putar 90o untuk melepaskan

jaringan, kemudian tutup dan keluarkan jaringan tersebut.


3. Sisa abortus dikeluarkan dengan kuret tumpul. 4. Pastikan sisa konsepsi telah keluar semua dengan eksplorasi jari maupun kuret

KURETASE

PROSEDUR KURETASE PADA ABORTUS INKOMPLIT PENGERTIAN Prosedur kuretase adalah serangkaian proses pelepasan jaringan yang melekat pada dinding kavum uteri dengan melakukan invasi dan memanipulasi instrumen (sendok kuret) ke dalam kavum uteri. Sendok kuret akan melepaskan jaringan tersebut dengan teknik pengerokan secara sistematik.

INDIKASI o Abortus inkomplit o Abortus septik

Gunakan secara hati-hati pada o Abortus yang disertai cedera intra abdomen (perlu tindakan laporotomi). o Abortus mola. o Abortus terkomplikasi (syok hipovolemik) yang belum dapat di koreksi.

LANGKAH KLINIK A. PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK B. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN I. Pasien 1. 2. 3. 4. Cairan dan slang infus sudah terpasang. Perut bawah dan lipat paha sudah Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner. Siapkan kain alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah. Medikamentosa mg/kg BB) b. Sedativa (Diazepam 10 mg) c. Antropin Sulfas 0,25-0,50 mg/ml dibersihkan dengan air dan sabun.

a. Analgetika (Pethidin 1-2 mg/kg BB, Ketamin HCL 0,5 mg/kg BB, Tramadol 1-2

5. Larutan antiseptik (Povidon lodin 10%). 6. Oksigen dengan regulator. 7. Instrumen a. b.


c.

Cunam tampon : 1 Canam peluru atau tenakulum : 1 Klem ovum (Foerster/Fenster clamp) lurus dan kengkung : 2 Sendok kuret : 1 set Penera kavum uteri (Uterine Sound/Sondage) : 1 Spekulum Sims atau L dan kateter karet : 2 dan 1 Tabung 5 ml dan jarum suntik No.23 sekali pakai : 2 Dilatator
II.

d. e. f. g. h.

Penolong (Operator dan Asisten) 1. 2. 3. 4. Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung : 3 set. Sarung tangan DTT/sterill : 4 pasang Alas kaki (sepatu/boot karet) : 3 pasang. Instrumen

a. Lampu sorot : 1 b. Mangkok logam : 2 c. Penampung darah dan jaringan : 1

C. D.

PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN TINDAKAN Pethidine hanya diberikan apabila tersedia antidotum dan alat resusitasi.

1. Instruksi asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik.

2. Lakukan kateterisasi kandung kemih (lihat prosedur kateterisasi). 3. Lakukan pemeriksaan bimanual ulangan untuk menentukan bukaan serviks, besar, arah dan konsistensi uterus. Periksa juga kemungkinan penyulit atau kondisi patologis lainnya. 4. Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin 0,5%. 5. Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru. 6. Dengan satu tangan masukkan spekulum Sims/L secara vertikal ke dalam vagina, setelah itu putar ke bawah sehingga posisi bilah menjadi transversal.

7. Minta asisten untuk menahan spekulum bawah pada posisinya. 8. Dengan sedikit menarik spekulum bawah (hingga lumen vagina tampak jelas) masukkan bilah spekulum atas secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas hingga jelas terlihat serviks. 9. Minta asisten untuk memegang spekulum atas pada posisinya. 10. Bersihkan jaringan dan darah dalam vagina (dengan kapas antiseptik yang dijepit dengan cunam tampon), tentukan bagian serviks yang akan dijepit (jam 11 dan 13). 11. Jepit serviks dengan tenakulum pada tempat yang telah ditentukan. 12. Setelah penjepitan terpasang baik, keluarkan spekulum atas. 13. Lakukan pemeriksaan kedalaman dan lengkung uterus derngan penera kavum uteri. Pegang gagang tenakulum, masukkan klem ovum yang sesuai dengan bukaan serviks hingga menyentuh fundus (keluarkan dulu jaringan yang tertahan pada kanalis). Bila dilatasi serviks cukup besar, lakukan pengambilan jaringan dengan klem ovum (dorong klem dalam keadaan terbuka hingga menyetuh fundus kemudian tutup dan tarik). Pilih klem yang mempuyai permukaan cincin yang halus dan rata, agar tidak melukai dinding dalam uterus. Keluarkan klem ovum jika dirasakan sudah tidak ada lagi jaringan yang terjepit atau ke luar. 14. Pegang gagang sendok kuret dengan ibu jari dan telunjuk, masukkan ujung sendok kuret (sesuai lengkung uterus) melalui kanalis serviks ke dalam uterus hingga menyetuh fundus uteri (untuk mengukur kedalaman). 15. Lakukan kerokan dinding uterus secara sistematik dan searah jarum jam, hingga bersih (seperti mengenai bagian bersabut). Untuk dinding kavum uteri yang berlawanan dengan lengkung kavum ueri, masukkan sendok kuret sesuai dengan lengkung uteri, setelah mencapai fundus putar gagang sendok 180, baru lakukan pengerokan. 16. Keluarkan semua jaringan dan bersihkan darah yang menggenagi lumen vagina bagian belakang. 17. Selesainya kerokan ditandai dengan keluarnya buih/ busa pink, kerokan terasa halus, adanya kontraksi uterus yg ditandai dgn terjepitnya sendok kuret, dan perdarahan berhenti. 18. Lepaskan jepitan tenakulum pada serviks.

19. Lepaskan spekulum bawah. 20. Kumpulkan jaringan untuk dikirim ke Laboratorium Patologi.

E. DEKONTAMINASI F. CUCI TANGAN PASCATINDAKAN G. PERAWATAN PASCATINDAKAN 1. Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan dan beri instruksi apabila terjadi kelainan/komplikasi. 2. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan di dalam kolom yang tersedia. 3. Buat instruksi pengobatan lanjutan dan pemantauan kondisi pasien. 4. Beritahukan kepada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai dilakukan tetapi pasien masih memerlukan perawatan. 5. Jelaskan pada petugas jenis perawatan yang masih diperlukan, lama perawatan dan kondisi yang harus dilaporkan.

PROSEDUR KURETASE PASCA PERSALINAN PENGERTIAN Pada prinsipnya, tindakan kuretase adalah serangkaian proses dengan memanipulasi jaringan dan instrumen untuk melepas jaringan yang melekat pada dinding uteri, dengan jalan mengerok jaringan tersebut secara sistematis. Kuretase pascapersalinan menjadi khusus karena dilakukan setelah lahir dan sebagian dari jaringan plasenta masih melekat pada dinding kavum uteri.Uterus masih berukuran cukup besar dan lunak sehingga risiko tindakan ini cukup tinggi.Instrumen atau sendok kuret yang dipergunakan adalah sendok besar dengan

tangkai yang lebih panjang dan (dirancang khusus). Untuk fiksasi porsio, digunakan klem ovum (Fenster atau Foerster clamp).

INDIKASI Sisa plasenta (pascapersalinan). Sisa selaput ketuban.

Gunakan secara hati-hati pada Sisa plasenta dengan keadaan umum yang jelek atau dengan komplikasi :

o Syok hipovolemik, o Syok septik, o Infeksi berat. Sisa plasenta akreta yang melekat erat/tertanam pada dinding uterus.

LANGKAH KLINIK A. PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK B. PERSIAPAN SEBELUM TINDAKAN I. Pasien 1. Cairan dan slang infus sudah terpasang. Perut bawah dan lipat paha sudah dibersihkan dengan air dan sabun. 2. Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmoner. 3. Siapkan kain alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah. 4. Medikamentosa a. Anagetika (Pethidin 1-2 mg/kg BB, Ketamin HCL 0,5 mg/kg BB, Tramadol 1-2 mg/kg BB) b. Sedativa (Diazepam 10 mg) c. Antropin Sulfas 0,25-0,50 mg/ml 5. 6. 7. Larutan antiseptik (Povidon lodin 10%). Oksigen dengan regulator. Instrumen

a.

Cunam tampon : 1
b. Klem ovum (Foerster/Fenster clamp) lurus : 2

c. Sendok kuret pascapersalinan : 1 set d. Spekulum Sims atau L dan kateter karet : 2 dan 1 e. Tabung 5 ml dan jarum suntik No.23 (sekali pakai) : 2

II.

Penolong (Operator dan Asisten) 1. 2. 3. 4. a. b. c. Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung : 3 set. Sarung tangan DTT/sterill : 4 pasang Alas kaki (sepatu/boot karet) : 3 pasang. Instrumen Lampu sorot : 1 Mangkok logam : 2 Penampung darah dan jaringan : 1

C. D. 1. 2.

PENCEGAHAN INFEKSI SEBELUM TINDAKAN TINDAKAN Intruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik. Bila penderita tidak dapat berkemih, lakukan kateterisasi (lihat prosedur Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan pemeriksaan bimanual. Bersihkan dan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan Pakai sarung tangan DTT/steril yang baru. Pasang spekulum Sims atau L, masukkan bilahnya secara vertikal Pasang spekulum Sims berikutnya dengan jalan memasukkan bilahnya Minta asisten untuk memegang spekulum atas dan bawah, pertahankan

kateterisasi). 3. 4. klorin 0,5%. 5. 6. 7. 8. Tentukan besar uterus dan bukaan serviks.

kemudian putar ke bawah. secara vertikal kemudian putar dan tarik ke atas sehingga porsio tampak dengan jelas. pada posisinya semula.

9.

Dengan cunam tampon, ambil kapas yang telah dibasahi dengan larutan

antiseptik, kemudian bersihkan lumen vagina dan porsio. Buang kapas tersebut dalam tempat sampah yang telah tersedia, kembalikan cunam ke tempat semula. 10. 11. 12. Ambil klem ovum yang lurus, jerpit bagian atas porsio (perbatasan Setelah porsio terpegang baik, lepaskan spekulum atas. Pegang gagang cunam dengan tangan kiri, ambil sendok kuret antara kuadran atas kiri dan kanan atau pada jam 12).

pascapersalinan dengan tangan kanan, pegang di antara ibu jari dan telunjuk (gagang sendok berada pada telapak tangan) kemudian masukkan hingga menyetuh fundus. 13. Minta asisiten untuk memegang gagang klem ovum, letakkan telapak tangan pada bagian atas fundus uteri (sehingga penolong dapat merasakan tersentuhnya fundus oleh ujung sendok kuret). Memasukkan lengkung sendok kuret sesuai dengan lengkung kavum uteri kemudian lakukan pengerokan dinding uterus bagian depan searah jarum jam, secara sistematis.Keluarkan jaringan plasenta (dengan kuret) dari kavum uteri. Masukkan ujung sendok sesuai dengan lengkung kavum uteri, setelah sampai fundus, kemudian putar 180, lalu bersihkan dinding belakang uterus. Keluarkan jaringan yang ada. 14. 15. 16. 17. 18. 19. antiseptik. Kembalikan sendok kuret ke tempat semula, gagang klem Ambil kapas (dibasahi larutan antiseptik) dengan cunam Lepaskan jepitan klem ovum pada porsio. Lepaskan spekulum bawah. Lepaskan kain penutup perut bawah, alas bokong dan Bersihkan cemaran darah dan cairan tubuh dengan larutan ovum dipegang kembali oleh operator. tampon, bersihkan darah dan jaringan pada lumen vagina.

sarung kaki masukkan ke dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5 %.

E. F. G.

DEKONTAMINASI CUCI TANGAN PASCATINDAKAN PERAWATAN PASCATINDAKAN

Pertimbangan Kehamilan usia lebih dari 12 minggu sebaiknya diselesaikan dengan prostaglandin (misoprostol intravaginal) atau infus oksitosin dosis tinggi (20-50 U/drip). Kini dengan alat hisap dan kanul plastik dapat dikeluarkan jaringan konsepsi dengan trauma minimal, terutama misalnya pada kasus abortus mola. Jaringan konsepsi dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi, agar dapat diidentifikasi kelainan villi. Bahaya / komplikasi yang dapat terjadi pasca mola adalah keganasan (penyakit trofoblastik gestasional ganas / PTG). Faktor risiko / predisposisi yang (diduga) berhubungan dengan terjadinya abortus 1. Usia ibu yang lanjut
2. Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik

3. Riwayat infertilitas
4. Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes,

penyakit gh Imunologi sistemik dsb).


5. berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb) 6. paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol, radiasi, dsb) 7. trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama 8. kelainan kromosom (trisomi / monosomi)

Dari aspek biologi molekular, kelainan kromosom ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan dengan terjadinya abortus. Penatalaksanaan pasca abortus Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga involusi uterus dan kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian. Pasien dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil).

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan Dari pembahasan makalah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Abortus hanya dipraktikkan dalam klinik atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah dan organisaso-organisasi profesi medis. 2. Aborsi hanya dilakukan oleh tenaga profesional yang terdaftar dan memperoleh izin untuk itu, yaitu dokter spesialis kebidanan dan genekologi atau dokter umum yang mempunyai kualifikasi untuk itu. 3. Aborsi hanya boleh dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu (untuk usia diatas 12 minggu bila terdapat indikasi medis). 4. Harus disediakan konseling bagi perempuan sebelum dan sesudah abortus. 5. Harus ditetapkan tarif baku yang terjangkau oleh segala lapisan masyarakat.