Vous êtes sur la page 1sur 31

BAB I PENDAHULUAN

Seiring perkembangan teknologi sediaan steril yang semakin pesat maka produksi sediaan sterilpun harus semakin maju untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan dunia kesehatan yang ada. Komponen sediaan parenteral memerlukan pula persyaratan kemasan dan penutup kemasan yang khusus, begitu juga proses manufaktur memerlukan teknologi dan personalia yagn terlatih secara khusus dan menyadari resiko yang mungkin terjadi jika kriteria steril dan bebas pirogen diabaikan. Perkembangan mutakhir dalam ilmu pengetahuan telah dapat menghasilkan obat secara (rekayasa) bioteknologi, yaitu obat yang dimasukkan dalam kelompok obat protein-peptida (biologic). Kelompok obat ini memerlukan perhatian khusus terutama menyangkut masalah stabilitas dan proses manufaktur (untuk sediaan yang mengandung bahan aktif labil), yaitu secara liofiliasi (freeze drying). Perkembangan terakhir di negara maju mensyaratkan sediaan EENT steril (obat untuk mata, telinga, tenggorokan, dan kerongkongan) dan manufaktur dengan teknologi aseptic. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pengobatan secara parenteral adalah cara pemberian obat langsung ke dalam cairan tubuh, pengembangan, manufaktur, dan pengontrolan sediaan parenteral memerlukan persyaratan yang lebih dari sediaan farmasi yang sudah lazim. Umumnya, bahan (aktif dan pembawa) yang digunakan untuk sediaan farmasi ini memerlukan persyaratan untuk injeksi yang tidak hanya mencantumkan persyaratan kimia dan fisika, tetapi juga persyaratan steril dan bebas pirogen. Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian yaitu intravena, intraspinal, intramuskuler, subkutis dan intradermal. Apabila injeksi diberikan melalui rute intramuscular, seluruh obat akan berada di tempat itu. Dari tempat suntikan itu obat akan masuk ke pembuluh darah di sekitarnya secara difusi pasif, baru masuk ke dalam sirkulasi. Cara ini sesuai utnuk bahan obat , baik yang bersifat lipofilik maupun yang hidrofilik. Kedua bahan obat itu dapat diterima dalam jaringan otot baik secara fisis maupun secara kimia. Ahkan bentuk sediaan larutan, suspensi, atau emulsi juga dapat diterima lewat intramskuler, begitu juga pembawanya bukan hanya air melainkan yang non air juga dapat. Hanya saja apabila berupa larutan air harus diperhatikan pH larutan tersebut.

Istilah parenteral berasal dari kata Yunani para dan enteron yang berari disamping atau lain dari usus. Sediaan ini diberikan dengan cara menyuntikkan obat di bawah atau melalui satu atau lebih lapisan kulit atau membrane mukosa. Karena rute ini disekitar daerah pertahanan yang sangat tinggi dari tubuh, yaitu kulit dan selaput/membrane mukosa, maka kemurniaan yang sangat tinggi dari sediaan harus diperhatikan. Yang dimaksud dengan kemurnian yang tinggi itu antara lain harus steril. Obat suntik hingga volume 100 ml disebut sediaan parenteral volume kecil sedangkan apabila lebih dari itu disebut sediaan parenteral volume besar, yang biasa diberikan secara intravena.

TUJUAN PRAKTIKUM Dapat membuat Sediaan Parenteral Volume Besar (SPVB) infuse. Dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi sediaan steril SPVB. Dapat membuat sediaan steril injeksi volume besar dekstrosa. Memenuhi mata kuliah Teknologi Sediaan Steril berupa injeksi volume besar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Injeksi (FI) adalah sediaan streril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lender injeksi. Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut dan disisipkan dalam wadah takaran tunggal atau ganda. Rute pemberian sedian parenteral atau injeksi dimuat dalam beberapa pustaka, antara lain Farmakope Indonesia, Formularium Nasional kedua pustaka tersebut di dalam antara kurung dan lain sebagainya. Pengetahuan tentang rute pemebrian ini bukan dimaksudkan agar dapat menyuntikkan dengan benar, tetapi untuk farmasis lebih ditekankan pada persyaratan produk ditinjau secara farmasis Persyaratan farmasetik yang dimaksud antara lain pemilihan wadah dengan ukuran yang tepat, penentuan pH, pemilihan bahan pengawet dan penetapan tonisitas. Untuk jelasnya dapat diikuti uraian masing-masing rute pemberian injeksi. 1. Pemberian Subkutis (Subkutan) Lapisan ini letaknya persis dibawah kulit, yaitu lapisan lemak (lipoid) yang dapat digunakan untuk pemberian obat antara lain vaksin, insulin, skopolamin, dan epinefrin atau obat lainnya. Injeksi subkutis biasanya diberikan dengan volume samapi 2 ml (PTM membatasi tak boleh lebih dari 1 ml) jarum suntik yang digunakan yang panjangnya samapi sampai 1 inci (1 inchi = 2,35 cm) Cara formulasinya harus hati-hati untuk meyakinkan bahwa sediaan (produk) mendekati kondisi faal dalam hal pH dan isotonis. FN (1978) mensyaratkan larutannya isotoni dan dapat ditambahkan bahan vasokontriktor seperti Epinefrin untuk molekulisasi obat (efek obat)

Cara pemberian subkutis lebih lambat apabila dibandingkan cara intramuskuler atau intravena. Namun apabila cara intravena volume besar tidak dimungkinkan cara ini seringkali digunakan untuk pemberian elektrolit atau larutan infuse i.v sejenisnya. Cara ini disebut hipodermoklisis, dalam hal ini vena sulit ditemukan. Karena pasti terjadi iritasi maka pemberiannya harus hatihati. Cara ini dpata dimanfaatkan untuk pemberian dalam jumlah 250 ml sampai 1 liter. 2. Pemberian intramuskuler Intramuskuler artinya diantara jaringan otot. Cara ini keceparan absorbsinya terhitung nomor 2 sesudah intravena. Jarum suntik ditusukkan langsung pada serabut otot yang letaknya dibawah lapisan subkutis. Penyuntikan dapat di pinggul, lengan bagian atas. Volume injeksi 1 samapi 3 ml dengan batas sampai 10 ml (PTMvolume injeksi tetap dijaga kecil, biasanya tidak lebih dari 2 ml, jarum suntik digunakan 1 samai 1 inci. Problem klinik yang biasa terjadi adalah kerusakan otot atau syaraf, terutama apabila ada kesalahan dalam teknik pemberian (ini penting bagi praktisi yang berhak menyuntik). Yang perlu diperhatikan bagi Farmasis anatara lain bentuk sediaan yang dapat diberikan intramuskuler, yaitu bentuk larutan emulsi tipe m/a atau a/m, suspensi dalam minyak atau suspensi baru dari puder steril. Pemberian intramuskuler memberikan efek depot (lepas lambat), puncak konsentrasi dalam darah dicapai setelah 1 -2 jam. Faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dari jaringan otot (im) anatar lain : rheologi produk, konsentrasi dan ukuran partikel obat dalam pembawa, bahan pembawa, volume injeksi, tonisitas produk dan bentuk fisik dari produk. Persyaratan pH sebaiknya diperhatikan, karena masalah iritasi, tetapi dapat dibuat pH antara 3-5 kalau bentuk suspensi ukuran partikel kurang dari 50 mikron. 3. Pemberian intravena Penyuntikan langsung ke dalam pembuluh darah vena untuk mendapatkan efek segera. Dari segi kefarmasian injeksi IV ini boleh dikata merupakan pilihan untuk injeksi yang bila diberikan secara intrakutan atau intramuskuler mengiritasi karena pH dan tonisitas terlalu jauh dari kondisi fisiologis. Kelemahan cara ini adalah karena kerjanya cepat, maka pemberian antidotum mungkin terlambat. Volume pemberian dapat dimulai Dari 1 ml hingga 100 ml, bahkan untuk infus dapat lebih besar dari 100 ml. Kecepatan penyuntikan samapi 5 ml

diberikan 1 ml/10 detik, sedangkan untuk di atas 5 ml kecepatannya 1 ml/20 detik. Intravena hanya terbatas untuk pemberian larutan air, kalau merupakan bentuk emulsi harus memenuhi ukuran partikel tertentu. Kalau dapay diusahakan pH dan tonisitas sesuai dengan keadaan fisiologis. 4. Pemberian intrathekal-intraspinal Penyuntikan langsung ke dalam cairan serebrospinal pada beberapa temapt. Cara ini berbeda dengan cara spinal anastesi. Kedua pemberian ini mensyaratkan sediaan dengan kemurniaannya yang sangat tinggi, karena dearah ini ada barier (sawar) darah sehingga daerahnya tertutup. Sediaan intraspinal anastesi biasanya dibuat hiperbarik yaitu cairannya mempunyai tekanan barik lebih tinggi dari tekanan barometer. Cairan sediaan akan bergerak turun karena gravitasi, oleh sebab itu harus pada posisi pasien tegak. 5. Intraperitoneal Penyuntikan langsung ke dalam rongga perut, dimana obat secara cepat diabsorbsi. Sediaan intraperitoneal dapat juga diberikan secara intraspinal, im,sc, dan intradermal 6. Intradermal Capa penyuntikan melalui lapisan kulit superficial, tetapi volume pemberian lebih kecil dan sc, absorbsinya sangat lambat sehingga onset yang dapat dicapai sangat lambat. 7. Intratekal Digunakan khusus untuk bahan obat yang akan berefek pada cairan serebrospinal. Digunakan untuk infeksi ssp seperti meningitis, juga untuk anestesi spinal. Intratekal umumnya diinjeksikan secara langsung pada lumbar spinal atau ventrikel sehingga sediaan dapat berpenetrasi masuk ke dalam daerah yang berkenaan langsung pada SSP.

Sediaan Parenteral Volume Besar (SPVB) Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi nutrisi. Infus intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obat lain. Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin. Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat. Persyaratan 1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia. 2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah. 3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak menentukan adalah: a) bebas kuman b) bebas pirogen c) bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral d) isotonis e) isohidris f) bebas bahan melayang Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap absorbsi obat. Sedangkan

kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat intravena maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk obat bila diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan Pembahasan: Infus tidak perlu pengawetkarena volume sediaan besar. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis

INFUS IV Ca GLUKONAT / GLUKONAT Dalam percobaan ini akan dibuat sediaan infus intravena kalsium glukonat yang merupakan larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium D-saccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar. Laju infus maksimum yang disarankan adalah 200 mg/menit. INFUS IV DEKSTRAN Kehilangan darah, sejauh jumlahnya tidak melampaui 10% dari jumlah total, tubuh masih dapat menyeimbangkannya kembali. Jika kehilangannya lebih besar, harus disuplai cairan pengganti darah untuk mengisi plasma melalui jalan infus ke dalam tubuh. Hal tersebut dibutuhkan juga pada syok perdarahan, akibat luka (kebakaran, luka dalam) pada sakit perut atau muntah yang berkepanjangan. Infus dextran 70 merupakan larutan makromolekul yang memiliki waktu tinggal yang lebih panjang dalam pembuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami difusi, juga airnya terikat secara hidratasi. Yang menentukan dextran 70 sebagai bahan pengganti plasma adalah berat molekulnya diatas 20.000. Pengisisan volume darah dapat dilakukan dengan larutan NaCl fisiologis atau dengan larutan elektrolit, namun jumlah cairan yang dimasukkan tersebut hanya sebentar berada dalam peredaran darah, untuk kemudian segera dieliminasi keluar tubuh melalui ginjal INFUS IV ELEKTROLIT UNTUK DEHIDRASI Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi, kekurangan HCO3 disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia. Dehidrasi adalah hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnnya air. Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya

tekanan osmotic cairan tubuh akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup. INFUS IV GLUKOSA NaCl / GLUKOSA 10% Pada umumnya larutan glukosa untuk injeksi digunakan sebagai pengganti kehilangan cairan tubuh, sehingga tubuh kita mempunyai energi kembali untuk melakukan metabolismenya dan juga sebagai sumber kalori. Dosis glukosa adalah 2,5-11,5 % (Martindale), pada umumnya digunakan 5 %. Dalam formula ini ditambahkan NaCl supaya diapat larutan yang isotonis, dimana glukosa disini bersifat hipotonis. Dalam pembuatan aqua p.i ditambahkan H2O2 yang dimaksudkan untuk menghilangkan pirogen, serta di dalam pembuatan formula ini ditambahkan norit untuk menghilangkan kelebihan H2O2.

INFUS IV MENGANDUNG Na, Ca, K Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel. Natrium klorida (NaCl), natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya. Sering digunakan dalam infus dengan elektrolit lain. INFUS IV NaCl Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan perbedaan potensial ( listrik ) yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls di syaraf. Defisiensi natrium dapat terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dengan banyak berkeringat dan banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual, muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis, kemudian juga kejang otot lengan dan perut. Selain pada defisiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 0,9 % ( larutan garam fisiologis ) dan dalam infus dengan elektrolit lain. INFUS IV PENGGANTI CAIRAN TUBUH Air beserta unsur-unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan tubuh. Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini menekankan pentingnya perhitungan

berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infuse pengganti cairan tubuh yaitu infuse Ringers. Injeksi Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh.

INFUS IV PROTEIN UNTUK DBD Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna. Indikasi cara ini biasanya digunakan untuk persiapan bedah pada penderita kurang gizi, persiapan kemoterapi radioterapi dan kelainan saluran cerna berat. Nutrisi parenteral total memerlukan larutan yang mengandung asam amino; glukosa; lemak; elektrolit; dan vitamin. Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai, tapi bila tiap harinya diberikan lebih dari 180 g maka harus ada monitoring kadar gula darah. Bila mungkin diperlukan insulin. Glukosa dengan ragam kekuatan 10 50 % harus di infus melalui kateter vena central. Untuk menghindari trombosis (gumpalan darah yang terbentuk pembuluh darah). Jumlah

volume infuse intravena biasanya 500 mL dan 250 mL mengandung zat-zat sebagai nutrisi, penambah darah, elektrolit, asam amino, antibiotik, dan obat yang umumnya diberikan lewat jarum yang dibiarkan di vena atau kateter dengan diteteskan terus menerus. Tetesan atau kecepatan mengalir dapat diatur oleh dokter atau perawat sesuai dengan kebutuhan pasien. Umumnya 2-3 mL permenit.

INFUS IV UNTUK MEMPERTAHANKAN KESEIMBANGAN ASAM TUBUH Pembuatan infus ini mengacu pada penggunaannya sebagai cairan infus yang dapat menstabilkan jumlah elektrolit-elektrolit yang sama kadarnya dalam cairan fisiologis normal, sehingga diharapkan pasien dapat mempertahankan kondisi elektrolitnya agar sesuai dengan batas-batas atau jumlah elektrolit yang normal pada plasma. Selain itu, digunakan pengisotonis dekstrosa yang diharapkan mampu menambah kalori bagi pasien serta meningkatkan stamina karena biasanya kondisi pasien yang kekurangan elektrolit dalam keadaan lemas (sehingga perlu diinfus). Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk

mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asambasa serta isotonis sel. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi. Ion Magnesium (Mg2+) juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein. Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diberikan secara parenteral diharapkan dapat memberikan tambahan kalori yang diperlukan untuk menambah energi pada tubuh.

INFUS IV UNTUK PENGELOLAAN DEHIDRASI Sekitar 60% berat badan manusia terdiri dari cairan. Setiap hari sekitar 1,7 liter cairan di dalam tubuh keluar melalui urin, tinja, keringat dan pernapasan. Cairan yang keluar tersebut akan digantikan oleh cairan yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman, yakni sebanyak 3 liter perhari. Jika cairan yang keluar dai tubuh terjadi secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan cairan yang masuk, maka terjadilah dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh, karena terjadi pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Zat eletrolit yang diperlukan tubuh terdiri dari anion dan kation antara lain Na+, K+, Ca2+, SO42-, dan Cl-. Dehidrasi terdiri dari : a. Absolut :Kandungan air dibawah normal atau dibawah standar. b. Hypenatermic : Keadaan hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnya air. c. Relatif : Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotik cairan tubuh. d. Voluntari : Akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup. INFUS MENGANDUNG KARBOHIDRAT Karbohidrat merupakan bahan bakar utama (sumber energi) bagi tubuh yang didalam makanan terdapat sebagai monosakarida, disakarida dan polisakarida. Selain sumber energi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa, pembentukan struktur sel, jaringan

dan organ tubuh. Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna atau mengalami gangguan saluran cerna seperti diare maka sumber energi utama yakni karbohidrat dapat diberikan melalui infus yang mengandung karbohdrat. Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai dan salah satu senyawa yang penting didalam tubuh sebagai sumber energi.

INFUS Na BIKARBONAT UNTUK ASIDOSIS METABOLIK Asidosis metabolic adalah suatu keadaan dimana pH arterial bersifat asam dan konsentrasi bikarbonat plasma dibawah normal. Pada asidosis metabolic akut, pH arterial dibawah 7,1-7,2 dan konsentrasi bikarbonat plasma, INFUS PROTEIN Protein merupakan makromolekul yang pada hidrolisa hanya menghasilkan asam amino. Sel hidup menghasilkan berbagai macam makromolekul (protein, asam nukleat dan polisakarida) yang berfungsi sebagai komponen struktural, biokatalisator, hormon, reseptor dan sebagai tempat penyimpanan informasi genetik. Makromolekul ini merupakan biopolimer yang dibentuk dari unit monomer atau bahan pembangun.

INFUS IV DEKSTROSA Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme, dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan menambah kalori. Dekstrosa dapat menurunkan atau mengurangi protein tubuh dan kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan glikogen dan mengurangi atau mencegah ketosis jika diberikan dosis yang cukup. Dekstrosa dimetabolisme menjadi CO2 dan air, maka larutan dekstrosa dan air dapat mengganti cairan tubuh yang hilang. Injeksi dekstrosa dapat juga digunakan sebagai diuresis dan volume pemberian tergantung kondisi klinis pasien.

LARUTAN PENCUCI PADA OPERASI LAMBUNG Larutan irigasi adalah larutan steril, bebas pyrogen yang digunakan untuk tujuan pencucian dan pembilasan. Sodium Klorida ( NaCl ) secara umum digunakan untuk irigasi ( seperti irigasi pada rongga tubuh, jaringan atau luka). Larutan irigasi NaCl hipotonis 0,45% dapat digunakan sendiri atau tanpa penambahan bahan tambahan lain. Larutan irigasi NaCl 0,9% dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka.

Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi, sterilisasi pada sediaan ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan mudah. INFUS PENDERITA DIARE BERAT (LOCKE RINGER) Locke Ringer mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu elektrolit-elektrolit dan karbohidrat sesuai untuk penderita diare berat Digunakan norit, yaitu untuk menyerap pirogen dan mengurangi kelebihan H2O2. Cara sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik otoklaf karena bahan-bahan yang digunakan tahan panas

INFUS UNTUK PENGELOLAAN METABOLIK ALKALOSIS Alkalosis metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkaosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut) Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bia kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.

INFUS LARUTAN IRIGASI GLISIN Larutan irigasi adalah sediaan larutan steril dalam jumlah besr. Larutan tidak disuntikkan ke dalam vena, tapi digunakan di luar sistem peredaran darah dan umumnya menggunakan jenis tutup yang diputar atau plastik yang dipatahkan, sehingga memungkinkan pengisian larutan dengan cepat. Larutan ini digunakan untuk merendam atau mencuci luka2. Sayatan bedah atau jaringan tubuh dan dapat pula mengurangi pendarahan. Larutan irigasi glisin digunakan selama operasi kelenjar prostat dan prosedur transuretral lainnya. Larutan yg digunakan untuk luka dan kateter uretra yg mengenai jaringan tubuh hrs disterilkan dgn cara aseptis.

INFUS IV YG MENGANDUNG NUTRISI

Glukosa termasuk monosakarida dimana sebagian besar monosakarida dibawa oleh aliran darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses sintetis menghasilkan glikogen, oksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk dibawa dengan aliran darah ke bagian tubuh yg memerlukannya. Sebagian lain monosakarida dibawa langsung ke sel jaringan organ tertentu dan mengalami proses metabolisme lbh lanjut. Karena pengaruh berbagai faktor dan hormon insulin yg dihasilkan oleh kelnjar pankreas, hati dapat mengatur kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa dalam darah merupakan faktor yg sgt penting utk kelancaran kerja tubuh.

INFUS IV RINGER LAKTAT Jika untuk mengatasi kondisi kekurangan volume darah, larutan natrium klorida 0,9% - 1,0% menjadi kehilangan maka secara terapeutik sebaiknya digunakan larutan ringer, larutan ini mengandung KCl dan CaCl2 disamping NaCl. Beberapa larutan modifikasi jg mengandung NaHCO3 maka larutan dapat disterilakan dengan panas yang stabil. Pengautoklafan larutan natrium hidrogen karbonat hanya diproses mempunyai penyaringan kuman.

INFUS IV AMMONIUM KLORIDA Ammonium klorida digunakan sebagai z.a yang dapat berkhasiat untuk pengobatan gangguan metabolisme alkalosis dalam tubuh serta menggantikan ion klorida yang hilang dalam tubuh.

INFUS IV MENGANDUNG ELEKTROLIT DAN KARBOHIDRAT Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

Keuntungan dan kerugian Keuntungan

Respon fisiologis obat dicapai, jika diperlukan sehingga merupakan pertimbangan khusus untuk pasien jantung, asma, shcok, pingsan.

Terapi parenteral menemukan obat-obatan yang bukan hanya efektif melalui mulut atau dirusak oleh saluran cerna seperti insulin, hormon dan antibiotik.

Obat-obatan yang tidak kooperatif menimbulkan mual, muntah atau pasien tidak sadar harus diberikan IV

Bila diinginkan terapi parenteral memberikan kesempatan kepada dokter utnuk mengontrol obat tersebut sehingga pasien harus kembali utnuk pengobatan selanjutnya.

Dapat memberikan efek local seperti pada pembedahan gigi dan anestesi

Dalam kasus dimana diinginkan efek obat diperpanjang, bentuk steroid yang berefek lambat secara intraartikular dan golongan penisilin yang berefek lama jika diberiakn secara i.m

Juga merupakan cara pemberian yang sangat baik untuk cairan-cairan dan untuk keseimbangan elektrolit.

Bila bahan makanan tidak dapat diberikan melalu mulut maka total nutrisi dapat diberikan secara parenteral Kerugian

Sediaan parenteral mempunyai dosis yang harus ditentukan lebih teliti waktu dan cara pemberian harus diberikan oleh tenaga yang sudah terlatih. Bila obat diberikan secara parenteral maka sulit dikembalikan efek fisiologisnya

Sediaan parenteral merupakan sediaan mahal karena preparasi dan pembuatan secara khusus seperti menggnakan kemasan yang khusus dengan dosis yang sudah diatur sesuai kebutuhan

Terapi parenteral akan meniulkan komplikasi dari beberapa penyakit seperti infeksi jamur, bakteri sehingga interaksinya tidak bisa dikendalikan

Kemajuan dalam manufaktur atau pabrikasi atau kemasan menimbulkan beberapa masalah dalam sterilitas, partikulasi, pirogenitas, sterilisasi dll.

BAB III TEKNIK SEDIAAN STERIL


Praformulasi Zat aktif : Dekstrosa / Dextrosum / Glukosa
CH2OH
O

Nama kimia : D-Glukosa monohidrat [5996-10-1] BM 198,17 C6H12O6.H2O anhidrat [50-99-7] BM 180,16

OH

OH+ H2O

Dekstrosa adalah suatu gula yang diperoleh hidrolisis pati.


HO

Mengandung satu molekul air hidrat atau anhidrat. Pemerian : hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau serbuk granul putih, tidak berbau, rasa manis.

OH

Kelarutan : mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, larut dalam etanol mendidih, sukar larut dalam etanol. pH stabilitas : antara 3,5-6,5. Dosis: 2,5-11,5% v/v, 0,5-0,8 g/kg/jam. Untuk hipoglikemia 20-50 ml (konsentrasi 50%) Indikasi : sebagai sumber kalori dan zat pengisotonis Cara pemberian : secara i.v Stabilitas : stabil dalam bentuk larutan, dextrose stabil dalam keadaan penyimpanan yang kering, dengan pemanasan tinggi dapat menyebabkan reduksi pH dan karamelisasi larutan

Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan baik Kontraindikasi : Pada pasien anuria, intrakranial atau intraspiral hemorage Efek samping : Larutan glukosa hipertonik dapat menyebabkan sakit pada tempat pemberian (lokal), tromboklebitise, larutan glukose untuk infus dapat menyebabkan gangguan cairan dan elektrolit termasuk edema, hipokalemia, hipopostemia, hipomagnesia.

OTT : Sianokobalamin, kanamisin SO4, novobiosin Na dan wafarin Na,Eritromisin, Vit B komplek Cara sterilisasi : disterilkan dengan cara sterilisasi A segera setelah dibuat, bebas pirogen

Tabel Praformulasi

No 1

Masalah Diinginkan sediaan yang berefek cepat

Rekomendasi Dibuat dalam bentuk injeksi, larutan, serbuk

Keputusan Sediaan yang dibuat dalam

Alasan Karena injeksi i.v langsung masuk ke dalam pembuluh

bentuk injeksi intra darah sehingga efek obat vena akan lebih cepat selain itu injeksi yang dibuat dalam bentuk larutan sehingga cocok digunakan secara i.v

Zat aktif mudah larut air

Digunakan pelarut air atau non air

Digunakan pelarut air (aqua pro injeksi) bebas O2 Disterilisasi akhir dengan autoklaf

Karena z.a mudah larut air dapat dilarutkan dalam api bebas O2 Agar tidak terjadi karamelisasi dan pereduksian pH

Zat aktif akan

Tidak dilakukan

mereduksi pH dan pemanasan tinggi terbentuk karamelisasi 4 Tonisitas sediaan belum isotonis Dapat ditambahkan dengan zat pengisotonis

NaCl, glukosa

Digunakan glukosa karena selain sebgai zat aktif yang digunkan glukosa juga dapat digunakan sebagai zat pengisotonis

Sediaan injeksi harus bebas pirogen

Dapat ditambahkan H2O2 atau menggunakan api bebas O2

Digunakan aqua pro injeksi bebas 02

Aqua pro injeksi bebas 02 dapat membebaskan pirogen atau depirogenasi.

Wadah yang digunakan wadah dosis tunggal

Dapat berupa botol kaca, plastic, karet dsb

Digunakan botol kaca

Karena tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan

yang tertutup rapat dan baik 7 Sediaan kemungkinan dapat ditumbuhi bakteri Digunakan bahan pengawet Tidak digunakan bahan pengawet

material dinding wadah.

infus tidak perlu pengawet karena volume sediaan besar. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis

Formulasi Formula standar Glucose Injectio (injeksi glukosa) FORNAS II 1976, hal. 137 no R/ 301 Tiap 500 ml mengandung: R/ glukosa 25 g

Aqua pro injection ad 500 ml Sediaan berkekuatan lain 50 g; 100 g; 125 g; 250 g

Formula yang akan dibuat Tiap ml menngandung: R/ glukosa 5g

Aqua pro injection ad 100 ml M.f infuse da in bottle no 1 Perhitungan Tonisitas injection Ptb pyridoksin HCl = 0,213 Larutan injeksi yang dibuat 2,5% (0,05 g/ 2 ml x 100%) Cara ptb, B = 0,52 b1.C b2 B = 0,52 0,213 (2,5) = - 0,0217 0,576

Karena b1.C > 0,52 dan nilai B nya negative maka larutan tersebut termasuk dalam hipertonis tetapi tidak perlu penambahan NaCl.

Cara ekivalensi Ekivalensi NaCl = 0,36 Jadi, B = WxExVx0,9% B = 2,5 x 0,36 x 2 ml x 0,9% B = 0,0162 Karena 0,9%.V < W.E maka larutan tersebut termasuk dalam hipertonis tetapi tidak perlu penambahan NaCl

Volume injeksi yang dibuat Volume @ampul = 2 ml ditambahkan 10% @ ampul, maka: Untuk 5 ampul x 2,2 ml = 11 ml. maka volume injeksi yang dibuat: V = (n+2)v + (2x3)ml V= (5+2) 2,2 + (2x3) ml V= (7) 2,2 + 6 V= 21,4 ml 20 ml Maka penimbangan bahan aktifnya: 1. Pyridoksin HCl : 50 mg x 11 ml = 550 mg 2. Aqua pro injeksi : 20 ml 0,55 mg = 19,45 ml

Materi & Metode Kerja Alat yang digunakan: 1. Bekker glass 2. Gelas ukur 3. Kertas saring 4. Pinset 5. Kaca arloji 6. Batang pengaduk 7. Spluid 8. Corong (1) (2) (1) (1) (1) (1) (1) (1)

Bahan yang digunakan: 1. Glukosa 2. Carbo adsorbent 3. Aqua pro injeksi bebas O2 Prosedur kerja: I. Pembuatan aqua pro injeksi bebas O2 2000 ml aquadest dalam erlemeyer (lokasi : White Area)

Erlemeyer ditutup dengan tampon kassa agar uap panas tidak keluar

Panaskan aqua dest dalam erlemeyer di hot plate sampai mendidih

Setelah aqua dest mendidih kemudian dipanaskan lagi selama 30 menit (Aqua pro injectio : mulai mendidih pkl. 08:38 09:08)

Setelah 30 menit, lalu dipanaskan kembali hingga 40 menit

Setelah 40 menit, didapatkan API bebas O2, kemudian dapat digunakan untuk melarutkan zat aktif

II.

Menyiapkan alat dan bahan

(lokasi : gray area)

Alat yang digunakan disiapkan dalam tool box, kalibrasi botol 204 ml (jangan memegang bagian dalam bekker, corong dan kertas saring untuk mengurangi kontaminan)

Menimbang glukosa sebanyak 12,68 g, dan Norit sebanyak 0,22 g (10 % dari 220 ml) taruh dalam tool box

Setelah alat dan bahan telah siap, dapat dilakukan pencampuran di white area, Tool box masuk melalui pass box yang tersedia

Lakukan pencampuran

III.

Pencampuran

(lokasi : white area)

Dalam bekker glass, Larutkan glukosa dengan API bebas O2 ad 220 ml

Setelah larut, tambahkan Nort 0,1% ke dalam larutan glukosa Tutup bekker glass dengan kaca arloji, panaskan larutan di atas penangas suhu 50-700C selama 15 menit

Aduk larutan sesekali

Setelah 30 menit, saring larutan tersebut dengan menggunakan kertas saring ganda yang telah dibasahi API.

Lakukan pengemasan

IV.

Pengemasan Larutan infuse glukosa yang telah disaring sebanyak 220 ml

(lokasi : white area)

Dimasukkan ke dalam botol infuse transparan ad batas kalibrasi

Tutup botol dengan tutup karet dan diikat dengan sampaigne knop Sterilisasi dengan autoklaf selama 30 menit suhu 115-1160C

V.

Sterilisasi Ampul yang telah dikemas disterilisasi Sterilisasi dengan autoklaf suhu 1150-1160C selama 30 menit

Lakukan evaluasi injection terhadap kebocoran dan kejernihan

BAB IV EVALUASI & PEMBAHASAN


Evaluasi sediaan Potensi /kadar Evaluasi dilakukan dengan bantuan alat seperti HPLC, spektrofotometri UV, sinar tampak, infra red. Dosis yang ada tidak boleh kurang dari 90% dari yang tertera dalam label. Uji ini tidak dilakukan dalam praktikum. pH perubahan pH dalam sediaan parenteral dapat menjadi indikasi bahwa telah terjadi penguraian obat atau telah terjadi interaksi antara obat dengan wadah (gelas, plastic, atau tutup karet). pH stabilitas yang diinginkan dari pyridoksin HCl berkisar 2,0 3,8. Dari hasil produk yang diperoleh injectio yang dihasilkan adalah 3. Masih dalam kisaran pH stabilitas. Warna Perubahan warna umumnya terjadi pada sediaan parenteral yang disimpan pada suhu tinggi (lebih dari 400C), karena suhu tinggi dapat mempercepat terjadinya penguraian. Pencegahan umumnya dengan menghilangkan oksigen di atas permukaan larutan atau penambahan kompekson. Dari hasil produk yang dihasilkan tidak mengalami perubahan warna. Kekeruhan Idealnya larutan parenteral dapat melewatkan 92-97% pada waktu dibuat dan tidak turun menjadi 70% setelah 3-5 tahun. Ada 3 penyebab terjadinya kekeruhan sediaan parenteral, yaitu benda asing terjadinya endapan dan pertumbuhan mikroorganisme. Dari hasil produk yang diperoleh injectio yang dihasilkan tidak terjadi kekeruhan. Bau Pemeriksaan kemungkinan terjadinya bau harus dilakukan secara periodic, terutama larutan yang mengandung sulfur dan anti oksidan. Dari hasil produk yang diperoleh injectio yang dihasilkan tidak mengalami perubahan bau.

Benda asing Sediaan parenteral tidak boleh mengandung benda asing dengan diameter lebih dari 10 m. Wadah Evaluasi wadah (gelas, plastic, tutup karet) dilakukan secara periodic untuk mengetahui pengaruhnya pada zat khasiat. Pengawet Pada sediaan yang disimpan pada suhu 50C dan 250C dievaluasi keefektifan pengawet apakah masih efektif atau sudah berkurang.

Pembahasan Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntikkan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan disuntikkan. Sediaan parenteral adalah bentuk sediaan untuk injeksi atau sediaan untuk infuse. Pada praktikum tekhnologi sediaan steril ini, dibuat sediaan injeksi yang mengandung vitamin B6 sebagai zat aktifnya. Injeksi vitamin B6 dapat diberikan secara Intravena (IV), Intramuscular (IM) dan Subcutan. Tetapi pada pembuatan sediaan kali ini, dibuat sediaan injeksi vitamin B6 dengan pemberian secara intravena (IV) , hal ini disebabkan karena formulasi yang dibuat menggunakan dosis tunggal (penggunaan satu kali pakai) yaitu larutan dalam volume kecil (di bawah 1 ml) dengan menggunakan larutan sejati pembawa air yaitu pelarut API (Aqua Pro Injection) karena vitamin B6 larut air, dan tidak menggunakan zat tambahan lain. Biasanya untuk pembuatan sediaan injeksi yang diberikan secara IV yaitu yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah sebaiknya dari larutan tersebut adalah isotonis, sehingga perlu penanmbahan larutan NaCl 0.9%. Tetapi pada sediaan injeksi Vitamin B6 yang diberikan secara IV tidak perlu penambahan NaCl 0.9% , hal ini disebabkan karena pada perhitungan kesetaraan NaCl atau menggunakan metode White Vincent larutan injeksi vitamin B6 hasilnya sudah hipertonis, dalam sediaan parenteral volume kecil (SPVK) seperti injeksi, larutan yang bersifat hipertonis masih diperbolehkan, yang tidak diinginkan dalam pembuatan sediaan parenteral volume kecil (SPVK) jika larutan bersifat hipotonis, Karena konsentrasi obat larutan lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkan air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel sehingga memperbesar volume sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel-sel darah merah, peristiwa ini disebut hemolisa. Vitamin B6 merupakan senyawa yang larut air, sehingga pelarut yang digunakan adalah larutan sejati yaitu aqua pro injection (API). Pembuatan sediaan injeksi dilakukan secara steril hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi suatu sediaan injeksi dari mikroba. Perlu diperhatikan pada ruang white area alat-alat harus lewat pass box sedangkan praktikan harus lewat pintu. Pencampuran bahan dilakukan di ruang white area. Pada saat

pencampuran bahan, hal yang harus diperhatikan adalah melakukan pembilasan pada alat yang telah dipakai dengan tujuan tidak ada nya zat yang tersisa di alat tersebut. Dan alat-alat apa saja

yang harus dipegang dengan tangan atau dengan pinset. Sediaan yang sudah dicampur kemudian dimasukkan kedalam ampul dengan menggunakan spuit. Menurut aturan resmi, sediaan yang berisi volume 1 ml, perlu ditambahkan volume berlebih sebanyak 0,1 ml, sehingga volume total sediaan pada ampul menjadi 1,1 ml untuk mencegah zat yang tinggal dalam vial atau jarum suntik. karena biasanya Dokter atau perawat sebelum menyuntikkan ke pasien tidak tepat mengambilnya atau mencoba mengeluarkan sedikit sebelum akhirnya disuntikkan ke pasien . Sehingga pada saat pemberian kepada pasien, jumlah obat yang diinjeksikan tetap sesuai dosis yang diperlukan. Proses sterilisasi sangat dibutuhkan untuk mendapatkan keadaan yang steril, bebas dari mikroorganisme. Proses sterilisasi dilakukan pada pembuatan injeksi vitamin B6 adalah sterilisasi secara akhir. Hal ini disebabkan karena vitamin B6 memiliki sifat yang tahan terhadap pemanasan/rusak dengan pemanasan. Sehingga tidak perlu dilakukan sterilisasi alat-alat sebelum digunakan pada praktikum. Namun, pada praktek pembuatan injeksi vitamin B6 tidak dilakukan sterilisasi akhir. Hal ini disebabkan karena ampul yang digunakan pada saat proses penutupan dengan api tidak dapat ditutup sehingga tidak dilakukan sterilisasi ahir didalam autoklav. Vitamin B6 mempunyai sifat yang tidak stabil terhadap cahaya, maka pemilihan wadah yag tepat yaitu wadah yang berwarna gelap. Hasil evaluasi sediaan injeksi vitaminB6 sebagai berikut : Warna Tidak terjadi perubahan warna pada sediaan setelah disimpan. Warna masih menunjukkan warna seperti semula yakni bening. Evaluasi Larutan Homogenitas : zat aktif terlarut secara homegen dengan pelarutnya. Bebas Partikel Melayang : Tidak terdapat partikel yang melayang dalam sediaan inkesi vitamin B6. Evaluasi wadah Tidak dilakukan evaluasi wadah karena karane sterilisasi akhir tidak dilakukan. Sehingga belum diketahui apakah terjadi kebocoran ampul atau tidak. Penandaan obat sediaan injeksi vitamin B6 yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan injeksi perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan.

BAB IV PENUTUP
Kesimpulan Injeksi (FI) adalah sediaan streril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lender injeksi. Karena vitamin B6 larut dalam air maka pembawa yang digunakan dalam sediaan injeksi digunakan air. Meskipun tonisitas sediaan injeksi bersifat hipertonis namun tidak dibutuhkan penambahan NaCl 0,09% karena sediaan SPVK tidak diinginkan hipotonis maka untuk sediaan yang hipertonis tidak perlu ditambahkan NaCl 0,09% Vitamin B6 mempunyai sifat yang tidak stabil terhadap cahaya, maka pemilihan wadah yag tepat yaitu wadah yang berwarna gelap. Penandaan obat sediaan injeksi vitamin B6 yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan injeksi perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Daftar Pustaka 1. Farmakope Indonesia.edisi III.1993 2. Suryani, Nelly; sulistyawati farida. 2007.teknik sediaan steril.UIN Press 3. Formularium Nasional edisi II.1976 4. Handbook of exipien 5. www.google.com/sediaan steril/vitamin B6/selasa/150410/17:00

Lampiran
Etiket
NETTO 1 ml

B6 injection
Komposisi Tiap 1 ml mengandung : Pyridoxin Hidrocloridum No. Reg : DKL 0856974623751 No. Batch : JK 005 Exp. Date : Desember 2011 Harus Dengan Resep Dokter 50 mg
BEN SEHAT PHARMA CIPUTAT - Indonesia