Vous êtes sur la page 1sur 18

BAB II TINJAUAN TEORITS

2.1 Pengertian Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dengan servik atau dalam tanduk rudimeter rahim.(Buku Obstetri Patologi Universitas Pajadjaran Bandung, 1984) Kehamilan ektopik ialah kehamilan dengan ovu yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh tidak ditempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri,pars interstialis tuba dan kehamilan pada serviks uteri.(buku ilmu kandungan, Sarwono pawiroharjo 1994)

2.2 Penyebab kehamilan ektopik Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (1976) dan Ilmu Kandungan 1989 adalah penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masaih di tuba. Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (1976) Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus sehingga mengadakan implantasi di tuba: a. Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang terbentuk trofoblast sebelum telur ada cavum uteri. b. Pada hipoplasia lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping. c. Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit d. Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan pada endosalping sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi gerakan ovum ke uterus lambat. e. Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat panjang dsb. f. Gangguan fisilogis tuba karna pengaruh hormonal, perlekatan perituba. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tubuh. g. Abortus buatan.

2.3 Patologi Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan (1976).Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya di batasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian di resorbsi. Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan, karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. (Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan,1976) 1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi Ovum mati dan kemudian diresorbsi, dalam hal ini sering kali adanya kehamilan tidak di ketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah meninggalnya ovum, di anggap sebagai haid yang datangnya agak terlambat. 2. Abortus ke dalam lumen tuba Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis, dan menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba. Darah itu menyebabkan pembesaran tuba (hematosalping) dan dapat pula mengalir terus ke rongga peritoneum, berkumpul di kavum Douglasi dan menyebabkan hematokele retrouterina. 3. Ruptur dinding tuba Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.

2.4 Gambaran klinik. Pada kehamilan ekoik yang muda dan tidak terganggu terdapat gejala-gejala seperti pada kehamilan normal yakni amenorea, rasa enek sampai muntah dan sebagainya. Rasa nyeri kiri atau kanan pada perut bagian bawah lebih sering ditemukan berhubung dengan tarikan pada peritoneum dinding tuba berhubung dengan pembesaran tuba karena kehamilan ektopik. Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda: Dari perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam ronga perut sampai terdapat nya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosanya. Gejala dan tanda tergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan ektopik terganggu, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil. Pada ruptur tuba peristiwa erjadi dengan mendadak dan eadaan penderita mumnya lebih gawat. Adanya anemi lebih tampak, kadang-kadang penderita dalam keadaan syok, dengan suhu badan menurun, nadi cepat, tekanan darah menurun,dan bagian perifer badan terasa dingin. Perut agak membesar menunjukan tanda-tanda rangsangan peritoneum dengan rasa nyeri yang keras pada 3

palpasi. Kadang-kadang ddapt ditemukan adanya cairan bebas dalam ronga perut. Pada pemeriksaan ginekologik terus tidak dapat diraba jelas karena dinding perut menegang dan uterus dikelilingi oleh darah. Gerakan pada serviks uteri nyeri sekali, dan kavum Douglas terang menonjol. (Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan 1976)

2.5 Diagnosis Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik, gejala-gejala kehamilan ektopik beraneka ragam, sehingga pembuatan diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesukaran yang terpenting dalam pembuatan diagnosis kehamilan ektopik ialah supaya pada pemeriksaan penderita selalu waspada terhadap kemungkinan kehamilan ini. (Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kandungan 1989) Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2002. Pemeriksaan untuk membantu diagnosis: a. Tes kehamilan Apa bila tes nya positip, itu dapatv membantu diaknosis. b. Pemriksaan umum Penderita tampak kesakitan dan pucat: pada perdarahan dalam rongga perut tanda syok dapat di temukan. Pada jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan. c. Anamnesis Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda nyeri perut bagian bawah. d. Pemeriksaan ginekologi Tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. e. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu terutama ada tanda perdarahan dalam ronggan perut. f. Pemeriksaan kuldosentesis Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah, cara ini amat berguna dalam membantu diagnosis kehamilan ektopik terganggu.

g. Pemeriksaan ultra sonografi Pemeriksaan ini berguna dalam diagnostic kehamilan ektopik. Diagnosis pastinya ialah apa bila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalam nya tampak denyut jantung janin. h. Pemeriksaan laparoskopi Digunakan sebagai alat Bantu diagnostic terahir untuk kehamilan ektopik.

2.6 Gejala kehamilan ektopik Ciri yang has dari kehamilan ektopik terganggu ialah seorang wanita yang sudah terlambat haid nya, sekonyong-konyong nyeri perut kadang-kadang jelas lebih nyeri sebelah kiri atau sebelah kanan. Selanjutnya pasien pening dan kadang-kadang pingsan sering keluar darah pervaginam.(obstetri patologi universitas padjajaran 1984) Gejala-Gejala Yang Terpenting: a. Nyeri perut: nyeri perut ini paling sering dijumpai biasanya nyeri datang setelah mengangkat benda yang berat. Buang air besar namun kadang-kadang bisa juga pada waktu sedang istirahat. b. Adanya AMENOREA: amenorea sering di temukan walaupun hanya pendek saja sebelum di ikuti oleh perdarahan. c. perdarahan : perdarahan dapat berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam. d. Shock karena hypovoluemia. e. Nyeri Bahu dan Leher (iritasi diafragma) f. Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak kembung. g. Pembesaran uterus: pada kehamilan ektopik uterus membesar. h. Gangguan kencing: kadang-kadang terdapat gejala besar kencing karena perangsangan peritonium oleh darah di dalam rongga perut. i. Perubahan darah: dapat di duga bahwa kadar haemoglobin turun pada kehamilan tuba yang terganggu karena perdarahan yang banyak dalam rongga perut.

2.7 Diagnosis Banding a. Abortus imminens b. Penyakit radang panggul (akut / kronik) c. Torsi kista ovari (Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2002.) 5

2.8 Penatalaksanaan Atau Penanganan a. Setelah diagnosis ditegakan, segera lakukan persiapan untuk tindakan operatif gawat darurat. b. Ketersediaan darah pengganti bukan menjadi syarat untuk melakukan tindakan operatif karena sumber perdarahan harus dihentikan. c. Upaya stabilisasi dilakukan dengan segera merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500 ml dalam lima menit pertama) atau 2l dalam dua jam pertama (termasuk selama tindakan berlangsung) d. Bila darah pengganti belum tersedia, berikan autotransfusion berikut ini 1) Pastikan darah yang dihisap dari rongga obdomen telah melalui alat pengisap dan wadah penampung yang steril 2) Saring darah yang tertampung dengan kain steril dan masukan kedalam kantung darah (blood bag) apabila kantung darah tidak tersedia masukan dalam botol bekas cairan infus (yang baru terpakai dan bersih) dengan diberikan larutan sodium sitrat 10ml untuk setiap 90ml darah. 3) Transfusikan darah melalui selang transfusi yang mempunyai saringan pada bagian tabung tetesan. e. Tindakan dapat berupa : 1) Parsial salpingektomi yaitu melakukan eksisi bagian tuba yang mengandung hasil konsepsi. 2) Salpingostomi (hanya dilakukan sebagai upaya konservasi dimana tuba tersebut merupakan salah satu yang masih ada) yaitu mengeluarkan hasil konsepsi pada satu segmen tuba kemudian diikuti dengan reparasi bagian tersebut. Resiko tindakan ini adalah kontrol perdarahan yang kurang sempurna atau rekurensi (hasil ektopik ulangan). f. Mengingat kehamilan ektopik berkaitan dengan gangguan fungsi transportasi tuba yang di sebabkan oleh proses infeksi maka sebaiknya pasien di beri anti biotik kombinasi atau tunggal dengan spektrum yang luas. g. Untuk kendali nyeri pasca tindakan dapat diberikan: 1) Ketoprofen 100 mg supositoria. 2) Tramadol 200 mg IV. 3) Pethidin 50 mg IV (siapkan anti dotum terhadap reaksi hipersensitivitas) h. Atasi anemia dengan tablet besi (SF) 600 mg per hari. i. Konseling pasca tindakan 1) Kulanjutan fungsi reproduksi. 2) Resiko hamil ektopik ulangan.

3) Kontrasepsi yang sesuai. 4) Asuhan mandiri selama dirumah. 5) Jadwal kunjungan ulang. (Sarwono Prawirohardjo, Buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2002.)

2.9 Komplikasi Potensial Komplikasi-komplikasi kehamilan tuba yang biasa adalah ruptur tuba atau abortus tuba, aksierosif dari trofroblas dapat menyebabkan kekacauan dinding tuba secara mendadak: ruptur mungkin paling sering timbul bila kehamilan berimplatasi pada pars ismikus tuba yang sempit, abortus tuba dapat menimbulkan hematokel pelvis, reaksi peradangan lokal dan infeksi skunder dapat berkembang dalam jaringan yang berdekatan dengan bekuan darah yang berkumpul. (Ben-Zion Buku Kedaruratan Obstetri dan ginekologi 1994)

2.10 Prognosis Menurut Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan 1976. Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup, Hellman dkk, (1971) 1 kematian diantara 826 kasus, dan Willson dkk. (1971) 1 antara 591. Tetapi bila pertolongan terlambat angka kematian dapat tinggi, Sjahid dan Martohoesodo (1970) Mendapat angka kematian 2 dari 120 kasus, Sedangkan Tarjamin dkk (1973) 4 dari 138 kehamilan ektopik.

2.11

PROSES KEPERAWATAN

I. PENGUMPULAN DATA Tanggal: 8 desember 2008 Pukul: 10.00 WIB A. Pengkajian 1. Identitas Nama Istri : Ny C Nama Suami : Tn. E Umur istri : 25 Tahun Umur suami : 30 Tahun Suku istri : Jawa Suku istri : Jawa 7

Agama istri : Islam Agama suami : Islam Pendidikan istri : SMA Pendidikan suami : SMA Pekerjaan istri : IRT Pekerjaan suami : Wiraswasta Alamat istri : Jl. Hawa 3 Semarang Alamat suami : Jl. Hawa 3 Semarang 2. Keluhan Utama Ibu mengatakan hamil anak pertama usia kehamilan 3 bulan datang untuk memeriksakan kehamilannya, ibu mengeluh nyeri perut bagian bawah dengan mengeluarkan darah sedikit (flek) pada celana 3. Riwayat Hidup Menarche : 13 tahun Siklus : kurang lebih 28 hari Banyaknya : 2 x ganti pembalut Lamanya : 5-7 hari Sifat darah : encer bercampur gumpalan HPHT : 22 September 2007 TP : 29 Januari 2008 4. Riwayat Perkawinan Ibu menikah I kali, status perkawinan syah sebagai istri pertama, usia perkawinan 1 tahun, usia saat pernikahan 24 tahun. Ibu mengatakan pernikahannya cukup bahagia dan dalam keluarga tidak mengalami masalah. 5. Riwayat hamil bersalin dan nifas yang lalu Ibu hamil anak pertama 6. Riwayat kehamilan sekarang a. Tanda-tanda kehamilan (trimester I) PP tes 20 Oktober : hasil positif 8

b. Pergerakan fetus belum dirasakan c. Keluhan yang di rasakan Mual dan muntah : ya Nyeri perut : ya Sakit kepala : tidak ada keluhan Penglihatan : tidak ada keluhan Rasa nyeri atau panas waktu BAK : tidak ada keluhan Rasa gatal panas vagina dan sekitarnya : tidak ada keluhan Pengeluaran pervaginam : ibu mengatakan darah sedikit pada vagina Oedema : tidak ada oedema 7. Riwayat kesehatan ibu dan keluarga a. Kesehatan ibu Ibu tidak pernah di rawat di RS, penyakit keturunan tidak ada, penyakit menular tidak ada, dan penyakit menahun tidak ada. b. Kesehatan keluarga Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang menular dan penyakit menular dan penyakit keturunan. 8. Pola kebiasaan sehari-hari a. Nutrisi 1) Sebelum hamil : makan 2 x sehari dengan porsi nasi sedikit dan lauk yang sedikit, tidak di sertai dengan buah-buahan dan jarang mengkonsumsi sayuran, tidak minum susu, ibu minum kurang lebih 7-8 gelas/hari. 2) Saat hamil : ibu makan 2 x sehari, porsi nasi sedikit dan sayuran yang kurang, lauk kadang mau kadang tidak, minum susu tidak setiap hari dan buah-buahan yang kurang. Ibu minum kurang lebih 7-8 gelas/hari b. Eliminasi 1) Sebelum hamil : BAB : 1-2 x/hari BAK : 5-6 x/hari 2) Saat hamil : BAB : 1 x/hari BAK : 10-11x/hari

c. Istirahat 1) Sebelum hamil : ibu tidur malam kurang lebih 7-8 jam / hari, tidur siang 1-2 jam/hari 2) Saat hamil : tidur malam 6 jam / hari , tidur siang 1-2 jam/hari d. Personal hygiene Sebelum hamil dan saat hamil ibu mandi 2x/hari, ganti pakaian 2x/hari e. Aktivitas atau olah raga Ibu hanya mengerjakan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, ibu sering jalan-jalan pagi f. Seksualitas dan kontrasepsi Seksualitas antara ibu dan suami sedikit terganggu, sebelum hamil, ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi g. Imunisasi Ibu mengatakan belum pernah mendapatkan imunisasi TT B. Pemeriksaan 1. Keadaan umum a. Keadaan umum : Baik b. Tanda-tanda vital TD : 110/90 mmHg RR : 20 x/menit Nadi : 80 x/menit Temp : 370c c. BB sebelum hamil : 43 kg BB saat hamil : 45 kg Kenaikan BB : 2 kg d. Tinggi badan : 157 cm e. LILA : 21 cm 2. Pemeriksaan fisik 1) Rambut : keriting, tidak ada ketombe, dan tidak mudah rontok, keadaan bersih 2) Mata : kelopak mata: simetris, tidak ada oedema. 3) Konjungtiva : pucat sklera: tidak ikterus 4) Hidung : bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada polip, fungsi penciuman normal 10

5) Mulut dan gigi: lidah tidak terdapat stomatitis, gigi tidak ada lubang dan caries 6) Telinga : keadaan bersih, bentuk simetris, tidak ada kotoran dan pendengaran baik 7) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid 8) Dada : bentuk payudara simetris, nafas teratur, tidak ada benjolan abnormal 9) Payudara : membesar simetris, puting susu menonjol, colostrum belum keluar. 10) Abdomen : tidak ada bekas luka operasi, perut bagian bawah sedikit menggembung dan nyeri tekan a) Palpasi : Leopold I : TFU 20 cm : Leopold II : tidak di lakukan : Leopold III : tidak di lakukan b) TBJ : TFU 12 x 155 : 20 12 x 155 : 1240 gr c) Auskultasi : tidak terdengar denyut jantung janin 11) Punggung : keadaan lordosis, michealis simetris 12) Genetalia : dilakukan pemeriksaan genetalia eksterna menggunakan spekulum terlihat adanya darah di kavum douglas dan terdapat sedikit pengeluaran darah atau flek-flek hitam ke coklatan 13) Ekstremitas Atas : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit turgor kulit baik, dapat digerakan dengan baik, tidak ada kecacatan. Bawah : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit baik 3. Pemeriksaan laboratorium HB : 9 gr% Protein uterus : tidak dilakukan USG : tidak terlihat kerangka janin dan ditemukan kantung gestasi yang terdapat di lumen tuba. PP tes : hasil positif 4. Pemerikasaan panggul luar Distantia cristarum : 27 cm Distantia spinarum : 26 cm 11

Konjungtiva external : 20 cm Lingkar panggul : 89 cm

Ibu G1 P0 A0 12 minggu dengan KET Dasar : ibu mengatakan hamil anak pertama HPHT : 22 September 2007 TP : 29 Juni 2008 a. Palpasi : tidak teraba adanya balotemen perut bagian bawah sedikit mengembung dan tegang. b. Auskultasi : tidak terdengar denyut jantung janin c. Pembesaran uterus d. Ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah e. Ibu mengatakan terjadi perdarahan sedikit f. Hasil pemeriksaan kuldosintesis, terdapat pengeluaran darah g. Kadar hemoglobin turun hingga 9 gr% karena perdarahan yang banyak di rongga perut h. Adanya amenorea : amenorea sering ditemukan walaupun hanya pendek saja sebelum di ikuti oleh perdarahan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gangguan pemenuhan cairan dan nutrisi berhubungan dengan kehamian ektopik Dasar : Ibu terlihat tampak lemah : Ibu terlihat tampak pucat : Ibu kurang dan makan dan minum atau tidak nafsu b. Ansietas/ ketakutan individu , keluarga ) yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup Dasar : Ibu mengatakan takut dan cemas dengan kehamilannya c. Keterbatasan beraktivitas Dasar : Ibu mengatakan cepat lemah bila beraktivitas

12

: Ibu mengeluh dengan keluarnya darah : Ibu mengeluh dengan adanya pegal-pegal d. Kehamilan yang lemah Dasar : Ibu mengalami perdarahan di perut bagian bawah Ibu mengalami pengeluaran darah sedikit-sedikit tapi berlangsung continues e. Resiko tinggi tidak terpenuhinya kebutuhan cairan dan nutrisi f. Pemenuhan cairan dan nutrisi Dasar : Ibu tampak lemas dan pucat Ibu tidak nafsu makan g. Resiko terhadap distres spiritual Dasar : ibu tampak cemas dan takut dengan kehamilannya C. INTERVENSI 1. Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi ibu saat ini a. Menjelaskan kondisi ibu b. Jelaskan tentang kehamilan ibu saat ini c. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan 2. Berikan konseling pada ibu saat ini a. Anjurkan ibu untuk segera rujuk b. Beritahu ibu bahwa akan dilakukan tindakan laparatomi 3. Anjurkan ibu untuk istirahat a. Beritahu ibu untuk istirahat cukup b. Beritahu ibu untuk makan secara rutin 4. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi a. Anjurkan ibu untuk makan-makanan yang bergizi b. Anjurkan ibu untuk makan secara rutin 5. Berikan konseling untuk pasca tindakan a. Kelanjutan fungsi produksi

13

b. Resiko hamil ektopik ulangan c. Kontrasepsi yang sesuai D. IMPLEMENTASI 1. a. Menjelaskan pada dan keluarga tentang kondisi ibu saat ini, bahwa ketika dilakukan pemeriksaan Leopold uterus teraba bulat lebar tetapi tidak teraba balotemen. Tinggi fundus 20 cm kemudian pada saat USG ternyata kehamilan berimplantasi dan tumbuh di luar rahim yaitu di tuba. b. Jelaskan pada ibu bahwa kehamilan ibu ini adalah kehamilan di luar rahim, janin tumbuh di tuba kehamilan ini biasanya tidak bertahan berakhir dengan abortus. c. Anjurkan untuk keluarga, agar selalu memberi dukungan pada kehamilan ibu 2. a. Ibu segera memeriksakan kehamilannya lebih lanjut ke dokter spesialis kandungan agar ibu dan keluarga lebih jelas dengan tindakan lebih lanjut untuk kehamilannya b. Beritahu ibu tentang tindakan laparatomi yaitu pembedahan di bagian perut dan segera lakukan tindakan laparatomi di rumah sakit oleh dokter untuk menghilangkan sumber perdarahan. 3. Menganjurkan ibu untuk istirahat a. Istirahat tidur 8-9 jam / hari b. Meminta pada ibu untuk tidak melakukan aktivitas yang berat karena dapat terjadi perdarahan. 4. a. Menjelaskan pada ibu tentang makan-makanan yang banyak mengandung gizi yaitu makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, lemak, mineral. Misalnya makanan sehari-hari; nasi, sayur, buah-buahan. Sayur misalnya; wortel, tomat, bayam, katu. Lauk misal; tempe, tahu, telur, hati, daging. Buah misalnya; jeruk, apel, melon, pepaya, dan di tambah minum susu. b. Memberitahu pada ibu agar makan teratur 3x sehari, dan minum 7-8 gelas / hari 5. a. Menjelaskan pada ibu tentang kelanjutan fungsi reproduksinya kelenjar fungsi reproduksi ibu hanya 60% dari wanita yang pernah dapat KET menjadi hamil lagi, walaupun angka kemandulannya akan jadi lebih tinggi. b. Menjelaskan pada ibu tentang resiko kehamilan yang berulang itu dilaporkan berkisar antara 014,6% kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah 50% c. Memberitahu tentang kontrasepsi yang baik digunakan yaitu dengan menggunakan kondom atau dengan KB kalender.

14

E. EVALUASI a. Ibu mengerti tentang keadaannya saat ini b. Ibu mengatakan cukup istirahat c. Melakukan kolaborasi dengan dokter d. Ibu dilakukan tindakan laparatomi oleh dokter di rumah sakit. e. Ibu mengatakan nyeri pada perut hilang f. Ibu mengerti tentang resiko kehamilan ulang g. Ibu tahu alat kontrasepsi yang baik digunakan h. Cemas ibu sudah berkurang

15

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dengan servik atau dalam tanduk rudimeter rahim.(Buku Obstetri Patologi Universitas Pajadjaran Bandung, 1984). Kehamilan ektopik ialah kehamilan dengan ovu yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh tidak ditempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri,pars interstialis tuba dan kehamilan pada serviks uteri.(buku ilmu kandungan, Sarwono pawiroharjo 1994) 2.2 Penyebab kehamilan ektopik Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (1976) dan Ilmu Kandungan 1989 adalah penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masaih di tuba. Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (1976) Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus sehingga mengadakan implantasi di tuba: a. Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang terbentuk trofoblast sebelum telur ada cavum uteri. b. Pada hipoplasia lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping. c. Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit d. Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan pada endosalping sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi gerakan ovum ke uterus lambat. e. Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat panjang dsb. f. Gangguan fisilogis tuba karna pengaruh hormonal, perlekatan perituba. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tubuh. g. Abortus buatan.

16

2.3 Patologi Menurut Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan (1976).Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau inter kolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya di batasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian di resorbsi. Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan, karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. (Sarwono Prawirohardjo, , Buku Ilmu Kebidanan,1976) 1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi Ovum mati dan kemudian diresorbsi, dalam hal ini sering kali adanya kehamilan tidak di ketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah meninggalnya ovum, di anggap sebagai haid yang datangnya agak terlambat. 2. Abortus ke dalam lumen tuba Trofoblast dan villus korialisnya menembus lapisan pseudokapsularis, dan menyebabkan timbulnya perdarahan dalam lumen tuba. Darah itu menyebabkan pembesaran tuba (hematosalping) dan dapat pula mengalir terus ke rongga peritoneum, berkumpul di kavum Douglasi dan menyebabkan hematokele retrouterina. 3. Ruptur dinding tuba Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.

17

DAFTAR PUSTAKA Zion-ben taber, 1994 ,Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Jakarta: EGC. Bagian obgin fakultas kedokteran universitas padjadjaran, 1984, Obstetri Patologi, Bandung: Elstar off set. Prawirohardjo, Sarwono, 1989, Ilmu Kandungan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Prawirohardjo, Sarwono, 1976, Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Binapustaka. Bari, Abdul Saifuddin, 2002, Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, Jakarta: JNPKKR-Po GI

18

19