Vous êtes sur la page 1sur 26

Article and Case Report of Surgery

ACUTE APPEDICITIS
Arif Heru Tripana* dr. Am Dasmar, Sp.B** dr. Ramzi Asrial, Sp.B** Email: elfasiry_med@yahoo.co.id Published May 27, 2013

* Student of Medical Faculty of Abdurrab University Pekanbaru ** Departement of Surgery Medical Faculty of Abdurrab - Pekanbaru

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Apendisitis adalah peradangan pada apendiks verformis yang sering menyebabkan akut abdomen pada orang-orang dewasa muda.[1,2] Apendisitis akut merupakan kasus yang paling sering terjadi pada usia di bawah 30 tahun, yang berkaitan dengan nyeri akut perut kanan bawah dan membutuhkan tindakan pembedahan segera.[3,4] Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang. Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiaanya menurun secara bermakna. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.[5] Di United States 250.000 kasus apendisitis dilaporkan setiap tahunnya, ini berarti mewakili setiap 1 juta pasien yang masuk rumah sakit. Di negara-negara Asia dan Afrika insiden apendisitis akut cenderung rendah, hal ini disebabkan oleh kebiasaan diet dari penduduk setempat. Insiden apendisitis rendah pada suatu penduduk tertentu hal ini dikarenakan meraka mempunyai kebiasaan diet tinggi serat. Meraka mempunyai pemikiran bahwa dengan diet tinggi serat dapat menurunkan viskositas feses, menurunkan waktu transit dari usus dan mencegah pembentukan fecalit.[6]

1.2 Anatomi Apendiks Vermiformis Apendiks vermivormis adalah struktur berbentuk cacing yang muncul dari posteromedial dari dinding sekum, kira-kira 2 cm di bawah ileum. Posisi ini mungkin menempati dari beberapa posisi. Posisi apendiks yang lain sepeti retrosekal, retrokolik (dibelakang sekum atau kolon ascenden), pelvical atau

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|1

descenden (pinggir panggul atau tergantung didekat ovarium atau rahim. Itu semua adalah posisi yang paling sering dijumpai di praktek. Posisi lain yang kadang-kadang terlihat terutama ketika ada mesentrium apendiks yang panjang memungkinkan mobilitas yang lebih besar, termasuk subcaecal (di bawah sekum), preilial (ke anterior terminal ileum), postileal (belakang terminal ileum).[7]

Gambar 01. Macam Letak Apediks Vermivormis.[7] Tiga taenea coli dari colon ascenden dan caecum yang mengikat dasar dari apediks dan tertanam ke dalam otot lungitudinal. Panjang apendiks kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm), dan berpangkal di sekum, lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.[8] Namun tidak demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens apendisitis pada usia bayi.[7]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|2

Gambar 02. Struktur Apendiks Vermivormis.[9] Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesentrika superior dan arteri apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula di sekitar umbilikus.[5] Perdarahan apendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi, apendiks akan mengalami gangren.[5]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Etiologi Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakn faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus. Di samping hiperplasia jaringan limf, fecalit, tumor apendiks, dan cacing askariasis dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti E. Histolytica.[5] Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora normal kolon. Semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.[5]

2.2 Patogenesis Apendisitis adalah peradangan apendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. Patogenesis utamanya diduga karena adanya obstruksi lumen, yang biasanya disebabkan oleh fekalit (feses keras). Hal ini akan menyebabkan terjadinya penyumbatan pengeluaran sekret mukus yang

mengakibatkan terjadingan pembengkakan, infeksi dan ulserasi. Peningkatan tekanan intraluminal dapat menyebabkan terjadinya oklusi arteri terminalis (endartery) apendikularis. Bila keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, biasanya mengakibatkan nekrosis, gangren dan perforasi.[2] Penelitian terakhir menunjukkan bahwa ulserasi mukosa berjumlah sekitar 60 hingga 70% kasus, lebih sering dari pada sumbatan lumen. Penyebab ulserasi tidak diketahui, walaupun sampai sekarang diperkirakan disebabkan oleh virus. Akhir-akhir ini penyebab infeksi yang paling sering diperkirakan adalah Yersinia enterocolitica.[2]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|4

Gambar 03. Skema patogenesis apendisitis.[2,5]

2.3 Patologi Patologi apendisitis dapat dimulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Upaya pertahanan tubuh berusaha membatasi proses radang ini dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Di dalamnya, dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.[5] Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi membentuk jaringan parut yang melengket dengan jaringan sekitar. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Suatu saat, organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai apendisitis eksaserbasi akut.[5]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|5

Gambar 04. Perjalanan alami apendisitis akut.[5]

2.4 Klasifikasi Apendisitis 2.4.1 Apendisitis Kronik atau Apendisitis Rekurens Diagnosis apendisitis rekurens baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah tanpa disertai demam akut. Pada beberapa kasus pada pemeriksaan CT scan atau sonografi ditemukan adanya pelebaran diameter apendiks, yang mendorong dilakukannya apendiktomi, dan hasil patologi menunjukkan peradangan kronik dan gejala menghilang setelah dilakukan apendiktomi.[5,10] Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh sepontan. Namun, apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut. Resiko terjadi serangan berulang adalah sekitar 50%. Insidens apendisitis rekurens adalah 10% dari spesimen apendiktomi yang diperiksa secara patologik.[5]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|6

2.4.2 Apendisitis pada Pasien Tua Apendisitis pada pasien tua sering terlambat dalam memberikan terapi, gejala klinis yang tidak khas dan mempunyai angka resiko tinggi untuk terjadi perforasi. CT telah digunakan secara luas untuk meneggak diagnosis apendisitis dan untuk membedakan dengan keganasan, divertikulitis dan penyakit-penyakit yang lain. Apendisitis yang telah mengalami peforasi dan abses relatif sering terjadi pada pasien-pasien tua dengan apendisitis.[10] 2.4.3 Apendisitis pada Wanita Hamil Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual dan muntah. Hal ini perlu dicermati karena pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih di regio lumbal kanan.[5]

2.5 Diagnosis Apendisitis 2.5.1 Perjalanan Penyakit Nyeri perut merupakan gejala utama dari apendisitis akut. Nyeri biasanya berawal di daerah epigastrium bagian bawah atau di daerah umbilikal kemudia setelah 1-12 jam, tetapi biasanya antara 4-6 jam nyeri menjadi terlokalisir di daerah kuadran kanan bawah.[6,11] Gejala tipikal apendisitis nyeri berawal di sekitar umbilikal diikuti dengan anoreksia dan mual. Nyeri yang telah terlokalisir di daerah kuadran kanan bawah merupakan tanda proses inflamasi yang progres ke lapisan parietal peritoneum dari apendiks.[10] 2.5.2 Pemeriksaan Fisik Pasien dengan apendisitis akut akan tampak kesakitan dan lebih suka berbaring di kasur. Suhu tubuh yang tidak begitu tinggi sering menyertai (38oC) pada pasien apendisitis.[8] Pemeriksaan abdomen biasanya ditemukan suara bising usus melemah dan fokal tenderness. Pada daerah tersebut terletak apendiks dan biasanya tepat pada titik McBurney. Normalnya apendiks itu mobil, namun jika terjadi inflamasi bisa berubah 360o mengelilingi dasar dari sekum. Oleh karena itu pada pemeriksaan fisik bisanya ditemukan tanda-tanda berikut:[6,11] Dunphy's sign: nyeri kanan bawah semakin meningkat saat batuk.

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|7

Rovsing's sign : nyeri perut kanan bawah saat dilakukan palpasi pada perut kiri bawah. Obturator sign : nyeri saat hip joint di rotasikan ke dalam. Curiga letak apendiks di pelvik. Iliopsoas sign : nyeri saat hip joint kanan diekstensikan. Curiga letak apendiks di retrosekal. Apendiks yang telah mengalami perforasi nyeri perut menjadi lebih hebat

dan lebih menyeluruh, dan muskulus abdominal menjadi tegang dan kaku. Detak jantung meningkat disertai dengan peningkatan temperatur tubuh di atas 39oC. pasien tampak kesakitan dan membutukan cairan resusitasi dan antibiotik sebelum dilakukan induksi anastesi.[11] 2.5.3 Temuan Laboratorium Terjadi peningkatan hitung jenis sel darah putih dengan lebih dari 75% neutrofil pada kebanyakan pasien. Hitung jenis leukosit normal terdapat perbedaan 10% dengan pasien apendisitis akut. Peningkatan tajam dari hitung sel darah putih (>20.000/mL) curiga ke arah komplikasi apendisitis dengan gangren atau perforasi. Analisa urin bisa membantu untuk menyingkirkan piolenefritis atau nefrolitiasis. Pyuri yang minimal biasanya bisa tampak pada wanita-wanita yang berusia tua, namun tetap tidak bisa menyingkirkan apendisitis dari diagnosis karena ureter bisa teriritasi akibat dari perlengketan apendiks yang sedang mengalami inflamasi. Namun, hematuri mikroskopik umum terjadi pada kasus apendisitis, gross hematuri jarang terjadi dan bisa mengindikasikan dari gejala batu ginjal. Tes darah yang lain secara umum tidak dapat membantu dan tidak mengindikasikan kepada pasien curiga ke arah apendisitis.[10] 2.5.4 Temuan Radiografi Ultrasonography (USG) memiliki sensitivitas kira-kira 80% dan memiliki spesifisitas lebih dari 90% untuk mendiagnosis apendisitis akut. Temuan sonografi pada pasien dengan apendisitis akut adalah diameter anteroposterio 7 mm atau lebih, penebalan pada dinding apendiks, tidak adanya penekanan lumen (terihat pada potong lintang target lesi) atau gambaran appendicolith. [10]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|8

Gambar 05. Gambaran USG apendiks pada potongan sagital menujukkan proses pradangan akut dengan diameter anteroposterior lebih besar dari 6 mm dan tampak cairan periapendikeal.[6]

Gambar 06. USG apendiks pada potongan transversal menunjukkan apendiks yang mengalami inflamasi akut. Perhatikan adanya gambaran targetlike karena penebalan dinding apendiks dan penumpukkan cairan disekitar apendiks.[6]
Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

|9

Computed tomography (CT) sering digunakan untuk mengealuasi pasienpasien dengan suspek apendisitis akut. CT memiliki tingkat sensitivitas mencapai 90% dan spesifisitas 80% sampai 90% untuk mendiagnosis apendisitis akut pada pasien-pasien dengan keluhan nyari abdomen. Secara umum, ukuran apendiks akan meningkat sesuai derajat keparahan apendisitis. Temuan klasik yaitu terjadinya distensi pada apendiks dengan diameter lebih dari 7 mm dan pada dinding apendik terjadi penebalan. Selama proses inflamasi, kita dapat melihat lemak periapendikel yang melekat, edema, cairan peritoneal, plegmon atau abses periapendikeal.[10]

Gambar 07. A. Apendisitis akut dengan penebalan dinding apendik lebih dari 0,3 cm pada gambar terlihat apendiks yang mengalami dilatasi pada sisi lateral dari sekum, B. Apendisitis supuratif dengan cavitas apendiks > 0,6 cm, C. Apendiks gangrenosa, D. Abses apendiks. Pada apendiks gangrenosa dan apendiks yang telah mengalami abses terjadi proses ilisekal-enkapsulasi.[12]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 10

2.5.5 Sistem Skoring Sistem skoring dibuat untuk penilaian klinis pada pasien-pasien dengan apendisitis akut. Sistem skoring Alvarado telah diketahui merupakan sistem skoring yang baik dan memiliki validitas terbaik dalam penelitian, tetapi ada beberapa kekurangan. Baru-baru ini telah diperkenalkan sistem skoring appendicitis inflammatory response (AIR) yang dirancang untuk mengatasi kekurangan tersebut.[13] Tabel 01. Karakteristik Skor Appendicitis Inflammatory Response (AIR) dan Skor Alvarado.[13] Diagnosis Skor Alvarado Skor AIR Muntah Mual atau muntah Anoreksia Nyeri RLQ Nyeri pindah ke RLQ Rebound tenderness atau defens muskular Lembut Sedang Kuat Temperatur tubuh >37,5oC Temperatur tubuh >38,5oC Peningkatan nilai leukosit Leukosit PMN 70-84% 85% Nilai WBC >10,0 x 109/I 10,0-14,9 x 109/I 15,0 x 109/I Konsentrasi CRP 10-49 g/I 50 g/I Total skor 1 1 2 1 1 1 1 2 10 1 1 1 2 3 1 1 2

1 2 1 2 12

Skor Alvarado : 0-4: tidak mungkin apendisitis, 5-6: samar-samar, 7-8: mungkin apendisiitis, 9-10: kemungkinan besar apendisitis.[13] Skor AIR : 0-4: kemungkinan kecil apendisitis, 5-8: samar-samar, 9-12: kemungkinan besar apendisitis. [13]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 11

2.6 Penatalaksanaan Sebagian besar pasien dengan apendisitis akut mendapakan penanganan pemotongan apendiks dengan pembedahan. Antibiotik pasca operasi dapat mencegah pertumbuhan bakteri aerob dan anaerob yang berasal dari kolon. Untuk pasien apendisitis tanpa perforasi, antibiotik dosis tunggal dapat mencegah infeksi pasca operasi dan mencegah terbentukan abses intra abdomen. Antibiotik oral pasca operasi tidak dapat mencegah insiden komplikasi infeksi pasien tersebut. Untuk pasien dengan ferforasi atau apendisitis gangren, harus diberikan antibiotik lanjutan intravena sampai pasien tidak demam.[10] 2.6.1 Apendiktomi dengan Pembedahan Apendiktomi dengan pembedahan biasanya sering dalakukan baik pembedahan dengan metode insisitranversal pada kuadran kanan bawah (metode Davis-Rockey) atau pembedahan dengan metode insisi oblig (McArthurMcBurney). Pada beberapa kasus apendisitis yang telah mengalami plegmontasi yang luas atau apendisitis yang diagnosisnya belum diketahui sejauh mana perjalanannya, pembedahan subumbilikal midline bisa digunakan. Untuk kasuskasus apendisitis yang belum mengalami komplikasi kami lebih suka menggunakan pembedahan dengan insisi tranversal, dengan memotong otot bagaian lateral dari musculus rectus abdominalis sampai ke titik McBurney. Anastesi lokal dapat diberikan sebelum dillakukan insisi, untuk mengurangi nyeri setelah operasi.[10] Setelah memasuki rongga peritoneum, indentifikasi apendiks dengan cara tentukan konsistensinya dan lakukan pembebasan secara gentle. Perhatikan struktur-struktur yang sedang mengalami inflamasi untuk meminimalkan terjadinya ruptur selama prosedur tindakan. Pada kasus yang sulit, insisi yang lebar dapat dilakukan sampai terlihat taenea coli dari sekum, karena biasanya disitu lokasi dari fecalit. Perhatikan gambar berikut:[10]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 12

Gambar 04. Lokasi insisi pada apendiktomi, dan tehnik penjahitan yang umum digunakan pada kasus apendisitis.[10]
Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 13

2.6.2 Apendiktomi dengan Laparoskopi Apendiktomi dengan laparoskopi dapat memberikan keuntungan bagi pasien, karena proses penyembuhan yang relatif cepat dan meninggalkan sisa tindakan insisi yang minimal bila dibandingkan dengan apendiktomi dengan pembedahan. Jika hasil dri CT scan telah diperoleh, seorang ahli bedah perlu meninjau ulang mengenai letak apendiks terhadap sekum. Setelah menyuntikkan anastesi lokal, kita dapat menempatkan port-10 mm ke umbilikal, diikuti dengan port-5 mm di regio suprapubik dan port-5 mm diantara 2 port yang pertama dan ke kiri dari muskulus rektus abdominalis. Perhatikan gambar berikut:[10]

Gambar 05. A. (Kiri atas) Titik-titik tampat memasukkan port, (Kanan bawah) memisahkan mesoapendiks menggunakan harmonic scalpel, B. Meletakkan | 14

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

endoloop ke dasar apendiks, C. Memotong apendiks diantara dua endoloop yang telah dipasang, D. Memasukkan apendiks ke dalam kantong spesimen sebelum mengeluarkan apendiks melalui port yang masuk dari umbilikus.[10] 2.7 Komplikasi 2.7.1 Massa Periapendikuler Massa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan/atau lekuk usus halus. Pada massa periapendikular dengan pembentukan dinding yang belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti oleh peritonitis purulenta generalisata.[5] Penderita sering datang dengan keluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda apendisitis akut.[5] Apendiktomi dilakukan pada infiltrat periapendikuler tanpa pus yang telah ditenangkan. Sebelumnya, pasien diberi antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kkuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan apendiktomi. Pada anak kecil, wanita hamil dan penderita usia lanjut, jika secara konservasif tidak membaik atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya.[5] 2.7.2 Apendisitis Perforata Keterlambatan diagnosis, merupakan faktor utama yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks. Insidens perforasi pada penderita di atas usia 60 tahun dilaporkan sekitar 60%. Faktor yang mempengaruhi tingginya insidens perforasi pada orang tua adalah gejalanya yang samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi apendiks berupa penyempitan lumen dan

arteriosklerosis. Inidens tinggi pada anak disebabkan oleh dinding apendiks yang masih tipis, anak kurang komunikatif sehingga memperpanjang waktu diagnosis dan proses pendindingan kurang sempurna akibat perforasi yang cepat dan omentum anak belum berkembang.[5] Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut dan perut menjadi tenggang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler terjadi di

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 15

seluruh perut, mungkin disertai dengan pungtum maksimum di regio iliaka kanan, peristaltik usus dapat menurun sampai menghilang akibat adanya ileus paralitik.[5] Perlu dilakukan laparotomi dengan insisi yang panjang, supaya dapat dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin yang adekuat secara mudah serta pembersihan kantong nanah. Akhir-akhir ini, mulai banyak dilaporkan pengelolaan apendisitis perforasi secara laparoskopi

apendiktomi. Pada prosedur ini, rongga abdomen dapat dibilas dengan mudah. Hasilnya dilaporkan tidak berbeda jauh dibandingkan dengan laparotomi terbuka.[5]

2.8 Pognosis Apendisitis akut merupakan alasan yang paling umum untuk melakukkan operasi kedaruratan abdomen. Pembuangan apendiks memiliki resiko komplikasi sekitar 4-5%, serta biaya yang terkait dan ketidakyamanan rawat inap dan pembedahan. Oleh karena itu tujuan dari ahli bedah adalah untuk membuat diagnosis yang akurat sedini mungkin. Diagnosis dan pengobatan yang terlambat akan meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas.[6] Angka kematian keseluruhan berkisar 0,2%-0,8% yang disebabkan komplikasi penyakit daripada intervensi bedah. Angka kematian pada anak-anak dalam rentang dari 0,1% menjadi 1% sedangkan pada pasien tua dengan usia >70 tahun tingkat kematian di atas 20%, terutama disebabkan karena keterlambatan diagnosis dan terapi.[6]

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 16

BAB III KASUS


3.1 Identitas Pasien Nama Umur Alamat No. RM Perkawinan : Widia Abadi : 17 tahun : Ridan Permai : 01.62.35 : Belum menikah

3.2 Anamnesis Pasien KU Nyeri perut kanan bawah RPS Seorang pasien wanita usia 17 tahun datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah, hal ini sudah dirasakan 2 hari terakhir. Pada awalnya nyeri dirasakan disekitar pusat kemudian pindah ke kanan bawah dan nyeri semakin menghebat. Untuk meredakan nyeri tersebut pasien berbaring atau badanya sedikit dibungkukkan. Pasien juga mengeluhkan demam, mual-muntah (+), nafsu makan menurun, BAB beberapa hari ini tidak lancar, BAK dalam batas normal. RPD - Sebelumnya pasien tidak pernah mengeluhkan penyakit yang sama seperti apa yang dirasakan saat ini. - Riwayat alergi disangkal. RPO: Pasien belum pernah berobat.

Riwayat Keluarga: dikeluarga pasien tidak ada yang menderita sama dengan pasien. Riwayat Kebiasaan - Pasien sering telat makan - Pasien tidak suka makan sayuran

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 17

Riwayat Menstruasi: menstruasi lancar setiap bulan, lama menstruasi 5-6 hari, tidak disertai nyeri. HPHT tanggal 5 Maret 2013.

3.3 Pemeriksaan Fisik 1. Vital Sign Keadaan Umum: tampak sakit sedang-berat. Sensorium: Compos Mentis TD: 110/70 mmHg Pulse: 78 x/menit RR: 24 x/menit Suhu: 37,8oC

2. Status Generalisata Kepala Mata: Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Hidung: Dalam batas normal Mulut: Mukosa hiperemis (-), lidah kotor (-), tonsil T1 T1 Leher: Perbesaran KGB (-), Peninggian JPV (-).

Thorax a. Paru-paru Inspeksi: Dinding dada simetris, pergerakan simetris, retraksi dinding dada (-) Palpasi: Vocal fremitus simetris kanan-kiri Perkusi: Sonor dikedua lapang paru. Auskultasi: vesikular dikedua lapang paru.

b. Jantung Inspeksi: Ictus cordis tidak terlihat. Palpasi: Ictus cordis tidak teraba. Perkusi: Batas atas ISC III linea midclavicularis sinistra, batas bawah ISC V linea midclavicularis sinistra, batas kanan ISC IV parasternalis dextra, batas kiri ISC IV midclavicularis sinistra. Auskultasi: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-).

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 18

Abdomen Ispeksi:Bentuk perut datar, tidak tegang, tanda-tanda peradangan (-). Auskultasi:Peristaltik usus (+). Palpasi: Nyeri tekan epigastrium (-), nyeri tekan kanan bawah (+). Perkusi: Timpani diseluruh kuadran abdomen kecuali kuadran kanan atas dan kanan bawah.

Genitalia Perempuan: TDP

Ekstremitas Superior: Capillary reffil time < 2 dtk, turgor kulit < 2 dtk. Inferior: Capillary reffil time < 2 dtk, edema (-), turgor kulit < 2 dtk.

3. Status Lokalisata (Regio Iliaka Kanan) Inspeksi: Dalam batas normal Palpasi: Massa (-), nyeri (+) Nyeri tekan McBurney (+) Rovsing sign (+):Nyeri perut kanan bawah saat dilakukan palpasi pada perut kiri bawah Iliopsoas sign (+):Nyeri saat sendi panggul kanan diekstensikan. Obturator sign (-):Nyeri saat sendi panggu dirotasikan ke dalam.

3.4 Diagnosis Banding 1. Colic Abdomen ec sup. Acute Appendisitis 2. Colic Abdomen ec sup. Kronic Apendisitis 3. Colic Abdomen ec sup. Nefrolitiasis 4. Colic Abdomen ec sup. Urolitiasis 5. Colic Abdomen ec sup. Vesicolitiasis

3.5 Diagnosis Sementara: Colic Abdomen e.c. Sup. Acute Abdomen

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 19

3.6 Rencana Terapi IVFD RL 10 gtt/menit Inj. Ranitidin 1 amp/8 jam Tramadol tablet 3 x 1 Inj. Cefotaxime 1 gr/12 jam

3.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Laboratorium Leukosit Hemoglobin Eritrosit Trombosit Hematokrit 13,4 x 103/L 12,6 gr/dl 4,58 x 106/L 247 x 103/ 32,1 %

2. Foto polos Abdomen Tidak tampak adanya batu radioopak pada poto polos abdomen

3. Ultrasonography Buli-buli, Apendiks dan Ginjal Buli-buli: Tidak tampak adanya kelainana. Apendiks: Tampak adanya penebalan pada dinding apendiks, tampak adanya apendikolith. Ginjal: Tidak tampak adanya kelainan.

3.8 Follow Up Tanggal/hari Penjelasan S: - Pasien baru masuk untuk persiapan operasi. 21/04/2013 - Nyeri perut kanan bawah (+). - Demam (+). - Nafsu Makan menurun (+). O: - Vital sign: TD: 110/70 mmHg Pulse: 78 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 37,4oC

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 20

- Nyeri tekan McBurney (+). - Rovsing sign (+). - Iliopsoas sign (+) - Obturator sign (-) A: - Apendisitis Akut P: - IVFD RL 10 gtt/mnt - Persiapan operasi: Surat Izin Operasi (+) Puasa 8-10 jam Cukur rambut kemaluan S: - Nyeri perut kanan bawah (+). - Demam (-). - Nafsu Makan menurun (+). O: - Vital Sign: TD: 110/80 mmHg Pulse: 76 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36,8 oC A: Apendisitis aku P: - Persiapan operasi: Surat Izin Operasi (+) Puasa 8-10 jam (+) Cukur rambut kemaluan (+) - Bed rest total 24 jam - Puasa post operasi 2 jam - IVFD 500 cc RL 20 ggt/mnt - IVFD D5NaCl 3:1 28 ggt/mnt - Analgetik post operasi; Tramadol 100 mg + Ketorolac 30 mg. - Inj. Cefotaxime 1 gr/12 jam S: - Nyeri luka post operasi apendisitis (+) - Demam (-) - Flatus (+)

22/04/2013

23/04/2013

O: - Vital Sign: TD: 110/70 mmHg Pulse: 74 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36,7 oC

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 21

A: Post Operasi Apendisitis P: - Bed rest - IVFD D5NaCl 3:1 28 ggt/mnt - Inj. Cefotaxime 1 gr/12 jam - Inj. Tramdol /12 jam S: - Nyeri luka post operasi apendisitis (+) - Demam (-) - Flatus (+) - Jalan (+) O: - Vital Sign: TD: 110/70 mmHg Pulse: 74 x/mnt RR: 20 x/mnt T: 36,7 oC - Keadaan luka operasi: Luka kering (+), Nanah (-), tanda-tanda peradangan (-). A: Post Operasi Apendisitis P: - Ganti perban Pasien Boleh Pulang - IVFD D5NaCl 3:1 28 ggt/mnt off - Inj. Cefotaxime 1 gr/12 jam off - Inj. Tramdol /12 jam off - Obat rawat jalan: Tramadol tablet 2 x 1 Sefadroxil tablet 2 x 1 Ranitidin tablet 3 x 1

24/04/2013

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 22

BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan 1. Seorang pasien wanita usia 17 tahun datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah,1 hal ini sudah dirasakan 2 hari terkhir.2Pada awalnya nyeri dirasakan disekitar pusat kemudian pindah ke kanan bawah dan nyeri semakin menghebat.3Untuk meredakan nyeri tersebut pasien berbaring atau badanya sedikit dibungkukkan.4Pasien juga mengeluhkan demam,5 mual-muntah (+), nafsu makan menurun,6 BAB beberapa hari ini tidak lancar.7 Coment:1 Organ-organ yang mungkin menyebabkan nyeri pada abdomen adalah apendisitis, nefroliasis, urolitiasis, vesikolitiasis, salpingitis dll. Coment:2dirasakan baru 2 hari bertanda gejala masih akut. Coment:3 Organ viseral yang memiliki gejala seperi diatas adalah apendiks, karena apendiks dipersyarafi oleh nervus vagus untuk parasimpatis dan nervus torakalis X untuk simpatis. Coment:4 ini kemungkinan berhubungan dengan letak organ itu sendiri. Coment:5 Salah satu tanda adanya infeksi. Coment:6 Tanda-tanda adanya masalah pada saluran cerna. Coment:7 tanda-tanda ada gangguan pada aluran cerna.

2. Riwayat Menstruasi: menstruasi lancar setiap bulan, lama menstruasi 5-6 hari, tidak disertai nyeri. HPHT tanggal 5 Maret 2013. Coment: Menyingkirkan kemungkinan hamil atau KET. Karena gejalagejala kehamilan atau KET mirip gejala diatas. 3. Status lokalisata: Nyeri tekan McBurney (+),1Rovsing sign (+): Nyeri perut kanan bawah saat dilakukan palpasi pada perut kiri bawah,2IlioPsoas sign (+): Nyeri saat sendi panggul kanan diekstensikan,3Obturator sign (-): Nyeri saat sendi panggu dirotasikan ke dalam.4 Coment:1 Presentasi pada titik tersebut adalah apendiks. Coment:2Tes yang digunakan untuk menentukan peradangan pada apendiks.

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 23

Coment:3Curiga letak apendiks di retrosekal. Coment:4 Curiga letak apendiks di pelvik.

4. Hasil lab: Leukosit 13,4 x 103/L Coment: Tanda adanya infeksi.

5. USG Apendiks: Tampak adanya penebalan pada dinding apendiks, tampak adanya apendikolith. Coment: Tanda adanya peradangan pada apendiks.

4.2 Saran dan Kritik Dengan kerendahan hati penulis, penulis sadar bahwa dalam artikel ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca, penulis harapkan demi kesempurnaan karya tulis dimasa-masa yang akan datang.

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 24

DAFTAR PUSTAKA
1. Fitzmaurice GJ, McWilliams B, Hurreiz H, Epanomeritakis E. Antibiotics Versus Appendectomy in the Management of Acute Appendicitis: A Review of the Current Evidence. [Can J Surg] 2011. [database on the internet]. [cited on 01 May 2013]. Vol. 54, No. 5. Pages 307-314. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3195652 /pdf/0540307.pdf. 2. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6 vol. 1. Jakarta: EGC, 2005. Hal. 448-449. 3. Schizas AM, Williams AB. Management of Complex Appendicitis. [Journal of Surgery] 2010. [database on the internet]. [cited on 30 April 2013]. Volume 28, Issue 1. Pages 544-548. Available from: http://www.surgeryjournal.co.uk/article/S0263-9319%2810%2900178X/pdf. 4. Froggatt P, Harmston C. Acute Appendicitis. [Journal of Surgery] 2011. [database on the internet]. [cited on 30 April 2013]. Volume 29, Issue 8. Pages 372-376. Availabe from: http://www.surgeryjournal.co.uk/article/ S0263-9319%2811%2900108-6/pdf. 5. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC, 2010. Hal. 756 6. Craig S, Brenner BE. Appendicitis. Medscape Article. [database on the internet] 2012. [cited on May 02, 2013]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/773895-overview#showall. 7. Standring S, Ellis H, Healy JC, Johnson D, Williams A, et al. Grays Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice. 39th Edition. [textbook of Anatomy]. Elsevier Churchill Livingstone: 2008. 8. Minkes RK, Alder AC, Alder C. Pediatric Appendicitis.Medscape Article. [database on the internet] 2013. [cited on May 02, 2013]. Available from:http://emedicine.medscape.com/article/926795-overview#showall. 9. Snell RS. Clinical Anatomy by Regions. 8th Edition. [textbook]. Washington: Lippincott Williams & Wilkins. 2008. 10. Basil A, Pruitt JR. Townsend: Sabiston Textbook of Surgery, 18th ed. Saundres, 2007.

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 25

11. Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, et al. Schwartz's Principles of Surgery. Eighth Edition. [textbook] The McGrawHill Companies, 2007. 12. Quantitative Imaging in Medical and Surgery. [database on the internet] 2012. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles /PMC3533601/figure/f2/. 13. Castro S.M.M, Unl C, Steller E.Ph, Wagensveld B.A, Vrouenraets B.C. Evaluation of the Appendicitis Inflamatory Response Score for Patients with Acute Appendicitis. World J Surg. [database on the pubmed central] 2012. [cited on May 1, 2013]. 36:15401545. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3368113/pdf/268_2012_A rticle_1521.pdf.

Arif Heru. Acute Appendicitis. [Article and Case Report]. 2013 KKS Ilmu Bedah RSUD Bangkinang Kampar

| 26