Vous êtes sur la page 1sur 17

AUTOPSI JANTUNG

BAB I PENDAHULUAN

Kegunaan autopsi forensik pada hakekatnya adalah untuk membantu penegak hukum untuk menjawab persoalan-persoalan yang di hadapi. Pemeriksaan jenazah di bagian forensik meliputi pemeriksaan luar dan dalam atas jenazah yang di mintakan oleh polisi penyidik yang menangani kasus. Suatu autopsi dapat mencegah orang yang bersalah bebas dari hukuman dan juga dapat menyelamatkan orang yang tak bersalah dari hukuman yang tidak semestinya.

Autopsi adalah pemeriksaan terhadap bagian luar dan dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera melakukan interprestasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebabnya serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan- kelainan yang di temukan dengan penyebab kematian, serta apakah kelainan yang lain turut memberi andil dalam terjadinya kematian.

Untuk mendapat hasil yang maksimal yang terbaik adalah dengan melakukan autopsi yang lengkap meliputi pembukaan rongga tengkorak, dada dan perut / panggul, serta melakukan pembukaan terhadap seluruh alat-alat/organ dalam tubuh.

Untuk mendapatkan sebab kematian pasti dan tujuan lainnya, autopsi ada baiknya selalu disertai dengan pemeriksaan yang lengkap, seperti pemeriksaan bakteriologi, histopatologi, serologi, mikrobiologi, toksikologi dan lain-lain sesuai kebutuhan.

Namun dari seluruh kegiatan autopsi dalam dunia kedokteran forensik autopsi jantung juga sangat penting dilakukan dokter yang berpengalaman dalam menentukan sebab, cara dan mekanisme kematian yang sangat erat kaitannya dengan sistem kerja jantung. Misalnya pada korban yang meninggal oleh karena kasus keracunan, meninggal tiba-tiba (sudden death), trauma, dan lain-lain.

1

BAB II PEMBAHASAN

I. PENGERTIAN AUTOPSI

Pemeriksaan kedokteran forensik terhadap jenazah di rumah sakit sering disebut dengan bedah mayat, dimana istilah lainnya yaitu : Autopsi, Seksi, Nekropsi, Obduksi, atau pemeriksaan post mortem.

Dalam istilah Indonesia dipakai bedah mayat atau bedah jenazah. Pemeriksaan post mortem (post-sudah, mortem-mati) berarti pemeriksaan yang dilakukan pada orang yang telah mati. Necropsi berasal dari necros (jaringan mati) dan opsi (lihat) jadi berarti pemeriksaan pada jaringan mati. Seksi berasal dari sectio (potong, bedah). Autopsi bisa diterjemahkan langsung berarti lihat sendiri (auto-sendiri, opsi-lihat). Autopsi dimaksud sebagai pemeriksaan luar dan dalam pada mayat untuk kepentingan pendidikan, hukum dan ilmu kesehatan.

A. Sejarah Autopsi

Autopsi sudah dilakukan beberapa abad yang lalu. Untuk perkembangan pendidikan dibidang ilmu kedokteran, Raja Frederick II (Jerman) pada abad ketiga belas telah memerintahkan dilakukan autopsi setiap 5 tahun dimuka umum. Autopsi untuk kepentingan hukum (medicolegal autopsy) dimulai di Bologna (Italy) oleh Bartholomeo Devarignana tahun

  • 1302 1 . Sejak abad ke 13 dan 14 autopsi telah merupakan bagian dari pendidikan mahasisiwa

fakultas kedokteran. Pada mulanya dipergunakan mayat dari autopsi medikolegal, yaitu korban pembunuhan dan bunuh diri serta korban hukuman mati. Demikian penting peranan autopsi pendidikan pada masa itu sehingga Giovanni Morgagni (1682- 1771) yang dianggap sebagai Bapak Anatomi menyatakan : Those who have dissected or inspected many bodies have at least learned to doubt,while those who are ignorante of anatomy and do not take the trouble to attand to it, are in no doubt at all.

B. Jenis Autopsi

2

Berdasarkan tujunnya autopsi dapat dibagi atas 3 jenis :

  • 1. Autopsi anatomi, dilakukan oleh mahasisiwa fakultas kedokteran untuk mengetahui susunan jaringan dan organ tubuh.

  • 2. Autopsi klinik untuk menentukan sebab kematian pasti dari pasien yang dirawat di rumah sakit (RS).

  • 3. Autopsi forensik (autopsi kehakiman) untuk membantu penegak hukum dalam menentukan peristiwa kematian korban secara medis.

Autopsi Anatomi

Yaitu autopsi yang dilakukan oleh mahasiswa fakultas kedokteran dibawah bimbingan langsung ahli ilmu urai anatomi di laboratorium anatomi fakultas kedokteran. Tujuannya adalah untuk mempelajari jaringan dan susunan alat-alat tubuh dalam keadaan normal.

Autopsi Klinik

Dilakukan terhadap mayat seseorang yang menderita penyakit, dirawat di rumah Sakit tetapi kemudian meninggal.

Tujuan dilakukannya autopsi klinik adalah untuk :

  • a. Menentukan sebab kematian yang pasti.

  • b. Menentukan apakah diagnosis klinik yang dibuat selama perawatan sesuai dengan diagnosis post mortem.

  • c. Mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan diagnosis klinis dan gejala- gejala klinik.

  • d. Menentukan efektifitas pengobatan.

  • e. Mempelajari perjalanan lazim suatu proses penyakit. Autopsi forensik (autopsi kehakiman)

3

Dilakukan terhadap mayat seseorang berdasarkan peraturan undang- undang, dengan tujuan :

  • a. membantu dalam hal penentuan identitas mayat.

  • b. menentukan sebab pasti kematian, memperkirakan cara kematian serta memperkirakan saat kematian.

  • c. mengumpulkan serta mengenali benda-benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab serta identitas pelaku kejahatan.

  • d. Membuat laporan tertulis yang obyektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk Visum et Repertum.

  • e. Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam penentuan identitas serta penuntutan terhadap orang yang bersalah. 3

II. DASAR HUKUM

Pemeriksaan autopsi di atur dengan jelas dalam ketentuan hukum. Dalam RIB (Reglemen Indonesia yang di perbaharui), hukum acara pidana sebelum KUHAP yang berlaku sejak 31 desember 1981, di nyatakan adanya wewenang pegawai penuntut umum dan megistrat pembantu (termasuk kepolisian) untuk meminta bantuan dokter melakukan pemeriksaan jenazah.

Dalam KUHAP yang mulai berlaku pada penutup tahun 1981, terdapat ketentuan yang menjelaskan keterlibatan dokter dalam melakukan autopsi

KUHAP Pasal 133

1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang di duga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakim1an atau dokter dan atau ahli lainnya.

2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebut dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

4

KUHAP Pasal 134

1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi di hindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.

KUHAP Pasal 222

Barang siapa dengan sengaja mencegah, mengalangi atau menggagalkan pemeriksaan maya untuk penyidikan, dihukum dengan hukuman penjara selama lamanya 9 bulan atau denda sebanyak banyaknya 300,- (Tiga ratus rupiah).

Instruksi Kapolri No. Pol Ins / E / 20 / IX / 75

Lampiran 3

: Dengan Visum et repertum atas mayat berdasarkan pemeriksaan luar saja.

Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan / Panglima Angkatan bersenjata No.Kep / b/ 20 / v / 1972.

Pasal II

: Bedah mayat klinis

tidak

diperlukan

persetujuan

anggota

ABRI

yang

bersangkutan sebelum meninggal atau keluarga yang terdekat bila :

Pasal III

: Bedah mayat diperlukan persetujuan anggota ABRI yang bersangkutan sebelum meninggal atau keluarga terdekat, bila

Fatwa Majelis pertimbangan kesehatan No. 4 / 1995 dan Syara Departemen Kesehatan Indonesia memutuskan sebagai berikut :

Ayat 1

:

Bedah

mayat

itu

mubah

/

boleh

hukumnya

untuk

kepentingan

ilmu

 

pengetahuan, pendidikan dokter dan penegakan keadilan diantara umat manusia.

Ayat 2

: Membatasi kemubahan ini sekedar darurat saja, menurut kadar yang tidak boleh tidak, karena dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Peraturan Pemerintah RI No. 18 Tahun 1981

5

Tentang bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis transplantasi alat atau jaringan tubuh manusia.

III.KETENTUAN UMUM DAN PERSIAPAN

Beberapa ketentuan umum dalam malaksanakan autopsi forensik oleh dokter adalah :

a.Autopsi harus dilakukan sedini mungkin Ini dilakukan unutk menghindari perubahan-perubahan lanjut yang mungkin terjadi akibat proses post mortem pada mayat.

  • b. Pemeriksaan harus dilakuakan pada siang hari.

Ini dilakukan untuk interprestasi kerja yang mungkin terjadi apabila pemeriksaan dilakukan malam hari dan pencahayaan yang kurang baik.

c.Autopsi harus lengkap Karena hasil dari pemeriksaan nantinya dimungkinkan digunakan sebagai pengganti mayat (corpus delicti)

  • d. Dilakukan sendiri oleh dokter

e.Pemeriksaan yang teliti. Ini dilakukan dengan sebaik-baiknya karena tidak mungkin mengulang pemeriksaan terhadap mayat apabila telah dikremasi.

f. Penyampaian hasil pemeriksaan yang segera kepada penyidik. Ini berkaitan dengan masa penahanan tersangka yaitu 2 minggu. Demikian pula dengan laporan hasil (visum et repertum) tidak boleh ada yang dihapus.

A. Persiapan-Persiapan Yang Perlukan Di Perhatikan Dalam Autopsi

  • 1. Permintaan tertulis

6

Menurut

KUHAP

133

dan

Pol

Ins

/

E

/

20

/

IX

/

75,

maka

harus diperhatikan

kelengkapan isi permintaan visum et repertum secara tertulis diterima dan ditanda tangani.

  • 2. Kebenaran Mayat Apakah mayat yang dikirim sesuai dengan permintaan visum et repertum.

  • 3. Keterangan pendukung pemeriksaan Keterangan ini dihimpun atas segala sesuatu yang berhubungan dengan korban / kasus, diperoleh dari penyidik dan atau kelurga korban ini sangat membantu, tetapi kesimpulan tetap apa yang dilihat dan diperiksa.

  • 4. kehadiran penyidik pada saat pemeriksaan. Ini untuk menguatkan hasil pemeriksaan.

  • 5. ketika autopsi dilakukan maka keluarga korban / pihak yang tidak berwenang tidak berada pada ruang pemeriksaan.

  • 6. Ruang pemeriksaan dan alat alat di rumah sakit harus dipersiapkan. 1,2

    • B. Alat dan Teknik Autopsi

Alat dan bahan yang biasa digunakan untuk autopsi yang biasa digunakan biasa tersedia dirumah sakit yaitu berupa :

  • 1. Timbangan, yang besar untuk menimbang mayat dan yang kecil untuk menimbang organ

  • 2. Pisau, untuk memotong tulang rawan (cartilage knife). Memotong jaringan otak (brain knife) dan pisau bedah mayat (post knife).

  • 3. Gunting, untuk usus (intestinal scissor) dan untuk bedah (surgical scissor).

  • 4. Pinset

  • 5. Sonde Tumpul

  • 6. Pemotong Tulang (Bone Forceps)

  • 7. Gergaji Besi

  • 8. Martil dan Pahat

  • 9. Jarum jahit dan benang

7

10.

Gelas Ukur

  • 11. Meteran

  • 12. Sarung tangan

  • 13. Gelas objek dan piring petri

  • 14. Cairan Pengawet

  • 15. Air yang cukup terutama yang mengalir. 2,3,4

10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan
10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan
10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan

Chissel

Morgue

10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan

Needles

10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan

Ribcutter

10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan

Saw

Postmortem table

10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan

Scalpel

10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan
10. Gelas Ukur 11. Meteran 12. Sarung tangan 13. Gelas objek dan piring petri 14. Cairan

Scissor

Tweesers

IV. TEHNIK AUTOPSI

8

  • a) Teknik VIRCHOW Organ- Organ di keluarkan satu persatu dan langsung di periksa. Dengan demikian kelainan-kelainan yang terdapat pada masing-masing organ dapat segera di lihat, namun hubungan anatomik antar beberapa organ yang tergolong dalam satu sistim menjadi hilang. Dengan demikian, tehnik ini kurang baik bila di gunakan pada autopsi forensik, terutama pada kasus- kasus penembakan dengan senjata api dan penusukan dengan senjata tajam, yang perlu di lakukan penentuan saluran luka, arah serta dalamnya penetrasi yang terjadi.

  • b) Teknik ROKITANSKY Setelah rongga tubuh di buka, organ- organ di lihat dan di periksa dengan melakukan beberapa irisan in situ, baru kemudian seluruh organ- organ tersebut di keluarkan dalam kumpulan- kumpulan organ (en bloc). Tehnik ini jarang di pakai, karena tidak menunjukkan keunggulan yang nyata atas tehnik lainnya. Tehnik ini pun tidak baik di gunakan untuk autopsi forensik.

a) Teknik VIRCHOW Organ- Organ di keluarkan satu persatu dan langsung di periksa. Dengan demikian kelainan-kelainan
  • c) Teknik LETULLE Setelah rongga dibuka, organ leher, dada, perut dikeluarkan sekaligus (en messe) Plexus Coeliacus, Kelenjar aorta dibuka dan diperiksa rectum dipisah dari sigmoid. Organ orogenetial dipisah dari organ lain. Bagian proksimal yeyenum diikat didua tempat dan diputus. Esophagus dilepas dari trachea tetapi hubungan dengan lambung dipertahankan.

9

d) Teknik GHON Setelah rongga tubuh di buka, organ leher dan dada, hati, limpa dan organ-
  • d) Teknik GHON Setelah rongga tubuh di buka, organ leher dan dada, hati, limpa dan organ- organ pencernaan serta organ- organ urogenital diangkat ke luar sebagai 3 kumpulan organ- organ (bloc).

V. AUTOPSI JANTUNG

Setelah organ jantung tampak sehabis dilakukan pembukaan tulang dada yang lengkap lalu perhatikan keadaan selaput pembungkusnya (pericard) apakah masih dalam kondisi fisiologis atau tidak , kemudian lakukan pembukaan selaput tipis pembungkus jantung (pericard) dengan metode penguntingan huruf Y terbalik. Kemudian diperhatikan apakah terdapat cairan diantara bagian dalam selaput dengan permukaan luar otot jantung yang berwarna kekuning-kuningan, perhatikan warna selaput (normal : warna kuning gading kemerahan), perubahan warna cairan, dan hitung jumlah volumenya (normal : 30-50 ml). Kemudian jantung diangkat dengan cara memegang pada bagian apeknya dan perhatikan besar jantung (kira-kira sebesar kepalan tangan korban), warna jantung, berat jantung, apakah ada dijumpai resapan darah, adakah penebalan dinding jantung pada pembedahan jantung, perhatikan ukuran keliling seluruh katup-katup jantung, tebal otot jantung, konsistensi, pembuluh darah arteri dan vena, dan penyumbatan pembuluh darah jantung. Timbang berat jantung, normal pada laki-laki perawakan sedang (60-70 kg) antara 250-350 gr.

Tekhnik:

Pada prinsipnya tekhnik membuka jantung mengikuti aliran darah jantung. Pertama-tama buka atrium kanan dengan menggunting dinding belakang lumen vena cava superior-inferior mengikuti alirannya, buka ventrikel kanan dengan memasukkan pisau dari lumen vena cava

10

menuju ke apex jantung dan lanjutkan dengan memotong kearah lateral, ukur keliling katup trikuspidalis (normal : 9,5 - 11 cm). Buka arteri pulmonalis dengan melakukan pengguntingan dari apex jantung dengan jarak 1 cm lateral dengan sekat antar bilik ke arteri pulmonalis, ukur dan perhatikan katup arteri pulmonal (normal : 5 - 7 cm). Buka atrium kiri dengan cara memotong dinding posterior vena pulmonalis kanan dan kiri. Buka ventrikel kiri dengan cara memasukkan pisau ke dalam ventrikel kiri dan tusuk sampai keluar dari apek kea rah lateral, ukur dan perhatikan katup bikuspidalis (normal : 7 - 9,5 cm). Buka aorta dengan cara menggunting otot jantung dari apex ke aorta dengan jarak 1 cm dengan sekat antar bilik. Tebal ventrikel / bilik kanan (normal : 3 - 5 mm) dan kiri (normal : 12 - 14 mm) dengan cara membuat potongan tegak lurus pada 1 cm di bawah katup tricuspidalis dan bicuspidalis. Bila diduga infark bisa dilihat dengan cara melakukan sayatan pada septum interventrikularis dan myokard secara sejajar dengan serabut otot. Arteri coronaria di buka dengan melakukan sayatan melintang mulai dari muara arteri coronaria di pangkal aorta sampai ke distal pada jarak tiap ½ cm lihat adanya penebalan, penyempitan atau pelebaran lumen pembuluh darah.

menuju ke apex jantung dan lanjutkan dengan memotong kearah lateral, ukur keliling katup trikuspidalis (normal :
menuju ke apex jantung dan lanjutkan dengan memotong kearah lateral, ukur keliling katup trikuspidalis (normal :
menuju ke apex jantung dan lanjutkan dengan memotong kearah lateral, ukur keliling katup trikuspidalis (normal :

11

Adapun nilai rujukan normal yang menjadi penilaian jantung pada autopsi tersebut : ∑ Besar jantung sebesar
Adapun nilai rujukan normal yang menjadi penilaian jantung pada autopsi tersebut : ∑ Besar jantung sebesar

Adapun nilai rujukan normal yang menjadi penilaian jantung pada autopsi tersebut :

Besar jantung sebesar kepalan tangan korban sendiri.

Berat normal 250-350 gram.

Katup trikuspidalis

= 9,5- 11 cm

Katup bicuspudalis

= 7- 9,5 cm

Katup a.pulmonalis

= 5-7 cm

Katup aorta

= ± 6,5 cm

Tebal otot bilik kanan

= ± 3-5

mm

Tebal otot bilik kiri

= ± 12-14 mm

VI. PENYAKIT CARDIOVASCULAR

Penyakit atherosklerosis pada pembuluh darah jantung merupakan penyebab sudden death yang terbanyak. adalah atheroslerosis (pengerasan pembuluh darah) merupakan

12

penumpukan lemak (plaque) dan komponen lainnya yang terjadi pada dinding pembuluh darah jantung. Menurut American Heart Association ada beberapa penyakit sistem kardiovaskuler yang dapat menyebabkan kematian yang pernah mencapai 81.100.000 orang dan menyebabkan kematian mendadak, diantaranya :

Arteriosclerosis heart disease (425.425 orang), seperti :

= Coronary Artery Disease = Coronary Thrombosis = Coronary Occlusion = Myocard Infark (8.500.00 orang) Congestive Heart Failure (5.800.00 orang)

Pulmonary Embolism Infark

Aneurysma Aorta

Functional Heart Disease : = Arrhythmia

= Atrial fibrilation Acut Myocarditis Non-Rheumatic

Rheumatic Myocarditis (3.257 orang)

Banyak ilmuwan yang beranggapan bahwa atherosclerosis berawal karena lapisan paling dalam arteri rusak. Lapisan ini dinamakan endothelium. Kerusakan pada endothelium mungkin disebabkan oleh tiga hal berikut:

Kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah meningkat

Tekanan darah yang tinggi

Asap rokok

Diabetes

Faktor-faktor genetik

Setelah dinding arteri mengalami kerusakan, terjadi pengendapan lemak, kalsium, kolesterol yang secara keseluruhan penumpukan ini disebut plaque. Demikian pula dengan Aneurisma yang merupakan suatu penonjolan (pelebaran, dilatasi) pada dinding suatu arteri. Aneurisma Aorta perut atau Aneurisma Aorta Abdominalis (Abdominal aortic aneurysms terjadi pada bagian dari aorta yang melewati perut. Penyakit ini cenderung terjadi pada suatu

13

keluarga (diturunkan). Aneurisma ini sering terjadi pada penderita tekanan darah tinggi, ukurannya lebih besar dari 7,5 cm dan bisa pecah. (diameter normal dari aorta adalah 1,8-2,5 cm).

keluarga (diturunkan). Aneurisma ini sering terjadi pada penderita tekanan darah tinggi, ukurannya lebih besar dari 7,5

14

BAB III

PENUTUP

Autopsi adalah suatu pemeriksaan terhadap tubuh jenazah untuk kepentingan tertentu, meliputi pemeriksaan bagian dalam dengan menggunakan cara-cara yang dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten. Karena meliputi pemeriksaan bagian dalam maka autopsi memerlukan pembukaan tubuh jenazah dengan melakukan irisan.

Pelaksanaan autopsi forensik di atur di dalam KUHAP, yang pada prinsipnya autopsi baru boleh di lakukan jika ada surat permintaan tertulis dari penyidik dan setelah keluarga di beri tahu serta telah memahaminya atau setelah 2 hari dalam hal keluarga tidak menyetujui autopsi atau keluarga tidak di temukan.

Autopsi forensik atau medikolegal di lakukan terhadap mayat seseorang dengan tujuan membantu dalam hal penemuan identitas mayat, sebab kematian, identitas pelaku kejahatan, membantu laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta serta melindungu orang yang tidak bersalah dalam penentuan identitas serta penuntutan terhadap orang yang bersalah.

Namun dari seluruh kegiatan autopsi dalam dunia kedokteran forensik autopsi jantung juga sangat penting dilakukan dokter yang berpengalaman dalam menentukan sebab, cara dan mekanisme kematian yang sangat erat kaitannya dengan sistem kerja jantung. Misalnya pada korban yang meninggal oleh karena kasus keracunan, meninggal tiba-tiba (sudden death), trauma, dan lain-lain.

15

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Arif Budiyanto, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 1997; hlm.2, 214-218.

  • 2. Gonzales TA, et al. Legal Medicine : Pathology and Toxicology. Appleton Centuries Crofts, Inc : New York, 1996 : hlm 122-124, 132-133.

  • 3. Hall & Guyton. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta, 1997 : EGC ; hlm. 706-
    707.

  • 4. Knight. B, Forensic Pathology. Second edition. Oxford University Press, inc : New York, page 506 – 507.

  • 5. Sheperd, Richard. Simpson's Forensic Medicine. 12 th edition. Greaat Britain: Arade Publisher, 2003; page 120, 124-125.

  • 6. Teknik Autopsi Forensik.Cetakan Pertama,Tahun 1981.Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman FK-UI : 1 – 43.

  • 7. Modi’s.Medical Jurisprudence and Toxicology.Edited by C.A.FRANKLIN.BOMBAY

  • 8. N.M.TRIPATHI PRIVATE LIMITED 1988 ; page 69 – 95.

  • 9. Dahlan S. Ilmu kedokteran Forensik. Cetakan III. Penerbit Universitas Diponegoro.

    • 10. Semarang. 2004: 177-182. 3. Amir A. Autopsi Medikolegal. Edisi Kedua. Penerbit Ramadhan. 2004 ; page 1-50.

    • 11. MD, Jurgen Ludwig. Handbook of : autopsy Practice. 3th ed. Totowa, New Jersy Humana Press, 2002 ; page 1-83.

    • 12. Dimaio Vincent J, Dimaio Dominick. Forensic Pathology. 2th ed. Florida : CRC, 2001; page 43-48.

16

13.

Knight B. Forensic Pathology. 2th ed. New York : Oxford University Press. 1996 ; page

1-29.

  • 14. Hamdani N. Ilmu kedokteran kehakiman. Edisi kedua. Jakarta. 1991 ; page 48-59.

17