Vous êtes sur la page 1sur 2

Pendapat Tentang Hukum MUZARAAH

Beberapa ulama berbeda pendapat tentang hukum kontrak Muzaraah. Tetapi kesemua perbedaan pendapat itu mempunyai landasan hukum yang jelas dan terperinci. Jadi tidak layak perbedaan ini menjadi sebuah pemacu adanya perpecahan diantara umat islam. Melainkan perbedaan ini menjadi sebuah jalan untuk memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Karena diantara perbedaan itu pada kenyataannya tidak menunjukan arah yang salah dan kesemua itu adalah benar. Dibawah akan dijelaskan bagaImama perbedaan pendepat para ulama pendiri madzhab islam berbeda pendapat tentang hukum kontrak Muzaraah. 1. Pandangan Madzhab Hanafi Madzhab Hanafi tidak setuju dengan hukum kontrak Muzaraah. Bahkan sistem pemeliharaan tanah dengan kontrak Muzaraah tidak boleh hukumnya. Tetapi Abu Yusuf dan Muhammad As-Syaibani mengatakan bahwa hukum kontrak Muzaraah diperbolehkan dalam hukum islam. keteguhan dua sahabat Au Hanafi ini dilandaskan pada beberapa persoalan yaitu, 1. Rasulullah pernah melakukan kontrak dengan penduduk khoibar yaitu memberikan setengah dari hasil pertaniannya, seharusnya peristiwa ini bisa menjadi contoh untuk membenarkan kontrak Muzaraah. 2. Muzaraah adalah sebuah kesepakatan bersama yang sebenarnya sama dengan mudharabah dalam analogi dasar (qiyas). 3. Selain dari itu, Muzaraah menjadi dasar kebutuhan dalam kehidupan manusia. Dalam beberapa contoh, para pemilik tidak mempunyai kekuasaan untuk mengelola tanah miliknya. Sedangkan tanah itu harus dikelola. Oleh karena itu pemilik tanah membutuhkan tenaga lebih dari orang lain yang membantunya dalam mengelola tanah. 4. Tidak hanya Rasulullah yang mempraktikan kontrak Muzaraah ini. Tetapi para sahabat dan pengikutnya mengikuti dan mempraktikannya. Ini semestinya bisa menjadi contoh untuk memperbolehkan kontrak Muzaraah. Di sisi lain, Abu Hanafi juga mempunyai pendapat lain dengan kedua sahabatnya. Abu Hanafi tetap mempertahankan pendapatnya dengan beberapa argumentasi: 1. Sistem tradisional yang ada di zaman nabi itu adalah mukhabarah dan itu hukumnya dilarang. 2. Muzaraah diperbolehkan ketika dalam bentuk sebuah kontrak kerja bukan kontrak kesepakan bekerja sama. Jadi pemilik tanah mempekerjakan pekerja untuk mengelola tanah dengan kompensasi upah. Tetapi yang menyebabkan Muzaraah dalam kasus ini menjadi dilarang ketika upah tersebut tidak jelas. Sedangkan dalam prinsipnya upah untuk pekerja itu haruslah jelas dan diketahui.

3. Transaksi yang dilakukan oleh Rasulullah dengan penduduk khoibar merupakan salah satu tipe dari

kharaj. Kharaj mempunyai dua makna yaitu pajak yang dilakukan oleh para pemimpin kepada
penduduk untuk mengelola tanah. Kedua, pajak yang diambil dari setiap hasil produksi. Kedua pjak itu diperbolehkan. Kejadian dengan penduduk khibar ini termasuk pada tipe yang kedua. Tetapi fatwah lebih memilih pada pendapat Abu Yusuf dan Muhammad As-Syaibani dengan argumentasi tentang kebutuhan dalam kehidupan manusia dan perilaku yang sering dilakukan orang. Sedangkan Abu Hanifah melihat pada dasar prakteknya dan teori kondisi darurat. Dan argumentasi yang lebih kuat adalah argumentasinya Abu Yusuf dan Muhammad As-Syaibani karena menurut dasar ilmu

ushul fiqh adalah istihsan. 2. Pandangan Madzhab Maliki


Ibnu Rushd berkata bahwa imam malik mempunyai pandangan yang memperbolehkan kontrak Muzaraah atau sewa tanah untuk segala kepentingan kecuali kepentingan makanan. Opini ini muncul karena persetujuannya terhadap argumentasi dari imam Hanafi tentang persamaan Muzaraah dan mukhabarah. Imam Malik juga memberikan penjelasan yang sangat detil tentang kira atau penyewaan tanah.

3. Pandangan Madzhab Shafii


Pada keempat madzhab setuju bahwa mukhabarah mempunyai hukum yang dilarang. Mukhabarah adalah benih untuk mengelola tanah berasal dari pengelola tanah yang diamanati oleh pemilik tanah. Sedangkan yang diperbolehkan itu bekerja sama. Tetapi pada kenyataannya mukhabarah menuntut pengelola mengerjakannya sendiri dan pemilik tanah hanya merasakan hasilnya setelah panen. Ini bukanlah maksud dari keuntungan dalam islam. meskipun itu, para pengikut Imam Syafii memperbolehkan Muzaraah yang hampir sama seperti musaqah.

4. Pandangan Madzhab Hambali


Dalam pandanga Madzhab Hambali ini sebenarnya mirip dengan pernyataanya Abu Yusuf dan Muhammad As-Syaibani yaitu teori tentang kebutuhan. Tetapi Madzhab Hambali tidak menyakini teori darurah yang dikemukakan oleh Abu Hanifah dalam dasar ushul fiqh tentang istihsan. Pada kesimpulannya Muzaraah dibenarkan oleh Abu Yususf dan Muhammad As-Syaibani dan diikuti oleh Madzhab Hambali. Di sisi lain, Imam Hanafi, Imam Syafii, dan Imam Malik masih tidak membenarkan kontrak Muzaraah. Tetapi jika melihat pada kenyataannya. Aplikasi Muzaraah sangat dibutuhkan oleh banyak kalangan. Sehingga dapat lebih bijak ketika Muzaraah dibenarkan pada dasar kebutuhan yang menjadi dasar ushul

fiqh tentang istihsan.wallahu alam bissawab...