Vous êtes sur la page 1sur 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perubahan kondisi sering terjadi pada bayi yang baru lahir. Di dalam
tubuh ibu, suhu tubuh janin selalu terjaga, namun saat lahir hubungan bayi
dengan ibu sudah terputus dan bayi harus mempertahankan suhu tubuhnya
sendiri melalui aktifitas metabolismenya (Mayrani, 2013).
Masalah berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram) sampai saat ini
masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal. Berat
lahir rendah (BLR) dapat dibedakan atas bayi yang dilahirkan preterm dan
bayi yang mengalami pertumbuhan intrauterine terhambat. Di negara-negara
maju, sekitar dua pertiga bayi berat lahir rendah disebabkan oleh
prematuritas, sedangkan di negara-negara sedang berkembang sebagian besar
bayi BBLR disebabkan oleh pertumbuhan intrauterin terhambat (Bobak,
1999).
Suhu permukaan kulit meningkat atau turun sejalan dengan perubahan
suhu lingkungan. Sedangkan suhu inti tubuh diatur oleh hipotalamus. Namun
pada bayi, pengaturan tersebut masih belum matang dan belum efisien. Oleh
sebab itu pada bayi ada lapisan yang penting yang dapat membantu untuk
mempertahankan suhu tubuhnya serta mencegah kehilangan panas tubuh
yaitu rambut, kulit dan lapisan lemak bawah kulit. Ketiga lapisan tersebut
dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau tidak bergantung pada
ketebalannya. Sayangnya sebagian besar bayi tidak mempunyai lapisan yang
tebal pada ketiga unsur tersebut. Transfer panas melalui lapisan pelindung
tersebut dengan lingkungan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama
panas inti tubuh disalurkan menuju kulit. Tahap kedua panas tubuh hilang
melalui radiasi, konduksi, konveksi atau evaporasi (Sarbanun, 2011)..
Hipotermi pada bayi baru lahir terutama bayi berat lahir rendah
(BBLR) merupakan masalah yang serius di negara berkembang, termasuk
Indonesia dengan mortalitas dan morbiditas masih tinggi. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik di Indonesia (2011) angka kejadian BBLR yaitu 321,15
per 100.000 kelahiran hidup. Di Jawa Tengah rerata kejadian kematian pada
tahun 2009 sebesar 114/100.000 kelahiran hidup (KH), sebagian besar
kematian bayi disebabkan oleh BBLR dan prematuritas sebesar 31%,
kelainan kongenital 9 % dan asfiksia 6%. Sedangkan di Banyumas pada
tahun 2008 angka kematian bayi sebesar 255 /1000 KH dan penyebabnya
adalah BBLR 25,8%, Asfiksia 25,8%, Lain-lain 40,7%. Di ruang
perinatology RSUD Banyumas angka kematian bayi periode Januari-Juni
2013 akibat BBLR sebanyak 19%, BBLSR 19%, kelainan kongenital 10%
dari total kematian.
Salah satu metode untuk mengatasi hipotermi pada bayi baru lahir
adalah dengan metode kangoroo mother care (KMC), namun metode ini
mempunyai kelemahan yaitu adanya efek evaporasi suhu bayi dengan
lingkungan yang menyebabkan panas pada permukaan tubuh terbuang
percuma. Meletakn bayi pada ruangan denagnsuhu 25
o
C/infant warmer. Baru-
baru ini ditemukan metode yang efektif dan efisien untuk mencegah bayi baru
lahir terkena hipotermia yaitu dengan cara melilitkan palstik pada dada dan
ektermitas bayi.
Di ruang perinatologi RSUD Banyumas telah dilakukan penanganan
hipotermi pada BBLR dengan menggunakan metode lilitan plastik. Tetapi
masih jarang dilakukan karena belum ditemukannya dasar yang kuat dalam
penggunaan plastik untuk menganani hipotermi. Untuk itu kami tertarik
untuk menganalisa jurnal Plastic Bags for Prevention of Hypothermia in
Preterm and Low Birth Weight Infants ini mengetahui seberapa efektif
penggunaan kantong plastik untuk mencegah hipotermi.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa Ners dan perawat mengetahui efektifitas penggunaan metode
kantong plastik untuk mencegah hipotermi pada bayi BBLR
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui cara penggunaan kantong plastik untuk
mencegah hipotermi
b. Mahasiswa mengetahui tujuan dan manfaat penggunaan kantong
plastik untuk pencegahan hipotermi

BAB II
RESUM JURNAL
A. Pencarian Jurnal
Penelusuran jurnal dilakukan dengan keyword: hypothermia, infant
newborn, infant premature, dengan menggunakan pediatrics.org
.
B. Isi Jurnal
Judul Jurnal : Plastic Bags for Prevention of Hypothermia in Preterm and Low
Birth Weight Infants
Penulis : Alicia E. Leadford, MD, Jamie B. Warren, MD, MPH, Albert
Manasyan, MD, Elwyn Chomba, MD, Ariel A. Salas, MD,
Robert Schelonka, MD, andWaldemar A. Carlo, MD
Publikasi : www.pediatrics.org/cgi/doi/10.1542/peds.2012-2030
doi:10.1542/peds.2012-2030
C. Resume Jurnal
Angka kematian bayi di dunia berkisar sekitar 8 juta pertahunya, lebih
dari 80 % angka kematian tersebut terjadi akibat infeksi, asfiksia, hipotermia,
dan kelainan kongenital. Hipotermia adalah masalah yang serius bagi bayi
yang lahir premature dan berat lahir rendah, sebab ketika bayi terkena
hipotermia maka akan mudah terkena infeksi, asidosis, keterlambatan
pematangan proses sirkulasi dalam tubuh, penyakit membrane hyaline (HMD),
perdarahan pada otak, peningkatan kebutuhan oksigen (nafas bayi menjadi
cepat/takikardia), coagulation defect, dan kematian.
Bayi mempunyai resiko hipotermia di menit pertama sampai 1 jam
kehidupan, hal ini terjadi karena usaha penyesuain dengan suhu lingkungan.
Penata laksanaan hipotrmi menurut The World Health Organization (WHO)
adalah dengan cara meletakan bayi di suhu ruangan 25
o
C/ radiant warmer,
kemudian keringkan bayi sesegara mungkin, setelah itu resusitasi/hisap lendir
di bawah radiant warmer, lakukan KMC (kangoroo mother care) atau letakan
dalam incubator.
Kehilangan panas pada bayi disebabkan karena evaporasi (panas
mengup ke udara) merupakan kejadian termolegulasi bayi 30 menit pertama,
hal ini yang menjadi penyebab utama bayi kehilangan panas. Pengeluaran
cairan dari tubuh dan sedikitnya cadangan lemak pada subkutaneus juga turut
mendukung pengeluaran panas dari tubuh bayi. Salah satu usaha untuk
mencegah pengeluaran panas bayi yang berlebih adalah dengan cara melilitkan
palstik pada dada dan ektremitas.
D. Metode
1) Desain study
Penelitian ini menggunakan metode rendomized control trial yang
dilakukan di rumah sakit pendidikan Universitas Tertiari di Lusaka, Zambia.
Penelitian ini membandingkan penggunaan standar perawatan termoregulasi
dengan penggunaan standar perawatan termoregulasi yang ditambah dengan
melilitkan plastik pada tubuh bayi.
Kriteria inkulsi : Bayi yang lahir di rumah sakit dimasukkan kedalam
inklusi dengan kriteria usia gestasi antara 26 minggu 0 hari sampai 36 minggu
6 hari dan berat badan lahir 1000-2500 gram.
Kriteri eksklusi : Bayi dengan pada luka perut (abdominal wall
defect), myelomeningocele (kelainan pada tulang belakang), kelainan
konginetal, atau kelainan pada kulit.
Bayi yang lahir kemudian diacak lalu diberi 1 dari dua perlakuan
(control atau intervensi). Pengacakan dilakukan 10 menit pertama setelah
kelahiran, dan bayi yang lahir kembar juga turut dalam pengacakan.
Pengackan menggunakan teknik pengacakan buta yaitu menggunakan nomor
yang dimasukan dalam amplop.
2) Kontrol grup.
Bayi yang telah terpilih sebagai kontrol dilakukan tindakan penangan
sesuai dengan standar, yaitu ketika bayi baru lahir dilakukan kanguru mother
care (KMC), kemudian dikeringkan dan diberikan selimut, setelah itu
dilakukan tindakan resusitasi jika perlu dan dimasukkan ke radiant warmer.
Jika bayi lahir dengan saesar semua tindakan dilakukan di bawah radiant
warmer (pengeringan, resusitasi). Kemudian di awasi suhu dan berat badan.
Pengukuran suhu dilakukan pada aksila dan diukur setiap jam sekali.
3) Intervensi grup.
Bayi yang masuk dalam intervensi dilakukan hal yang sama
(penanganan sesuai setandar) dan ditambah dengan melilitkan plastik pada
dada dan ekstremitas. Plastik yang digunakan adalah plastik berbahan dasar
low-densiti polyethylene (nomor 4) dengan ukuran 10 x 8 x 24 inch
Penggunaan plastik dilakukan setelah bayi dikeringkan dan dilakukan IMD.
Waktu melilitkan plasitik pada tubuh bayi maksimal 10 menit setelah
kelahiran, kemudian 1 jam pertama diukur suhu pada aksila. Jika suhu bayi
dalam rentang normal (36,5-37,5 atau lebih) maka lilitan plastik dihentikan,
tetapi jika suhu dibawah rentan normal lakukan lilitan plastik kembali sampai
suhu normal dan awasi setiap satu jam.
E. Analisa statistic
Data yang diperoleh dianalisa dengan mengunkan deskriptif satatistik
dengan tingkat kepercayaan 95% dan kekuatan 80% yang menyatakan bahwa
ada peningkatan suhu pada bayi setelah diberikan lilitan plastic. Analisa
dilanjutkan dengan menggunakan uji t berpasangan kemudian dialukan analisa
menggunakan SPSS 17. Hasil uji stasistik mendapatkan nilai p< 0,05 yang
menandakan tidak ada kejadian hipotermia pada bayi dengan berat lahir rendah
setelah dilakukan penangan termolegulasi dengan melilitkan plastic.
F. Hasil
a) Total partisipan
Jumlah bayi yang terlibat dalam penelitian ini berjumalah 104 bayi dengan
jumlah 49 pada kelompok intervensi dan 55 pada kelompok control.
b) Hasil primer
Dari 49 bayi yang beri perlakukan 29 diantaranya dibandingkan dengan
kelompok control (kelompok control diambil 18 dari 55) yang mempunyai
tempratur dalam rentang normal pada 1 jam pertama kelahiran. Rata-rata
tempratur 1 jam pada kelompok intervensi adalah 36,5 + 0,5
o
C dan
kelompok control 36,1 + 0,6
o
C (P<0,001). Hal ini menunjukan penggunaan
llitan plastic dapat menurunkan angka kejadian hipotermia.
c) Hasil sekunder
Hampir semua pasien dibolehkan pulang kurang dari 24 jam pertama, dan
23 dari 104 bayi (14 intervensi dan 9 control dengan P = 0,13) dilarikan ke
NICU karena mengalami permasalahan yang serius seperti hipotensi dan
hipoglikemia.
G. Kekurangan Jurnal
1. Waktu intervensi yang singkat untuk menghindari kerusakan kulit atau
sufokasi
2. Prediksi usia gestasi kurang akurat
3. Kurangnya control suhu lingkungan bersalin dan resusitasi

























BAB III
IMPLIKASI KEPERAWATAN

A. Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga
akan mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan.
Pada saat bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut
kemudian masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin.
Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga
mendinginkan darah bayi. Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu
tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang
kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan
lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu meningkatkan
panas tubuh sampai 100 %. Untuk membakar lemak coklat, seorang bayi
harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah
lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi
baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat
dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin banyak
persediaan lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai
mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis. Oleh karena itu, upaya
pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan tenaga
kesehatan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi
baru lahir. Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 36
0
C.
Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 37
0
C.

B. Termoregulasi
Termoregulasi adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan
antara pembentukan panas dan kehilangan panas agar dapat mempertahankan
suhu tubuh di dalam batas normal. Pada bayi-baru lahir, akan memiliki
mekanisme pengaturan suhu tubuh yang belum efisien dan masih lemah,
sehingga penting untuk mempertahankan suhu tubuh agar tidak terjadi
hipotermi. Proses kehilangan panas pada bayi dapat melalui proses konveksi,
evaporasi, radiasi dan konduksi. Hal ini dapat dihindari bila bayi dilahirkan
dalam lingkungan dengan suhu sekitar 25-28
0
C, dikeringkan dan dibungkus
dengan hangat. Simpanan lemak yang tersedia dapat digunakan sebagai
produksi panas.
Intake makanan yang adekuat merupakan suatu hal yang penting
untuk mempertahankan suhu tubuh. Jika suhu bayi menurun, lebih banyak
energi yang digunakan untuk memproduksi panas daripada untuk
pertumbuhan dan terjadi peningkatan penggunaan O2, Bayi yang kedinginan
akan terlihat kurang aktif dan akan mempertahankan panas tubuhnya dengan
posisi fleksi dan meningkatkan pernafasannya secara menangis, sehingga
terjadi peningkatan penggunaan kalori yang mengakibatkan hipoglikemi yang
timbul dari efek hipotermi, begitu juga hipoksia dan hiperbilirubinemia.
Mekanisme hilangnya panas pada BBL Mekanisme hilangnya panas
pada bayi yaitu dengan :
1. Radiasi yaitu panas yang hilang dari obyek yang hangat (bayi) ke obyek
yang dingin.
2. Konduksi yaitu hilangnya panas langsung dari obyek yang panas ke
obyek yang dingin.
3. Konveksi yaitu hilangnya panas dari bayi ke udara sekelilingnya.
4. Evaporasi yaitu hilangnya panas akibat evaporasi air dari kulit tubuh bayi
(misal cairan amnion pada BBL). (Indarso, F, 2001).

C. Hipotermi
Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal.
Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 C. Suhu normal pada neonatus
36,5-37,5C (suhu axila). Gejala awal hipotermi apabila suhu <36C atau
kedua kaki & tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terasa dingin
maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36C). Disebut
hipotermi berat bila suhu <32C, diperlukan termometer ukuran rendah (low
reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25C. (Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirahardjo, 2001). Disamping sebagai suatu gejala,
hipotermi merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
(Indarso, F, 2001). Sedangkan menurut Sandra M.T. (1997) bahwa hipotermi
yaitu kondisi dimana suhu inti tubuh turun sampai dibawah 35C.
Etiologi terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
1) Jaringan lemak subkutan tipis.
2) Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
3) Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
4) BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil)
pada reaksi kedinginan. (Indarso, F, 2001).
5) Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko
tinggi mengalami hipotermi. ( Klaus, M.H et al, 1998).
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hipotermi Akibat yang bisa
ditimbulkan oleh hipotermi yaitu :
1. Hipoglikemi
2. Asidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan metabolisme
anaerob.
3. Kebutuhan oksigen yang meningkat.
4. Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
5. Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal
yang menyertai hipotermi berat.
6. Shock.
7. Apnea.
8. Perdarahan Intra Ventricular. (Indarso, F, 2001).
Pencegahan dan Penanganan Hipotermi Pemberian panas yang
mendadak, berbahaya karena dapat terjadi apnea sehingga direkomendasikan
penghangatan 0,5-1C tiap jam (pada bayi < 1000 gram penghangatan
maksimal 0,6 C). (Indarso, F, 2001). Alat-alat Inkubator Untuk bayi < 1000
gram, sebaiknya diletakkan dalam inkubator. Bayi-bayi tersebut dapat
dikeluarkan dari inkubator apabila tubuhnya dapat tahan terhadap suhu
lingkungan 30C.


D. Implikasi jurnal dalam bidang keperawatan
Hypothermia dapat menyebabkan masalah yang serius bagi bayi, jika
tidak ditangani dengan segera. Permaslahan yang timbul akibat hypothermia
adalah infeksi, asidosis, keterlambatan pematangan proses sirkulasi dalam
tubuh, penyakit membrane hyaline (HMD), perdarahan pada otak,
peningkatan kebutuhan oksigen (nafas bayi menjadi cepat/takikardia),
coagulation defect, bahkan kematian. Hal ini disebabkan karena luas tubuh
permukaan bayi jauh lebih besar dari orang dewasa (0,006mm
2
/3kg BB untuk
bayi dan 0,025mm2/kg untuk 70 kg BB untuk orang dewasa), dan sedikit
lemak dalah tubuh (16% berat badan dalam 3,5 kg bayi baru lahir dibanding
20-30% pada orang dewasa).
Menurut WHO standar penanganan untuk mencegah bayi agar tidak
hypothermia adalah dengan meletakan bayi di suhu ruangan 25
o
C/ radiant
warmer, kemudian mengeringkan bayi sesegara mungkin, setah itu
resusitasi/hisap lendir di bawah radiant warmer, lakukan KMC (kangoroo
mother care) atau letakan dalam incubator.
Permasalahan akan timbul ketika rumah sakit atau pelayanan
kesehatan tidak mempunyai radiant warmer untuk menghangatkan bayi, salah
satu usaha untuk mengatasi hal terebut adalah dengan cara melilitkan plastic
pada bagian dada bayi dan ektremitas dalam jangka waktu maksimal 10 menit
setelah kelahiran dengan lama penggunaan lilitan plastic 1 jam. Setelah 1 jam
kemudian ukur suhu bayi secara aksila, jika suhu bayi dalam rentang 36,5-
37,5 atau lebih maka penggunaan plastic dihentikan dan jika suhu bayi
dibawah rentang normal maka ulangi pelilitan dan ukur suhu 1 jam kemudian.
Hasil penelitan menunjukan adanya keefektifan pengguanaan lilitan plastic
pada bayi untuk mencegah hipotermia yang dianalisa mengguanakan uji t
berpasangan mendapatkan nilai p < 0,05. Hasil penelitian ini didukung oleh
pelelitian Sarbanun, 2011 yang menyakatan bahwa metode kantong plastik
dapat mencegah hipotermi pada BBLR dibandingkan dengan metode
konvensional (uji statistik menggunakan Chi- square dengan RR 1(0.11) dan
RR 2 (3.69))
Penggunaan plastic dirasa efektif untuk mencegah terjadinya
hypothermia selain harganya yang lebih murah dari radiant warmer, dan
penggunaan plastic dapat dilakukan dimana saja, hal ini dapat digunakan
sebagi upaya keperawatan untuk bayi baru lahir supaya tidak terjadi
hypothermia.
Hasil penelitan ini dapat diterapkan di ruang perinatology RSUD
Banyumas karena penggunaan palstik dapat menurunkan hipotermia tanpa
menyebabkan hipertermia pada lingkungan yang penuh tekanan, bayi baru
larih tidak perlu dikeringkan sesuai dengan petunjuk WHO bila
menggunakan plastic, biaya murah dan memberikan peluang dan harapan
hidup bagi bayi baru lahir pada lingkungan yang terbatas, dapat digunakan
pada bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 samapi 29 minggu denagan
berat badan kurang dari 1000 gram selain itu penggunaan plastic dapat
dipakai pada bayi hipotermi yang akan dirujuk kerumah sakit atau dari ruang
bersalain ke ruang perawatan bayi untuk menstabilkan suhu.



DAFTAR PUSTAKA

Mayrani. (2013). Mengatasi hipotermi pada bayi dengan kantong plastik.
http://www.teruskan.com/17223/mengatasi-hipotermia-pada-bayi-
dengan-kantong-plastik.html#_. Diakses 5 Februari 2014
Bobak. (1999). Maternal Nursing Care Plans. Mosby Company
Sarbanun. (2011). Perbandingaan metode kantong plastik dan konvensional
terhadap pencegahan hipotermi pada bayi berat lahir rendah (bblr) saat
dilahirkan. Tesis. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada























RESUME JURNAL
STASE KEPERAWATAN ANAK
PLASTIC BAGS FOR PREVENTION OF HYPOTHERMIA IN
PRETERM AND LOW BIRTH WEIGHT INFANTS










DI SUSUN OLEH:

Dudi Cahyono, S.Kep
Sujayanti, S.Kep
Panggih Sediyo, S.Kep
Retno Kumala Sari, S.Kep
Siti Nur Khotimah, S.kep
Desy Nur Prasetyo, S.Kep



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM PROFESI NERS
PURWOKERTO
2014