Vous êtes sur la page 1sur 11

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATANFAKULTAS KEDOKTERAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BATAMSKRIPSI, September 2013





Nama : Riomas Suartini
SNPM : 51109079

Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Dispepsia di Wilayah Kerja Puskesmas Botania Kelurahan Belian
Kecamatan Batam Kota Tahun 2013

xii + 40 Halaman, 7 tabel, 1 Skema, 7 Lampiran.


ABSTRAK

Dispepsia atau indigesti merupakan istilah yang sering digunakan untuk pasienuntuk menjelaskan
sejumlah gejala yang umumnya dirasakan sebagai gangguan perut bagian atas dan sering disertai dengan
asupan makanan. Dispepsia dapat terjadi berkaitan dengan penyakit pada traktus gastrointestinal atau
keadaan patologik padasistem organ lainnya. Dari data pre-survei kebanyakan kejadian dispepsia
tersebutdipengaruhi oleh pola makan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan
dengan kejadian dispepsia. Desain penelitian ini menggunakan desainanalitik dengan pendekatan
cross sectional
. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 responden. Teknik pengambilan sampel adalah
consecutive sampling
yaitu Sampeldiambil dalam satu kurun waktu yang telah ditetapkan oleh peneliti sampai jumlahsampel
terpenuhi . Penelitian ini dilakukan pada tanggal 01 Juli 31 Juli 2013 diPuskesmas Botania Kota Batam
Tahun 2013. Data dikumpulkan denganmenggunakan kuesioner. Data dianalisa secara univariat untuk
menentukan hasilfrekuensi setiap variabel dan bivariat dengan komputerisasi menggunakan uji
Chi- square. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan signifikan antara pola makandengan kejadian
dispepsia, dibuktikan dengan hasil p value 0,000< 0,05 artinya Hoditolak dan ada hubungan pola makan
dengan kejadian dispepsia. Disarankan kepada petugas kesehatan memberikan informasi yang lebih jelas
melalui penyuluhankesehatan tentang pola makan yang benar.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Dispepsia adalah rasa nyeri atau rasa tidak nyaman di sekitar ulu hati. Pasien dengandispepsia ini
biasanya datang dengan keluhan lain seperti kembung, cepat kenyang,nafsu makan berkurang dan sering
bersendawa juga sering muncul (Nurheti, 2009).Menurut data yang didapat Kasus dispepsia di dunia
mencapai 13-40% dari total populasi setiap tahun.

Hasil studi menunjukkan bahwa di Eropa, Amerika Utara, danOseania prevalensi dispepsia bervariasi
antara 3% hingga 40%. Dispepsia merupakankumpulan gejala yang ditemukan dimasyarakat dunia.
Pasien dispepsia merupakan30% pasien yang berobat pada dokter umum dan 50% yang berobat pada
dokter gastroenterologis. Kondisi ini dilaporkan terjadi pada kira-kira 25% (13-40%) populasi setiap
tahunnya. Di Amerika serikat dan Negara barat populasi menderitasindrom ini, dan populasi yang
menderita dispepsia ini mendapatkan pengobatan.Jones et al (1989) menyimpulkan bahwa Angka
kejadian dispepsia dimasyarakattergolong tinggi, berdasarkan penelitian yang dilakukan pada suatu
komunitastingkat keluhan mencapai 38 % dimana pada penelitian tersebut dinyatakan bahwakeluhan
dispepsia banyak pada usia muda.Menurut data dari WHO pada tahun 2007, dispepsia menjadi penyakit
yangmenempati urutan ketujuh tertinggi di Yogyakarta dengan proporsi sebesar 5,81%dan sekitar 5,78%
di Jakarta.

Sedangkan berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dispepsia menjadi penyakit dengan proporsi
terkecil di Riau, yaitu sekitar 6,05%. Dan pada tahun 2012dispepsia merupakan permasalahan yang
terbesar di kota Batam. Dari data yangdidapat dari dinas kesehatan kota batam pada tahun 2012 jumlah
kasus dispepsia4,273 jiwa (Dinkes Prov. Kepri , 2012).Dan dari data yang di dapat dari dinas kesehatan
kota batam peneliti menemukan bahwa data terbanyak untuk kasus dispepsia berada di puskesmas
Botania Lokasi inimerupakan tempat yang banyak terjadinya masalah dispepsia pada tahun 2012sebanyak
802 orang. Oleh karena itu peneliti melakukan tempat penelitian di puskesmas botania. Dan dari hasil
data yang didapat di puskesmas Botania bahwakasus dispepsia merupakan kasus 10 besar masalah
kesehatan yang terdapat ditempat tersebut. Pada saat pre survei pada bulan maret tahun 2013
didapatkan penderita dispepsia sebanyak 74 orang yang mengalami dispepsia bulan aprilsebanyak 73
orang yang mengalami dispepsia dan didapatkan pasien baru sebanyak 51 orang dan pasien lama
sebanyak 22 orang sedangkan pada bulan mei sebanyak 36orang yang mengalami masalah dispepsia dan
didapatkan pasien baru sebanyak 26orang dan pasien lama sebanyak 21 orang, dan dari survey terhadap
orang yangmengalami masalah dispepsia yang sudah ditanya kebanyakan mereka mengatakan bahwa
pemicu dari dispepsia adalah pola makan mereka dan hasil survei dengan timkesehatan di puskesmas
Botania mengatakan bahwa dispepsia tersebut dipengaruhioleh pola makan. Maka dari itu peneliti ingin
melakukan penelitian untuk melihatapakah ada hubungan pola makan dengan dispepsia tersebut.

Keluhan dispepsia merupakan keadaan klinis yang sering dijumpai dalam praktek praktis sehari-hari.
Diperkirakan hampir 30% kasus pada praktek umum dan 60% pada praktek gastroenterologis merupakan
kasus dispepsia. Istilah dispepsia mulaigencar digunakan pada tahun 80an, yang menggambarkan keluhan
atau kumpulangejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium,
mual,muntah, kembung, cepat kenyang, rasa penuh diperut, sendawa, rasa panas yangmenjalar ke dada.
Sindrom ini dapat disebabkan atau didasari oleh berbagai penyakitlambung.Dispepsia merupakan keluhan
umum yang dalam waktu tertentu dapat dialamiseseorang. Berdasarkan penelitian pada populasi umum
didapatkan bahwa 15-30%orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari. Dari data negara
baratdidapatkan prevalensinya sekitar 7-41%, tetapi hanya 10-20% yang mencari pertolongan medis.
Angka insiden ini diperkirakan 1-8% (Djojoningrat, 2006).Surya Sugani dan Lucia Priandarini (2010)
menyatakan bahwa Dispepsia adalahkumpulan gejala yang diakibatkan oleh kelainan saluran makanan
bagian atas.Gangguan pencernaan ini sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, melainkangejala yang
banyak dialami orang pada saat tertentu. Ada orang yang mengalamigangguan ini sehabis mengkonsumsi
makanan atau minuman tertentu, sementarayang lainnya mengalami saat berada pada kondisi psikologis
tertentu.Keluhan yang menandainya adalah nyeri pada perut atas, perih, mual yang kadang-kadang
disertai muntah, rasa panas di dada dan perut, lekas kenyang, anoreksia (tidak nafsu makan), kembung,
dan banyak mengeluarkan gas asam dari mulut.

Dispepsia atau indigesti merupakan istilah yang sering digunakan untuk pasien untuk menjelaskan
sejumlah gejala yang umumnya dirasakan sebagai gangguan perut bagian atas dan sering disertai dengan
asupan makanan (Harrison, 2000).Haryani Sulistioningsih (2011) menyatakan bahwa Pola makan yang
tidak teratur menjadi masalah yang sering timbul yang menyebabkan terjadinya dispepsia.Banyaknya
aktifitas dilakukan menyebabkan pola makan menjadi terganggu.Dispepsia menjadi salah satu masalah
pada manusia karena kebanyakan orang tidak menyadari bahwa pola makan yang tidak teratur akan
menyebabkan masalah padagastroinstestinal mereka.Banyak orang menganggap bahwa masalah itu hanya
hal yang tidak penting sehingga banyak yang tidak langsung menanganinya padahal jika dibiarkan begitu
saja akanmenyebabkan masalah yang besar bagi sistem gastrointestinal. Pada penelitianterdahulu telah
dilakukan penelitian oleh Annisa (2009) dengan judul hubunganketidakteraturan makan dengan sindroma
dispepsia remaja Perempuan Di SMA PlusAl- Azhar Medan. Peneliti memperoleh data jumlah responden
yang pola makannyatidak teratur yaitu 39 orang (53,4% ). Angka kejadian sindroma dispepsia
darikeseluruhan responden yaitu 47 orang (64,4 % ). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa besarnya
angka kejadian sindroma dispepsia di SMA Plus Al Azhar Medanternyata sesuai dengan pola makan
remaja perempuan yang tidak teratur.Ririn Fitri (2013) dengan judul deskripsi Pola Makan Pada Penderita
dispepsia padamahasiswa Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri.

Padang. Peneliti memperoleh data mahasiswa yang mengalami dispepsia sebanyak 39 orang. Berdasarkan
keteraturan makan responden 38,5% jarang makan teratur,33% jarang sarapan, 59,0% selalu makan dua
kali sehari, 51,3% tidak pernah makantepat waktu, 46,1% selalu terlambat makan dan 51,3% selalu
makan tunggu lapar dulu.


1.2 Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan antara pola makan dengan angka kejadian dispepsia diwilayah kerja puskesmas
botania kelurahan belian kecamatan batam kota?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui apakah ada hubungan antara pola makan dengan angka kejadiandispepsia di wilayah kerja
puskesmas botania kelurahan belian kecamatan batam kota.

1.3.2 Tujuan Khusus
a. Diketahuinya pola makan di wilayah kerja puskesmas botania kelurahan belian kecamatan batam kota.
b. Kejadian dispepsia di wilayah kerja puskesmas botania kelurahan beliankecamatan batam kota.
c. Hubungan pola makan dengan kejadian dispepsia di wilayah kerja puskesmas botania.


1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1Bagi institusi pelayanan kesehatan Puskesmas Botania
Hasil penelitian ini sebagai masukan bagi perawat di puskesmas untuk dapatmelakukan penyuluhan
tentang pola makan yang menjadi penyebab dispepsia.

1.4.2 Bagi institusi pendidikan Universitas Batam
Menambah wawasan ilmu pengetahuan pada institusi pendidikan tentanghubungan antara pola makan
kejadian dispepsia di Puskesmas Botania Tahun2013.

1.4.3 Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang penyebab dispepsia dengan
menggunakan fakor faktor yang lain.




BAB IITINJUAN PUSTAKA

2.1 Dispepsia

2.1.1 Pengertian dispepsia
Dispepsia atau indigesti merupakan istilah yang sering digunakan untuk pasienuntuk menjelaskan
sejumlah gejala yang umumnya dirasakan sebagaigangguan perut bagian atas dan sering disertai dengan
asupan makanan.Dispepsia dapat terjadi berkaitan dengan penyakit pada traktus gastrointestinalatau
keadaan patologik pada sistem organ lainnya (Harrison, 2000).Dispepsia merupakan kumpulan atau
gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang menetap atau
mengalamikekambuhan (Arif mansjoer, dkk, 2001).Dispepsia adalah rasa nyeri atau rasa tidak nyaman di
sekitar ulu hati. Pasiendengan dispepsia ini biasanya datang dengan keluhan mual sampai muntah.Selain
itu, keluhan-keluhan lain seperti kembung, cepat kenyang, nafsu makan berkurang dan sering sendawa
sering juga muncul (Nurheti Yuliarti,2009).Dispepsia adalah perasaan tidak nyaman atau nyeri pada
abdomen bagian atasatau dada bagian bawah. (Pierce Dan Neil, 2006). Dalam konsensus Roma IItahun
2000 disepakati bahwa dispepsia adalah rasa sakit atauketidaknyamanan yang berpusat pada perut bagian
atas. Dispepsia adalahkumpulan beberapa sindrom (gejala) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman
di epigastrum, mual, muntah, kembung, cepat kenyang,
rasa perut penuh, sendawa, dan rasa panas yang menjalar di dada (Djojoningrat,2006).

2.1.2 Faktor Penyebab Dispepsia (Djojoningrat, 2006)

1. Sekresi asam lambung, kasus dengan dispepsia fungsional, umumnyamempunyai tingkat sekresi
asam lambung, baik sekresi basal maupundengan stimulasi pentagastrin, yang rata-rata normal,
Diduga adanya peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkanrasa
tidak enak diperut.
2. Helicobacter Pilory (Hp), pada dispepsia fungsional belum sepenuhnyadipahami dan dimengerti.
Dari beberapa laporan kekerapan Hp padadispepsia fungsional sekitar 50% dan tidak bermakna
dengan angkakekerapan. Hp pada kelompok orang sehat, mulai ada kecenderungan
untuk melakukan eradikasi Hp pada dispepsia fungsional dengan Hp positif yanggagal dengan
pengobatan konservatif baku.
3. Dismotilitas Gastrointestinal, berbagai studi melaporkan bahwa padadispepsia fungsional terjadi
perlambatan pengosongan lambung dan adanyahipomotilitas antrum (sampai 50% kasus), tapi
harus dimengerti bahwa proses motilitas gastrointestinal merupakan proses yang sangat
kompleks,sehingga ganguan pengosongan lambung tidak dapat mutlak mewakili haltersebut.
4. Ambang rangsang persepsi, dinding usus mempunyai berbagai reseptor,termasuk reseptor
kimiawi, mekanik. Berdasarkan studi kasus dispepsia inimempunyai hipersensitivitas viseral
terhadap distensi balon digaster danduodenum.



5. Disfungsi autonom, disfungsi persarafan vagal diduga berperan dalamhipersensitivitas gastrointestinal
pada kasus dispepsia fungsional. Adanyaneuropati vagal juga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian
proksimallambung waktu menerima makanan, sehingga menimbulkan akomodasilambung dan rasa cepat
kenyang.

6. Aktivitas miolektrik lambung, adanya disritmia mioletrik lambung pada pemeriksaan elektrogastrografi
terjadi pada kasus dispepsia.

7. Hormonal, penurunan kadar hormon motilin yang menyebabkan gangguanmotilitas antroduodenal.

8. Pola makan, adanya pola makan yang tidak baik dan intoleransi makananlebih sering terjadi pada kasus
dispepsia.

9. Psikologis, adanya stres dapat mempengaruhi fungsi gastrointestinal.
2.1.3 Tanda Dan Gejala Dispepsia
Tanda dan gejala dispepsia ada 2 bagian yaitu :a. Tanda dan gejala dispepsia menurut Harrison (2000)
adalah:1.

Nyeri epigastrik dan rasa tidak enak pada bagian atas abdomen.2.

Rasa penuh setelah makan (sendawa atau aerofagia).3.

Faltulensi atau keadaan penuh gas pada perut.4.

Mual, Muntah dan Heartburn atau pirosis merupakan rasa hangat atauterbakar yang letaknya substernal
atau diatas epigastrium dengan penjalaran ke bagian leher dan kadang-kadang ke daerah leher.5.

Kehilangan nafsu makan.6.

Berat badan menurun. b. Tanda dan gejala dispesia menurut Arif Mansjoer et al, (2001) adalah :1.

Nyeri epigastrik dan rasa tidak enak pada bagian atas abdomen.2.

Rasa penuh setelah makan, sendawa dan flatulensi (gas).

3.

Mual dan muntah, heartburn.
2.1.4

Patologi dan Penyebab Dispepsia
(Arif Mansjoer et al, 2001)a.

Penyakit esofagus, lambung dan duodenum termasuk gastritis, ulkus peptikum, hiatus hernia, esofagritis
refluks, dan karsinoma gaster. b.

Penyakit sistem bilier dan pankreas meliputi kolesistitis, kolelitiasis, dan pankreatitis.c.

Gangguan lain seperti gagal jantung, uremia dan diabetes.d.

Mungkin disebabkan makanan yang mengiritasi mukosa lambung (kafein,alkohol, makanan yang sulit di
cerna, mentimun) atau coklat dan makananlain yang menimbulkan relaksasi sfingter esofagus bagian
bawah.e.

Faktor mekanik seperti makan terlalu banyak, makan dengan cepat dankesalahan mengunyah mungkin
menyebabkan timbulnya gejala-gejala.f.

Penyebab iatrogenik antara lain salisilat, obat antiinflamasi nonsteroid,steroid dan lain-lain.g.

Dispepsia psikogenik berkaitan dengan ansietas, mudah tersinggung danketegangan.
2.1.5 Pendekatan Diagnostik Pada Pasien Dispepsia
Anamnesis riwayat medis yang cermat harus mencakup penilaian terhadapkesehatan umum pasien,
termasuk kelainan-kelainan ekstraintestinal yangmenyebabkan terjadinya dispepsia. Riwayat diet yang
perlu diteliti dinyatakandan pasien diminta untuk membuat catatan harian mengenai makanan
yangdimakannya bisa memberikan informasi yang penting (Harrison,2000).Untuk menegakkan diagnosa
diperlukan data dan pemeriksaan penunjang untuk melihat adanya kelainan organik atau struktural,
Adanya keluhan tambahan

13
yang mengancam misalnya penurunan berat badan, anemia, kesulitan menelan, perdarahan, dan lain-
lainnya mengindikasi agar dilakukannya eksplorasidiagnostik secepatnya. Selain radiologi, pemeriksaan
yang biasa dilakukanadalah pemeriksaan laboratorium, endoskopi, manometri esofago-gastro-duodenum,
dan waktu pengosongan lambung (Djojoningrat, 2006).
2.1.6 Pengobatan dan Pencegahan dispepsia
Pengobatan dan pencegahan dispepsia yaitu :a.

Pengobatan yang dilakukan menurut Arif Mansjoer et al, (2001) adalah :1.

Hindari makanan yang merangsang atau tidak dapat dicerna.2.

Hentikan merokok, kurangi alkohol dan cokelat.3.

Kebiasaan makan teratur dengan makan sedikit-sedikit dan sering, duduk atau berjalan- jalan setelah
makan. Pada saat berbaring kepala dinaikkan.4.

Pemberian antacid secara intensif untuk 2 minggu pertama. Kemudiankurangi berangsur angsur untuk
mengendalikan gejala.5.

Obat kolinergik menolong pada sejumlah penderita dengan esofagitis peptik.6.

Obat H
2
-receptor blocker menolong pada penderita tertentu.7.

Hilangkan ansietas dan rasa tegang.8.

Pembedahan penting pada kasus

kasus yang refrakter. b.

Pencegahan pada kasus dispepsia menurut Nurheti Yuliarti (2009), adalah :1.

Menurut para penelitian, makan dalam jumlah kecil tapi sering sertamemperbanyak makan makanan yang
mengandung tepung seperti nasi, jagung, dan roti akan menormalkan produksi asam lambung,
kurangilahmakanan yang dapat mengiritasi lambung, misalkan makanan yang pedas,asam, digoreng dan
belemak.


14
2.

Hilangkan kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol Tingginyakonsumsi alkohol dapat mengiritasi
atau merangsang lambung, bahkanmenyebabkan lapisan dalam lambung terkelupas sehingga
menyebabkan peradangan dan perdarahan di lambung.3.

Jangan merokok. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung. Olehkarena itu, orang yang
merokok juga akan meningkatkan resiko kanker lambung.4.

Ganti obat penghilang rasa sakit. Jika memungkinkan, jangan gunakanobat penghilang rasa sakit dari
golongan NSAIDs seperti aspirin,ibuprofen, dan naproxen. Obat-obatan tersebut dapat mengiritasi
lambung.5.

Berkonsultasilah dengan dokter. Jika anda menemui gejala tersebut berkonsultasilah untuk mendapatkan
solusi terbaik.6.

Peliharalah berat badan. Problem saluran pencernaan seperti rasa terbakar di lambung, kembung, dan
konstipasi lebih umum terjadi pada orang yangmengalami kelebihan berat badan (obesitas).7.

Memperbanyak olahraga. Olahraga aerobik dapat meningkatkan detak jantung yang dapat menstimulasi
aktivitas otot usus sehingga mendorongisi perut dilepaskan dengan mudah.
2.2 Pola Makan2.2.1 Pengertian Pola Makan
Hariyani
Sulistyoningsih (2011) menjelaskan bahwa Pola makan adalah
berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang
dimakan setiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri
khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Seda
ngkan menurut Sri

15
Handajani dalam Haryani sulistyoningsih (2011) menyatakan bahwa polamakan adalah tingkah laku
manusia atau sekelompok manusia dalammemenuhi kebutuhan akan makan yang meliputi sikap,
kepercayaan dan pilihan makanan.Pola makan yang baik selalu mengacu pada gizi seimbang yaitu
terpenuhinyasemua zat gizi sesuai dengan kebutuhan yang seimbang. Terdapat 6 unsur zatgizi yang harus
terpenuhi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineraldan air. Karbohidrat, protein, dan lemak
merupakan zat gizi makro sebagaisumber energi.Sedangkan vitamin dan mineral merupakan zat gizi
mikro sebagai pengatur kelancaran metabolisme tubuh. Kebutuhan zat metabolisme tubuh hanya
dapatterpenuhi dengan pola makan yang bervariasi dan beragam, sebab tidak adasatupun bahan makanan
yang mengandung makro dan mikro nutrien secaralengkap.Maka, semakin beragam, semakin bervariasi,
dan semakin lengkap jenismakanan yang diperoleh maka semakin lengkaplah perolehan zat gizi
untuk memenuhi kebutuhan yang optimal.Banyak orang mengatakan bahwa sehat berawal dari makanan.
Terdapat beberapa tips sehat yaitu : ( Prita Muliarini, 2010)a.

Makanlah aneka ragam makanan. b.

Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.

16
c.

Biasakan makan pagi.d.

Minum air putih yang cukup.e.

Lakukan aktifitas fisik setiap hari.f.

Jangan minum-minuman beralkohol.g.

Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.h.

Bacalah label makanan yang dikemas.Ada 2 hal yang terkandung dalam pola makan yang sehat yaitu
makanan yangsehat dan pola makannya. Makanan yang sehat yaitu makanan yangdidalamnya terkandung
zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Terlambatmakan karena kesibukan adalah hal yang menjadi
faktor yang menyebabkan banyak orang yang mengalami keluhan pada saluran pecernaan. Keluhan
ini bermuara pada 2 zat yaitu asam lambung dan gas saluran pencernaan. Asamlambung merupakan
cairan yang dihasilkan oleh lambung, bersifat sangatmengiritasi (merangsang), fungsi utamanya adalah
untuk membunuh kumanyang masuk kedalam lambung bersama makanan. Produksi asam
lambung berlangsung secara terus menerus setiap hari, dan produksinya meningkat padamalam hari
hingga dini hari serta setelah makan (Aep S,2009).
2.2.2

Pola Makan Dan Kebiasaan Makana.

Pola makan
Pangan bagi manusia merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhiuntuk dapat mempertahankan
hidup serta menjalankan kehidupan. Polamakan dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain kebiasaan,
kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi, lingkungan alam, dan sebagainya. Sejak

17
zaman dahulu kala, makanan selain untuk kekuatan atau pertumbuhan,memenuhi rasa lapar, dan selera
(Soegeng dan Ranti, 2004).
b.

Kebiasaan makan
Makan diperlukan untuk memperoleh kebutuhan zat gizi yang cukup untuk kelangsungan hidup,
pemulihan kesehatan sesudah sakit, aktivitas, pertumbuhan dan perkembangan. Secara fisiologik, makan
merupakan suatu bentuk pemenuhan atau pemuasan rasa lapar (Soegeng dan Ranti, 2004).
2.2.3

Perhatikan Pola Makan
Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bagi tubuh, harus mengkonsumsi berbagai sumber makanan secara
bervariasi. Tidak ada satupun jenis makananyang dapat menyediakan semua zat gizi yang diperlukan
tubuh.Mengkonsumsi berbagai jenis makanan sekaligus dapat memaksimalkanmanfaat dari suatu
makanan.Mengatur pola makan, yang biasa disebut dengan diet sangat penting bagikesehatan. Dalam
kehidupan sehari-hari diet diartikan sebagai puasa atau pengurangan porsi makan. Padahal, arti diet yang
benar adalah kombinasimakanan dan minuman di dalam hidangan yang dikonsumsi sehari-hari.Agar tetap
sehat tubuh manusia memerlukan berbagai zat gizi, zat gizi tersebutadalah karbohidrat, protein, lemak,
mineral, dan vitamin. Selain zat gizi tubuh juga membutuhkan serat dan juga air sebagai vital kehidupan.

18
a.

Sarapan, makan siang, dan makan malam tetap harus terdiri dari sumber karbohidrat (nasi, kentang, roti),
sumber protein (ayam, ikan, tahu, tempe),sayuran, dan buah. b.

Cara memasaknya sebaiknya ditumis, dipanggang, dipepes, disup atau direbus,kurangi makanan yang
terlalu banyak digoreng ataupun bersantal kental.Piramida makanan yang mengatur komposisi makanan
yaitu :a.

Makananan pokok sumber karbohidrat, seperti padi-padian, pasta, dan serealiadikonsumsi dalam jumlah
paling banyak. b.

Diatas karbohidrat adalah buah dan sayur. Konsumsi sayuran yang dianjurkanadalah tiga sampai lima
bagian, sedangkan buah-buahan dua sampai empat bagian.c.

Pada tingkatan ketiga adalah kelompok makanan yang merupakan sumber protein. Termasuk didalamnya
susu dan hasil olahannya, kacang-kacangan,daging, ikan dan unggas, jumlah anjuran yang dikonsumsi
lebih sedikit dari pada sayur-sayuran dan buah-buahan. Untuk susu dan hasil olahannya cukupdua sampai
tiga bagian. Demikian juga kacang-kacangan dan hasil olahanlainnya.d.

Pada tingkatan yang teratas adalah kelompok minyak dan gula. Pada tingkatanini jumlah yang
dikonsumsi adalah yang paling sedikit dibandingkan ketiga jenis makanan yang lain.(Nurhetti Yulianti,
2009 ).
2.2.4 Syarat- Syarat Makanan Sehat
Irianto dan Waluyo (2004) menyatakan bahwa Apabila kita makan, makanan pertama kali dicerna di
dalam mulut, dengan cara dikunyah. Makanan yangsehat adalah makanan yang higienis serta banyak
mengandung gizi. Makanan

19
higienis yaitu makanan yang tidak mengandung kuman penyakit dan tidak bersifat meracuni tubuh serta
lezat rasanya.a.

Syarat-syarat makanan sehat menurut Irianto dan Waluyo (2004) adalahsebagai berikut :1.

Harus cukup mengandung kalori.2.

Protein yang dikonsumsi harus mengandung kesepuluh asam amino utamayaitu lisin, triptopan,
penilalanin, leusin, isoleusin, threonin, metionin,valin, dan arginin.3.

Harus cukup mengandung vitamin.4.

Harus cukup mengandung garam mineral dan air.5.

Perbandingan yang baik antara sumber karbohidrat, protein dan lemak. b.Selain syarat tersebut, menurut
Irianto dan Waluyo (2004) agar memberikankesehatan bagi tubuh sebaiknya :1.

Mudah dicerna oleh alat pencernaan.2.

Bersih, tidak mengandung bibit penyakit, karena hal ini tentu akanmembahayakan kesehatan tubuh serta
tidak bersifat racun bagi tubuh.3.

Jumlah yang cukup dan tidak berlebihan.4.

Tidak terlalu panas pada saat disantap. Makanan yang terlalu panasdisajikan, mungkin saja dapat merusak
gigi dan mengunyah pun tidak dapat sempurna.5.

Bentuk menarik dan rasanya enak.
2.2.5 Pola makan seimbang (Savitri Sayogo, 2008)
Pola makan seimbang mempunyai ciri sebagai berikut :a.

Memberi energi dalam jumlah cukup, sesuai kebutuhan tubuh.

20
b.

Memberikan protein dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan tubuh untuk mekanisme pertahanan tubuh,
perbaikan, dan pemeliharaan jaringan.c.

Memberikan lemak dalam jumlah cukup untuk suplai kebutuhan tubuh akanasam lemak esensial.d.

Menyediakan vitamin dan mineral dalam jumlah cukup.
2.2.6 Pedoman Umum Gizi Seimbang Dari Direktorat Gizi Masyarakat
Direktorat gizi masyarakat RI dalam Sunita Almatzier (2009) menyebutkanada 13 pesan dasar yang
diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman praktis untuk mengatur makanan sehari-hari. Ketiga belas
pesan tersebutyaitu :a.

Makanlah aneka ragam makanan. b.

Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan gizi.c.

Makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi.d.

Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhanenergi.e.

Gunakan garam beryodium.f.

Makanlah makanan sumber zat besi.g.

Berikan air susu ibu (ASI) saja kepada bayi sampai berumur enam bulan.h.

Biasakan makan pagi.i.

Minumlah air bersih aman dalam jumlah yang secukupnya. j.

Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur.k.

Hindari minuman beralkohol.l.

Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.m.

Bacalah label pada makanan yang dikemas.