Vous êtes sur la page 1sur 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN PEREAKSI

NAMA : NURSANTI
NIM : H311 12 902
KELOMPOK : IV (EMPAT)
HARI/TANGGAL PERCOBAAN : RABU/19 FEBRUARI 2014
ASISTEN : SARTIKA









LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB I
SIFAT-SIFAT BAHAN

1.1 Glisin
Glisin adalah asam amino yang paling sederhana dan terdapat pada
skleroprotein. Pada tahun 1820 Braconnot menemukan glisin dari hasil hidrolisis
gelatin. Glisin dapat mengalami reaksi deaminasi oksidatif oleh glisin oksidase,
yaitu enzim yang terdapat dalam jaringan hati dan ginjal. Dalam reaksi ini glisin
akan diubah menjadi asam glioksilat dan amonia. Asam glioksilat yang terbentuk
dapat diuraikan lebih lanjut menjadi formaldehid dan karbondioksida. Asam
glioksilat dapat juga diubah menjadi asam malat yang mengalami metabolisme
melalui siklus asam sitrat. Disamping itu glisin dapat diubah pula menjadi serin
dengan adanya 5-formiltetrahidrofolat (Poedjiadi,1994).
Glisin dapat berfungsi dalam proses penawaran racun, misalnya apabila
asam benzoat atau derivatnya termasuk dalam makanan maka dalam glisin akan
bergabung dengan zat-zat tersebut sehingga terbentuk asam hipurat yang tidak
bersifat racun. Dalam tubuh glisin dapat dibentuk dari serin dalam jumlah yang
cukup, karena itu glisin adalah asam amino nonesensial. Serin dibentuk dari asam
3-fosfogliseral yang merupakan salah satu hasil antara dalam proses glikolisis.
Dengan demikian dapat dilihat bahwa ada hubungan antara glokolisis dengan
biosintesis glisin (Poedjiadi,1994).
Asam amino tidak hanya berperan sebagai bahan bangunan protein, tetapi
juga merupakan sumber daya kimia bagi banyak senyawa yang membutuhkan
nitrogen. Misalnya glisin diperlukan untuk biosintesis gugus heme dari
hemoglobin (Tim Dosen Kimia, 2012).
Karakteristik : Massa molekul 75,07 g/mol;massa jenis 1,1607 g/cm
3
;
mulai terurai pada 233 C (451,4 F); pH 5,6 (asam); berbentuk solid (kristal
padat) dan berwarna putih; mudah larut dalam air panas, larut dalam air dingin,
dietil eter, n-oktanol, etanol, dan sedikit larut dalam aseton. Adapun rumus
struktur glisin dapat dilihat pada gambar dibawah ini




Struktur Glisin
Toksisitas : Tidak bersifat toksik, namun sedikit berbahaya dalam kasus
kontak kulit (iritan), kontak mata (iritan), menelan, dan menghirup.
Simbol :



Kegunaan :Glisin berperan dalam sistem saraf sebagai inhibitor
neurotransmiter pada sistem saraf pusat (Hidayat, 2010).

1.2 Asam Aspartat
Nama asam amino mula-mula diberikan secara empirik. Sejumlah besar
senyawa ini pertama dipisahkan dari sumber alamiah selama 1800-an dan banyak
diantara nama tersebut diambil dari sumber dimana asam amino itu didapatkan.
Selain 20 asam amino dasar dikenal 150 lebih asam amino yang kurang umum.
Kebanyakan dari asam amino ini tidak ada hubungannya dengan pembentukan
H
2
N CH C
H
OH
O
protein dan banyak Asam- asam amino demikian merupakan bentuk antara
metabolik atau bagian dari suatu biomolekul bukan protein
(Tim Dosen Kimia, 2012).
Asam aspartat dapat diperoleh masing-masing dari glutamin dan
asparagin. Gugus amida yang terdapat pada molekul glutamin dan asparagin dapat
diubah menjadi gugus karboksilat melalui proses hidrolisis dengan asam atau
basa. Dalam metabolismenya, asparagin diubah menjadi asam aspartat dengan
bantuan enzim asparaginase. Kemudian asam aspartat adalah lisin, metionin,
treonin dan isoleusin. Sebaliknya asam aspartat dapat dibentuk dari asam
oksaloasetat dengan reaksi transaminasi. Dari asam aspartat dapat dibentuk
asparagin dengn enzim asparagin sintetase (Poedjiadi,1994).
Karakteristik : Massa molekul 133,1 g/mol; titik lebur 270-271 C
(518 F); massa jenis 1,23 g/cm
3
; pH 4 (asam); berbentuk solid (bubuk kristal)
berwarna putih; larut dalam dietil eter, etanol, benzena dan sangat sedikit larut
dalam air dingin (Kusnawidjaja, 1993).
Toksisitas: Bersifat iritan terhadap mata, kulit, dan berbahaya bila ditelan
atau dihirup.
Kegunaan: Fungsinya diketahui sebagai pembangkit neurotransmisi di
otak dan saraf otot. Diduga, aspartat berperan dalam daya tahan terhadap
kepenatan. Senyawa ini juga merupakan produk dari daur urea dan terlibat dalam
glukoneogenesis (Kusnawidjaja, 1993).














Struktur Asam aspartat


1.3 Alanin
Tidak semua asam amino yang terdapat dalam molekul protein dapat
dibuat dala tubuh kita. Jadi apa bila ditinjau dari segi pembentukannya asam
amino dapat dibagi dalam dua golongan yaitu asam amino yang tidak dapat dibuat
atau disintesis dalam tubuh dan asam amino yang dapat dibuat dalam tubuh kita.
Asam amino yang tidak dapat dibuat dalam tubuh disebut asam amino esensial
dan harus diperoleh dari makanan sumber protein. Asam amino yang dapat dibuat
dalam tubuh disebut asam amino esensial (Poedjiadi, 989).
Semua asam amino, kecuali glisin dapat dianggap sebagai derivat alanin.
Alanin diperoleh untuk pertama kalinya oleh Weyl dari hasil hidrolisis fibroin,
yaitu protein yang terdapat pada sutera. Alanin dapat diubah menjadi asam piruvat
melalui proses transminasi. Asam piruvat merupakan senyawa yang terbentuk
pada jalur metabolisme karbohidrat. Dengan demikian reaksi metabolisme alanin
ini merupakan hubungan antara metabolisme protein dengan metabolisme
karbohidrat. Alanin adalah asam amino nonesensial yang dapat dibuat dalam
tubuh melalui reaksi transminasi piruvat dengan asam glutamat atau asam amino
lain (Poedjiadi,1989).
H
2
N CH C
CH
2
OH
O
C
OH
O
Karakteristik : Massa molekul 89,09 g/mol; massa jenis 1,424 g/cm
3
; titik
lebur 258 C; berbentuk solid (kristal padat) berwarna putih; larut dalam air
dingin.
Toksisitas : Bersifat iritan terhadap mata dan berbahaya bila ditelan atau
dihirup.
Kegunaan : Alanin dapat berperan dalam pengenalan substrat atau
spesifisitas, khususnya dalam interaksi dengan atom nonreaktif seperti karbon.
Dalam proses pembentukan glukosa dari protein, alanin berperan dalam daur
alanin (Hidayat, 2010).



Struktur Alanin

Alanin (Ala) atau asam 2-aminopropanoat (Tim dosen kimia, 2012).

1.4 Asparagin
Asam amino digolongkan menurut polaritas variabel gugus R, yang
sifatnya sangat mempengaruhi sifat-sifat protein. Sembilan asam amino (glisin,
alanin, valin, leusin, isoleusin, fenilalanin, metionin, prolin, dan triftopan).
Mempunyai rantai samping nonpolar. Rantai samping ini mempunyai kelarutan
dalam air yang terbatas dan cenderung mencari lingkungan hidrofobik. Sebelas
asam amino lainnya mempunyai gugus polar. Dalam batas-batas pH fisiologi, 5
(aspartat, glutamin. Aeginin, lisin, dan histidin) bermuatan dan 6 (serin, treonin,
tirosin, asparagin, glutamine, dan sisitein) tidak bermuatan (Colby,1988).
Asparagin terdapat pada konglitun dan legumin yaitu protein dalam
tumbuhan. Gugus amida yang terdapat pada molekul glutamin dan asparagin.
H
2
N CH C
CH
3
OH
O
Dapat diubah menjadi gugus karboksilat melalui proses hidrolisis dengan asam
atau basa. Asparagin diubah menjadi asam aspartat dengan bantuan enzim
asparaginase (Poedjiadi,1994).

Struktur Asparagin

1.5 Tirosin
Tirosin dapat diubah menjadi asam p-hidroksifenilpiruvat dengan cara
transaminasi. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim tirosin ketoglutarat
transaminase dan piridoksal fosfat sebagai koenzim. Selanjutnya melalui beberapa
tahap reaksi asam p-hidroksifenilpiruvat diubah menjadi asam fumarat dan asam
asetoasetat. Asam asetotasetat pada akhirnya diubah menjadi asetil KoA dan asam
asetat (Poedjiadi,1994).

Struktur Tirosin

1.6 Amilum
Polisakarida ini terdapat banyak di alam, yaitu pada sebagian besar
tumbuhan. Amilum dalam bahasa sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi,
daun, batang, dan biji-bijian. Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang
kedua-duanya adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20-28 %) dan
sisanya amilopektin. Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan
asam sehingga menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan
bantuan enzim amilase. Dalam ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh
pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum yang terdapat dalam
makan kita. Oleh enzim amilase, amilum diubah menjadi maltosa dalam bentuk
maltosa (Poedjiadi,1994).

Struktur Amilosa

1.7 Asam Klorida
Asam ini merupakan bahan kimia yang termasuk penting dalam kegiatan
industri, misalnya pada industri pelapisan logam, minyak, atau untuk
menghasilkan senyawa yang mengandung klor seperti karet sintetis, atau produk
yang banyak digunakan di rumah tangga, misalnya pembersih WC. Bahan ini
merupakan cairan yang tidak berwarna, membentuk asap, dan menyengat. Bahan
ini bukan termasuk oksidator, walaupun termasuk dalam kelompok asam kuat.
Klasifikasi bahaya dari bahan ini karena bersifat korosif dan toksik
(Damanhuri, 2008).

Struktur asam klorida

1.8 Natrium Hidroksida
NaOH merupakan kelompok alkalin korosif yang paling penting dan
dikenal sebagai caustic soda. NaOH merupakan basa kuat, banyak digunakan di
industri seperti: petroleum, tekstil, kertas, sabun; produk ini juga digunakan di
rumah tangga, misalnya untuk menangani penyumbatan pipa plambing. Pada
temperatur kamar, NaOH adalah berbentuk padat-putih, dapat mengkorosi logam
seperti alumunium, seng, tembaga dan jaringan kulit dan melarutkan lemak; bila
terjadi kontak yang lama, bahan ini dapat mengkorosi gelas, membentuk natrium
silikat (Damanhuri, 2008).

Struktur Natrium Hidroksida

1.9 Natrium Hipoklorit
NaOCl merupakan satu dari beberapa senyawa disinfektan. The
International Agency Research on Cancer (IARC) menyatakan bahwa NaOCl
aman bagi manusia dan lingkungan, senyawa ini tidak menyebabkan mutagen,
karsinogenik dan teratogenik. NaOCl adalah hasil reaksi antara molekul chlorine,
sodium hydrokside dan air. NaOCl merupakan senyawa alkali kuat yang memiliki
sifat basa (Sunarto, 2005).


Struktur Natrium Hipoklorit

1.10 Dinatrium Hidrogen Fosfat
Garam narium dari asam fosfat. Ini adalah bubuk putih larut sangat
higroskopis dengan air. Oleh karena itu digunakan secara komersial sebagai aditif
anti caking dalam produk bubuk. Dinatrium hidrogen fosfat juga dikenal sebagai
ortofosfat hidrogen natrium. Natrium fofat hidrogen atau natrium fofat dibasik.
Hal ini secara komersial tersedia dalam bentuk terhidrasi dan anhidrat
(Anonim, 2012)

Struktur Dinatrium Hidrogen Fofat

1.11 Buffer pH 7
Larutan buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan pH tertentu
terhadap usaha mengubah pH, seperti penambahan asam, basa ataupun
pengenceran. Dengan kata lain PH larutan penyangga tidak akan berubah
walaupun pada larutan tersebut ditambahka sedikit asam kuat, basa kuat, atau
larutan tersebut diencerkan (Anonim, 2012).



BAB II
PEMBUATAN DAN PERHITUNGAN BAHAN

2.1 Pembuatan NaOCl 2 %
2.1.1 Perhitungan


2.1.2 Prosedur
Dipipet 33,33 mL NaOCl 12 % ke dalam gelas piala 250 mL kemudian
ditambahkan akuades hingga volume larutan 200 mL lalu diaduk hingga
homogen.
2.2 Pembuatan Amilum 1 %
2.2.1 Perhitungan









2.3.2 Prosedur
Ditimbang 5 gram amilum ke dalam gelas piala 1 L kemudian ditambahkan 500
mL akuades. Larutan diaduk hingga semua amilum larut semua, selanjutnya
larutan amilum dipanaskan sambil terus diaduk hingga mendidih dan larutan
berwarna bening.

2.3 Pembuatan L-Asparagin 0,01 M
2.3.1 Perhitungan

= 0,015 gram
2.3.2 Prosedur
Ditimbang 0,0150 gram L-aspargin kedalam gelas piala 50 mL kemudian
dilarutkan dengan sedikit akuades hingga semua L-aspargin larut, jika L-aspargin
tidak dapat larut sempurna dengan akuades maka ditambahkan beberapa tetes HCl
hingga L-aspargin larut. L-aspargin yang telah larut sempurna kemudian
dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Ditambahkan akuades ke dalam labu ukur
hingga garis batas kemudian dihomogenkan
2.4 Pembuatan NaOH 6 M
2.4.1 Perhitungan


gram = 60 gram

2.4.2 Prosedur
Ditimbang 60 gram NaOH ke dalam gelas piala 100 mL kemudian
dilarutkan dengan 250 mL akuades ke dalam gelas piala 300 mL dan diaduk
hingga semua NaOH larut dan homogen. Pada saat NaOH dilarutkan gelas piala
dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air, karena pada saat NaOH
dilarutkan, NaOH akan melepaskan panas.
2.5 NaOH 2,5 M
2.5.1 Perhitungan


gram = 10 gram
2.5.2 Prosedur
Ditimbang 10 gram NaOH ke dalam gelas piala 100 mL kemudian
dilarutkan dengan 100 mL akuades ke dalam gelas piala 200 mL dan diaduk
hingga semua NaOH larut dan homogen. Pada saat NaOH dilarutkan gelas piala
dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air, karena pada saat NaOH dilarutkan,
NaOH akan melepaskan panas.
2.6 Pembuatan HCl 6 M
2.6.1 Perhitungan


M = 12,06 M



2.6.2 Prosedur
Diambil 99,50 mL HCl 37 % dengan gelas ukur 100 mL kemudian
sedikit demi sedikit dimasukkan kedalam gelas piala 250 mL yang telah
berisi 75 mL akuades sambil diaduk. Kemudian ditambahkan akuades hingga
volume larutan 200 mL setelah semua HCl 37 % dimasukkan dan diaduk hingga
homogen. Pada saat proses pembuat HCl 6 M gelas piala yang berisi HCl 6 M
diletakkan di dalam baskom yang berisi air karena HCl akan melepaskan panas
pada saat dilarutkan.

2.7 Pembuatan Tirosin
2.7.1 Perhitungan


gram = 0,018 gram

2.7.2 Prosedur
Ditimbang 0,018 gram tirosin ke dalam gelas piala 50 mL kemudian
dilarutkan dengan sedikit akuades hingga larut sempurna. Setelah semua tirosin
larut, tirosin dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL dan ditambahkan akuades
hingga tanda batas dan dihomogenkan.

2.8 Pembuatan Na
2
HPO
4
0,2 M
2.8.1 Perhitungan



2.8.2 Prosedur
Dipipet 50 mL Na
2
HPO
4
2 M ke dalam gelas piala 500 mL kemudian
ditambahkan akuades hingga volume larutan 500 mL lalu diaduk hingga
homogen.
2.9 Pembuatan Buffer pH 7
2.9.1 Prosedur
Diambil 81 mL Na
2
HPO
4
0,2 M dengan gelas ukur 100 mL
kemudiandimasukkan ke dalam gelas piala 250 mL. Dipipet 19 mL NaH
2
PO
4
0,2
M lalu dimasukkan ke gelas piala yang telah berisi larutan Na
2
HPO
4
0,2 M
kemudian ditambahkan 100 mL akuades dan diaduk hingga homogen.
2.10 Pembuatan Glisin 0,01M
2.10.1 Perhitungan


gram = 0,075 gram
2.10.2 Prosedur
Ditimbang 0,075 gram glisin ke dalam gelas piala 100 mL. Dilarutkan
dengan sedikit akuades hingga glisin larut sempurna. Ditambahkan akuades
hingga volume larutan 100 mL kemudian diaduk hingga homogen.
2.11 Pembuatan Alanin 0.01 M
2.11.1 Perhitungan


gram = 0,089 gram
2.11.2 Prosedur
Ditimbang 0,089 gram alanin ke dalam gelas piala 100 mL. Dilarutkan
dengan sedikit akuades hingga semua alanin larut sempurna. Ditambahkan
akuades hingga volume larutan 100 mL kemudian diaduk hingga homogen.
2.12 Pembuatan Asam Aspartat 0.01 M
2.12.1 Perhitungan


gram = 0,133 gram
2.12.2 Prosedur
Ditimbang 0,133 gram asam aspartat ke dalam gelas piala 100 mL.
Dilarutkan dengan sedikit akuades hingga semua asam aspartata larut sempurna.
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 100 mL kemudian diaduk hingga
homogen.



Lampiran BAGAN KERJA
1. NaOCl 2 %


Dipipet 33,33 mL ke dalam gelas piala 250 mL
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 200 mL
Diaduk hingga larutan homogen


2. Amilum 1 %


Ditimbang 5 gram ke dalam gelas piala 1000 mL
Ditambahkan 500 mL akuades kemudian diaduk hingga semua
kanji larut sempurna
Dipanaskan hingga mendidih dan larutan menjadi bening
sambil terus diaduk.


3. L-Asparagin 0,01 M


Ditimbang 0,0150 gram ke dalam gelas piala 50 mL
Dilarutkan dengan sedikit akuades hingga larut sempurna
Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL lalu ditambahkan
akuades hingga garis batas dan dihomogenkan

NaOCl 12 %
NaOCl 2 %
Amilum
Amilum 1 %
L-Asparagin
L-Asparagin 0,01 M
4. NaOH 6 M


Ditimbang 60 gram NaOH ke dalam gelas piala 100 mL
Dilarutkan dengan 250 mL akuades ke dalam gelas piala 300
mL yang berada dalam baskom berisi air
Diaduk hingga semua NaOH larut dan homogen.


5. NaOH 2,5 M


Ditimbang 10 gram NaOH ke dalam gelas piala 100 mL
Dilarutkan dengan 100 mL akuades ke dalam gelas piala 200
mL yang berada dalam baskom berisi air
Diaduk hingga semua NaOH larut dan homogen.



6. HCl 6 M


Diambil 99,05 mL dengan gelas ukur 100 mL
Dimasukkan kedalam gelas piala 250 mL yang berada di
dalam baskom yang berisi air yang telah berisi 75 mL akuades
sedikit demi sedikit sambil diaduk.
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 200 mL


NaOH
NaOH 6 M
NaOH
NaOH 2,5 M
HCl 37 %
HCl 6 M
7. Tirosin 0,01 M


Ditimbang 0,018 gram ke dalam gelas piala 50 mL
Dilarutkan dengan sedikit akuades hingga larut sempurna
Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL
Ditambahkan akuades hingga tanda batas dan dihomogenkan


8. Na
2
HPO
4
0,2 M


Dipipet 50 mL ke dalam gelas piala 500 mL
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 500 mL lalu
diaduk hingga homogen.


9. Buffer Fosfat pH 7


Diambil 81 mL dengan gelas ukur 100 mL kemudian
dimasukkan ke dalam gelas piala 250 mL.
Dipipet 19 mL NaH
2
PO
4
0,2 M lalu dimasukkan ke gelas piala
yang telah berisi larutan Na
2
HPO
4
0,2 M
Ditambahkan 100 mL akuades dan diaduk hingga homogen.


Tirosin
Tirosin 0,01 M
Na
2
HPO
4
2 M
Na
2
HPO
4
0,2 M
Na
2
HPO
4
0,2 M
Buffer pH 7
10. Glisin 0,01 M


Ditimbang 0,075 gram ke dalam gelas piala 100 mL
Dilarutkan dengan sedikit akuades hingga glisin larut sempurna
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 100 mL
kemudian diaduk hingga homogen


11. Alanin 0,01 M


Ditimbang 0,089 gram ke dalam gelas piala 100 mL
Dilarutkan dengan sedikit akuades hingga semua alanin larut
sempurna
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 100 mL
kemudian diaduk hingga homogen.


12. Asam Aspartat 0,01 M


Ditimbang 0,133 gram ke dalam gelas piala 100 mL
Dilarutkan dengan sedikit akuades hingga semua asam
aspartata larut sempurna
Ditambahkan akuades hingga volume larutan 100 mL
kemudian diaduk hingga ho
mogen
Glisin
Glisin 0,01 M
Alanin
Alanin 0,01 M
Asam Aspartat
Asam Aspartat 0,01 M


DAFTAR PUSTAKA
Anonim., 2012, Material Safety Data Sheet (Online) (http://scienceLab.com,
diakses tanggal 25 Februari 2014).

Colby, D. S., 1988, Ringkasan Biokima, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Damanhuri, 2008., Laporan Praktikum Biokimia, Universitas Hasanuddin,
Makassar.

Hidayat, H., 2010, Asam Amino Komponen Penyusun Protein (Online)
(http://hernandhyhidayat.wordpress.com/asam-amino-komponen-penyusun
protein/, diakses tanggal 25 Februari 2014).

Kusnawidjaja, K., 1993, Biokimia, Penerbit Alumni, Bandung.

Sunarto, 2005., Laporan Praktikum Biokimia, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Tim Dosen Kimia., 2012, Kimia Organik, UPT-MKU Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokmia, UI-Press, Jakarta.












LEMBAR PENGESAHAN



















Makassar, 24 Februari 2014
Asisten, Praktikan,


(SARTIKA) (NURSANTI)